Pastor Eric Chang | Bab 10 |

Tinggallah di dalam aku dan aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kecuali ia tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak dapat berbuah, kecuali kamu tinggal di dalam aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Setiap orang yang tinggal di dalam aku dan aku di dalam dia, dia akan berbuah banyak. Karena terpisah dariku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Jika seseorang tidak tinggal di dalam aku, dia akan dibuang seperti ranting dan menjadi kering; dan orang akan mengumpulkan dan melemparkannya ke dalam api, dan terbakar. Jika kamu tetap tinggal di dalam aku dan perkataanku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu inginkan, dan itu akan dikabulkan bagimu. (Yoh 15:4-7)

Sekarang kita akan membahas lebih mendalam mengenai penerapan praktis dari hal “tinggal” di dalam Allah dan di dalam Kristus, yang telah kita bahas pada bab 8 buku ini. Dalam empat ayat dari Injil Yohanes pasal 15 yang baru saja kita kutip, kata “tinggal” muncul sebanyak tujuh kali (perhatikan bagian yang dicetak tebal), yang menunjukkan betapa pentingnya hal ini bagi kita. Apa artinya “tinggal” di dalam Tuhan? Kita perlu menemukan jawaban atas pertanyaan ini karena “tinggal” di dalam Dia merupakan kunci bagi kehidupan yang baru di dalam Kristus.


“Akulah pokok anggur”

Perumpamaan tentang pokok anggur dan ranting-rantingnya sudah tidak asing bagi kita, tetapi hanya sedikit yang memahami makna yang lebih dalam di baliknya. Mari kita renungkan perkataan Yesus:

“Akulah pokok anggur yang sejati dan Bapakulah pengusahanya. Setiap ranting padaku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ranting itu berbuah lebih banyak.” (Yoh 15:1-2)

Kata-kata ini menyatakan alasan keberadaan ranting: Ranting itu ada dengan tujuan khusus untuk menghasilkan buah. Yesus menyampaikan hal ini dalam konteks pengajarannya mengenai Roh Kudus (Yohanes pasal 14-16); dengan demikian, yang ia maksud adalah apa yang disebut Paulus sebagai “buah Roh” (Gal 5:22-23). ​​Buah Roh di dalam diri kita akan membuat orang lain tertarik kepada Allah dan dibangun di dalam Dia, melalui perantaraan kita. Hal ini menghasilkan keberbuahan demi pertumbuhan Kerajaan Allah.

Jika suatu ranting tidak menghasilkan buah, ranting itu disingkirkan—begitu saja, sederhana dan jelas. Tidak ada yang samar dalam pernyataan ini. Jika Anda tidak menghasilkan buah, Anda akan disingkirkan atau “dipotong” (ayat 2). Tidak seorang pun berada di dalam gereja—tubuh Kristus—hanya sekadar untuk ada di sana. Seseorang berada di sana untuk menghasilkan buah. Mengenai ranting-ranting yang memang menghasilkan buah, Yesus berkata dalam ayat 2 dan 3,

Setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya (dipangkas-Nya), supaya ranting itu berbuah lebih banyak. Kamu memang sudah dibersihkan karena firman yang telah kukatakan kepadamu.

Dalam teks bahasa Yunani, terdapat permainan kata antara istilah untuk “memangkas” dan “membersihkan”. Keduanya berasal dari kata Yunani yang saling berkaitan, yaitu kathairō dan katharos, tetapi nuansa ini hilang dalam terjemahan bahasa Inggris. Akibatnya, hubungan antara kedua kalimat tersebut pun menjadi tidak terlihat. Intinya adalah kita telah dijadikan “bersih” oleh firman Allah, yang berfungsi layaknya pisau pemangkas (bdk. pedang bermata dua dalam Ibrani 4:12) untuk menyingkirkan ranting-ranting yang menghambat pertumbuhan serta keberbuahan tanaman anggur tersebut.

Yesus melanjutkan dengan berkata, “Jika kamu tetap tinggal di dalam aku dan perkataanku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu inginkan, dan itu akan dikabulkan bagimu.” (ay. 7) Di sini, Yesus memberikan sebuah tantangan kepada kita. Jika Allah tidak nyata, Anda bisa meminta apa saja kepada-Nya, tetapi Dia tidak akan menjawab Anda—sama seperti tembok yang tidak akan menjawab Anda jika Anda berdoa kepadanya.

Yesus sedang berkata, “Jika kamu memenuhi syarat ini—jika kamu tinggal di dalam aku dan perkataanku tinggal di dalam kamu—mintalah apa pun yang kamu kehendaki, maka hal itu akan dilakukan bagimu.” Sungguh indah untuk tinggal di dalam Tuhan! Ia memberikan tantangan yang luar biasa kepada kita: “Mimpikanlah apa pun yang kamu kehendaki, mintalah apa pun yang kamu kehendaki, maka hal itu akan dikabulkan bagimu.” Jika kita hidup di dalam dia dan dia di dalam kita, apa pun yang kita minta akan selaras dengan kehendaknya.

Dasar dari janjinya dalam ayat 7 terlihat pada ayat berikutnya, “Bapaku akan dimuliakan dengan hal ini, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian, kamu adalah murid-muridku.” Bukti bahwa kita adalah murid-muridnya terlihat dari keberbuahan rohani kita.


Apa artinya “tinggal”?

Apa artinya tinggal di dalam Tuhan? Sebagaimana telah kita sebutkan dalam bab sebelumnya, kata “tinggal” (menō, μένω) muncul 40 kali dalam Injil Yohanes dan 24 kali dalam Surat 1 Yohanes. Secara keseluruhan, kata ini muncul 68 kali dalam tulisan-tulisan Yohanes, yang sebagian besar digunakan dalam pengertian rohani. Di bagian lain Perjanjian Baru, kata ini hanya muncul 52 kali. Dengan beberapa pengecualian, kemunculan kata tersebut di bagian lain ini memiliki makna harfiah yang umum dan tidak digunakan dalam pengertian yang secara khusus bersifat rohani. Dengan demikian, konsep “tinggal” jelas merupakan gagasan yang penting dalam tulisan-tulisan Yohanes.

Liddell, Scott, Jones’ Greek-English Lexicon (Oxford, 1973)  yang sangat tebal (lebih dari 2,000 halaman) memberikan definisi-definisi utama berikut untuk menō (μένω): “1. berdiri teguh, dalam pertempuran; 2. tinggal di rumah, bermalam; 3. tinggal, berdiam; 4. untuk benda-benda, bersifat langgeng, tetap ada, berdiri, stabil, permanen”.

Demikian pula, Bauer, Arndt and Gingrich’s Greek-English Lexicon of the New Testament (1979, Chicago) memberikan definisi-definisi utama berikut: “tinggal, menetap, berdiam; hidup, bermukim; bertahan, tahan uji, berlanjut”.

Dictionary of Christ and the Gospels karya James Hastings, meskipun merupakan karya lama, tetap penting hingga saat ini. Dalam membahas makna kata tersebut di bawah entri “Abiding” (“Tinggal”) serta menelaah berbagai definisinya, kamus ini sampai pada kesimpulan bahwa “Gagasan utamanya adalah keberlangsungan yang teguh”.

Apa arti “ketekunan yang teguh”? Istilah ini mengandung gagasan untuk tetap tinggal, bertahan, dan terus berada di dalam sesuatu atau seseorang (dalam hal ini, Kristus, atau dia di dalam kita) dengan penuh pengabdian, kesetiaan, keteguhan hati, serta ketekunan yang tak tergoyahkan.


Tinggal “di dalam”

Dalam membahas makna kata “tinggal”, perlu diperhatikan bahwa dalam tulisan-tulisan Yohanes, kata “tinggal” sering digunakan bersama dengan kata “di dalam”. Menanggapi hal ini, Hastings mengemukakan bahwa Yohanes “menekankan gagasan bukan sekadar tentang persekutuan yang erat, melainkan juga tentang kuasa dan berkat yang dihasilkan darinya”.

Dengan menggabungkan semua definisi dan pengamatan sebelumnya, kita sampai pada kesimpulan bahwa “tinggal di dalam” Kristus berarti hidup dalam keberlanjutan yang stabil dan teguh di dalam Kristus, dalam persekutuan yang erat dan intim.

Karena kata “tinggal” mengandung gagasan tentang kelanjutan yang teguh, hal ini pada dasarnya berarti setia secara teguh pada komitmen seseorang kepada Kristus. Dengan demikian, perkataan Yesus dapat diparafrasakan sebagai berikut: orang yang terus-menerus tinggal di dalam aku, dan aku di dalam dia, dialah yang menghasilkan banyak buah. Atau dengan kata lain, orang yang tetap setia pada komitmennya kepadaku dan pada komitmenku kepadanya, dialah yang menghasilkan banyak buah. Pemahaman mengenai ajaran Yesus ini tentu saja benar, tetapi apakah Yesus bermaksud menyampaikan sesuatu yang lebih dari sekadar itu ketika ia berbicara tentang “tinggal” di dalam dia?


Hubungan antara pokok anggur dan rantingnya

Kita perlu melangkah lebih jauh daripada sekadar bertahan dengan setia, karena seseorang bisa saja berkata, “Menurut hati nurani saya, saya setia dalam komitmen saya kepada Tuhan. Namun, saya tidak menghasilkan buah.” Apakah ini pengalaman Anda? Anda mungkin setia dalam komitmen kepada Tuhan, tetapi kekurangan kedalaman dan kekuatan rohani seperti yang dimiliki oleh mereka yang tinggal di dalam Tuhan. Tentu saja, apa yang dikehendaki Yesus lebih daripada sekadar “bertahan dengan teguh”. Namun, apakah “lebih” yang dimaksud itu?

Untuk menjawab hal ini, mari kita perhatikan Yohanes 15. Ayat 4 mengatakan, “Tinggallah di dalam aku dan aku di dalam kamu. Ranting tidak dapat berbuah dengan sendirinya, kecuali ia tinggal pada pokok anggur.” Di sini, kata “tinggal” menggambarkan hubungan yang vital—bukan sekadar keberlangsungan—antara pokok anggur dan ranting. Memang benar bahwa ranting terus melekat pada pokok anggur, tetapi hal itu tidak sepenuhnya mendefinisikan hubungan vital di antara keduanya. Kita biasanya tidak mengatakan bahwa suatu ranting “terus melekat dengan teguh” pada pokok anggur, bukan?

Mari kita cermati hal ini lebih dekat. Di sini, kata “tinggal” menggambarkan hubungan antara pokok anggur dan rantingnya. Hubungan seperti apa? Apakah Yesus bermaksud mengatakan, “Jika engkau memiliki hubungan denganku, dan aku denganmu, engkau akan menghasilkan banyak buah”? Pernyataan ini memang benar, tetapi masih samar dan memerlukan penjelasan yang lebih lengkap.

Hubungan antara pokok anggur dan rantingnya terjalin dalam dua tingkatan. Kita dapat menyebutnya sebagai hubungan lahiriah dan hubungan batiniah. Dalam hubungan lahiriah, ranting secara fisik melekat pada batang, sedangkan dalam hubungan batiniah, getah yang memberi kehidupan dari pokok anggur mengalir ke dalam ranting tersebut. Hubungan lahiriah semata tidak akan menghasilkan buah. Faktor yang menentukan adalah apakah kehidupan batiniah mengalir dari pokok anggur ke dalam ranting tersebut.


(1) Hubungan lahiriah

Mari kita sejenak mempertimbangkan hubungan lahiriah. Jika suatu ranting ditempelkan pada batang dari sisi luar, bisa jadi terdapat hubungan bagian dalam, bisa juga tidak. Jika kita merekatkan ranting ke batang menggunakan lem epoksi yang kuat, kita telah membentuk ikatan atau hubungan di bagian luar. Sebuah ikatan eksternal telah tercipta, tetapi bukan hubungan yang bersifat internal.

Atau, kita bisa mencangkok ranting ke batang dengan cara membuat irisan pada batang tersebut, lalu menyisipkan ranting itu ke dalamnya. Sebagai suatu teknik pertanian, pencangkokan telah dikenal selama ribuan tahun. Praktik ini disebutkan dalam Roma 11:17 dan seterusnya, yang mengisahkan tentang cabang pohon zaitun liar yang disambungkan pada pohon zaitun.

Perhatian utama sang tukang kebun adalah apakah sambungan tersebut telah “berhasil”. Jika sambungan itu tidak berhasil, ranting tersebut akan layu dan mati karena tidak mampu menyerap getah kehidupan dari batang utamanya. Namun, jika sambungan itu diterima, kehidupan akan mengalir dari batang utama ke dalam ranting tersebut.

Pencangkokan sebagai prosedur medis (misalnya, pencangkokan kulit) juga sudah dikenal luas. Transplantasi jantung merupakan salah satu bentuk pencangkokan. Terkadang tubuh menerima cangkokan tersebut, tetapi terkadang tubuh justru menolaknya.

Oleh karena itu, hubungan yang hidup harus lebih mendalam daripada sekadar menempel; hubungan tersebut harus melibatkan penyambungan internal ke dalam batang. Namun, pertanyaannya adalah apakah penyambungan itu telah berhasil atau belum. Hal inilah yang menentukan apakah akan ada buah yang dihasilkan atau tidak. Jika tidak ada buah, itu menandakan bahwa penyambungan tersebut gagal, atau bahwa ranting itu sakit dan sedang sekarat. Ranting, seperti halnya manusia, rentan terhadap penyakit. Kita bisa melihatnya pada pohon buah-buahan. Terkadang, saat kita menjumpai ranting yang sakit, kita memotongnya agar penyakit tersebut tidak menyebar ke bagian pohon lainnya.


(2) Hubungan yang semata-mata lahiriah dengan Kristus

Hubungan lahiriah tidak serta-merta menyiratkan adanya hubungan batiniah yang vital. Dalam konteks kehidupan Kristen, ini berarti Anda mungkin telah dibaptis, telah menyatakan pengakuan iman, atau melakukan berbagai hal yang lazim dikaitkan dengan status sebagai anggota tubuh Kristus—yaitu gereja. Memang ada hubungan lahiriah, tetapi apakah ada hubungan batiniah? Seberapa kuat hubungan tersebut? Apakah Anda mampu menimba kehidupan dari Kristus? Itulah inti persoalan yang hendak kita bahas.

Anda mungkin secara lahiriah telah dipersatukan dengan Kristus melalui baptisan, tetapi pertanyaannya tetap: Apakah kehidupan Kristus mengalir ke dalam batin Anda? Itulah sebabnya “tinggal di dalam dia” menjadi begitu penting. Jika kehidupan Kristus—beserta kuasa dari kehidupan tersebut—tidak mengalir ke dalam diri kita, maka hubungan batin itu tidak ada, dan kita hampir tidak bisa mengatakan bahwa kita sedang “tinggal di dalam dia”. Hal yang paling krusial bukanlah hubungan lahiriah, melainkan hubungan batiniah.

Hubungan internal menyiratkan adanya hubungan eksternal, tetapi sebaliknya tidak selalu demikian. Jika Anda menjadi anggota suatu gereja, berarti ada hubungan eksternal, tetapi hal itu tidak membuktikan adanya hubungan internal dengan Kristus. Memiliki hubungan eksternal dengan gereja, atau menyandang label “Kristen”, tidak serta-merta berarti kuasa Allah sedang bekerja dalam hidup Anda melalui kehadiran-Nya yang berdiam di dalam diri Anda.

Dengan demikian, “ketekunan yang teguh” harus mencirikan hubungan batin dengan Kristus—bukan sekadar hubungan lahiriah—agar dapat mengungkapkan secara tepat apa yang disampaikan Yesus kepada kita. Seseorang, misalnya, bisa saja setia dalam pengertian lahiriah, seperti rajin beribadah ke gereja. Jika kita tidak pernah absen ke gereja pada hari Minggu, bukankah itu merupakan ketekunan yang teguh? Hubungan yang bersifat lahiriah bukanlah persoalannya; namun, apakah terdapat ketekunan yang teguh di dalam batin—itu adalah hal yang berbeda.

Kesetiaan lahiriah tidak sama dengan kesetiaan batiniah. Sepasang suami istri mungkin setia secara lahiriah dalam artian tidak melakukan perzinaan. Secara lahiriah, mereka setia pada perjanjian pernikahan mereka, tetapi komunikasi batin di antara mereka mungkin sudah mati. Hubungan lahiriah mereka terlihat jelas; mereka menikah secara sah dan mengenakan cincin kawin yang serasi. Mereka dapat menunjukkan dokumen resmi sebagai bukti ikatan lahiriah tersebut, tetapi hubungan batiniah mereka mungkin lemah atau bahkan sudah mati.

“Tinggal di dalam dia” bukan sekadar hubungan yang bersifat lahiriah; hal ini berarti hidup dalam relasi yang hidup dengan Kristus. Ini tidak berarti hidup di dalam Kristus sebagaimana seseorang tinggal di dalam sebuah rumah. Pemahaman seperti itu tidak masuk akal karena Kristus bukanlah bangunan fisik. Kita tidak sedang berbicara mengenai tempat tinggal secara fisik, melainkan mengenai relasi. Ini bukan sekadar hidup di dalam Kristus dalam pengertian yang samar, melainkan hidup dalam komunikasi batin yang hidup dengan Kristus, di mana kehidupannya mengalir ke dalam diri kita.

Karena hidupnya merupakan landasan bagi hidup kita—menyediakan atmosfer rohani yang kita hirup—kita dapat mengatakan bahwa Kristus adalah lingkungan rohani tempat kita hidup. Secara jasmani kita hidup di dunia; secara rohani kita hidup di dalam Kristus. Itulah sebabnya dikatakan bahwa kita berada “dalam dunia, tetapi bukan dari dunia”.

Sekarang jelas bahwa berbicara tentang “keberlangsungan yang teguh” di dalam batin—meskipun tidak salah—masih tidak memadai untuk mengungkapkan apa yang disampaikan oleh Yesus. Kata “keberlangsungan” saja tidak cukup untuk menggambarkan hubungan antara pokok anggur dan ranting-rantingnya. Agar hubungan tersebut tetap vital atau hidup, tidak cukup hanya sekadar ada keberlangsungan; harus ada keberlangsungan dari sesuatu yang spesifik. Apakah “sesuatu” itu? Tentu saja, harus ada keberlangsungan aliran getah (kehidupan) dari pokok anggur ke ranting-rantingnya, agar ranting-ranting tersebut dapat hidup, bertumbuh, dan berbuah.

Kontras antara aspek lahiriah dan batiniah berlaku pula dalam gereja. Di dalam gereja, terdapat orang-orang yang mengikuti kelompok sel maupun kelompok pendalaman Alkitab. Mungkin ada keterikatan secara lahiriah, bahkan kesetiaan lahiriah dalam hal kehadiran di gereja, tetapi belum tentu terdapat hubungan batiniah di antara jemaatnya. Berdasarkan pengamatan, kita mengetahui bahwa banyak gereja kekurangan komunikasi batiniah di antara anggotanya. Seseorang mungkin memiliki hubungan lahiriah dengan Kristus melalui gereja, tetapi tanpa komunikasi batiniah yang hidup dengannya maupun dengan umatnya.


(3) Bahaya dari hubungan yang sekadar lahiriah

1 Yohanes 2:18-19 menunjukkan kepada kita bahaya jika hanya memiliki hubungan yang bersifat lahiriah:

Anak-anakku, sekarang ini adalah zaman akhir; dan seperti yang sudah kamu dengar bahwa anti-Kristus akan datang, bahkan sekarang banyak anti-Kristus telah datang. Demikianlah kita tahu bahwa sekarang adalah zaman akhir. Mereka datang dari antara kita, tetapi mereka bukan bagian dari kita. Sebab, jika mereka bagian dari kita, mereka akan tetap bersama kita. Namun, mereka meninggalkan kita sehingga nyata bahwa mereka bukan bagian dari kita.

Yang mengejutkan kita, Yohanes mengatakan bahwa antikristus tidak datang dari kalangan orang kafir di luar gereja, melainkan dari dalam gereja itu sendiri! Antikristus memiliki asal-usul dan identitas Kristen.

“Mereka datang dari antara kita, tetapi mereka bukan bagian dari kita.” Pernyataan yang membingungkan ini menjadi mudah dipahami jika kita membedakan dua jenis hubungan. Semua antikristus pernah memiliki keterkaitan dengan gereja pada suatu waktu. Mereka memiliki hubungan lahiriah yang nyata dengan jemaat Allah, tetapi tidak memiliki hubungan batiniah yang hidup dengan Kristus sendiri—meskipun mungkin pada masa lalu mereka sempat memiliki hubungan yang lemah dengannya. Jika hubungan Anda dengan Tuhan lemah, Anda berada dalam bahaya besar untuk terputus dari Kristus dan kehilangan anugerah (Gal 5:4), bahkan suatu saat nanti berhenti menjadi seorang Kristen sama sekali. Lebih buruk lagi, Anda bisa berakhir menjadi seorang antikristus.

Beberapa musuh yang paling memusuhi Injil bukanlah orang-orang yang tidak percaya, melainkan mereka yang dulunya adalah “orang Kristen”. Mereka pernah bersekolah di sekolah Kristen dan dibesarkan dalam keluarga Kristen. Begitu orang-orang ini berpaling dari Injil, mereka menjadi ancaman besar bagi gereja karena mereka dapat mengeklaim memiliki keterikatan dengan gereja. Sebagai mantan orang Kristen, mereka memahami seluk-beluk kehidupan gereja, dan hal inilah yang membuat mereka menjadi ancaman baginya.

Kami yang melayani sebagai gembala jemaat mengetahui dari pengalaman bahwa orang-orang di dalam gereja yang memiliki hubungan batin yang lemah dengan Allah dan dengan gereja-Nya dapat dengan mudah menjadi orang yang suka mengeluh, mencari-cari kesalahan, dan merasa tidak puas (Yudas 1:16, dll.). Hubungan batin yang lemah ini berujung pada kehidupan yang penuh kekalahan, yang pada gilirannya menimbulkan ketidakbahagiaan. Mereka melampiaskan ketidakpuasan tersebut kepada gereja, sehingga gereja pun menanggung beban dari rasa tidak puas mereka.

Orang-orang seperti itu sudah menjadi bahaya bagi gereja selagi mereka masih berada di dalamnya, bahkan jauh sebelum mereka benar-benar pergi. Ada pula orang-orang semacam ini yang menimbulkan masalah bagi gereja meskipun mereka memutuskan untuk tetap tinggal, karena mereka telah menempatkan atau mengokohkan diri dalam posisi yang memiliki wewenang. 3 Yohanes 9-10 merupakan contoh dari situasi berbahaya seperti ini yang terjadi di salah satu gereja.

Oleh karena itu, memiliki hubungan yang sebatas lahiriah saja dengan Allah dan umat-Nya merupakan hal yang berpotensi berbahaya. Orang-orang seperti ini tidak hanya gagal menghasilkan buah, bahkan lebih buruk lagi, mereka bisa menjadi musuh yang aktif bagi Allah dan gereja-Nya.


(4) Hubungan batin dengan Tuhan

Saat berbicara mengenai “tinggal di dalam”, Yesus menekankan hubungan yang bersifat batiniah. Namun, seperti apakah sifat hubungan ini? Bagaimana cara kita berkomunikasi dengan Tuhan?

Hubungan batiniah tentu melibatkan komunikasi yang efektif dengan Tuhan. Namun, bagaimana cara mencapainya? Saat kita berdoa kepada Allah Bapa, apakah kita merasa seolah-olah doa kita hanya berjalan di satu arah? Kita berdoa, tetapi semuanya terasa seperti lalu lintas satu arah. Dengan menggunakan perumpamaan lain, mungkin pemancar radio kita berfungsi, tetapi penerimanya tidak. Akibatnya, monolog kita pun menjadi membosankan, bahkan bagi diri kita sendiri.

Bagaimana kita dapat tinggal di dalam Kristus, Anak Allah? Bagaimana sari kehidupan mengalir ke dalam diri kita dan menghasilkan buah Roh? Bagaimana mungkin hidupnya mengalir ke dalam diri kita jika hati kita tidak bersatu dengan hatinya? Harus ada hubungan dua arah, komunikasi dua arah. Dapatkah ia menjangkau kita jika kita tidak menjangkaunya?


“Jika perkataanku tinggal di dalam kamu”

Beberapa kali Yesus berkata, “Tinggallah di dalam aku dan aku di dalam kamu.” Kemudian, tiba-tiba pada ayat 7, ia mengalihkan konsep “tinggal” tersebut menjadi tinggal di dalam perkataannya: “Jika kamu tetap tinggal di dalam aku dan perkataanku tinggal di dalam kamu.” Dalam pengertian apa perkataannya tinggal atau hidup di dalam diri kita? Anda mungkin menjawab, “Oh, dengan membaca Alkitab dan menghafal ayat-ayat Kitab Suci.” Hal itu memang benar sebagian, tetapi sama sekali bukan inti dari apa yang sedang dibicarakan oleh Yesus.

“Jika perkataanku tinggal di dalam kamu.” Beberapa ayat sebelumnya, Yesus berbicara mengenai perkataannya: “Kamu memang sudah dibersihkan karena firman yang telah kukatakan kepadamu” (ay. 3). Dalam rentang lima ayat, ia menyebut tentang “perkataan”-nya sebanyak dua kali. (Istilah ini merujuk pada dua kata Yunani yang berbeda, yaitu logos dan rhēma, tetapi kita tidak perlu membahas perincian teknisnya di sini.) Cukuplah untuk mengatakan bahwa “perkataan” Yesus merupakan hal yang vital untuk dapat “tinggal” di dalam dia.

Sekali lagi, gagasan tentang “kelangsungan yang teguh” tidaklah memadai untuk mendefinisikan kata “tinggal” (dalam konteks ini), karena dalam pengertian apa kata-kata yang diucapkan dapat terus berlangsung secara teguh di dalam diri kita? Istilah tersebut baru menjadi masuk akal jika dikaitkan dengan kehidupan. Jika pernyataan itu dipahami sebagai, “Jika perkataanku hidup di dalam dirimu secara terus-menerus”, barulah maknanya mulai terlihat. Perkataan Yesus membawa kehidupan; perkataannya lebih daripada sekadar teks tertulis atau bahasa yang diucapkan. Kolose 3:16 menggambarkan perkataan Kristus sebagai sesuatu yang hidup: “Biarlah perkataan Kristus tinggal di dalam kamu dengan melimpah.” Biarkan perkataannya hidup di dalam dirimu, berdiam di dalam dirimu, menetap di dalam dirimu. Hal ini hanya masuk akal jika perkataan Kristus merupakan sesuatu yang hidup—sesuatu yang memiliki kehidupan dan menyalurkan kehidupan. Dalam Yohanes 6:63, Yesus berkata, “Perkataan-perkataan yang kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.”


Kedalaman firman Allah yang tak ada habisnya

Dalam sebuah perjalanan ke Ottawa belum lama ini, saya membeli sebuah buku teologi berjudul Prophecy and Hermeneutics in the Early Church. Setelah membacanya, saya tidak perlu membacanya untuk kedua kalinya karena dalam satu kali baca saja, saya sudah menangkap inti sarinya. Ibaratnya, saya telah memeras buku itu seperti jeruk dan meminum sarinya. Apa lagi yang bisa dilakukan dengan buku tersebut? Memerasnya untuk kedua kalinya? Mungkin Anda akan mendapatkan beberapa tetes lagi, tetapi usaha Anda tidak akan sepadan dengan hasilnya. Hal yang sama berlaku untuk buku-buku lain yang pernah saya baca; saya tidak ingat pernah membaca buku apa pun untuk kedua kalinya.

Namun, Alkitab berbeda. Saya telah membaca Alkitab selama lebih dari empat dekade, tetapi kekayaan baru terus saja mengalir. Saya telah membaca Injil Yohanes pasal 15 berkali-kali sejak saya masih menjadi orang Kristen muda. Namun, setiap kali membacanya, saya menemukan kedalaman makna yang baru. Anda tidak bisa mendapatkan hal seperti ini dari tulisan manusia biasa. Penulis buku yang baru saja saya sebutkan adalah seorang cendekiawan yang sangat terpelajar, yang pernah menempuh pendidikan di Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat. Ia seorang teolog, profesor seminari, dan salah satu pakar Alkitab terkemuka di Amerika Utara. Meski demikian, satu kali membaca saja sudah cukup. Bahkan, mungkin saya tidak benar-benar belajar banyak dari satu kali bacaan itu, karena topiknya sudah sangat familier bagi saya. Jika saya harus membacanya berulang-ulang selama tiga bulan, saya pasti akan merasa sangat bosan dengan buku tersebut.

Kebanyakan orang cukup cerdas untuk tidak perlu mempelajari materi yang sama berulang-ulang. Sebaliknya, saat Anda membaca Kitab Suci dengan saksama dan menyeluruh, pada kesempatan berikutnya Anda akan menemukan kekayaan yang baru. Anda akan mendapati hal ini terjadi setiap kali Anda membacanya dengan penuh perhatian dan merenungkannya dengan hati Anda. “Sebab, firman Allah itu hidup dan berkuasa” (Ibr 4:12). Firman Allah itu hidup dan kaya tanpa batas. Alkitab bukanlah sekadar buku karya manusia. Memahami Alkitab bukanlah soal kapasitas intelektual, melainkan soal vitalitas dan wawasan rohani.

Dalam bagian tentang pokok anggur dan ranting-rantingnya, Yesus berkata,

“Aku tidak lagi menyebut kamu hamba karena hamba tidak tahu apa yang dilakukan oleh tuannya. Akan tetapi, aku menyebut kamu sahabat karena semua yang aku dengar dari Bapa telah aku beritahukan kepadamu.” (Yoh 15:15)

Apakah kita memahami pernyataan ini? Hanya diperlukan pengetahuan dasar bahasa untuk memahaminya. Namun, jika saya bertanya apakah Anda memahaminya secara rohani—bukan sekadar secara intelektual—saya rasa hanya sedikit orang yang akan menjawab, “Ya, saya memahaminya.”

“Semua yang aku dengar dari Bapa telah aku beritahukan kepadamu.” Apakah hal itu nyata dalam pengalaman Anda? Apakah Kristus telah memberitahukan kepada Anda segala sesuatu yang telah diperlihatkan Bapa kepadanya? Bagi kebanyakan orang, mungkin tidak demikian. Kata “kamu” di sini berbentuk jamak, yang menunjukkan bahwa ia menyatakan segala sesuatu kepada murid-muridnya dan gerejanya secara kolektif. Ia tidak semestinya menyingkapkan segalanya kepada satu orang saja. Namun, pertanyaannya tetap: seberapa banyak yang telah ia nyatakan kepada Anda secara pribadi? Sekali lagi, ini bukanlah soal pengetahuan, melainkan soal kehidupan.

Firman Allah, berbeda dengan buku karya manusia, tidak dapat dipahami hanya pada tataran intelektual. Firman tersebut berbicara pada tingkat rohani yang tidak dapat kita mengerti kecuali jika hal itu menjadi kebenaran yang kita alami sendiri. Atau, mari kita perhatikan sesuatu yang lebih mendasar. Roma 6 mengatakan bahwa Anda telah “mati”. Jika Anda belum mati, Anda bisa membaca Roma 6 berulang kali, tetapi tetap gagal menangkap makna rohani dari pernyataan tersebut. Anda belum mati, jadi bagaimana mungkin pernyataan itu bisa dipahami oleh Anda? Namun, jika Anda telah mati, maknanya akan menjadi jelas bagi Anda—meskipun Anda mungkin belum memahami kedalamannya secara utuh.

Saat Yesus berkata, “Tinggallah di dalam aku”, tahukah kita apa artinya itu? Kita mungkin mengetahui definisi kata “tinggal” menurut kamus, tetapi apakah kita memahami makna batiniahnya? Kita tidak akan memahaminya kecuali kita memiliki hubungan batin yang hidup dengan Kristus. Perkataan Kristus itu hidup, tetapi apakah perkataan tersebut hidup di dalam diri kita? Jika tidak, maka perkataan itu akan tetap tidak dapat kita mengerti dan tidak akan memberikan manfaat apa pun bagi kita.


Bagaimana Allah berkomunikasi dengan kita?

Sekarang, mari kita renungkan berbagai cara Allah Bapa berkomunikasi dengan kita. Hal ini sangatlah penting dalam kaitannya dengan upaya untuk tetap tinggal di dalam Yesus Kristus, Anak Allah, dan dia di dalam kita.


(1) Allah berbicara kepada kita melalui firman-Nya

Allah berbicara kepada kita terutama melalui firman yang telah Ia ajarkan kepada kita. Saat kita berdoa kepada-Nya atau bersekutu dengan-Nya, Ia menanggapi kita. Bagaimana caranya? Melalui firman yang telah Ia ucapkan. Ia telah memberikan jawaban-Nya, asalkan kita memiliki telinga untuk mendengar.

Bayangkan Anda sedang duduk di hadapan Allah dengan tenang. Saya sering duduk dalam posisi yang cukup nyaman untuk berdoa, karena jika kita berada dalam posisi yang tidak nyaman, kita tidak akan bisa berdoa dalam waktu lama. Jika lutut atau punggung Anda mulai terasa sakit, perhatian Anda akan teralihkan dari persekutuan dengan Allah, dan setelah beberapa saat, Anda tidak akan mampu melanjutkannya lagi.

Akan tetapi, sangatlah baik jika kita mengawali setiap hari dengan berdoa dalam posisi berlutut, selama kita tidak memiliki keterbatasan fisik atau cedera yang menghalangi kita untuk melakukannya. Anda dapat tetap berada dalam posisi tersebut selama Anda tidak terganggu oleh rasa nyeri atau ketidaknyamanan yang dapat memengaruhi kegiatan berdoa Anda.

Sangatlah penting bagi saya untuk mengungkapkan penyembahan dan ketaatan hati sepenuhnya kepada Allah dengan cara ini setiap hari, meskipun hanya untuk waktu yang terbatas karena adanya keterbatasan fisik. Rasul Paulus pun dipastikan berdoa dengan cara seperti ini—walaupun mungkin bukan satu-satunya cara ia berdoa—sebab dalam Efesus 3:14 ia berkata, “Aku berlutut di hadapan Bapa”. Bagi mereka yang tidak mengalami nyeri punggung atau masalah fisik lainnya, dan lebih memilih untuk berdoa dengan posisi berlutut, tentu saja diperbolehkan untuk melakukannya.

2 Samuel 7:18 mencatat bahwa Daud, seorang yang berkenan di hati Allah, “duduk di hadapan Yahweh” untuk berbicara kepada-Nya (lihat juga 1 Tawarikh 17:16). Tampaknya ini merupakan doa yang cukup panjang, yang intisarinya tercatat dalam ayat 18-29.

Saat kita duduk dengan tenang dan berdoa kepada Allah, kita cenderung terus berbicara—kecuali jika kita memang tipe orang yang tidak banyak bicara. Lama-kelamaan, kita akan kehabisan kata-kata. Ada batasnya sampai kapan kita bisa terus seperti itu; pada akhirnya, kita akan lelah berbicara sendiri. “Tuhan, bolehkah aku berhenti bicara sejenak? Maukah Engkau mengatakan sesuatu kepadaku? Aku sudah lelah mendengar suaraku sendiri.” Saya yakin Anda pernah mengalami hal ini jika Anda pernah mencoba berdoa dengan sungguh-sungguh. Akhirnya, kita terdiam dan berkata dengan rendah hati, “Tuhan, sekarang giliran-Mu. Mengapa Engkau diam saja? Tidakkah Engkau ingin mengatakan sesuatu?” Apakah Allah begitu menyukai suara kita sehingga Ia memilih untuk tetap diam sementara kita terus berbicara?

Sungguh luar biasa, Allah sebenarnya telah berfirman. “Sebelum mereka berseru, Aku akan menjawab” (Yes 65:24). Lalu, di manakah jawaban-Nya? Jawaban itu sudah ada sejak lama—seandainya saja kita memiliki telinga untuk mendengar! Apa lagi yang hendak Allah sampaikan kepada kita, yang belum Ia katakan di dalam Firman-Nya? Di dalam Kitab Suci, Ia telah menyatakan segala sesuatu yang perlu kita ketahui tentang cara menjalani kehidupan rohani. Masalahnya adalah kita membaca tetapi tidak melihat, serta mendengarkan tetapi tidak mendengar.


(2) Roh mengingatkan kita akan firman Tuhan

Lalu, apa yang harus saya lakukan? Membaca Alkitab? Intinya bukan sekadar membaca. Satu pasal sebelumnya, Yesus telah membahas hal ini ketika ia berkata,

Semua hal ini telah aku katakan kepadamu selama aku masih bersamamu. Akan tetapi, Penolong itu, yaitu Roh Kudus, yang akan Bapa utus dalam namaku, Dia akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu, dan akan mengingatkanmu pada semua yang telah kukatakan kepadamu. (Yoh 14:25-26)

Perhatikan kata-kata penting ini: “Mengingatkanmu pada semua yang telah kukatakan kepadamu.” Yesus telah menyampaikan segala hal yang perlu kita ketahui, baik mengenai pemuridan maupun kehidupan Kristen. Di sinilah peran Roh Kudus. Ia akan “mengingatkan” kita akan semua yang telah Yesus katakan kepada kita. Saat kita berdoa, Roh Allah akan berkomunikasi dengan kita, membawa perkataan Kristus ke dalam hati dan pikiran kita.

Namun, dari mana saya harus memulai dalam perkataan Yesus? Bagian mana yang relevan? Nah, justru itulah sebabnya kita memerlukan Roh Kudus untuk membawa perkataan Kristus ke dalam hati kita. Hal ini mengandaikan bahwa kita telah mendengar apa yang ia katakan dan mengetahui apa yang ia ajarkan. Jika kita bahkan tidak tahu apa yang ia sampaikan di dalam Kitab Suci, maka tidak ada yang bisa kita ingat. Kita tidak mungkin mengingat sesuatu yang sejak awal memang tidak kita ketahui. Kita harus terlebih dahulu menyimak atau membaca perkataan Yesus dengan saksama; barulah setelah itu Roh Kudus dapat mengingatkan kita kembali akan perkataan tersebut. Perkataan Yesus tidak dapat berdiam di dalam diri kita jika perkataan itu belum pernah masuk ke dalam hidup kita.

“Mengingat” berarti lebih dari sekadar menyegarkan ingatan. Kata “mengingat”, sebagaimana digunakan oleh Yohanes, berarti bahwa Roh Allah akan menghadirkan signifikansi dari firman tersebut ke dalam pikiran kita, yang relevan dengan situasi khusus yang sedang kita hadapi (lihat Yoh 2:17, 22; 12:16; 15:20; 16:4); hal ini bukan sekadar memanggil kembali sesuatu dari dalam ingatan. Roh Allah akan membuat pesan tersebut tiba-tiba memiliki signifikansi yang sangat jelas dan hidup, dengan cara yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

Saat kita tinggal di dalam Kristus, kita terhubung dengannya melalui hubungan batiniah yang berlangsung di lubuk diri kita—di dalam hati dan roh kita. Di sanalah Roh Kudus mengambil firmannya dan menerapkannya kepada kita, dengan cara yang menyapa kita dalam situasi apa pun yang sedang kita alami.

Terapkanlah hal ini, maka Anda akan takjub melihat bagaimana perkataan Yesus berbicara kepada Anda. Roh Kudus—Roh Allah, yang di dalam-Nya kita menjadi bait-Nya dan yang berdiam di dalam diri kita sebagai kehadiran yang hidup—akan mengambil perkataan yang telah diucapkan Yesus, lalu menerapkannya kepada Anda. Bukan sekadar teks tertulis, melainkan jiwa dari pesan itulah yang menjadi hidup bagi Anda. Tiba-tiba, Anda pun merasakan semangat yang meluap-luap. Setidaknya, itulah yang saya rasakan.

Saat saya merenungkan firman Tuhan, sering kali Roh Allah tiba-tiba menyingkapkannya kepada saya, memperlihatkan bagaimana firman tersebut relevan dengan situasi yang sedang saya hadapi. Hal ini bukan sekadar soal menghafal; sebab meskipun saya mengingat suatu bagian firman, bisa saja saya tidak memahami maknanya. Roh Kuduslah yang menyatakan makna mendalam dari bagian firman tersebut kepada saya. “Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu datang, Dia akan membimbingmu ke dalam semua kebenaran” (Yoh 16:13).

Saat Anda mengunjungi museum atau tempat wisata, seorang pemandu akan menjelaskan segala sesuatunya kepada Anda langkah demi langkah. Awalnya, Anda mungkin tidak melihat sesuatu yang berarti pada suatu tempat, tetapi setelah pemandu menjelaskannya, Anda pun memahami maknanya. Sebelumnya, Anda mungkin bisa saja melewati tempat itu tanpa melihat apa pun. Akan tetapi kini, karena pemandu telah menunjukkan maknanya kepada Anda, tempat tersebut seolah “menjadi hidup”. Inilah yang dimaksud dengan “mengingat kembali”.

Ini bukan satu-satunya cara Roh berbicara kepada kita. Namun, sebagai aturan, kita perlu mengambil langkah ini sebelum beralih ke langkah berikutnya.


(3) Komunikasi langsung

Apa langkah selanjutnya? Yohanes 16:12 menyiratkan suatu perkem­bangan:

“Masih banyak hal yang ingin aku katakan kepadamu, tetapi kamu tidak dapat menanggungnya sekarang.”

Ada hal-hal yang belum disampaikan Yesus kepada kita, sehingga hal-hal tersebut tidak dapat diingatkan kembali kepada kita. Mungkin saat ini kita belum siap menerima apa yang hendak ia sampaikan, tetapi ketika kita sudah siap—atau saat kebutuhan itu muncul—Roh Kudus akan menjalankan langkah selanjutnya: Ia akan berbicara langsung kepada kita, tanpa harus selalu mengingatkan kita pada bagian tertentu dalam Kitab Suci. Ia akan menyingkapkan kepada kita apa yang perlu kita ketahui.

Tahap ini berada lebih jauh dalam perjalanan rohani kita. Tahap ini diperuntukkan bagi mereka yang telinganya telah diselaraskan untuk mendengar kebenaran firman Allah melalui “peringatan” dari Roh Kudus. Seiring kita melangkah maju, Allah akan menyatakan berbagai hal kepada kita secara langsung. Namun, perlu ditekankan bahwa apa pun yang dinyatakan Allah melalui komunikasi langsung senantiasa selaras sempurna dengan Firman-Nya, yaitu Kitab Suci. Jika hal tersebut bertentangan dengan Kitab Suci, itu bukan berasal dari Allah.

Hal-hal apa sajakah yang akan dinyatakan Allah kepada mereka yang bersekutu dengan-Nya? Sebagai contoh, dalam Kisah Para Rasul pasal 9, Tuhan berbicara kepada “seorang murid di Damsyik, bernama Ananias” (ay. 10) dan memberikan petunjuk kepadanya mengenai apa yang harus dilakukan bagi Saulus—penganiaya jemaat yang kelak dikenal sebagai Paulus, sang rasul. Tuhan bahkan menyatakan kepada Ananias sesuatu mengenai pelayanan Paulus pada masa depan.

Agabus sang nabi (Kis 11:28-29; 21:10-11) mengetahui melalui Roh bahwa kelaparan akan melanda Yudea, dan bahwa jemaat harus bersiap menghadapinya.

Roh Kudus menyampaikan berbagai hal kepada mereka yang taat kepada Allah dan telah menjadi peka terhadap firman Allah. Tuhan berfirman kepada Paulus dalam suatu penglihatan, “Jangan takut, tetapi teruslah berbicara dan jangan diam, karena Aku bersamamu dan tidak ada seorang pun yang akan menyerangmu untuk menganiayamu karena ada banyak umat-Ku di kota ini.” (Kis 18:9-10)

Allah mengajarkan kepada Petrus pentingnya membedakan hal-hal yang tahir dan yang haram ketika Ia berfirman kepadanya, “Apa yang telah Allah tahirkan, jangan sekali-kali kamu sebut haram” (Kis 10:15).

Roh Allah dapat berbicara kepada Anda melalui penglihatan, mimpi, atau secara langsung. Belum lama ini, setelah saya terjaga cukup lama, Allah berkomunikasi dengan saya. Ia memperingatkan bahwa masa bagi gereja di dunia ini akan segera berakhir dan peristiwa-peristiwa penting akan segera terjadi. Saya duduk di tempat tidur dan merenungkan hal-hal yang ditunjukkan Allah kepada saya. Tiba-tiba, kata-kata “peperangan dan kabar-kabar tentang perang” (Mat 24:6; Mrk 13:7) muncul di depan mata saya dalam sebuah penglihatan yang begitu nyata, hingga saya mulai berkeringat saat menyaksikan hal-hal tersebut.

Jika kita membiarkan Tuhan berbicara kepada kita melalui firman yang telah Ia sampaikan (dan yang diterapkan dalam diri kita oleh Roh Kudus), pada waktunya Ia akan berbicara kepada kita mengenai hal-hal lain. Pesan yang saya terima dalam penglihatan itu adalah bahwa perubahan sedang terjadi dengan cepat di dunia; perkembangan-perkembangan ini membawa dunia secara tak terelakkan menuju akhir zaman yang bersifat apokaliptik. Hal-hal inilah yang telah diperingatkan oleh Yesus kepada kita dalam Matius 24. Pesannya adalah: “Teruslah maju. Waktu bagi gereja sudah singkat. Situasi yang relatif damai yang kalian nikmati saat ini tidak akan bertahan lebih lama lagi. Teruslah maju dengan penuh kesegeraan dalam mengerjakan tugas yang telah dipercayakan kepada kalian.”

Peperangan menghambat pemberitaan Injil. Itulah sebabnya kita perlu berdoa demi perdamaian (bdk. 1Tim 2:1-4). Namun, perdamaian bukanlah sesuatu yang dapat bertahan lama di dunia ini. Saat ini kita sedang menikmati masa yang relatif damai, tetapi Tuhan telah memperingatkan bahwa tidak lama lagi kita akan terdampak oleh perubahan-perubahan besar yang terjadi di dunia. Peringatan ini serupa dengan peringatan mengenai kelaparan yang disampaikan kepada Agabus demi kepentingan gereja. Peringatan-peringatan semacam ini menunjukkan betapa Allah mengasihi dan mempedulikan umat yang telah ditebus-Nya.

Singkatnya, apa hubungannya antara “tinggal di dalam Kristus” dengan kelahiran kembali dan pembaruan? Selama kita tinggal di dalam Kristus, kita tidak akan berbuat dosa. Namun, begitu kita berhenti tinggal di dalamnya, kita akan mendapati diri kita tergelincir ke dalam dosa. Oleh karena itu, kita perlu tinggal di dalam dia dari saat ke saat. Dengan demikian, kita tidak akan lagi memiliki keinginan ataupun kecenderungan untuk berbuat dosa; sebaliknya, hidup dan kuasanya akan mengalir ke dalam diri kita serta menghasilkan buah kekal yang melimpah.

Artikel ini adalah bagian dari buku BECOMING A NEW PERSON karangan Pastor Eric H. H. Chang. 
Buku dalam bentuk cetak dapat dipesan dengan menghubungi kami di:
 Whatsapp+62 81382851058 (Whatsapp)
Atau, bisa melalui Toko Online kami di   CPM Bookstore.

 

← Back

Thank you for your response. ✨