Pastor Eric Chang | Bab 9 |
Dosa menimbulkan keraguan mengenai apakah kita telah dilahirkan kembali
Sebagian orang, bahkan setelah membaca bab-bab ini, masih merasa ragu apakah mereka sudah mengalami kelahiran baru. Keraguan semacam ini tak terelakkan jika mereka terus hidup dalam dosa. Setiap kali Anda berbuat dosa, pertanyaan mengenai apakah Anda sudah mengalami kelahiran baru akan kembali mengusik Anda. Masalah ini akan menjadi semakin gawat sampai Anda menangani dosa secara tegas, alih-alih memilih jalan fatal dengan mematikan suara hati Anda.
Setiap kali Anda melakukan kesalahan, Anda mungkin bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya seorang Kristen sejati? Jika saya sudah dilahirkan kembali, mengapa saya bersikap seperti ini?” Di manakah letak batasnya—garis pemisahnya—yang menandai peralihan menuju kelahiran kembali? Bagaimana kita bisa mengetahui apakah kita telah melintasi batas tersebut? Ataukah masalah saya sebenarnya berkaitan dengan pembaruan, dan bukan kelahiran kembali?
Peperangan yang terus berlangsung melawan dosa
Bahkan saat kita dilahirkan kembali pun, dosa tidak serta-merta lenyap dari hidup kita. Dosa senantiasa menjadi suatu kemungkinan karena ia berdiam di dalam daging kita. Menurut Paulus, daging adalah tempat dosa berakar atau menjadi basis operasinya. Selama kita memiliki tubuh daging, dosa akan berdiam di sana, berakar kuat di dalam daging kita.
Hal ini tidak berarti bahwa kita tidak punya pilihan selain berbuat dosa. Dengan pertolongan Allah, kita dapat mengatasi dosa yang bercokol dalam daging kita. Sesungguhnya, sepanjang hidup kita akan terus berperang melawan kenyataan dosa yang senantiasa ada ini. Berkat anugerah Allah, kita dapat menang atas dosa dan menjadi semakin kuat dengan setiap kemenangan yang kita raih atasnya.
Pada saat-saat ketika Anda tampaknya kalah dalam pergumulan itu, pertanyaan “Apakah saya benar-benar sudah dilahirkan kembali?” mungkin muncul kembali dan membuat Anda bingung. Anda mungkin sempat kehilangan kendali atas amarah atau memperlakukan teman sekamar Anda dengan cara yang tidak pantas. Setelah sadar kembali, Anda bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana mungkin saya, sebagai seorang Kristen, bersikap seperti itu?” Lalu, Anda mulai meragukan apakah Anda benar-benar seorang Kristen sejati. Masalah ini terasa sangat berat bagi mereka yang sering kali kalah dalam pergumulan tersebut.
Perbudakan versus kebebasan
Apa garis pemisah antara orang yang belum lahir baru dan yang telah lahir baru? Dalam Roma pasal 6 hingga 8, Paulus memberikan jawaban yang jelas. Agar tidak perlu lagi berandai-andai, mari kita tentukan secara statistik kata-kata penting apa saja yang terdapat dalam ketiga pasal ini. Frekuensi kemunculan kata-kata tersebut akan membantu kita memahami apa yang disampaikan Paulus, sehingga kesimpulan kita didasarkan pada fakta, bukan sekadar dugaan.
Dalam ketiga pasal ini, khususnya dalam Roma 6:18–8:21, Paulus sering menggunakan kata “bebas” beserta kata-kata yang berkaitan—tepatnya tujuh kali. Kata-kata Yunani ini semuanya saling berkaitan: eleutheroō (ἐλευθερόω, membebaskan), eleutheros (ἐλεύθερος, bebas), dan eleutheria (ἐλευθερία, kebebasan).
Dalam ketiga pasal ini, Paulus menggunakan kata lain dengan frekuensi yang bahkan lebih tinggi: “hamba” (beserta kata-kata terkait seperti “perhambaan” dan “memperhamba”). Kata-kata ini muncul sebanyak 13 kali secara keseluruhan. Hal ini penting karena kata-kata tersebut hanya muncul empat kali di bagian lain Surat Roma.
Oleh karena itu, konsep yang saling bertolak belakang mengenai perhambaan dan kebebasan merupakan dua gagasan kunci dalam Roma 6–8. Terlebih lagi, saat Paulus menggunakan konsep-konsep ini, ia mengaitkannya dengan dosa. Dengan demikian, Roma 6–8 memiliki dua tema khusus: perbudakan terhadap dosa dan kebebasan dari dosa. Hal ini memberikan garis pemisah yang jelas: orang yang belum dilahirkan kembali hidup dalam perbudakan dosa, sedangkan orang yang telah dilahirkan kembali telah dibebaskan dari dosa.
Orang yang belum dilahirkan kembali hidup di bawah kekuasaan dosa, sedangkan orang yang telah dilahirkan kembali telah dibebaskan darinya karena ia telah mati bersama Kristus dan dibangkitkan bersama dia. Itulah tesis utama dari Roma pasal 6 sampai 8; itulah garis pemisah yang tegas di antara keduanya.
Manusia yang telah dilahirkan kembali telah mengalami kuasa Allah yang mematahkan rantai dan belenggu dosa dalam hidupnya. Dahulu, ia berbuat dosa karena dorongan yang tak tertahankan, sebab ia terlalu lemah untuk melawan dosa. Namun kini, ia adalah manusia baru di dalam Kristus dan tidak lagi berada di bawah kuasa paksaan dosa. Ia memang masih bisa berbuat dosa akibat kelalaian, tetapi ia tidak lagi dikuasai oleh dosa tersebut. Ia mungkin masih bisa kehilangan kendali atas amarahnya seperti dulu—karena reaksi itu mungkin sudah menjadi kebiasaan yang belum sepenuhnya terpatahkan—tetapi luapan amarah itu kini dapat dikendalikan, sebab Roh Kudus telah hadir dalam hidupnya dan memberikan kekuatan untuk mengatasinya.
Apakah Anda berada di bawah paksaan untuk berbuat dosa?
“Hukum Roh kehidupan dalam Yesus Kristus telah memerdekakan kamu dari hukum dosa dan maut” (Rm 8:2).
Jika Anda telah dilahirkan kembali, hukum (prinsip) dosa dan maut tidak lagi dapat memaksa Anda. Terapkan uji lakmus ini pada hidup Anda. Apakah Anda masih gagal melepaskan diri dari suatu dosa tertentu, meskipun telah berulang kali berusaha? Maka Anda masih belum dilahirkan kembali dan masih diperbudak olehnya. Anda terlalu lemah untuk melawannya; dan bahkan ketika Anda melawan, upaya itu cenderung sia-sia karena dosa tetap memaksa Anda meskipun bertentangan dengan niat Anda.
Paksaan untuk berbuat dosa tidak selalu timbul dari keinginan untuk berbuat dosa. Kehendak orang yang belum dilahirkan kembali tidak berada dalam perbudakan sampai tingkat sama sekali tidak mampu menghendaki yang baik (Rm 7:18, 19). Ia diperbudak hanya dalam arti tidak mampu melakukan yang baik. Kita harus memperjelas perbedaan ini. Orang yang belum dilahirkan kembali mampu menginginkan yang baik (dan sesekali melakukan yang baik, misalnya menyumbang ke panti asuhan atau bantuan bencana), tetapi tidak berdaya untuk hidup benar secara konsisten. Paulus tidak menggambarkan orang yang belum dilahirkan kembali sebagai sama sekali tidak mampu melakukan kebaikan apa pun, melainkan tidak mampu menjalani hidup benar secara konsisten. Sebaliknya, orang yang telah dilahirkan kembali mampu hidup benar secara konsisten, sekalipun kadang-kadang melakukan dosa tanpa disengaja.
Garis pemisahnya dapat dirumuskan kembali sebagai berikut: orang yang belum dilahirkan kembali mungkin sesekali berbuat baik, tetapi tidak dapat hidup dalam kebenaran secara konsisten. Orang yang telah dilahirkan kembali, sebaliknya, mungkin sesekali berbuat dosa, tetapi ia hidup dalam kebenaran secara konsisten.
Yang manakah keadaan Anda? Jika oleh anugerah Allah Anda dapat berkata “tidak” kepada dosa, Anda telah dilahirkan kembali. Jika dan ketika Anda berbuat dosa, hati nurani Anda akan langsung terganggu dan mendorong Anda untuk segera bertobat.
Akan tetapi, jika berbuat dosa tidak mengganggu hati nurani Anda, Anda punya alasan kuat untuk meragukan kelahiran baru Anda, sebab jika Roh Kudus tinggal di dalam Anda, hati nurani Anda akan peka terhadap dosa. Dosa-dosa yang dahulu tidak mengusik Anda kini akan mengusik Anda dengan dalam. Itu tanda yang pasti bahwa Roh bekerja di dalam Anda. Anda dapat mengetahui apakah Anda adalah anak Allah dari apakah Anda berduka dan remuk hati setelah berbuat dosa.
Hati nurani yang peka merupakan bukti bahwa Roh sedang bekerja di dalam hati Anda. Rasa dukacita yang timbul akibat berdosa terhadap Allah adalah tanda bahwa Anda adalah anak Allah. Namun, orang yang berbuat dosa, tetapi tidak merasa sedih karenanya bukanlah seorang Kristen sejati. Ia menepisnya begitu saja dengan berkata: “Tidak ada orang yang sempurna. Banyak orang melakukan hal yang sama.” Hal ini menunjukkan bahwa hati nuraninya telah menjadi tumpul terhadap suara Allah.
Dengan garis pemisah ini, Anda dapat dengan mudah mengetahui sendiri apakah Anda telah dilahirkan kembali. Orang lain lebih sulit menilai apakah Anda telah mengalami kelahiran baru karena mereka tidak memiliki akses langsung ke hati nurani Anda. Namun, di dalam hati Anda sendiri, Anda bisa mengetahui apakah Anda telah dibebaskan dari dosa atau belum.
Menjadi religius versus menjadi rohani
Jika Anda sungguh-sungguh telah dilahirkan kembali, mengapa Anda masih gagal dari waktu ke waktu? Mengapa Anda masih melakukan hal-hal yang tidak berkenan di hati Allah?
Dalam Roma pasal 7, Paulus menggambarkan keadaannya pada masa ia hidup di bawah Hukum Taurat. Sebagai seorang Farisi yang taat, ia berusaha memenuhi tuntutan kebenaran Hukum Taurat dengan kekuatannya sendiri. Ia segera menyadari bahwa meskipun ia mampu—dan memang melakukannya—memenuhi ketentuan tertulis Hukum Taurat dalam hal ketaatan lahiriah secara harfiah, ia tidak dapat memenuhi semangat hukum tersebut di dalam hatinya sendiri.
Ia berhasil menaati perintah-perintah mengenai hari Sabat, larangan mencuri, dan larangan berzina; namun bagaimana dengan sikap mengingini milik orang lain di dalam hati? Bagaimana dengan mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti diri sendiri—hal-hal yang secara keseluruhan merupakan inti dari segala perintah itu? Semua itu berada di luar jangkauan kemampuannya. Kebaikan yang ingin dilakukan Paulus tidak dapat ia lakukan. Dalam pengertian itu, keadaan orang yang religius tidaklah lebih baik daripada keadaan orang yang belum mengalami kelahiran baru. Menjadi religius tidaklah sama dengan menjadi rohani; keduanya tidak boleh disamakan.
Jika Roma 7 menggambarkan pergumulan seseorang yang religius yang hidup di bawah Hukum Taurat, maka Roma 8 menggambarkan kebebasan seseorang yang rohani yang hidup oleh Roh. Hal ini menyoroti perbedaan mendasar antara menjadi religius dan menjadi rohani. Banyak orang di dunia ini religius dalam arti menganut suatu agama. Roma 7 memperingatkan kita akan kesia-siaan menjadi orang yang religius, bahkan seorang Kristen yang religius sekalipun. Kita diselamatkan bukan oleh agama, melainkan oleh Kristus. Paulus tahu dari pengalamannya sendiri bahwa agama tidak membebaskan seseorang dari perbudakan dosa.
Roma 7 berbeda dari pasal-pasal di sekitarnya karena di sini Paulus berbicara sebagai orang pertama. Ia berbicara berdasarkan pengalaman pribadinya yang mendalam sebagai seorang Farisi yang religius—seseorang yang hidup di bawah Hukum Taurat, tetapi justru terpuruk dalam perbudakan dosa. Orang-orang yang religius pada umumnya adalah orang-orang yang belum mengalami kelahiran baru; oleh karena itu, mereka tidak akan berubah sampai Roh Kudus masuk ke dalam hidup mereka dan mereka menjadi manusia baru di dalam Kristus.
Tiga jenis orang dalam Roma 6 sampai 8
Ketiga pasal tersebut—Roma 6, 7, dan 8—menggambarkan tiga jenis orang:
- Roma 6 berlaku untuk semua orang yang belum dilahirkan kembali,
- Roma 7 menggambarkan pergumulan orang yang religius atau bermoral, tetapi belum dilahirkan kembali—dengan orang Yahudi yang religius sebagai contohnya—
- Roma 8 melukiskan kehidupan orang yang telah dilahirkan kembali atau orang rohani.
Ketiga pasal ini termasuk yang paling penting dalam Alkitab. Jika kisah hidup Anda telah bergerak dari Roma 6 ke Roma 7 lalu ke Roma 8 (atau langsung dari pasal 6 ke 8, jika Anda sebelumnya bukan orang yang religius), Anda dapat yakin bahwa Anda adalah manusia baru di dalam Kristus. Sebagai orang yang telah dilahirkan kembali, kini Anda hidup oleh Roh Kudus di bawah kepemimpinan Allah Yahweh. Pada tahap inilah Anda dapat mulai berbicara mengenai pembaruan. Jika kelahiran kembali belum terjadi, tidak ada pembaruan yang dapat dibicarakan.
Tiga pokok penting tentang pembaruan
Pertama: Pembaharuan menyiratkan penghapusan bertahap hal-hal lama
Paulus berkata, “Walaupun tubuh lahiriah kami makin merosot keadaannya, tetapi manusia batiniah kami selalu diperbarui hari demi hari” (2Kor 4:16). Ungkapan “diperbarui hari demi hari” menunjukkan bahwa pembaruan bukanlah peristiwa yang terjadi sekali saja, melainkan sebuah proses yang terus-menerus. Hari ini Anda sedang diperbarui, besok Anda akan diperbarui, dan demikianlah seterusnya sampai Anda bertemu dengan Tuhan. Pada saat ini juga, ketika sedang membaca uraian tentang firman Allah ini, Anda sedang diperbarui.
Kata “pembaruan” menyiratkan bahwa hal yang lama masih ada di dalam diri kita. Berkat anugerah Allah, hal yang lama itu secara bertahap disingkirkan dalam proses pembaruan tersebut. Jika hal yang lama sudah lenyap sepenuhnya, tidak akan ada lagi yang perlu diperbarui. Kenyataannya, hal yang lama itu masih ada dalam kehidupan orang Kristen, tetapi terus-menerus disingkirkan seiring kita semakin mendekati rupa Kristus.
Setiap hari dalam proses pembaruan, kita melangkah semakin dekat menuju tujuan akhir kita. Saat kita mengevaluasi posisi kita saat ini dibandingkan dengan keadaan kita sebelumnya, kita akan melihat bahwa kita secara bertahap semakin mendekati kepenuhan Kristus..
Kedua: Pembaruan adalah karya Roh Kudus
Pembaruan tidak dicapai melalui usaha manusia; kita tidak dapat memperbarui diri kita sendiri dengan perbuatan-perbuatan benar kita. Roh Kuduslah yang memperbarui kita. Roh Allah adalah perancang utama proses pembaruan tersebut. Setiap hari, Roh itu mengubah kita melalui situasi kehidupan kita.
Anda mungkin mendapati diri Anda berada dalam situasi yang tidak menyenangkan—katakanlah, dalam pernikahan atau dalam hubungan dengan teman sekamar saat kuliah. Apakah Anda menyadari bahwa masalah-masalah ini—baik yang menyangkut teman sekamar, pernikahan, kesehatan, pekerjaan, maupun studi—sedang digunakan oleh Roh Kudus untuk memperbarui diri Anda? Begitu Anda menyadari hal itu, Anda tidak akan lagi mengeluh karenanya. Sering kali diperlukan banyak proses pemukulan, penggerindaan, pengampelasan, dan pemolesan untuk menghasilkan sebuah karya yang indah.
Sesekali, saya memperbaiki bagian mobil saya yang berkarat. Saya menggunakan alat tajam untuk mengikis karat hingga logam dasarnya terlihat. Saya mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, memukul-mukul bagian itu sampai karatnya hilang. Kemudian, saya menambal lubangnya dengan fiberglass dan mengampelasnya menggunakan ampelas kasar, baik dengan tangan maupun mesin. Selanjutnya, saya menggunakan ampelas halus untuk mendapatkan permukaan yang rata, lalu melapisinya dengan cat—lapisan pertama, kedua, hingga ketiga. Uap kimia yang memenuhi ruangan bisa berdampak unik pada sistem pernapasan Anda jika Anda memiliki alergi terhadap bahan-bahan kimia tersebut. Namun, saat pekerjaan itu selesai—ah, hasilnya sungguh indah. Hanya sedikit orang yang bisa menyadari bahwa sebelumnya ada kerusakan pada mobil itu. Mobil tersebut telah diperbarui: yang lama telah berlalu dan yang baru telah hadir.
Anda membutuhkan peralatan yang tajam untuk melakukan pekerjaan memukul dan memahat. Persis seperti itulah cara Roh Kudus bekerja dalam diri kita untuk memperbarui kita. Sisi-sisi kasar dalam diri kita tampak nyata, sehingga Allah perlu menggarap kita. Suami atau istri Anda mungkin saja menjadi “ampelas kasar” yang Allah gunakan untuk menghaluskan Anda—mengikis bagian-bagian yang kasar dan menjadikan Anda indah. Dalam proses tersebut, Anda mungkin tidak bisa menghargai suami, istri, atau teman sekamar yang sikapnya terasa “menggesek” atau membuat Anda tidak nyaman.
Meskipun proses ditempa dan dipoles bukanlah pengalaman yang menyenangkan, bagaimana lagi kita bisa menjadi indah? Paulus menasihati kita untuk mengucap syukur dalam segala keadaan (1Tes 5:18) karena segala sesuatu mendatangkan kebaikan di tangan Allah. Jika kita menghadapinya dengan sikap yang benar, kita akan menjadi indah; tetapi, jika kita menghadapinya dengan sikap yang salah, kita justru akan menjadi semakin buruk rupa. Syukur kepada Allah, Dia berkarya di dalam diri kita melalui Roh-Nya, memperbarui kita setiap hari dalam berbagai situasi kehidupan, menjadikan kita semakin indah, dan membawa kita semakin serupa dengan gambar Kristus.
Ketiga: Pembaruan pikiran kita
Pembaruan mengubah cara kita berpikir dan, karenanya, cara kita bertindak. Tindakan kita bersumber dari pikiran kita. Saat kita kehilangan kendali atas amarah, hal itu bermula dari hati. “Dari luapan hati, mulut berbicara” (Mat 12:34). Jika Anda memikirkan hal yang tidak baik, Anda akan mengucapkan hal yang tidak baik. Untuk mengubah perkataan atau perilaku kita, Roh Kudus harus bekerja dalam pikiran kita. Efesus 4:22-23 mengatakan,
… buanglah manusia lamamu yang kamu dapat dari cara hidupmu yang lama, yang sedang dirusak oleh hawa nafsu yang menipu. Perbaruilah roh pikiranmu.
Roh Kudus harus mengubah roh atau sikap pikiran kita. “Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan akal budimu” (Rm 12:2).
Sikap sulit untuk diubah, tetapi kita harus ingat bahwa hal yang lama dan yang baru tidak dapat disatukan. Kita tidak bisa menambal pakaian lama dengan kain baru, karena saat tambalan itu menyusut, ia akan terlepas dari pakaian tersebut (Mat 9:16-17). Begitu pula, kita tidak menuangkan anggur baru ke dalam kantong kulit lama, karena kantong itu akan pecah dan anggurnya akan tumpah. Hal yang lama dan yang baru benar-benar tidak dapat disatukan. Jika pikiran Anda belum diperbarui, pergulatan hebat akan berkecamuk di dalam diri Anda. Konflik antara yang lama dan yang baru akan membuat hidup terasa tak tertahankan, serta melenyapkan segala damai sejahtera atau kebahagiaan yang mungkin Anda miliki.
Segala upaya kita untuk menyelaraskan keduanya akan sia-sia. Kita tidak bisa berkata pada diri sendiri, “Aku bersedia diperbarui demi keselamatan, tetapi aku juga ingin mempertahankan yang lama karena aku masih memiliki dosa-dosa kesayangan seperti sifat mementingkan diri sendiri. Aku sudah hidup bersamanya sepanjang hidupku, dan aku belum sanggup melepaskannya sekarang.” Keengganan untuk melepaskan hal yang lama sembari berusaha meraih hal yang baru niscaya akan menimbulkan masalah berupa pergumulan batin.
Pergulatan batin yang hebat bahkan dapat berujung pada gangguan mental. Jika hal itu sampai terjadi pada seorang Kristen, orang akan bertanya-tanya mengapa ia menjadi orang Kristen sejak awal. Konflik antara yang lama dan yang baru harus diselesaikan tuntas untuk selamanya.
Jika ada orang yang merasa terlalu berat untuk meninggalkan kehidupan lama demi memasuki kehidupan baru, sebaiknya ia melupakan niat untuk menjadi seorang Kristen. Pergilah dan nikmatilah dosa selagi ada kesempatan. Berbuat dosalah hari ini dan matilah esok hari. Penghakiman dan neraka menanti orang semacam itu, tetapi untuk saat ini, ia bisa menikmati dosa-dosanya dalam sisa waktu yang ada. Akan tetapi, ia tidak bisa bermain-main dengan kehidupan lama sekaligus kehidupan baru. Hal itu ibarat mencampur dua bahan kimia yang mudah bereaksi hebat dan memicu ledakan.
Sulit untuk memahami mengapa sebagian orang tetap berpegang pada hal-hal lama meskipun telah berulang kali diperingatkan. Mereka mencampur unsur lama dan baru dalam takaran yang sama, sehingga merugikan diri sendiri maupun orang lain akibat konflik antara kedua elemen yang tidak dapat disatukan tersebut. Ada pula yang mencoba meminimalkan dampak buruknya dengan mencampurkan lebih banyak unsur baru dan lebih sedikit unsur lama. Namun, ledakan kecil tetaplah sebuah ledakan, dan dapat menimbulkan kerusakan yang parah.
Untuk menjalani kehidupan Kristen sebagaimana mestinya—dalam sukacita dan damai sejahtera yang tersedia bagi kita di dalam Kristus—kita harus menanggalkan yang lama. Seseorang mungkin berkata, “Bukankah Anda bertentangan dengan diri sendiri, karena baru saja Anda mengatakan bahwa yang lama itu masih ada di dalam diri kita, setidaknya sampai taraf tertentu?” Ya, yang lama itu memang masih ada, tetapi yang terpenting adalah sikap kita terhadapnya. Yang lama mungkin masih ada, tetapi pertanyaannya adalah apakah kita membiarkan dan memanjakannya? Ataukah kita membiarkannya mati dengan cara menolak untuk tunduk kepadanya dan tidak berkompromi dengannya? Yang lama mungkin hadir, tetapi ia tidak dapat berbuat banyak terhadap kita jika kita terus-menerus berkata “tidak” kepadanya.
Perjuangan melawan dosa akan membuat kita lebih kuat
Kita akan semakin kuat dengan memerangi hal-hal lama. Dulu saya bertanya-tanya mengapa Allah tidak langsung melenyapkan hal-hal lama itu seketika, tetapi kini saya memahami hikmat-Nya. Justru melalui pergulatan terus-menerus melawan hal-hal lama itulah kita menjadi semakin kuat. Jika tidak ada pergulatan untuk dihadapi atau tantangan untuk dilalui, kita akan menjadi lemah.
Saat masih muda, saya tumbuh menjadi sosok yang tangguh berkat perkelahian. Kami, anak-anak laki-laki, punya kebiasaan terlibat dalam perkelahian. Namun anehnya, kami tetap bersahabat baik setelah berkelahi, melupakan perselisihan yang awalnya memicu perkelahian tersebut.
Seseorang dapat memperoleh fisik yang kuat melalui gulat, tinju, atau seni bela diri. Cara lainnya adalah melalui olahraga kompetitif. Kini saya melihat hikmat Allah yang mengizinkan kita terus-menerus bergumul melawan hal-hal lama dalam diri kita, demi menjadikan kita lebih kuat dalam kehidupan yang baru.
Meskipun tabiat lama masih ada dan kekuatannya masih terasa—terutama pada orang Kristen yang masih muda—kita senantiasa meraih kemenangan dengan semakin mengandalkan Roh. Memenangkan berbagai pergumulan akan menjadi lebih mudah seiring berjalannya waktu dan bertambahnya kekuatan kita. Namun, kita harus tetap waspada dan senantiasa mengandalkan Roh Kudus.
Kata Yunani untuk “baru”
Saat kita masih muda secara rohani dan belum berpengalaman pada awal kehidupan Kristen, kita masih relatif lemah dan lebih mudah jatuh ke dalam dosa. Perbedaan antara “manusia lama” dan “manusia baru” sangat relevan dalam hal ini. Kolose 3:9-10 mengatakan:
Jangan saling membohongi karena kamu telah menanggalkan manusia lamamu bersama dengan perbuatan-perbuatannya. Kenakanlah manusia baru, yang terus-menerus diperbarui dalam pengetahuan sesuai dengan gambar dari Penciptanya.
Kita sedang dalam proses diperbarui menurut rupa Pencipta dan Penebus kita. “Manusia lama” ditanggalkan bagaikan pakaian usang, dan “manusia baru” “dikenakan” bagaikan pakaian baru.
Ada dua kata Yunani untuk “baru”: neos (νέος) dan kainos (καινός). Neos berarti baru dalam hal usia atau waktu, sedangkan kainos berarti baru dalam hal kualitas. United Bible Societies Greek-English Dictionary of the New Testament yang singkat mendefinisikan neos sebagai “baru, segar, muda”, dan kainos sebagai “baru, dengan kualitas yang baru”, meskipun terdapat tumpang tindih makna di antara kedua kata tersebut.
Sesuatu bisa dikatakan baru dilihat dari segi usianya, atau bisa juga baru karena memiliki kualitas yang berbeda. Perbedaan penting ini tidak tampak dalam bahasa Inggris kecuali melalui parafrasa.
Kata kainos digunakan oleh Yesus pada Perjamuan Terakhir saat ia berbicara mengenai “perjanjian baru dalam darahku” (Luk 22:20; 1Kor 11:25; bdk. 2Kor 3:6; Ibr 8:8, 13; 9:15). Perjanjian ini baru secara kualitas; artinya, perjanjian ini berbeda dari yang lama karena sifatnya yang “lebih baik” (Ibr 7:22; 8:6). Namun, perjanjian baru ini juga baru dalam pengertian lain dari kata “baru”: dalam Ibrani 12:24, kata neos digunakan untuk menyebut “perjanjian baru” guna menunjukkan kebaruannya dari segi waktu; perjanjian ini lebih baru dibandingkan Perjanjian Lama yang ditetapkan 1.500 tahun sebelumnya.
“Manusia baru” juga baru dalam kedua pengertian itu. Di satu sisi, “manusia baru” dalam Efesus 2:15 adalah kainos anthrōpos, menunjuk pada manusia baru yang hidup dengan kualitas hidup yang baru, yang sama sekali berbeda dari kehidupan lama. Di sisi lain, seperti terlihat dalam “manusia baru (neos)” di Kolose 3:10, manusia baru juga baru dalam arti lebih kemudian dalam waktu dibandingkan dengan yang lama: kita pertama-tama lahir secara jasmani dan baru kemudian lahir kembali secara rohani. Namun bahkan ini menegaskan perbedaan kualitatif juga: yang lama berasal dari daging, yang baru berasal dari Roh.
Perhatikan bagaimana kebaruan kualitatif dari kainos diekspresikan dalam dua ayat berikut: “Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Hal-hal yang lama sudah berlalu, lihatlah, hal-hal yang baru sudah datang.” (2Kor 5:17) “Disunat atau tidak disunat apalah artinya. Yang penting adalah menjadi ciptaan baru.” (Gal 6:15)
Empat penyebab dosa dalam proses pembaruan
Mari kita pertimbangkan empat hal yang menimbulkan dosa dalam proses pembaruan.
Alasan pertama: Daya tarik dunia
Seorang “manusia baru” yang masih muda secara rohani cenderung terpikat oleh hal-hal yang bersifat lahiriah atau dangkal. Ini merupakan penyebab umum terjadinya dosa dalam proses pembaruan. Ia mungkin tidak berniat untuk berbuat dosa, tetapi ia tertarik pada hal-hal yang dangkal tersebut akibat ketidakdewasaan.
Anak-anak menyukai mainan, entah mereka berusia dua tahun, sepuluh tahun, atau lima puluh tahun. Cobalah masuk ke toko mainan mana pun dan perhatikanlah. Ada toko yang menjual mainan yang dirancang untuk orang dewasa, dan mereka memberikan kesan lebih serius pada mainan tersebut dengan menyebutnya “model pesawat” yang harus dirakit sendiri. Dan mainan ini sungguh mengasyikkan! Ada pesawat kendali jarak jauh yang benar-benar bisa terbang. Pernahkah Anda melihat anak berusia sepuluh tahun memainkannya? Kemungkinan besar, justru orang berusia tiga puluh atau lima puluh tahunlah yang memainkannya. Jika Anda mengajaknya mengobrol, dia akan berkata, “Ini mainan anak saya.” Tentu saja, sang anak jarang mendapat kesempatan memainkannya karena ayahnya tidak ingin mainan itu rusak akibat ulah si anak. Akhirnya, sang ayah sendirilah yang menikmati pesawat kendali jarak jauh yang mahal itu.
Mereka yang belum matang secara rohani mudah terpikat oleh berbagai “mainan” duniawi. Jika Anda merasa diri Anda tidak demikian, cobalah masuk ke pusat perbelanjaan dan perhatikan reaksi Anda. Dunia ini memamerkan begitu banyak gawai yang memikat. Belum lama ini, saya melihat iklan kamera yang bisa “berbicara” kepada penggunanya. Saat Anda hendak memotret, kamera itu akan berkata, “Terlalu gelap” atau “Tidak fokus”. Ketika rol film habis, ia akan memberi tahu, “Film habis”. Kamera-kamera keluaran terbaru bahkan tidak perlu lagi berbicara; semuanya diatur secara otomatis untuk Anda.
Ada juga jam tangan TV. Saat berada di dalam bus, Anda bisa menyalakan jam tangan TV itu dan menikmati pertandingan bisbol. Untuk mendapatkan suara yang jelas dan penuh, pasanglah earphone. Ini adalah mainan yang sangat menarik. Tentu saja, harganya mencapai $500—jumlah yang tidak terjangkau bagi kebanyakan anak muda berusia dua puluhan, tetapi masih dalam jangkauan banyak “anak-anak” berusia lima puluhan. Seorang Kristen pun bisa merasa tertarik pada jam tangan TV tersebut. Ia melihat ke dalam dompetnya dan berkata pada diri sendiri, “Lima ratus dolar! Tapi sesekali saya pantas memanjakan diri, bukan?” Setelah membayar $500 itu, hati nuraninya mulai terusik. Ia menyadari bahwa ia telah menghamburkan uang untuk sebuah mainan, lalu teringat bahwa ada seorang saudara seiman yang tidak mampu membayar biaya sekolahnya.
Orang Kristen yang masih muda secara rohani berbuat dosa karena ia masih terpesona oleh dunia. Dunia memiliki segalanya, mulai dari gawai canggih hingga permainan elektronik. Dunia tahu caranya membuat Anda sibuk sepanjang waktu, 24 jam sehari.
Dalam proses pembaruan, kita menghadapi godaan berupa beragam “mainan” baru yang mencengangkan, yang diiklankan di mana-mana untuk memikat imajinasi kita. Saat sebuah model komputer baru hadir di pasaran, sebenarnya ia sudah mulai menuju keusangan.
Perangkat berteknologi tinggi seperti komputer tak dimungkiri sangat bermanfaat, bahkan di dunia saat ini, hampir tak tergantikan. Hal ini memberikan pembenaran tersendiri atas ketertarikan terhadap perangkat-perangkat tersebut, termasuk di kalangan orang Kristen. Kita patut memperhatikan peringatan Rasul Paulus agar kita bersikap seperti orang-orang “yang menggunakan hal-hal dunia ini, seolah-olah tidak menggunakannya. Sebab, keadaan dunia ini sedang lenyap” (1Kor 7:31).
Daya tarik terhadap berbagai hiburan duniawi telah menyebabkan kejatuhan banyak orang Kristen yang tidak lagi memiliki waktu untuk hal-hal rohani. Siapa yang mau membaca Alkitab jika bisa menonton film kung fu? Ada kung fu dari Tiongkok, karate dari Jepang, dan Taekwondo dari Korea. Sungguh mengasyikkan melihat orang-orang melompat ke dinding dan berlarian di atas atap rumah. Alkitab pun terasa kurang menarik dibandingkan itu semua.
Dunia menjerat kita dengan beragam perangkat yang merebut perhatian. Ini adalah salah satu dari sekian banyak bahaya dalam proses pembaruan. “Jika seseorang mencintai dunia, kasih Bapa tidak ada di dalam dia” (1Yoh 2:15).
Alasan kedua: Ketidakmampuan membedakan yang baik dan yang jahat
Kedua, kita berdosa dalam proses pembaruan ketika kita tidak mampu membedakan antara yang baik dan yang jahat. Bahaya ini khususnya nyata bagi mereka yang masih muda dalam iman, seperti halnya jemaat Korintus, yang kesulitan membedakan yang baik dan yang jahat. Ibrani 5:13-14 mengatakan,
Orang yang hidup dari susu adalah orang yang belum berpengalaman dalam memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia masih bayi. Akan tetapi, makanan padat adalah untuk orang-orang yang sudah dewasa, yaitu mereka yang sudah melatih indra mereka untuk membedakan apa yang baik dan yang jahat.
Orang Kristen yang masih muda hidup dengan “susu” (ajaran-ajaran dasar dalam firman Allah) dan belum cakap dalam hal “firman kebenaran”. Alkitab memuat baik susu maupun makanan keras. Orang Kristen yang masih muda mengonsumsi susu, sedangkan orang Kristen yang dewasa mengonsumsi makanan keras sesuai dengan kapasitasnya. Mereka yang hidup dengan susu adalah orang-orang yang belum bertumbuh hingga mampu mencerna firman kebenaran; mereka masih belum dewasa secara rohani dan tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat.
Hal penting yang perlu kita pelajari dari ayat ini adalah bahwa jika kita tidak beranjak dari masa bayi menuju kedewasaan—yaitu beralih dari tahap minum susu ke tahap menyantap makanan keras—kita mungkin tidak akan mampu bertahan dalam kehidupan rohani. Mengapa demikian? Karena kita tidak akan bisa membedakan antara yang baik dan yang jahat, antara apa yang bermanfaat bagi kita dan apa yang mematikan bagi kita. Seorang bayi yang hanya mengonsumsi susu hampir tidak mungkin bisa membedakan antara hewan ternak milik keluarga dan seekor serigala yang datang untuk mencari mangsa—termasuk bayi itu sendiri.
Membedakan yang baik dan yang jahat adalah soal hidup dan mati
Membedakan antara yang baik dan yang jahat adalah perkara hidup dan mati. Bertumbuh dari masa kanak-kanak rohani menuju kedewasaan bukanlah hal yang bisa kita abaikan begitu saja, karena hal ini menyangkut kelangsungan hidup. Sungguh mengherankan, sebagian pemimpin Kristen masa kini begitu abai terhadap kebenaran ini sehingga mereka menganggap pelatihan Alkitab yang mendalam sebagai sesuatu yang tidak perlu. Mereka berpendapat bahwa cukup dengan membaca Alkitab secara sederhana saja.
Namun, “makanan keras” yang dibahas dalam surat Ibrani tidaklah mudah dicerna, terutama bagi mereka yang masih seperti bayi—yang belum mampu membedakan antara yang baik dan yang jahat, ataupun memahami kebenaran Alkitab yang lebih mendalam. Mereka sangat perlu bertumbuh menuju kedewasaan di dalam Kristus agar tidak menjadi korban secara rohani akibat kurangnya kemampuan membedakan hal-hal tersebut.
Banyak gereja tidak mampu menyediakan makanan rohani
Ada gereja-gereja yang tidak mampu memberikan apa pun selain “susu”, karena para pemimpinnya sendiri pun tidak sanggup mencerna “makanan keras” berupa “firman kebenaran”. Akibatnya sungguh tragis bagi gereja-gereja semacam itu: jemaatnya tidak dapat bertumbuh melampaui tahap bayi rohani dan menjadi lemah karena tidak tersedianya asupan rohani vital yang diperlukan untuk pertumbuhan lebih lanjut; sering kali mereka tercerai-berai dan menjadi korban “serigala-serigala buas” (Kis 20:29; Mat 7:15). Mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengenali serigala-serigala tersebut ataupun kekuatan untuk melawannya.
Banyak pemimpin gereja kurang terlatih dalam hal eksposisi dan eksegesis Firman Allah. Keadaan menjadi lebih buruk ketika mereka mencoba membenarkan ketidakmampuan mereka dalam memberi makan jemaat yang mereka gembalakan dengan dalih bahwa pengajaran yang “sederhana” saja sudah cukup. Akibatnya, jemaat mereka kehilangan harapan untuk beranjak dari tahap kanak-kanak rohani, serta kehilangan harapan untuk mencapai tahap di mana mereka memiliki kepekaan rohani—dengan “indra” yang terlatih “untuk membedakan apa yang baik dan yang jahat” (Ibr 5:14).
Paulus harus menghadapi masalah serius berupa kurangnya daya pembedaan di kalangan jemaat Korintus. Ia berkata kepada mereka:
Sebab, kamu sabar saja ketika seseorang datang dan memberitakan tentang Yesus yang lain, yang berbeda dengan yang kami beritakan, atau ketika kamu menerima roh yang berbeda, yang belum pernah kamu terima, atau injil lain yang belum pernah kamu terima. (2Kor 11:4)
Jemaat Korintus belum beranjak dari tahap masa kanak-kanak; mereka masih seperti “bayi”. Itulah sebabnya Paulus sebelumnya berkata kepada mereka, “Aku memberi kamu minum susu, bukan makanan, karena kamu belum mampu, bahkan sekarang kamu juga belum mampu” (1Kor 3:2). Jadi, ketika orang-orang yang pandai berbicara datang dan memberitakan Yesus yang lain atau Injil yang lain, mereka tidak dapat membedakannya. Mereka tidak bisa membedakan satu Injil dengan Injil lainnya, satu Yesus dengan Yesus lainnya, ataupun satu rasul dengan rasul lainnya. Mereka juga tidak mampu membedakan yang baik dari yang jahat, serta yang benar dari yang palsu. Hal ini membuat mereka rentan terhadap penyesatan dan kehancuran rohani.
Kepolosan dan kerentanan orang Kristen yang masih bayi
Paulus menyingkapkan kerentanan mereka dengan menunjukkan betapa mudahnya mereka diperdaya: jika seseorang menyatakan diri sebagai rasul yang luar biasa—bersikap angkuh dan berbicara dengan nada meninggikan diri—mereka akan mendengarkannya, terbuai oleh pesona dan karismanya (bdk. 2Kor 11:4, 5, 13). Kemudian Paulus menegaskan, “Menurutku, aku tidaklah kurang dari para rasul luar biasa itu. Walaupun aku tidak pandai dalam hal perkataan, tetapi tidak demikian dalam hal pengetahuan” (ay. 5-6).
Pasal 11 dan 12 memaparkan situasi yang sedang terjadi. Para pengkhotbah yang pandai bicara dan karismatik sedang memberitakan Injil yang berbeda, dan kefasihan mereka memikat hati jemaat Korintus hingga mereka terbuai. Setelah mengakui bahwa dirinya tidak sefasih para pengkhotbah yang sangat piawai berbicara itu, Paulus kemudian menyayangkan kenyataan bahwa, “Kamu bersabar, jika ada orang yang memperhamba kamu, menelan kamu, mengambil keuntungan atas kamu (misalnya, mengeruk uang darimu), meninggikan dirinya, atau menampar wajahmu” (ay. 20).
Lalu ia menambahkan dengan nada menyindir, “Dengan sangat malu aku harus mengatakan bahwa kami terlalu lemah untuk hal itu!” (ay 21). Apa maksudnya? Intinya, ia berkata kepada mereka, “Saat bersama kalian, kami bersikap sopan dan lembut, tanpa bertindak sewenang-wenang atau membentak-bentak dengan perintah. Namun, kalian justru meremehkan kami karenanya. Kemudian datanglah ‘rasul-rasul hebat’ itu dengan sikap angkuh dan memegahkan diri, membentak-bentak serta menuntut ini-itu, dan kalian justru dengan mudah tunduk pada otoritas mereka.”
Sungguh mengherankan bahwa orang-orang dipuja karena sikap mereka yang lagak angkuh. Hitler berteriak-teriak dan membentak-bentak, tetapi orang banyak justru bersorak memujinya dan menuruti setiap keinginannya. Dengan penuh gelora, mereka memberi hormat kepadanya sembari meneriakkan seruan “Heil! Heil!”
Paul berkata kepada jemaat di Korintus, “Jika seseorang memperbudak kalian, kalian menerimanya begitu saja. Namun, ketika kami datang dan bersikap rendah hati, kalian justru memandang rendah kami.” Jemaat Korintus tidak dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, serta antara yang benar dan yang salah. Orang-orang yang tidak memiliki kepekaan rohani mudah terbawa oleh perilaku duniawi dan ajaran sesat.
Para “rasul super” ini mengeruk uang dari jemaat Korintus (2Kor 11:7 dst.). Itulah sebabnya Paulus menulis, “Atau, apakah aku melakukan dosa ketika merendahkan diriku sendiri supaya kamu dapat ditinggikan karena aku memberitakan Injil Allah kepadamu dengan cuma-cuma?” Paulus menolak menerima uang dari mereka, tetapi ketika para “rasul super” itu datang membawa kantong persembahan, jemaat Korintus justru dengan senang hati menyerahkan uang mereka. Paulus dianggap terlalu “bodoh” untuk melakukan hal semacam itu, sehingga jemaat Korintus memandangnya rendah.
Mentalitas duniawi itu aneh dan menyimpang: kerendahan hati dipandang sebagai sikap merendahkan diri sendiri yang mengundang sikap tidak hormat, sementara mereka yang mengajukan tuntutan justru dianggap memiliki otoritas. Semakin besar tuntutannya, semakin besar pula otoritasnya. Banyak pengkhotbah menggunakan ungkapan, “Saya ingin Anda (mengangkat tangan, maju ke depan, dan sebagainya).” Sekalipun kata-kata persis seperti itu tidak digunakan, sang pengkhotbah tetap berbicara dengan nada memerintah.
Betapa pentingnya memiliki daya pembeda; jika tidak, kita akan menolak Rasul Paulus dan justru menerima “rasul super” yang merasa dirinya hebat—yang pada akhirnya akan membawa kerugian kekal bagi kita!
Orang Kristen yang dikuasai kedagingan berpikir dengan cara duniawi dan memegang nilai-nilai duniawi. Ia terkesan oleh cara-cara duniawi dalam melakukan sesuatu, terutama jika dilakukan dengan gaya yang megah. Ia mudah dimanfaatkan oleh orang-orang yang lihai di dalam gereja, khususnya mereka yang tampil mengesankan sebagai “rasul” atau “rasul super”. Waspadalah! Saat ini ada orang-orang di dalam gereja yang tidak segan-segan menyebut diri mereka sebagai “rasul”.
Akibat dari kurangnya kepekaan rohani sungguh fatal, sebagaimana terlihat pada kasus jemaat Galatia; kepada mereka Paulus berkata, “Aku heran, betapa cepatnya kamu meninggalkan Dia, yang memanggilmu melalui anugerah Kristus, dan berbalik kepada injil yang lain.” (1:6)
Alasan ketiga: Kebiasaan pikiran lama
Ketiga, orang Kristen berbuat dosa karena mereka memiliki kebiasaan lama dalam pola pikir yang sudah mengakar. Kebiasaan sulit untuk diubah. Saat pertama kali menjadi orang Kristen, Anda masih berpikir dengan cara-cara non-Kristen. Kebiasaan lama dalam pola pikir tersebut disingkirkan melalui proses pembaruan yang berlangsung secara bertahap.
Kolose 3:9 mengatakan, “kamu telah menanggalkan manusia lamamu” (peristiwa masa lampau), sedangkan Efesus 4:22 mengatakan, “buanglah manusia lamamu” (peristiwa masa kini). Tampaknya ada pertentangan di sini. Jika Anda sudah menanggalkan manusia lama, mengapa Anda harus terus menanggalkan manusia lama? Alasannya adalah, meskipun manusia lama itu telah ditanggalkan pada saat pembaptisan—ketika kita mati bersama Kristus dan dikuburkan bersama dia—cara-cara lama dari manusia lama itu tetap hidup dalam pola pikir kita. Manusia lama itu masih aktif melalui cara berpikir kita yang lama. Hal inilah yang perlu “dibuang”; itulah sebabnya ayat berikutnya melanjutkan dengan mengatakan, “Perbaruilah roh pikiranmu.” (Ef 4:23)
Dalam ayat yang sama, Paulus berkata, “Jangan saling membohongi”. Tentu saja kita tidak berharap manusia baru (dalam hal ini, orang-orang percaya di Kolose) akan berbohong, bukan? Lalu, mengapa mereka diperintahkan untuk tidak berbohong? Masalahnya adalah, pada masa sebelum mereka menjadi Kristen—saat mereka masih menjadi “manusia lama”—mereka terbiasa berbohong. Baik itu kebohongan besar maupun “kebohongan putih” (white lie), mereka terbiasa mengikuti pola duniawi dalam cara berpikir dan perilaku mereka. Berbohong merupakan gaya hidup di dunia ini, khususnya dalam dunia bisnis. Baru-baru ini, seseorang mengatakan kepada saya bahwa jika Anda berhenti berbohong, bisnis Anda akan segera gulung tikar. Dalam dunia bisnis yang sangat kompetitif, kita sering diberi tahu bahwa kita tidak bisa bertahan tanpa berbohong. Orang-orang meraup keuntungan dengan cara berbohong; jadi, jika Anda tidak berbohong, Anda berada dalam posisi yang sangat dirugikan dibandingkan dengan orang lain.
Ketika seseorang menjadi Kristen, kebiasaan berbohong sering kali masih begitu mengakar kuat sehingga mereka berbohong secara tidak sadar dan tanpa berpikir. Saat Paulus berkata, “Jangan saling membohongi”, ia sedang meminta mereka untuk menanggalkan kebiasaan lama berbohong itu. Kebiasaan lama memang sulit dihilangkan, tetapi pada akhirnya akan menghancurkan kita jika kita tidak menyingkirkannya.
2 Petrus 2:22 mengutip sebuah peribahasa, “Babi yang telah dibersihkan, kembali lagi berkubang di lumpur.” Seperti babi yang menyukai kubangan lumpur, beberapa orang Kristen kembali kepada “lumpur” karena kekuatan kebiasaan. Bukanlah maksud Petrus untuk menghina orang Kristen dengan perumpamaan itu. Namun, ia memberi peringatan yang mendesak bahwa jika kita tidak mengubah kebiasaan-kebiasaan cara berpikir kita, kita akan ditarik kembali ke lumpur dan kekotoran cara hidup lama, sekalipun kita telah dibersihkan melalui “pembasuhan kelahiran kembali” (Tit 3:5). Petrus memperingatkan para pembacanya tentang bahaya serius kemurtadan dalam proses pembaruan dan berakhir dalam keadaan di mana “mereka akan menjadi lebih buruk daripada sebelumnya. Akan lebih baik jika mereka tidak pernah mengenal jalan kebenaran itu, daripada setelah mengenalnya mereka berbalik …” (ay. 20, 21).
Ada sebuah kisah tentang seekor babi yang mengunjungi sebuah rumah mewah yang dihiasi lampu gantung kristal dan lukisan cat minyak yang mahal. Babi itu masuk ke dalam rumah dan menginjak-injak karpet-karpet indah—baik itu karpet Afganistan, Persia, maupun Tiongkok. Namun, babi itu tidak tertarik pada karpet ataupun lukisan-lukisan tersebut, melainkan langsung menuju dapur. Yang tak kalah aneh, ia mengabaikan lemari es yang penuh dengan makanan lezat dan langsung menuju pintu belakang. Saat melihat tempat sampah, ia mendengus kegirangan. Setelah puas menyantap sampah, babi itu pun pulang. Sang pemilik bertanya kepada babi itu, “Apa yang kau lihat di rumah mewah itu? Lukisan dan lampu gantung yang indah?” Babi itu menjawab, “Lukisan apa? Lampu gantung apa? Satu-satunya hal yang bagus hanyalah sampahnya.”
Saat orang pergi ke gereja, apa yang mereka cari? Keindahan Kristus? Kebenaran Kristus? Harapannya, ya. Namun, sayangnya, ada sebagian orang Kristen yang justru lebih tertarik pada sampah; mereka adalah para penyebar sampah di gereja—para penyebar gosip dan fitnah yang pola pikirnya belum berubah.
Satu kebiasaan buruk dapat menghancurkan Anda
Hanya dibutuhkan satu kebiasaan buruk untuk menghancurkan kehidupan Kristen Anda jika Anda tidak menyingkirkannya. Seorang filsuf Arab mengilustrasikan hal ini dengan sebuah perumpamaan nyata yang diambil dari kehidupannya sendiri. Ia menawarkan rumahnya untuk dijual dengan harga sangat rendah, tetapi dengan satu syarat: “Saya tetap memiliki hak atas satu paku yang terletak di lantai atas rumah ini. Paku itu akan selamanya menjadi milik saya, dan saya berhak serta bebas untuk mengunjunginya kapan pun saya mau. Saya bisa datang sewaktu-waktu untuk memeriksanya atau bahkan mengilapnya. Hanya dengan syarat inilah saya bersedia menjual rumah tersebut dengan harga itu.”
Harganya begitu menarik sehingga tak lama kemudian seseorang membeli rumah itu darinya. Sesuai kesepakatan, pemilik aslinya tetap memegang hak atas paku tersebut dan bebas keluar-masuk kapan pun ia mau. Meskipun ia bukan lagi pemilik rumah itu, pada kenyataannya ia tetap menguasainya karena memiliki akses tanpa batas ke dalamnya. Hal ini menggambarkan satu poin penting: Jika Anda membiarkan satu kebiasaan berdosa tetap ada dalam hidup Anda, dosa akan senantiasa menguasai hidup Anda.
Alasan keempat: Kebodohan
Keempat, orang Kristen berbuat dosa karena mereka tidak mengetahui banyak kebenaran rohani. Orang Kristen yang masih muda, khususnya, umumnya kurang memahami ajaran Alkitab dan tidak mengetahui kehendak Allah saat menghadapi berbagai situasi kehidupan. Itulah sebabnya Paulus berkata, “Saudara-saudara, kami tidak mau kamu tidak mengetahui …” (1Tes 4:13).
Jemaat Korintus jelas merupakan kelompok orang Kristen yang paling belum dewasa di antara mereka yang harus dihadapi oleh Paulus. Kepada merekalah Paulus berulang kali melontarkan pertanyaan retoris, “Tidak tahukah kamu?” Pertanyaan ini muncul sepuluh kali dalam surat 1 Korintus saja, tetapi hanya dua kali dalam seluruh tulisan Paulus yang lainnya (Rm 6:16; 11:2). Mereka begitu kurang mengerti hal-hal rohani sehingga jatuh ke dalam berbagai jenis dosa, seperti perpecahan, bahkan mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus dengan sikap hati yang keliru, yang dengan demikian membuat mereka bersalah terhadap tubuh dan darah Kristus (1Kor 11:27).
Oleh karena itu, sangatlah penting untuk sungguh-sungguh memperhatikan nasihat sang rasul: “Biarlah perkataan Kristus tinggal di dalam kamu dengan melimpah” (Kol 3:16). Kita perlu membiarkan perkataan Kristus hidup di dalam hati kita dengan segala kekayaan dan dinamikanya. Kita perlu memahami firman-Nya secara mendalam dan jelas. Bagaimana hal ini dapat dicapai jika kita tidak bersedia—seperti pemazmur—untuk merenungkan firman Allah selama berjam-jam (Mzm 119:148)? Mengapa pemazmur melakukan hal ini? “Di dalam hatiku, aku menyimpan firman-Mu, sehingga aku takkan berdosa terhadap-Mu.” (119:11)
Bertobatlah dari dosa Anda atau dosa itu akan membinasakan Anda
Kita telah melihat empat alasan mengapa orang Kristen, khususnya yang muda, bisa jatuh ke dalam dosa selama proses pembaruan. Seseorang bisa saja benar-benar telah dilahirkan kembali, tetapi tetap jatuh ke dalam dosa. Sangatlah penting untuk segera bertobat dari dosa. Orang yang tidak bertobat dari dosanya akan merasa perlu untuk menyembunyikannya. Namun, dosa yang disembunyikan cenderung membesar—bagaikan kanker tersembunyi yang pada akhirnya akan mematikan dan menghancurkan.
Untuk menegaskan betapa seriusnya masalah ini, saya menutup dengan sebuah kisah nyata. Sekitar empat puluh tahun yang lalu di Amerika Serikat, seorang pendeta gereja yang dihormati—yang sudah berkeluarga—mulai menaruh hati pada seorang wanita muda yang memimpin paduan suara gereja. Perlahan-lahan, ia menjalin hubungan dengan wanita itu. Awalnya hubungan tersebut tampak wajar dan tidak bermasalah, tetapi lama-kelamaan hubungan itu menjadi semakin mendalam hingga akhirnya mereka terlibat dalam perselingkuhan. Keterlibatan mereka menjadi begitu dalam sampai suatu hari ia mulai menyadari betapa gawatnya situasi tersebut. Perselingkuhan itu semakin berisiko untuk terbongkar. Jika hal itu sampai terjadi, bagaimana mungkin ia—seorang pendeta—bisa menghadapi dunia? Bagaimana ia sanggup menatap wajah istri dan anak-anaknya saat mereka mengetahui bahwa perselingkuhan itu telah berlangsung selama bertahun-tahun?
Namun, terjadi sesuatu yang lebih buruk: wanita itu hamil. Bagaimana mungkin ia menyembunyikan hal ini? Apa akhir dari skandal yang pelik ini? Karier, kehidupan keluarga, dan reputasinya menjadi taruhan. Betapa banyak orang non-Kristen yang akan tersandung imannya saat mengetahui bahwa seorang pendeta telah jatuh ke dalam dosa yang begitu keji? Konsekuensinya sungguh tak terbayangkan.
Semuanya bermula dari hal sepele, ibarat paku di dalam rumah itu. Saat ia berusaha menyembunyikannya, masalah itu justru kian membesar. Alih-alih mengakui dosa tersebut dan segera mengatasinya, ia malah membiarkannya menjadi tak terkendali.
Dan tahukah Anda apa yang dilakukan pendeta itu? Dia membunuh wanita tersebut! Sungguh mencengangkan, bukan? Seorang pengkhotbah yang berzina akhirnya melakukan pembunuhan, dengan harapan bahwa tindakan itu akan mengakhiri segala konsekuensi mengerikan akibat dosanya. Namun, firman Allah berkata, “kamu akan dihukum karena dosamu itu” (Bil 32:23). Allah tidak akan membiarkan dosa tetap tersembunyi dan tidak ditangani. Benar saja, kisah yang sangat mengerikan ini akhirnya diberitakan secara luas di surat kabar.
Segeralah bertobat dari dosa. Segala upaya untuk menyembunyikannya hanya akan memperburuk keadaan. Dosa itu akan menjadi semakin sulit ditangani dan disesali, serta pada akhirnya akan mendatangkan kehancuran.
Hendaklah kita menyadari dengan rasa takut dan gentar bahwa para pendeta dan pengkhotbah yang berbuat dosa dan tidak bertobat tidak akan luput dari penghakiman Allah yang adil. Mereka tidak boleh mengira bahwa mereka dapat berbuat dosa tanpa menanggung akibatnya, atau bahwa mereka akan senantiasa aman dari api neraka yang mengerikan. Sebaliknya, justru karena mereka adalah pengkhotbah dan pendeta, mereka akan dihakimi dengan lebih keras. Yesus Kristus—yang akan menjadi Hakim pada Hari Penghakiman (2Tim 4:1)—memperingatkan kita: “Setiap orang yang diberi banyak, dituntut banyak. Dan, mereka yang dipercayakan lebih banyak akan dituntut lebih banyak lagi.” (Luk 12:48)