previous arrow
next arrow
Slider

 

A.W. Tozer |

tozerKegagalan untuk membedakan peran Allah dari peran manusia di dalam keselamatan telah menghalang banyak orang dari menemukan kedamaian, dan meninggalkan sebagian besar dari Gereja Kristus dalam keadaan tanpa kuasa untuk jangka waktu yang lama.

Kita harus menyatakan dengan tegas bahwa ada beberapa hal yang hanya dapat dilakukan Allah, dan bagi kita untuk berusaha melakukannya hanya akan menyia-yiakan usaha kita; dan terdapat hal-hal lain yang hanya dapat dilakukan manusia, dan untuk kita meminta Allah melakukannya adalah menyia-yiakan doa kita. Sia-sia untuk berusaha melakukan pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh anugerah ilahi; sama sia-sianya untuk kita berusaha membujuk Allah untuk melakukan apa yang telah diperintahkan oleh otoritas ilahi.

Antara hal-hal yang hanya dapat dilakukan Allah, yang paling penting bagi kita adalah karya penebusan. Penebusan dicapai di tempat kudus yang hanya dapat didatangi oleh seorang Penebus dari Allah. Karya yang mulia itu tidak bergantung pada usaha manusia; yang terbaik dari keturunan Adam tidak dapat menambahkan apa-apa di situ. Semuanya berasal dari Allah, dan manusia tidak mempunyai bagian.

Penebusan adalah sebuah fakta objektif. Itu adalah sebuah karya yang berpotensi menyelamatkan, dirancang untuk manusia, tetapi dilaksanakan secara independen dari dan di luar individu itu. Karya Kristus di Kalveri menebus setiap manusia, tetapi tidak menyelamatkan siapa saja.

Keselamatan bersifat pribadi. Keselamatan adalah penebusan yang menjadi efektif kepada individu tertentu. Keselamatan adalah karya Allah di dalam hati, yang menjadi mungkin oleh karya Allah melalui Kristus di atas kayu salib. Karya penebusan dan keselamatan tergolong dalam kelas hal-hal yang hanya dapat dilakukan Allah. Tidak ada manusia yang dapat mengampuni dosanya sendiri; tidak ada manusia yang dapat dengan sendirinya membuat hatinya baru; tidak ada manusia yang dapat mendeklarasikan dirinya benar dan bersih. Semua itu adalah karya Allah di dalam manusia, yang mengalir dari karya yang Kristus telah lakukan bagi manusia. Penebusan universal membuat keselamatan tersedia secara universal, tetapi itu tidak membuatnya efektif secara universal kepada setiap individu.

Jika penebusan telah dibuat bagi semua orang,  mengapa tidak semua diselamatkan? Jawabannya adalah sebelum penebusan menjadi efektif terhadap suatu individu manusia, ada sebuah tindakan yang harus dilakukan manusia itu. Itu adalah sebuah tindakan yang teramat penting bagi kita karena tanpanya karya Kristus tidak dapat menjadi efektif dalam keselamatan pribadi. Tindakan menerapkan keselamatan ini adalah sesuatu yang hanya dapat dilakukan manusia.

Ortodoksi masa kini takut berhadapan dengan kebenaran ini. Kita telah dididik dalam doktrin anugerah, dan kita takut untuk menyatakannya secara terang-terangan jangan sampai kita mengurangi kemuliaan anugerah dan karya Kristus yang sudah selesai. Namun adalah sebuah kesalahan untuk berbicara lembut tentang sebuah subjek yang begitu penting bagi jiwa kita. Kita harus membedakannya dengan jelas dan memberitakannya dengan berani. Kita tidak perlu takut bahwa kita akan mencuri kemuliaan Allah dengan menghormati kebenaran yang Ia Sendiri telah nyatakan. Kegagalan untuk membedakan peran Allah dan peran manusia telah mengakibatkan kebingungan mental dan kelambanan moral di antara orang Kristen. Kita perlu mengetahui dan melakukan kebenaran seperti yang diungkapkan kepada kita dalam Firman Suci untuk memperoleh jaminan dan kuasa.

Termasuk dalam kategori hal-yang-tidak-dapat-Allah lakukan adalah: Allah tidak dapat bertobat untuk kita. Dalam usaha kita untuk memperbesar-besarkan anugerah, kita telah memberitakannya sehingga memberi kesan bahwa pertobatan itu karya Allah. Ini adalah kesalahan fatal yang telah mempengaruhi banyak orang Kristen. Allah telah memerintahkan semua manusia untuk bertobat. (Kisah 17.30) Ini adalah pekerjaan yang hanya dapat kita lakukan. Tidaklah mungkin secara moral untuk seseorang bertobat bagi orang lain. Bahkan Kristus tidak dapat melakukan ini. Dia dapat mati untuk kita, tetapi dia tidak dapat bertobat untuk kita.

Allah dalam kemurahan-Nya mungkin akan “mendorong” kita untuk bertobat dan melalui pekerjaan Roh Kudus-Nya membantu kita untuk bertobat; tetapi sebelum kita dapat diselamatkan kita harus dengan penuh kerelaan hati bertobat di hadapan Allah dan mempercayai Yesus Kristus. Hal ini diajarkan oleh Alkitab dengan jelas; dan didukung kuat oleh pengalaman. Pertobatan melibatkan reformasi moral. Manusia yang berbuat salah, jadi hanya manusia yang dapat memperbaikinya. Berbohong, misalnya, adalah tindakan manusia, dan manusialah yang harus bertanggungjawab penuh. Saat dia bertobat, dia akan berhenti berbohong. Allah tidak dapat berhenti untuk dia; dialah yang harus berhenti.

Ketika dinyatakan seperti ini secara terang-terangan semuanya tampak cukup jelas, dan kita mungkin bertanya-tanya bagaimana mungkin orang yang berakal sehat bisa mengharapkan orang lain untuk membebaskan mereka dari kewajiban pribadi untuk bertobat? Akan tetapi, dalam praktek dan di bawah tekanan sentimen religious yang kuat, hal-hal ini tidak sejelas seperti yang diperkirakan. Faktanya adalah, penekanan pada “semuanya sudah dilakukan, Anda tidak dapat berbuat apa-apa lagi” telah mengakibatkan kebingungan yang luar biasa di antara orang-orang percaya dimana-mana. Kita diberitahu bahwa kita harus binasa karena siapa kita dan bukan karena apa yang telah kita lakukan; apa yang kita lakukan sama sekali tidak diperhitungkan. Dan selanjutnya, mereka tidak dapat melakukan apa-apa dalam arah keselamatan; bahkan menyarankan hal ini akan menyinggung Allah: bukankah teladan buruk dari Kain cukup untuk membuktikan hal ini? Jadi mereka terombang-ambing antara Adam pertama dan Adam yang akhir. Yang satu melakukan dosa bagi mereka dan yang satu lagi telah melakukan segala yang lain. Dengan demikian saraf dari kehidupan moral mereka dipotong dan mereka tenggelam dalam keputusasaan, takut untuk bergerak supaya mereka jangan bersalah karena dosa “upaya-diri”. Di waktu yang bersamaan mereka sangat terganggu dengan pengetahuan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan kehidupan religius mereka. Remedinya adalah melihat dengan jelas bahwa manusia tidak hilang karena apa yang telah dilakukan seseorang ribuan tahun yang lalu; mereka hilang karena mereka secara pribadi telah berbuat dosa. Kita tidak akan diadili berdasarkan dosa Adam, tetapi dosa kita sendiri. Kita sepenuhnya bertanggungjawab atas dosa kita sendiri sampai dosa itu dibawa ke salib Yesus. Ide bahwa pertobatan itu bisa didelegasikan adalah kesimpulan yang keliru yang ditarik dari doktrin anugerah yang disalahsampaikan dan disalahpahami.

Satu lagi hal yang Allah tidak dapat lakukan: Dia tidak dapat percaya untuk kita. Yang pasti, iman adalah karunia dari Allah (Ef.2.8-9), tetapi apakah kita akan bertindak atas iman itu atau tidak terletak sepenuhnya dalam kekuasaan kita (Yak.2:17). Kita bisa bertindak atau tidak, sesuai pilihan kita. Kepercayaan yang sejati menuntut supaya kita mengubah sikap kita terhadap Allah. Itu berarti kita tidak hanya mengakui bahwa Dia layak dipercaya tetapi kita juga mempercayai janji-janji-Nya dan menaati perintah-perintah-Nya. Itulah iman Alkitab; apa saja yang kurang dari itu adalah menipu diri sendiri. Ketika Allah menjadi objek iman Dia tidak dapat menjadi subjek juga. Orang berdosa yang bertobat adalah subjek, dan karena itu dia harus menempatkan imannya pada Kristus sebagai Penyelamatnya. Hal itu harus dia lakukan sendiri. Allah mungkin akan membantunya, Dia mungkin akan menanti dan bersabar, tetapi Dia tidak dapat mengambil tempat dia dan bertindak untuk dia.

Pada hari ketika kita sekali lagi memahami bahwa Allah tidak akan bertanggung jawab untuk dosa dan ketidakpercayaan kita akan menjadi hari yang berbahagia bagi Gereja Kristus. Kesadaran bahwa kita secara pribadi bertanggung jawab atas dosa-dosa individu kita mungkin mengejutkan hati kita, tetapi itu akan menjernihkan pikiran dan menghapus ketidakpastian. Orang-orang berdosa membuang waktu mereka memohon Allah untuk melakukan tindakan-tindakan yang justru diperintahkan-Nya kepada mereka untuk dilakukan. Ia tidak akan berdebat dengan mereka; Ia hanya akan meninggalkan mereka dalam kekecewaan mereka. Ketidakpercayaan adalah sebuah dosa besar; atau dinyatakan dengan lebih tepat, itu adalah bukti dari dosa-dosa yang belum diakui. Bertobat dan percaya, itulah urutannya (Mrk.1:15). Iman akan mengikuti pertobatan, dan keselamatan akan menjadi hasil akhirnya.

Setiap interpretasi atas anugerah yang meringankan orang-orang berdosa dari tanggung jawab untuk bertobat tidak berasal dari Allah dan tidak sesuai dengan kebenaran yang telah diungkapkan. Allah juga tidak bertanggung jawab untuk menolong kita bertobat. Dia tidak berhutang apa-apa kepada kita kecuali keadilan. Orang yang mati dalam dosa dan masuk ke penghakiman tanpa diberkati telah menerima apa yang pantas. Yang lain adalah objek kemurahan-Nya. Menantikan Allah untuk menolong kita bertobat, atau mempercayai bahwa Ia wajib berbuat demikian, adalah menyalahpahami seluruh rencana keselamatan.

Apa hubungannya semua ini dengan kurangnya kuasa dalam gereja-gereja kita? Banyak sekali.  Jutaan orang memulai kehidupan Kristen tanpa memahami tugas moral mereka terhadap Allah. Mereka berusaha untuk percaya tanpa terlebih dahulu bertobat. Mereka berusaha percaya tanpa berniat untuk membawa hidup mereka selaras dengan kehendak Allah. Akibatnya mereka tidak jelas tentang apa pun. Mereka penuh dengan keraguan dan kebingungan tersembunyi. Mereka diam-diam kecewa dengan kehidupan mereka, dan sebagian besarnya muram dan tanpa antusiasme. Sulit untuk mengekstrak banyak kegembiraan dari ketidakpastian.

Tidak ada gunanya menasihati orang-orang Kristen seperti ini untuk mencari kuasa; tidak ada gunanya berbicara kepada mereka tentang kehidupan yang berserah. Mereka tidak dapat memahaminya. Mereka mendengarkan khotbah dan pergi, sambil menunggu dengan sia-sia untuk Allah melakukan hal-hal yang telah Dia perintahkan kepada mereka untuk dilakukan. Sebelum hal ini diperbaiki kita hanya bisa mengharapkan sedikit kuasa dari gereja-gereja kita.

(Dikutip dari Paths to Power, artikel ini ditulis pada tahun 1950an.)