Pastor Boo | Kematian Kristus (9) |

Baiklah, sejauh ini kita sudah membahas tentang kematian Yesus. Tentu saja kita harus menambahkannya dengan pembahasan tentang kebangkitannya karena kebangkitannya, dalam pengertian tertentu, memiliki makna yang lebih penting. Salah satu masalah di dalam Teologi Kristen, hal yang diakui oleh banyak penulis tentang teologi Kristen, adalah penekanan yang terlalu berlebihan pada aspek kematian Yesus. Tidak cukup penekanan diberikan pada aspek kebangkitan Yesus. Jika anda perhatikan isi Perjanjian Baru, makna penebusan itu tidaklah utuh tanpa adanya kebangkitan. Mari kita lihat 1 Korintus 15:17

Dan, jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah imanmu, dan kamu masih berada dalam dosa-dosamu.

Paulus dengan jelas menegaskannya. Kebangkitan Yesus itulah yang membebaskan kita dari dosa. Jadi kita dapati di sini bahwa bukan hanya kematian Yesus saja yang penting melainkan kebangkitannya juga. Pada hari ini, kita akan merenungkan tentang kebangkitan Yesus dalam kaitannya dengan perjanjian yang sudah kita bahas sebelumnya. Satu hal yang akan anda lihat adalah bahwa tanpa kebangkitan Yesus, maka tidak akan ada gereja atau tubuh Kristus. Yesus sendiri berkata, “Runtuhkan Bait Allah ini, dan aku akan membangunnya kembali dalam tiga hari.” Di dalam perikop ini, Yohanes menjelaskan bahwa yang dimaksud oleh Yesus adalah kebangkitan tubuhnya sendiri, dan selanjutnya akan berdiri Bait Allah yang baru, yakni Gereja.

Anda juga akan melihat satu hal lagi jika kita berbicara tentang perjanjian. Perjanjian itu mencakup pihak Yahweh dengan Israel. Jadi perjanjian yang kita bahas di sini adalah perjanjian yang mengacu pada masyarakat, atau bersifat komunal. Kita tidak berbicara tentang orang-per-orang melainkan tentang komunitas. Di dalam Perjanjian Baru, perjanjian ini melibatkan pihak Yahweh dengan jemaat-Nya. Gereja menjadi hidup oleh karena kebangkitan Yesus. Yahweh membangkitkan Yesus dari maut, dan sebagai hasilnya lahirlah gereja.

Kekristenan yang kita miliki sekarang pada dasarnya bersifat individual. Hanya memperhatikan hubungan antara diri sendiri dengan Allah. Kita tidak punya pemahaman tentang tubuh Kristus. Sebenarnya, kita bahkan tidak paham akan makna penting jemaat. Gereja sekedar menjadi tempat di mana kita bergabung dengan orang lain untuk beribadah kepada Allah dan, mungkin, membuat pengakuan dosa, mengucapkan syukur, atau memohon pertolongan Allah. Setelah itu, kita pulang dan melanjutkan cara hidup kita. Tak ada tubuh Kristus di sana.

Namun, jika anda pelajari isi Perjanjian Baru, anda akan dapati bahwa setiap kali ada pendamaian dalam hal hubungan kita dengan Allah, kita sadari bahwa uraiannya pasti terkait dengan pokok tentang jemaat atau tubuh Kristus. Jadi, yang dibicarakan adalah komunitas dari ciptaan baru. Dari sini kita melihat pentingnya menjalin hubungan dengan Allah sebagai satu tubuh.

Di dalam Perjanjian Lama, hanya ada dua istilah yang dikaitkan dengan perjanjian. Yang pertama adalah ‘garam perjanjian’. Kita dapat melihat pemakaian istilah ini, misalnya, di dalam Imamat 2:13,

Juga, kamu harus membubuhkan garam pada setiap kurban sajian yang kamu bawa. Dengan demikian, garam perjanjian Allah tidak hilang dari kurban sajianmu. Kamu harus selalu membubuhkan garam pada kurban-kurban ini.”

Yahweh sedang menyatakan kepada umat Israel, “Jika kamu mempersembahkan buah sulung dari hasil panenmu, persembahan itu tidak boleh ada ragi; sebaliknya, kamu harus menggaraminya. Garam ini adalah garam perjanjian.” Para rabi yang mempelajari ayat ini mendapati bahwa garam menghambat ragi dari berfungsi. Garam dapat memurnikan persembahan. Nah, ayat ini hanya berbicara tentang persembahan hasil ladang. Akan tetapi, para rabi memperluas penerapannya ke dalam bentuk persembahan yang lain, bahkan untuk hewan korban, garam juga dipakai di sana. Hal ini dilakukan karena garam dipandang sebagai unsur yang menjaga keutuhan sebuah perjanjian. Kita perlu mengajukan pertanyaan, “Apa maknanya bagi kehidupan sehari-hari?” Nah, pertanyaan ini membawa kita pada istilah kedua yang dipakai terkait dengan perjanjian. Uraiannya terdapat di dalam Yehezkiel 37:24-28

24  Hamba-Ku Daud akan menjadi raja atas mereka, dan mereka semua akan memiliki satu gembala. Mereka akan berjalan dalam peraturan-peraturan-Ku dan memelihara ketetapan-ketetapan-Ku, serta melakukannya.
25  Mereka akan tinggal di negeri yang Kuberikan kepada hamba-Ku, Yakub, tempat nenek moyangmu tinggal. Mereka akan tinggal di dalamnya, mereka dan anak-anak mereka, dan cucu-cucu mereka, selama-lamanya. Dan, hamba-Ku Daud akan menjadi raja mereka selamanya.
26  Aku akan membuat perjanjian damai dengan mereka. Perjanjian itu akan menjadi perjanjian abadi dengan mereka. Aku akan menempatkan mereka, memperbanyak mereka, dan menaruh tempat-Ku yang kudus di tengah-tengah mereka selama-lamanya.
27  Kediaman-Ku juga akan ada bersama mereka; Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.
28  Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Aku, Yahweh, menguduskan Israel ketika tempat-Ku yang kudus ada di tengah-tengah mereka selama-lamanya.’”

Hal apa yang menjaga keutuhan perjanjian? Nah, di ayat 26 disebutkan tentang perjanjian damai sejahtera. Damai dari Allah-lah yang kita bahas jika sedang membicarakan perjanjian. Kemudian Yesus menyatukan kedua gambaran tersebut, garam dan damai, di Markus 9:50

Garam itu baik, tetapi jika garam itu kehilangan keasinannya, bagaimana kamu akan membuatnya asin lagi? Milikilah garam di dalam dirimu sendiri dan berdamailah satu dengan yang lain.”

Anda lihat di sini betapa Yesus sangat memperhatikan hal perdamaian. Kata damai di sini dimaknai, “Berdamailah satu sama lain.” Itu sebabnya saya sampaikan bahwa perjanjian itu berorientasi komunitas karena Yahweh tidak berkenan mengadakan perjanjian dengan umat yang terpecah belah dan berkonflik satu sama lain. Jika umat tidak akur, maka kehidupan kita tidak akan mencerminkan perjanjian damai sejahtera.

Jadi kita harus pahami semua itu karena jika Gereja adalah ciptaan baru, dalam hal apa gereja layak disebut ciptaan baru jika jemaat di dalamnya tidak akur satu sama lain? Kalau sudah begini, apa bedanya gereja dengan kumpulan masyarakat yang lain? Jika anda gambarkan dunia zaman sekarang di sepanjang sejarah umat manusia, selama beberapa ribu tahun, dunia tetap saja menjadi tempat perseteruan, kekerasan dan pertumpahan darah.

Pepatah mengatakan selalu ada garis cerah di tepi awan kelam. Sekalipun virus corona sudah menimbulkan bencana yang menelan ribuan korban jiwa, ada beberapa ‘manfaat’ yang dibawa oleh virus tersebut bagi kita. Kita melihat banyak konflik dan perang yang berhenti akibat virus ini. Bayangkan, misalnya, dua pihak yang sedang berperang melakukan negosiasi, “Mari kita hentikan peperangan. Mari kita bekerjasama menyalurkan obat, peralatan, bahan pangan dan semua yang dibutuhkan untuk mengatasi virus ini.” Atau, mungkin juga kedua belah pihak menjadi lebih sibuk mengusahakan penanganan terhadap virus ini daripada mencari tambahan senjata. Tampaknya, virus ini memiliki dampak yang memberi perdamaian juga. Namun, tentu saja virus ini sudah menelan banyak korban jiwa. Adanya beberapa manfaat yang muncul memang tidak diragukan lagi. Corona, menurut makna harafiahnya, berarti mahkota. Raja di zaman sekarang ini adalah virus. Jika anda perhatikan judul-judul berita utama zaman sekarang, virus corona menguasai judul utama di halaman depan. Virus ini cukup kuat untuk menyetop permusuhan!

Akan tetapi, khotbah saya hari ini bukan untuk membahas masalah virus corona secara alkitabiah. Allah tidak membunuh sebagian manusia untuk membawa damai. Kita harus memahami apa makna damai sejahtera dari Allah itu. Jika anda tanyakan orang duniawi tentang, “Apa arti damai menurut anda?” Saya rasa pemahaman yang lazim dianut mereka adalah bahwa damai itu berarti tidak ada konflik. Damai berarti tidak ada kecemasan, tekanan batin, ketegangan, bahkan tak ada kebisingan! Hal-hal semacam itulah yang cenderung dibayangkan jika berbicara tentang hal damai. Itu sebabnya kita menjadi sangat tidak suka jika ada orang yang masuk mencampuri urusan pribadi kita. Kita ingin ada batas bukankah begitu? Jadi, jika ada orang yang melanggar batas itu, kita berubah menjadi keras. Kita ingin adanya kedamaian menurut ukuran kita sendiri. Akan tetapi, pengertian semacam itu bukanlah makna damai menurut Allah. Itu sebabnya mengapa Yesus berkata, “Di dalam dunia ini, kamu akan mengalami kesusahan, bersukacitalah karena aku sudah mengalahkan dunia!” Dia juga berkata, “Damai yang kuberikan padamu bukanlah damai yang berasal dari dunia ini.” Sangatlah penting untuk dipahami bahwa kita hidup dalam masa-masa sulit, dengan demikian kita bisa mengalami damai yang berasal dari Allah.

Nah, damai yang seperti ini tidak dimaksudkan untuk kepentingan kita; damai ini terkait dengan Injil Damai Sejahtera. Seperti yang sudah kita pelajari sebelumnya, kita sudah menyerahkan diri kita kepada Allah, dan tindakan itu bukan untuk kepentingan kita pribadi melainkan untuk kepentingan orang banyak. Demikianlah, kita berhasrat mendapatkan damai sejahtera dari Allah, bukan untuk kepentingan pribadi kita, melainkan untuk bisa membagikannya dengan orang lain, supaya mereka bisa mengenal kasih dan damai sejahtera dari Allah, dan selanjutnya mereka sendiri bisa membagikannya ke lebih banyak orang. Dan pada akhirnya nanti terbentuk kumpulan jemaat yang akur satu sama lain.

Pada hari ini, saya akan bagikan tiga poin tentang hal melangkah di jalan Allah. Sebelum kita masuk ke pembahasannya, mari kita lihat Injil Lukas 1:79

untuk menyinari mereka yang tinggal dalam kegelapandan yang berada dalam bayang-bayang maut, untuk menuntun kaki kita menuju ke jalan damai sejahtera.”

Hidup baru di dalam Kristus ini disebut jalan damai sejahtera. Mari kita lanjutkan ke Lukas 2:14

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggidan damai sejahtera di bumi, di antara orang-orang yang berkenan kepada-Nya.”

“Dan damai sejahtera bagi mereka yang kepadanya Ia berkenan.” Jika kita belajar untuk melangkah di jalan yang berkenan di mata Allah, maka kita akan membawa damai bagi bumi. Ini adalah visi ajaib yang bisa kita alami jika kita belajar mengikuti prinsip-prinsip dalam firman-Nya. Mari kita lihat isi Lukas 19:41-42

41  Saat Yesus sudah di dekat Kota Yerusalem dan melihat kota itu, Ia pun menangisinya.
42  Kata-Nya, “Seandainya hari ini kamu tahu apa yang mendatangkan damai sejahtera atasmu. Akan tetapi, sekarang hal itu tersembunyi dari matamu.

Yesus meratapi kota itu. Yerusalem seharusnya menjadi “Kota Raja Damai.” Ini adalah arti dari kata Yerusalem dalam bahasa Ibrani, akan tetapi kota itu justru menjadi kota yang berbeda! Di sini Yesus sedang berkata, “Kamu tidak mengenal hal yang dibutuhkan untuk mewujudkan damai sejahtera.” Yerusalem sudah menjadi kota yang dipenuhi oleh keegoisan. Dan ini adalah sumber dari segala perseteruan.

Demikianlah, saya ingin menyampaikan tentang tiga pokok dari jalan damai sejahtera. Mengapa jalur ini disebut jalan damai sejahtera? Karena jika kita melangkah di jalan ini, maka kuasa Allah akan masuk ke dalam hidup kita. Kita bukan sekedar menerima damai sejahtera di dalam jiwa kita, damai itu juga akan mempengaruhi orang lain.

Nah, mari kita mulai dengan pokok yang pertama.


1) Damai dari Allah

Poin yang pertama berkaitan dengan damai sejahtera dari Allah. Mari kita lihat Filipi 4:6-7

6  Janganlah khawatir tentang apa pun juga. Namun, dalam segala sesuatu nyatakan keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan serta ucapan syukur.
7  Damai sejahtera Allah yang melampaui segala pengertian akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Yesus Kristus.

Bagaimana kita bisa mengalami damai sejahtera dari Allah? Kita harus datang kepada-Nya dalam doa dan permohonan yang disertai ucapan syukur. Namun, kita datang pada-Nya dalam keadaan di mana semua kekuatiran sudah hilang. Kita tahu bahwa ada banyak hal di dunia ini yang membuat kita kuatir. Banyak orang yang kuatir akan kesejahteraan, keluarga, hubungan pernikahan dan juga kesejahteraan anak-anak mereka. Ada banyak ketidakpastian di dunia ini. Jika kita mengira bahwa dengan berjuang mengejar penghasilan akan memberi kita sedikit rasa aman, dengan cepat kita akan menyadari bahwa rasa aman semacam ini sangatlah rapuh. Cukup dengan menyebarnya satu jenis virus, dan hal-hal yang kita pegang sebagai keamanan finansial lenyap dalam waktu singkat.

Kita harus belajar membangun hubungan kita dengan Allah, dengan hati dan pikiran yang terpusat, difokuskan kepada Dia. Mari kita lihat Mazmur 46:11,

“Diam dan ketahuilah bahwa Aku adalah Allah, Aku akan ditinggikan di antara bangsa-bangsa, Aku akan ditinggikan di atas bumi.”

Si pemazmur berkata, “Berhentilah bergumul! Buang kekuatiranmu! Hentikan semua perseteruan dan akui bahwa Aku ini Allah-mu.” Inilah hal yang harus kita lakukan setiap hari. Mengapa? Karena kita memang harus belajar untuk menempatkan iman dan keyakinan kita kepada-Nya. Kita harus memiliki keyakinan bahwa Allah dapat membebaskan serta mengubah orang serta peristiwa di dalam perhitungan waktu-Nya. Akan tetapi, hal yang terpenting adalah bahwa kita harus belajar menyelaraskan diri dengan kehendak-Nya. Dengan kata lain, inilah hal yang dimaksudkan oleh Paulus, kita tidak datang kepada Allah lalu berusaha mengatasi persoalan itu seorang diri. Seperti yang dikatakan oleh Daud, hal pertama yang harus dilakukan adalah berdiam diri di hadapan Allah. Belajar untuk masuk ke dalam kekhusyukan di dalam Yahweh. Allah tahu semua persoalan anda, lebih dari yang anda ketahui. Dia tahu hal-hal yang akan mempengaruhi hidup anda. Di atas semua itu, Dia tahu jauh lebih banyak dari yang kita sadari. Jadi, mengapa kita tidak segera saja belajar memusatkan perhatian kita kepada-Nya?

Jadi apa yang perlu kita perbuat di tengah keadaan seperti ini? Perlukah kita berdoa memohon agar Allah menyingkirkan virus ini? Saya menerima sebuah pesan di Facebook yang menganjurkan agar semua orang Kristen berdoa setiap jam 3 sore dari Jumat sampai hari Minggu, memohon agar Allah menyingkirkan virus ini. Nah, hasilnya masih harus ditunggu karena sekarang ini hari Minggu dan masih tersisa waktu beberapa jam sebelum pukul 3 sore. Kita akan melihat apakah besok pandemi corona ini menjadi reda atau tidak. Akan tetapi, apakah ini jenis doa yang harus kita panjatkan? Apakah tidak lebih baik jika kita belajar untuk menanti di hadapan Allah? Kapan virus ini mencapai puncak efeknya dan mereda, kita tidak tahu. Sebenarnya, saya bahkan tidak berani memohon kepada Allah untuk menyingkirkan virus ini. Alasannya sederhana. Bagi mereka yang memahami perkara rohani, ada pelajaran rohani yang penting dan perlu dipahami dari pandemi ini. Memang benar bahwa hal ini tidak harus membuat para peneliti berhenti mencari obat untuk virus corona. Yang perlu kita doakan adalah supaya kehendak Allah saja yang terwujud. Siapa tahu akan ada yang disadarkan oleh kejadian virus ini dan mereka mau datang kepada Allah. Jadi, inilah poin yang pertama. Kita harus mengalami damai sejahtera yang datang dari Allah. Kita harus sampai di titik di mana semua ketegangan menghilang. Berserulah kepada nama Yahweh. Dia adalah Penolong dan Sumber Hikmat kita, dan Dia akan menaruh kita di dalam damai sejahtera-Nya.


2) Pembawa Damai

Poin yang kedua terkait dengan hal mewujudkan damai. Di dunia ini, jika anda menghina saya, maka saya akan menghina anda. Jika anda memukul saya, maka saya akan memukul anda. Kita melihat dan mendengar prinsip semacam ini setiap saat. Kita juga menyaksikan banyak kejadian yang menjadi buktinya. Kita tidak suka jika ada orang yang berbicara buruk tentang diri kita. Jika sampai terjadi juga, kita cenderung membalas. Kita bahkan melakukannya dengan penuh semangat, misalnya, jika anda memukul saya satu kali, maka saya akan memukul anda sampai tiga kali, mungkin bisa sampai lima kali, untuk memberi pelajaran. Itu sebabnya tak pernah ada damai di dunia ini karena jika kita terus menjalankan prisnip semacam itu, maka kita hanya akan melipatgandakan kejahatan di dunia. Terdapat tiga bagian di dalam Perjanjian Baru yang berbicara tentang larangan untuk menuntut balas. Mari kita lihat Roma 12:17-21

17  Janganlah membalas kepada seorang pun kejahatan dengan kejahatan. Lakukanlah yang baik di hadapan semua orang.
18  Jika mungkin, sekiranya hal itu tergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.
19  Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah. Sebab ada tertulis, “Pembalasan adalah hak-Ku, Akulah yang akan membalasnya,” firman Tuhan.
20  “Akan tetapi, jika musuhmu lapar, berilah ia makan, dan jika musuhmu haus, berilah ia minum. Dengan melakukan ini, kamu akan menumpuk bara api di atas kepalanya .”
21  Jangan kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.

Di sini Paulus menguraikan ajaran Yesus tentang hal memberikan pipi yang sebelah lagi. Bagaimana anda akan memberikan pipi yang satunya? Dalam prinsip ini, anda bukan sekedar tidak menuntut balas, anda masuk ke dalam tahap yang lebih maju: berbuat baik kepada orang yang memusuhi anda. Paulus berkata bahwa jika lawanmu lapar, berilah dia makan. Jika lawanmu haus, berilah dia minum. Dan Paulus tidak main-main dengan anjuran ini, jadi anda tidak boleh memasukkan racun ke dalam hidangan anda. Anda harus benar-benar berniat baik. Dengan demikian anda akan menimbun bara api di atas kepalanya. Menurut banyak penafsir, makna dari ungkapan itu adalah bahwa orang itu akan merasa malu dengan perbuatannya, setelah menyadari kesalahannya. Dalam penyesalannya, dia akan mengalami perubahan di hati dan pikiran tentang diri anda dan tentang Allah. Dengan kata lain, anda mengubah musuh menjadi teman; anda mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Jadi, anda bisa lihat betapa pentingnya poin ini.

Nah, jika kita tidak memiliki perdamaian dengan Allah, maka kita tidak akan bisa melakukan hal ini. Itu karena hadirat dan kekuatan-Nya, yang menyertai damai-Nya, tidak ada bersama kita. Jika ada orang yang menghina kita, kita dapat melihat seperti apa cara kita bereaksi. Mungkin kita menjadi marah lalu muncul keinginan untuk membalas. Kita akan dapati bahwa urusan menjalankan perintah Yesus menjadi beban berat buat kita.

Jadi, anda bisa melihat hal yang disampaikan oleh Paulus dalam Roma pasal 12 ini, yang dikembangkan mulai dari ayat 1, yakni hal mempersembahkan diri anda sebagai persembahan yang hidup kepada Allah, dan ayat berikutnya berbicara tentang hal mengalami perubahan cara berpikir. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah anda ingin bekerja bersama dengan Allah untuk mendatangkan perubahan di tengah masyarakat? Dunia dipenuhi oleh keegoisan. Kabar baiknya adalah bahwa melalui kematian dan kebangkitan Yesus, dan melalui kelahiran Gereja, dunia mulai melihat bahwa hal ini menjadi mungkin. Inilah jalan damai sejahtera. Dunia akan melihat kumpulan orang-orang yang tidak memiliki perseteruan dan permusuhan.

Akan tetapi, kalau kita melihat gereja jaman sekarang, kita harus jujur dan mengatakan bahwa kita tidak melihat kumpulan orang-orang yang seperti itu. Kita juga tahu bahwa perkara mewujudkan komunitas semacam ini menjadi kewajiban kita, karena jika hal itu mustahil buat kita, maka Injil adalah kabar palsu. Mungkin Yesus tidak bangkit dari kematian; mungkin dia tidak disalibkan. Jadi, entah Alkitab itu benar – yang berarti semua hal itu bisa dialami – atau justru salah. Lalu, siapa yang dimaksudkan sebagai musuh anda? Sederhana saja. Orang-orang yang tidak anda sukai. Di tengah tantangan untuk menjalaninya, Allah akan menolong kita untuk memahami arti dari damai sejahtera-Nya.

Mari kita beralih ke Amsal 16:7

Jika jalan orang berkenan kepada Yahweh, bahkan musuhnya pun dibuat-Nya berdamai dengan mereka.

Ini adalah ayat yang indah. Kita mengikuti jalan damai sejahtera. Dengan melakukan hal-hal yang berkenan di mata Allah, bahkan musuh anda akan Dia damaikan dengan anda. Tentu saja tidak semua musuh akan berdamai dengan anda, akan tetapi kita harus meyakini bahwa di dunia ini akan selalu ada orang yang hati nuraninya baik. Orang seperti Paulus, misalnya, tadinya dia menganiaya orang Kristen, akan tetapi karena dia selalu menjaga kebersihan hati nuraninya, maka Yesus dapat muncul di depannya dan menunjukkan betapa salahnya dia.

Mari kita lihat satu ayat lagi dari kitab Amsal ini, yakni Amsal 15:1

Jawaban lemah lembut meredakan murka, tetapi kata-kata menyakitkan mendatangkan amarah.

Begitulah, kita membutuhkan hikmat yang dari Yahweh. Jadi, jika musuh anda atau orang lain mendatangi anda sambil maah-marah, kitab Amsal mengajarkkan bahwa jawaban yang lemah lembut akan menyingkirkan kemarahan. Karena jika anda marah, maka kata-kata yang anda gunakan cenderung merupakan kata-kata yang kasar, akan tetapi jika anda berada dalam damai dengan Allah, maka jawaban anda akan menjadi lemah lembut, dan anda akan dapati bahwa kemarahan dalam diri orang lain akan menghilang. Hal ini terjadi bukan karena kehebatan anda. Ini karena Allah sedang bekerja saat itu. Demikianlah, saya harap anda bisa memahami poin yang kedua ini.


3) Kedermawanan

Poin yang ketiga ini juga penting untuk dicamkan. Pokok yang ketiga berkenaan dengan sikap dermawan. Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa jika anda melihat kehidupan jemaat dalam Perjanjian Baru, maka akan anda temukan satu ciri yang penting: jemaat sangat dermawan satu sama lain. Mereka rela membagikan apa yang mereka miliki, dan sebagai hasilnya kedermawanan mereka menguatkan hati semua jemaat. Tak ada orang yang perlu berkata, “Saya sedang kekurangan. Harap tolong saya jika anda mampu.” Bahkan anggota jemaat yang miskin senang membagikan apa yang mereka miliki; mereka ingin berbagi. Itu sebabnya mengapa Paulus sangat terharu pada sikap jemaat di Filipi. Mereka bukan orang-orang kaya, akan tetapi mereka sangat peduli pada Paulus, mereka menopang kehidupannya dan berusaha untuk memenuhi kebutuhannya sambil dia melanjutkan melayani Yahweh. Jika anda membaca isi Perjanjian Baru, terutama dalam Kisah pasal 2 dan 4, di sana anda akan melihat bahwa jemaat dipenuhi oleh sukacita dan damai sejahtera. Mengapa mereka sangat berbahagia? Mengapa mereka selalu dalam damai antara satu dengan yang lain? Ini karena Allah sudah menyingkirkan keegoisan mereka, dan semua orang bisa membuka hati antara satu dengan yang lain.

Kita bisa melihat bahwa hal ini juga terjadi di dalam gereja kita. Kami bersyukur kepada Yahweh bahwa ada cukup banyak jemaat kita yang sangat dermawan. Mereka gemar berbagi. Itu sebabnya mengapa damai sejahtera dari Allah selalu menyertai mereka.

Saya mengakhiri dengan membagikan beberapa rujukan ayat mengenai kedermawanan kepada anda. Kisah 2:44-47; Kisah 4:32-35; Filipi 4:18 dan Ibrani 13:16.

 

Berikan Komentar Anda: