previous arrow
next arrow
Slider

 

Charles Finney | 1792-1875 |

Sesungguhnya, kamu semua yang menyalakan api dan yang memasang panah-panah api, masuklah ke dalam nyala apimu, dan ke tengah-tengah panah-panah api yang telah kamu pasang! Oleh tangan-Kulah hal itu akan terjadi atasmu; kamu akan berbaring di tempat siksaan. (Yesaya 50:11)

Sangatlah jelas dari hubungan di antara kata-kata di pasal ini, sang nabi sedang berbicara kepada orang yang mengaku religius, yang bermegah diri karena keselamatan mereka, tetapi pada kenyataannya, pengharapan mereka adalah api yang mereka nyalakan dan ciptakan sendiri.

Sebelum saya melanjutkan dengan subyek ini, izinkan saya untuk berkata bahwa tujuan saya adalah untuk mendiskusikan natur dari pertobatan yang benar dan palsu. Namun subyek ini hanya berguna untuk mereka yang jujur menerapkan apa yang dikatakan pada diri mereka sendiri. Jika saudara ingin menerima manfaat dari pembahasan ini, saudara harus bertekad untuk dengan setia dan jujur menerapkan pada diri saudara sendiri – sejujur yang mungkin seolah-olah saudara sedang berhadapan dengan penghakiman. Jika saudara melakukan ini, saya mungkin akan dapat memimpin saudara untuk menemukan keadaan saudara yang sebenarnya, dan seandainya saudara sekarang dalam posisi terperdaya, mengarahkan saudara ke jalan keselamatan yang benar. Jika saudara tidak melakukan ini, saya telah berbicara dengan sia-sia dan saudara juga telah mendengar dengan sia-sia.

Saya berencana untuk menunjukkan perbedaan di antara pertobatan yang benar dan yang palsu, dan membahasnya dalam urutan di bawah ini:

  • Keadaan Alami Manusia Murni Egois
  • Petobat Sejati Dicirikan oleh Kemurahan Hati
  • Kelahiran Baru adalah Perubahan dari Keegoisan menjadi Murah Hati
  • Persamaaan antara orang Kristen yang Sejati dan Palsu

 

KEADAAN ALAMI MANUSIA MURNI EGOIS

Saya akan menunjukkan bahwa keadaan manusia yang alami, yang belum bertobat adalah sepenuhnya egois. Yang saya maksudkan adalah mereka tidak mempunyai kebajikan yang digambarkan di dalam Injil. Egois terhadap kebahagiaan mereka sendiri dan mencari kepentingan diri. Orang yang egois menempatkan kebahagiaannya di atas kepentingan lain yang lebih bernilai; seperti kemuliaan Allah dan kebaikan alam semesta. Keegoisan manusia sebelum bertobat dapat dilihat dari beberapa hal.

Setiap orang tahu bahwa orang lain itu egois. Semua urusan dengan manusia didasarkan atas prinsip ini. Sekiranya ada yang berurusan dengan cara yang tidak mementingkan dirinya sendiri, dia akan dianggap gila.

 

PETOBAT SEJATI DICIRIKAN OLEH KEMURAHAN HATI

Individu yang telah bertobat dicirikan oleh kemurahan hati dan bukan kegoisan. Kemurahan hati adalah mengasihi kebahagiaan orang lain, atau memilih kebahagiaan orang lain. Kemurahan hati adalah kata yang menggambarkan niat baik atau lebih memilih kesenangan orang lain. Itulah cara Allah berpikir. Kita diberitahu bahwa Allah adalah kasih; bahwa Dia penuh kemurahan. Kemurahan hati menguasai seluruh karakter-Nya. Semua atribut moral-Nya merupakan sisi kemurahan hati yang berbeda. Individu yang sudah bertobat akan mirip dengan Allah dalam hal ini. Bukannya berarti sepenuhnya dan sesempurna Allah dalam hal kemurahan hati tetapi di benaknya selalu memilih untuk berbuat baik. Dia dengan tulus mencari kebaikan orang lain, demi kebaikan itu sendiri. Dia melakukan kebaikan bukan demi reaksi orang terhadapnya atau untuk kesenangannya sendiri. Dia memilih untuk berbuat baik karena dia bersenang di atas kebahagiaan orang lain, dan menginginkan kebahagiaan mereka. Allah berbuat baik secara murni karena kebaikan itu sendiri dan bukan untuk mendapatkan balasan. Dia tidak menyenangkan makhluk-Nya demi kesenangan-Nya sendiri. Bukannya berarti Dia tidak senang saat melihat kesenangan makhluk ciptaan-Nya, tetapi dia tidak melakukan kebaikan demi kepuasan-Nya sendiri.

Kemurahan hati adalah kekudusan. Itulah Hukum Allah yang perlu kita taati: “Engkau harus mengasihi Tuhan Allahmu, dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan dan mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri.” Orang yang sudah bertobat pasti akan tunduk di bawah hukum Allah, dan juga dia akan sama seperti Allah, menjadi orang yang murah hati.

Itulah karakter utama petobat sejati – mencari kebahagiaan orang lain, dan bukannya kebahagiaanya sendiri sebagai tujuan akhir hidupnya.

 

PERTOBATAN SEJATI ADALAH PERUBAHAN DARI KEADAAN EGOIS MENJADI MURAH HATI

Terjadi perubahan dalam tujuan pengejaran, bukan hanya perubahan metode. Tidaklah benar bahwa perbedaan antara orang yang sudah bertobat dan belum, berbeda hanya dengan cara yang dipakai, padahal keduanya masih menuju sasaran yang sama. Tidaklah benar bahwa Jibrael dan Iblis mengejar tujuan yang sama, mencari kebahagiaan mereka sendiri, hanya caranya yang berbeda. Jibrael taat pada Allah bukan demi kebahagiaannya sendiri. Manusia bisa saja berubah caranya, tetapi tetap mengejar hal yang sama, yakni kebahagiaannya sendiri. Dia mungkin berbuat baik demi memperoleh manfaat yang sementara. Dia mungkin tidak percaya pada agama, atau pada kekekalan, tetapi melihat bahwa berbuat baik itu bermanfaat baginya di dunia ini. Tidak ada kemuliaan dalam hal ini. Itulah perbedaan antara orang bertobat yang palsu dan yang sejati. Petobat sejati memilih kemuliaan Allah dan kebaikan kerajaan-Nya karena dia melihat ini sebagai kebaikan yang paling unggul, jauh lebih besar daripada kebahagiaan pribadinya. Bukannya dia tidak peduli dengan kebahagiaannya sendiri, tetapi dia lebih memilih kemuliaan Allah, karena itulah kebaikan yang lebih unggul. Dia memilih kebaikan terunggul ini sebagai obyeknya.

 

PERBEDAAN DAN PERSAMAAN ANTARA PETOBAT SEJATI DAN PALSU

  1. Keduanya menjalani hidup yang bermoral

Perbedaannya adalah pada motivasi. Orang kudus yang sejati hidup bermoral karena kasihnya pada kekudusan; yang palsu karena pertimbangannya yang egois. Dia memakai moralitas sebagai jalan untuk menuju tujuan akhirnya, demi kesenangannya sendiri. Petobat yang sejati mengasihi kekudusan bukan karena apa yang dapat dilakukan kekudusan untuk dirinya.

  1. Keduanya juga berdoa

Perbedaannya adalah dalam hal motivasi. Orang kudus yang sejati senang berdoa; yang satunya lagi berdoa karena berharap untuk mendapatkan manfaat dari doanya. Orang kudus yang sejati mengharapkan manfaat dari doanya, tetapi itu bukan alasan utamanya. Bagi petobat palsu, satu-satunya alasan dia berdoa adalah demi dirinya sendiri.

  1. Keduanya sama-sama bersemangat dalam hal agama

Satu mempunyai semangat, karena semangatnya menurut pengetahuan, dan dia sesungguhnya mengingini dan senang membagikan Injil demi Injil itu sendiri. Yang satunya, memiliki semangat yang sama, tetapi demi mengamankan keselamatannya, dan dia khawatir dia akan ke neraka jika tidak bekerja demi Tuhan, atau dia memberitakan Injil demi mendiamkan nuraninya, bukan karena dia mengasihi Tuhan.

  1. Keduanya sama-sama rajin melayani, yang satu karena senang melakukannya, yang satu lagi takut kalau tidak melakukannya
  2. Keduanya sama-sama memerhatikan apa yang benar; yang sejati karena dia mengasihi apa yang benar, yang satunya karena dia tahu dia tidak dapat diselamatkan melainkan dia melakukan apa yang benar. Dia jujur di dalam transaksi bisnisnya, karena itulah satu-satunya cara untuk mengamankan kepentingannya. Sesungguhnya, mereka sudah mendapat imbalan mereka. Mereka mempunyai reputasi sebagai orang yang jujur, tetapi jika mereka tidak mempunyai motivasi yang lebih tinggi, mereka tidak akan memperoleh imbalan dari Allah.
  3. Dalam banyak hal, keinginan mereka sama. Mereka sama dalam keinginan untuk melayani Tuhan; petobat sejati karena mereka mengasihi pelayanan Tuhan, dan yang palsu demi imbalan karena telah melayani tuannya.

Mereka sama dalam keinginan untuk menjadi berguna; yang sejati menginginkannya demi menjadi bermanfaat, yang palsu karena itulah cara untuk memperoleh perkenan Allah.

Dalam menginginkan pertobatan jiwa-jiwa; yang sejati melakukan demi memuliakan Allah; yang terperdaya demi memperoleh perkenan Allah. Apakah ada yang akan meragukan orang yang memberi uang kepada pelayanan misi atau gereja dari motivasi yang egois, untuk memperoleh kebahagiaan, untuk memperoleh perkenan dari Allah? Sama saja dengan menginginkan jiwa-jiwa baru dari motivasi yang egois semata.

Untuk memuliakan Tuhan; orang kudus sejati senang melihat Allah dimuliakan, dan yang terperdaya karena dia tahu itulah caranya untuk diselamatkan. Petobat sejati menetapkan hatinya untuk memuliakan Allah, sebagai tujuan akhir. Yang satunya demi manfaat dirinya sendiri.

Bertobat. Petobat sejati membenci dosa karena natur dosa yang tidak memuliakan Allah. Yang satunya bertobat karena dia tahu melainkan dia bertobat dia akan dikutuk.

Mempercayai Yesus Kristus. Keinginan seorang Kristen yang sejati adalah untuk memuliakan Allah, dan karena dia mengasihi kebenaran demi kebenaran itu sendiri. Keinginan petobat yang membohongi diri sendiri adalah agar dia punya pengharapan untuk pergi ke surga.

Menaati Allah. Petobat sejati taat agar dia bertumbuh dalam kekudusan; petobat palsu karena dia mengingini imbalan dari ketaatan.

  1. Keduanya mungkin sama bukan hanya dalam keinginan mereka, tetapi di dalam resolusi mereka. Keduanya bertekad untuk meninggalkan dosa, dan untuk menaati Allah, dan memberikan diri untuk mempromosikan agama, dan membangun kerajaan Kristus; dan mereka mungkin bertekad dengan kekuatan yang besar, tetapi dengan motivasi yang berbeda.
  2. Keduanya juga sama dalam keinginan. Mereka sesungguhnya ingin memuliakan Allah, dan membawa orang ke dalam kerajaan Kristus, dan untuk membawa Injil ke seluruh dunia; petobat sejati melakukan karena kasihnya kepada Allah dan kekudusan, dan yang satunya lagi demi mengamankan kesenangannya sendiri.

Keduanya bisa saja ingin menjadi sesungguhnya kudus; yang sejati karena mengasihi kekudusan, dan yang terperdaya karena dia tahu tidak ada cara lain untuk menjadi bahagia.

  1. Keduanya sama bukan hanya dalam aspek keinginan, resolusi dan rencana, tetapi juga dalam hal perasaan mereka terhadap banyak hal.

Keduanya bisa saja mengasihi Alkitab; yang sejati karena itu adalah kebenaran Allah, dan dia bersukacita di dalamnya, dan di memuaskan jiwanya dalam Firman itu; yang satunya karena hal itu menguntungkan dia, dan mengandung pengharapannya.

Keduanya mungkin mengasihi Tuhan; satunya karena dia melihat karakter Allah sebagai begitu indah dan unggul, dan dia mengasihi semua itu; yang satunya lagi karena dia memikirkan Alalh sebagai temannya yang khusus, yang akan membuatnya senang selamanya, dan dia menghubungkan ide Allah dengan kepentingan dirinya sendiri.

Keduanya bisa saja mengasihi Kristus. Yang sejati mengasihi karakternya, dan yang palsu beranggapan bahwa Kristus akan menyelamatkan dia dari neraka, dan memberinya hidup kekal, jadi tidak ada alasan untuk tidak mengasihinya.

Keduanya juga mengasihi orang Kristen; yang sejati karena dia melihat mereka dalam gambar Kristus, dan yang palsu karena mereka adalah bagian dari denominasinya, atau karena mereka berada di pihaknya, dan dia membagi minat dan pengharapan yang sama dengan mereka.

  1. Keduanya juga mungkin sama-sama membenci hal-hal yang sama. Mereka bisa saja membenci ketidak-setiaan, dan dengan keras melawannya – yang sejati melawannya karena hal itu berlawanan dengan Allah dan kekudusan, dan yang palsu karena itu merugikan ide yang menjadi keprihatinan dia, dan jika terjadi, akan membinasakan seluruh pengharapannya untuk kekekalan. Jadi, mereka mungkin membenci kekeliruan; yang sejati karena itu berlawanan dengan Allah, yang satunya karena berlawanan dengan pandangan dan opininya.

Keduanya bisa saja membenci dosa; yang sejati karena itu menjijikkan Allah, dan yang terperdaya, karena hal itu merugikan dirinya sendiri. Ada kasus di mana orang membenci dosanya sendiri, tetapi tetap tidak meninggalkannya. Seberapa sering seorang pemabuk, yang memandang pada masa lalunya, dan membandingkan dengan keadaan terpuruknya sekarang, membenci keterikatannya pada alkohol karena hal itu telah membinasakannya. Namun dia terus meneguknya, sekalipun dia tidak suka dengan dampaknya.

Keduanya mungkin menentang orang berdosa. Penentangan orang-orang kudus yang sejati adalah penentangan dari hati yang baik, karena ia membenci karakter dan perilaku mereka yang diarahkan untuk menumbangkan kerajaan Allah. Yang satunya lagi menentang orang berdosa karena orang-orang itu menentang agama yang dianutnya, dan tidak memihak kepadanya.

  1. Keduanya bisa saja bersukacita dalam hal yang sama. Keduanya dapat bersukacita dalam kemakmuran Sion, dan pertobatan jiwa; orang yang benar-benar bertobat karena hatinya ada di situ dan dia mengasihi hal itu sebagai kebaikan yang paling besar, dan yang palsu bersukacita karena dia turut mengambil bagian dalam hal itu.
  2. Keduanya bersedih dan merasa tertekan saat melihat keadaan gereja; yang sejati karena Allah telah dipermalukan, dan yang palsu karena hatinya tidak senang, karena agamanya sedang tidak disenangi orang lain

Keduanya bisa saja mengasihi perkumpulan orang-orang percaya; yang sejati karena jiwanya menikmat percakapan spiritual, yang satunya karena dia berharap untuk memperoleh keuntungan dari perkumpulan itu. Yang pertama menikmatinya karena dari kelimpahan hatinya, mulutnya berbicara; yang satunya karena dia senang berbicara tentang minatnya yang besar dalam agama, dan dia berharap untuk bisa ke surga.

  1. Keduanya bisa saja suka menghadiri pertemuan keagamaan; orang suci yang sejati karena hatinya senang melakukan tindakan penyembahan, dalam doa dan pujian, dalam mendengarkan firman Tuhan, dan bersekutu dengan Tuhan dan umat-Nya, dan yang satunya lagi karena dia mengira pertemuan keagamaan adalah sarana baik untuk menopangnya. Dia bisa saja mempunyai ratusan alasan untuk ikut perkumpulan itu, tapi bukan karena dia mengasihi penyembahan dan pelayanan Allah.
  2. Keduanya mungkin senang berdoa dengan kamar tertutup. Orang suci sejati karena dia mencintai kedekatan dengan Allah, dan menemukan kesenangan berkomuni dengan Allah, dan tidak segan untuk pergi langsung kepada Allah dan berbicara dengan-Nya. Orang yang sedang menipu diri sendiri, menemukan semacam kepuasan saat melakukannya, karena adalah tugasnya untuk berdoa secara rahasia, dan dia merasakan kepuasan yang membenarkan dirinya saat dia melakukannya. Dia bahkan merasakan semacam kenikmatan dan kegairahan akal budi, yang dia kira adalah komuni dengan Allah.
  3. Keduanya bisa saja mengasihi doktrin kasih karunia, yang sejati karena Allah begitu mulia, dan yang satunya karena dia memandangnya sebagai jaminan untuk keselamatannya.
  4. Keduanya bisa saja menyukai ajaran hukum Allah; orang suci yang sejati karena ajaran Allah sangat luar biasa, sangat kudus, dan adil, dan baik; yang lain karena dia pikir itu akan membuatnya bahagia jika dia menyukainya, dan dia melakukannya sebagai sarana kebahagiaan.

Keduanya  dapat menyetujui hukuman dari hukum Allah. Orang suci yang sejati menyetujui hal itu karena ia merasa hanya adil Allah mengirimnya ke neraka. Orang yang tertipu menyetujuinya karena dia mengira bahaya neraka bukan untuknya. Dia menerimanya, karena dia tahu itu hal yang benar, dan hatinya menyetujuinya, tetapi dia tidak pernah menyetujuinya kalau hukuman itu untuk dirinya sendiri

  1. Keduanya mungkin sama murah hati dalam memberi untuk membantu orang yang membutuhkan. Tidak ada yang akan tahu saat dua orang memberikan jumlah yang sama, walaupun dari motivasi hati yang sama sekali berbeda. Satu memberi untuk berbuat baik, dan akan tetap memberi sekalipun tidak ada orang lain yang memberi. Yang lain memberi karena penghargaan yang akan diperolehnya, atau untuk menenangkan hati nuraninya, atau karena dia berharap untuk membeli perkenan Allah.
  2. Keduanya mungkin sama-sama menyangkal diri dalam banyak hal. Penyangkalan diri tidak terbatas pada orang suci sejati. Lihatlah pengorbanan dan penyangkalan diri orang-orang yang pergi berziarah jauh. Lihatlah para penyembah berhala, melemparkan diri mereka ke dalam api. Lihatlah peziarah malang yang berlutut menaiki dan menuruni tangga-tangga rumah ibadah yang dibuat dari bebatuan yang tajam, sampai lutut mereka berdarah-darah. Bukankah itu penyangkalan diri? Orang suci yang sejati menyangkal dirinya, demi melakukan lebih banyak kebaikan bagi orang lain. Dia melakukan bukan karena mengumbar kesenangannya sendiri atau kepentingannya sendiri. Petobat yang membohongi diri mungkin melakukan hal yang sama, tetapi dari motivasi hati yang murni egois.
  3. Keduanya mungkin rela menjadi martir. Bacalah kehidupan para martir, dan Anda tidak akan ragu bahwa beberapa dari mereka rela menderita sekalipun memiliki gagasan yang salah tentang imbalan kemartiran, dan karena itu memburu kehancuran diri karena keyakinan bahwa itu adalah jalan pasti menuju kehidupan kekal.

 

BAGAIMANA KITA TAHU APAKAH KITA ASLI ATAU PALSU?

Lalu pertanyaannya adalah: “Jika dua orang yang berbeda ini begitu mirip dalam banyak hal, bagaimana kita bisa mengetahui karakter asli kita sendiri, atau untuk mengatakan di kelas mana kita berada? Kita tahu bahwa hati kita lebih licik daripada segalanya, dan sangat jahat. Lalu bagaimana kita dapat mengetahui apakah kita sesungguhnya mengasihi Allah dan kekudusan, atau apakah kita hanya mencari perkenan Allah, dan membidik surga untuk keuntungan kita sendiri ?”

Jawaban saya adalah:

  1. Jika kita benar-benar baik, hal ini akan terlihat dalam transaksi seharian kita. Jika sifat mementingkan diri sendiri yang dominan mengatur perilaku kita seperti ilah yang berkuasa atas hidup kita, maka kita masih seorang petobat yang palsu atau yang masih membohongi diri sendiri. Jika dalam berurusan dengan orang lain kita egois, kita juga egois dalam hubungan dengan Tuhan. “Sebab barangsiapa tidak mengasihi saudaranya, yang telah dilihatnya, bagaimana mungkin ia mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya?” Kerohanian bukan hanya cinta kepada Tuhan, tetapi cinta kepada manusia juga. Jika transaksi harian kita menunjukkan bahwa kita egois, maka kita belum bertobat; tidaklah mungkin seorang bisa menjadi spiritual tanpa mencintai sesamanya seperti dirinya sendiri.
  2. Apakah kita melayani atau melakukan kehendak Tuhan seperti orang sakit yang meminum obat? Mereka mau efek dari obat itu karena jika tidak mereka akan binasa. Kita melayani bukan karena terpaksa. Misalkan, seseorang itu suka bekerja, seperti anak kecil yang suka bermain. Mereka akan melakukannya sepanjang hari, dan tidak pernah lelah melakukannya; mereka melakukan tanpa bujukan apa pun dan sangat menikmatinya. Demikian juga dalam melakukan kehendak Tuhan, jika kita mencintainya, tidak akan ada keletihan dalam melakukannya.
  3. Petobat palsu akan terlihat dengan berjalannya waktu. Sebagai contoh: Saat gereja bermasalah, petobat sejati akan tetap menikmati persekutuan rahasia mereka dengan Allah. Tetapi petobat palsu akan terkecoh dan mulai mencari dunia.
  4. Jika Anda egois, kesenangan Anda dengan hal-hal Tuhan akan bergantung pada kekuatan harapan Anda tentang surga, dan bukan pada kasih sayang Anda. Kesenangan Anda muncul dari rasa antisipasi. Saat Anda merasa sangat yakin untuk bisa masuk surga, maka Anda sangat menikmati hal-hal agama.

Seseorang yang mencintai pekerjaannya senang di mana saja. Dan jika Anda menyukai melakukan kehendak Tuhan, Anda akan bahagia, sekalipun jika Tuhan menempatkan Anda di neraka, asal Anda tetap bisa melayani-Nya. Asal Anda masih dapat berdoa dan memuji Tuhan, Anda akan merasa bahagia di mana pun di alam semesta; karena Anda masih akan melakukan hal-hal yang memberi Anda kebahagiaan. Jika tugas-tugas pelayanan bukanlah hal-hal yang memberi Anda kesenangan, dan jika semua kesenangan Anda bergantung pada harapan yang akan datang, Anda tidak memiliki agama yang benar; itu semua kegoisan.

Saya tidak mengatakan bahwa orang-orang kudus sejati tidak menikmati pengharapan mereka. Tapi itu bukan hal yang paling utama bagi mereka. Mereka tidak banyak memikirkan tentang pengharapan mereka sendiri. Pikiran mereka digunakan untuk sesuatu yang lain. Petobat yang terperdaya, sebaliknya, sadar bahwa ia tidak menikmati pelayanan; tetapi dia merasakan semakin dia melakukannya, semakin dia yakin akan tempatnya di surga. Dia hanya menikmati kesenangan semacam itu, seperti halnya seorang pria yang berpikir bahwa dengan kerja keras dia akan memiliki kekayaan besar.

  1. Anda tahu Anda egois saat kesenangan Anda datang dari rasa antisipasi. Orang suci yang sejati sudah menikmati damai dari Allah, dan surga telah bermula di dalam jiwanya. Dia tidak hanya memiliki pengharapan akan surga, tetapi kehidupan kekal telah bermula dalam dirinya. Dia memiliki iman yang merupakan substansi dari hal-hal yang diharapkan. Bahkan, ia memiliki surga dalam dirinya. Dia mengantisipasi sukacita dalam tingkat yang lebih tinggi. Dia tahu bahwa surga telah ada di dalam dirinya, dan tidak diharuskan untuk menunggu sampai dia mati untuk merasakan sukacita hidup yang kekal. Kenikmatannya sebanding dengan kekudusannya.
  2. Hal lain yang membedakan orang yang egois dan tidak adalah – orang yang egois terfokus pada tindak ketaatan, dan petobat yang sejati memiliki ketaatan hati. Ini adalah perbedaan penting. Banyak orang berniat untuk taat tetapi mereka tidak sesungguhnya taat di dalam hati. Anda sering mendengar orang berbicara tentang bagaimana dia berniat untuk taat tetapi gagal melakukannya. Mereka akan membagikan betapa sulitnya untuk taat. Orang suci yang sejati, di sisi lain, di dalam hatinya memilih untuk taat, dan karena itu lebih mudah baginya. Yang satu berniat untuk taat, seperti Paulus sebelum ia bertobat, yang digambarkan  di Roma pasal tujuh. Dia mempunyai niat yang kuat untuk taat, tetapi tidak taat, karena hatinya tidak di situ. Yang satu lagi berusaha menjadi suci, karena dia tahu itu adalah satu-satunya cara untuk menjadi bahagia. Orang suci yang sejati memilih kekudusan demi kekudusan, karena dia kudus.
  3. Petobat yang sejati dan yang palsu juga berbeda dalam iman percaya mereka. Orang suci yang sejati yakin pada kebaikan Allah, yang menuntunnya untuk tunduk tanpa syarat.

Hanya ada dua prinsip yang membuat apakah pemerintah, manusia atau Allah ditaati orang. Apakah kedua prinsip itu? Prinsip ketakutan dan kepercayaan atau keyakinan. Tidak peduli apakah itu pemerintahan dalam keluarga, kapal, bangsa, atau alam semesta. Semua ketaatan muncul dari salah satu dari dua prinsip ini. Di satu sisi, orang taat karena takut akan hukuman atau menginginkan imbalan. Di sisi lain, orang taat karena memiliki keyakinan pada kebaikan kekuasaan itu. Seorang anak mematuhi orang tuanya karena percaya pada orang tuanya. Dia memiliki iman yang berlandaskan cinta. Orang percaya palsu, taat secara eksternal karena takut. Petobat sejati yakin pada kebaikan Allah yang menuntunnya untuk taat karena ia mengasihi Allah. Inilah ketaatan iman. Dia memiliki kepercayaan pada Tuhan yang membuatnya menyerahkan dirinya sepenuh ke dalam tangan Tuhan.

Yang satunya lagi memiliki iman yang sebagian, dan penundukan yang sebagian. Iblis memiliki iman yang sebagian. Dia percaya dan gemetar. Seseorang mungkin percaya bahwa Kristus datang untuk menyelamatkan orang berdosa, dan atas dasar itu tunduk kepadanya, untuk diselamatkan; namun dia tidak tunduk sepenuhnya kepadanya untuk diperintah dan dipakai sepenuhnya. Ketundukannya hanya dengan syarat bahwa ia akan diselamatkan. Dia tidak sepenuhnya percaya pada kebaikan karakter Allah, yang menuntunnya untuk berkata, “Biarlah kehendakmu yang jadi.” Dia hanya tunduk agar dapat diselamatkan. Agamanya adalah agama hukum. Bagi petobat yang sejati, agamanya adalah Kabar Baik. Di sinilah letak perbedaan sesungguhnya antara kedua kelas itu. Yang satu, agamanya lahiriah dan munafik. Yang satu lagi dari hati yang suci dan berkenan pada Allah.

  1. Saya hanya akan menyebutkan satu perbedaan lagi. Jika Anda egois, Anda akan bersukacita khususnya dalam kasus pertobatan orang yang merupakan hasil usaha Anda. Namun Anda tidak akan memiliki kepuasan jika Anda tidak terlibat di dalam proses pertobatan itu. Orang yang egois bersukacita ketika dia aktif dan berhasil dalam mempertobatkan orang berdosa, karena dia pikir dia akan mendapat upah besar. Namun kalau pertobatan itu hasil pekerjaan orang lain, bukannya senang dia malah akan iri. Orang suci sejati dengan tulus senang melihat keefektifan orang lain, dan bersukacita ketika orang berdosa dipertobatkan oleh orang lain sama seperti itu hasil pelayanannya sendiri. Ada yang bahkan lebih memilih untuk orang berdosa tetap tidak bertobat, daripada diselamatkan oleh perantaraan seorang penginjil, atau pendeta dari denominasi lain.

 

PENUTUP

Sebagai penutup, banyak yang bersimpati dengan orang-orang berdosa, dan ingin menyelamatkan mereka dari neraka; dan setelah itu terjadi, mereka tidak ada lagi kepedulian terhadap orang itu. Namun orang percaya yang sejati tidak hanya peduli pada orang yang belum percaya tetapi sangat terganggu oleh dosa orang percaya yang mempermalukan Allah. Mereka paling sedih melihat orang Kristen berbuat dosa, karena hal itu jauh lebih mempermalukan Allah. Ada yang tidak terlalu peduli tentang keadaan umat yang hidup terpuruk, yang penting orang-orang di luar terus ditobatkan. Mereka tidak menekankan aspek memuliakan Allah di dalam kehidupan seharian kita. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak digerakkan oleh kasih akan kekudusan.

Marilah kita membuka hati kita untuk dinilai oleh Tuhan, apakah kita petobat yang sejati atau seorang petobat yang masih egois. Kiranya kita yang masih egois akan oleh kasih anugerah Tuhan ditransformasi petobat sejati yang rohani, kudus dan murah hati.