Ev. Xin Lan | Musa (4) |

Tokoh Alkitab yang akan kita bahas hari ini adalah Musa. Kita akan mempelajari kualitas lain dari dirinya. Mari kita buka Alkitab di Mazmur 106:23. Mazmur 106 mencatat sejarah bangsa Israel ketika keluar dari Mesir, yakni di ayat 19-23, yang mengisahkan tentang peristiwa bangsa Israel menyembah patung lembu emas. Ayat 23 berkata,

Karena itu, Ia mengatakan bahwa Ia akan menghancurkan mereka, kalau tidak Musa, orang pilihan-Nya, berdiri pada waktu pelanggaran itu di hadapan-Nya agar membatalkan murka-Nya, untuk menghancurkan mereka.

Kata “Ia” menunjuk kepada Allah. Jadi, Allah ingin memusnahkan bangsa Israel, tetapi Musa “mengetengahi” (berdiri di celah, menjadi penengah). Apakah arti “mengetengahi” ini? Artinya adalah Musa berdoa dan bersyafaat bagi bangsa Israel. Kemudian surutlah murka Allah. Jadi, salah satu ciri karakter Musa adalah bersyafaat.

Mari kita beralih ke Yeremia 15:1,

Lalu, YAHWEH berfirman kepadaku, “Sekalipun Musa dan Samuel berdiri di hadapan-Ku, hati-Ku takkan tertuju kepada bangsa ini. Usirlah mereka dari hadapan-Ku dan biarkan mereka pergi!

Ayat ini juga menunjukkan ciri khas dari watak Musa: syafaat, dia sering bersyafaat untuk orang lain. Dapat kita katakan bahwa jika tidak ada Musa, bangsa Israel mungkin sudah dimusnahkan berkali-kali. Mereka sering membangkitkan murka Allah sehingga membuat Allah ingin memusnahkan mereka. Namun, Musa berusaha keras memohon pengampunan kepada Allah dan menyurutkan murka Allah. Kita bisa membaca uraian tentang syafaat Musa di berbagai ayat.


DAFTAR SYAFAAT MUSA UNTUK BANGSA ISRAEL

Kejadian pertama tercatat di Keluaran 32. Ayat-ayat ini mencatat bahwa Musa pergi ke gunung Sinai untuk bertemu dengan Allah dan menerima Hukum Taurat. Bangsa Israel yang berkemah di kaki gunung Sinai mendapati Musa tidak kembali dalam waktu yang lama. Mereka curiga apakah Musa masih hidup atau sudah mati, dan kemudian memutuskan untuk membuat patung lembu emas dan mengumumkan bahwa inilah ilah mereka. Lalu, mereka berkumpul dan menyembahnya, mempersembahkan wewangian dan berbagai persembahan kepadanya. Yahweh – di dalam murka-Nya – berniat untuk memusnahkan mereka. Akan tetapi, Musa bersyafaat untuk mereka. Kita akan bahas pokok ini secara terperinci nanti.

Catatan yang kedua terdapat di Bilangan 12, di mana Musa bersyafaat bagi Miryam. Miryam adalah kakak perempuan Musa. Dalam kisah ini, disebutkan bahwa Miryam dan Harun bangkit menentang Musa. Saat pertengkaran terjadi di antara mereka, Yahweh menyatakan kehadiran-Nya di sana. Allah murka terhadap Miryam dan Harun. Atas pemberontakannya ini, Miryam terkena kusta. Musa lalu bersyafaat bagi Miryam dan memohon Allah untuk menyembuhkan dia.

Catatan yang ketiga ada di Bilangan 14. Umat Israel sudah dekat dengan tanah Kanaan. Mereka lalu mengirim 12 orang mata-mata untuk menyelidiki tanah Kanaan. Pada akhirnya, 10 dari 12 mata-mata itu membawa pulang kabar buruk, yakni bahwa bangsa Israel tidak akan mampu menaklukkan tanah tersebut. Seluruh bangsa Israel lalu mengeluh, mereka ingin memilih pemimpin baru yang akan membawa mereka pulang ke Mesir. Hal ini membangkitkan murka Allah, Dia berniat memusnahkan mereka dengan wabah penyakit. Di ayat 13-19, Musa sekali lagi bersyafaat bagi bangsa Israel.

Peristiwa keempat tercatat di Bilangan 16. Korah, yang termasuk dalam suku Lewi, memimpin 250 pemimpin lain untuk memberontak terhadap Musa. Murka Allah bangkit dan Dia berniat untuk memusnahkan bangsa Israel. Di ayat 22, Musa kembali bersyafaat bagi umat Israel.

Segera sesudah Korah dan kelompoknya bangkit menentang Musa, Allah membasmi segenap keluarga Korah dan membakar mati 250 pemimpin lain. Akan tetapi, segenap bangsa Israel justru menggerutu kepada Musa dan Harun, menuduh bahwa mereka  sudah melakukan pembunuhan terhadap umat Allah. Murka Allah kembali bangkit dan langsung mengirim wabah penyakit kepada bangsa Israel. Di sini, Musa bersyafaat lagi untuk umat Israel dan wabah itu berhenti.

Kejadian kelima tercatat di Bilangan 21:4-9. Umat Israel saat itu bergerak menuju gunung Hor melalui tepian laut Merah untuk mengitari tanah Edom. Akan tetapi, umat Israel menjadi patah semangat akibat jalur yang berat untuk dilalui, dan mereka menggerutu kepada Allah. Kemudian Allah mengirim ular berbisa untuk menghukum mereka; banyak orang Israel yang tewas karena gigitan ular. Lalu Musa kembali bersyafaat bagi umat Israel. Allah mendengarkan doanya dan menyuruh dia untuk membuat ular tembaga demi menyelamatkan umat Israel.

Dari ayat-ayat tersebut, kita bisa melihat bahwa Musa selalu mendoakan bangsa Israel. Dia sangat peduli pada orang lain. Tak heran jika dia bisa menjadi seorang abdi Allah. Dia dipakai secara luar biasa oleh Allah. Lantas bagaimana cara Musa berdoa bagi orang lain? Dia tidak asal berdoa, dia berdoa dengan tujuan yang jelas. Dengan sepenuh hati dia berdoa bagi kepentingan orang banyak dan dia rela mengorbankan keselamatannya demi umat Israel.

Mari kita kembali Keluaran 32 dan memeriksa bagian ini dengan cermat. Disebutkan bahwa Musa berada di atas gunung Sinai selama 40 hari dan 40 malam dan Allah memberikan Hukum Taurat kepadanya di sana. Akan tetapi, bangsa Israel yang berkemah di kaki gunung itu, tidak sabar menunggu. Selanjutnya, hal inilah yang terjadi:

1  Bangsa Israel melihat bahwa Musa sudah cukup lama berada di atas gunung, namun belum juga turun. Maka, mereka bersama-sama menemui Harun dan berkata kepadanya, “Lihatlah, Musa telah membawa kita keluar dari tanah Mesir, tetapi kita tidak tahu apa yang terjadi padanya sekarang. Jadi, buatlah allah supaya ia berjalan di depan kami dan memimpin kami.”
2  Harun berkata kepada umat itu, “Kumpulkanlah semua anting-anting emas dari telinga istrimu, anak-anakmu laki-laki dan perempuan dan bawalah kepadaku.”
3  Maka, mereka mengumpulkan semua anting-anting emas dan membawanya kepada Harun.
4  Harun menerima semua itu dari mereka dan memakainya untuk membuat sebuah patung anak sapi tuangan dengan menggunakan alat pengukir. Lalu, bangsa itu berkata, “Hai Israel, inilah allahmu yang telah membawamu keluar dari tanah Mesir!”
5  Ketika Harun melihat semua itu, ia membangun mezbah di depan patung itu. Kemudian, ia mengumumkan, “Besok akan menjadi hari raya bagi YAHWEH.”
6  Keesokan harinya, mereka bangun pagi-pagi dan mempersembahkan kurban bakaran serta kurban pendamaian. Mereka duduk untuk makan dan minum. Setelah itu, mereka bangkit untuk mengadakan pesta yang meriah.

Tentu saja, semua hal yang berlangsung di kaki gunung Sinai itu tidak luput dari pengamatan Yahweh.

Keluaran 32:7-10 menyebutkan:

7  YAHWEH berkata kepada Musa, “Turunlah dari gunung ini, sebab bangsa yang kaubawa keluar dari tanah Mesir itu telah rusak perilakunya.
8  Cepat sekali mereka menyimpang dari jalan yang telah Kuperintahkan kepada mereka. Mereka telah membuat patung anak sapi tuangan bagi diri mereka sendiri. Mereka menyembahnya dan mempersembahkan kurban kepadanya. Mereka berkata, ‘Hai Israel, inilah allahmu, yang telah membawamu keluar dari Mesir.’”
9  YAHWEH berkata kepada Musa, “Aku telah melihat bangsa ini dan mengetahui bahwa mereka adalah bangsa yang keras kepala.
10  Sekarang, biarlah Aku membinasakan mereka dalam murka-Ku. Lalu, Aku akan membuat satu bangsa yang besar darimu.”

Allah bermaksud menjadikan keturunan Musa sebagai bangsa yang besar. Ini merupakan anugerah dan berkat yang luar biasa! Namun, apa tanggapan Musa? Dia justru mengabaikan berkat dan keselamatan untuk dirinya. Dengan sepenuh hati dia bersyafaat bagi orang Israel dan dia melakukan hal itu sampai empat kali. Syafaat yang pertama, dalam pasal 32 ini, ada di ayat 11-13.

11  Akan tetapi, Musa memohon kepada YAHWEH, Allahnya, “YAHWEH, janganlah biarkan murka-Mu membinasakan umat-Mu. Engkau telah membawa mereka keluar dari Mesir dengan kuasa dan kekuatan-Mu yang sangat besar.
12  Jika Engkau membinasakan umat-Mu, orang Mesir akan berkata, ‘Allah telah merencanakan hal yang jahat terhadap umat-Nya. Oleh sebab itu, Ia membawa mereka keluar dari Mesir dengan maksud membunuh mereka di gunung-gunung. Ia mau membasmi mereka dari muka bumi.’ Janganlah melakukan hal itu ya YAHWEH. Hamba mohon, urungkan niat itu dan jangan membinasakan umat-Mu.
13  Ingatlah akan Abraham, Ishak, dan Israel. Mereka adalah para hamba-Mu dan kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berkata, ‘Aku akan membuat keturunanmu menjadi sangat banyak seperti bintang di langit. Aku akan memberikan seluruh negeri ini kepada keturunanmu seperti yang telah Kujanjikan. Keturunanmu akan memiliki negeri itu selama-lamanya.’”

Syafaat yang kedua ada di ayat 30-34. Musa turun dari gunung untuk menangani dosa umat Israel, yang menyembah patung lembu emas. Kasus ini menewaskan 3000 orang. Pada esok harinya, dia harus bersyafaat lagi bagi bangsanya. Mari kita lihat isi ayat 31-32

31  Musa pun kembali kepada YAHWEH dan berkata, “Umat ini memang telah melakukan dosa yang sangat besar dengan membuat allah dari emas.
32  Kiranya Engkau berkenan mengampuni mereka atas dosa ini. Jika Engkau tidak berkenan mengampuni mereka, hapuskanlah namaku dari buku yang Kautulis.”

Apa arti ungkapan , “hapuskanlah namaku dari buku yang Kautulis” ini? Artinya, musnahkan saya juga. Jika kematiannya bisa menyelamatkan orang Israel, Musa bersedia berkorban demi bangsanya. Dia tidak berminat untuk dipakai sebagai leluhur untuk bangsa yang baru. Inilah yang disebut sebagai abdi Allah! Bebas dari keegoisan, keselamatan orang banyak merupakan hal terpenting baginya. Kalau jiwa saya bisa menjadi tebusan bagi keselamatan orang lain, ambillah jiwa saya, saya tidak mau diselamatkan sendirian. Ya Allah, jika Engkau tidak ingin menyelamatkan mereka, tidak usah menyelamatkan saya juga.

Syafaat Musa yang ketiga ada di pasal 33:12-16. Sesudah kasus itu, Allah tidak mau mengiringi bangsa Israel menuju tanah perjanjian. Ayat 1-3 dari pasal 33 berbunyi,

1  Kemudian, YAHWEH berkata kepada Musa, “Kamu dan umat yang kaubawa dari Mesir harus meninggalkan tempat ini. Pergilah ke negeri yang sudah Kujanjikan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub dengan berkata, “Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu.”
2  Aku akan menyuruh malaikat berjalan di depanmu, dan Aku akan mengusir keluar orang Kanaan, Amori, Het, Feris, Hewi, dan Yebus dari negeri yang Kujanjikan itu.
3  Jadi, pergilah ke tanah yang melimpah dengan susu dan madu itu, tetapi Aku tidak akan pergi bersamamu karena kamu adalah bangsa yang sangat keras kepala. Jika Aku pergi bersamamu, mungkin saja Aku akan membinasakanmu di perjalanan.”

Jadi Musa sekali lagi bersyafaat bagi bangsanya. Ayat 12-16 menyebutkan:

12  Musa berkata kepada YAHWEH, “Engkau berkata kepadaku untuk membawa umat ini, tetapi Engkau tidak mengatakan siapa yang akan Kauutus bersamaku. Engkau juga berkata kepadaku, ‘Aku sangat mengenalmu dan Aku berkenan kepadamu.’
13  Jika aku benar-benar berkenan kepada-Mu, izinkanlah aku mengetahui jalan-jalan-Mu supaya mengenal Engkau, sehingga aku tetap berkenan kepada-Mu. Ingatlah bahwa bangsa ini adalah umat-Mu.”
14  Jawab Tuhan, “Aku sendiri akan menyertaimu dan Aku akan memberikan ketenteraman.”
15  Musa pun berkata kepada-Nya, “Jika Engkau tidak pergi bersama kami, janganlah suruh kami meninggalkan tempat ini.
16  Sebab, bagaimana kami, yaitu aku dan bangsa ini, akan mengetahui bahwa aku ini berkenan kepada-Mu? Bukankah dengan penyertaan-Mulah kami, yaitu aku dan bangsa ini, akan dibedakan dari semua bangsa di seluruh bumi?”

Syafaat yang keempat ada di pasal 34:8-9. Musa kembali memohon agar Allah mengampuni dosa bangsa Israel. Ayat 8-9 menyatakan:

8  Musa segera sujud dan menyembah Tuhan.
9  Ia berkata, “Tuhan, jika Engkau berkenan kepadaku, biarlah Engkau berkenan berjalan bersama kami meskipun umat itu keras kepala. Ampunilah kesalahan dan dosa kami dan terimalah kami sebagai umat-Mu.”

Kita bisa melihat bahwa syafaat Musa dilakukan dengan setulus hati dalam kepedihan hati. Dia bersedia mengorbankan nyawanya jika itu bisa menyelamatkan bangsa Israel. Dapatkah kita memahami isi hati Musa? Mungkin kita bahkan tidak mengerti sama sekali karena kita begitu larut dalam keduniawian dan hanya memikirkan diri sendiri: keselamatan kita, keselamatan keluarga kita, berkat Allah kepada kita dan keluarga kita.

Saya pernah membaca sebuah artikel yang ditulis oleh seorang cendekiawan. Dalam artikel itu, dia membahas tentang orang yang menyembah patung berhala. Dia mengatakan bahwa mereka pergi ke rumah berhala untuk mendoakan kekayaan, promosi karir, pindah ke luar negeri, kesembuhan atau dihindarkan dari bencana, dan doa itu hanya terbatas untuk diri dan keluarga sendiri. Saat saya selesai membaca artikel itu, saya merasa sangat malu. Kita, orang Kristen, sama saja dengan mereka! Kita berdoa kepada Allah untuk melindungi orang tua, suami, istri dan anak-anak kita. Jika orang tua saya sakit, “Ya Allah, sembuhkanlah mereka.” Jika anak-anak sedang menghadapi ujian di kampus, kita berdoa agar Allah membuat mereka lulus ujian. Bahkan setelah menjadi penginjil, walaupun kita tidak lagi mendoakan kepentingan yang bernada duniawi, tetapi kita sekadar memakai kedok rohani: “Ya Allah berkatilah saya, berikanlah saya karunia ini dan karunia itu…” Kita masih belum bisa menyingkirkan keegoisan kita. Isi doa kita selalu berpusat pada kepentingan pribadi. Kita, orang Kristen, tidak berbeda dengan para penyembah berhala. Kita juga berdoa untuk memohon kesembuhan, dihindarkan dari bencana, kesukaran dan penderitaan. Allah kita perlakukan sebagai pelindung pribadi. Akan tetapi, Musa sangatlah berbeda. Dia menyingkirkan keegoisannya. Dia bahkan bersedia mengorbankan keselamatannya. Orang-orang seperti Musa bisa bersyafaat untuk orang lain dan doa mereka sangat efektif.

Saya teringat dengan Rasul Paulus. Dia memiliki hati yang sama dengan Musa. Mari kita lihat Roma 9:1-3:

1  Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berbohong, dan suara hatiku ikut bersaksi bersama-sama dengan Roh Kudus,
2  bahwa dukacitaku sangat besar dan terus-menerus bersedih di dalam hatiku.
3  Sebab, aku berharap agar diriku terkutuk, terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani…

Mungkin kita terlalu jauh tenggelam dalam kedagingan, kita benar-benar tidak tahu hati macam apa ini? Kita mengira ucapan semacam itu hanya basa-basi. Oleh karenanya, Paulus memberi penegasan, “Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta.” Paulus menegaskan bahwa ucapannya itu bersumber dari hatinya, bahwa demi keselamatan saudara-saudara sebangsanya, dia bersedia binasa.

Kita tidak mampu memahaminya. Bukankah keselamatan itu penting? Apakah kita tidak ingin diselamatkan? Bukankah kita ingin masuk kerajaan surga? Jika tidak, lalu mengapa kita percaya kepada Yesus? Pertama-tama, kita harus tegaskan satu hal, Musa dan Paulus bersedia kehilangan keselamatan mereka demi keselamatan banyak orang, bukan karena mereka berbuat dosa dan kehilangan keselamatan itu. Kebanyakan orang dunia juga tidak mau diselamatkan. Hal ini karena mereka tidak mau meninggalkan dosa-dosa mereka, tidak mau meninggalkan keegoisan mereka. Dengan angkuh mereka berkata, “Kalau bukan saya yang masuk neraka, siapa lagi?” Tentu saja, kita tidak boleh mendorong mereka untuk terus hidup di dalam dosa, memandang kemusnahan mereka sebagai hal yang wajar. Namun, saat kita sudah mengenal Allah, maka Allah akan mengubah kita dan memberi kita hidup yang baru. Watak dari manusia lama adalah selalu berkata, “Aku ingin ini dan itu.” Hidup yang baru itu berasal dari Allah, sifatnya selalu memberi. Persoalannya adalah apakah kita mau diubah oleh Allah?

Mungkin orang akan bertanya, “Apakah segala sesuatunya untuk orang lain? Bagaimana dengan diri kita sendiri? Semua untuk orang lain, sesudah itu saya mengalami kebinasaan! Mengerikan sekali!” Anda tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Ini merupakan prinsip dari Allah. Semakin anda cemaskan keselamatan anda, semakin besar kemungkinan anda tidak diselamatkan; jika demi kepentingan orang banyak, dan anda bersedia berkorban, anda justru akan menikmati hubungan yang akrab dengan Allah. Keselamatan diri anda akan semakin terjamin. Inilah ajaran dari Yesus Kristus. Di Matius 10:39, Yesus berkata,

Siapa yang mempertahankan nyawanya akan kehilangan nyawanya, dan siapa yang kehilangan nyawanya demi Aku akan mendapatkannya.”

Apakah anda berjuang mempertahankan hidup anda? Jika ya, anda akan kehilangan hidup anda; Jika hidup anda dipersembahkan bagi Allah dan bagi orang lain, anda akan memperoleh hidup. Jalan Allah sungguh ajaib! Musa dan Paulus memiliki kehendak seperti ini: Demi keselamatan orang banyak, mereka rela menghadapi kebinasaan. Apakah mereka binasa? Tentu saja tidak. Justru sebaliknya, mereka dipakai secara luar biasa oleh Allah, sangat ditinggikan oleh Allah. Tokoh paling luar biasa di dalam Perjanjian Lama adalah Musa; dan Paulus merupakan tokoh paling luar biasa di dalam Perjanjian Baru.

Baik Musa dan Paulus memiliki sikap hati seperti ini: Mereka rela berkorban bagi keselamatan orang banyak. Akan tetapi, Allah justru memakai mereka dengan luar biasa. Tokoh yang benar-benar mati bagi keselamatan orang banyak adalah Yesus Kristus. Demi kita, Kristus menjadi serupa dengan dosa dan dia disalibkan. Akan tetapi, apakah kisahnya berakhir di neraka? Tentu saja tidak. Sebaliknya, dia ditinggikan oleh Allah, duduk di sebelah kanan takhta Allah. Segala kekuasaan di surga dan di bumi telah diserahkan kepadanya. “Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Ajaran ini digenapi dalam kehidupan Yesus Kristus. Dia sendiri membuktikan hal yang dia ajarkan ini.

Saat anda peduli pada keselamatan orang lain, maka hal ini akan menyenangkan hati Allah. Doa anda akan didengar oleh Allah. Saya sendiri memiliki pengalaman yang sama, yang akan saya bagikan dengan anda. Saya mendapat sebuah kesempatan untuk berdoa bagi orang lain. Ada seorang kerabat dari tetangga saya yang datang dari desa untuk mencari pekerjaan di kota besar. Dia seorang gadis dari desa yang tidak punya kenalan yang bisa diandalkan untuk mencari pekerjaan di kota besar. Dia tidak punya ijazah yang sesuai, tetapi dia ingin bekerja di hotel. Dia sudah mengajukan lamaran di sebuah hotel dan dia sedang menunggu jadwal interview. Dia tidak tahu apakah mereka akan merekrutnya atau tidak. Pada waktu malam, saat dia kembali ke rumah, kami membahas hal ini. Sebenarnya saya tidak mengenal dia, tetapi saya kasihan kepadanya dan saya ingin bisa berbuat sesuatu untuk menolongnya. Jadi saya tanyakan kepadanya, “Saya orang Kristen, saya hanya bisa berdoa untukmu. Saya akan mohonkan kepada Allah untuk menolongmu. Kamu bersedia untuk berdoa bersama saya?” Dia menjawab, “Saya mau.” Saya melanjutkan, “Dia adalah Allah Yang Mahatinggi. Jika kita datang kepada-Nya, kita perlu berlutut dan berdoa setulusnya kepada Dia.” Dia juga mau berlutut bersama saya. Demikianlah, kami berlutut bersama, lalu saya berdoa, “Ya Allah, kawan ini tidak mengenal Engkau, tetapi Engkau merupakan Allah yang pemurah. Jika Engkau berkenan, berikanlah pekerjaan ini padanya. Biarlah dia mengenal Engkau melalui kejadian ini.” Malam berikutnya, dia kembali ke rumah dan apa yang terjadi? Hotel itu menerima dia sebagai pekerja di sana.

Kejadian ini membuka pemahaman saya akan kemurahan Allah. Siapakah saya? Bukan siapa-siapa. Namun, ketika saya digerakkan oleh belas kasihan dan berdoa kepada Allah bagi kepentingan orang lain, Allah mendengarkan doa saya. Saya mulai menyadari bahwa ketika kita memiliki hati yang peduli kepada orang lain, maka Allah akan sangat senang melihatnya. Dia akan berkenan untuk memakai kita. Dia akan senang mendengarkan doa dan syafaat kita. Persoalannya adalah apakah anda bersedia melepaskan keegoisan anda dan mempedulikan orang lain.

Mari kita kembali kepada Musa, dia bahkan bersyafaat untuk orang-orang yang menentangnya. Mari kita baca Bilangan 12. Mulai dari ayat 1, ayat ini menyebutkan bahwa Musa menikahi perempuan Etiopia. Miryam (kakak Musa) dan Harun menentang Musa karena dia telah menikahi perempuan Etiopia. Kejadian berikutnya adalah:

1  Miryam dan Harun berbicara menentang Musa. Mereka mengkritiknya karena ia menikah dengan perempuan Kush.
2  Mereka berkata, “Apakah YAHWEH hanya berbicara melalui Musa saja? Bukankah Dia juga telah berbicara melalui kita?” Dan, YAHWEH mendengar hal itu.
3  Sementara itu, Musa adalah seorang yang sangat lembut hati. Hatinya lebih lembut daripada semua orang di muka bumi ini.
4  Tiba-tiba, YAHWEH datang dan berkata kepada Musa, Harun, dan Miryam, “Kalian bertiga, datanglah ke Kemah Pertemuan sekarang!” Maka, ketiganya pun pergi ke Kemah Pertemuan.
5  Lalu, YAHWEH turun dalam tiang awan dan berdiri di pintu masuk Kemah. Ia memanggil Harun dan Miryam. Setelah keduanya menghadap,
6  YAHWEH berkata, “Dengarkanlah perkataan-Ku! Jika ada seorang nabi di antaramu, Aku, YAHWEH, akan menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan. Aku akan berbicara kepadanya melalui mimpi.
7  Akan tetapi, Musa tidak seperti itu. Ia adalah hamba yang setia di rumah-Ku.
8  Aku berbicara kepadanya dengan berhadapan muka, jelas, dan tidak menggunakan maksud yang tersembunyi. Ia melihat rupa YAHWEH. Sebab itu, mengapa kalian berani menentang hamba-Ku Musa?”
9  YAHWEH sangat marah kepada mereka dan Dia meninggalkan mereka.
10  Ketika tiang awan meninggalkan Kemah Pertemuan, kulit Miryam menjadi putih seperti salju. Ia terkena kusta. Saat Harun menoleh kepadanya, ia melihat Miryam terkena kusta.

Dalam Perjanjian Lama, kusta melambangkan dosa. Terkena kusta dipandang sebagai wujud hukuman dari Allah. Allah menghukum Miryam. Sekalipun Miryam adalah kakak perempuan Musa, saat itu dia sedang menentang Musa. Dia mengatai dan menyakiti hati Musa. Jika kita menjadi Musa pada saat itu, dan ada orang mengatai kita seperti itu, mungkin kita akan merasa sakit hati dan marah. Mungkin kita bahkan berdoa, “Ya Allah! Balaskanlah kejahatan ini.” Namun, saat kita lihat sikap Musa, dia tidak membela diri dan tidak memohon Allah untuk membalas kelakuan mereka. Allah berinisiatif membalas kelakuan mereka dan hukuman dijatuhkan kepada Miryam. Jika kita berada dalam posisi Musa saat itu, mungkin kita akan berpikir bahwa Miryam layak mendapat hukuman itu. Allah sendiri yang bertindak, bukan kita. Akan tetapi, Musa tidak berpikir seperti itu. Dalam ayat 13, Musa berseru kepada Yahweh,

“Ya Allah, sembuhkanlah dia dari penyakitnya!”

Seperti itulah watak Musa, abdi Allah. Dia sudah menyingkirkan keegoisannya, peduli pada orang lain dan bersyafaat bagi orang lain, bahkan terhadap orang yang menentangnya. Tak heran jika dia menikmati hubungan yang akrab dengan Allah. Doanya efektif dan dia dipakai secara luar biasa oleh Allah!

 

Berikan Komentar Anda: