Pastor Eric Chang | Bab 12 |

Dalam bab ini kita akan membahas lebih mendalam tentang “seperti dirimu sendiri”. Ketiga kata ini diambil dari perintah yang terkenal, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,” sebuah pernyataan yang muncul berkali-kali dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru: Imamat 19:18; Matius 19:19; 22:39; Markus 12:31; Lukas 10:27; Roma 13:9; Galatia 5:14; Yakobus 2:8; kita juga dapat menyertakan Imamat 19:34.


Para bapa gereja mula-mula tidak mengatakan apa-apa tentang “seperti dirimu sendiri”

Ketika saya merenungkan kata-kata “seperti dirimu sendiri,” saya memutuskan untuk berkonsultasi dengan Ante-Nicene Fathers (Tuli­san-tulisan Para Bapa Gereja hingga 325 Masehi) untuk melihat wawa­san yang mungkin mereka miliki atas seperti dirimu sendiri. Yang mengejutkan saya, saya tidak menemukan pembahasan tentang seperti dirimu sendiri dalam Ante-Nicene Fathers yang terdiri dari 10-volume.

Ada keheningan serupa mengenai “seperti dirimu sendiri” dalam Ancient Christian Commentary on Scripture (ACCS), sebuah kompilasi 29-volume tentang apa yang ditulis oleh para penulis gereja mula-mula mengenai Alkitab dari Kejadian hingga Wahyu. Keheningan ini luar biasa karena cakupan ACCS yang luas, yang mencakup tidak hanya para bapa gereja sebelum Nicea, tetapi juga para bapa gereja Nicea dan pasca-Nicea, dan bahkan para bidah awal.

Dalam ACCS, tidak ada penulis gereja mula-mula yang menyebutkan “seperti dirimu sendiri” untuk Imamat 19:34; Matius 19:19; 22:39; Markus 12:31; Yakobus 2:8. Ini merupakan setengah dari ayat-ayat yang tercantum di awal bab ini. Mengenai setengah ayat lainnya yang tercan­tum, “seperti dirimu sendiri” hanya disebutkan secara sepintas atau dengan penjelasan satu kalimat:

  • Untuk Lukas 10:27, ACCS menyebutkan seperti dirimu sendiri seka­li, tetapi Ambrose hanya mengutip “sesamamu seperti dirimu sen­diri” tanpa membahasnya.
  • Untuk Galatia 5:14, ACCS menyebutkan seperti dirimu sendiri seka­li, tetapi Victorinus hanya mengutip “sesamamu seperti dirimu sen­diri” tanpa membahasnya.
  • Untuk Imamat 19:18, ACCS menyebutkan “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” sekali, tetapi Agustinus entah kenapa salah mengartikannya sebagai “tidak seorang pun mengasihi dirinya sen­diri, kecuali ia mengasihi Allah”!
  • Untuk Roma 13:9, ACCS menyebutkan seperti dirimu sendiri seba­nyak dua kali. Chrysostom hanya mengutip “seperti dirimu sendiri” tanpa membahasnya, sedangkan Pelagius berkata, “Orang yang mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri tidak hanya tidak berbuat jahat kepadanya, tetapi juga berbuat baik kepadanya.”

Oleh karena itu, dalam keseluruhan ACCS, yang terbaik yang dapat kita temukan untuk seperti dirimu sendiri adalah penjelasan satu kalimat dari Pelagius yang dipandang oleh gereja tradisional sebagai seorang bidah. Saya heran mengapa sesuatu yang sepenting “seperti dirimu sen­diri”, yang berasal dari perintah-perintah terbesar, tidak dibahas selain dari beberapa pernyataan sepintas.

Saya kemudian mencari-cari di berbagai tafsiran modern, tetapi tidak menemukan pembahasan yang mendalam tentang seperti dirimu sendiri. Mengapa tafsiran-tafsiran tersebut mengabaikan tiga kata kunci yang diambil dari perintah-perintah terbesar? Jika saya diperintahkan untuk mengasihi sesama seperti diri saya sendiri, bukankah penting bagi saya untuk memahami apa arti seperti dirimu sendiri? Mengapa tidak ada seorang pun dalam 2.000 tahun terakhir yang membahas pertanyaan yang paling penting ini? Yang paling mendekati yang saya temukan atas subjek ini adalah karya Paul Ricoeur, seorang teolog dan filsuf Katolik, tetapi bukunya ditulis terutama sebagai filsafat dan bukan teologi, dan pada akhirnya tidak jelas seberapa banyak dari isi bukunya yang berkait­an dengan gagasan kitab suci.

Kita akan berpikir bahwa para penafsir—yang tugas utamanya adalah menguraikan firman Allah—akan mengutamakan penjelasan yang jelas tentang “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” untuk membantu mereka yang berusaha hidup menurut firman Allah. Mung­kin penyakit gereja adalah gereja tidak sungguh-sungguh berusaha hidup menurut firman Allah.


Tujuan dari bab ini

Mustahil untuk menganalisis seperti dirimu sendiri secara menyeluruh dalam satu bab. Tujuan saya dalam bab ini adalah untuk mengarahkan pikiran kita pada subjek tersebut dan memulai eksplorasi awal tentang makna seperti dirimu sendiri.

Pernyataan “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” berasal dari Perjanjian Lama, di Imamat 19:18, tetapi kita akan menelitinya sebagai­mana muncul dalam Perjanjian Baru. Pernyataan “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” muncul 7 kali dalam Perjanjian Baru: Matius 19: 19; 22:39; Markus 12:31; Lukas 10:27; Roma 13:9; Galatia 5:14; Yakobus 2:8. Kita memasukkan variasi minor di Markus 12:33 (“mengasihi sesa­ma seperti diri sendiri”) sebagai kemunculan kedelapan. Namun, kita akan melewatkan Matius 22:39 karena paralel dengan Markus 12:31, menyisakan tujuh ayat untuk kita pelajari. Sekarang kita bahas ketujuh ayat tersebut, yang disusun menurut urutan kanon Alkitab.


Kemunculan #1: “Seperti dirimu sendiri” dan harta benda

Contoh yang pertama dari “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” ditemukan di Matius 19:19, yang diucapkan oleh Yesus kepada penguasa muda yang kaya. Pembahasan mereka berpusat pada kehidupan kekal dan sebenarnya dimulai dengan pertanyaan, “Guru, hal baik apa yang harus aku lakukan supaya mendapat hidup yang kekal?” (ay 16). Oleh karena itu, “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” berhubungan dengan kehidupan kekal.

Penguasa muda itu mengeklaim bahwa ia telah menaati semua perin­tah (ay 20), termasuk perintah untuk mengasihi sesama seperti diri sen­diri (ay 19). Yesus kemudian membahas masalah kesempurnaan untuk memberikan makna konkret pada “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri”. Oleh karena itu, ia berkata kepada penguasa muda yang kaya itu,

“Jika kamu ingin sempurna, pergi dan juallah semua yang kamu miliki. Lalu, berikanlah kepada orang miskin.” (ay 21)

Agar penguasa muda yang kaya itu dapat mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri, ia harus menjual semua harta miliknya dan memberikannya kepada orang miskin.

Ketika berbicara tentang mengasihi sesama seperti diri sendiri, Yesus bahkan tidak mengutip Ulangan 6:5 dari Shema mengenai mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, dan segenap kekuatanmu. Yesus tidak mengutip perintah pertama (mengasihi Allah dengan segenap hati), tetapi hanya perintah kedua (mengasihi sesama seperti diri sendiri) karena perintah kedua mencakup perintah pertama. Dengan memenuhi perintah kedua, seseorang telah memenuhi perintah pertama.


Kemunculan #2 dan #3: “Seperti dirimu sendiri” dan persembahan yang hidup

Kita lewati Matius 22:39 karena ayat itu sejajar dengan Markus 12:31. Tanpa menghitung penghilangan ini, kemunculan kedua dan ketiga dari “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” ditemukan di Markus 12:31-33 (lihat pernyataan yang dicetak miring):

31 “Dan, yang kedua adalah: ‘Kasihilah sesamamu seperti dirimu sen­diri.’ Tidak ada hukum yang lebih besar daripada ini.” 32 Lalu, ahli Taurat itu berkata kepada Yesus, “Engkau benar, Guru. Engkau benar dengan mengatakan bahwa Dia adalah satu, dan tidak ada yang lain selain Dia. 33 Mengasihi Dia dengan segenap hati, dan dengan segenap pengertian, dan dengan segenap kekuatan, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri, jauh lebih penting daripada semua kurban bakaran dan persembahan.” (Mrk 12:31-33)

Di sini kita melihat dua contoh tentang “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri”: yang pertama diucapkan oleh Yesus di ayat 31, yang kedua diucapkan oleh ahli Taurat di ayat 33. Ahli Taurat memberikan komentar tambahan bahwa memenuhi perintah kasih lebih penting daripada “semua” persembahan di Bait Allah dikumpulkan. Diucapkan oleh seorang Yahudi, pernyataan itu sangat mengherankan. Mengapa persembahan di Bait Allah tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan menaati dua perintah besar itu? Karena jika Anda mengasihi Allah dengan segenap keberadaan Anda dan mengasihi sesama manusia seper­ti diri Anda sendiri, Anda menjadi persembahan hidup yang memberi diri (Rm 12:1-2) yang jauh lebih besar daripada persembahan di Bait Allah. Hal ini diungkapkan secara konkret dalam pernyataan Paulus, “mereka memberikan diri mereka sendiri kepada Allah, kemudian kepada kami oleh kehendak Allah.” (2Kor 8:5)


Kemunculan #4: “Seperti dirimu sendiri” dan belas kasihan

Kemunculan keempat dari “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” terdapat di Lukas 10:27, sebuah ayat yang mengarah ke perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Oleh karena kita akan membahas perumpamaan ini di bab berikutnya, saya hanya akan memberikan satu komentar tentang bagaimana perumpamaan ini menjelaskan mengasihi sesama seperti diri sendiri.

Perbuatan orang Samaria di ayat 33 (“merasa kasihan kepadanya”) menggambarkan “mengasihi sesamamu” dalam konteks belas kasihan. Demikian pula, ayat 37 (“menunjukkan belas kasihan kepadanya”) menggambarkan “mengasihi sesamamu” dalam istilah belas kasihan. Oleh karena itu, mengasihi sesama melibatkan belas kasihan, yang meru­pakan sifat Allah sendiri. Mengasihi sesama seperti diri sendiri berarti menjadi seperti Allah dalam belas kasihan-Nya.


Kemunculan #5: “Seperti dirimu sendiri” dan memenuhi Hukum Taurat

Kemunculan kelima dari “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” terdapat di Roma 13:9. Kita mengutip ayat 9 dan 10:

Sebab, “Jangan berzina, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini,” dan jika ada perintah lainnya, semuanya sudah terang­kum dalam perkataan ini, “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendi­ri.” Kasih tidak melakukan kejahatan kepada sesama manusia. Karena itu, kasih adalah penggenapan Hukum Taurat. (Rm 13:9-10)

Dalam kalimat terakhir, kita melihat fakta penting bahwa mengasihi sesama seperti diri sendiri memenuhi seluruh Hukum Taurat. Karena perintah kedua (kasihilah sesamamu) memenuhi hukum Taurat, Paulus bahkan tidak menyebutkan perintah pertama (kasihilah Allah). Sama seperti di Matius 19:19, perintah kedua mencakup perintah pertama, jadi Paulus hanya mengajarkan apa yang diajarkan Yesus.

Meskipun perintah pertama dan kedua identik dalam banyak hal, keduanya tidaklah sama. Mengasihi sesama tidak sama persis dengan mengasihi Allah, jika tidak, kita mungkin berpikir bahwa kita dapat menghabiskan satu jam untuk berbicara dengan sesama kita daripada menghabiskan satu jam dengan Allah dalam doa.


Kemunculan #6: “Seperti dirimu sendiri” dan melayani satu sama lain

Keenam kalinya ungkapan “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” disebutkan adalah di Galatia 5:14. Kita mengutip ayat 13 sampai 15:

Saudara-saudara, kamu telah dipanggil untuk menjadi merdeka. Akan tetapi, jangan pergunakan kemerdekaanmu itu sebagai kesempatan untuk hidup dalam daging, melainkan layanilah seorang terhadap yang lain dengan kasih. Sebab, seluruh Hukum Taurat telah digenapi dalam satu firman ini, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Jika kamu saling menggigit dan menelan, berhati-hatilah agar kamu jangan saling membinasakan. (Gal 5:13-15)

Sekali lagi seluruh hukum Taurat diringkas dalam satu perintah: kasihi­lah sesamamu seperti dirimu sendiri. Paulus menyamakan hal ini dengan “layanilah seorang terhadap yang lain dengan kasih”: mengasihi sesama berarti melayani sesama melalui kasih. Paulus tidak mengizinkan jalan tengah: Anda melayani satu sama lain atau “menggigit dan menelan” satu sama lain.


Kemunculan #7: “Seperti dirimu sendiri” dan hukum kerajaan

Pemunculan ketujuh dan terakhir dari “kasihilah sesamamu seperti diri­mu sendiri” ada di Yakobus 2:8:

“bila kamu menggenapkan torah keraja­an sesuai dengan kitab suci, “Hendaklah kamu mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri,” kamu sedang melakukannya dengan baik.” (ILT)

Kita telah membahas hubungan antara Kerajaan Allah dan kasih Allah di dalam diri kita. Yakobus 2:8 menggabungkan kedua hal ini ke dalam apa yang disebut “torah kerajaan”, sebuah istilah yang juga dapat diterjemahkan sebagai “hukum atau perintah Raja”. Hukum Kerajaan ini tidak lain adalah perintah untuk “mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri.” Ayat berikutnya (ay 9) memberi tahu kita untuk tidak pilih kasih, yang berarti bahwa setiap orang setara di bawah hukum kasih.

Itulah tujuh contoh “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” dalam Perjanjian Baru (tidak termasuk Matius 22:39 yang sejajar dengan Markus 12:31). Kitab Suci tidak hanya mengatakan kasihilah sesamamu, tetapi juga menaikkan standarnya menjadi seperti dirimu sendiri. Anda memperlakukan orang lain seolah-olah dia adalah diri Anda sendiri. Setidaknya itulah yang dimaksud.

Namun, bagaimana Anda memperlakukan orang lain seperti diri Anda sendiri jika ia tidak mirip dengan Anda atau berpakaian seperti Anda? Ia mungkin berasal dari kelompok usia yang berbeda, atau berasal dari budaya yang berbeda, atau memiliki gaya rambut yang berbeda. Bagaimana mungkin saya memperlakukannya seperti diri saya sendiri atau sebagai perpanjangan dari diri saya sendiri? Haruskah saya meng­anggapnya sebagai alter ego saya (bahasa Latin untuk “saya yang lain”)—seseorang seperti saya, tetapi bukan saya?


Akhir dari dirimu sendiri

Sekarang mari kita lihat tantangan nyata dari mengasihi seperti dirimu sendiri. Paling tidak, itu berarti merobohkan penghalang komunikasi dan saling pengertian, kalau tidak, saya tidak akan bisa menganggap Anda sebagai diri saya sendiri. Itu akan terjadi jika Anda seorang wanita dan saya seorang pria, atau Anda berasal dari Meksiko dan saya berasal dari Madagaskar: saya tidak bisa menganggap Anda sebagai diri saya sendiri karena saya tidak tahu bagaimana rasanya menjadi diri Anda. Saya harus merobohkan penghalang yang berdiri di antara kita, dan memahami bagaimana rasanya menjadi diri Anda. Ini adalah latihan yang luar biasa di mana saya duduk, melihat Anda, dan bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana rasanya menjadi diri Anda? Bagaimana saya akan berpikir jika saya menjadi diri Anda?” Untuk berpikir seperti diri Anda, saya harus berhenti memikirkan pikiran saya. “Seperti dirimu sendiri” berarti akhir dari diri saya sendiri.

Sebuah penghalang memberikan perlindungan, jadi jika saya mero­bohkannya, saya akan menjadi tak berdaya. Penghalang itu menjaga keamanan dan individualitas saya, jadi merobohkannya dan menerima Anda apa adanya akan merusak keamanan itu. Tidak ada lagi “aku” ketika “aku” itu telah menjadi “kamu”.

Ke mana pun Anda berpaling, Anda akan menemukan penghalang antara Anda dan orang lain. Bahkan jika Anda bersedia merobohkannya, orang lain mungkin tidak: “Jaga jarakmu dariku. Jika kamu menjadi aku, apa yang akan terjadi pada diku?” Mereka merasa bahwa Anda mengan­cam “aku” mereka. Namun, jika kedua belah pihak tidak memiliki “aku” lagi, penghalang tersebut disingkirkan dari kedua belah pihak.

Namun, ada potensi komplikasi: Beberapa orang mengekspresikan kasih dengan cara yang suka mengendalikan. Mereka mengambil alih setiap aspek kehidupan Anda, bahkan memberi tahu Anda apa yang boleh Anda makan. Kasih jenis ini menakutkan karena bersifat posesif dan berusaha mengendalikan. Terhadap kasih jenis ini kita berkata, “Tidak, terima kasih. Simpan kasihmu untuk dirimu sendiri dan aku akan menyimpan kasihku untuk diriku sendiri. Dengan demikian, kita semua akan bahagia.”

Yesus tidak pernah mengatakan bahwa mengasihi sesama berarti mengambil alih hidupnya seolah-olah itu milik kita. Apakah kita memberi atau mengambil? Jika saya mengambil alih hidup Anda seolah-olah itu milik saya, saya akan mengasihi Anda sebagaimana saya menga­sihi diri saya sendiri, tetapi bukan dengan cara yang Tuhan inginkan. Mungkin Anda bahkan tidak menginginkan saya. Itu seperti menolak lamaran pernikahan di mana yang satu berkata, “Aku menyerahkan diriku kepadamu!” tetapi yang lain berkata, “Jangan, terima kasih, kamu simpan saja sendiri. Aku bahagia dengan diriku sendiri.”

Masalah lainnya adalah kita tidak selalu mengasihi diri kita sendiri dengan cara yang benar. Sebagai contoh sederhana, sebagian orang makan terlalu banyak makanan manis hingga menjadi gemuk dan kehi­langan gigi. Jika mereka mengasihi Anda seperti diri mereka sendiri, mereka akan menjejali Anda dengan makanan yang akan merusak kese­hatan Anda.

Saya tidak akan membahas seperti dirimu sendiri secara menyeluruh dalam bab ini. Saya hanya ingin memberi Anda gambaran tentang seberapa dalam dan rumitnya masalah ini. Satu hal yang muncul adalah: Untuk meruntuhkan penghalang antara diri saya dan orang lain, saya harus rela mati. Meruntuhkan penghalang itu menandakan kematian saya sebagai seorang individu karena saya menyerahkan hak-hak saya dan apa yang penting bagi saya. Semua itu saya korbankan untuk membangun keharmonisan di mana orang lain berdiri setara dengan saya, bukan dalam hal hukum (di mana semua orang setara), tetapi sedemikian rupa sehingga perhatian dan kepentingan Anda menjadi perha­tian dan kepentingan saya.

Secara manusiawi kita dapat melakukan ini sampai batas tertentu, tetapi tidak dalam arti penuh di mana setiap kepentingan Anda menjadi kepentingan saya. Hal ini tidak dapat dicapai secara manusiawi, bahkan tidak dapat diterima secara manusiawi, karena kepentingan Anda mung­kin tidak sejalan dengan kepentingan saya. Untuk memenuhi perintah ini, saya harus mempelajari apa kepentingan Anda dan apa nilai-nilai yang Anda hargai, dan menjadikannya milik saya. Hal ini hampir tidak dapat dicapai bahkan dalam sebuah pernikahan.

Dalam menganalisis seperti dirimu sendiri, kita hanya menggunakan bahasa kasih. Yonatan mengasihi Daud seperti dirinya sendiri dan memberinya segalanya, bahkan baju zirah dan takhtanya sendiri. Kasih melakukan hal semacam itu, karena kasih terhadap sesama berarti kema­tian terhadap diri, penyangkalan diri sepenuhnya.

Di sini kita melihat perbedaan besar antara “kasihilah sesamamu” dan “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri”. Yang pertama dapat dila­kukan dengan kasih yang terbatas. Jika seseorang membutuhkan dua dolar, kita memberinya dua dolar. Jika ia membutuhkan seratus, kita memberinya seratus, jika kita mampu. Namun, “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” tidak memiliki batasan dan menuntut penyang­kalan diri yang total. Hal ini terkait dengan ajaran Yesus tentang memi­kul salib dan menyangkal diri.

Mengasihi sesama dengan batasan bukanlah apa yang diajarkan Yesus. Kita mungkin telah menaati perintah untuk mengasihi sesama, tetapi tidak seperti diri sendiri. Jika Anda memasak makanan atau mencuci piring untuk teman serumah saat Anda lelah, Anda menun­jukkan kasih kepada mereka meskipun mungkin ada sedikit kesebalan di hati Anda. Akan tetapi, jika Anda mengasihi sesama seperti diri sendiri, mungkinkah ada kesebalan? Tidak mungkin ada karena perbuatan itu dilakukan terhadap diri sendiri. Kesebalan muncul karena Anda tidak menganggap orang lain seperti diri sendiri. Ada perbedaan kualitatif antara mengasihi sesama dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Kata-kata seperti diri sendiri mengubah hakikat dari perintah tersebut.


Bahkan lebih dari dirimu sendiri

Namun tidak berhenti di situ saja, ternyata mengasihi sesama seperti diri sendiri berarti mengasihi sesama lebih daripada diri sendiri!

Anggaplah saya punya dua mangkuk nasi dan Anda tidak punya apa-apa. Kita berdua lapar. Dua mangkuk itu cukup bagi saya, tetapi karena Anda lapar, saya memberi Anda satu mangkuk. Sekarang Anda punya satu mangkuk, saya punya satu. Itulah kesetaraan dan penggenapan praktis dari seperti dirimu sendiri. Perut saya mendambakan dua mang­kuk, tetapi karena saya mengasihi Anda sebagaimana saya mengasihi diri sendiri, kita masing-masing punya satu mangkuk.

Misalkan saya punya dua jaket dan Anda tidak punya. Cuacanya dingin seperti musim dingin, jadi saya butuh dua jaket untuk menghan­gatkan badan. Namun, Anda menggigil, jadi saya berikan salah satu jaket saya. Kita berdua sedikit menggigil, tetapi tidak parah.

Namun, jika saya punya satu jaket dan Anda tidak punya, bagaimana saya bisa mengasihi Anda seperti diri sendiri? Apakah saya harus mero­bek jaket itu menjadi dua sehingga masing-masing memiliki setengah? Jika saya melakukan itu, tidak seorang pun dari kita akan memiliki jaket. Untuk mengasihi Anda seperti diri sendiri, saya memberi Anda seluruh jaket sehingga saya tidak memiliki apa-apa. Untuk mengasihi Anda seperti diri saya sendiri, saya ternyata mengasihi Anda lebih daripada diri saya sendiri.

Berbagi jaket bukanlah masalah besar dibandingkan dengan beberapa situasi di dunia nyata. Jika hanya satu dari kita yang bisa keluar dari sebuah situasi hidup-hidup, bagaimana saya bisa mengasihi Anda seperti saya sendiri? Jika saya menyelamatkan nyawa saya, Anda akan mati. Jadi saya memilih untuk mati agar Anda bisa hidup. Untuk mengasihi Anda seperti diri sendiri, saya mengasihi Anda lebih daripada diri saya sendiri.

Pada tahun 1993, sebuah tongkang yang mengapung di sungai di Alabama menabrak sebuah jembatan. Beberapa saat kemudian, sebuah kereta Amtrak mencapai jembatan dan tergelincir ke dalam sungai. Di atas kereta itu ada sepasang suami istri dan putri mereka yang berusia sebelas tahun yang lumpuh dan harus duduk di kursi roda karena cerebral palsy (kelumpuhan otak). Ketika kereta itu terjun ke sungai dan air mengalir deras ke dalam kereta, pikiran pertama orang tua itu adalah menyelamatkan putri mereka yang tidak berdaya menyelamatkan diri­nya sendiri. Mereka berjuang bersama untuk mendorongnya keluar jendela dengan bantuan dari para penyelamat. Pada akhirnya, gadis itu selamat, tetapi kedua orang tuanya meninggal. Mereka tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri sebagaimana dikatakan tentang Yesus di kayu salib, “Ia menyelamatkan orang lain, tetapi tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri”.

Dalam mengasihi anak mereka seperti diri sendiri, orang tua itu mengasihinya lebih daripada diri mereka sendiri. Beberapa orang mung­kin bertanya apakah pengorbanan itu sepadan. Bukankah dua orang dewasa yang sehat lebih berharga daripada satu anak cacat? Namun, pertanyaan itu tidak pernah terlintas dalam benak mereka. Kasih tidak membuat perhitungan seperti itu. Kasih tidak mengukur nilai seseorang berdasarkan kemampuannya untuk berkontribusi secara material bagi masyarakat. Jika orang tua itu menyelamatkan diri mereka sendiri, mungkin mereka bisa memiliki anak lain, yang sehat. Namun, perhi­tungan dingin semacam itu adalah penyangkalan kasih. Dalam pilihan antara menyelamatkan diri sendiri dan menyelamatkan orang lain, Anda berakhir dengan hasil yang luar biasa bahwa mengasihi sesama seperti diri sendiri berarti mengasihi lebih daripada diri sendiri. Istilah seperti dirimu sendiri bukanlah tanda sama dengan, tetapi tanda lebih besar daripada, karena Anda menganggap kesejahteraan orang lain lebih penting daripada kesejahteraan Anda sendiri.


Seberapa besar kita mengasihi diri kita sendiri?

Mari kita balikkan analisis kita: Seberapa besar kita mengasihi diri kita sendiri? Mari kita jujur ​​tentang hal itu. Jika seseorang tidak mengasihi atau merawat dirinya sendiri, pasti ada yang salah dengannya. Sebenar­nya, kita mengasihi diri kita sendiri. Seberapa keras Anda bekerja untuk mendapatkan gaji? Atau belajar untuk mendapatkan nilai bagus? Kita mengasihi diri kita sendiri dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap pikiran, dan segenap kekuatan kita! Siapa lagi yang kita kasihi seperti diri kita sendiri? Tidak ada yang menyamai kita. Kita mengasihi ibu dan ayah jika mereka tidak menghalangi kita. Kita mengasihi teman-teman kita jika mereka tidak mengganggu kita, dan begitu pula dengan suami atau istri. Pada akhirnya, kita mengasihi diri kita sendiri dengan seluruh keberadaan kita.

Perintah agung itu secara fungsional seperti ini: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap kasih yang kauberikan pada dirimu sendiri. Kedua perintah agung itu mengatakan hal yang sama: Kasihilah Yahweh, Allahmu, seperti dirimu sendiri, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Ini merupakan dua sisi dari sebuah persamaan. Oleh karena itu, perintah kedua kadang-kadang disebutkan tanpa menyebutkan perintah pertama.


Kasih membutuhkan iman yang mampu memindahkan gunung

Jika perintahnya hanya mengasihi sesama, itu sudah cukup sulit. Namun, mengasihi sesama manusia seperti dirimu sendiri adalah hal yang musta­hil bagi manusia duniawi. Bahkan mengasihi orang yang telah kita pilih untuk kita kasihi pun sulit. Anda memilih orang yang menjadi pasangan hidup Anda. Anda melihat ke kerumunan dan di sana berdiri seorang maskulin luar biasa yang membuat Anda jatuh cinta. Atau, Anda melihat representasi feminin yang ideal dari seluruh umat manusia. Namun, setelah Anda menikah, Anda menyadari bahwa mencintai orang yang telah Anda pilih itu sulit, apalagi manusia lainnya.

Secara manusiawi mustahil untuk mengasihi sesama seperti diri sen­diri. Untuk melakukannya, gunung-gunung harus dipindahkan. Gunung pertama adalah gunung di dalam diri kita yang mengangkat kita ke ketinggian yang darinya kita memandang rendah umat manusia lainnya. Ketika gunung itu disingkirkan, kita akan diturunkan ke tingkat yang sama dengan orang lain, dan setiap orang akan menjadi seperti saya. Gunung kedua adalah gunung yang sepadan dalam diri orang lain. Dengan adanya rintangan yang tidak dapat diatasi seperti itu, kita segera menyadari bahwa hanya dengan iman gunung-gunung seperti itu dapat disingkirkan. Yesus berkata di Matius 21:21 (lih., Mrk 11:22-23):

Jika kamu memiliki iman dan tidak bimbang, kamu bukan hanya akan melakukan apa yang dilakukan terhadap pohon ara ini, bahkan jika kamu berkata kepada gunung ini, ‘Terangkatlah dan tercampak­lah ke dalam laut,’ hal itu akan terjadi. (Mat 21:21)

Keselamatan adalah karena anugerah melalui iman, bukan karena perbuatan. Dengan anugerah ini, kuasa Allah yang transformatif memung­kinkan kita untuk memenuhi perintah-perintah-Nya. Mari kita bayangkan apa yang akan terjadi jika setiap orang, dengan iman, meme­nuhi perintah kasih. Ini akan meletakkan dasar bagi sebuah visi yang mulia. Pada zaman ini, dapatkah kita membayangkan sebuah komunitas yang mengasihi sesama seperti diri mereka sendiri, di mana setiap orang menjadi diri mereka sendiri sehingga ada satu diri yang dibagikan di antara semua orang? Saya harap saya telah membangkitkan imajinasi Anda sehingga Anda dapat melihat, di satu sisi, kedalaman ajaran Yesus, tetapi juga melihat di sisi lain visi di hadapan kita—visi yang mustahil bagi manusia, tetapi mungkin bagi Allah—tentang sebuah komunitas yang hidup dalam kasih. Itu tidak harus menjadi komunitas yang besar, karena hanya dibutuhkan komunitas kecil orang-orang yang hidup dengan perintah ini untuk mengguncang dunia dengan kuasa Allah!

Jika Anda meneliti penggunaan kata sesama dalam Perjanjian Lama, Anda akan melihat bahwa kata itu terutama merujuk, sering kali secara eksklusif, kepada komunitas umat Allah. Saya pikir para rabi telah sampai pada kesimpulan yang sama. Itu tidak berarti bahwa kita tidak mengasihi mereka yang berada di luar komunitas. Paulus membuat perbedaan antara keduanya: “marilah kita berbuat baik kepada semua orang, khususnya kepada keluarga dalam iman” (Gal 6:10). Kasih universal bagi umat manusia, termasuk musuh-musuh Anda, tidak berada pada kedudukan yang sama dengan kasih bagi umat Allah. Seorang pengikut Yesus akan mengasihi semua orang, bahkan musuh-musuhnya, tetapi tidak secara setara. Kasih kita bagi musuh tidak berada pada tingkat yang sama dengan kasih kita bagi saudara-saudari kita.

Untuk mencapai tujuan komunitas yang dipersatukan oleh kasih late­ral, kita mulai dengan mengasihi mereka yang dekat dengan kita. Selan­jutnya kita mengasihi mereka yang tidak dekat dengan kita di gereja. Kemudian kita memperluas kasih kita kepada umat Allah di luar gereja kita. Berikutnya, kita memperluas lingkaran kita untuk mencakup orang-orang non-Kristen, dan terakhir, jika kita sanggup, mereka yang memusuhi kita.

Namun, kita harus melakukannya dengan bijaksana, selangkah demi selangkah. Dalam kompetisi atletik, Anda tidak dapat melompat dari tingkat pemula ke kompetisi kelas dunia dalam satu langkah. Anda melangkah selangkah demi selangkah hingga Anda siap untuk bersaing memperebutkan medali emas. Dalam melaksanakan ajaran Alkitab, realisme penting, karena kita dapat dengan mudah tersesat dalam idealisme. Memiliki cita-cita itu baik, tetapi kita juga harus membumi dalam memenuhinya.

 

Penutup: Beberapa orang non-Kristen memiliki kualitas karakter yang lebih baik daripada orang Kristen, dan itu membuat kita malu. Beberapa orang non-Kristen tidak hanya bersedia mempertaruhkan nyawa mereka untuk menyelamatkan orang lain, mereka terkadang kehilangan nyawa mereka saat melakukannya. Banyak petugas pemadam kebakaran yang tewas dalam upaya penyelamatan, terutama mereka yang tewas dalam serangan 9/11, beberapa di antaranya adalah orang non-Kristen. Di selu­ruh dunia, ada polisi yang rela mati untuk menyelamatkan orang. Anda mungkin berkata bahwa mereka hanya melakukan pekerjaan mereka, tetapi faktanya adalah bahwa mereka telah memilih pekerjaan itu atas pilihan bebas mereka sendiri, dan benar-benar mempertaruhkan nyawa demi keselamatan orang lain. Orang-orang ini tampaknya termasuk di bawah Roma 2:14: “ketika orang bukan Yahudi yang tidak mempunyai Hukum Taurat dengan keinginan sendiri menjalankan apa yang dituntut oleh Hukum Taurat”. Kita tidak perlu bersikap dogmatis dengan makna ayat ini. Saya pikir Kitab Suci, dalam hikmat Allah, tidak selalu memper­bolehkan kita untuk mengatur segala sesuatunya ke dalam kategori dog­matis yang rapi.

Kasih yang sejati dan rela berkorban membutuhkan anugerah Allah, tetapi tampaknya dalam ajaran Paulus, anugerah itu kadang-kadang tersedia bagi orang-orang non-Kristen. Hal ini mungkin mengganggu kategori-kategori teologis kita yang rapi, tetapi siapa pun yang pernah bekerja dengan teologi akan tahu bahwa Allah tidak peduli dengan kate­gori-kategori kita yang rapi. Jika sesuatu tidak sesuai dengan kategori kita, kita cenderung menghindarinya. Beberapa orang Kristen mengata­kan bahwa perbuatan baik orang-orang non-Kristen tidak diperhitung­kan sedangkan perbuatan baik orang-orang Kristen diperhitungkan. Pernyataan semacam ini menimbulkan keraguan atas keadilan Allah. Jika seorang pemadam kebakaran non-Kristen meninggal saat menyela­matkan orang asing, pengorbanannya sangat berarti bagi saya dan tentu saja lebih berarti lagi bagi Allah. Kasih Allah lebih tinggi daripada pemi­kiran kita yang sempit.

 

Artikel ini adalah bagian dari buku KOMITMEN TOTAL karangan Pastor Eric H. H. Chang. 
Buku dalam bentuk PDF dapat diunduh secara gratis di: Komitmen Total PDF
Buku dalam bentuk cetak dapat dipesan dengan menghubungi kami di:
 Whatsapp+62 81382851058 (Whatsapp)
Atau, bisa melalui Toko Online kami di   CPM Bookstore.

← Back

Thank you for your response. ✨