Pastor Eric Chang | Bab 13 |

Kita mulai dengan peringatan serius dari Yesus di Yohanes 12:48:

Siapa yang menolak Aku dan tidak menerima perkataan-Ku, maka firman yang Aku katakan akan menghakimi dia pada akhir zaman.

Yesus mempersonifikasikan firmannya menjadi entitas independen yang akan menghakimi kita pada akhir zaman. Kita akan dihakimi berdasarkan apakah kita telah menaati firman yang telah ia sampaikan. Secara umum, kita perlu memperhatikan ajaran Alkitab yang kita terima, karena kita akan diukur berdasarkan ajaran itu, untuk melihat apakah kehidupan kita mendekati apa yang telah diajarkan kepada kita. Mende­ngarkan firman Allah dan tidak mempraktikkannya merupakan hal yang berbahaya.

Di sisi positifnya, jika firman Allah memicu visi yang berkobar dalam hati kita, kita tidak perlu menghabiskan seluruh hidup kita untuk meng­khawatirkan apakah kita memenuhinya. Itu karena kita akan termotivasi dengan kuat untuk melaksanakan firman, bukan karena takut dihakimi, tetapi karena visi Allah telah berakar dalam hati kita. Semangat yang positif dan berwawasan ke depan ini tertuang dalam Yesaya 42:9:

Lihatlah, hal-hal yang terdahulu sudah terjadi, hal-hal barulah yang sekarang Aku sampaikan; sebelum semuanya itu muncul, Aku mem­beritahukannya kepadamu.

Allah mengumumkan bahwa peristiwa-peristiwa baru akan datang. Namun, pada saat yang sama kita tahu bahwa tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari (Pkh 1:9) dan bahwa sejarah berulang dengan sendirinya. Meskipun hal ini berlaku dalam lingkup manusia, Allah sekarang menyatakan bahwa hal-hal baru akan terjadi. Bahkan ayat berikutnya mengatakan, “Nyanyikanlah bagi TUHAN satu nyanyian baru” (Yes 42:10). Kebaruan dan semangat dari kehidupan rohani diung­kapkan satu pasal kemudian:

19 Lihatlah, Aku akan melakukan satu hal baru. Saat ini, hal itu sedang muncul. Tidakkah kamu mengetahui hal itu? Ya, Aku bahkan akan membuat jalan di padang belantara dan sungai-sungai di padang gurun. 20 Binatang-binatang di padang akan memuliakan Aku, serigala-serigala dan burung-burung unta. Sebab, Aku mem­berikan air di padang belantara dan sungai-sungai di padang gurun, untuk memberi minum kepada umat pilihan-Ku, 21 yaitu bangsa yang Kubentuk untuk diri-Ku sendiri, supaya mereka menyatakan kemuliaan-Ku. (Yes 43:19-21)

Ayat 19 berbicara tentang “sungai-sungai di padang gurun” seperti halnya ayat 20. Apa yang istimewa tentang sungai-sungai ini? Sama seperti sungai-sungai di padang gurun memberi air kepada serigala dan burung unta, demikian pula sungai-sungai rohani di padang gurun rohani “memberi minum kepada umat pilihan-Ku” (ay 20), yaitu umat Allah yang telah Ia bentuk untuk menyatakan kemuliaan-Nya (ay 21). Ini mengingatkan kita pada apa yang Yesus katakan tentang Roh: “Orang yang percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan Kitab Suci, dari dalam dirinya akan mengalir aliran air hidup” (Yoh 7:38). Sungai-sungai air hidup di padang gurun rohani! Umat Allah akan memuji Dia, karena mereka akan minum dari sungai-sungai di padang gurun, dan menjadi sungai-sungai air hidup melalui Roh.


Jaminan sejati didasarkan pada kasih terhadap umat Allah

Kebaruan rohani menunjuk kepada kehidupan baru. Orang Kristen seja­ti adalah orang yang telah berpindah dari kematian menuju kehidupan, dan mengasihi saudara-saudaranya:

Kita tahu bahwa kita sudah keluar dari kematian menuju kehidupan karena kita mengasihi saudara-saudara. Orang yang tidak menga­sihi saudaranya tinggal di dalam kematian. (1Yoh 3:14)

Kasih kepada saudara-saudara seiman merupakan cara untuk menge­tahui bahwa kita telah diselamatkan dan telah berpindah dari kematian menuju kehidupan. Inilah dasar alkitabiah untuk jaminan keselamatan. Waspadalah terhadap ajaran tentang jaminan keselamatan seperti “sekali selamat, selamanya selamat” yang mendasarkan jaminan keselamatan bukan pada ketaatan kepada firman Allah, tetapi pada pengakuan iman secara lisan atau intelektual. Banyak orang telah dituntun untuk berpikir bahwa kita diselamatkan hanya dengan mengatakan “Saya percaya kepada Yesus” bahkan jika hidup kita gagal memenuhi apa yang dituntut Allah. Tidak ada yang salah dalam mencari jaminan, tetapi kita harus membedakan antara jaminan yang benar dan yang palsu. Kita tahu bahwa kita telah berpindah dari kematian menuju kehidupan jika kita mengasihi saudara-saudara seiman.

Sebelumnya kita telah melihat perbedaan antara kasih yang terbatas dan kasih yang tak terbatas. Kita dapat mengasihi sesama kita dengan cara yang terbatas, misalnya dengan memberinya dua dolar, tetapi persyaratan Alkitabiah adalah seperti diri sendiri, yang merupakan kasih yang tak terbatas. Kita berpindah dari kematian menuju kehidupan bukan karena kita telah memberi dua dolar kepada sesama kita, tetapi karena kita mengasihinya seperti diri kita sendiri.

Dua ayat kemudian Yohanes berkata, “kita juga harus menyerahkan hidup kita untuk saudara-saudara kita” (1Yoh 3:16). Kitab Suci tidak memberi kita pilihan lain selain menyerahkan hidup kita untuk saudara-saudara kita. Kata “harus” menyampaikan keharusan moral, tetapi kita mengabaikannya karena hal itu mengancam diri kita sendiri.

Bila kita membaca kedua ayat ini, ayat 14 dan ayat 16, secara bersama­an, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa kita berpindah dari kema­tian ke dalam kehidupan, jika kita mengasihi saudara-saudara kita seperti diri kita sendiri, bahkan sampai menyerahkan nyawa kita untuk mereka.

Di antara kedua ayat ini terdapat ayat 15 yang mengatakan, “Setiap orang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh.” Perhati­kan kata yang kuat membenci. Alkitab sangat praktis; Alkitab tidak memberikan cita-cita luhur yang dikagumi dari jauh, tetapi tidak dapat dilaksanakan. Oleh karena penafsiran yang tepat mengharuskan kita untuk menafsirkan ayat 15 dengan ayat 14, kita sampai pada prinsip penting bahwa kebencian hanyalah kegagalan untuk mengasihi. Alkitab tidak mendefinisikan kebencian sebagai ketidaksukaan yang intens, tetapi hanya sebagai kegagalan untuk mengasihi. Definisi Yohanes ini berbeda dari pemahaman umum tentang kebencian sebagai antipati yang intens. Dalam Kitab Suci, orang yang tidak mengasihi sudah berdiam dalam kematian, dan orang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh.

Pernyataan Yohanes mungkin terdengar radikal, tetapi ada alasan praktis untuk itu. Dalam hubungan kasih, ada kepekaan yang mendalam terhadap orang lain. Siapa pun yang pernah jatuh cinta pasti tahu ini. Ambil contoh seseorang yang tidak Anda kasihi: Jika seseorang yang tidak Anda kasihi mengatakan sesuatu yang kasar kepada Anda, Anda akan merasa kesal, tetapi Anda mengabaikannya karena dia tidak berarti apa-apa bagi Anda. Namun, jika seseorang yang Anda kasihi mengucap­kan satu kata yang tidak baik kepada Anda, kata itu akan menusuk hati Anda seperti pisau.

Alih-alih memperkuat hubungan, kita sering kali merusaknya dengan kata-kata dan tindakan yang ceroboh. Masalah hubungan yang paling dalam sering kali muncul dalam pernikahan karena kasih yang terlibat di dalamnya. Satu kata yang ceroboh dapat menyebabkan perasaan terlu­ka. Jika semua musuh Anda bersatu untuk berbicara jahat tentang Anda, itu tidak akan separah satu kata kasar dari pasangan Anda. Suami dan istri sering kali tidak menyadari hal ini sampai mereka menjadi sasaran ketidakpekaan tersebut. Kita mengambil kebebasan untuk bersikap kasar kepada orang-orang yang kita kenal, tetapi ini pada akhirnya akan menghancurkan hubungan.

Dulu saya bertanya-tanya apakah Yesus melebih-lebihkan di Matius 5:22, tetapi ketika saya memahami pengajarannya lebih baik, saya menyadari bahwa dia tidak melebih-lebihkan:

Akan tetapi, Aku mengatakan kepadamu bahwa siapa pun yang marah kepada saudaranya pantas berada dalam hukuman, dan siapa pun yang berkata kepada saudaranya, ‘Kamu tolol,’ pantas berada di hadapan Mahkamah Agama, dan siapa pun yang berkata, ‘Kamu bodoh,’ pantas berada dalam neraka api.

Ketika pertama kali membaca ini, saya pikir Yesus melebih-lebihkan atau berbicara dengan hiperbola. Akankah kita benar-benar menghadapi pengadilan tertinggi hanya karena menyebut seseorang di gereja sebagai orang bodoh atau idiot, terutama jika itu tampaknya secara akurat menggambarkan seseorang yang, menurut pandangan kita, telah mela­ku­kan sesuatu yang bodoh atau mengganggu? Namun, Yesus berkata kita akan menghadapi pengadilan tertinggi. Dia tidak berbicara tentang pengadilan di Israel karena menyebut seseorang sebagai orang bodoh tidak dapat dihukum di pengadilan Israel; dia berbicara tentang penga­dilan rohani yang akan kita hadapi. Berapa kali kita telah mengucapkan kata-kata yang tidak baik semacam ini?

Segala sesuatu yang tidak bersumber dari kasih—setiap tindakan atau kemarahan yang meniadakan kasih—akan membuka jalan menuju penghakiman yang menakutkan. Sebab, tindakan yang tidak bersumber dari kasih dapat membunuh. Kegagalan untuk mengasihi sudah menja­dikan Anda seorang pembunuh. Ekspresi wajah Anda dapat menyakiti seseorang, karena orang yang melihatnya akan bertanya-tanya mengapa Anda marah kepadanya. Mungkin Anda sedang berpikir keras, sehingga tanpa sengaja Anda berjalan melewatinya tanpa menyapanya. Yesus bersikap praktis ketika ia berkata bahwa kita tidak boleh mengatakan apa pun, atau melakukan apa pun, atau menunjukkan ekspresi apa pun, yang bukan berasal dari kasih.

1 Yohanes 3:19 mengatakan, “Dengan ini (mengasihi sesama), kita akan tahu bahwa kita berasal dari kebenaran dan kita akan meneguhkan hati kita di hadapan Allah.” Jaminan yang disebutkan di sini berlanjut di ayat 20 dan 21, dalam pernyataan bahwa “hati kita tidak menyalahkan kita”. Banyak orang Kristen mencari jaminan keselamatan, tetapi jalan menuju jaminan itu jelas: patuhi perintah untuk mengasihi, perintah yang diulang berkali-kali dalam 1 Yohanes.

Ayat 22 berlanjut: “Apa pun yang kita minta, kita menerimanya dari Allah karena kita menuruti perintah-perintah-Nya dan melakukan apa yang berkenan kepada-Nya.” Jika doa kita tidak didengar, itu karena kita tidak menjalankan perintah kasih yang utama ini. Jika kita tidak menga­sihi sesama seperti diri kita sendiri atau tidak mau mengorbankan nyawa kita untuk saudara-saudara seiman, kita dapat berdoa sepuasnya, tetapi Allah tidak akan mendengarkan.


Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati: tujuh poin

Sekarang kita akan membahas lebih jauh tentang “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri”. Kita telah melihat bahwa ajaran ini terpenuhi dalam hubungan antara Yonatan dan Daud; ajaran ini juga dimaksudkan untuk terpenuhi dalam hubungan suami-istri. Mengasihi istrimu sama seperti mengasihi dirimu sendiri, karena pasanganmu adalah perpan­jangan dari dirimu sendiri (Ef 5:28-29).

Sekarang saya akan menarik tujuh poin dari perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati yang diberikan oleh Yesus sebagai jawaban atas pertanyaan seorang ahli Taurat, “Dan, siapakah sesamaku manu­sia?” Berikut ini adalah seluruh perumpamaan dan konteksnya:

25 Kemudian, lihat, seorang ahli Hukum Taurat berdiri untuk mencobai Yesus, katanya, “Guru, apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan hidup yang kekal?” 26 Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam Hukum Taurat? Apa yang kamu baca di dalam­nya?” 27 Orang itu menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap kekuat­anmu, dan dengan segenap akal budimu. Dan, kasihilah sesamamu manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri.” 28 Yesus berkata kepadanya, “Jawabanmu itu tepat. Lakukanlah itu, maka kamu akan hidup.” 29 Akan tetapi, orang itu ingin membenar­kan dirinya, maka ia berkata kepada Yesus, “Dan, siapakah sesamaku manusia?”

 30 Yesus menjawab itu dengan berkata, “Ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho, ia jatuh ke tangan para perampok yang merampas pakaiannya dan memukulinya, kemudian meninggal­kannya tergeletak dalam keadaan hampir mati. 31 Kebetulan, seo­rang imam melewati jalan itu. Ketika ia melihat orang itu, ia pergi begitu saja dengan berjalan di sisi jalan yang lain. 32 Demikian juga yang dilakukan oleh seorang Lewi, ketika datang ke tempat itu dan melihat orang itu, ia melewatinya dengan berjalan di sisi jalan yang lain. 33 Akan tetapi, ada seorang Samaria yang sedang dalam perja­lanan lewat di situ. Dan, ketika ia melihat orang itu, ia merasa kasihan kepadanya. 34 Lalu, orang Samaria itu mendekatinya, dan membalut luka-lukanya. Ia mengolesinya dengan minyak dan anggur, lalu menaikkan orang itu ke atas keledainya dan membawa­nya ke sebuah penginapan, lalu merawat orang itu. 35 Keesokan harinya, orang Samaria itu mengeluarkan uang 2 dinar dan membe­rikannya kepada penjaga penginapan itu dengan berkata, ‘Rawatlah orang yang terluka ini. Dan, berapa pun kamu menghabiskan uang untuknya, aku akan menggantinya saat aku kembali.’” 36 Lalu, Yesus berkata, “Menurutmu, siapakah di antara ketiga orang itu yang menjadi sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan para perampok itu?” 37 Jawab ahli Taurat itu, “Orang yang menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Lalu, kata Yesus, “Pergilah, dan lakukan­lah hal yang sama.” (Luk 10:25-37)

 

  1. Tidak mengharapkan imbalan apa pun

Dalam hubungan perjanjian seperti antara suami dan istri atau antara Yonatan dan Daud, ada timbal balik di mana saya memberikan diri saya kepada Anda, dan Anda memberikan diri Anda kepada saya. Namun dalam perumpamaan tersebut, orang Samaria menunjukkan kasih yang mutlak kepada orang yang terluka tanpa memikirkan timbal balik. Tidak terlintas dalam benaknya untuk bertanya apakah korban akan membalas kasihnya. Bahkan tidak pasti apakah ia akan selamat, jadi timbal balik tidak relevan dalam situasi tersebut. Dalam mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri, kita tidak mengharapkan imbalan apa pun, sehingga motif kita untuk mengasihi sesama tetap murni.

 

  1. Bukan kasih sayang yang alami

Hal berikutnya yang kita pelajari dari perumpamaan ini adalah bahwa mengasihi sesama tidak didasarkan pada kasih sayang alami. Dalam perumpamaan ini, orang Samaria menolong orang Yahudi yang terluka. Orang Samaria tidak memiliki kasih sayang alami terhadap orang Yahudi. Selama berabad-abad mereka dibenci oleh orang Yahudi karena berbagai alasan etnis dan agama, dan akibatnya mereka tidak menyukai orang Yahudi. Untuk mengasihi orang Yahudi, orang Samaria harus mengatasi rintangan yang tidak dapat diatasi dalam hatinya sendiri, termasuk ketidaksukaannya yang alami terhadap orang Yahudi. Tidak ada yang alami dalam mengasihi musuh-musuh historis Anda.

 

  1. Tindakan bukan definisi

Poin ketiga adalah bahwa makna sesama manusia bukanlah masalah definisi. Seperti yang biasa terjadi pada para sarjana dan orang-orang terpelajar, sang ahli Taurat meminta Yesus untuk mendefinisikan sesa­ma manusia (“siapakah sesamaku manusia?”). Kesalahan logika yang umum dalam filsafat adalah menganggap kita telah memahami sesuatu hanya karena kita dapat mendefinisi­kannya. Berhasil  mendefinisikan sesama manusia tidak berarti bahwa kita memahami apa itu sesama manusia. Dalam Kitab Suci, pemahaman dikaitkan dengan pengalaman.

Sebenarnya Yesus menolak untuk menjawab pertanyaan ahli Taurat itu dengan sebuah definisi. Kita suka bermain permainan intelektual dengan definisi: “Jika kamu adalah sesamaku, secara logis aku adalah sesamamu. Karena hubungan itu bersifat komutatif, aku harus menga­sihimu, dan kamu juga harus mengasihi aku.” Lebih buruk lagi, kita memanipulasi firman Allah untuk keuntungan kita: “Aku adalah sesa­mamu, jadi kamu harus mengasihi aku seperti dirimu sendiri.”

Yesus tidak memberi tahu ahli Taurat siapa itu sesama manusia, tetapi bagaimana menjadi sesama manusia. Ia mengubah kata benda menjadi kata kerja, dan definisi menjadi tindakan. Di akhir perumpa­maan, ia bertanya kepada ahli Taurat, “Siapakah sesama manusia bagi orang yang terluka?” Ahli Taurat itu hanya dapat menjawab dengan kata kerja, “Orang yang menunjukkan belas kasihan kepadanya” (ay 37). Yesus menolak definisi yang dapat dibingkai sebagai kata benda, tetapi mencari tindakan yang dapat dibingkai sebagai kata kerja. Ia mengetahui hati kita dan bagaimana kita memanfaatkan firman Allah untuk meme­nuhi tujuan kita, bahkan menjadikan diri kita sebagai pusat kasih sesama manusia.

 

  1. Sesama manusia adalah orang yang membutuhkan bantuan

Poin keempat: Dalam perumpamaan tersebut, pertanyaan tentang bagai­mana orang Yahudi secara historis memandang orang Samaria tidaklah relevan karena orang Yahudilah yang membutuhkan pertolongan dari orang Samaria. Pertanyaan tersebut tidak berarti bahkan bagi orang yang sedang sekarat karena hidupnya bergantung pada belas kasihan orang Samaria. Mungkin yang lebih relevan adalah bagaimana orang Samaria memandang orang Yahudi, tetapi bahkan pertanyaan ini tidak terlintas dalam pikiran orang Samaria yang baik hati.

Baginya pertanyaan yang mendesak adalah, “Bagaimana saya dapat menolongnya? Jika saya tidak menolongnya, ia akan mati!” Ia dapat mengetahui etnis Yahudi korban dari pakaian dan penampilannya, tetapi itu tidak penting. Perhatian utamanya adalah mengobati luka-lukanya dan memberinya tempat berteduh untuk pemulihan. Yesus hanya mendefinisikan sesama manusia sebagai “seseorang yang sangat membutuhkan”.

Yesus memiliki alasan untuk menggunakan orang Samaria dan orang Yahudi sebagai tokoh utama dalam perumpamaan ini; agar kita dapat melihat bahwa kasih sayang alami tidak berperan dalam definisi sesama manusia. Sesama hanyalah orang yang membutuhkan kasih dan perha­tian. Ia putus asa dan kelangsungan hidupnya bergantung pada belas kasihan orang lain. Ia miskin dalam arti tidak berdaya untuk menolong dirinya sendiri. Ia pasti akan mati jika ditinggalkan di jalan. Hal yang mencolok adalah bahwa sesama orang Yahudi—seorang imam dan seorang Lewi—rela membiarkannya mati, karena mengira bahwa ia sudah mati atau hampir mati.

 

  1. Harganya total

Poin kelima mengenai harga ini juga berlaku bagi penguasa muda yang kaya (Mat 19:16-22). Banyak orang Kristen menolak ajaran yang jelas dari kisah penguasa muda yang kaya, sebagaimana tercermin dalam pertanyaan yang sering diajukan: Apakah persyaratan menjual semua harta benda khusus untuk penguasa muda yang kaya itu, atau apakah itu berlaku bagi orang Kristen secara umum?

Fakta bahwa kita bahkan mengajukan pertanyaan seperti itu menun­jukkan bahwa kita belum memahami perintah kasih lateral. Apakah penguasa muda yang kaya itu satu-satunya orang yang mencintai kekayaan? Jika ia bukan satu-satunya yang mencintai kekayaan, mengapa melepaskan harta benda menjadi hal yang khusus baginya? Apakah kita ingin mengatakan bahwa ia mencintai kekayaan lebih daripada orang lain? Hal ini tidak dapat dibuktikan secara eksegetis atau dalam kenya­taan. Lagi pula, Yesus berkata, “tidak ada seorang pun di antaramu yang dapat menjadi murid-Ku jika ia tidak menyerahkan seluruh kepunya­annya” (Luk 14:33).

Penguasa muda yang kaya itu mengacu pada perintah-perintah itu, termasuk perintah untuk mengasihi sesama, ketika ia berkata, “Semua hal itu sudah aku taati, apa lagi yang masih kurang?” Ini menunjukkan bahwa ia tidak benar-benar memahami perintah untuk mengasihi sesama. Ia pikir ia telah memenuhinya. Ia mungkin tidak bersikap tidak tulus ketika mengatakan bahwa ia mengasihi sesama, setidaknya menurut cara ia memahaminya.

Akan tetapi, Yesus hanya melihat satu cara bagi penguasa muda yang kaya itu untuk memenuhi perintah kedua: Berikan semua harta miliknya kepada sesama manusia yang miskin dan jadilah miskin juga. Pada waktu itu, kebanyakan orang di Israel benar-benar miskin dalam arti kemiskinan materi yang hina, bukan “miskin” menurut standar dunia modern kita. Di Amerika Utara saat ini, orang miskin dapat makan ayam goreng dan es krim, tetapi pada zaman Yesus, orang miskin benar-benar miskin seperti halnya petani yang tidak mampu membeli daging lebih dari dua kali setahun.

Penguasa muda yang kaya itu berkata bahwa ia telah memenuhi perintah untuk mengasihi sesama. Kita yakin bahwa ia memberi sedekah sebagaimana yang dituntut dari setiap orang Yahudi. Ia akan memberi­kan persepuluhan ke bait suci. Ia akan memberi kepada orang miskin, mungkin dalam jumlah besar, tetapi tanpa melukai kekayaannya. Ia pasti telah melakukan semua ini atau ia tidak akan berani mengatakan bahwa ia telah memenuhi perintah-perintah itu. Ia telah memenuhi ajaran moral para rabi yang mengajarkan orang Yahudi untuk memberi kepada orang miskin, meskipun tidak pada tingkat seperti dirimu sendiri.

Namun, istilah seperti dirimu sendiri mengubah keseluruhan gambar­an. Penguasa muda yang kaya itu mungkin telah mengabaikan “seperti dirimu sendiri” di Imamat 19:18, tetapi Yesus tidak. Ia mengatakan kepadanya bahwa jika ia ingin mengasihi sesama seperti dirinya sendiri, dengan sempurna dan mutlak, ia harus menjual semua harta miliknya dan memberikannya kepada orang miskin. Dengan demikian ia akan turun ke level mereka dan mereka menjadi perpanjangan dari dirinya. Dan siapakah orang miskin dan yang membutuhkan? Mereka adalah orang sakit, janda, yatim piatu, dan terutama orang yang miskin secara rohani. Inilah kondisi kita sebelum kita mengenal Allah.

Poin kelima dari perumpamaan ini adalah bahwa mengasihi sesama seperti diri sendiri akan mengorbankan segalanya.

 

  1. Bukan menghakimi sesama, tapi memenuhi kebutuhannya

Poin keenam: Karena sesama kita adalah orang yang membutuhkan, tanggapan kita terhadap kebutuhannya tidak boleh didasarkan pada perasaan kasih yang alami. Kita tidak perlu membangkitkan emosi untuk memenuhi perintah kasih. Dalam mengasihi diri sendiri, apakah Anda perlu membangkitkan perasaan untuk diri sendiri? Ketika Anda membutuhkan sesuatu, Anda cukup melakukan apa yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan Anda. Kasih didasarkan pada kenyataan praktis, bukan perasaan. Pertanyaan kuncinya adalah: Karena sesama saya membutuhkan, apa yang dapat saya lakukan untuk merawatnya? Saya tidak perlu memiliki perasaan hangat terhadapnya untuk membantunya.

Kasih tidak menghakimi. Kita tidak boleh menghakimi berdasarkan perasaan kita karena perasaan tidak dapat diandalkan. Kita sering tidak mengetahui situasi yang sebenarnya, jadi kita tidak boleh membiarkan perasaan kita lepas kendali dan merusak suasana.

Ada kisah nyata tentang seseorang yang sedang duduk di gereja. Ketika paduan suara sedang bernyanyi, ia memusatkan pandangannya pada seorang anggota paduan suara yang sedang menatap langit-langit sambil bernyanyi, tampak begitu sombong dan merasa benar sendiri. Hal ini membuat jengkel orang yang sedang memperhatikannya dari jemaat. Namun ketika kebaktian selesai, ia baru mengetahui bahwa anggota paduan suara itu buta. Jadi ia merasa malu karena telah merusak ibadah­nya kepada Allah dengan sikap menghakimi terhadap seorang saudara yang ia anggap munafik.

 

  1. Kekuatan untuk mengasihi melalui Roh

Jelaslah sekarang bahwa sumber daya rohani yang besar dibutuhkan untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri. Sumber daya ini tersedia bagi kita:

“Orang yang percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan Kitab Suci, dari dalam dirinya akan mengalir aliran air hidup.” Hal yang dimak­sudkan Yesus adalah Roh, yang akan diterima oleh orang yang percaya kepada-Nya. Sebab, Roh itu belum diberikan karena Yesus belum dimuliakan. (Yoh 7:38-39)

Kita sering berhubungan dengan orang lain berdasarkan perasaan kita, jadi sungguh luar biasa bahwa Roh Kudus hadir untuk mengingatkan kita agar tidak menghakimi. Ketika Roh Kudus masuk ke dalam hati kita, kasih mengalir dari situ. Allah mengubah kita menjadi orang-orang yang berfungsi di bawah kendali Roh Kudus dan diberdayakan untuk memberi diri kita kepada orang lain.

Betapa mulianya gereja ketika para anggotanya saling memberi diri, tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Kita dapat memulai dengan sekelompok kecil orang yang terikat bersama dalam kasih perjanjian. Kemudian, beberapa orang ini dapat berkembang menjadi kelompok inti gereja. Ini mungkin tampak seperti mimpi, tetapi kita telah melihat bahwa Allah dapat melakukan hal-hal yang menakjubkan. Ia ingin melakukan hal yang baru, yaitu menciptakan komunitas baru yang hidup berdasarkan perjanjian baru. Kita akan berusaha dengan segala energi yang diilhami Roh dalam diri kita, untuk tidak hanya menjadi pendengar dan pewarta firman, tetapi juga pelaku yang hidup di bawah perjanjian baru dan mewujudkan hal baru yang telah Allah panggil ini.

Artikel ini adalah bagian dari buku KOMITMEN TOTAL karangan Pastor Eric H. H. Chang. 
Buku dalam bentuk PDF dapat diunduh secara gratis di: Komitmen Total PDF
Buku dalam bentuk cetak dapat dipesan dengan menghubungi kami di:
 Whatsapp+62 81382851058 (Whatsapp)
Atau, bisa melalui Toko Online kami di   CPM Bookstore.

 

← Back

Thank you for your response. ✨