Ev. Xiao Shan | Filipi 3:1-6 |
Jika Anda adalah orang percaya, dan telah menjadi Kristen untuk jangka waktu yang lama, bagaimana hubungan Anda dengan Allah? Apakah sangat akrab? Apakah Anda berjalan di dalam kehendak Allah setiap harinya? Atau, apakah hubungan Anda dengan Allah terasa sangat jauh? Doa Anda seperti berbicara pada diri sendiri, atau berbicara pada tembok? Ada kalanya, saudara seiman membagikan dengan saya tentang keadaan rohani mereka. Mereka berkata bahwa sekalipun mereka sudah lama percaya pada Tuhan, sekalipun mereka setiap minggu ikut ibadah, tetapi entah mengapa, mereka merasakan bahwa kehidupan rohani mereka sangat kering, sama sekali tidak merasakan hadirat Allah. Apakah ini keadaan yang biasa Anda alami? Apa yang menjadi permasalahnnya?
Mari kita buka ke Filipi 3:1-6,
1 Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. Aku tidak keberatan menuliskan lagi hal-hal yang sama kepadamu karena hal ini akan menjagamu.
2 Waspadalah terhadap anjing-anjing, waspadalah terhadap para pelaku kejahatan, dan waspadalah terhadap mereka yang menyunat tubuh,
3 sebab kitalah orang-orang bersunat yang sejati, yang menyembah dalam Roh Allah, memuliakan Yesus Kristus, dan yang tidak menaruh percaya pada hal-hal yang lahiriah
4 walaupun aku sebenarnya memiliki alasan untuk bermegah pada hal-hal yang lahiriah. Jika ada orang lain yang berpikir bahwa ia memiliki alasan untuk bermegah pada hal-hal yang lahiriah, terlebih lagi aku:
5 Aku disunat pada hari ke delapan, bangsa Israel tulen, dari suku Benyamin, orang Ibrani yang berbahasa Ibrani. Menurut Hukum Taurat, aku adalah orang Farisi.
6 Dalam hal semangat, aku adalah penganiaya jemaat, dan dalam hal kebenaran di bawah Hukum Taurat, aku tidak bercacat.
Paulus pernah salah arah pada waktu lampau
Filipi 3 adalah pasal yang sangat spesial karena pasal ini menggambarkan secara rinci latar belakang Paulus. Pertama-tama, Paulus adalah seorang yang lahir dari latar belakang keluarga Yahudi yang taat mengikuti adat dan tradisi bangsanya. Ayat 5 memberitahu kita bahwa Paulus disunat pada hari yang kedelapan. Di pandangan orang Yahudi, sunat bukanlah suatu ritual agamawi, tapi merupakan tanda perjanjian dengan Allah. Dari zaman Abraham, orang Yahudi telah menaati perintah ini dari satu generasi ke generasi selanjutnya, di mana setiap anak laki-laki yang lahir akan disunat di hari kedelapan sebagai tanda perjanjian dengan Allah.
Bukan hanya itu, Paulus juga berkata bahwa dia adalah orang Ibrani tulen, dari suku Benyamin, yang merupakan salah satu dari 12 suku Israel. Sebenarnya apa yang begitu spesial tentang suku Benyamin? Raja pertama Israel berasal dari suku Benyamin, Raja Saul. Paulus juga bernama Saulus (Saul) sebelum dia mengenal Yesus.
Apakah latar belakang Anda mirip dengan Paulus? Banyak orang yang percaya pada Tuhan karena tradisi atau latar belakang keluarga. Mereka sejak kecil bertumbuh di dalam keluarga Kristen, kakek, nenek, ayah dan ibu semuanya adalah Kristen dan bahkan ada yang mempunyai anggota keluarga yang menjadi pendeta. Jadi, dari kecil mereka mengikuti keluarga untuk menghadiri kebaktian dan turut menjadi orang percaya.
Orang Farisi pada zaman Yesus
Di ayat 5, Paulus berkata, “menurut Hukum Taurat, aku adalah orang Farisi.” Anda mungkin bingung, sangatlah jelas bahwa orang Farisi itu terkenal, tetapi bukan dalam pengertian yang baik. Golongan ini selalu dimarahi oleh Yesus, jadi mengapa Paulus secara khusus menyebut bahwa dia adalah seorang Farisi, dan bahkan bermegah karena dia seorang Farisi?
Pada zaman Yesus, orang Farisi menikmati status sosial yang tinggi. Mereka kelompok yang sangat mengenal hukum Perjanjian Lama, dan dengan ketat mengikuti setiap perincian Hukum Taurat. Disebutkan di Perumpamaan Orang Farisi dan Pemungut Cukai (Lukas 18) bahwa orang Farisi berpuasa dua kali seminggu, dan bahkan memberi perpuluhan untuk setiap penghasilan mereka tidak kira betapa kecil. Kita dapat melihat bahwa orang Farisi menetapkan standar yang tinggi bagi diri mereka.
Apakah Anda mau menjadi seperti Paulus, memasang standar yang tinggi bagi diri Anda untuk menaati setiap hukum dan tuntutan? Sebagai contoh, Anda mempunyai banyak standar yang harus ditepati, seperti bangun jam 5 setiap pagi untuk membaca Alkitab, berdoa dan kalau ikut ibadah harus berpakaian rapi dan bagus. Tentu saja, bangun jam 5 pagi untuk mendekatkan diri dengan Allah adalah sesuatu yang bagus, tetapi, jika ini hanyalah sekadar suatu kebiasaan eksternal, apakah kebiasaan ini akan membuat hubungan Anda dengan Allah menjadi bertambah baik?
Di ayat 6, Paulus berkata, “dalam hal semangat, aku adalah penganiaya jemaat.” Sebelum mengenal Yesus, Paulus dengan semangat berapi-api menganiaya jemaat. Di jemaat mula-mula, yang pertama kali menjadi martir bukanlah kedua belas rasul melainkan Stefanus. Stefanus seorang yang dipenuhi Roh, tetapi orang banyak tidak dapat menerima ajarannya, dan mereka melemparkan tuduhan palsu terhadapnya. Pada akhirnya, orang banyak melempari dia dengan batu sampai dia meninggal dunia. Saat Stefanus dibunuh oleh massal yang mengamuk, Saulus berada di situ menyaksikan seluruh peristiwa kejam itu. Kita bisa membaca kisah ini di Kisah Para Rasul 8:1-3,
1 Dan, Saulus pun menyetujui pembunuhan Stefanus itu. Pada hari itu, suatu penganiayaan yang besar terjadi terhadap jemaat di Yerusalem, dan mereka semua terpencar ke wilayah-wilayah Yudea dan Samaria, kecuali para rasul.
2 Beberapa orang saleh menguburkan Stefanus dan mendatangkan ratapan yang begitu besar terhadapnya.
3 Akan tetapi, Saulus berusaha membinasakan jemaat dengan masuk ke rumah demi rumah. Ia menyeret laki-laki dan perempuan, lalu menyerahkan mereka ke penjara.
Paulus dibesarkan di dalam keluarga Yahudi yang tradisional, yang sangat ahli dalam hal hukum, sangat taat pada Hukum Taurat, dan berapi-api untuk Allah, tetapi sayangnya dia tidak mengenal Allah. Sekalipun dia berapi-api untuk Allah, dia malah menjadi musuh Allah dan pergi ke setiap tempat untuk menganiaya umat Allah!
Apakah Anda merasa bahwa Anda juga seperti Paulus saat dia masih seorang Saulus? Anda percaya pada Tuhan, Anda juga mencari Tuhan dalam semangat kedagingan, mencari gereja yang paling bagus, di mana ibadahnya paling cocok dengan Anda, apakah ajaran mereka benar, latar belakang pendetanya, dan bagaimana firman yang disampaikan? Anda mau memastikan bahwa Anda membuat keputusan yang terbaik. Anda setia beribadah setiap minggu mengikuti semua ritual. Tentu saja, tidak ada yang salah dengan semuanya ini. Namun, apakah semangat yang mendasari semuanya? Apakah didasari oleh pengenalan dan kasih Anda pada Tuhan? Apakah semangat yang mendorong Anda semangat yang sama dengan Paulus saat dia masih seorang Saulus yang berapi-api menganiaya orang lain karena “sesat”. Apa yang mencirikan kehidupan Kristen Anda? Apakah Anda merasakan hubungan yang dekat dengan Allah? Setelah Anda melakukan semuanya itu, apakah Anda lebih dekat dengan Allah? Apakah Anda mengalami realitas Allah? Apa sebenarnya yang masih kurang?
Titik Balik dalam Kehidupan Paulus
Bagaimana Paulus berubah dari menjadi musuh Allah menjadi seorang yang benar-benar mengenal Allah dan Yesus yang diutus-Nya? Mari kita buka di Kisah Para Rasul 9:1-5,
1 Namun, Saulus, sambil terus melakukan ancaman dan pembunuhan terhadap murid-murid Tuan, pergi menghadap Imam Besar,
2 dan meminta surat darinya, yang ditujukan kepada sinagoge-sinagoge di Damsyik sehingga jika ia menemukan siapa saja yang percaya kepada Jalan itu, baik pria maupun wanita, ia dapat membawa mereka untuk dibelenggu di Yerusalem.
3 Selama ia sedang berjalan, ia semakin dekat dengan Damsyik, dan tiba-tiba suatu cahaya dari langit memancar mengelilinginya.
4 Lalu, ia jatuh ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa kamu menganiaya Aku?”
5 Saulus bertanya, “Siapakah Engkau, Tuan?” Dan, Ia berkata, “Akulah Yesus, yang kamu aniaya.
Pada awalnya, Paulus berencana untuk terus menangkap orang-orang Kristen dan membawa mereka ke Yerusalem, tetapi saat dalam perjalanan ke Damsyik, tiba-tiba cahaya memancar dari langit, dia mendengar suara berbicara kepadanya. Sebelum peristiwa ini, yang dia miliki adalah adat istiadat agamawi, hukum dan peraturan, semangat yang berapi-api untuk Allah, tetapi dia tidak mengenal Yesus. Sekarang dia telah dicerahkan, pada akhirnya dia mengenal siapa itu Yesus. Paulus memang seorang penganiaya jemaat, tetapi semuanya itu terjadi pada saat dia belum benar-benar mengenal Yesus. Yesus berbelas asih padanya, menerangi dia dari atas; dan dia mendengar suara langsung dari langit. Peristiwa ini menjadi titik balik di dalam kehidupan Paulus. Dari titik itu, hidupnya berubah secara drastis. Paulus tidak lagi mengejar agama, dia tidak lagi mengejar kebenaran yang datang dari Hukum Taurat, tetapi dia mengejar Kristus, mengejar kebenaran yang berasal dari kepercayaan pada Yesus.
Apakah kita berada di situasi yang sama dengan Paulus? Apakah kita “terlihat” seperti sangat mengasihi Tuhan, dengan ketat mengikuti semua hukum, dan melayani Tuhan dengan penuh semangat; kita “terlihat” seperti teladan yang pantas dicontohi semua orang percaya. Akan tetapi, pada kenyataannya, kita tidak memiliki hubungan yang nyata dengan Tuhan. Tanpa hubungan yang riil dengan Tuhan, tanpa disadari kita bisa saja menjadi musuh Tuhan, mengingkari kehendaknya. Tuhan berbelas kasihan pada Paulus, terang menyinarinya dari langit agar dia dapat melihat, dengan cara yang sama, Tuhan juga ingin berbelas kasihan pada kita. Kunci permasalahan adalah apakah kita mau meresponi Tuhan sama seperti Paulus?
Saya menemukan catatan harian saya waktu saya mau kuliah. Saya menulis di sana, “Ya Allah, jika Engkau nyata, biarlah saya mengalami kasih Engkau, sampai ke tahap saya harus percaya pada Engkau dan tidak dapat menyangkal bahwa Engkau memang ada.” Saya tidak tahu mengapa saya menuliskan demikian, dan hal ini saya tuliskan berkali-kali. Allah menjawab doa saya. Saya tidak hanya mengenal Allah, saya bahkan diberi kesempatan untuk melayani-Nya. Semuanya ini adalah karena Allah telah menyentuh hati saya, mengizinkan saya untuk mengalami realita-Nya secara mendalam. Jadi faktor kunci di sini bukanlah apakah Allah akan berbelas kasihan pada Anda, tetapi apakah Anda akan meresponi-Nya dengan sepenuh hati.
Ditransformasi Sepenuhnya
Setelah Paulus dicerahkan, dan mendapat penglihatan, sesuatu yang aneh terjadi: Seluruh cara pandangnya berubah sepenuhnya. Dikatakan di Filipi 3:7-8,
7 Akan tetapi, segala sesuatu yang dahulu menguntungkan aku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
8 Sungguh, segala sesuatu kuanggap rugi dibandingkan dengan pengenalan akan Yesus Kristus, Tuanku, yang jauh lebih berharga dari apa pun. Demi Kristus, aku telah kehilangan semuanya — karena semua itu sekarang kuanggap sampah! — supaya aku boleh mendapatkan Kristus.
Setelah dicerahkan, cara Paulus menilai sepenuhnya dijungkir balik. Apa yang dia anggap sebagai untung, dia sekarang anggap sebagai rugi. Jika Anda mengalami pencerahan dari atas, cara Anda menilai juga akan berubah. Perhatikan bahwa Paulus tidak berkata bahwa apa yang telah dia lakukan pada waktu lampau, tidak lagi dia lakukan. Tidak, yang Paulus katakan adalah apa yang dia anggap sebagai keuntungan, dia sekarang anggap sebagai rugi. Di dalam hati Anda, apakah ada sesuatu yang Anda anggap sebagai keuntungan? Apakah talenta alamiah, kecantikan, pengetahuan, kekayaan, ketenaran, status dan sebagainya. Apa yang menjadi impian Anda? Apa hal-hal yang Anda kejar di dalam hidup Anda pada waktu lampau? Apakah Anda tetap sama setelah Anda datang pada Tuhan?
Keuntungan yang dimaksudkan oleh Paulus bukanlah tentang pencapaiannya di dunia sekuler melainkan pencapaiannya di tingkat religius. Dia dilahirkan di dalam keluarga Yahudi yang kental tradisi dan adat istiadatnya, yang merupakan orang Ibrani tulen. Dia juga seorang Farisi, kelompok yang sangat ketat menaati hukum Allah, sangat jelimet, juga sangat siap untuk menegakkan dan mempertahankan kebenaran. Semua hal ini membuatnya bermegah. Namun, Paulus berkata bahwa dia sekarang menganggap semua keuntungan itu sebagai kerugian. Cara dia memandang dan menilai sudah secara aneh berubah. Dia sekarang melihat dengan lebih tajam dan memulai melihat dari sudut pandang Allah.
Kedua, Paulus menganggap semuanya sebagai rugi demi pengenalan akan Kristus. Jangan salah memahami bahwa Paulus sedang menghimbau kita semua untuk memakai penderitaan untuk mendera diri kita sendiri sebagai sarana untuk melatih kehidupan rohani kita. Bukan itu! Paulus tiga kali berkata bahwa dia menganggap segala sesuatu sebagai rugi, untuk memperoleh Kristus. Dengan kata lain, jika kita ingin memperoleh Kristus, kita juga harus mengganggap segala sesuatu sebagai rugi; jika kita tidak melakukan itu, kita tidak akan dapat memperoleh Kristus. Sebenarnya, ajaran ini tidak berasal dari Paulus, melainkan dari ajaran Yesus sendiri. Mari kita buka di Matius 19:20-22,
20 Orang muda itu berkata kepada-Nya, “Semua hal itu sudah aku taati, apa lagi yang masih kurang?”
21 Yesus berkata kepadanya, “Jika kamu ingin sempurna, pergi dan juallah semua yang kamu miliki. Lalu, berikanlah kepada orang miskin, dan kamu akan memiliki harta di surga, dan mari ikutlah Aku.”
22 Namun, ketika orang muda itu mendengar pernyataan ini, ia pergi dengan sedih sebab ia sangat kaya.
Lukas 18 memberitahu kita bahwa anak muda ini adalah seorang pemimpin, sangat rendah hati dan dia datang kepada Yesus bertanya tentang hidup kekal. Walaupun orang muda ini kaya, berotoritas, berstatus, tetapi dia tetap rendah hati dan sopan — suatu sikap yang sangat langka. Dunia mengagumi orang seperti dia, ia mempunyai segala sesuatu; bagi orang beragama, dia layak diteladani, karena dia telah menaati perintah Allah sejak kecil, tidak bercela. Anehnya, orang muda ini tidak bahagia, dia tidak memiliki kepuasan di dalam hatinya. Dia sendiri tahu dengan jelas bahwa masih ada yang kurang.
Yesus melihat kerendahan hati dan kejujuran anak muda ini, dan karena itu dia membagikan rahasia untuk memperoleh hidup yang kekal: untuk memperoleh hidup kekal, sikap hati terhadap Allah haruslah sempurna. Sikap yang sempurna berarti melepaskan segala sesuatu, termasuk apa yang Anda anggap sebagai hal-hal yang terbaik. Hanya setelah itu, baru dia dapat datang dan mengikuti Yesus. Tidak pernah disebutkan di dalam Alkitab bahwa kekayaan yang dimiliki oleh orang muda ini adalah kekayaan yang diperoleh secara tidak benar, dan tidak disebut bahwa dia menyalahgunakan wewenangnya untuk menindas orang. Sekalipun posisi dan kekayaannya diperoleh lewat cara yang benar, dia masih kekurangan suatu hal: yakni Yesus Kristus.
Mengapa orang muda ini tidak boleh mendapatkan kedua-duanya, memiliki kekayaan dan pada waktu yang bersamaan juga memiliki Kristus? Dengan kata lain, mengapa Paulus harus menganggap segala sesuatu sebagai rugi demi memperoleh Kristus? Mari kita buka di Filipi 3.
Filipi 3:3-6 berbicara tentang hal-hal kedagingan, sikap yang berasal dari kedagingan. Paulus sangat tepat melihat persoalan di sini. Dia sedang memberitahu kita bahwa kedagingan kita merupakan hambatan yang paling besar, yang membuat kita tidak dapat memperoleh Kristus. Jika hanya bergantung pada kerendahan hati yang eksternal, dan semangat yang berapi-api yang dari daging, hal-hal yang demikian akan membuat kita tidak dapat memperoleh Kristus, dan hidup kita tidak akan berubah.
Rugi: Mempersembahkan Semuanya di atas Altar
Yang terakhir, bagaimana kita dapat menerapkan ajaran Paulus? Dikatakan di Filipi 3:7-8,
7 Akan tetapi, segala sesuatu yang dahulu menguntungkan aku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
8 Sungguh, segala sesuatu kuanggap rugi dibandingkan dengan pengenalan akan Yesus Kristus, Tuanku, yang jauh lebih berharga dari apa pun. Demi Kristus, aku telah kehilangan semuanya — karena semua itu sekarang kuanggap sampah! — supaya aku boleh mendapatkan Kristus.
Bagaimana menganggap semuanya sebagai rugi? Apakah itu berarti kita harus membuang semua uang dan harta benda kita? Seorang saudara menulis pada saya bertanya, “Seringkali saat saya keluar, saya bertemu dengan pengemis, apakah saya harus memberi atau tidak?” Paulus berkata bahwa kita harus menganggap semuanya sebagai rugi, jadi, apakah itu berarti dari hari ini dan selanjutnya, kita harus keluar menyalurkan uang ke semua pengemis yang kita temui, sampai kita kehabisan uang? Tentu saja, itu bukan itu yang dimaksudkan oleh Paulus!
Hanya dalam dua ayat, kata asli “rugi” muncul sebanyak tiga kali: Bagaimana menganggap semuanya sebagai rugi? Menganggap rugi berarti kehilangan atau membuang semuanya. Pernahkah Anda coba membuang sesuatu? Banyak orang yang saat berpergian dengan sembrono membuat sampah apakah di pesawat, kereta atau tempat makan. Ada orang yang selalu kehilangan barang, apakah payung, jaket atau tas. Jika barang Anda seperti HP terjatuh dan Anda tidak menemukannya, berarti Anda telah kehilangannya, Anda tidak lagi memilikinya. Jadi, saat Paulus menyebut bahwa dia menganggap segala sesuatu sebagai rugi, itu berarti dari titik itu dan selanjutnya, apa yang dimilikinya tidak lagi menjadi miliknya, tidak kira apakah itu harta benda atau karunia-karunia rohani — semuanya bukan lagi miliknya, tetapi merupakan milik Allah.
Anda berpendidikan tinggi, atau mempunyai talenta musik, atau Anda pernah sekolah teologia, dan memiliki pengetahuan Alkitab, apakah Anda pernah mempersembahkan semuanya ini di atas altar dan berkata, “Allah, pakailah semuanya ini.” Atau, Anda merasa puas diri, merasa Anda lebih baik daripada yang lain? Sebenarnya semua yang Anda miliki itu diberikan oleh Allah, tanpa pemberian-Nya, Anda tidak memiliki apa-apa. Jadi, tidak ada apa-apa pun yang dapat Anda megahkan. Mulai dari sekarang, Anda harus belajar untuk menganggap semuanya sebagai rugi, persembahkannya pada Allah, biarlah Allah yang memutuskan bagaimana untuk memakai karunia-karunia itu, hanya dengan cara itu, Anda dapat memberkati orang lain.
Ada hamba Tuhan yang sangat bertalenta. Mereka bisa menjadi pemimpin lagu pujian karena mempunyai suara yang bagus, dan sangat bertalenta dalam hal musik. Berkhotbah juga tidak masalah. Mereka juga sangat akrab dengan teknologi, bisa memakai peralatan yang canggih untuk menyelenggarakan kebaktian. Karena mereka begitu berbakat, pasti sangat cakap melayani betul? Tidak juga. Seringkali yang terjadi adalah pelayanan mereka tidak ada kesan pada hati jemaat. Begitu keluar dari pertemuan, jemaat lupa dengan pesan yang disampaikan. Apa alasannya? Seringkali yang terjadi adalah, pelayan Tuhan tidak mempersembahkan semuanya di altar Tuhan, tidak menganggap semua sebagai rugi; mereka mengandalkan apa yang mereka miliki dan tidak menantikan arahan dari Tuhan dan bertindak sesuai dengan arahan Tuhan. Yang Allah inginkan dari kita bukanlah bahwa kita menjadi manusia super yang bisa mengerjakan segala sesuatu. Yang Allah inginkan dari kita adalah seorang pelayan yang tunduk sepenunya pada Dia, yang hidup dengan berserah sepenuhnya pada Dia.
Kita harus Mewaspadai Tiga Macam Orang
Dikatakan di Filipi 3:2,
Waspadalah terhadap anjing-anjing, waspadalah terhadap para pelaku kejahatan, dan waspadalah terhadap mereka yang menyunat tubuh,
Paulus di awal pasal 3 sudah memperingatkan gereja untuk berwaspada dan bersiaga, untuk berhati-hati supaya tidak jatuh ke dalam perangkap, supaya kita tidak akan salah jalan. Di sini, Paulus dengan sangat gamblang memperingatkan gereja untuk berhati-hati dengan tiga macam orang:
Yang pertama adalah “anjing-anjing”. Siapakah mereka? Mengapa mereka disebut sebagai “anjing-anjing”? Anjing-anjing piaraan kita terlihat lucu dan menyenangkan. Namun, anjing-anjing yang disebut Paulus di sini bukanlah anjing-anjing piaraan melainkan anjing-anjing liar yang bekeliaran. Mereka selalu bergerak dalam suatu kelompok dan karena mereka menang dari sisi jumlah, mereka tidak segan-segan menyerang hewan lain dan juga manusia. Dituliskan di Matius 7:6
Jangan memberikan barang yang kudus kepada anjing-anjing, jangan pula melempar mutiaramu ke hadapan babi supaya mereka tidak menginjak-injak itu dengan kakinya dan berbalik mencabik-cabik kamu.
Jangan memberikan barang yang kudus kepada anjing-anjing, karena anjing sama sekali tidak berminat dengan apa yang kudus. Anjing-anjing bukan saja tidak berminat dengan barang yang kudus, tetapi mereka bahkan akan berpaling dan mengoyak Anda. Penjelasan yang sederhana adalah, Yesus memakai kata “anjing-anjing” untuk menggambarkan orang-orang beragama yang sangat berapi-api, tetapi tidak memiliki pengertian rohani. Mereka tidak mengenal Allah dan tidak dapat menerima kebenaran dan karena itu akan balik menyerang Anda dan seringkali serangan dilakukan lewat kata-kata.
Paulus mengingatkan gereja bahwa untuk berjalan di jalur yang benar, maka kita harus berhati-hati dengan orang percaya yang penuh semangat, tetapi tidak mengasihi kebenaran, dan juga kekurangn pengertian rohani. Jika ada seorang saudara yang senang bergosip dan mengkritik orang lain, maka Anda harus berhati-hati supaya kita tidak ikut terpengaruh.
Tipe kedua adalah orang yang orang-orang yang melakukan kejahatan atau “pekerja-pekerja yang jahat.” Siapakah mereka? Apakah mereka orang jahat yang membunuh dan merampok? Dikatakan di Matius 21:41,
Mereka berkata kepada-Nya, “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dengan sangat jahat, dan akan menyewakan kebun anggurnya kepada petani-petani yang lain, yang akan menyerahkan kepadanya buah-buah pada musimnya.”
Orang-orang jahat di sini bukanlah orang-orang dunia, tetapi umat Allah. Mereka menolak otoritas Allah, tidak mendengarkan nasehat Allah, dan tidak menghasilkan buah, tetapi mereka tidak mau beranjak dari tempat itu. Jadi, Paulus memperingatkan gereja untuk berhati-hati dengan orang percaya yang seperti ini, yang mengenal Allah, tetapi menolak untuk menaati perintah-Nya.
Tipe yang ketiga adalah “penyunat-penyunat palsu”. Pada waktu itu, masih ada orang yang bersikeras bahwa orang non-Yahudi harus melakukan sunat untuk diselamatkan. Paulus memperingatkan gereja untuk berhati-hati dengan orang yang seperti ini. Apa yang Allah kehendaki bukanlah sunat secara jasmani melainkan perubahan hati dari dalam, yaitu kebenaran dari Allah yang datang dari iman.
Hari ini kita telah melihat pada Filipi 3:1-8, yang berjudul “Titik Balik Orang Kristen”.
- Untuk berjalan di jalur yang benar, kita harus membangun hubungan yang nyata dengan Allah, bukannya mengejar ritual agama.
- Agar dapat berjalan di jalur yang benar, kita harus menganggap segala sesuatu sebagai rugi, mempersembahkan segala sesuatu di atas altar, dan menantikan Allah dan bertindak sesuai dengan perintah-Nya.
- Agar kita dapat berjalan di jalur yang benar, kita harus berhati-hati dengan orang-orang religius yang tidak mempunyai pengertian rohani, yang tidak mengenal Allah.