Pastor Jeremiah Zhang | 1 Raja-Raja 12:26-31 |

Bermula dari pasal 12 dari kitab 1 Raja-Raja, Israel terpecah menjadi negara Selatan dan Utara. Itu terjadi di sekitar tahun 930 SM. Negara bagian selatan adalah kerajaan Yehuda. Mengapa dipanggil Yehuda? Karena kebanyakan dari penduduk di bagian selatan adalah dari suku Yehuda dengan sekelompok kecil yang dari suku Benyamin. Negara bagian Utara adalah kerajaan Israel yang terdiri dari 10 suku yang lainnya. Dari titik ini, kita harus membedakan Yehuda dari Israel. Setiap kali saya menyebut “umat Yehuda”, itu berarti penduduk dari bagian selatan. “Umat Israel” berarti penduduk dari bagian utara. Dengan cara yang sama, saat saya berkata Israel, itu berarti negara bagian utara.

Kitab Raja-Raja adalah sejarah negara Utara dan Selatan dari Israel. Kita dapat mempelajari banyak sekali pelajaran spiritual dari sejarah kedua negara ini – terutama kehidupan raja-raja Israel dan Yehuda. Saat kita mempelajari kehidupan raja-raja Israel dan Yehuda, kita harus merujuk ke 2 Tawarikh. Dalam cara ini, kita akan memperoleh gambaran yang lebih lengkap. Kitab 2 Tawarikah melengkapi kitab 1 Raja-Raja. Hari kita kita akan meneruskan untuk membaca dari 1 Raja-Raja 12. Kita pada utamanya akan berbicara tentang pribadi Yerobeam.

Berdasarkan statistik kemunculan kata, nama Yerobeam muncul sebanyak 69 kali di kedua kitab 1 dan 2 Raja-Raja. Namanya tidak saja muncul di pasal-pasal 11-14 di 1 Raja-Raja tapi juga di tempat lain di dalam kitab Raja-Raja. Contohnya, 24 dari 69 kali kemunculan ada di 2 Raja-Raja. Sebagai perbandingan, nama Salomo hanya muncul sebanyak 4 kali di 2 Raja-Raja. Dari perbandingan ini kita bisa melihat bahwa Yerobeam adalah sosok yang penting. Jika tidak, Alkitab tidak akan begitu sering menyebutnya. Seberapa pentingnya Yerobeam? Kita dapat melihat suatu contoh di 1 Raja-Raja 16:25-26

1 Raja-Raja 16:25-26 Omri melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan ia melakukan kejahatan lebih dari pada segala orang yang mendahuluinya. Ia hidup menurut segala tingkah laku Yerobeam bin Nebat dan menurut dosa Yerobeam yang mengakibatkan orang Israel berdosa pula, sehingga mereka menimbulkan sakit hati TUHAN, Allah Israel, dengan dewa-dewa kesia-siaan mereka.

Ini adalah evaluasi yang Alkitab berikan pada raja Israel yang bernama Omri: dia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dan ia melakukan kejahatan lebih dari pada segala orang yang mendahuluinya. Kejahatan seperti apa yang dilakukan oleh Omri? Perhatikan ayat 26, Alkitab memakai “Ia hidup menurut segala tingkah laku Yerobeam” untuk menggambarkan kejahatan yang telah dilakukan oleh Omri. Yerobeam menjadi kebalikan dari Daud. Daud adalah orang yang sangat menyukakan hati Allah. Alkitab menjadikan Daud teladan bagi semua raja-raja Israel. Namun, Yerobeam merupakan kebalikannya. Dia menjadi perwakilan dari raja-raja Israel yang melakukan kejahatan dan menimbulkan murka Allah. Kita harus dengan jelas melihat permasalahan Yerobeam agar kita tidak secara tanpa disadari mengikuti teladannya. Kita harus mengikuti teladannya Daud – mengasihi Allah Yahweh dengan segenap hati dan akal budi kita, berjalan bersama Allah. Dan pada waktu yang bersamaan kita harus tahu bagaimana untuk menghindar dari melakukan kejahatan yang diperbuat oleh Yerobeam. Apakah kejahatan besar yang telah diperbuat oleh Yerobeam yang membuat Alkitab memakainya sebagai contoh orang yang melakukan kejahatan? Inilah persoalan yang akan kita bahas hari ini.

Saat bangsa Israel memberontak melawan Rehabeam, Yerobeam menjadi raja mereka. Apakah hal pertama yang Yerobeam lakukan setelah dia menjadi raja Israel? Mari kita membaca 2 Tawarikh 11:13-15 

2 Tawarikh 11:13-15 Para imam dan orang Lewi di seluruh Israel datang menggabungkan diri dengan dia dari daerah-daerah kediaman mereka. Sebab orang Lewi meninggalkan tanah penggembalaan dan milik mereka, lalu pergi ke Yehuda dan Yerusalem, oleh karena Yerobeam dan anak-anaknya melarang mereka memegang jabatan imam TUHAN, dan mengangkat bagi dirinya imam-imam untuk bukit-bukit pengorbanan untuk jin-jin dan untuk anak-anak lembu jantan yang dibuatnya.

Tidak lama setelah Yerobeam menjadi raja Israel, dia melakukan 2 hal yang jahat:

Dia tidak mengizinkan para imam dan orang Lewi untuk melayani Allah;

Dia membuat anak-anak lembu jantan sebagai berhala dan mendirikan bukit-bukit pengorbanan bagi dirinya dan mengangkat bagi dirinya imam-imam menurut kehendaknya sendiri. Dia bahkan mengangkat dirinya sebagai imam besar. 

Mengapa orang yang dipilih oleh Allah berubah menjadi begitu kacau? Mengapa dia begitu cepat meninggalkan Allah Yahweh dan berpaling menyembah berhala? Yerobeam tahu bahwa adalah lewat kemurahan Allah dia dapat menjadi raja Israel. Mengapa dia berani memberontak melawan perintah Allah dan membangun suatu sistem penyembahan berhala berserta para imamnya? Apakah karena dia tidak tahu bahwa hanya para imam dan orang-orang Lewi yang diizinkan untuk melayani Allah? Untuk memahami mengapa Yerobeam melakukan semua itu, kita harus melihat di 1 Raja-Raja 12:26-31:

1 Raja-Raja 12:26-31 Maka berkatalah Yerobeam dalam hatinya: “Kini mungkin kerajaan itu kembali kepada keluarga Daud. Jika bangsa itu pergi mempersembahkan korban sembelihan di rumah TUHAN di Yerusalem, maka tentulah hati bangsa ini akan berbalik kepada tuan mereka, yaitu Rehabeam, raja Yehuda, kemudian mereka akan membunuh aku dan akan kembali ke Rehabeam, raja Yehuda.” Sesudah menimbang-nimbang, maka raja membuat dua anak lembu jantan dari emas dan ia berkata kepada mereka: “Sudah cukup lamanya kamu pergi ke Yerusalem. Hai Israel, lihatlah sekarang allah-allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.” Lalu ia menaruh lembu yang satu di Betel dan yang lain di tempatkannya di Dan. Maka hal itu menyebabkan orang berdosa, sebab rakyat pergi ke Betel menyembah patung yang satu dan ke Dan menyembah patung yang lain. Ia membuat juga kuil-kuil di atas bukit-bukit pengorbanan, dan mengangkat imam-imam dari kalangan rakyat yang bukan dari bani Lewi.

Yerobeam melakukan semua itu bukan karena ketidak-tahuan tapi untuk mengamankan takhtanya. Bangsa Israel memandang pada Yerusalem sebagai tempat kudus karena bait Allah ada di sana. Setelah Israel terpecah, setiap suku dari negari bagian utara tetap pergi ke Yerusalem seperti biasa untuk menyembah Allah Yahweh dan mempersembahkan korban padaNya. Umat Israel begitu merindukan Yerusalem dan Bait Suci, hal ini membuat Yerobeam merasa tidak aman. Dia khawatir bahwa bangsa Israel akan bersatu dengan orang Yehuda sekali lagi. Jika hal itu terjadi, maka di akan kehilangan takhtanya. Nyawanya juga mungkin akan melayang karena dia telah memberontak melawan Rehabeam.

Untuk mengamankan statusnya, Yerobeam memulai serangkaian “reformasi religius”. Tujuannya adalah untuk membuat orang Israel tidak lagi pergi ke Yerusalem. Jadi dia membuat dua anak lembu emas. Satu dia tempatkan di Betel (kota paling selatan dari negarai Utara); dan satu lagi di Dan (kota yang terletak di bagian utara Israel dan berdekatan dengan Gunung Hermon). Jerobeam mendirikan kuil-kuil untuk anak-anak lembu dan membuat bukit-bukit pengorbanan. Dan, tanpa izin, dia mengangkat orang-orang umum, dan bukan orang-orang Lewi, untuk menjadi imam-imam.

Yerobeam menyebut kedua anak lembu emas itu “allah-allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!” Dia bukannya mau mengajarkan bangsa Israel untuk menyembah berhala. Di dalam benaknya, kedua anak lembu emas itu adalah allah-allah orang Israel. Kemungkinan dia mengira bahwa Allah adalah maha hadir. Dan karena Israel sudah terpecah menajdi dua, dia mengira bahwa negara bagian utara juga boleh membangunkan bait suci untuk Allah. Supaya bangsa Israel boleh menyembah Allah di negara bagian utara. Dan baginya, bagaimanapun mereka semua menyembah Allah yang sama.

Yerobeam melakukan semua itu supaya orang Israel tidak lagi ke Yerusalem untuk menyembah Yahweh. Jika mereka bisa menyembah Allah Yahweh di Betel dan Dan, mengapa mereka harus pergi jauh-jauh untuk ke Yerusalem untuk menyembah Allah? Dengan berbuat demikian, Yerobeam telah membingungkan orang Israel. Dia memakai anak-anak lembu emas untuk menggantikan Allah dan membuat orang banyak berpaling dari Yahweh yang kekal tanpa mereka menyadari bahwa mereka telah menyembah berhala. Tentu saja, pada awalnya, bukan tujuan Yerobeam untuk membawa orang menjauhi Allah, apa yang diperbuatnya merupakan suatu upaya politis untuk memisahkan umat Israel dari umat Yehuda. Namun, reformasi religiusnya pada akhirnya membuat bangsa Isarel meninggalkan Allah dan jatuh ke dalam dosa. Hal ini terjadi karena Yerobeam telah memakai hikmat manusia untuk memerintah Israel, tidak memimpin mereka sesuai dengan kehendak Allah. Apakah konsekuensi dari reformasi religius yang dilakukan oleh Yerobeam?

Pertama-tama, reformasi religius ini menimbulkan penentangan dan ketidak-puasan dari para imam dan orang-orang Lewi. Mereka semua menolak untuk menyembah anak-anak lembu emas yang didirikan oleh Yerobeam. Dan Yerobeam juga tidak mengizinkan mereka untuk menyembah Allah sesuai dengan ketetapan Allah dan tradisi. Itulah alasan mengapa di 2 Tawarikh 11:13-14 dikatakan bahwa Yerobeam tidak mengizinkan para imam dan orang-orang Lewi untuk menyembah Allah Yahweh. Jadi para imam dan orang-orang Lewi tidak mempunyai pilihan lain kecuali meninggalkan Israel untuk tinggal di Yerusalem.

Yang kedua, tujuan dari reformasi religius yang dimulai oleh Yerobeam adalah untuk melemahkan kekuasaan Rehabeam. Namun tanpa diduganya, yang terjadi malah sebaliknya, kerajaan Yehuda malah diberkati. Mari kita membaca di 2 Tawarikh 11:16-17:

2 Tawarikh 11:16-17 Dari segenap suku Israel orang datang ke Yerusalem mengikuti orang-orang Lewi itu, yakni orang yang telah membulatkan hatinya untuk mencari TUHAN Allah Israel; dan mereka datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka. Demikianlah mereka memperkokoh kerajaan Yehuda dan memperkuat pemerintahan Rehabeam bin Salomo selama tiga tahun, karena selama tiga tahun mereka hidup mengikuti jejak Daud dan Salomo.

Reformasi religius Yerobeam memaksa banyak orang-orang saleh dari Israel yang mengikuti para imam dan orang-orang Lewi untuk berpindah ke Yerusalem. Orang-orang yang saleh ini berkumpul di Yerusalem. Mereka mendatangkan kebangkitan rohani di Yerusalem karena mereka telah memutuskan untuk membulatkan hati mengikuti ajaran-ajaran Daud dan Salomo. Sebagai hasilnya, kerajaan Yehuda diperkuat. Hal ini merupakan sesuatu yang tak diduga oleh Yerobeam. Hal yang menyedihkan adalah bahwa kebangkitan rohani ini tidak berlangsung lama, hanya sekitar tiga tahun saja.

Hal yang ketiga, reformasi religius Yerobeam mengakibatkan kerajaan Israel (negara utara) jatuh ke dalam bencana spiritual. Saat semua orang yang takut akan Allah Yahweh meninggalkan Israel, kondisi spiritual negara utara menurun secara drastis. Hal ini sangat kentara. Walaupun keadaan spiritual kerajaan Yehuda juga tidak terlalu bagus, tapi situasi pada umumnya masih lebih baik dari kerajaan Israel. Kerajaan Yehuda masih dari waktu ke waktu menghadirkan satu dua raja yang takut pada Allah. Namun, raja-raja Israel semakin hari semakin parah. Kejahatan mereka semakin hari semakin serius. Itulah alasan mengapa negara utara binasa 136 tahun lebih dulu dari negara selatan. Karena Allah Yahweh sudah tidak dapat menolerirnya.

Yang keempat, reformasi religius Yerobeam membuat bangsa Israel jatuh ke dalam dosa. Orang-orang yang tidak akrab dengan perintah-perintah Allah telah disesatkan oleh reformasi religius Yerobeam untuk menyembah anak-anak lembu emas. Yerobeam menjadi imam palsu yang membawa bangsa Israel ke dalam kesesatan. Jadi setiap kali, kitab Raja-Raja menyebut tentang Yerobeam, dia dikutuk sebagai orang yang membuat Israel jatuh ke dalam dosa. Jadi kita dapat melihat betapa besarnya akibat negatif yang diakibatkan oleh reformasi religius ini.

Yang kelima, reformasi religius Yerobeam membuat hubungan di antara negara utara dan selatan menjadi semakin tegang. Allah memberikan 10 suku kepada Yerobeam. Namun, itu tidak berarti bahwa Allah menginginkan kedua negara itu berperang. Kemunculan nabi Semaya untuk menghentikan Rehabeam dari mengirim angkatan perang melawan negara utara mengungkapkan bagi kita kehendak Allah. Allah mengambil 10 suku ini dari keturunan Daud karena Salomo tidak mendengarkan perintah-perintahNya. Allah mau mengajarkan pada raja-raja Israel bahwa mereka harus mengandalkan pada Allah untuk mendirikan kerajaan mereka dan juga untuk memperkokohkan kerajaan mereka. Jadi kehendak Allah bukanlah untuk negara utara dan selatan untuk saling berperang dan membunuh. Tapi reformasi agama yang dilakukan oleh Yerobeam membuat rakyat kedua negara itu tidak lagi bersosialisasi. Reformasi ini telah menabur benih kejahatan yang akan menyebabkan pertarungan tanpa berkesudahan di antara kedua negara ini.

Melalui peristiwa reformasi agama ini, kita dapat melihat seperti apa sosok Yerobeam ini. Dia tidak takut pada Allah, tidak menaati perintah dan ketetapan Allah, dia hanya mementingkan dirinya sendiri. Dia hanya melayani diri, bukannya melayani Allah yang kekal. Dia melakukan semuanya itu hanya untuk mengamankan kepentingannya. Dia tidak mengasihi Allah dengan segenap akal budi dan hatinya, dia juga tidak peduli tentang rakyatnya. Jadi, Allah sangat murka dengannya. Kitab Raja-Raja seringkali memakai Yerobeam untuk menggambarkan raja-raja Israel yang melakukan kejahatan. Karena semua raja-raja yang melakukan kejahatan adalah seperti Yerobeam yang tidak takut pada Allah, sangat egois dan menyalah-gunakan otoritas yang telah Allah berikan untuk memuaskan keinginan mereka sendiri.

Setiap hamba Tuhan harus menarik pelajaran dari Yerobeam. Dia orang yang dipilih Allah. Tanpa pertolongan Allah, tidaklah mungkin baginya untuk menjadi raja Israel. Allah memberikan kepadanya 10 suku Israel dan juga kekuasaan untuk memerintahkan bangsa Israel. Namun, setelah dia menjadi raja Israel, dia tidak mengandalkan Allah. Bukankah Allah telah memberikan kepadanya semuanya itu? Tidakkah Allah Yahweh dapat mengamankan takhtanya bagi dia? Mengapa dia tidak bergantung pada Allah dan malah berpaling untuk mengandalkan hikmat manusia? Mengapa Yerobeam menjadi sedemikian bodoh?

Alasannya sangat sederhana. Karena dia hanya melayani dirinya sendiri. Dia menyembah berhala di dalam hatinya, dan berhala itu adalah dirinya sendiri. Segala sesuatu yang dia lakukan adalah demi manfaat dirinya sendiri. Tujuan di balik pembuatan anak lembu emas adalah untuk memastikan orang Israel tetap berada di negara utara. Supaya mereka tidak akan merindukan Yerusalem dan bergaul dengan orang-orang yang berada di negara selatan. Semua itu dilakukan olehnya karena dorongan hatinya yang egois. Namun, dia memakai alasan religius untuk menutupi motivasi hatinya yang sebenarnya. Hal ini sama seperti banyak politisi di Amerika. Mereka seringkali memakai Kekristenan dan nama Allah untuk mempromosikan kebijakan mereka tapi motivasi yang sebenarnya adalah demi diri mereka sendiri.

Batu ujian yang paling baik untuk menguji integritas sejati seseorang adalah kekuasaan. Saat seorang memiliki otoritas yang tanpa batas, natur aslinya akan terlihat. Yerobeam adalah potret yang menggambarkan banyak hamba Tuhan. Sebagai hamba Tuhan, kita harus sangat-sangat berhati-hati dalam menjalankan otoritas yang telah Allah berikan pada kita. Otoritas ini diberikan kepada kita untuk membangun jemaat. Otoritas ini tidak boleh sama sekali dipakai untuk memperoleh manfaat pribadi. Banyak hamba Tuhan yang benar-benar dipilih oleh Allah, dan Allah juga memberkati pekerjaan yang telah mereka lakukan. Namun, saat pelayanan mereka berhasil dan jemaat menjadi semakin besar, iman mereka kepada Allah mulai berubah. Fokus mereka beralih pada kekuasaan dan status. Sama seperti Yerobeam, mereka mulai memakai hikmat manusia untuk memperkuat status dan kekuasaan. Mereka mengambil alih jemaat Allah untuk menjadi milik mereka sendiri. Mereka menjadi tuan dan pemilik jemaat. Jemaat di dalam gereja menjadi harta milik pribadi mereka. Mereka “memerintah” gereja sesuai dengan keinginan dan sepenuhnya mengabaikan kehendak Allah. Untuk mengamankan status mereka sendiri, mereka akan memakai cara-cara dunia untuk mengusir, memfitnah dan menyerang teman sepelayanan yang lain. Alasan mereka memecahkan gereja adalah karena perebutan kekuasaan. Dan yang terjadi setelah perebutan kekuasaan adalah kemunduran kehidupan spiritual gereja. Kehidupan gereja menjadi semakin parah dari satu angkatan ke angkatan yang lain.

Para hamba Tuhan harus sangat sangat berhati-hati dalam menjalankan otoritas yang telah Allah berikan pada mereka. Mereka harus memimpin umat-Nya sesuai dengan kehendak Allah, mereka tidak boleh sekali kali mengambil umat Allah dan menjadikan mereka harta milik mereka pribadi. Allah-lah yang telah memberikan pada mereka otoritas untuk melayani gereja-Nya, mereka harus mengandalkan Dia setiap waktu untuk melayani-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Hanya saat kita mengandalkan Allah, pekerjaan kita dapat menyenangkan Allah Yahweh.

Apa yang Yerobeam lakukan bukanlah karena dia tidak tahu, dia dengan sengaja berbuat dosa. Nabi Ahia telah memberitahu Yerobeam bahwa Allah memberikan kepadanya 10 suku karena Salomo tidak berjalan di jalannya Allah dan tidak menepati perintah dan ketetapan Allah. Salomo tidak melakukan apa yang benar di mata Allah. Mari kita baca di 11:37-38:

1 Raja-Raja 11:37-38 Maka engkau ini akan Kuambil, supaya engkau memerintah atas segala yang dikehendaki hatimu dan menjadi raja atas Israel. Dan jika engkau mendengarkan segala yang Kuperintahkan kepadamu dan hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan melakukan apa yang benar di mataKu dengan tetap mengikuti segala ketetapan dan perintahKu seperti yang telah dilakukan oleh hambaKu Daud, maka Aku akan menyertai engkau dan Aku akan membangunkan bagimu suatu keluarga yang teguh seperti yang Kubangunkan bagi Daud, dan Aku akan memberikan orang Israel kepadamu.”

Di ayat 37, Allah berjanji pada Yerobeam bahwa Yerobeam akan memerintah dan menjadi raja Israel sesuai dengan kehendak hatinya. Sedemikian besar otoritas yang telah diberikan Allah! Namun, otoritas ini bukan tanpa syarat. Yerobeam harus mengikuti teladan Daud, mendengarkan perintah Allah, menaati perintah dan ketetapan Allah serta melakukan apa yang benar di hadapan Allah. Dengan demikian dia akan dengan benar menjalankan otoritas yang Allah berikan. Allah juga mengingatnya untuk tunduk hanya pada-Nya, dengan demikian Allah akan bersertanya dan menjadikan kerajaannya bertahan. Tidak ada alasan bagi kegagalan Yerobeam karena Allah telah memberikan peringatan kepadanya jauh sebelum itu, tapi dia tidak mengingat kata-kata Allah di dalam hatinya.

Yerobeam lupa bahwa otoritas dan statusnya itu diberikan oleh Allah. Setelah dia mendapatkan takhtanya, dia memakai hikmat manusia untuk memperkuat kekuasaannya. Berhadapan dengan kekuasaan dan status, Yerobeam gagal karena dia tidak menyimpan pengajaran Allah di dalam hatinya. Yerobeam berulang kalli disebut di dalam kitab Raja-Raja sebagai peringatan agar kita tidak mengikuti jejaknya. Kiranya kita tidak akan melupakan teladan buruk Yerobeam. Bagaimana Alkitab menilai kehidupan Yerobeam? Mari kita baca di 1 Raja-Raja 13:33-34:

1 Raja-Raja 13:33-34 Sesudah peristiwa ini pun Yerobeam tidak berbalik dari kelakuannya yang jahat itu, tetapi mengangkat pula imam-imam dari kalangan rakyat untuk bukit-bukit pengorbanan. Siapa yang mau saja, ditahbiskannya menjadi imam untuk bukit-bukit pengorbanan. Dan tindakan itu menjadi dosa bagi keluarga Yerobeam, sehingga mereka dilenyapkan dan dipunahkan dari muka bumi.

“Sesudah peristiwa ini” merujuk pada peristiwa di mana seorang nabi yang namanya tidak kita ketahui memberikan peringatan dan menghukum Yerobeam di dalam nama Allah Yahweh. Kita akan membicarakan tentang nabi ini di kesempatan yang lain. Kedua ayat ini memberitahu kita bahwa Yerobeam dari awal sampai akhir tidak bertobat dari kejahatannya. Walaupun dia tahu bahwa Allah tidak senang dengan apa yang telah dia lakukan, tetapi demi kekuasaan dan mafaat dirinya sendiri, dia tanpa ragu-ragu dan dengan keras kepala terus memilih jalannya sendiri untuk melakukan reformasi agama. Dengan demikian dia mengutamakan kepentingan dirinya di atas Allah dan bangsa Israel. Yerobeam bekerja keras memakai hikmat manusia untuk memperkuat kerajaannya. Namun, dia tidak menyangka bahwa pada akhirnya, seluruh keluarganya dilenyapkan dan tidak ada satu pun keturunannya yang duduk di atas takhta. Situasi ini mengingatkan saya dengan Mazmur 127:1:

Mazmur 127:1 Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.

Kiranya kita semua menjadi orang bijaksana yang mengandalkan Allah dalam segala yang kita kerjakan!

 

Berikan Komentar Anda: