SC Chuah |

Salah satu nas Alkitab tentang Yesus yang paling indah adalah Filipi 2:6-11. Namun, sayang sekali, ini juga merupakan salah satu ayat yang paling disalahpahami karena pengaruh ajaran trinitarian. Tafsir (dan terjemahan ayat ini, khususnya 2:6) telah menjadikannya sebagai teks bukti untuk membela keilahian Yesus. Banyak orang tidak sadar bahwa tafsir trinitarian atas teks ini adalah hasil dari membaca ke dalam teks apa yang tidak dikatakan teks. Dengan kata lain, tafsir trinitarian atas nas ini didasari oleh beberapa asumsi yang telah ditetapkan sebelumnya.

Menurut trinitarian nas ini membandingkan kemuliaan Kristus yang praeksisten dan peninggian pasca-kebangkitan dengan penghinaan yang dialaminya semasa di dunia. Pergerakannya dapat dibandingkan seperti sebuah parabola: dari surga ia merendahkan dirinya sampai ke titik terbawah di bumi dalam kematian, yaitu kematian di kayu salib, kemudian ditinggikan kembali ke tempat asal di surga sebagai “Tu[h]an”. Namun, apakah tafsir ini tepat? Apakah ada tafsir alternatif yang lebih koheren dengan kesaksian Alkitab secara keseluruhan?

Artikel ini bertujuan untuk menyampaikan tafsir alternatif yang memiliki koherensi yang jauh lebih baik dengan Alkitab. Untuk berbuat demikian, ada dua hal yang harus diluruskan terlebih dulu, yaitu terjemahan kata Yunani harpagmos dan makna “rupa Allah” di Filipi 2:6. Apakah tepat harpagmos diterjemahkan sebagai “dipertahankan”?  Apakah “rupa Allah” dapat diartikan sebagai “Allah” begitu saja? Kapan Allah memiliki “rupa”?

Pertama, terjemahan untuk kata Yunani harpagmos. Berikut terjemahan untuk Filipi 2:6 yang dikenal kebanyakan orang:

yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan

Berikut pula, terjemahan ILT Edisi ke-2:

dia, yang meskipun ada dalam rupa Elohim (Allah), tidak menganggap bahwa menjadi setara dengan Allah adalah sesuatu yang harus dirampas.

Dua terjemahan di atas mengatakan dua hal yang bukan saja berbeda, malah bertentangan! Kita “mempertahankan” apa yang sudah kita miliki, dan kita “merampas” apa yang belum kita miliki. Yang mana satu yang benar? Apakah Yesus memiliki kesetaraan dengan Allah atau tidak? Menurut terjemahan LAI, “ya”, menurut terjemahan ILT, “tidak”. Hal inilah yang perlu ditetapkan dengan tepat dan jujur.

Kata benda atau nomina harpagmos hanya muncul satu kali dalam Alkitab, yaitu di Filipi 2:6. Oleh karena itu makna dari kata itu tidak dapat sepenuhnya ditentukan dari  konteks ayat ini. Kamus Liddell & Scott, yang didasarkan pada seluruh literatur Yunani, mendefinikan harpagmos sebagai, robbery, rape, prize to be grasped (“perampasan”, “pemerkosaan”, “hadiah yang harus diraih”). Definisi yang ketiga yang diberikan oleh Liddell & Scott itu didasari hanya oleh Filipi 2:6, dan tidak ada contoh lain yang diberikan. Dengan kata lain, dari seluruh sumber literatur Yunani yang ada, kata harpagmos tidak dimengerti sebagai “mempertahankan sesuatu yang telah dimiliki” kecuali di Filipi 2:6! Doktrin trinitarian telah menciptakan makna yang baru untuk kata harpagmos! Hal ini dapat dikonfirmasi dengan melihat setiap kamus Yunani yang ada. Penulis artikel telah menyimak lexicon Friberg, Louw-Nida, Thayer, BDAG, LEH, TDNT, EDNT untuk memastikan bahwa makna utama bagi kata tersebut adalah “merampas”, dan makna “mempertahankan” itu sengaja diciptakan hanya untuk Filipi 2:6. Para pembaca yang memiliki software Bibleworks dapat dengan mudah mengonfirmasi pernyataan tegas ini.

Untuk meletakkan perkara ini diluar persoalan, kita menyimak kata kerja/verba dari harpagmos, yaitu harpazo. Menurut ahli bahasa Yunani Rolf Furuli, “Ketika kata nomina dengan akhiran –mos dibentuk dari satu kata kerja, ia menjadi nomina verbal yang melibatkan aktivitas dari kata kerja itu”. Contohnya, kata benda “rampasan” berasal dari aktivitas perbuatan “rampas”, atau “cucian” berasal dari “cuci”. Kata harpagmos tergolong dalam kata seperti itu. Lalu, apakah artinya harpazo di dalam Perjanjian Baru? Kata harpazo muncul 40 kali dalam Septuaginta, dan 14 kali dalam Perjanjian Baru. Tidak sekali pun kata itu mengandung arti “mempertahankan” sesuatu yang telah dimiliki sebelumnya. Sebaliknya, kata itu berarti, merampas, merampok, atau mengambil sesuatu (seringkali dengan kekerasan) yang belum dimiliki seseorang. Bagi yang ingin melihat bukti, tetapi tidak dapat mengakses data, berikut semua ayat Perjanjian Baru yang mengandung kata harpazo:

Matius 11:12, … Kerajaan Surga diserbu dan orang yang menyerbunya mencoba merebutnya (harpazo).

Matius 12:29, Atau bagaimanakah orang dapat memasuki rumah seorang yang kuat dan merampas (harpazo) harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu? Sesudah diikatnya barulah ia dapat merampok (diarpazo) rumah itu.

Matius 13:19 … datanglah si jahat dan merampas (harpazo) yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan.

Yohanes 6:15  Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa dia dengan paksa (harpazo) untuk menjadikan dia raja …

Yohanes 10:12, … sehingga serigala itu menerkam (harpazo) dan mencerai-beraikan domba-domba itu.

Yohanes 10:28,  … dan seorang pun tidak akan merebut (harpazo) mereka dari tanganku.

Yohanes 10:29,  … seorang pun tidak dapat merebut (harpazo)mereka dari tangan Bapa.

Kisah 8:39,  Setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba membawa (harpazo) Filipus pergi …

Kisah 23:10,  … ia memerintahkan pasukan untuk turun ke bawah dan mengambil (harpazo) Paulus dari tengah-tengah mereka dan membawanya ke markas.

2 Korintus 12:2, 4 …  orang itu tiba-tiba diangkat (harpazo)ke tingkat yang ketiga dari surga. … ia tiba-tiba diangkat (harpazo)ke Firdaus …

1 Tesalonika 4:17, sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat (harpazo) bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa.

Yudas 1:23,  selamatkanlah mereka dengan jalan merampas (harpazo) mereka dari api.

Wahyu 12:5, tiba-tiba Anaknya itu dirampas (harpazo) dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya.

Perhatikan bahwa tidak sekali pun kata harpazo mengandung arti “mempertahankan” atau “mengenggam”. Berdasarkan bukti yang demikian jelas, penulis sangat berharap tidak ada orang lagi yang mau memperjuangkan kesetaraan Yesus dengan Allah, karena kata harpagmos justru mengatakan yang sebaliknya, yaitu Yesus tidak setara dengan Allah. (bdk. Yoh 14:28, “Bapa lebih besar daripada aku”.) Kebenaran itu jauh lebih penting dari doktrin kesayangan kita. [lihat Catatan Tambahan di bawah]

Setelah meluruskan terjemahan harpagmos dan memutuskan terjemahan yang tepat adalah terjemahan ILT-Edisi 2, kita sekarang berada di posisi yang lebih baik untuk memahami istilah “rupa Allah”:

dia, yang meskipun ada dalam rupa Elohim (Allah), tidak menganggap bahwa menjadi setara dengan Allah adalah sesuatu yang harus dirampas.

Jika Yesus tidak setara dengan Allah, lalu apakah artinya ada dalam “rupa Allah”? Pembahasan di atas telah menyingkirkan kemungkinan bahwa “rupa Allah” dapat begitu saja diartikan sebagai “Allah”. Lagipula, jika “rupa Allah” adalah “Allah”, mengapa Paulus tidak mengatakannya dengan jelas, “dia, yang meskipun adalah Allah”? Mengapa ditambah kata “rupa” sehingga merepotkan kita? Dari mana pula tiba-tiba timbul konsep ini, bahwa Kristus ada dalam “rupa Allah”? Dalam kenyataannya, istilah “rupa Allah” merupakan sebuah kiasan kepada Adam, yang diciptakan dalam “gambar dan rupa” Allah! Dengan kata lain, nas yang melatarbelakangi Filipi 2:6-7 adalah Kejadian pasal 1-3. Filipi 2:6-11 sebenarnya paling baik dipahami sebagai sebuah ekspresi dari Kristologi Adam, yang menguasai pemikiran Paulus tentang Kristus, sebagai Adam yang kedua dan yang akhir, yang tampil untuk membatalkan efek dari perbuatan Adam yang pertama.

Kita tidak akan membahas ayat selanjutnya ayat 7-11. Namun, sebuah rangkuman singkat oleh Prof. James D.G. Dunn akan sangat mencukupi untuk menegaskan bahwa Kristologi Adam merupakan cara yang terbaik untuk memahami Filipi 2:6-11.

“2:6a—dalam rupa Allah; (Bdk. Kej 1:27—“menurut gambar-Nya.”)
“2:6bc—dicobai untuk merampas kesetaraan dengan Allah; (Bdk. Kej 3:5—“kamu akan menjadi seperti Allah.”)
“2:7— mengambil rupa seorang hamba [kepada kebinasaan dan dosa]; (Bdk. Hik 2:23; Rm 8:3,18-21; 1Kor 15:42,47-49; Gal 4:3-4; Ibr 2:7a,9a,15.)
“2:8— taat sampai mati; (Bdk. Kej 2:17; 3:22-24; Hik 2:24; Rm 5:12-21; 7:7-11; 1Kor 15:21-22.)
“2:9-11—ditinggikan dan dimuliakan. (Bdk. Mzm 8:5b-6; 1Kor 15:27,45; Ibr 2:7b-8,9b.)

Paulus di Filipi 2:6-7 sedang membandingkan Adam yang pertama dan Kristus, Adam yang kedua. Adam yang pertama jatuh ke dalam dosa justru karena ia berusaha merampas kesetaraan dengan Allah (Kej 3:5, “kamu akan menjadi seperti Allah”). Di satu sisi, Adam yang kedua, sama seperti Adam yang pertama, berada di dalam “rupa Allah”, tetapi di sisi yang lain, Adam yang kedua berbeda dari Adam yang pertama, karena tidak seperti Adam yang pertama, ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah merupakan sesuatu yang perlu dirampas, yakni melalui sebuah tindak pelanggaran seperti yang dilakukan Adam yang pertama. Kristus berhadapan dengan pilihan dasar yang sama yang dihadapi Adam, tetapi dia tidak memilih seperti Adam (untuk merampas kesetaraan dengan Allah). Sebaliknya ia memilih untuk mengosongkan dirinya dari kemuliaan Adam dan merangkul nasib Adam, yaitu nasib yang dialami Adam dan seluruh umat manusia karena hukuman.  Yesus memilih untuk merangkul kematian yang dialami Adam sebagai hukuman. Jadi, seluruh nas di Filipi 2:6-11 adalah tentang ketaatan Kristus versus ketidaktaatan Adam. (Rm 5:19)

Banyak orang tidak menyadari bahwa figur Adam dan peristiwa kejatuhan di Kejadian 1-3 sangat mempengaruhi cara Paulus berteologi, khususnya ketika berbicara tentang kondisi manusia secara umum (Rm 1:18-25, 5:12-19, 7:7-11, 8:19-22), dan solusinya, yaitu Kristus (Rm 5, 1Kor 15:21dst., dan kutipan-kutipan dari Mzm 8:6). Adam dan peristiwa kejatuhan di Kejadian 1-3 sering dirujuk tanpa disebut secara terang-terangan. Di Filipi 2:6-11, meskipun nama Adam tidak disebut, tetapi dialah yang melatarbelakangi seluruh nas itu.

Kristus yang digambarkan di Filipi 2:6-11 adalah manusia yang membatalkan kesalahan Adam: berhadapan dengan pilihan yang sama, ia menolak dosa Adam, tetapi sebaliknya mengikuti perjalanan Adam sebagai manusia yang telah jatuh sampai berakhir dalam kematian.

Akhirnya, kita harus perhatikan mengapa Filipi 2:6-11 ditulis. Ayat 5 mengatakan:

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus…

Jika “rupa Allah” adalah Allah, dan “mengosongkan” diri berarti melepaskan hak-hak ilahi atau hal-hal semacam itu, bagaimana mungkin tindakan Kristus ini dapat menjadi teladan bagi kita? Namun, jika mengosongkan diri tidak ada kaitannya dengan hak-hak atau sifat-sifat ilahi, Yesus sesungguhnya merupakan teladan bagi kita, sebagaimana dicontohkan Paulus bagi kita di Filipi 2:17 beberapa ayat kemudian:

Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada kurban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian.

Mengosongkan diri dan mencurahkan darah, dalam konteks kehidupan manusia, tidaklah terlalu berbeda artinya.

 

Catatan Tambahan 1

Kebanyakan terjemahan Inggris modern menerjemahkan kata harpagmos dengan kata grasp, contohnya, “a thing to be grasped” (ESV, NAS). Tampaknya kata ini sengaja dipilih karena kata ini mengandung ambiguitas (bermakna ganda, taksa). Kata grasp bisa bermakna mengenggam sesuatu yang sudah dimiliki, atau mengulurkan tangan untuk meraih sesuatu. Namun, apakah kata Yunani harpagmos (dan harpazo) mengandung ambiguitas seperti ini? Semua kamus Yunani mendefinisikan harpagmos sebagai the act of seizing or the thing seized, yaitu “tindakan merampas atau barang rampasan”. Dalam kenyataannya, kata harpagmos dan harpazo tidak mengandung ambiguitas sama sekali. Namun, kamus-kamus Yunani yang rata-rata disusun oleh orang Kristen menolak definisi ini untuk Filipi 2:6 karena dinilai tidak cocok dan mustahil. Mengapa? Karena tidak cocok dengan doktrin trinitaris! Tidak ada hubungannya dengan ilmu linguistik yang tepat. Lalu definisi seperti to grasp, to hold on to something (mengenggam, mempertahanan sesuatu) ditambahkan untuk disesuaikan dengan praanggapan trinitarian atas Filipi 2:6, dan dengan mengutip Filipi 2:6 sebagai satu-satunya bukti bagi definisi tersebut!

Berikut sebuah ilustrasi fiktif: pertimbangkan kalimat berikut ini, “Nenek itu menampar cucunya.” Semua orang Indonesia mengerti kata “menampar” dalam kalimat tersebut. Namun, datang beberapa orang bule yang tidak dapat menerima arti kalimat itu sebagaimana dimengerti oleh orang Indonesia karena mereka menganggap tidak mungkin seorang nenek mau menampar cucunya. Lalu, mereka memikirkan arti yang lebih masuk akal menurut praanggapan mereka, yaitu “mencium”, dan menerjemahkan kalimat itu sebagai The grandmother kiss her grandson. Kemudian mereka menambahkan definisi kiss ke dalam kamus Indonesia-Inggris. Seribu tahun kemudian, kata “tampar” Indonesia dapat diartikan sebagai kiss berdasarkan satu kalimat itu!

Kita harus memberikan salut kepada para penerjemah ILT karena mereka, sekalipun trinitarian, pada kesempatan ini tidak membiarkan dogma mempengaruhi terjemahan mereka. Pada ayat ini, mereka bertindak sesuai nama mereka, yaitu “Indonesian LITERAL Translation.”

Catatan tambahan 2: “rupa” (morphe) dan “gambar” (eikon) memiliki arti leksikal yang sama. (The Thelogy of Paul the Apostle, James D.G. Dunn, 281-285)