Pastor Eric Chang | Matius 2:2 |

Matius 2:1-12, berbunyi seperti ini:

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia.” Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka (yaitu, para orang majus). Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.  Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.


Berpola Pikir Rohani adalah Persoalan antara Hidup dan Mati

Hari ini apa yang ingin saya sampaikan dapat dirangkum dengan kata-kata dari Roma 8:6:

“Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.”

Perhatikan baik-baik kata-kata dari Alkitab ini: “Keinginan daging adalah maut.” Sebaliknya, “…keinginan Roh” —  keinginan pada perkara-perkara rohani, pada Allah sendiri —  “adalah hidup dan damai sejahtera.”

Paulus sedang memperingatkan orang-orang Kristen di Roma, “Jika kamu, sebagai orang Kristen, mengikuti keinginan daging, yaitu jika kamu dikuasai oleh kedagingan, kau akan mati. Akan tetapi, jika kamu memusatkan pikiranmu pada perkara-perkara yang berasal dari Allah, perkara-perkara rohani, keinginan Roh, itulah kehidupan dan itulah damai sejahtera.”

Paulus bukan saja sedang berbicara tentang kehidupan, melainkan hidup yang berkelimpahan. Hidup yang berkelimpahan, berarti kita mengalami kepenuhan dan kelimpahan rohani. Atau, apakah kehidupan rohani kita itu penuh dengan pergumulan? Apakah Anda mengalami kepenuhan dari kehidupan Kristen? Atau, apakah Anda bergumul dari hari ke hari, tidak tahu entah apakah Anda akan bisa bertahan atau tidak? Persoalannya terletak pada pola pikir Anda, apakah rohani atau dikuasai kedagingan. Jika Anda tidak berpola pikir rohani, Anda bukan saja tidak akan mampu bertahan, Anda akan mati! Berpola pikir duniawi berarti mati! Akan tetapi, berpola pikir rohani berarti “hidup dan damai sejahtera.” Di sini “damai sejahtera” melambangkan seluruh kepenuhan kehidupan Kristen.

Orang duniawi tidak dapat memahami Matius 2:2. Sebenarnya, isi seluruh Alkitab tidak akan bisa Anda pahami jika Anda berpola pikir duniawi.

Menjadi seorang Kristen berarti terjadinya suatu perubahan yang mendasar. Menjadi seorang Kristen bukannya berarti menerima beberapa doktrin tertentu. Anda baru menjadi Kristen bilamana pola pikir Anda berubah dari  yang  duniawi menjadi yang rohani. Paulus menekankan hal ini di Roma 12,  “Berubahlah oleh pembaharuan budimu, karena hanya dengan menjadi orang yang berpola pikir rohani, engkau bisa mengenali hidup, yaitu kehidupan rohani, kehidupan kekal dan damai sejahtera.”

Anda akan berkata, “Matius 2 ini berbicara tentang beberapa orang majus yang datang dari timur dan menyembah Yesus. Apa yang susah dipahami dari bagian ini?” Namun, tahukah Anda arti dari semua itu? Mengapa orang-orang bijak non-Yahudi ini datang untuk menyembah raja orang Yahudi, suatu tindakan yang tentunya merupakan tindak pengkhianatan terhadap negeri mereka sendiri? Apa yang akan terjadi jika Anda pergi dan sujud kepada raja negeri asing? Hal itu akan dipandang sebagai pengkhianatan. Kesetiaan Anda seharusnya diberikan kepada raja Anda sendiri. Orang-orang itu adalah orang asing. Ini merupakan suatu masalah, bukankah demikian?

Lagi, bagaimana mereka tahu bahwa mereka harus menyembah Yesus yang pada saat itu hanya seorang bayi di palungan? Bayi itu tidak tinggal di istana. Bagaimana mereka tahu bahwa dia adalah seorang raja? Pesan semacam apa yang mereka dapat? Bagaimana mereka mengetahui semua itu? Daftar pertanyaan ini dapat dilanjutkan. Hal apa yang dinyatakan oleh bintang itu? Apa arti dari bintang ini? Adakah bukti-bukti astronomis bagi keberadaan bintang ini? Jika memang demikian, apakah itu? Jika Anda mulai memikirkan semua pertanyaan ini, Anda akan mulai memahami persoalannya. Dapatkah Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut? Anda tidak akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, jika Anda belum “berpola pikir rohani”. Hanya jika seluruh pola pikir Anda mulai berubah, barulah Anda dapat menjawabnya.

Inilah poin pertama: Sebenarnya hal transformasi pola pikir ini merupakan persoalan hidup dan mati. Transformasi pola pikir itu bukan hanya supaya kita memahami isi Alkitab, melainkan supaya firman kehidupan itu dapat masuk ke dalam hati kita dan hidup Allah menjadi milik kita. Apa gunanya datang menyembah Allah jika kita tidak memiliki hidup! Hal ini akan menjadi semacam rutinitas tradisional yang sentimental. Sangat penting bagi kita untuk memahami bahwa berpola pikir duniawi atau rohani adalah persoalan hidup dan mati.


Alkitab, Membuat Cendekiawan Frustrasi

Saat Anda baca Alkitab,  Anda akan mendapati hal yang luar biasa: Alkitab merupakan buku yang sepenuhnya rohani. Alkitab adalah Allah, yang adalah Roh, yang berbicara kepada kita! Alkitab bersifat sangat rohani dan hal ini membuat begitu banyak cendekiawan frustrasi. Sifat Alkitab yang rohani terlihat dalam fakta bahwa hal-hal manusiawi yang muncul dari keingintahuan manusia tidak dicantumkan. Sebagai contoh, satu-satunya hal yang kita ketahui tentang orang-orang majus ini adalah bahwa mereka berasal dari timur. Timur itu wilayah yang luas, lantas timur yang mana? Apakah Jepang, atau China, atau Rusia? Apakah mereka dari Persia, Babilonia, Asyur atau Arab? Tidak diberitahukan pada kita. Hal ini membuat kita penasaran dan frustrasi, bukankah begitu?

Alkitab tidak berminat dengan hal-hal manusiawi yang menarik perhatian dan kemelitan kita. Masalahnya, kita juga tidak tertarik dengan hal-hal yang diminati Alkitab yang sifatnya rohani.

Kita, sebagai orang Kristen, berada dalam posisi yang canggung ketika orang non-Kristen bertanya, “Pada tahun berapakah Yesus lahir?” Dapatkah Anda memberikan jawaban yang spesifik? Kapan Yesus dilahirkan? Tidak perlu mencari tanggal dan bulannya; kita cari tahunnya saja. Tahun berapa? Yah, mungkin sekitar 7 SM, 9 SM atau 4 SM. Anda meneliti kamus Alkitab, apa jawabannya? Kamus tidak bisa memberitahu Anda apa-apa. Tentu saja, gereja sangat frustrasi karena tidak dapat menjelaskan dengan pasti tahun kelahiran Yesus. Namun, setidaknya Anda bisa memberitahu orang lain tentang harinya. Aha! Tanggal 25 Desember! Namun, saat Anda meneliti isi Encyclopedia Britannica, Anda akan sangat terkejut karena ternyata Yesus juga tidak lahir pada 25 Desember! Lalu, apa yang kita ketahui tentang kelahirannya? Setidaknya saya tahu dia lahir di Bethlehem. Persisnya, bagian mana dari Bethlehem? Kita tidak tahu.

Lalu, seperti apa rupanya Yesus? Mungkinkah tingginya sekitar 155cm? Anda berkata, “Tidak, terlalu pendek!” OK, naikkan! Tingginya 185cm. Anda berkata, “Terlalu tinggi!” Tidak ada yang tahu seberapa tingginya dia.  “OK, mungkin kita tahu seperti apa rupanya.” Tidak, kita tidak tahu tentang itu juga. “Mungkin dia berambut panjang?” Tidak, karena orang Yahudi tidak memelihara rambut panjang. “Jadi, tentunya rambut pendek? Seberapa pendek? “Yah, kita tetapkan yang medium saja.” Lalu, apa warna rambutnya? Apa warna matanya? Warna kulitnya? Anda berkata, “Mengapa Lukas, Markus dan Matius tidak memberi kita sebuah gambaran?”

Ada pepatah Asia yang berbunyi seperti berikut, “Lebih baik melihat sesuatu sekali saja, daripada mendengarnya ribuan kali.”. “Hai Matius, mengapa Anda tidak menggambarkan seperti apa Yesus itu! Jika ada gambarannya, mudahlah kami membayangkannya. ” Apakah dia memiliki wajah yang lancip, persegi atau bulat? Kalau saja Matius menggambarkannya buat kita dan di samping gambar itu ada keterangannya, “Nah, Yesus tingginya 172cm dan matanya berwarna coklat gelap; rambutnya coklat kemerahan; dan kulitnya kecoklatan, mungkin seperti warna zaitun?” Namun sayangnya, Matius tidak memberi tahu kita apa-apa.  Begitu juga dengan Lukas, Markus dan Yohanes. Sangat membuat frustrasi! Manusia duniawi berjuang untuk mencaritahu perincian jasmani seperti itu.

Jangan khawatir! Anda hanya perlu pergi ke toko buku Kristen dan lihat! Apa yang Anda temukan di sana? Gambar Yesus! Sangat bagus! Seperti apa rupanya? Tentu saja, dia terlihat seperti orang Eropa! Bukan itu saja! Yesus terlihat seperti orang Eropa dari abad ke 17, rambut panjang dan jenggot yang lancip. Itulah gayanya pada zaman itu.

Bukankah hal-hal semacam ini membuat kita frustrasi? Manusia duniawi ingin mengetahui hal-hal yang tidak ingin disampaikan oleh Allah kepada kita! Ujilah diri Anda sendiri untuk melihat apakah Anda orang yang rohani atau Anda orang yang duniawi. Apakah hal-hal yang disebutkan di atas itu mengganggu pikiran Anda? Orang yang rohani sama sekali tidak berminat dengan hal-hal tersebut. Bukankah itu luar biasa? Paulus tidak berminat untuk mengetahui hal-hal seperti berapa tingginya Yesus dan apa warna rambutnya.ini. Paulus akan berkata, “Aku tidak mau tahu hal itu.” Di 2 Korintus 5:16, Paulus berkata,

“Karena itu, sejak sekarang kami tidak mengenali seorang pun menurut keadaan lahiriahnya. Meskipun kami pernah mengenal Kristus secara lahiriah, tetapi sekarang kami tidak lagi menilai-Nya seperti itu.”

Saat Anda menerima kado, apa yang Anda lakukan? Apakah Anda berkata, “Oh, sungguh indah bungkus kado yang kau berikan padaku! Pita yang cantik! Aku sungguh bahagia!” Apakah Anda berkata, “Terima kasih. Bungkusannya sangat indah!” Dan saat ditanya, “Tidakkah kamu ingin membukanya?” Anda berkata, “Oh, tidak, tidak, aku sudah puas dengan kotaknya. Kotaknya sungguh indah. Sungguh cantik! Aku bahagia hanya dengan melihat kotaknya.” Atau apakah Anda akan seperti kebanyakan orang, Anda segera merobek bungkusnya untuk bisa cepat-cepat melihat isinya? Tentu saja, yang penting adalah apa yang ada di dalamnya, bukan luarnya. Anda tahu bagaimana bertindak dalam urusan jasmani! Lalu, mengapa kita tidak tahu bagaimana bertindak dengan cara yang sama dalam hal rohani? Kita ingin tahu dengan kemasan seperti apa Yesus datang ke dunia: “Apakah dengan dihiasi pita? Apakah kertas pembungkusnya indah?” Paulus berkata, “Aku tidak mau tahu hal itu! Aku tidak peduli seperti apa tampilan luarnya. Yang terpenting adalah yang di dalam —  yang rohani!”

Isi Alkitab secara keseluruhannya bersifat rohani! Jika Anda mencari pemahaman duniawi, di tingkat manusiawi, Anda akan benar-benar frustrasi.  Di toko buku Kristen Anda akan menemukan banyak sekali buku berukuran besar yang membahas tentang “Pengantar Perjanjian Baru.” Buku yang mengandung pembahasan panjang lebar mengenai hal seperti kapan surat Roma ditulis, atau kapan 1 Korintus ditulis. Apakah surat Roma ditulis pada tahun 52 atau 53? Ada pembahasan yang panjang tentang argumen untuk setiap tanggal itu. Saya kenal beberapa pakar yang menghabiskan sepanjang hidupnya hanya untuk mempelajari masalah ini dan tak pernah sampai pada suatu kesimpulan. Jika penting bagi kita untuk mengetahui apakah surat Roma ditulis pada tahun 62 atau 58, tidakkah Paulus akan menuliskannya? Namun, ia tidak memberitahu kita. Para pakar menghabiskan banyak waktu mempelajari hal-hal semacam ini dan tak pernah sampai pada kesimpulan. Oleh karena pola pikir kita duniawi, kita telah menyimpang dari intinya.


Tanpa pola pikir rohani, Injil bisa Menjadi Batu Sandungan

Ada hal yang lebih buruk lagi. Tanpa pola pikir yang rohani, kita bukan saja tidak memahami isi Firman Allah, kita malah akan tersinggung dengan pesan Injil. Hal inilah yang sangat membuat saya bimbang. Jika Anda berpola pikir duniawi, Anda akan binasa. Anda akan mati! Cepat atau lambat, Anda akan tersandung dengan Injil. Percayalah! Saya berbicara berdasarkan pengalaman selama puluhan tahun melayani Tuhan. Inilah bagian yang paling merisaukan saya. Beberapa orang sudah tersandung dengan Injil. Hal ini sangat menakutkan saya.

Bahkan pada saat kita berpikir tentang hal-hal yang rohani, kita menurunkannya ke level duniawi. Kita menggambarkan Yesus yang selalu berjalan dengan senyum di wajahnya, dia selalu lemah lembut dan rendah hati dan ramah. Bukankah Yesus berkata, “Belajarlah padaku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan jiwamu akan mendapat ketenangan”? (Mat 11:29) Akan tetapi, kita tidak tahu makna rohani dari kerendahan hati dan kelemahlembutan. Ketika membaca tentang Yesus masuk ke Bait Allah dan membuat pecut dari tali-tali dan mencambuki orang-orang, mengusir mereka keluar dari Bait Allah, kita jadi tersinggung. “Hei! Tidak boleh Yesus berperilaku seperti ini! Kita jadi tersinggung. Kita tidak suka. Banyak orang yang sangat terkejut peristiwa ini.  Mereka tidak dapat menerima Yesus mengusir para pedagang keluar dari Bait Allah dan menjungkirbalikkan meja-meja mereka. Apakah hal itu terlihat lemah lembut dan rendah hati dan ramah bagi Anda? Itu lebih terlihat sebagai hal yang keras dan menakutkan. Jadi, kita tersentak. Mengapa? Karena tindakan Yesus tidak sesuai dengan gambaran kita tentang manusia rohani.

Manusia rohani itu rendah hati dan lemah lembut. Akan tetapi, itu tidak berarti kemarahan Allah tidak bisa membakar jiwanya. Tidak ada hal yang lebih menakutkan dari kemarahan orang kudus. Bagi kita, orang Kristen yang ideal adalah orang yang rendah hati dan lemah lembut, tetapi Yesus berperilaku seperti orang yang otoriter, sangat keras dan menakutkan. Saya bersyukur kepada Allah karena Yesus bukanlah orang lemah. Dia membela kebenaran pada saat kebenaran perlu dibela. Ingatlah, Yahweh adalah Allah yang pengasih, tetapi Dia bisa juga meluapkan kemarahan dan murka-Nya!

Alkitab memberitahu kita: “Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup.” [Ibr. 10:31] Sekarang kita bingung. Kita memikirkan Allah sebagai Allah yang pengasih dan kita menyanyikan lagu-lagu rohani yang manis untuk Dia, tetapi mendadak kita melihat kemarahan-Nya dan hal itu sangat menakutkan, dan kita menjadi bingung. Manusia duniawi tidak bisa memahami hal ini. Kita tidak suka pada Allah yang menakutkan di dalam kekudusan-Nya. Jika Anda tidak berpola pikir rohani, cepat atau lambat Anda akan tersinggung dengan Injil. Anda akan berkata, “Aku tidak suka ini.” Atau, Anda akan melihat manusia-manusia Allah dan Anda akan tersinggung dengan cara mereka berperilaku karena Anda tidak bisa memahami seorang manusia rohani.

Sudah sering saya memimpin PA tentang kitab Kisah Para Rasul dan sering saya mengamati bagaimana orang-orang menyerang Paulus. Menurut mereka, Paulus sangat keras kepala, dogmatik dan bahkan membingungkan banyak orang. Sebagai contoh, saat ia bertekad untuk ke Yerusalem, dia tidak mengindahkan permohonan dari rekan-rekan sekerja dan sesama orang Kristen. Dalam hal ini, dia terlihat sangat tidak bisa dipahami, nekad dan dogmatik. Kita berpikir demikian karena kita tidak memiliki kerohanian yang setingkat Paulus. Orang-orang rohani memang tidak selalu mudah untuk dipahami. Namun, kita pikir kita tahu seperti apa seorang manusia rohani itu. Saya selalu ingat dengan jelas saat di dalam sebuah PA ketika seseorang mengkritik Paulus tentang perilakunya yang tak bisa dipahami dan keras kepala. Saya berkata, “Sabar dulu, sobat. Perlahan! Saat Anda menjadi rohani seperti Paulus, maka nilailah dia. Sebelum itu, jangan mengatakan apa-apa. Jangan bicara apa-apa!”

Paulus adalah hamba Allah yang penuh dengan kasih dan sukacita. Akan tetapi, bagaimana dia menangani orang yang berbuat dosa di jemaat Korintus? Di 1 Korintus pasal 5,  tampaknya Paulus dogmatik dan keras! Menakutkan! Ia berkata kepada jemaat di Korintus, tanpa peduli apakah orang-orang di Korintus itu akan setuju atau tidak , “Sekalipun secara badani aku tidak hadir dan hadir secara rohani saja, aku menyerahkan orang ini ke dalam tangan iblis agar binasa tubuhnya.” [ay.3-5] Banyak orang Kristen tersinggung dengan hal ini! Bagaimana mungkin seorang hamba Allah berperilaku seperti ini? Menyerahkan seseorang ke tangan Iblis? Agar tubuhnya binasa? Percayalah, tanpa memiliki pola pikir  yang rohani, Anda akan merasa tersinggung oleh Injil. Anda akan merasa tersinggung oleh manusia-manusia Allah karena Anda tidak bisa memahami tindakan mereka! Itu karena Anda menempatkan mereka dan menilai mereka di level manusia dan memandang mereka menurut kaca mata Anda yang duniawi.

Paulus melanjutkan di 2 Korintus pasal 5 dengan mengatakan, “Bukan saja kami tidak lagi menilai Yesus menurut ukuran manusia, tetapi kami juga tidak melihat manusia –  tak seorang pun –  menurut ukuran manusia.” (ay 16) Jika Paulus melihat Anda, ia tidak akan tertarik dengan gaya rambut Anda. Ia tidak tertarik dengan jenis kaca mata yang Anda kenakan, apakah kalung Anda bagus atau tidak. Ia melihat langsung ke dalam hati Anda. Ia ingin tahu, “Apakah pola pikirmu rohani? Apakah Roh Kudus dari Allah hidup di dalam kamu?”

Berpola pikir rohani merupakan pokok yang paling mendasar untuk memahami Yesus Kristus. Tanpa pola pikir yang rohani kita tidak dapat memahami perbuatan dan ucapannya. Murid-murid Yesus menentangnya di  Yohanes 6. Ketika Yesus berkata kepada murid-muridnya dan kepada orang banyak, “Jika engkau ingin hidup, makanlah dagingku dan minumlah darahku.” Wah, darah dan daging!! Saya mengenal seseorang yang akan muntah dan pingsan jika dia mendengar tentang darah. “Minumlah darahku!” Murid-murid berkata, “Nah, ini sudah keterlaluan! Kami tidak sanggup lagi. Ini sudah berlebihan.” Demikianlah, murid-murid meninggalkannya. Kita tidak bisa memahami Yesus. Dia terlalu rohani bagi kita. Kita tidak bisa memahami ucapannya. Tentu saja, dia tidak bermaksud mengatakan, “Gigitlah tanganku,” tetapi mereka tidak bisa memahami hal itu karena pola pikir mereka yang duniawi. Mereka berpikir, “Dia pasti bermaksud agar kita membawanya ke dapur dan memotongnya.” Menjijikkan! Mereka tidak tahan. Pola pikir yang sangat duniawi! Mereka tidak dapat memahami Firman Allah dan akhirnya tidak lagi mengikut Yesus.


‘Bintang’ itu Membuat Bingung banyak orang

Tapi apakah kita memahami Matius pasal 2? Mari kita mulai dengan mengamati beberapa poin di sini. Pertama-tama, di ayat 2 disebutkan “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia“. Apa yang dilakukan oleh penafsir Alkitab? Mereka mengusahakan penjelasan yang manusiawi tentang bintang tersebut. 

Anda tentu pernah melihat bintang tersebut di dalam ribuan poster dan gambar-gambar pada waktu Natal. Kartu ucapan Natal yang menggambarkan tiga orang bijak sedang menunggang tiga ekor unta dan membawa tiga macam hadiah dan dengan mahkota mereka. Dan tentu saja, ada sebuah bintang dengan garis yang menunjuk ke bawah, benar?

Inilah apa yang dikatakan oleh J.C. Fenton dalam tafsiran tentang Matius di dalam seri Pelican, “Mungkin terdapat beberapa rujukan mengenai hal ini di Matius, yaitu rujukan pada peristiwa konjungsi antara Saturnus dan Yupiter.” Pada tahun 7 SM dua buah bintang besar, Saturnus dan Yupiter berada dalam satu garis. Mereka melintas atau bersilangan satu dengan yang lain. “Jadi, jika keduanya diamati dari bumi, yang terlihat adalah satu bintang, dan mungkin sinar mereka menjadi berlipat ganda terangnya.”  Jadi, untuk beberapa saat bintang tersebut akan terlihat lebih terang, dua kali lebih terang dari awalnya. Jadi, J.C. Fenton mengatakan, “Mungkin terdapat beberapa rujukan pada konjungsi ini di Matius” —  perhatikan bahwa dia ragu-ragu dan tidak pasti.

Dictionary of New Testament Theology, karya tulis yang banyak menjadi acuan juga menungkapkan ketidakpastian yang sama. Sekalipun mereka tidak yakin apakah bintang ini sesuatu yang ajaib atau alami, si penulis tetap memilih peristiwa konjungsi Yupiter dan Saturnus sebagai penjelasan. Mengapa ia memilih yang alami ketimbang yang ajaib? Silahkan Anda cari jawabannya. 

Edersheim, seorang cendekiawan yang terhormat dan ternama, orang yang terpelajar, dan orang yang sangat saya hormati, apa yang ia katakan? Edersheim juga terbawa arus pemikiran tentang konjungsi antara Yupiter dan Saturnus. Namun, sebagai orang yang terpelajar, seperti halnya dengan para cendekiawan lainnya, dia tidak yakin dan dia menyadari masalah serius yang menyangkut peristiwa konjungsi antara Yupiter dan Saturnus pada tahun 7 SM ini.

Konjungsi antara Yupiter dan Saturnus ini ditemukan oleh seorang astronom terkenal dari Jerman, Johannes Kepler pada abad 17 karena ia hidup pada masa terjadinya konjungsi tersebut. Konjungsi antara Yupiter dan Saturnus di rasi bintang Pisces, yaitu rasi bintang ikan, terjadi setiap 800 tahun sekali. Jadi, pada zaman Johannes Kepler pada sekitar tahun 1600-an, dia bisa menyaksikan sendiri peristiwa konjungsi itu. Namun, jika terdapat makna yang penting dari peristiwa konjungsi itu pada masa kelahiran Yesus, mengapa peristiwa konjungsi itu tidak memiliki makna yang penting pada masa Kepler? Apa penjelasannya?

Namun, masih ada masalah tambahan lagi, dan masalah itu terangkum di dalam lagu rohani ini, “We Three Kings of Orient Are (Kami Adalah Tiga Raja Dari Timur).” Baitnya berbunyi: “Star with royal beauty bright, westward leading, still proceeding, guide us to thy perfect light (Bintang bersinar agung yang indah, menunjukkan jalan ke barat, terus bergerak, memimpin kami pada terangmu yang sempurna).” [Ditulis oleh John H. Hopkins, Jr.] Anda mungkin bukanlah seorang pakar astronomi, dan saya juga bukan, tetapi kita semua tahu bahwa semua bintang bergerak dari timur ke barat, sama seperti matahari, sama seperti bulan. Menyebutkan tentang bintang yang memimpin jalan ke barat tidak ada maknanya sama sekali karena semua bintang mengarah ke barat. Anda bisa saja mengikuti bulan; ia akan memimpin jalan Anda ke barat, sama dengan yang lainnya. Atau mengikuti matahari; ia terbit di timur dan terbenam di barat. Secara sederhana: Bintang atau matahari terlihat bergerak, tapi sebenarnya yang bergerak adalah bumi. Bumi berputar pada porosnya. Jika Anda mengamati langit, Anda akan melihat bahwa semua benda di angkasa tampaknya bergerak. Bumi berputar dengan kecepatan lebih dari 1000 mil per jam, dan dengan demikian menyelesaikan satu putaran dalam 24 jam, karena lingkarnya berjarak sekitar 25.000 mil. Jadi, segala sesuatunya bergerak dari timur ke barat. Menyebutkan bahwa sang bintang memimpin jalan ke barat tidak ada artinya sama sekali.

Hal yang menjadi persoalan yang utama adalah bahwa bintang itu tidak memimpin jalan dari timur ke barat; ia memimpin jalan dari utara ke selatan! Satu-satunya kejadian di mana ‘bintang’ itu memimpin jalan adalah ketika ia mendahului orang-orang ini di ayat 9 menuju Bethlehem. Itulah satu-satunya saat yang disebutkan di dalam Alkitab bahwa bintang itu mendahului mereka. Bintang yang pernah mereka lihat di timur, sekarang mereka lihat lagi! Apakah ini merupakan konjungsi antara Yupiter dan Saturnus yang kedua? Mungkin saja. Bisa jadi. Namun, ia tidak mungkin memimpin jalan mereka menuju ke selatan! Kepler, astronom hebat itu, cukup menyadari persoalan ini, jadi ia mengeklaim bahwa ia telah melihat sebuah bintang temporer. Anda hanya perlu memeriksa peta di dalam Alkitab untuk melihat bahwa Yerusalem terletak di utara Bethlehem. Anda harus berjalan ke arah selatan untuk pergi ke Bethlehem. Tak ada bintang alami di langit yang memimpin jalan ke selatan. Di sanalah letak persoalannya. Itu sebabnya mengapa para pakar itu bersikap ragu-ragu. Mereka menyadari persoalan ini.

Kemudian, kita melanjutkan dengan memeriksa New Bible Dictionary. Kamus ini menawarkan tiga kemungkinan. Urusan ini telah berkembang menjadi semakin membingungkan dan memusingkan, bukankah demikian? Inilah usulan yang diberikan oleh New Bible Dictionary. Pertama, bintang itu adalah komet Halley. Komet adalah bintang yang berekor yang bergerak. Komet Halley telah berkali-kali menampakkan dirinya. Para astronom bisa memastikan bahwa komet ini pernah tampak di langit bumi pada tahun 11 SM. Tak ada komet lain pada tahun 4 SM. Satu-satunya masalah adalah persoalan kronologi. Tanggal-tanggal tersebut tidak cocok dengan Perjanjian Baru.

Usulan kedua adalah, sekali lagi, konjungsi antara Yupiter dan Saturnus, tetapi New Bible Dictionary juga memberi petunjuk tentang persoalan yang menyangkut peristiwa konjungsi ini. Bahwa peristiwa ini berlangsung dalam waktu yang sangat, sangat singkat. Ini berarti Anda akan kesulitan untuk melihatnya, kecuali jika Anda memang sudah berniat untuk mengamatinya. Kedua, seperti yang diungkapkan oleh New Bible Dictionary,  peristiwa konjungsi bintang tidak bisa diungkapkan dengan istilah ‘bintang’ sebagaimana Perjanjian Baru menyebutkannya. Orang-orang bijak ini adalah pakar perbintangan. Mereka tidak akan membuat kesalahan dengan memakai istilah bintang dalam bentuk tunggal bagi peristiwa konjungsi, yang melibatkan lebih dari satu bintang.

Alternatif yang ketiga adalah peristiwa supernova. Tahukah Anda apa itu supernova? Supernova adalah kejadian di mana sebuah bintang mendadak menjadi sangat terang, dan untuk waktu yang singkat, cahayanya mendominasi langit pada malam hari, dan kemudian meredup dan menjadi semakin redup dan gelap. Ini merupakan sebuah usulan yang sangat menarik —  sebuah supernova! Namun, bagaimana sebuah supernova bisa memimpin jalan? Tidak ada orang yang pernah melihat supernova, bahkan pada zaman ketika teleskop sudah ditemukan sekalipun, tak ada orang yang pernah melihat supernova. Dengan kata lain, ini baru merupakan suatu teori yang masih perlu diuji secara empiris. Namun, sekalipun Anda bisa meneguhkannya secara empiris, dengan cara apa sebuah supernova bisa memimpin jalan menuju ke arah selatan?

Untuk apa saya membicarakan semua ini? Saya ingin menunjukkan bahwa jika kita mencoba untuk memahami perkara-perkara yang berasal dari Allah dengan pemahaman duniawi, kita akan terjerumus ke dalam berbagai persoalan. Mari kita akui hal ini. Kesimpulan yang dapat kita tarik dari apa yang disampaikan oleh para pakar astronomi adalah bahwa ada banyak peristiwa luar angkasa yang terjadi di masa kelahiran Yesus. Ini adalah fakta. Terjadi banyak peristiwa luar angkasa yang berkaitan dengan perbintangan. Pada tahun 11 SM, ada komet Halley. Pada tahun 7 SM, ada 3 kali peristiwa konjungsi antara Yupiter dan Saturnus. Tentu saja, ada beberapa peristiwa  yang luar biasa, tetapi bagaimana kita memahami bintang ini?

Cendekiawan modern, Profesor Eduard Schweizer dari Zurich, berkata dalam tafsirannya tentang kitab Matius, “Ini adalah bintang ajaib.” Sebuah bintang ajaib! Percuma berbicara tentang Yupiter dan Saturnus, tentang supernova dan yang lainnya. Dia mengakui bahwa ini adalah bintang yang ajaib. Tak ada cara lain untuk menjelaskan tentang hal ini.


Apa yang dikatakan oleh Alkitab tentang bintang ini

Apa bukti-bukti Alkitab tentang bintang ini? Bintang ini sangat menarik! Bintang ini pertama kali terlihat di timur, mungkin di Persia. Akan tetapi, Alkitab tidak memuaskan rasa ingin tahu kita dengan menyebutkan tempat yang pasti. Ia tidak mengarahkan kita ke informasi duniawi yang kita inginkan karena ia ingin mengarahkan perhatian kita pada perkara-perkara rohani! Alkitab bahkan tidak memberitahu kita dari mana asal orang-orang majus ini. Ia bisa saja menuliskannya, tetapi tidak! Tidak menjadi soal dari mana mereka berasal.

Bintang ini pertama kali terlihat di timur, mungkin sekitar dua tahun sebelum kedatangan orang-orang majus ini di Yerusalem. Kemungkinan dua tahun karena di ayat 16 kita diberitahu bahwa Herodes membunuh semua bayi yang berusia dua tahun ke bawah. Tak ada alasan untuk melakukan hal ini, kecuali jika dia sudah memperhitungkan waktu yang diceritakan oleh para orang majus ini tentang kapan pertama kali mereka melihat bintang itu, bintang itu muncul sekitar dua tahun sebelumnya. Hal itu, tentu saja, menimbulkan masalah bagi peristiwa konjungsi Yupiter dan Saturnus. Ada tiga kali peristiwa konjungsi di tahun 7 SM antara Yupiter dan Saturnus. Peristiwa ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat, tidak ada peristiwa konjungsi yang berlangsung sampai setahun, apalagi sampai dua tahun.

Kedua, ayat 9 mengatakan, “Bintang yang pernah mereka lihat di timur sekarang terlihat lagi.” Bintang yang sama. Sungguh menarik! Terlebih lagi, kali ini, bintang itu tidak mengarah ke barat; ia mengarah ke selatan! Bintang apa yang bisa seperti itu?

Ketiga, jika Anda perhatikan dengan teliti catatan Alkitab, bintang ini berhenti di atas rumah tempat Yesus berada. Pernahkah Anda melihat bintang yang bisa berhenti dalam pergerakannya? Bisa bergerak dan berhenti, bergerak dan berhenti? Bintang macam apa ini?

Keempat, bintang ini bisa menunjukkan rumah tempat Yesus berada. Saya mau mengundang Anda untuk berdiri di luar. Pandang ke atas dan lihat apakah sebuah bintang dapat menunjukkan suatu tempat tertentu. Anda akan benar-benar kesulitan, karena saya sudah melakukannya sekadar untuk membuktikan bagi diri saya sendiri. Saya mengamati langit untuk mengetahui apakah saya bisa memastikan bahwa apakah saya bisa berdiri tepat di bawah satu bintang tertentu. Jika menurut Anda memakai bintang sebagai patokan ternyata sulit, cobalah pakai bulan. Anda akan mendapati bahwa bulan terlihat sangatlah besar, jauh lebih besar daripada bintang, dan tentunya akan menjadi lebih mudah. Apakah Anda bisa memastikan apakah bulan sedang berada di atas sebuah rumah tertentu, atau mungkin sedang berada di atas sebuah wilayah tertentu?

Namun bintang ini —  yang jauh lebih kecil daripada bulan dan jauh lebih tinggi daripada bulan —  bisa menunjukkan satu rumah tertentu. Wah! Benar-benar luar biasa!


Dapatkah kita Menerima Keajaiban?

Apakah kita merasa tersinggung dengan cara Allah melakukan pekerjaan-Nya? Haruskah kita mencocokkan semua itu dengan pola pikir duniawi kita, dan ketika semuanya ternyata tidak cocok, kita berkata, “Lupakan saja!” Hal itulah, pada kenyataannya, yang dilakukan oleh G.H. Box dalam Hastings’ Dictionary of Christ and the Gospels, buku yang banyak menjadi rujukan. Inilah yang dikatakan oleh G.H. Box, “Tidak perlu kita berusaha memahami bintang ini secara harfiah. Ini hanya sebuah ungkapan puitis tentang sesuatu peristiwa.” Apa yang diungkapkan lewat ungkapan puitis ini tentang cara bagaimana Allah memimpin jalan mereka? Lalu, bagaimana cara Allah memimpin mereka? Jika ayat-ayat ini hanya gambaran puitis dari cara tersebut, lalu bagaimana gambaran harfiahnya? Tentu saja tidak ada jawaban.

Dapatkah Anda lihat bahayanya berpola pikir duniawi? Box menyerah, namun ia masih tidak mau mengakui ciri-ciri ajaib dari bintang ini. Saya heran, mengapa watak alami manusia begitu menentang perkara-perkara yang berasal dari Allah? Setidaknya, para pakar yang lain mengakui ketidakpastian mereka. Mereka berkata, “Mungkin ini atau itu…”, mereka tidak yakin karena mereka menyadari akan persoalan yang mengikutinya.  Akan tetapi,l Box menggambarkan bahwa semuanya itu hanyalah ungkapan puitis dan sebuah ilusi. Jadi, ada beberapa orang “bijak” yang dibimbing oleh ilusi. Ilusi yang luar biasa yang dapat mereka lihat secara bersama-sama dan bisa memimpin mereka ke hadapan Kristus!


Jalan Allah itu Ajaib dan tidak bisa dipahami, tetapi kita bisa Mengalaminya

Saya percaya kepada Allah karena saya telah mengalami Dia sebagai kenyataan, saya tahu bahwa Dia hidup. Saya telah menyaksikan jalan-jalan-Nya yang ajaib yang tidak bisa saya pahami. Saya menjadi Kristen dalam penjara Komunis. Saya dibebaskan dari penjara tersebut. Sampai dengan hari ini, saya tidak bisa memberikan penjelasan yang masuk akal tentang pembebasan saya. Saya telah mencoba untuk memahaminya. Saya tidak mendapatkan penjelasan yang masuk akal mengapa Allah menjumpai saya di dalam penjara, dan kemudian membebaskan saya ketika saya berpaling kepada-Nya. Dia mengeluarkan saya dengan cara-Nya yang ajaib. Jika Anda menanyai saya dan mendesak saya untuk menjelaskannya secara nalar, saya tidak bisa memberikan penjelasan apa-apa. Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Apakah Anda percaya kepada Allah yang mengerjakan perkara-perkara yang ajaib? Saya percaya pada Allah yang ajaib. Saya percaya pada Allah yang tidak terikat pada hukum-hukum alam, yang mengerjakan perkara-perkara yang ajaib!

Jika Anda tidak percaya akan hal ini, janganlah menjadi orang Kristen, karena tidak akan ada hal di dalam PB yang masuk akal bagi Anda. Tidak ada hal di sana yang bisa Anda pahami dengan pola pikir duniawi. Yesus menyembuhkan orang buta. Dapatkah Anda menemukan penjelasan alamiah akan hal ini? Jika Anda mengetahui tentang anatomi, dapatkah Anda menjelaskan bagaimana mata yang buta bisa melihat kembali? Dapatkah Anda menjelaskannya? Yesus membangkitkan orang mati. Adakah peralatan yang bisa membangkitkan lagi orang yang sudah mati? Dapatkah Anda menemukan penjelasan ilmiahnya? Yesus dilahirkan oleh Maria, seorang perawan. Dapatkah Anda memahaminya? Dapatkah Anda memahami bagaimana seorang perempuan bisa mengandung oleh kuasa Roh Kudus? Tak masuk akal! Bagian mana dari PB yang masuk akal bagi Anda? Ada banyak mukjizat yang tidak bisa Anda pahami. Bagian tentang Yesus berjalan di atas air di danau Galilea, apakah itu mungkin? Tentu saja kedatangannya penuh dengan makna penting, tetapi satu-satunya jalan untuk bisa memahaminya adalah: itu semua adalah pekerjaan Allah!

Jika Anda melakukan kilas balik, bagaimana Anda menjadi Kristen? Perkara ajaib lagi! Menjadi seorang Kristen bukan sekadar perkara berganti kredo, melepaskan agama tertentu dan memeluk agama Kristen, atau sekadar melepaskan satu ajaran filsafat untuk menerima ajaran filsafat yang lain. Anda bisa melakukan semua itu tanpa melibatkan kuasa Allah sama sekali, tetapi itu bukanlah hal menjadi seorang Kristen. Jika Anda menjadi seorang Kristen hanya dengan berkata, “OK, aku melepaskan agama ini”, atau, “OK, aku tidak lagi ateis”. Anda berkata, “OK, kurasa kekristenan jauh lebih masuk akal, jadi aku menerima kekristenan.” Anda masih belum menjadi Kristen! Itu bukanlah kekristenan!

Apa itu kekristenan? Menurut Yesus di Yohanes pasal 3, kekristenan berarti dilahirkan dari Roh, yaitu, Roh Allah masuk ke dalam hidup Anda dan mengubah Anda secara mendasar. Itulah yang disebut menjadi Kristen. Dia mengubah Anda dari yang duniawi menjadi yang rohani, tepat seperti yang dikatakan oleh Paulus. Bagaimana kita bisa berpola pikir rohani? Paulus melanjutkan di dalam Roma pasal 8: “Jika Roh Allah berdiam di dalam kamu, kamu pasti akan berpola pikir rohani.” [ay.9] Karena Anda sudah diubah. Pola pikir Anda sudah diubah. Itulah maknanya.

Apa artinya “dilahirkan dari Roh”? Dapatkah Anda menemukan penjelasan ilmiah untuk hal ini? Tentu saja tidak! Itulah kuasa Allah yang masuk ke dalam hidup Anda dan mengubah Anda. Jika Anda belum mengalami kuasa itu, Anda tidak akan tahu apa artinya menjadi orang Kristen. Anda tidak akan tahu sama sekali. Saya sendiri telah mengalami kuasa itu! Banyak orang yang telah mengalami kuasa itu. Allah masuk ke dalam hidup mereka dan mengubah mereka! Itu merupakan hal yang ajaib; tak ada penjelasan ilmiah akan hal itu. Seluruh Alkitab isinya ajaib. Mengapa? Karena Allahlah yang bekerja. Ia bukanlah hasil karya manusia. Bukan hasil dari usaha pendakian secara supranatural ke langit. Allahlah yang datang ketika kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia. Dia masuk dan mengubah kita! Itulah kekristenan!


Pernyataan diri Allah kepada orang-orang Majus dan Kita

Namun, Injil adalah batu sandungan bagi kebanyakan orang yang menyebut dirinya Kristen. Karena itu, mereka ingin mengubah gambaran yang ada. Perhatikanlah terjemahan dalam bahasa Inggris ini: “Behold, there came wise men from the east (datanglah orang-orang bijak dari Timur).” Kata “wise men” (orang-orang bijak) dipakai di dalam terjemahan bahasa Inggrisi! Di dalam lagu rohani, orang-orang bijak ini dipromosikan menjadi raja: “We Three Kings of Orient Are (Kami adalah Tiga Raja dari Timur).” Apakah Anda akan kecewa jika mengetahui bahwa mereka bukanlah raja? Oh, senang sekali rasanya membayangkan Yesus, di pembaringannya, menerima kedatangan tiga raja yang akan menyembahnya. Terasa istimewa. Seperti ketika kita mengundang seorang pembicara pada acara KKR, kita perlu menyebutkan bahwa tuan anu adalah presiden organisasi ini atau itu. Dia adalah direktur, atau general manager, apa un itu. Dia adalah doktor di bidang anu. Atau, dia adalah seorang profesor. Kita merasa sudah memuliakan Tuhan karena pengkhotbahnya seorang profesor. Kemudian, kita diberitahu, “Oh, tidak, tidak. Dia bukanlah profesor.” Kita mungkin berkata, “Oh, hmm. Bukan profesor…. Baiklah, setidaknya, dapatkah Anda berikan dia sedikit gelar? Maksud saya, supaya dia tampak sedikit lebih terhormat. Ini akan menarik banyak orang datang ke konferensi!”

Jadi, Anda sekarang punya tiga raja! Bukan hanya orang-orang bijak! Mereka raja! Sayang sekali, mereka bukanlah raja, sobat. Bukan raja! Apakah kita merasa ini membuat mereka kelihatan kurang penting? Di mana ada keterangan bahwa mereka adalah tiga raja? Adakah disebutkan bahwa jumlah mereka tiga? Dengan cara apa kita menebak jumlahnya tiga? Kita menebak bahwa ada tiga raja dari tiga macam hadiah yang dipersembahkan: emas, kemenyan dan mur. Ah ha! Tiga persembahan, jadi tiga raja! Mungkin ada 6? Mungkin ada 5? Mungkin 2 dari mereka mempersembahkan emas. “Oh!” Anda bilang, “sekarang Anda benar-benar telah membuat saya kecewa. Suasana Natal jadi rusak karena khotbah ini.”

Ketiga orang itu —  benarkah ada tiga orang? Tidak. Kita tidak tahu. Mungkin 5, mungkin 6. Apakah mereka itu orang-orang bijak? Kata yang tertulis di sana adalah “magi”. Magi adalah bentuk jamak dari kata “magus”. Kata “magus” dipakai di Kisah 13:6 dan 8 dan diterjemahkan sebagai “tukang sihir”. “Aha,” kata Anda, “Sekarang saya benar-benar pusing. Tidak saja mereka itu bukan raja; mereka ternyata tukang sihir! Benar-benar kacau.” Magi merupakan asal kata dari kata Inggris “magician” (tukang sihir). Itulah asal kata dari: magicians, sorcerers (tukang sihir). Di dalam konteks ini, Anda boleh memandang mereka sebagai para astrolog. Astrolog bukanlah astronom. Astronom adalah orang yang mempelajari bintang-bintang secara ilmiah. Astronomi adalah studi tentang bintang-bintang. Akan tetapi, astrologi berarti pencarian tanda-tanda spiritual dari bintang-bintang. “Ohh,” Anda mungkin berkata, “tukang sihir, ahli nujum, apa lagi ini? Mari kita kembali saja ke istilah “raja-raja,” atau setidaknya, kita sebut saja mereka “orang-orang bijak”.

Kedagingan kita terusik, dengan cepat kita memutuskan untuk mengganti gambarannya, benar? Mengapa? Mengapa kita tidak bisa memahami jalan-jalan Allah? Cara-cara Allah begitu mengusik kedagingan kita! Anda tahu kepada siapa Allah menyampaikan pesan-Nya? Dia menyampaikan pesan justru kepada para astrolog, atau ahli-ahli nujum! Jika kata ini diartikan sebagai imam-imam bangsa Persia, kita masuk ke dalam masalah yang lebih ruwet lagi, karena itu berarti yang menerima pesan adalah imam-imam agama asing. Imam-imam Persia disebut magi. Tak ada makna yang bagus dari istilah itu dan kita merasa terusik! Mengapa? Karena Allah meluaskan keselamatan-Nya menjangkau orang-orang berdosa, pemungut pajak, pelacur, tukang sihir, ahli nujum. “Astaga!” kata Anda, “setidaknya, jadikanlah “orang-orang bijak” ini menjadi terhormat, OK?” Betapa tersinggungnya orang-orang Farisi ketika Yesus menjangkau orang-orang berdosa, pemungut pajak dan pelacur di jalanan. Ia menjangkau mereka dengan keselamatannya. Orang-orang alim sangat kecewa dengan hal ini. Mereka berkata, “Dia bergaul dengan orang-orang berdosa!” Jawaban Yesus hanyalah, “orang-orang sehat tidak butuh dokter. Hanya orang sakit yang membutuhkan dokter.” (Mat 9:12)

Apakah Anda merasa tidak senang dengan kenyataan bahwa orang-orang yang datang dari timur itu bukanlah raja, bukanlah orang-orang bijak? Mereka adalah orang-orang bijak dalam pengertian ahli ilmu gaib — bagian yang ini, tentu saja, tidak ditampilkan dalam terjemahan Alkitab. Allah menjangkau orang-orang sesat, orang-orang berdosa, membawa mereka kepada Kristus. Jalan Tuhan bukanlah jalan kita! Dapatkah Anda melihat pokok dari pembicaraan saya? Apakah Anda memiliki pola pikir rohani untuk bisa memahami jalan Allah atau Anda justru ingin mengubah gambaran yang ada menjadi suatu gambaran indah dan menyenangkan tentang tiga orang raja? Tidak, tidak! Mereka bukanlah raja.

Terakhir, perhatikanlah keindahannya: Allah bersedia berbicara kepada Anda pada level Anda. Jika astrologi merupakan satu-satunya bahasa yang Anda pahami, Allahku mampu berbicara dengan Anda lewat astrologi. Allah tak pernah punya masalah dalam berkomunikasi dengan manusia. Masalah komunikasi itu bukan terletak pada Allah, melainkan terletak pada diri kita karena kita begitu terikat dengan pola pikir duniawi. Umat Kristen terdiri dari berbagai macam bangsa yang berbicara dalam berbagai macam bahasa. Allah dapat berkomunikasi dengan semua. Allah berbicara kepada Anda di dalam bahasa yang Anda pahami. Jika Anda orang Tionghoa, Dia akan berbicara dalam bahasa Tionghoa. Jika Anda orang Indonesia, Dia akan memakai bahasa Indonesia. Bukankah sangat indah? Allah sama sekali tidak punya masalah komunikasi! Jika Anda seorang ahli nujum, Ia bahkan akan berbicara kepada Anda lewat bintang-bintang-Nya! Begitulah rendahnya kerendahan hati Allah! Ia akan datang dan berbicara kepada Anda pada level Anda. Mungkin Anda hanya mengerti bahasa teknik; Dia bisa berbicara kepada Anda lewat bidang teknik. Dia bisa berbicara kepada Anda lewat ilmu fisika. Dia bisa berbicara kepada Anda lewat segala bahasa yang Anda pahami. Itulah Allahku! Namun, masalah pemahamannya tidak terletak pada sisi Allah. Dia tidak berusaha mempersulit segala sesuatu bagi Anda. Kitalah yang mempersulit keadaan, karena kita berpola pikir duniawi. Pola pikir duniawi membawa maut.


Bagaimana Orang-orang Majus Menanggapi Allah?

Perhatikan hal yang terakhir ini: Mengapa Allah berbicara kepada orang-orang ini? Perhatikanlah tanggapan mereka. Para astrolog itu membuat kita malu. Apa respon mereka? Para astrolog itu bisa saja duduk santai di rumah masing-masing dan menatap langit dan berkata, “Hei, lihat bintang itu! Bintang yang ajaib! Kita akan menyembah! Kita akan menyembah dari sini. Kita tidak perlu pergi jauh-jauh ke sana untuk menyembah. Seorang raja telah lahir, tetapi perjalanan ke Israel terlalu jauh, jadi kita akan menyembah dari sini saja.” Bagaimana menurut Anda? Saya pernah mendengar orang-orang Kristen yang berkata, “Siapa yang perlu ke gereja? Kita bisa menyembah Allah dari rumah.” Orang-orang majus itu memiliki alasan yang jauh lebih kuat untuk menyembah dari rumah mereka saja. Perjalanannya sangat jauh. Tempat terdekat di sebelah timur tentunya adalah Persia, karena tepat di sebelah timur Israel tidak ada apa-apa, kosong. Persinggahan yang pertama adalah Persia. Jadi, tempat terdekat adalah Persia dan itu merupakan suatu perjalanan yang sangat jauh melintasi Sabit Subur (Fertile Crescent). Berminggu-minggu! Tak heran jika bintang itu terlihat pada waktu sekitar dua tahun sebelumnya. Mereka harus menempuh perjalanan yang jauh! Mereka bertindak dan meresponi apa yang telah mereka lihat.

Ini suatu kualitas yang sangat luar biasa. Setelah mendapat penglihatan surgawi, mereka tidak membangkang. Mereka sangat yakin apa yang mereka lihat itu merupakan sebuah penglihatan surgawi. Mereka bangkit! Bukan sekadar bangkit, harga apa yang harus mereka bayar?! Jika mereka adalah para raja, mendapatkan emas, kemenyan dan mur bukanlah suatu masalah. Dapatkah Anda melihat makna penting dari fakta bahwa mereka yang bukan raja? Bagi seorang ahli nujum, emas, kemenyan dan mur termasuk barang yang sangat mahal. Mereka adalah orang-orang biasa seperti kita, tetapi mereka membeli hadiah yang sangat mahal, yang mungkin menghabiskan semua uang mereka. Semua tabungan mereka selama bertahun-tahun habis untuk membeli barang persembahan bagi raja yang baru lahir ini. Dapatkah Anda memahami maksud saya?

Dapatkah kita memahami seberapa besar pengorbanan mereka? Jika seorang raja mempersembahkan emas, itu bukan hal yang mahal bagi dia. Namun, bagi seorang ahli nujum, emas jelas sangat mahal. Perhatikan baik-baik, apakah mereka bermaksud untuk memberi penghormatan kepada setiap raja di Israel? Perhatikan bahwa mereka telah bertemu dengan Raja Herodes. Dapatkah Anda melihat adanya tanda-tanda penghormatan kepada Herodes? Tidak ada! Mereka berbicara kepada seorang raja Israel! Herodes adalah penguasa resmi Israel, tetapi para ahli nujum ini sepenuhnya mengabaikan dia. Mereka tidak mempersembahkan apa pun kepadanya. Mereka tidak menunjukkan tanda-tanda penghormatan kepadanya. Jadi, jika mereka ingin menyembah setiap raja Israel, saat itu sebenarnya mereka sudah berdiri di hadapan seorang raja Israel, raja yang sedang memerintah. Mereka tidak tertarik padanya! Malahan, melalui bimbingan bintang yang pernah mereka lihat di timur, mereka berangkat ke selatan menuju kandang hewan di mana terdapat ternak, palungan dan seorang bayi. Mereka sujud pada bayi ini yang pada saat itu bahkan belum menjadi raja. Seorang bayi yang tidak sedang memerintah. Dapatkah Anda melihat implikasi rohaninya? Itulah tindakan iman! Jika itu bukan merupakan tindakan iman, saya tidak tahu lagi apa yang bisa disebut sebagai tindakan iman, karena mereka belum melihatnya memerintah sebagai raja. Mereka sudah menyembahnya jauh sebelum dia memerintah sebagai raja. Itulah iman, penglihatan lewat mata rohani dan bukan lewat mata jasmani! Mereka tidak melihat apa-apa. Pada saat dia menjadi Raja, sebagian besar dari para ahli nujum itu mungkin sudah meninggal dunia karena sudah tua. Mereka mungkin tak akan pernah hidup untuk bisa melihatnya memerintah sebagai Raja. Bukankah ini hal yang menarik?


Sejauh Mana akan kita mengikut Yesus?

Pokok yang terakhir: Siapakah murid-murid Yesus yang pertama? Hah! Mereka bukan orang Yahudi, melainkan orang-orang asing! Mereka bukanlah orang-orang terhormat, melainkan orang-orang berdosa, para tukang sihir. Mereka melakukan perjalanan panjang untuk datang menyembah sang raja. Anda dan saya juga harus melakukan perjalanan panjang untuk datang kepada Yesus, untuk meninggalkan hidup yang lama, untuk meninggalkan dosa-dosa kita dan untuk menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada dia. Pemuridan yang sangat mahal! Mereka tidak datang dengan tangan hampa. Mereka datang dengan emas, kemenyan dan mur, setelah melakukan perjalanan jauh, dan menempuh bahaya di perjalanan. Anda yang mengetahui keadaan di Timur Tengah pada zaman itu tentu tahu betapa berbahayanya perjalanan panjang seperti ini, melintasi wilayah-wilayah yang dikuasai para bandit. Bahkan rombongan pedagang besar juga dirampok di tengah jalan, di jalur Persia dan di timur. Namun, mereka datang membawa emas, kemenyan dan mur. Banyak orang terbunuh di sepanjang jalur itu karena dirampok. Namun, orang-orang ini berangkat dengan membawa hadiah mahal kepada Yesus, anak Allah.

Apakah tanggapan Anda? Tidak ada penjelasan yang masuk akal mengapa mereka melakukan hal ini. Jika mereka menyembah Yesus sebagai penguasa politik dari orang-orang Yahudi, mereka akan dipandang bersalah sebagai pengkhianat. Mereka menyembah raja asing, memberi persembahan kepada raja asing. Itu merupakan pengkhianatan. Mereka akan dicap sebagai pengkhianat. Akan tetapi, mereka bukan sedang menyembah raja duniawi. Jika tidak demikian, sebenarnya mereka bisa saja melakukannya terhadap Herodes. Akan tetapi, mereka menyembah dia yang akan menjadi Raja, yang akan memerintah alam semesta sebagai Raja atas segala raja, tuan atas segala tuan, sesuai dengan gelarnya. Mereka tahu apa artinya komitmen total. Tahukah Anda? Hanya lewat komitmen total Allah dapat mengubah pola pikiran Anda yang duniawi menjadi rohani!

 

Berikan Komentar Anda: