SC Chuah | Natal 2020 |

10  Akan tetapi, malaikat itu berkata kepada mereka, “Jangan takut sebab dengarlah, Aku memberitakan kepadamu kabar baik tentang sukacita besar yang diperuntukkan bagi semua bangsa.
11  Pada hari ini, telah lahir bagimu seorang Juru Selamat, yaitu Kristus, Tu(h)an, di Kota Daud.
12  Inilah tanda bagimu: Kamu akan menemukan Bayi yang dibungkus dengan kain lampin dan berbaring di dalam palungan.”
13  Tiba-tiba, tampaklah bersama-sama malaikat itu sekumpulan besar tentara surgawi yang memuji Allah dan berkata,
14  “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi, di antara orang-orang yang [menyenangkan]-Nya.”


KABAR BAIK DARI SURGA

Dalam Perjanjian Baru, kata “kabar baik” pertama kali muncul di mulut malaikat Gabriel. Kata “Injil” dalam Alkitab Indonesia berasal dari bahasa Arab, dan kata “Gospel” dalam Alkitab Inggris pula, berasal dari istilah Anglo Saxon, atau bahasa Inggris kuno. Kata Yunani yang mendasari kata “Injil” adalah euaggelizo (v) dan euaggelion (n) yang masing-masing bermakna “memberitakan kabar baik” atau “kabar baik”. Saya berpendapat sebaiknya kata Yunani euaggelizo dan euaggelion diterjemahkan apa adanya saja sebagai, “memberitakan kabar baik” dan “kabar baik”. Membaca “kabar baik” atau good news, selain lebih harfiah, menimbulkan reaksi yang lebih positif dibandingkan dengan kata asing seperti Injil atau Gospel. Jadi, Natal ialah hari kita merayakan kabar baik dari surga. Inilah kabar terbaik yang akan saudara dengarkan sepanjang hidup ini. Kabar baik lain yang pernah saudara dengarkan dan akan saudara dengarkan terlihat pucat jika dibandingkan dengan kabar ini.


SUKACITA BESAR BAGI SEMUA BANGSA

Tentang apakah kabar baik itu? Tentang “sukacita besar yang diperuntukkan bagi semua bangsa”. Jadi, pertama, tentang “sukacita besar”. Pekerjaan Tuhan selalu meninggalkan sukacita besar. Injil menyebutkan bahwa ketika orang-orang majus melihat bintang itu, mereka bersukacita dengan sukacita yang sangat besar. Demikian pula dengan peristiwa-peristiwa seperti peristiwa kebangkitan, kenaikan dan pencurahan Roh Kudus, semuanya meninggalkan sukacita yang besar bagi para orang percaya. Kedua, kabar baik tentang sukacita besar itu “diperuntukkan untuk semua orang”, yaitu untuk seluruh dunia. Kabar baik itu dimaksudkan untuk disebarkan kepada setiap orang. Itulah sebabnya, dunia boleh berhenti, tetapi pemberitaan kabar baik tidak boleh berhenti. Saya yakin jika pada tahun 2021 dunia harus berhadapan dengan beberapa berita buruk lagi, bahkan yang lebih buruk daripada pandemi Covid-19, pemberitaan kabar baik tidak akan pernah berhenti. 


DAMAI SEJAHTERA DI BUMI

Kemudian di ayat 13, kita baca tentang sekumpulan besar paduan suara surgawi yang berkata secara serentak: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi, di antara orang-orang yang menyenangkan-Nya.” Kalimat ini menjelaskan kepada kita bagaimana penghuni surga menafsirkan peristiwa kelahiran Yesus. Besar kemungkinan itulah talk of the town (tajuk pembicaraan) di antara para penghuni surga. Itulah perspektif surgawi tentang apa yang terjadi. Itulah tujuan yang ingin dicapai Allah melalui kelahiran bayi itu, yaitu membawa sukacita besar dan damai sejahtera ke bumi ini. Orang Yahudi memahami bumi sebagai tempat yang paling rendah dalam alam semesta ini. Jadi, melalui kelahiran bayi ini, tempat yang mahatinggi dan tempat yang paling rendah bertemu, surga dan bumi bersentuhan. Itulah kabar baik dari surga.


DI ANTARA ORANG-ORANG YANG MENYENANGKANNYA

Namun, kita tahu bahwa sejak kabar baik itu diberitakan, dunia tidak pernah mengenal damai, bukankah demikian? Sebutkan saja Kota Daud, tempat kelahiran Yesus. Pernahkah kota tersebut mengalami damai di sepanjang sejarahnya? Dalam kenyataannya, tidak lama setelah pemberitaan dari tentara surgawi itu, semua anak laki-laki di bawah usia dua tahun di Betlehem dan sekitarnya diperintahkan untuk dibunuh. Sulit untuk membayangkan suara ratapan dan tangisan yang memenuhi kota Betlehem karena kejadian sadis yang gila ini.  Pada awal tahun ini saja, setiap penjuru dunia mengalami kepanikan luar biasa karena virus Covid-19. Sampai hari ini, walaupun kepanikan sudah mereda, virus ini masih merajarela dan korban kematian telah mencapai 1,7 juta jiwa.

Dalam kenyataannya, janji pada Natal yang pertama ini walaupun diperuntukkan untuk semua orang, tetapi akan dialami hanya oleh orang-orang yang menyenangkan-Nya. Malaikat Gabriel tidak menjanjikan perdamaian di dunia melalui kelahiran anak itu. Yesus sendiri tidak menjanjikan hal itu. Ia bahkan terus-terang menyangkalnya jangan-jangan ada yang salah paham.

Apakah kamu menyangka bahwa aku datang untuk membawa perdamaian di atas bumi? Tidak, aku mengatakan kepadamu, melainkan perpecahan!


TIDAK ADA DAMAI SEJAHTERA BAGI ORANG FASIK!

Damai di bumi secara keseluruhan hanya akan terjadi pada hari ketika dosa dibasmi sepenuhnya dari bumi ini, pada hari ketika para penghuni dunia dibebaskan dari segala bentuk ketamakan, keserakahan dan keinginan. Damai di bumi melibatkan pembasmian segala bentuk kejahatan dan semua orang jahat. Hal itu hanya akan terjadi “pada waktu pemulihan segala sesuatu” seperti yang sudah Allah katakan melalui para nabi-Nya yang kudus sejak zaman dulu (Kis 3:21). Selama masih ada kejahatan, dunia tidak akan pernah mengenal damai. Kitab Suci berulang kali mengatakan, “Tidak ada damai sejahtera bagi orang fasik!” (Yes 48:22)


TANPA IMAN, KABAR BAIK TIDAK MENGUNTUNGKAN

“Damai sejahtera di bumi, di antara orang-orang yang menyenangkan-Nya”. Ibrani 4:2 menyatakan suatu prinsip yang sangat penting:

Memang betul, kabar baik telah diberitakan kepada kita, seperti juga telah diberitakan kepada mereka, tetapi berita yang mereka dengar itu tidak menguntungkan mereka karena tidak disatukan dengan iman orang-orang yang mendengarkannya.

Kata “disatukan” di sini secara harfiah bermakna mix or mingle together, atau blend (dicampur atau diaduk bersama). Kabar baik dari Allah kalau tidak dicampur dan diadukkan dengan iman dari manusia hanya akan tinggal sebagai dongeng, meskipun dongeng yang sangat dirayakan di seluruh dunia. Tanpa iman, kabar baik itu tidak akan menguntungkan kita sama sekali. Tidak ada damai, tidak ada sukacita; sebaliknya banyak yang bertambah stres justru karena kabar baik itu. Kabar baik malah akan kedengaran seperti kabar buruk bagi sebagian orang. Bagi orang-orang tak beriman, kehendak Allah dan perintah Allah tidak menyukakan hati mereka, tetapi sebaliknya menjadi beban. Namun, jika sebaliknya kabar baik dari Allah itu disertai dengan iman dari pihak manusia, kabar baik itu akan menjadi kenyataan, kenyataan yang membawa sukacita besar dan damai sejahtera kepada setiap orang percaya. Seperti kata Kitab Suci, “Tidak mungkin menyenangkan Allah tanpa iman”.

Bagaimana para gembala mengungkapkan iman mereka? Mereka tidak duduk-duduk dan bercerita sesama mereka tentang kejadian itu. Mereka tidak hanya terpaku dalam kekaguman. Mereka berkata, “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat…”. Kita harus belajar dari para gembala ini. Iman yang sejati akan selalu diungkapkan melalui tindakan nyata. Orang yang beriman akan selalu berkata, “Marilah kita…”


SUARA ALLAH DARI SURGA

Kira-kira tiga puluh tahun setelah pemberitaan kabar baik dari Gabriel ini, Allah berkenan melakukan sesuatu yang lebih dahsyat lagi. Kali ini Ia sendiri yang turun tangan, Ia memperkenalkan Anak-Nya kepada kita dengan suara-Nya sendiri.

16  Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air di sungai itu. Tiba-tiba langit terbuka dan Yesus melihat Roh Allah turun seperti burung merpati ke atasnya. 17  Kemudian terdengar suara Allah mengatakan, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi. Ia menyenangkan hati-Ku.”

Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia. Langit terbuka dan terdengar suara Allah berbicara secara langsung tanpa perantara. Pada kesempatan yang luar biasa ini, Allah tidak bicara banyak, hanya satu kalimat pendek saja, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Allah Bapa telah memperkenalkan kepada kita Anak-Nya, Anak yang amat menyenangkan hati-Nya.

Hal yang sama terjadi sekali lagi menjelang kematian Kristus.

Sementara Petrus masih berbicara, awan yang terang sekali meliputi mereka dan dari awan itu terdengar suara yang berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi. Ia menyenangkan hati-Ku. Dengarkan dia!”

Pada kesempatan yang kedua ini, suara Allah terdengar dari awan yang terang sekali. Allah sekali lagi tidak berbicara lebih banyak, hanya satu kalimat pendek saja. Yang mengherankan, Allah tidak mengatakan hal lain selain dari yang telah difirmankan sebelumnya. Pada dua kesempatan yang berbeda ini, ketika Allah berbicara langsung dengan suara-Nya tanpa perantara kepada manusia dan Allah hanya mengucapkan kalimat pendek yang sama, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi. Ia menyenangkan hati-Ku.” Dapatkah saudara menghargai betapa pentingnya suara surgawi ini? Akan tetapi, pada kesempatan kedua, Bapa menambahkan satu perintah singkat, “Dengarkan dia!”


INILAH ANAKKU YANG KUKASIHI, YANG MENYENANGKAN HATIKU, DENGARKAN DIA!

Saya percaya kalimat surgawi ini merupakan kunci kepada kehidupan Kristen kita sebagai pengikut Kristus. Terkandung dalam ayat ini ialah segala sesuatu yang ingin Allah kerjakan dalam hidup kita melalui Injil.


MENGENAL ALLAH SEBAGAI BAPA

Pertama, kita mengenal Allah sebagai Bapa. Itulah ciri khas dari seluruh pelayanan Kristus yang membedakannya dari yang lain, yaitu berhubungan dengan Allah sebagai Bapa. Tidak ada hal yang lebih indah dalam hidup ini daripada mengenal Allah sebagai Bapa. Seorang bapa yang baik akan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Jika Allah menjadi Bapa kita, kita tidak perlu sama sekali hidup dalam kekhawatiran lagi.

Di Matius 6:25-34, dalam sepuluh ayat ini, Yesus menyuruh kita untuk tidak khawatir sebanyak lima kali. Percayakah saudara hidup bebas khawatir itu sesuatu yang terjangkau? Percayakah saudara? Jika saudara tidak percaya, tidak heran saudara hidup dalam kekhawatiran! Apakah Allah sudah menjadi Bapa saudara? Jika Allah telah menjadi Bapa saudara, apa yang perlu saudara khawatirkan?

Istilah “Allah dan Bapa”, dapatkah saudara tambahkan kata “ku” supaya menjadi “Allahku dan Bapaku” (Yoh 20:17)? Itu akan mengubah seluruh hidup saudara. Namun, bagaimana caranya?


MENGENAL YESUS KRISTUS ANAKNYA

Kedua, kita mengenal Yesus Kristus sebagai anak-Nya yang terkasih, yang menyenangkan hati-Nya. Bapa telah memberikan kepada satu teladan par excellence, seorang anak yang menyenangkan hati-Nya. Inilah anak kebanggaan-Nya.

Tujuan dan rencana Allah bagi kita adalah supaya kita “menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Rm 8:29, 2Kor 3:18). Kalau di Perjanjian Lama, bangsa Israel hanya diberikan perintah-perintah Allah, dalam Perjanjian Baru, kita diberikan sebuah teladan hidup.


DENGARKAN DIA!

Ketiga, kita diberitahu dengan jelas bagaimana kita harus berhubungan dengan anak-Nya itu, yaitu mendengarkan dia. Kata Yesus kepada Marta, “Hanya satu hal yang penting”. Itulah satu hal penting yang dipilih Maria. Maria bahkan mengabaikan suara Marta! Untuk mendengarkan suara Yesus, kita harus belajar menutup telinga dan perhatian kita dari dunia yang berisik ini.

Jika satu hal penting ini juga menjadi pilihan kita, saya percaya saudara sendiri akan mendengarkan bisikan suara Allah berkata kepada saudara, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi. Engkau menyenangkan hati-Ku” (Mrk 1:11, Luk 3:22, Rm 8:14-15)


SUKACITA DAN DAMAI SEJAHTERA YANG SUPERNATURAL

Saya berdoa Natal tahun ini membawa sukacita besar dan damai sejahtera surgawi dalam kehidupan saudara.   

Yohanes 16:22, hatimu akan bersukacita, dan tidak ada seorang pun yang akan mengambil sukacitamu darimu.

Yohanes 14:27, damai sejahtera kutinggalkan bersamamu; damai sejahteraku kuberikan kepadamu, bukan seperti yang dunia berikan yang aku berikan kepadamu. Jangan biarkan hatimu gelisah ataupun gentar.      

Sukacita yang tidak dapat diambil dari kita, dan damai sejahtera bukan seperti yang dunia berikan. A. W. Tozer mengatakan kata-kata profetik berikut ini:

The Christian owes it to the world to be supernaturally joyful. In this day of universal apprehension when men’s hearts are failing them for fear of those things that are coming upon the earth, we Christians are strategically placed to display a happiness that is not of this world and to exhibit a tranquility that will be a little bit of heaven here below.

Umat Kristen berhutang kepada dunia untuk bersukacita secara supernatural. Pada zaman ini yang dikuasai kekhawatiran universal ketika hati manusia gagal karena takut akan hal-hal yang akan datang ke bumi, kita orang Kristen ditempatkan secara strategis untuk menunjukkan kebahagiaan yang bukan dari dunia ini dan untuk menunjukkan ketenangan yang sedikit surgawi di bawah sini.

 

Berikan Komentar Anda: