Pastor Eric Chang | Matius 6:10 |

Kita akan mempelajari kata-kata di Matius 6, ayat 10 –

“datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.”

Ayat ini akan dilihat bersama dengan ayat 8 yang berbunyi,

“Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.”

Apa kehendak Tuhan dalam hal berdoa? Tuhan sudah mengetahui apa yang menjadi kebutuhan kita, jadi mengapa kita masih perlu berdoa? Mengapa Tuhan membutuhkan doa kita?


APAKAH ALLAH MEMBUTUHKAN DOA KITA?

Apakah Allah membutuhkan doa kita? Apa pendapat Anda? Jika jawabannya adalah “ya”, maka dalam pengertian apa Ia membutuhkan doa kita?

Saya baru selesai membaca sebuah buku tentang doa. Buku ini mengutip sebuah pernyataan dari seorang teolog yang menyatakan, “bukan karena Allah membutuhkan doa kita, tetapi Allah menginginkan doa kita”. Apa maksud dari pernyataan ini? “Allah tidak membutuhkan doa kita tetapi Ia menginginkan doa kita.” Semakin saya memikirkan pernyataan itu, semakin saya tidak mengerti pernyataan itu.

Haruskah kita memahaminya seperti ini – kita membutuhkan makanan tetapi kita sebetulnya tidak membutuhkan sayur yang mengiringi makanan tersebut. Kita tidak membutuhkan kecap asin, kita tidak membutuhkan garam atau gula, semua bumbu ini hanya membuat makanan terasa lebih enak, tetapi apakah kita membutuhkannya? Bukankah kita masih dapat hidup tanpa bumbu-bumbu tersebut? Apabila Anda berkata bahwa Anda tidak membutuhkan sesuatu tetapi menginginkannya, tampaknya seperti berbicara tentang lapisan gula di atas kue (icing on the cake). Kita mau kuenya tetapi kita tidak membutuhkan lapisan gula itu.

Pernyataan semacam ini sangat tidak memuaskan. Menyatakan bahwa Allah menginginkan doa kita tetapi Ia tidak membutuhkannya, sama seperti berkata, Ia tidak membutuhkan lapisan gula di atas kue itu. Ia mungkin menginginkan kue itu tetapi tidak apa-apa jika tidak ada gula di atasnya. Jadi apakah kita berdoa atau tidak kelihatannya bukanlah satu hal yang penting bagi Allah. Adalah baik jika kita berdoa, tetapi sebetulnya tidak terlalu penting apakah kita berdoa atau tidak. Pernyataan seperti ini tidak dapat disetujui karena tidak alkitabiah.

Pernyataan ini mewakili pemikiran begitu banyak orang Kristen. Itulah alasan mengapa saya mengutipnya. Banyak orang Kristen benar-benar berpikir bahwa doa tidak penting bagi Allah dan jika kita tidak berdoa, Allah tidak akan kehilangan apa-apa yang penting. Sama seperti gula, jika ada, baik; jika tidak ada, juga tidak apa-apa. Apakah ini caranya kita memandang doa? Pernyataan teolog ini, barangkali mewakili apa yang dipikirkan oleh kebanyakan orang Kristen.

Jika kita merasakan bahwa Allah membutuhkan – (membutuhkan dalam pengertian tertentu) – doa kita, maka kita akan memastikan bahwa Ia mendapatkan doa yang begitu Ia butuhkan dari kita. Namun mengingat bahwa Allah tidak benar-benar membutuhkan doa kita, maka kita merasa bahwa Allah tidak kehilangan apa-apa jika kita tidak berdoa. Bukankah ini pemikiran Anda?

“Allah tidak kehilangan apa-apa jika saya tidak berdoa. Ia tidak mendambakan doa saya. Doa saya begitu tidak berkuasa, lemah, tidak teratur, penuh dengan kesalahan tatabahasa…… maksud saya, tidak seperti sebuah esei dari seorang penyair seperti Milton atau seorang sastrawan. Jika Milton tidak berdoa, barangkali Allah akan kehilangan sesuatu. Tetapi doa saya, apakah penting bagi Allah?” Nah, jika Anda berpikir demikian, tentu saja Anda tidak mempunyai insentif untuk berdoa. Itulah sebabnya saya ingin menangani akar persoalan ini.

Saya ingin menunjukkan bahwa pernyataan teolog ini dan pemikiran kita adalah salah. Allah prihatin apakah kita berdoa atau tidak. Sangat penting bagi Allah apakah kita berdoa atau tidak. Ia merindukan doa kita. 


ALLAH MEMBUTUHKAN DAN MENGINGINKAN DOA KITA

Apa yang dimaksudkan dengan ‘membutuhkan’? Jika ‘membutuhkan’ berarti keberadaan Allah bergantung pada doa kita, maka sudah tentu Allah tidak membutuhkan doa kita dalam pengertian itu. Namun ini bukanlah satu-satunya pengertian untuk kata ‘membutuhkan’. Umpamanya, apakah seorang suami membutuhkan kasih sayang istrinya? Apakah seorang istri membutuhkan kasih sayang suaminya? Jika Anda bermaksud, apakah ia dapat terus hidup tanpa kasih sayang itu? Tentu saja dalam pengertian ini, ia tidak membutuhkan kasih sayang itu. Maksud saya, jika suami Anda berhenti mengasihi Anda, atau jika ia mati dan tidak dapat mengasihi Anda lagi, Anda tidak akan mati pada keesokan harinya. Secara jasmani Anda akan terus hidup, setidaknya dalam kebanyakan kasus. Jadi, dalam pengertian ini, Anda tidak membutuhkan kasih sayang tersebut.

Apakah orangtua membutuhkan kasih dari anak-anaknya? Apakah anak-anak membutuhkan kasih dari orang-tua mereka? Ada banyak orangtua yang membesarkan anak-anak mereka tanpa mengasihi mereka. Banyak anak-anak yang dibesarkan tanpa mengalami kasih sayang dalam keluarga. Apakah anak-anak membutuhkan kasih? Nah, mereka tidak membutuhkan kasih tersebut jika kita berbicara tentang kelangsungan hidup mereka secara jasmani. Selama mereka diberi makanan, mereka akan terus hidup. Namun apakah hidup hanya sekadar keberadaan? Karena itu, jika kita ingin berbicara tentang kebutuhan, kita harus terlebih dulu mendefinisikan apa arti dari kata ‘kebutuhan’.  Pernyataan bahwa “Allah tidak membutuhkan doa kita” tidak mempunyai makna melainkan kita memberikan suatu definisi kepada kata ‘membutuhkan’.

Contohnya, saya sangat membutuhkan kasih dari orang lain, bukan dalam pengertian saya tidak dapat hidup tanpa kasih itu, tetapi kehidupan menjadi tidak berarti tanpa kasih semacam itu. Maka saya membutuhkan kasih dalam suatu pengertian yang sesungguhnya. Setiap orang membutuhkan kasih. Setiap orang memerlukan kasih agar kehidupan menjadi lebih kaya, lebih berarti dan lebih bertujuan. Kehidupan bukanlah hanya makan dan tidur saja. Kehidupan itu lebih dari makanan dan minuman. Dalam pengertian ini, manusia membutuhkan lebih dari makanan dan pakaian. “Manusia hidup bukan dari roti saja“. Kita membutuhkan lebih dari roti.

Firman Tuhan menjelasan kepada kita bahwa Allah mengasihi kita dan Ia menginginkan kasih kita. Mengapa Ia menginginkannya jika Ia tidak membutuhkannya? Mengapa saya menginginkan kasih dari seseorang, jika saya tidak membutuhkannya? Bukankah kata ‘menginginkan’ itu sendiri perlu diberikan definisi? Ada banyak hal yang kita ingini karena kita membutuhkannya. Apa yang tidak sungguh-sungguh kita butuhkan, kita tidak sungguh-sungguh ingini. Kita tidak merasakan suatu kecondongan untuk mendapatkannya.

Saya tidak membutuhkan permen yang ekstra itu, jadi saya tidak benar-benar menginginkannya. Jika Anda berikan pada saya, saya akan mengambilnya. Jika Anda tidak memberikan pada saya, tidak apa-apa karena saya tidak benar-benar menginginkannya. Mengapa saya tidak menginginkannya? Karena saya tidak melihat kebutuhan untuk mendapatkannya. Saya tidak mempunyai kebutuhan khusus untuk mendapatkan permen tersebut.

Tatkala kita membicarakan hal-hal rohani, sebaiknya kita lebih berhati-hati dengan bahasa yang kita pakai. Kita harus mendefinisikan kata-kata kita dengan jelas. Jadi, dalam suatu pengertian yang nyata, Firman Tuhan memberitahu kita bahwa Allah menginginkan kasih kita dan Ia membutuhkan doa kita, bukan karena keberadaan-Nya bergantung pada doa kita.

Begitu juga, seorang anak dapat hidup dari roti dan air. Ia tidak membutuhkan orangtuanya untuk hidup secara jasmani, tetapi dalam pengertian yang sangat nyata, ia membutuhkan kasih dari orangtuanya. Ia membutuhkan kasih itu. Firman Tuhan memberitahu kita bahwa Allah menginginkan dan membutuhkan kasih kita, dalam pengertian yang telah saya jelaskan tadi; dalam pengertian seorang anak membutuhkan kasih dari bapanya dan seorang bapa membutuhkan kasih dari anaknya. Ini mungkin merupakan satu gagasan yang revolusioner bagi kita, bahwa Allah membutuhkan sesuatu!

Tetapi jika Ia tidak membutuhkan apa-apa mengapa Ia menciptakan kita? Apakah hanya untuk bersenang-senang? Banyak orang Kristen berpikir bahwa Allah tidak membutuhkan kita. Mengapa Ia menginginkan kita? Barangkali Ia menciptakan kita karena….. yah, barangkali untuk iseng-iseng. Suatu kegiatan yang menyenangkan bagi Dia. Jika Anda memikirkan Allah seperti itu, ternyata Anda tidak melihat maksud mengapa Ia menciptakan. Ia serba cukup dalam Diri-Nya sendiri. Mengapa menciptakan sesuatu? Hanya untuk iseng-iseng? Hanya karena kebetulan Ia suka mencipta? Jikalau begitu, apakah kita ada atau tidak, tidaklah terlalu penting. Saya tidak mendapati ajaran ini alkitabiah.

Sebentar lagi, kita akan melihat apakah keberadaan kita penting bagi Allah atau tidak; apakah penting bagi Allah, kita mengasihi Dia atau tidak; apakah penting bagi Allah, kita berdoa atau tidak.


DOA KITA SANGAT BERARTI BAGINYA KARENA IA MENGASIHI KITA

Jadi, pokok persoalannya adalah, apakah doa kita berarti bagi Allah atau tidak? Apakah kasih kita penting bagi Dia?

Berdasarkan Firman Tuhan, dalam pengertian yang tertentu, Allah membutuhkan kita. Jika Allah tidak membutuhkan kita, tidaklah penting bagi-Nya apakah kita berdoa atau tidak, bukan? Jika Ia tidak membutuhkan kita, mengapa Ia peduli apakah kita berdoa atau tidak; mengapa Ia peduli apakah kita mengasihi Dia atau tidak? Ia tidak membutuhkan kita. Ia tidak rugi apa-apa kalau saya tidak berdoa. Kalau saya tidak mengasihi Dia, Ia tidak rugi apa-apa. Kalau begitu, mengapa Ia peduli apakah kita berdoa atau tidak?

Firman Tuhan memberitahu kita Allah sangat, sangat peduli, bukan demi kelangsungan hidup-Nya, bukan karena keberadaan-Nya tergantung padanya tetapi karena Allah pada dasarnya adalah kasih. Dan kasih tidak iseng-iseng atas orang lain, kasih tidak memperbodohi orang lain. Kasih tidak mengatakan kepada orang lain, “Nah, aku sebetulnya tidak membutuhkan kamu….. ah, kamu sebetulnya tidak berarti bagiku.” Kasih memedulikan orang lain. Karena itu, Anda berarti bagi Allah. Adalah sifat-dasar Allah bahwa kita berarti bagi-Nya. Kita perlu mengambil waktu untuk memikirkan hal ini.

Allah berkata kepada bangsa Israel, “barangsiapa menyentuh engkau, menyentuh biji mata-Ku.” Tahukah Anda betapa pekanya biji mata itu? Ini berarti Anda begitu berarti bagi-Nya,  sehingga jika ada yang melukai Anda, itu sama seperti menyentuh biji mata-Nya. Kita bukan hanyalah boneka-boneka di tangan Allah. Kita sangat berharga di mata Allah. Kita begitu berarti bagi-Nya, sebagaimana biji mata kita berarti bagi kita. Inilah ajaran yang alkitabiah.

Apakah kita dapat memahaminya atau tidak, tidak terlalu penting. Yang penting, Allah telah menyatakan kepada kita betapa Ia memedulikan kita, kita sangatlah berarti bagi-Nya. Contohnya Israel, jika manusia tidak berarti bagi Allah, mengapa Allah harus marah kalau Israel tidak mendengarkan-Nya? Allah boleh saja berkata, “Oke, siapa peduli, Aku akan menyapu kamu semua ke dalam laut. Habiskan semua, binasakan semua….. bersih.”


ALLAH BERBEDA DARIPADA MANUSIA KARENA ALLAH ADALAH KASIH

Manusia sanggup melakukan itu. Yah, saya tidak heran jika manusia berbuat seperti itu. Kalau Anda semua menyusahkan saya dan selalu menganggu saya, Anda semua bagai hama bagi saya. Ah…. saya akan mencurahkan air panas dan menghapuskan semua. Itulah pemikiran manusia. Itulah pemikiran Nazi. Bangsa Yahudi adalah hama di dunia ini, oleh karena itu mereka dimasukkan ke dalam dapur gas. Itulah caranya bagaimana manusia berpikir. Anda tidak berarti bagi saya, dan kalau Anda menganggu saya, saya akan menghapuskan Anda. Terkadang saya bertanya-tanya mengapa Allah tidak melenyapkan manusia. Sebenarnya, saya sering menanyakan itu: tatkala manusia berdosa, mengapa Allah tidak menghapuskan mereka?

Bukankah ini ciri khas pemikiran manusia? Mereka menyinggung perasaan Anda, mereka menganggu Anda, maka Anda menghapuskan mereka semua. Syukur kepada Allah, Allah tidak seperti itu. Ayat 9 berkata “Dikuduskanlah nama-Mu“. Allah adalah kudus. Ia berbeda dari semua manusia yang lain. Ia tidak berpikir seperti kita dan Yesaya berkata, “Sebab jalanmu bukanlah jalan-Ku, seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu.” Sama sekali berbeda. Janganlah memakai nalar dari pemikiran manusia untuk memahami pemikiran Allah karena itu akan membuat Anda menarik kesimpulan yang salah.

Namun, justru itulah yang telah dilakukan oleh teolog ini. Ia berkata, “Baik, Allah tidak membutuhkan manusia. Apakah ia berdoa atau tidak, tidaklah penting, tetapi Allah menginginkan doanya.” Saya tidak tahu mengapa Ia menginginkannya, jika Ia tidak membutuhkannya. Tidak, saudara-saudaraku, ajaran Tuhan tidak seperti itu. Mulai hari ini, ingatlah hal ini dengan baik: apakah kita berdoa atau tidak, sangat penting bagi Allah karena kita berarti bagi-Nya, dan kita berarti bagi-Nya karena Ia mengasihi kita.

Mengapa Ia mengasihi kita? Saya tidak mengerti. Tetapi Alkitab memberitahu kita bahwa itulah sifat alamiah Allah. Allah pada dasarnya adalah kasih. Saya tidak dapat mengertinya karena pada dasarnya saya bukan kasih. Tetapi Ia adalah kasih. Saya tahu suatu hari nanti apabila Ia mengubah sifat dasar saya menjadi sifat-Nya, saya akan mengerti.

Pada dasarnya kita tidak terlalu memedulikan orang lain. Teman saya, seorang ahli fisika, pernah membagikan kepada saya bahwa masalahnya dalam kehidupan Kristen adalah ia tidak dapat merasakan kepedulian terhadap orang lain. Tetapi syukur kepada Allah, Allah sedang mengubah dia karena dari suratnya yang terakhir menunjukkan sikap yang sama sekali berbeda. Kepeduliannya terhadap orang lain benar-benar mengherankan saya. Ini merupakan orang yang sama yang mengatakan kepada saya beberapa tahun yang lalu, “aku sama sekali tidak merasakan kepedulian terhadap orang lain.” Namun Allah sedang mengubahnya. Sekarang ia memperlihatkan suatu kepedulian yang benar-benar mengherankan saya.

Allah dapat mengubah kita. Suatu hari nanti kita akan mengerti dengan sepenuhnya mengapa Allah mengasihi kita. Sekarang kita tidak mengerti dengan sepenuhnya karena kita tidak melihat hal apa yang begitu menyenangkan tentang manusia, termasuk diri kita sendiri. Adalah merupakan suatu misteri bagi saya mengapa ada orang yang mengasihi saya. Saya tidak dapat memahaminya. Saya tidak melihat apa-apa yang menyenangkan tentang diri saya. Saya juga tidak melihat apa-apa yang menyenangkan tentang orang lain. Namun Allah mengasihi kita. Suatu hari nanti, setelah kita diubahkan, kita akan mengerti.

Karena itu, marilah kita memahami dengan jelas bahwa kita sangat berarti bagi Allah. Dan karena kita berarti bagi Allah, adalah penting bagi-Nya apakah kita berdoa atau tidak. Jika Anda mengasihi seseorang, Anda rindu mendengar suaranya. Anda merindukan sepucuk surat darinya, Anda rindu menerima suatu panggilan telepon darinya. Kalau Anda tidak mendapatkan surat itu, Anda merasa bimbang, bertanya-tanya mengapa, mengapa? Apa sudah terjadi? Apakah kantor pos sudah ambruk? Apakah ia melukai tangannya? Apakah ia melukai dirinya? Anda khawatir, karena orang tersebut berarti bagi Anda. Dengan cara yang sama, penting bagi Allah apakah Anda berdoa atau tidak. Berusahalah untuk memahami hal yang sulit untuk dipahami ini. Sulit dipahami karena karakter Anda dan karakter saya masih belum sepenuhnya serupa seperti Allah.

Tetapi semoga Allah menolong kita untuk memahaminya. Kita berarti bagi-Nya karena Ia mengasihi kita dan Ia begitu mengasihi kita sehingga Ia siap berkemah di antara umatNya di Perjanjian Lama dan Dia siap mengerjakan keselamatan umat manusia melalui Yesus Kristus yang diutusnya. Paulus berkata, “Siapa dapat memahami kasih Allah?” Itulah sifat-dasar Allah. Kita harus mendapatkan satu konsep baru tentang sifat-dasar Allah.


TAHUKAH KITA AKAN KEBUTUHAN KITA?

Marilah kita melanjutkan kepada pertanyaan yang berikut. Mengingat bahwa Allah telah mengetahui apa yang kita perlukan, mengapa saya masih perlu berdoa? [ayat 8] Ia telah mengetahuinya sebelum saya membuka bibir saya. Alkitab menyatakan bahkan sebelum kata-kata terbentuk dalam bibirmu, Ia telah mengetahui apa yang Anda perlukan. Kalau begitu, apakah saya masih perlu berkata-kata?


1. Apakah Kita Mengetahui Apa Yang Kita Perlukan?

Kita harus menjawab pertanyaan ini dengan dua cara. Pertama, persoalan di sini bukan apakah Allah mengetahui tetapi apakah kita mengetahui apa yang kita butuhkan? Kebanyakan waktu, kita tidak tahu apa yang kita perlukan. Sangat penting bagi Allah agar kita menyadari apa yang kita perlukan.

Umpamanya, apabila seseorang sedang tenggelam, persoalan yang paling penting bukanlah apakah ada orang mendengarkan teriakannya tetapi, apakah ia berteriak atau tidak. Jika ia tidak berteriak, “Tolong! Aku tenggelam”, orang di pantai tidak akan mendengar panggilannya. Apakah penting bagi orang di pantai untuk mendengarkan dia? Tidak penting, karena bukan dia yang tenggelam. Jadi, apakah Anda memanggil atau tidak, orang yang berada di pantai tidak kehilangan apa-apa. Karena itu, jika Anda yang sedang tenggelam, yang penting bukan orang itu perlu mendengar teriakan Anda, tetapi Anda membutuhkan dia agar mendengarkan teriakan Anda.

Jadi, pertama-tama, Anda harus menyadari kebutuhan Anda sendiri. Saat kita masih hilang, persoalannya bukanlah apakah Allah mengetahuinya atau tidak tetapi apakah kita tahu kita hilang. Ini merupakan sesuatu yang sangat penting. Tentu saja dari sudut pandang manusia di sinilah di mana ilustrasi tadi berhenti, karena orang yang berada di pantai harus mengetahui bahwa Anda telah hilang, supaya ia dapat datang dan menolong Anda. Tetapi Allah telah mengetahui itu. Namun persoalan di sini ialah: apakah Anda mengetahui apa yang Anda perlukan? Tidak sehingga Anda benar-benar tenggelam, baru Anda akan menyadarinya, “Ah! Aku membutuhkan keselamatan. Aku perlu seseorang untuk menolongku.” Jadi, pokok yang pertama yang harus Anda ingat adalah ini: meskipun Allah mengetahui, Ia harus menunggu sampai Anda sendiri mengetahui apakah Anda membutuhkan sesuatu atau tidak. Apakah Anda membutuhkan keselamatan atau tidak.

Mengapa harus demikian? Karena kita tidak akan berbuat apa-apa melainkan kita mengetahui keperluan kita. Umpamanya berteriak minta tolong yang baru saya sebutkan tadi. Anda harus terlebih dulu mengetahui kebutuhan Anda, kalau tidak, Anda tidak akan berbuat apa-apa.


2. Apakah Kita Akan Berpaling Kepada Allah Untuk Mencukupkan Kebutuhan Kita?

Pokok yang kedua adalah: meskipun Anda mengetahui kebutuhan Anda tetapi itu tidak berarti Anda semestinya berpaling kepada Allah untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Umpamanya, Anda sedang tenggelam di dalam air, Anda mungkin saja bergumul di dalam air, coba merenang dan mengharapkan yang terbaik. Anda bisa saja tidak berteriak minta tolong.

Waktu saya kecil, saya pernah tinggal di Swiss saat ayah saya bekerja di PBB di Jenewa. Suatu hari, saya berada di sebuah hotel dan saya memandang keluar jendela dan melihat sebuah kolam renang yang indah. Saya berkata, “Ah, indah sekali.” Saya melihat beberapa orang dewasa dan beberapa anak kecil sebaya saya berenang-renang di dalamnya. Maka saya berkata kepada ibu saya, “Aku ingin bermain di kolam renang.” Ibu saya berkata, “Tapi kamu tidak bisa berenang.” Saya berkata, “Tidak apa-apa. Aku masih bisa bermain-main dalam air.” Ibu saya akhirnya menyetujui, “Baiklah, jika kamu mau pergi bermain di kolam renang, pergilah.” Lalu saya pergi ke kolam renang, dan saya berdiri dekat kolam renang dan melihat keliling. Kemudian saya melihat seorang anak kecil yang sebaya dengan saya, tingginya juga sama dengan saya. Ia melompat ke dalam air, dan berenang ke seberang sana. “Uh!” saya berkata, “Itu terlalu mudah. Siapa tidak bisa melakukan itu?” Apa yang begitu rumit? Anda hanya perlu melompat ke dalam air, dan menggerak-gerakkan tangan. Saya tahu bagaimana untuk menggerakkan tangan saya. Saya juga tahu bagaimana untuk melompat. Sangat mudah. Maka saya langsung melompat ke dalam air. Hei, ada yang tidak beres di sini! Apa yang seharusnya suatu gerakan yang mudah dan sederhana berubah menjadi satu pergumulan yang berat.

Lebih buruk lagi, saya tidak pernah ke kolam renang sebelumnya dan saya tidak tahu ada bagian yang dalam dan bagian yang dangkal. Saya telah terjun ke dalam bagian yang dalam. Tidak ada orang yang datang untuk menolong saya karena saya telah melompat ke dalam bagian yang dalam dan semua orang berpikir saya pasti seorang perenang. Walaupun saya bergumul dan meronta-ronta dalam air mereka berpikir saya sedang bermain-main, mencebar-ceburkan air. Apa yang terjadi? Semua orang memandang saya sambil tertawa-tawa sementara saya bergumul di dalam air berusaha untuk menyelamatkan nyawa saya.

Sehingga saat itu saya tidak tahu saya perlu belajar berenang. Saya berpikir, “Siapa perlu belajar berenang? Semua orang tahu bagaimana menggerakkan tangan. Lompat saja ke dalam, begitu mudah.” Tidak perlu membuang waktu untuk belajar berenang jika itu saja yang diperlukan untuk berenang. Mudah sekali. Tidak sehingga saya mulai tenggelam baru saya tiba-tiba menyadari, bahwa saya perlu belajar berenang. Berenang tidak segampang yang saya perkirakan.

Perhatikan bahwa saya tidak mengetahui kekurangan saya dan saya harus mengalami kejadian ini untuk saya menyadari kekurangan saya. Jika saya tidak terjun pada hari itu, dan seseorang berkata, “Bisakah kamu berenang?” Saya akan berkata, “Tentu saja. Mudah saja. Aku melihat anak itu lompat ke dalam, lalu menggerakkan kedua tangannya. Aku bisa melakukan itu. Tentu saja aku bisa berenang!” Namun pada waktu saya mencobanya, saya menemukan kekurangan saya yang sesungguhnya.

Jadi persoalannya bukan apakah Allah mengetahui kekurangan saya. Ibu saya mengetahui kekurangan saya tetapi saya tidak mengetahuinya. Ia telah memberitahu saya bahwa saya tidak bisa berenang tetapi saya tidak mempercayainya. Ibu saya mengetahui kekurangan saya tetapi saya tidak. Inilah hal yang pertama, bahwa sebelum seseorang dapat ditolong, ia harus mengetahui kebutuhannya sendiri. Ia harus ditolong sebagaimana mestinya, ia harus dibawa untuk menyadari kebutuhannya. Namun sesudah saya mengetahui kekurangan saya sendiri, saya tidak semestinya meminta pertolongan dari Allah. Pada waktu itu, saya tidak berteriak minta tolong. Pada kenyataannya, saya tidak dapat berteriak karena mulut saya dipenuhi air. Maka tidak ada orang yang datang menolong saya dan saya juga tidak berusaha untuk berteriak minta tolong. Saya terus bergumul sehingga pada akhirnya saya sampai pada sisi kolam dalam keletihan.

Dalam kasus-kasus seperti ini, kita barangkali masih dapat menyelamatkan diri kita sendiri. Tetapi perhatikan fakta ini, sesudah saya mengetahui keperluan saya, saya tidak semestinya berpaling kepada Allah untuk meminta pertolongan. Allah akan menunggu, karena jika kita berpikir kita dapat melakukan sesuatu untuk diri kita sendiri, kita tidak membutuhkan Allah untuk melakukannya bagi kita.

Jadi, terdapat dua hal yang perlu kita ketahui dalam persoalan ini. Pertama, apakah kita mengetahui kebutuhan kita? Yang kedua, apakah kita akan berpaling pada Allah untuk memenuhi kebutuhan itu? Atau apakah kita akan berpaling pada diri kita sendiri untuk memecahkan masalah itu? Dalam banyak hal, kita dapat memecahkan masalah itu sendiri. Akan tetapi jika demikian halnya, kita tentu saja tidak membutuhkan Allah. Jadi, persoalannya ialah apakah kita membutuhkan Allah; atau apakah kita menyadari kebutuhan kita akan Allah? Ini sangat penting dalam hal berdoa.

Jika saya dapat melakukan sesuatu sendiri, mengapa saya berseru kepada Allah untuk melakukannya bagi saya? Ini jelas. Jadi di sini kita melihat satu fakta yang sangat penting mengapa Allah mau kita berdoa. Bukan karena Ia tidak mengetahui apa yang kita perlukan tetapi persoalannya adalah apakah kita mengetahui apa yang kita perlukan. Sesudah kita mengetahui apa yang kita perlukan, apakah kita akan berseru kepada-Nya untuk memenuhi keperluan itu. Hal ini mempunyai kesan yang praktis terhadap kehidupan doa kita.

Jika saya tidak merasakan suatu keperluan, tentu saja saya tidak akan meminta kepada Allah untuk hal tersebut, karena saya tidak memerlukannya. Dan kedua, jika saya merasakan suatu keperluan tetapi saya merasa bahwa saya dapat memenuhi keperluan itu sendiri, maka saya juga tidak akan berdoa kepada Allah untuk hal tersebut. Ini juga jelas.


KEKURANGAN ADALAH KESEMPATAN UNTUK MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH

Namun seseorang mungkin bertanya, “Mengapa Allah harus menunggu sehingga kamu mengetahui keperluan kamu? Mengapa tidak memenuhi keperluan tersebut sebelum kamu meminta?” Saya pernah ditanyai pertanyaan seperti itu. Saya ditanya, “Mengapa aku harus meminta? Allah mengetahui apa yang aku perlu. Mengapa Ia tidak memenuhi keperluanku tanpa menunggu aku mengetahui keperluanku?” Apa pendapat Anda terhadap hal ini?

Seandainya setiap kali Anda memerlukan sesuatu, Allah dengan diam-diam memenuhi keperluan Anda bahkan tanpa Anda mengetahui bahwa Anda membutuhkan sesuatu, apa akan terjadi?  Anda tidak akan pernah merasa memerlukan apa-apa. Dapatkah Anda melihat bahwa jika Allah berbuat seperti itu, kita tidak akan pernah berpaling kepada-Nya, karena kita tidak pernah memerlukan apa-apa. Tidakkah kita melihat bahwa Allah menggunakan keperluan kita untuk menarik kita kepada Diri-Nya agar kita dapat menemukan jawaban kepada keperluan kita di dalam-Nya?

Kita memandang keperluan itu sebagai suatu beban tetapi pada kenyataannya hal itu adalah sebuah kesempatan rohani. Janganlah berdoa agar Allah meniadakan semua kekurangan Anda. Berdoalah agar Allah akan memenuhi kekurangan Anda. Janganlah berdoa agar Anda tidak akan pernah mengalami kekurangan, tetapi sebaliknya berdoalah agar dalam setiap kekurangan Anda dapat melihat kasih dan kebaikan Allah.

Andaikata Anda mempunyai seorang teman, Anda tidak akan pernah mengerti mengapa Anda membutuhkan teman itu jika Anda tidak pernah membutuhkan apa-apa darinya. Jika Anda tidak pernah memerlukan apa-apa, bagaimana Anda tahu bahwa teman itu adalah teman yang sesungguhnya? Bukankah hal ini berlaku juga dalam kehidupan rohani? Tidakkah benar jika Allah diam-diam memenuhi semua keperluan kita, kita tidak akan pernah merasa bahwa kita perlu mengenal Allah. Karena semua keperluan kita telah terpenuhi, mengapa kita perlu mengenal Allah? Dengan demikian kita akan kehilangan hidup yang kekal, karena hidup kekal bergantung pada pengenalan akan Allah. Jika kita tidak ada keperluan, kita tidak akan pernah datang kepada Allah. Kita tidak akan mempunyai kesempatan untuk mengenal-Nya. Kita harus datang kepada-Nya jika kita ingin mengenal-Nya. Tetapi kita tidak akan datang kepada-Nya jika kita tidak memerlukan apa-apa. Tidakkah ini jelas?

Manusia, sekalipun dengan niat baik, ada kalanya membinasakan hidup orang lain. Umpamanya orangtua. Mereka begitu mengasihi anak-anak mereka sehingga mereka memanjakan dan akhirnya membinasakan anak-anak mereka. Kasih seharusnya bijaksana. Pertanyaan mengapa Allah tidak memenuhi keperluan kita sebelum keperluan itu timbul, adalah pertanyaan yang tidak bijaksana yang memang merupakan sifat manusia. Itulah sebabnya banyak anak-anak yang menjadi dewasa tanpa pernah mengasihi orangtua mereka. Sayang sekali, orangtua mereka tidak memahaminya, “Kami telah mengasihinya sepanjang hidup kami, dan sekarang dia menjadi dewasa tanpa mengasihi kami.” Jangan salahkan anak itu. Salahkan dirimu sendiri karena kurang bijaksana dalam menangani anakmu.

Jika Anda selalu memberikan anak Anda apa saja yang diinginkannya tanpa pernah ia meminta terlebih dulu, Anda sedang melakukan sesuatu yang sangat bodoh. Anak itu tidak akan pernah tahu bahwa ia membutuhkan Anda. Mengapa ia tidak membutuhkan Anda? Karena mereka tidak menyadari bahwa mereka membutuhkan Anda, mereka tidak melihat perlunya untuk mendekat kepada Anda. Alhasil, mereka tidak pernah mengenal Anda, dan sebagai akibatnya, timbullah apa yang disebut sebagai ‘generation gap‘ (perbedaan generasi). ‘Generation gap’ timbul dari kurangnya kasih atau terlalu banyak kasih manusia. Salah satu dari dua alasan tersebut melatar-belakangi gejala ini.

Seorang anak yang terlalu dimanjakan akan berakhir menjadi anak yang tidak mengasihi orangtuanya. Anda berkata, “Nah, aku telah memberikan anak ini segala sesuatu yang dia inginkan.” Saudaraku, Anda telah bertindak bodoh! Belajarlah dari Allah. Anda harus menunjukkan kepada anak Anda bahwa ia membutuhkan Anda. Hanya dengan demikian Anda membawanya untuk menyadari akan kebutuhannya, kalau tidak, ia tidak akan pernah menyadari bahwa ia membutuhkan apa-apa. Ia merasa cukup, ia menjadi sombong, ia menjadi angkuh, sama seperti semua anak-anak manja yang lain. Mereka berkelakuan buruk, bersifat congkak. Mereka tidak merasa kekurangan. Mereka memiliki rasa penting diri yang palsu. Allah begitu bijaksana, bukan?

Anda mungkin tahu apa yang diperlukan oleh seorang anak, tetapi itu tidak berarti Anda harus langsung memberi mereka segala sesuatu. Biarkan anak itu terlebih dahulu sadar akan keperluannya. Ini adalah guna membantu anak itu. Mereka akan menjadi dewasa menghargai Anda, mengasihi Anda, berterima kasih kepada Anda untuk segala sesuatu yang telah Anda lakukan untuk mereka. Ajarilah mereka untuk berterima kasih. Ajarilah mereka untuk menyadari keperluan mereka. Mereka tidak akan pernah berterima kasih jika mereka tidak mengetahui apa yang mereka perlukan, meskipun Anda memenuhi keperluan itu. Perhatikan bahwa Allah begitu bijaksana dan betapa bodohnya manusia itu.

Jadi, ingatlah hal ini: Anda bisa merusakkan seseorang apabila Anda tidak mengasihinya, atau apabila Anda mengasihi dengan cara yang tidak bijaksana. Anda memberikan kepadanya segala sesuatu yang dia inginkan sebelum ia memintanya terlebih dulu. Jadi mereka tidak merasa membutuhkan apa-apa dan merasa berkecukupan, yang pada kenyataannya tidak benar. Semoga kita semua belajar dari Allah yang bijaksana bagaimana untuk menjalani kehidupan kita. Jalan Allah begitu sempurna dan satu-satunya alasan kita tidak mengerti jalan-Nya adalah karena kita begitu bodoh.

Karena itu, apabila kita merasa anak kita memerlukan sesuatu, jangan langsung memberi. Jika sudah jam makan, jangan langsung memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Mengapa tidak membiarkan anak merasakan sedikit kelaparan? Mereka akan berkata, “Papi, mami, aku ingin makan sesuatu.” Lalu Anda memberikan makanan kepada mereka, dan mereka begitu berterima kasih. Pisang itu terasa begitu enak karena mereka begitu lapar. Tetapi jika Anda selalu memaksakan makanan ke dalam mulut mereka, mereka menjadi muak. “Mengapa bertanya terus apakah aku mau pisang?” Ah, kita tidak memahami jalan Tuhan karena kita tidak mempunyai hikmat-Nya. Tunggulah sehingga anak itu membutuhkan sesuatu. Mereka akan memintanya, dan jika mereka minta dengan sopan dan baik, baru berikan kepada mereka. Mereka akan begitu menghargainya. “Ah, begitu enak. Papiku dan mamiku begitu baik terhadapku. Mereka begitu baik.” Sekarang mereka mengerti.

Catatkan bahwa inilah caranya Allah menangani kita sebagai anak-anak-Nya, sebagaimana seorang ayah yang bijaksana menangani anaknya. Ia menunggu sehingga kita meminta. Sesudah kita meminta, dan kita menyadari apa yang kita perlukan, dan kita menyadari bahwa hanya Dia yang dapat memenuhi keperluan kita, maka kita akan dipenuhi dengan rasa bersyukur. Ah, Allah begitu baik terhadap saya. Tetapi bagaimana mungkin kita dapat sampai kepada kesadaran ini jika Allah selalu memaksakan pisang dan kue ke dalam mulut kita? Kita tidak membutuhkan Dia. Kita berkata, “Tolong jangan terus memaksa aku.” Banyak anak-anak yang menjadi rusak karena ini. Mereka hampir membenci orangtua mereka. Mereka menjadi bosan dengan orangtua mereka, “selalu memaksa aku untuk makan, selalu membangunkan aku, selalu mengomeliku, selalu memanjakan aku, jadi gila aku.”

Perhatikan bahwa Allah tidak berurusan dengan kita dengan cara yang sama. Ah, betapa bijaksananya Allah. Betapa sempurna hikmat-Nya.  


DOA ADALAH PENERAPAN KEHENDAK

Hal yang berikut berhubungan dengan kehendak. Ada apa dengan kehendak? Begini, kecuali kita meminta dari Allah dalam doa, kita belum menerapkan kehendak kita guna meminta apa-apa dari-Nya. Jadi, pertama, kita harus mengetahui keperluan kita. Sesudah kita mengetahui keperluan kita, kita harus menerapkan kehendak kita dalam suatu arah yang tertentu. Keperluan atau kekurangan ialah sesuatu yang menggerakkan kehendak kita. Jika Anda tidak ada keperluan atau kekurangan, Anda tidak perlu memutuskan apa-apa. Anda tidak akan berkata, “Apa yang harus kulakukan tentang keperluan ini?” Anda tidak ada kesempatan untuk menerapkan pikiran dan kehendak Anda. Hal ini penting karena Allah mau kita menerapkan kehendak kita. Anda lihat, jika saya ada kekurangan, sayalah yang harus memintanya. Sayalah yang harus memutuskan untuk meminta atau tidak. Kehendak saya dilibatkan. Itulah sebabnya saya mengatakan tadi, jika orangtua terus memberikan barang-barang yang tidak diminta kepada anak-anak mereka, mereka tidak pernah membuat keputusan. Mereka telah dirampok kesempatan untuk memutuskan sesuatu untuk diri mereka sendiri. Mereka tidak mempunyai kesempatan untuk menerapkan kehendak mereka dalam menginginkan sesuatu. Anda memberikan sesuatu yang tidak mereka hendaki, karena mereka tidak memintanya. Tunggu sampai mereka menghendakinya dan mereka akan menerapkan kehendak mereka dan berkata, “Aku menghendakinya, aku membutuhkan benda ini. Tolong berikan padaku.” Dengan demikian mereka membuat satu keputusan dalam hubungannya dengan suatu keperluan tertentu.

Mengapa hal ini penting? Hal ini penting karena Allah tidak menganggap kita seperti robot atau mesin tetapi sebagai manusia yang mampu membuat pilihan sendiri. Keperluan dan kekurangan memaksa kita membuat pilihan. Dengan meniadakan keperluan kita juga meniadakan kesempatan untuk membuat pilihan. Pilihan harus dibuat, kehendak kita dilatih saat kita berhadapan dengan suatu keperluan.

Sebagai orangtua, Anda meniadakan kesempatan untuk anak-anak Anda membuat keputusan sendiri, jika sebelum mereka sempat  membuat keputusan, Anda telah memutuskan bagi mereka. Maka Anda membesarkan anak-anak yang tidak mampu menghadapi tantangan kehidupan. Itulah sebabnya begitu banyak anak-anak yang datang dari keluarga kaya dan manja tidak sanggup menghadapi kehidupan. Mereka tidak diberi kesempatan untuk membuat keputusan, tidak diberi kesempatan untuk bergumul dengan kekurangan, dan berjuang menghadapi kekurangan.

Anda akan mendapati anak-anak dari keluarga miskin seringkali jauh lebih kuat, karena sepanjang kehidupan mereka, mereka harus bergumul dengan kekurangan dan masalah dan kesusahan. Mereka menjadi kuat dan betah menghadapi kekurangan. Tetapi anak-anak dari keluarga berada seringkali seperti ubur-ubur yang tidak bertulang belakang, yaitu, orang yang lemah wataknya. Mereka mempunyai rasa penting diri yang melangit tingginya tetapi bila diperhadapkan dengan ujian, mereka setiap kali ambruk. Mengapa? Karena mereka tidak pernah diberi kesempatan untuk berusaha, bergumul dan berjuang dengan kesulitan dan dengan kekurangan. Adalah menjadi tanggungjawab orangtua untuk menyediakan bagi anak-anak mereka kekurangan tertentu supaya mereka belajar untuk bergumul dan berjuang, supaya mereka menjadi kuat dan dapat membuat keputusan sendiri.


BIARLAH KEHENDAK ALLAH YANG JADI DALAM KEHIDUPAN KITA

Dengan cara yang sama, Allah mau kita membuat keputusan, untuk menyadari apa kekurangan kita, dan bergumul dengan kekurangan tersebut, sampai kita berkata, “Tuhan, inilah keperluanku, apakah Engkau mau mencukupkan keperluanku?” Kita telah memutuskan untuk meminta dari-Nya. Tentu saja kita harus menyadari kekurangan kita terlebih dulu. Tuhan membiarkan kita bergumul untuk suatu jangka waktu tertentu dan kita tidak menemukan adanya jalan keluar. Seringkali Tuhan mau kita sampai pada keyakinan bahwa tidak seorangpun yang lain yang dapat memenuhi kebutuhan kita kecuali Dia. Itulah sebabnya Anda akan menemukan bahwa seringkali terjadinya kelambatan dalam jawaban doa. Ia tidak langsung menjawab, dan Anda berkata, mengapa tidak? Mengapa? Karena Ia ingin Anda bergumul dengan kekurangan itu sampai Anda menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang dapat memenuhi kekurangan itu kecuali Allah.

Jika Ia memenuhi kebutuhan Anda sebelum Anda menyadari bahwa hanya Dia yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut, apa yang akan terjadi? Pertama, Anda tidak akan menerapkan kehendak karena Anda belum bergumul dengan masalah itu. Perhatikan bahwa Ia tidak memberkati Yakob segera sesudah Yakob berkata, “Berkati aku.” Tidak. Ia membiarkan Yakob bergulat sepanjang malam sampai pagi, ketika Yakob sudah letih dan kewalahan. Allah membiarkan kita bergumul. Ia membiarkan kita bergumul sampai kita menyadari, “Aku telah mencoba ini, aku telah mencoba itu, aku telah mencoba semuanya dan sudah kehabisan tenaga. Tidak. Aku tidak dapat menemukan jawaban kepada masalah ini.” Kemudian Allah menjawab Anda, dan Anda akan berkata, “Ya Tuhan, Engkau sungguh baik.” Lalu Anda akan menghargai hikmat dan kuasa Allah.

Mengapa Ia harus melakukannya untuk Anda, jika Anda dapat melakukannya sendiri? Mengapa Ia harus melakukannya untuk Anda, jika orang lain dapat melakukannya untuk Anda? Ia tidak akan melakukannya. Tetapi pada saat Anda menyadari bahwa Anda tidak dapat berpaling ke tempat lain, Anda telah kehabisan ide, Anda telah mencoba setiap kemungkinan yang lain, sekarang hanya Allah yang dapat menjawab. Perhatikan bahwa inilah caranya Ia menguatkan kita. Ia menjadikan kita kuat secara rohani. Anda tidak perlu khawatir. Allah tidak akan memanjakan kita. Ia tidak akan menjadikan kita seperti robot. Ia tidak akan menghilangkan kesempatan untuk kita melatih kehendak kita.

Jadi saudara-saudara, menjadi seorang Kristen tidak berarti Anda akan kehilangan kepribadian Anda. Tidak. Allah ingin supaya Anda membuat keputusan dan melatih kehendak Anda, dan menggunakannya  dengan sepenuhnya. Ia akan menunggu, sampai oleh kehendak Anda sendiri, Anda berkata, “Jadilah kehendak-Mu di bumi dan dalam kehidupanku seperti di surga.” Ia akan menunggu sampai Anda mengatakan itu. Ia tidak akan memaksakan kehendak-Nya ke atas diri kita. Ia akan menunggu sampai Anda menyadari bahwa tidak ada cara lain untuk memenuhi keperluan Anda selain dari kehendak Allah. Tidak ada solusi lain kepada masalah itu, selain dari kehendak Allah.

Selama Anda berkata ada solusi lain kepada masalah itu, Ia tidak akan bertindak. Tidak ada apa-apa yang akan terjadi sehingga Anda berkata, “Tuhan, jadilah kehendak-Mu. Jadilah kehendak-Mu di atas bumi, jadilah kehendak-Mu dalam hidupku seperti di surga.” Sebelum itu, Tuhan tidak akan bertindak. Sebelum kehendak Anda siap untuk melakukan kehendak-Nya, tidak ada apa-apa yang akan terjadi. Pada saat itu, Anda akan menyadari bahwa Allah tidak memaksakan kehendak-Nya ke atas kita. Ia tidak ingin menjadikan Anda seperti robot. Ia tidak akan berkata, “Kamu tidak perlu memutuskan apa-apa, tidak perlu menerapkan kehendakmu. Aku akan melakukannya untukmu.” Tidak.   


DOSA: MEMAKSAKAN KEHENDAK KITA ATAS ORANG LAIN

Ini membawa kita ke pokok yang berikutnya. Pikirkan hal ini –  dosa merupakan pelanggaran terhadap kehendak seseorang. Apakah Anda menyadari hal ini? Dosa ialah pelanggaran, atau penghapusan atau pembatalan kehendak seseorang. Allah tidak akan melakukan seperti itu kepada kita.

Pikirkan, apa itu perampokan? Perampokan atau pencurian ialah perampasan sesuatu dari Anda, sesuatu yang tidak ingin Anda berikan tetapi diambil secara paksa dari Anda. Seorang perampok datang kepada Anda, mengacukan sepucuk pistol dan berkata, “Serahkan semua uangmu!” Apakah Anda mau atau tidak, ia tidak peduli. Ia mau mengambilnya sekalipun itu berlawanan dengan kehendak Anda. Ia menundukkan kehendak Anda dengan mengacungkan pistolnya kepada Anda. Pistol itu diacukan kepada Anda, supaya Anda tidak dapat menerapkan kehendak Anda. Ia ingin menjadikan Anda sebuah robot yang dapat dieksploitasi. Ia akan mengambil semuanya dari Anda.

Pikirkan dosa apa saja dan Anda akan melihat bahwa dosa adalah usaha untuk menghancurkan atau bertindak bertentangan dengan kehendak seorang yang lain. Hal yang sama berlaku juga untuk pembunuhan, yang mana Anda benar-benar menghancurkan seorang yang lain; menghapuskan kemungkinan untuk dia berkehendak. Anda menetralkan orang itu. Kekerasan seks juga sama. Apabila seseorang diserang, itu berlawanan dengan kehendaknya dan ia diperkosa berlawanan dengan kehendaknya. Anda tidak menganggap orang itu sebagai seorang manusia, Anda menganggap orang itu seperti “benda mati”.

Dosa selalu menganggap orang lain sebagai satu “benda mati”, bukan satu pribadi. Dan cara untuk menganggap seorang yang lain seperti suatu “benda mati” adalah dengan meniadakan, atau tidak menghormati, atau melanggar kehendak orang tersebut.

Apakah Anda menyadari bahwa dosa selalu bertindak bertentangan dengan kehendak orang lain, dan juga bertentangan dengan kehendak Allah? Dosa tidak menangani seorang manusia yang lain sebagai seorang manusia. Sebaliknya, ini berarti kebenaran selalu menangani seorang manusia yang lain sebagai seorang “manusia”. Kebenaran selalu menghormati suatu pribadi yang lain sebagai suatu “pribadi”. Kebenaran tidak pernah melanggar kehendak orang lain. Ia tidak pernah menginjak-injak orang lain. Ia tidak menangani orang lain seperti satu benda atau obyek. Ini juga berarti Allah tidak akan bertindak dengan cara ini. Ia tidak pernah menginjak kita di bawah telapak kaki-Nya. Ia tidak merendahkan kita menjadi suatu “benda mati”, tetapi sebaliknya, Ia selalu berurusan dengan kita sebagai suatu pribadi.


ALLAH TIDAK MAU KITA KEHILANGAN KEPRIBADIAN KITA

Manusia mungkin menganggap kita seperti satu benda tetapi Allah tidak. Jika Anda pergi ke kantor pemerintah, Anda kehilangan kepribadian Anda, Anda menjadi hanya satu nomor. “Nomor 523!” Anda berkata, “Ah! Itu aku. Nomor 523”, dan Anda maju ke depan. Anda bukan lagi suatu pribadi, Anda menjadi satu nomor atau satu kartu. Mereka memasukkan Anda ke dalam komputer, dan Anda keluar sebagai suatu nomor, atau kasus nomor 53. Anda menjadi kasus nomor 53. Sangat menarik untuk memperhatikan bagaimana manusia selalu berusaha untuk saling membendakan yang lain.

Pernahkah Anda perhatikan bahwa hampir setiap polisi kelihatan sama seperti polisi yang lain? Aneh, mereka semua kelihatan sama. Mengapa? Karena mereka semua dengan sengaja dihilangkan kepribadiannya. Jika seorang polisi di Inggris ingin berkumis, ia akan mengalami masalah dengan pihak wewenang karena ia berusaha untuk mengembalikan kepribadiannya. Anda tidak seharusnya berkumis. Anda harus kelihatan sama seperti yang lain; setiap orang tercukur rapi dengan cara yang sama, potongan rambut yang sama, setiap orang memakai topinya dalam posisi yang sama; setiap orang mengenakan seragam yang sama. Satu-satunya perbedaan ialah perbedaan nomor, untuk membedakan satu benda dari yang lain.

Dunia ingin menghilangkan kepribadian Anda. Apabila Anda masuk tentara, mereka menganggap Anda sebagai satu benda. Anda diteriak-teriak, ditendang dengan sepatu but, diperintah untuk berdiri tegak, pergi sini, pergi sana, tidak boleh bicara, tidak boleh  menjawab, hanya jawab “ya” setiap waktu. Kehendak Anda tidak penting, hanya kehendak Komandan yang berarti. Pada akhirnya, kehendaknya juga tidak penting, hanya kehendak Komandan Tertinggi yang diperhitungkan. Jadi, segala sesuatu direkayasa untuk menghilangkan kepribadian kita. Menarik, bukan? Sangat aneh, itulah caranya dunia ini berfungsi.

Namun Allah tidak seperti itu. Ia ingin Anda menjadi Anda. Hal ini mempunyai implikasi yang serius bagi seluruh persoalan tentang tuntunan/pimpinan Allah. Kita telah begitu diindoktrinasikan sehingga kita berpikir tipe orang Kristen yang terbaik adalah mereka yang telah kehilangan kepribadiannya. Kita yang berkelakuan seperti robot, atau mesin untuk dianggap sebagai orang Kristen yang terbaik, orang Kristen “yang dikontrol Roh”. Orang yang tidak pernah memutuskan untuk melakukan apa-apa, hanya menunggu Allah untuk melakukan segalanya. Ia tidak berkata ‘ya’ sampai Allah berkata ‘ya’. Persoalannya adalah bagaimana ia menentukan kapan Allah berkata ‘ya’.

Saya ada seorang teman dan saya undang dia untuk datang ke tempat saya dan ia berkata, “Ya, ya, pasti, apabila Allah mengizinkan aku datang.” Tetapi masalahnya, ia tidak akan memberitahu Anda apakah ia akan datang atau tidak. Anda bertanya mengapa? Karena ia sedang menunggu pimpinan Allah. Dalam kasus teman saya ini, pimpinan Allah selalunya terjadi lima menit sebelum ia datang. Dan ini membuat aransemen (perencanaan) untuk mengundangnya berkhotbah hampir mustahil. Saya harus bersiap-siap dengan satu khotbah, bilamana saya mengundang saudara ini untuk berkhotbah, karena jangan-jangan lima menit sebelum pertemuan ia memutuskan untuk tidak datang. Mengapa? Karena, mungkin menurutnya, Tuhan mau dia untuk tidak datang. Ini sangat menjengkelkan. Walau bagaimanapun, selalunya ia datang. Tetapi Anda tetap harus menyiapkan diri karena terdapat 10% kemungkinan ia tidak datang. Karena itu, lebih baik Anda menyiapkan seorang yang lain. Coba bayangkan mengundang orang seperti ini untuk berkhotbah di sebuah konferensi. Sudah tentu ia tidak dapat memberitahu apakah ia akan datang atau tidak. Anda mengundangnya delapan bulan sebelumnya, dan ia berkata, “Oh, tidak. Aku tidak akan tahu sampai 5 menit sebelum konferensi.”

Perhatikan bahwa banyak orang berpikir itulah orang Kristen yang ideal; ia tidak memutuskan apa-apa; ia tidak membuat keputusan; ia tidak tahu apakah ia akan menghadiri undangan makan atau tidak, apakah ia akan menghadiri undangan berkhotbah atau tidak. Astaga, Anda menyebut itu sebagai ‘dikontrol Roh’. Kadang-kadang Anda berusaha untuk menolong orang seperti ini, namun mereka merasakan diri mereka ‘super-rohani’, bahwa mereka begitu dipimpin Roh sehingga mereka berhenti menggunakan kehendak mereka secara total. Mereka berniat baik tetapi tidak mengenal Firman Allah. Firman Allah tidak memberitahu kita bahwa orang Kristen ‘super’ adalah mereka yang telah berhenti menggunakan kehendak mereka.

Mati bagi diri tidak berarti Anda tidak lagi mempunyai kehendak lagi. Maksud saya, kita mati terhadap dosa, terhadap cara hidup yang lama. Seluruh pikiran Anda, seluruh kehendak Anda diperbarui dan menjadi baru tetapi tidak berarti Anda sudah tidak perlu berkehendak lagi.


BERSEKUTU MELALUI KESATUAN KEHENDAK

Jadi, kita harus memahami betapa pentingnya semua hal ini dalam hubungannya dengan doa. Allah mau kita menerapkan kehendak kita dalam doa. Kita harus menghendaki hal itu, dan bukan karena saya begitu rohani sehingga saya tidak mempunyai kehendak sama sekali karena kalau begitu, saya tidak perlu mendoakan apa-apa. “Saya begitu rohani sekarang dan apa saja yang Allah mau berikan saya terima, saya tidak perlu berdoa untuk apa-apa.” Ini berarti Anda begitu dipenuhi Roh sehingga Anda tidak perlu berdoa lagi, karena Anda tidak ada keperluan. Malah Anda tidak peduli apakah Anda memerlukan sesuatu atau tidak. “Saya tidak peduli apakah saya mati kelaparan, apakah keluarga saya mati kelaparan, atau anak-anak saya mati kelaparan. Semua ini tidak penting lagi karena Allah mengetahui apa yang saya perlukan dan Ia akan memenuhi keperluan saya. Jika Ia tidak memenuhi kekurangan saya, maka itu adalah kehendak-Nya, bahwa saya harus mati kelaparan.” Situasi ini kedengarannya sangat menyedihkan tetapi itulah yang terjadi. Inilah akibatnya jika kita membuat kesimpulan yang salah.

Di dalam Alkitab, saya tidak membaca tentang pengontrolan Roh. Saya meminta Anda menunjukkan satu ayat di dalam Alkitab tentang hal ini. Dapatkah Anda mencarikan hanya satu ayat yang menyatakan bahwa kita dikontrol oleh Roh Kudus dalam pengertian kita berhenti untuk menerapkan kehendak kita. Tolong tunjukkan kepada saya satu ayat, dari mana saja. Tidak ditemukan. Tetapi saya membaca di dalam Alkitab tentang persekutuan Roh. Saya membaca banyak tentang persekutuan Roh. “Kasih karunia Tu(h)an Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian,” apa artinya?

Anda hanya dapat bersekutu jika dua orang mempunyai hubungan dan persekutuan kehendak. Jika saya berhenti menjadi suatu pribadi, Anda tidak dapat bersekutu dengan saya karena saya tidak mempunyai kehendak.

Saya tidak dapat menanggapi Anda. Apa saja yang Anda katakan adalah baik, oke, bagus. Bagaimana Anda bersekutu dengan seseorang seperti itu? Umpamanya, “Apakah Anda mau keluar”? “Baik juga.” “Anda mau makan sekarang?” “Oke.” Sesudah beberapa waktu seperti ini, Anda akan menjadi begitu bosan. Bagaimana Anda dapat bersekutu dengan orang yang tidak berkehendak?

Bersekutu berarti bersekutu dengan suatu pribadi, Anda tidak dapat bersekutu dengan suatu benda mati. Saya tidak dapat bersekutu dengan mobil saya. Maksud saya, mobil saya pergi ke mana saja saya inginkannya pergi. Mobil tidak mempersoalkan apa-apa. Saya hanya dapat bersekutu dengan seorang manusia yang menggunakan kehendaknya. Saya berkata, “apakah kamu mau makan?” “Oh! Aku akan menyukainya!” “Atau, oh tidak karena aku masih kenyang.” Ah! Ini baru satu jawaban.

Mengapa Anda berpikir Allah ingin kita menjadi robot? Apabila Allah berkata, “Apakah kamu mau keluar hari ini dan pergi ke tempat itu?” “Aku tidak keberatan (I don’t mind).” Bukan begitu. Allah mau kita berkata, “Tentu, aku senang melakukannya. Pasti Engkau mau aku pergi? Amin! Aku pergi.” Ini sangat berbeda dari berkata, “Aku tidak keberatan” karena yang satu melibatkan kehendak, dan yang satu lagi tidak melibatkan kehendak. Ini merupakan suatu perbedaan yang besar. Jadi kita bersekutu dengan Allah melalui kesatuan kehendak, bukan berarti kita tidak lagi mempunyai kehendak.

 

Berikan Komentar Anda: