Pastor Eric Chang | Matius 6:11 |

Kita akan melihat Matius 6:11,

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.”

(Dalam bahasa aslinya, kata yang diterjemahkan sebagai makanan adalah kata “roti”.) Sepertinya tidak banyak yang dapat dikatakan tentang ayat ini. Sekilas pandang, ayat ini hanyalah satu doa di mana kita meminta Tuhan untuk memberi kita apa yang kita perlukan, yaitu makanan kita setiap hari.

Selain dari pengertian bahwa kita harus meminta kepada Allah untuk menyediakan keperluan seharian kita, apa lagi yang dapat dikatakan tentang ayat ini? “Berikanlah kami hari ini makanan atau roti kami yang secukupnya.” Apakah doa ini berarti kita meminta Allah untuk mengirim roti dari surga? Apakah “berikanlah kami,” berarti Allah akan mengulurkan tangan-Nya dari surga dan memberikan kepada kita sepotong roti? Secara harfiah, itulah tafsirannya, bukan? “Berikanlah kami,” berarti saya mengulurkan tangan saya dan berkata, “Berikanlah aku rotiku.” Aneh sekali. Orang Kristen suka menafsirkan Firman secara harfiah, tetapi sampai pada ayat ini, tidak ada yang menafsirkannya secara harfiah. 


APA MAKSUD DOA INI?

Banyak orang Kristen yang berdoa, tetapi mereka tidak terlalu pasti apa yang telah mereka doakan. Apabila Anda mendoakan sesuatu, pastikanlah Anda tahu apa yang Anda doakan, kalau tidak, bagaimana Anda bahwa Tuhan sudah menjawab? Allah kita adalah Allah yang hidup. Apabila Anda telah mendoakan sesuatu yang spesifik, ambil sebuah buku dan catatkan doa tersebut, catatkan hari dan tanggal bilamana Anda mengucapkan doa tersebut. Sediakan tempat untuk mencatat hari dan tanggal bilamana Tuhan menjawab. Allah itu nyata dan hidup, itulah alasan mengapa saya berani menantang setiap orang Kristen untuk melakukan hal ini, supaya Anda dapat melihat sendiri bagaimana Allah menjawab doa Anda. Alasan mengapa saya ingin Anda melakukan ini adalah supaya saat Anda mengatakan Allah menjawab doa, Anda benar-benar menyakininya. Mengapa tidak mencatatkan saja permohonan doa Anda? Allah tidak takut ditantang. Mengapa kita takut? Di dalam kehidupan saya, Allah senantiasa menjawab doa melampaui segala yang dapat saya pikirkan. Akan tetapi, jika Anda bahkan belum meminta, bagaimana Anda tahu Ia telah menjawab? Walaupun Anda hanya meminta hal-hal yang kecil, catatkan hal-hal kecil itu supaya Anda menjadi berani untuk meminta hal-hal yang lebih besar pada kemudian hari. Inilah yang biasanya dilakukan oleh George Mueller. Ia mencatatkan pokok-pokok doanya dan jawaban Allah bagi setiap doanya. Pada akhir hidupnya, ia dapat mengatakan bahwa di sepanjang hidupnya ia telah mendoakan tidak kurang dari 50,000 doa yang spesifik dan menerima 50,000 jawaban yang spesifik kepada doa-doa yang dipanjatkanya kepada Tuhan. Inilah caranya untuk mengenal Allah. 

Tentu saja, saya harus mengatakan, bagi seorang non-Kristen, Anda tidak berhak membuat permintaan tertentu. Allah masih belum menjadi Bapa Anda. Doa Bapa Kami dimulai dengan, “Bapa kami di surga.” Allah harus pertama-tama menjadi Bapa Anda terlebih dahulu. Anda harus dilahirkan kembali dan setelah Ia menjadi Bapa Anda, maka Anda dapat berdoa dan menerima dari-Nya sebagai seorang anak.  Satu-satunya doa yang dapat Anda doakan adalah doa pertobatan. Mulailah dengan mendoakan agar Allah mengubah kehidupan Anda.

Pastikan bilamana Anda mendoakan sesuatu, Anda tahu apa yang Anda minta. Jadi sekarang, jika kita mendoakan, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,” apa sebenarnya yang sedang kita pinta? Apakah kita sedang meminta makanan kita setiap hari? Akan tetapi, bukankah setiap hari Anda mendapat makanan? Anda sudah makan siang, bukan? Kalau ‘ya’, maka Allah telah menjawab doa Anda. Namun, orang yang tidak percaya juga mendapat makan siang. Mungkin Anda akan menjawab, “Allah juga baik kepada orang tidak percaya.” Baiklah, Anda bisa menjelaskan dengan cara itu. Saya bisa menerimanya. Akan tetapi, persoalannya ialah, apakah ini yang dimaksudkan oleh Yesus di dalam ayat ini?


Jaminan Pekerjaan?

Apakah “Berikanlah aku pada hari ini makananku yang secukupnya,” berarti, “Tuhan, tolonglah carikanku sebuah pekerjaan. Atau, tolonglah aku mempertahankan pekerjaanku”? Pekerjaan Andalah yang akan memberikan Anda makanan. Jika Anda kehilangan pekerjaan, Anda kehilangan makanan. Jadi, barangkali doa ini berarti, “Tuhan, tolonglah aku agar aku tidak kehilangan pekerjaanku.” Jika demikian halnya, mengapa tidak langsung berkata, “Tuhan, tolonglah aku mempertahankan pekerjaanku”? Mengapa tidak langsung saja mendoakan tentang hal pekerjaan?


Hasil Panen Yang Baik?

Atau apakah artinya , “Tuhan, tolonglah agar panen kami tidak rusak”? Jika panen rusak karena kemarau atau badai, sumber makanan akan terpengaruh. Mungkin inilah artinya. Namun, jika inilah artinya, tidakkah lebih baik jika kita berdoa dengan spesifik? “Tuhan, lindungilah hasil panen kami.” Atau, apakah doa ini cara yang malas untuk memastikan bahwa semua aspek sudah tercakup di dalam satu paket, supaya kita tidak perlu mengucapkannya satu per satu kepada Allah? Anda bisa mengatakan semua yang ingin Anda katakan dalam satu kalimat. Barangkali Yesus sedang mengajar kita untuk mengurangi kuantitas doa kita?!


Memiliki Kesehatan Yang Baik?

Saya membahaskan hal ini dengan seseorang dan saya bertanya, “Menurut Anda apa artinya doa ini?” Saran-saran yang diusulkan sangat menarik. Mungkin artinya adalah supaya kita tidak sakit. Karena jika kesehatan Anda terganggu, Anda tidak dapat bekerja dan tidak punya penghasilan. Mungkin itulah artinya. Jika demikian, sekali lagi pertanyaan saya ialah, mengapa tidak mendoakan hal tersebut secara langsung? “Tuhan, kesehatanku kurang baik. Tolonglah pulihkan kesehatanku atau lindungilah kesehatanku.” Apakah perlu kita berkata, “berikanlah aku pada hari ini makananku yang secukupnya” padahal yang mau kita katakan adalah, “lindungilah kesehatanku”?


Stabilitas Ekonomi Negara?

Jika itu artinya, barangkali kita harus berdoa juga kepada Tuhan agar perusahaan tempat kita kerja tidak bangkrut dan ekonomi negara tidak krisis. Hal-hal semacam ini mempengaruhi penghasilan kita. Mengapa kita harus mendoakan hal-hal ini? Karena terdapat begitu banyak faktor yang mempengaruhi suplai makanan kita. Barangkali kita harus berdoa agar tukang roti tidak mogok kerja atau petani terus bertani, karena jika mereka mogok kerja, suplai makanan kita akan terjejas.

Apakah itu saja yang ingin Yesus ajarkan kepada kita? Apakah ada alternatif yang lain? Apa yang kita doakan saat kita mengucapkan doa ini? Atau apakah ini merupakan doa yang sudah meliputi semua hal. Menurut Anda apa artinya doa ini? Atau, apakah Anda bingung sekarang? Namun, kita mendapati di gereja-gereja, banyak orang selalu mengucapkan doa ini. Saya pernah menanyai banyak orang Kristen dan saya mendapati mereka tidak tahu apa artinya.


Bagaimana Kalau Kulkas Kita Penuh Makanan?

Mungkin Anda ada keperluan dan doa ini meminta agar Allah menggerakkan seseorang untuk mencukupkan keperluan Anda. Kelihatannya pengertian ini juga dapat diterima. Mungkin Allah tidak mengulurkan tangan dari surga dan memberikan kepada kita sepotong roti, tetapi Ia mungkin menggerakkan seseorang untuk memberikan kita sepotong roti. Barangkali itulah artinya.

Jika ayat ini berarti Allah harus menyediakan bagi kita makanan seharian kita, lalu bagaimana kalau dapur di rumah kita penuh dengan makanan? Ada jagung, roti, daging, biskuit dan lemari es yang dipenuhi dengan berbagai persediaan makanan. Apa yang dimaksudkan dengan “roti hari ini”? Anda mempunyai bekal yang cukup untuk 3 bulan! Jadi saat Anda mendoakan Doa Bapa Kami ini, sebaiknya Anda melangkahi kalimat tentang makanan ini karena Anda tidak hanya punya cukup makanan untuk hari ini, tetapi untuk beberapa hari yang akan datang. Lebih baik Anda tunggu sampai Anda kehabisan makanan, baru Anda berdoa, “Tuhan, aku ada perlu sekarang. Berikanlah aku hari ini makanan yang secukupnya.”


Doa Ini Untuk Mereka Yang ‘Hidup Oleh Iman’?

Barangkali kita harus berkata mungkin doa ini hanya berlaku bagi mereka yang ‘hidup oleh iman’. Mungkin inilah solusinya. Mungkin doa ini berarti, “Tuhan, karena aku hidup oleh iman, maka aku perlu bergantung kepada Engkau untuk menyediakan makananku setiap hari.” Tentu saja, penjelasan ini kedengaran lebih mudah diterima. Hanya saja, jika demikian halnya, maka satu-satunya orang yang layak mengucapkan doa ini adalah orang yang ‘hidup oleh iman’. Jika Anda tidak ‘hidup oleh iman’, Anda tidak seharusnya mengucapkan doa ini. Apa maksudnya ‘hidup oleh iman’?

Secara sederhana kita dapat berkata orang yang ‘hidup oleh iman’ adalah mereka yang melayani Allah tanpa gaji yang tetap. Mereka tidak ada pendapatan yang tetap. Mereka bergantung sepenuhnya kepada Allah untuk kebutuhan dan perbekalan mereka. Merekalah orang yang ‘hidup oleh iman’. Apabila saya berbicara tentang ‘hidup oleh iman’, saya berbicara dari pengalaman. Selama banyak tahun, saya ‘hidup oleh iman’, yaitu bergantung semata-mata kepada Allah untuk menyediakan keperluan saya. Akan tetapi, apakah ini yang dimaksudkan oleh Yesus di sini? Jika demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa doa ini hanya terbatas untuk orang-orang yang ‘hidup oleh iman’. Semua orang Kristen yang lain yang mempunyai pekerjaan yang lain tidak boleh mengucapkan doa ini. Haruskah mereka mengabaikan kalimat ini dan mendoakan bagian lain dari Doa Bapa Kami ini?

Baiklah, apa jawaban kita kepada persoalan ini?


STRUKTUR DOA BAPA KAMI

Perhatikan struktur menyeluruh dari Doa Bapa Kami ini. Terdapat tujuh permohonan. Strukturnya sangat indah. Doa ini dimulai dengan “Bapa kami di surga,” dan kemudian diikuti oleh tujuh pokok doa, dan tujuh merupakan nomor yang melambangkan kesempurnaan di dalam Alkitab. Pokok doa ini, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” menduduki tempat yang keempat. Yang keempat, tentu saja, adalah tempat pertengahan. Tiga permohonan sebelumnya, dan tiga lagi setelahnya. Doa ini berada tepat di tengah-tengah ketujuh permohonan itu.

Apabila Anda menyelidiki keenam pokok doa yang lain itu, Anda akan menemukan bahwa setiap satu dari doa tersebut berkaitan dengan hal yang sama. Setiap satu berkaitan dengan subyek keselamatan. Kita telah melihat apa artinya “dikuduskanlah nama-Mu”. Kita telah melihat “datanglah Kerajaan-Mu”, “jadilah kehendak-Mu di bumi”. Kita telah mempelajari semua pokok doa ini. Tentu saja, “datanglah Kerajaan-Mu” dan “jadilah kehendak-Mu di bumi” merupakan dua pokok doa yang berbeda, tetapi keduanya berkaitan dengan keselamatan dari Tuhan. Jika kita melihat doa yang selanjutnya, “ampunilah kami akan kesalahan kami”, “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan”, “lepaskanlah kami daripada yang jahat”, setiap satunya juga berhubungan dengan hal keselamatan.

Setelah kita melihat struktur Doa Bapa Kami yang indah ini, Anda mulai menyadari bahwa pokok doa yang berada di tengah-tengah itu juga seharusnya berhubungan dengan keselamatan dan bukan hanya berkaitan dengan makanan jasmani kita sehari-hari. Doa ini juga pasti ada kaitannya dengan hal keselamatan.


KAITAN DOA INI DENGAN HARI SABAT

Kunci untuk memahami ayat ini adalah untuk memahami artinya roti. “Berikanlah kami pada hari ini roti kami yang secukupnya. Terjemahan kalimat ‘yang secukupnya’ bukanlah terjemahan yang tepat. Jika Anda melihat kebanyakan Alkitab bahasa Inggris, Anda akan menemukan catatan kecil di ayat tersebut, yang berbunyi “roti kami untuk hari besok”. Hal ini sangat menarik.  Apa artinya? Saya tidak akan menjelaskan aspek-aspek teknis yang memang sulit untuk dipahami bagi yang tidak mengetahui bahasa Yunani. Namun, yang dimaksudkan di sini bukanlah ‘makanan yang secukupnya’ atau ‘makanan sehari-hari’. Malangnya, pengertian yang kurang tepat ini telah menjadi tradisi, dan sangat sulit untuk mengubah sebuah tradisi. Artinya yang sebenar tercatat di catatan kaki ayat di Matius 6:11, yaitu “roti untuk hari besok”. Apa artinya “roti untuk hari besok”.

Mari kita mempertimbangkan sejenak, apa artinya “roti untuk hari esok”? Apa yang dimaksudkan dengan “Berikanlah kami hari ini roti kami untuk hari esok”? Secara sederhana, roti adalah suatu gambaran yang sangat lazim di dalam Alkitab yang menunjuk kepada Firman dari mulut Allah. Jadi, kita tidak hanya berbicara tentang roti jasmani walaupun saya tidak akan menyangkal bahwa ia juga bisa menunjuk kepada itu. Akan tetapi, di dalam konteksnya yang berhubungan dengan keselamatan, doa ini menunjuk kepada roti rohani, roti untuk hari esok.

Apa artinya ‘hari esok’? Di dalam Alkitab, ‘hari ini’ adalah zaman ini, ‘hari esok’ adalah zaman akan datang, hari penyelamatan itu. Ibrani 4, umpamanya, memberikan gambaran seperti itu.

“Selama masih dapat dikatakan ‘hari ini’, jangan ada yang menjadi tegar hatinya.”

Apa artinya ‘hari ini’? ‘Hari ini’ melambangkan keselamatan pada zaman ini. ‘Hari ini’ adalah hari penyelamatan itu. ‘Hari ini’ tidak berarti hari yang terdiri dari 24 jam sebagaimana yang dipakai dalam bahasa seharian. ‘Hari ini’ berarti keselamatan pada zaman ini. Ibrani 4 sangat penting untuk pengertian ini. Ungkapan ‘hari ini’ yang menunjuk kepada zaman sekarang juga dapat ditemukan di bagian lain di dalam Alkitab. Di dalam Ibrani 4 juga dikatakan,

“Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!”

Supaya apa? Supaya Anda bisa memasuki hari yang berikutnya. Apa hari yang berikutnya itu? Yaitu hari yang baru, hari Sabat, hari perhentian itu. Penulis kitab Ibrani berkata,

“Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah.

Ini menunjuk kepada suatu hari yang baru, yaitu hari Sabat Allah. Semua ini mungkin kelihatannya rumit, tetapi sebenarnya sangat sederhana. Hari Sabat merupakan hari perhentian, di mana tidak ada kekacauan, tidak ada penderitaan dan tidak ada lagi beban dosa. Itulah gambaran bagi hari Sabat, hari perhentian, perhentian dari beban dan kesusahan dan kesukaran akibat dosa. Kita masuk ke dalam perhentian Allah. Ibrani 4 menangani pokok ini dengan sepenuhnya. Jadi, ‘hari ini’ kita bertobat supaya kita dapat memasuki ‘hari esok’, hari esok yang baru itu.

Alkitab berbicara menggunakan bahasa kiasan, tetapi bahasa kiasan ini tidak sulit untuk dimengerti. ‘Hari ini’ kita meminta kepada Allah untuk menyediakan bagi kita roti untuk ‘hari esok’. Roti ‘hari esok’ adalah roti Sabat, roti yang akan Allah berikan kepada kita di Perjamuan Mesias dalam Kerajaan Allah. Kita membaca di Injil Lukas, “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.” Kalau diterjemahkan secara harfiah, ayat itu seharusnya berbunyi, “Berbahagialah orang yang akan memakan roti dalam Kerajaan Allah.” Kita mendapati gambarannya menjadi semakin jelas. Lebih dari itu, Yohanes 6 memberikan suatu penjelasan yang begitu indah dan mengherankan: “Akulah roti yang telah turun dari surga. Akulah roti hidup; barangsiapa yang memakan Aku, ia tidak akan mati.” Yesus adalah makanan rohani yang perlu kita makan. Ialah roti keselamatan. Ialah roti hidup. Roti jasmani dan makanan jasmani memang penting, tetapi tidak ada roti yang lebih penting daripada roti hidup. Inilah roti yang dimaksudkan oleh Yesus.

Sangat menarik untuk perhatikan bahwa pikiran kita selalu beroperasi di tingkat yang lebih rendah daripada Yesus. Yesus berkata, “Runtuhkan Bait Suci  ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali,” dan mereka berpikir, “Ah, Yesus berbicara tentang Bait Suci itu.” Tidak, ia berbicara tentang dirinya sendiri, tubuh jasmaninya dan mereka berpikir, “Lihat, ia ingin meruntuhkan Bait Suci.” Kita selalu beroperasi di tingkat yang lebih rendah, dan karena itu tidak mengerti apa yang dikatakan Yesus. Apabila Yesus berbicara tentang roti pada kesempatan yang lain, “Waspadalah terhadap ragi orang Farisi,” dan mereka berkata, “Ah, kita lupa membawa roti.” Murid-muridnya selalu berfungsi di tingkat yang lebih rendah. Mereka tidak dapat mengerti tingkat yang lebih tinggi yang dibicarakannya. Ia berbicara tentang roti untuk hari esok. Ia menjelaskan roti macam apa yang dimaksudkannya. Akan tetapi, kita telah gagal memperoleh arti yang sebenarnya karena terjemahan Alkitab kita hanya berkata “makanan yang secukupnya”.

Jika Anda melihat pada struktur kepada Doa Bapa Kami, Anda seharusnya dapat melihat bahwa setiap pokok doa berkaitan dengan keselamatan, dan oleh karena itu, doa yang terdapat di pertengahan ini juga tidak terkecuali. Bukan saja tidak terkecuali, justru karena ayat itu merupakan pokok doa yang sentral, ia sebenarnya adalah klimaks bagi Doa Bapa Kami! Pokok doa ini sangat berkaitan dengan hal keselamatan. Apakah kita menyelidiki dari segi struktur, dari segi bahasa atau dari segi eksegese, kita akan mendapatkan kesimpulan yang sama. Sekarang kita mulai mengerti arti doa ini, “berikanlah kami hari ini roti untuk hari esok” – kalimat ini menunjuk kepada roti Sabat, roti Kerajaan Allah itu. Dapatkah kita berdoa seperti ini?

Manna yang turun dari surga yang memberi makan bangsa Israel selama di padang gurun merupakan suatu mukjizat yang tak terbayangkan. Mereka mengumpulkan manna selama 6 hari, tetapi bagaimana dengan hari yang ketujuh? Di Keluaran 16:22, kita membaca sesuatu yang sangat luar biasa. Oleh karena hari ketujuh adalah hari Sabat dan mereka tidak diizinkan untuk bekerja, jadi apa yang harus dimakan mereka pada hari Sabat? Tidak masalah. Allah menyediakan roti, makanan untuk hari Sabat pada hari keenam. Apa yang dilakukan Allah merupakan sesuatu yang menakjubkan. Ia menyediakan roti hari esok pada hari ini, supaya Anda memiliki roti hari Sabat. Sekarang Anda mengerti apa yang dimaksudkan dengan roti untuk hari esok. Sangat mudah untuk dimengerti. Roti Sabat disediakan pada hari keenam. Itulah satu-satunya waktu Anda boleh mengumpulkan roti untuk dua hari. Pada hari yang lain, Anda tidak boleh mengumpulkan roti untuk dua hari. Jika Anda coba melakukannya, roti itu akan menjadi busuk. Manna tidak boleh disimpan. Namun begitu, Allah bekerja sebegitu rupa sehingga mereka dapat menyimpan roti untuk hari esok pada hari keenam. Mereka boleh mengumpulkan roti untuk dua hari pada hari yang khusus itu. Mereka diberikan roti Sabat pada hari itu.

Hari Sabat merupakan hari perhentian, perhentian dari dosa. Sekarang artinya menjadi sangat jelas. Lebih-lebih lagi, kita melihat keindahan ajaran Yesus. Segala-galanya mulai menjadi jelas. Yesus memadatkan begitu banyak kekayaan dalam beberapa kata. Itulah cirinya ajaran Yesus. Sangat mengherankan. Ia selalu mengatakan sesuatu yang sangat dalam hanya dengan menggunakan satu kalimat singkat. Sekarang kita mengerti pernyataan yang aneh ini, “Berikanlah kami hari ini roti untuk hari besok.” 

Terjemahan “roti untuk hari besok” bukanlah sekadar pendapat saya. Anda dapat melihat kalimat ini di catatan kaki bagi ayat ini di hampir setiap terjemahan bahasa Inggris. Kebanyakan ahli-ahli teologia mengakui bahwa terjemahan yang tepat adalah “roti untuk hari esok”, tetapi mereka tidak sepenuhnya mengerti apa artinya. Beberapa orang memahaminya sebagai roti pada masa depan, dan mereka mengerti bahwa ini merujuk kepada Kerajaan Allah.


PENGAJARAN PENTING DARI PENGALAMAN BANGSA ISRAEL

Penjelasan tentang Yesus sebagai roti hidup dapat ditemukan dalam ajaran Yesus sendiri di Yohanes 6. Tentu saja, Yesus sebagai roti hidup merupakan bahasa kiasan. Akan tetapi, apa yang ingin disampaikan oleh kiasan yang khusus ini? Sudah tentu seorang manusia bukan sepotong roti yang dapat dimakan. Ini merupakan suatu gambaran untuk menyampaikan suatu kebenaran rohani yang penting kepada kita. Akan tetapi, apakah kebenaran yang ingin disampaikan? Yang jelas, gambaran roti ini menyampaikan kepada kita sesuatu yang tidak dapat disampaikan oleh gambaran yang lain. Misalnya, kita bisa berkata Yesus adalah sahabat kita yang terbaik. Itu juga merupakan suatu gambaran, dan suatu gambaran yang sangat nyata, tetapi tidak dapat menyampaikan unsur-unsur penting yang disampaikan oleh gambaran roti. Gambaran Yesus sebagai roti mengaitkan kita dengan bangsa Israel di padang gurun, dan dari fakta ini kita memperoleh beberapa ajaran yang sangat penting bagi kita.


KITALAH UMAT ISRAEL DI PADANG GURUN DUNIA

Sebagaimana yang dikatakan Paulus dalam 1 Korintus 10, “Semuanya ini dituliskan sebagai peringatan bagi kita.” Seluruh Perjanjian Lama dituliskan bukan hanya untuk dibaca seperti sebuah cerita, tetapi untuk mengajar kita pelajaran-pelajaran rohani yang penting hari ini. Apa yang dapat dipelajari dengan membandingkan gambaran Yesus sebagai roti dengan manna di Perjanjian Lama?

Sebagai orang Kristen kita berada dalam posisi yang sama dengan bangsa Israel di padang gurun. Pertama-tama, kitalah Israel milik Allah hari ini. Kitalah umat Allah, seperti yang dikatakan oleh Petrus di 1 Petrus, “Kitalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani.” Allah telah memilih kita keluar dari dunia ini, keluar dari Mesir dan Ia sedang memimpin kita ke tanah perjanjian. Kita sedang melewati padang gurun dunia ini. Kita telah diselamatkan dari Mesir, kita telah diselamatkan untuk keluar dari dunia, dan kita sedang berjalan melalui padang gurun.

KETERGANTUNGAN MUTLAK KEPADA MANNA SURGAWI

Dalam perjalanan melintasi padang gurun dunia ini, seperti bangsa Israel kita juga harus bergantung pada makanan dari surga untuk kelangsungan kehidupan rohani kita. Secara rohani, Anda tidak mungkin dapat bertahan hidup di padang gurun dunia ini, tanpa setiap hari menerima roti dari surga. Bangsa Israel juga tidak dapat hidup tanpa manna dari surga. Merupakan suatu mukjizat bagaimana bangsa Israel dapat bertahan hidup di padang gurun. Saya pernah mengadakan perjalanan dari Yerusalem ke Eilat, melewati sebagian kecil dari padang gurun yang dijelajahi bangsa Israel selama 40 tahun itu, sebuah padang gurun yang mengerikan. Di daerah gurun sama sekali tidak ada makanan. Saat memandang ke padang gurun tersebut, Anda bertanya-tanya bagaimana manusia dapat bertahan hidup. Sangat menakjubkan bagaimana lebih dari satu juta orang dapat hidup selama 40 tahun di padang gurun yang gersang itu. Tempat di mana tidak suatu pun yang dapat bertumbuh kecuali beberapa semak liar. Bagaimana Anda memberi makan kepada lebih dari satu juta orang? Kita diberitahu bahwa saat bangsa Israel keluar dari Mesir, kelompok mereka terdiri dari 600,000 orang laki-laki. Tambahkan kaum perempuan dan anak-anak, jumlahnya lebih dari satu setengah juta orang. Bagaimana Anda memberi makan kepada satu setengah juta orang di padang gurun seperti ini? Suatu hari nanti, jika Allah mengizinkan Anda berdiri di padang gurun tersebut, tanyalah diri Anda pertanyaan ini, “Tuhan, bagaimana umat Israel tinggal di padang gurun ini selama 40 tahun? Bagaimana Engkau memberi makan orang sebanyak itu?” Mungkin 2 atau 3 orang masih bisa diatur, tetapi bagaimana dengan satu setengah juta orang?

Oleh karena itu, jika ada orang yang tidak percaya bahwa Allah menurunkan manna dari surga, saya akan meminta dia memecahkan persoalan ini: bagaimana satu setengah juta orang hidup di padang gurun selama 40 tahun? Apa yang dimakan mereka? Bagaimana mereka bertahan hidup? Tidak ada cara lain untuk memahaminya kecuali menerima kenyataan bahwa Allah telah melakukan suatu mukjizat yang luar biasa, yaitu menurunkan roti dari surga. 

Sama seperti bangsa Israel, kita sekarang hidup di padang gurun dunia ini. Bagaimana mungkin kita dapat berlangsung hidup di padang gurun rohani ini melainkan Allah senantiasa menyediakan bagi kita makanan rohani yang kita perlukan dalam Kristus? Kita tidak dapat berlangsung hidup tanpanya. Inilah alasannya mengapa banyak orang Kristen yang menjadi lemah dan jatuh sakit dan beberapa bahkan binasa. Siapa yang dapat menyangkal bahwa terdapat banyak orang yang memanggil diri sebagai orang Kristen, tetapi mereka telah berpaling dari Tuhan dan binasa? Kita tidak dapat bertahan hidup tanpa roti dari surga itu. Persoalannya bukan untuk makan sekali saja, tetapi makan secara terus menerus untuk kelangsungan hidup. Kita harus terus-menerus bergantung pada roti itu untuk menopang kehidupan rohani kita.


HARI-HARI TERAKHIR MENJELANG KEDATANGAN YESUS

“Berikanlah kami hari ini roti untuk hari besok.” Berdasarkan pengalaman bangsa Israel di padang gurun, hal ini terjadi pada hari keenam. Sekarang ini kita juga sedang berada pada hari keenam dalam sejarah manusia. Kita sedang berada pada hari-hari terakhir; hari-hari sebelum kedatangan hari Sabat, hari-hari menjelang kedatangan Kerajaan Allah. Tidak lama lagi akan terjadi kegenapan kehendak Allah di bumi seperti di surga. Ingat ini, kehendak-Nya akan jadi di bumi. Allah akan berperkara di dunia ini.

Banyak orang yang berkata, “Nah, jika Allah adalah Allah, mengapa Ia tidak menangani masalah-masalah dunia ini?” Jawabannya sederhana, “Ia sedang menangani masalah-masalah dunia ini. Ia sedang menangani masalah fundamental dunia ini, yaitu masalah dosa.” Allah sedang melakukan satu-satunya hal yang perlu dilakukan. Akar permasalahan dunia ini adalah dosa dan Allah sedang menangani masalah itu. Ia bekerja tanpa henti-henti. Ia sedang menangani akar permasalahan. Tidak ada manusia yang pernah berhasil memecahkan persoalan manusia. Tidak ada satu pemerintahan mana pun di dunia yang berhasil menuntaskannya. Allah sedang menangani dunia ini dan Ia masih belum selesai dengan masalah-masalah dunia ini karena Kerajaan-Nya akan didirikan di dunia ini. Kehendak-Nya akan jadi di bumi seperti di surga. Itulah kemuliaan Injil. Injil bukan pelarian. Ia tidak lari dari masalah-masalah dunia ini. Injil dengan sepenuhnya dan dengan jujur berhadapan dengan masalah-masalah dunia. Injil menangani masalah-masalah tersebut dengan cara yang paling praktis.


HIDUP YANG KEKAL DAPAT DIALAMI SEKARANG

Oleh anugerah Allah, kita akan memasuki hari tersebut apabila dosa dan penderitaan tidak ada lagi. Namun, kita juga dapat mengalami kuasa Kerajaan yang akan datang itu pada hari ini. Ibrani 6 menegaskan hal ini. Kita dapat memperoleh roti bagi hari esok itu pada hari ini juga. Itulah yang saya maksudkan. Kita dapat pada masa kini mengalami kuasa dunia yang akan datang. Itulah ajaran yang alkitabiah. Kehidupan kekal bukanlah sesuatu yang diberikan kepada kita setelah kita mati. Kehidupan kekal merupakan sesuatu yang kita terima sekarang. Roti untuk hari esok dapat kita terima hari ini. Apakah Anda sudah menerima roti itu? Ajaran Firman Tuhan sangat praktis. Firman Tuhan bukan sesuatu yang tidak realistik. Kita tidak perlu berkata, “Besok kita akan menerimanya, tetapi kita tidak bisa menerimanya hari ini.” Tuhan bekerja dengan cara yang lain. Bukan saja besok Anda mendapatkannya, tetapi Anda dapat memperoleh roti untuk hari esok itu pada hari ini. Anda dapat memperoleh roti bagi hari ketujuh pada hari keenam, yaitu pada hari ini. Bagaimana kita bisa tahu apakah ini benar? Cobalah, kecaplah dan lihatlah apakah demikian halnya. Makanlah roti itu dan lihat apakah ia memberi Anda hidup. Inilah tantangan Firman Allah.


TIDAK ADA KEHIDUPAN ROHANI TANPA YESUS

Gambaran roti menunjukkan kepada kita satu lagi hal. Pertama, kita telah melihat bahwa ia menunjukkan kepada kita kekayaan Perjanjian Lama sebagaimana ia berlaku kepada kita sebagai ahli-ahli waris bagi Perjanjian Baru. Namun yang kedua, ia menunjukkan kepada kita suatu gambaran yang tidak dapat dipenuhi oleh gambaran yang lain, bahkan tidak juga gambaran seorang sahabat. Yakni, kehidupan kita bergantung pada roti, bergantung pada makanan. Memang baik untuk mempunyai seorang sahabat, tetapi kita bisa hidup tanpa seorang sahabat. Memang bagus jika Anda mempunyai seorang teman, tetapi Anda tidak akan mati jika Anda tidak mempunyai teman. Akan tetapi, Anda akan mati jika Anda tidak ada makanan. Itulah sebabnya Yesus menggunakan gambaran roti. “Akulah roti. Akulah roti hidup. Tanpa aku kamu tidak dapat hidup.” Hidup kita bergantung pada makanan. Kita membutuhkan makanan untuk memperoleh kekuatan dan untuk terus hidup. Jadi, sebagaimana hidup kita bergantung sepenuhnya pada makanan, kita tidak dapat hidup tanpa Yesus. Ini merupakan persoalan hidup atau mati, bukan persoalan mempunyai sahabat atau tidak, meskipun Yesus merupakan sahabat yang sangat baik. Anda dapat hidup tanpa sahabat, tetapi Anda tidak dapat hidup tanpa makanan. 


KITA SENANTIASA MEMBUTUHKAN YESUS

Hal yang ketiga, gambaran ini menunjukkan bukan saja roti itu penting bagi kita, tetapi roti itu tidak akan pernah berhenti menjadi penting bagi kita. Ada beberapa benda sangat penting bagi kehidupan kita; barangkali obat tertentu yang Anda butuhkan pada waktu Anda sakit. Namun, setelah Anda sembuh, Anda tidak membutuhkannya lagi. Begitu banyak orang yang menganggap Yesus seperti semacam obat yang dapat menyembuhkan penyakit mereka, dan sesudah mereka disembuhkan, mereka mengucapkan selamat tinggal kepada Yesus. Anda bisa mengucapkan selamat tinggal kepada seorang dokter. Maksud saya, sesudah Anda disembuhkan, Anda tidak membutuhkannya lagi. Namun, Anda tidak akan berhenti membutuhkan roti. Anda mungkin tidak membutuhkan obat lagi, tetapi Anda akan selalu membutuhkan makanan.

Jadi, Yesus tidak hanya penting bagi kehidupan kita, tetapi ia tidak akan pernah berhenti menjadi penting bagi kita. Kita tidak dapat hidup di luar Yesus. Kita tidak bisa memperoleh hidup yang kekal terlepas dari Yesus. Hidup yang kekal bukanlah sesuatu yang bisa kita perolehi dari Yesus dan setelah itu kita tidak lagi membutuhkan dia karena hidup kekal sudah berada di tangan kita. Sangat aneh beberapa orang berkata kepada saya, “Bagaimana mungkin seseorang memperoleh hidup yang kekal dan kemudian kehilangannya? Hidup yang kekal berarti ia akan selamanya kekal. Temanku, logika Anda sangat lemah. Logika itu kedengaran meyakinkan hanya di tingkat yang paling dangkal. Dia yang memberikan kepada Anda hidup yang kekal bisa mengambilnya kembali dari Anda. Hidup yang kekal bukanlah sesuatu yang dapat Anda perolehi di luar Allah. Anda hanya memperoleh hidup yang kekal di dalam Yesus. Ingatlah hal ini!

Barangkali Anda dapat memahaminya dengan cara ini: Jika Yesus digambarkan sebagai satu bahtera seperti bahtera Nuh, yang memang merupakan bagian dari arti ‘dalam Kristus’, selama Anda berada di dalam bahtera, Anda selamat. Anda selalu selamat selama Anda tinggal di dalam bahtera. Anda akan selamat untuk selama-lamanya. Akan tetapi, saat Anda melangkah keluar dari bahtera itu, Anda tidak lagi selamat karena Anda tidak dapat memperoleh keselamatan terpisah dari bahtera itu. Anda tidak bisa hidup terlepas dari bahtera itu. Selama Anda berada di dalam Kristus, Anda memperoleh hidup yang kekal. Selama Anda selalu tinggal di dalam Kristus, Anda selalu memperoleh hidup yang kekal. Namun, jika Anda melangkah keluar dari Kristus, Anda tidak lagi selamat. Anda harus mengerti hal ini. Anda tidak dapat setelah memperoleh hidup yang kekal dari Yesus, kemudian berkata, “Selamat tinggal Yesus. Terima kasih untuk hadiahnya. Aku tidak membutuhkan engkau sekarang. Aku telah memperoleh hidup yang kekal.” Astaga, temanku, apakah ini caranya Anda berpikir tentang hidup yang kekal? Anda pikir Anda bisa memperoleh hidup yang kekal seolah-olah suatu benda yang dapat diperolehi terlepas dari Yesus? Anda salah besar!

Kita selalu akan membutuhkan Yesus. Saya melihat banyak orang Kristen berbuat seperti ini, “Aku telah diselamatkan. Aku tidak membutuhkan Yesus lagi.” Jadi Yesus menyelamatkan Anda supaya Anda bisa lepas dari dia, seolah-olah kita telah memperoleh hidup yang kekal dan sekarang kita bisa melakukan apa saja yang kita suka. Teman-temanku, janganlah memperbodohi diri kita sendiri. Paulus berkata, yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia. Ini merupakan suatu fakta yang harus kita pahami. Anda tidak dengan tiba-tiba menjadi suatu generator yang dapat berjalan sendiri terlepas dari Kristus. Anda tidak memperoleh hidup yang kekal terlepas dari Yesus. Kita selalu perlu bergantung kepadanya. Saya tidak ingin lepas dari Yesus karena saya mengasihinya. Saya tidak mau memperoleh hidup yang kekal terlepas dari Yesus. Terdapat perbedaan yang besar di antara keberadaan yang terus menerus dengan hidup yang kekal. Hidup dan keberadaan merupakan dua hal yang berbeda.

Ada banyak orang yang sedang sakit parah di rumah sakit, mereka masih eksis, masih ada, tetapi dalam keadaan yang sekarat. Itu bukan hidup namanya. Di tingkat ini, mereka hanya ada. Hidup itu lebih dari keberadaan. Saya tidak menginginkan hanya semacam keberadaan yang terus menerus yang di luar Kristus.  Saya tidak mau hidup jika kehidupan itu terlepas dari Yesus. Hidup ini tidak layak dijalani. Tidak ada gunanya berkata, “Aku hidup selama-lamanya.” Bagi saya, itu suatu malapetaka. Hidup yang kekal adalah suatu kualitas hidup dalam Kristus. Hidup yang kekal adalah kehidupan Yesus yang ia berikan kepada kita. Hidup yang kekal bukan berarti kehidupan kita sekarang ini yang diperpanjang buat selama-lamanya. Hidup yang kekal adalah hidup Kristus yang diberikan kepada saya. Itulah perbedaannya.

Kadang-kadang kita melihat kehidupan orang lain dan Anda berkata, “Kehidupan orang itu begitu bagus. Aku berharap aku mempunyai kehidupannya.” Atau mungkin kesehatan Anda kurang baik dan Anda melihat seorang yang lain dan berkata, “Aku berharap aku sesehat dia.” Kita menerima hidup Yesus ke dalam kehidupan kita. Sebagai kesimpulan, pokok yang ketiga yang kita lihat disini ialah: kita tidak akan berhenti bergantung kepada Yesus untuk hidup. 


ROTI ITU HARUS DITERIMA KE DALAM DIRI KITA

Masih terdapat beberapa pelajaran yang dapat ditarik dari gambaran roti ini.  Manna itu turun ke padang gurun. Ia tidak turun langsung ke dalam mulut bangsa Israel. Jika Anda ingin makan, roti Allah itu tidak akan langsung masuk ke dalam mulut Anda. Ingat itu. Allah tidak akan mengambil roti-Nya dan memaksanya ke dalam mulut Anda. Tidak. Ia tidak akan melakukan seperti itu. Anda harus mengambilnya sendiri jika Anda ingin memperoleh manfaat darinya. Roti tidak memaksakan dirinya pada Anda. Anda harus pergi mengambilnya. Dengan cara yang sama, Yesus tidak memaksakan dirinya ke atas orang lain.

Anda ingat peristiwa yang terjadi di jalan menuju Emaus? Dua murid Yesus sedang bercakap-cakap sambil berjalan dan Yesus bergabung dengan mereka. Apa yang terjadi? Ketika mereka sampai di rumah, mereka berkata, “Masuklah dan makan malam bersama kami.” Ia berkata, “Tidak, tidak apa-apa. Terima kasih. Aku harus meneruskan perjalanan.” Namun, mereka terus meminta, “Silakanlah masuk.” Akhirnya mereka mendesaknya supaya tinggal bersama-sama mereka. Akhirnya Yesus tinggal. Banyak orang yang bingung menafsirkan hal ini.

Apa yang begitu membingungkan? Itu merupakan ciri khas Yesus. Ia tidak pernah sekali pun di dalam Injil memaksakan dirinya ke atas orang lain. Tidak pernah. Sebenarnya, dikatakan di situ Yesus berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanannya. Jika Anda tidak mengundangnya, Yesus akan meneruskan perjalanannya. Ia tidak pernah memaksakan dirinya ke atas kita. Begitu menakjubkan. Ini merupakan kontras yang menyegarkan dibandingkan dengan beberapa pekerja Kristen yang benar-benar menakutkan saya dan orang lain juga. “Kamu percaya pada Yesus! Cepat! Di sini Alkitab. Pernah kamu baca Alkitab? Kamu orang berdosa! Duduk dan dengarkan!” Mereka memberi kuliah pada Anda, memukul kepala Anda dengan Alkitab, memaksakan Injil ke atas kita. “Jangan buang waktu, cepat. Berlututlah bersamaku sekarang dan akui dosa-dosamu.” Astaga! Beberapa orang terpaksa menjadi Kristen hanya untuk melepaskan diri dari penginjil-penginjil seperti ini. Namun, saya tidak melihat Yesus melakukan hal seperti itu. Orang banyak tertarik kepadanya. Ia tidak berteriak-teriak memaksa orang mendengarkan kabar baik. Tidak. Yang terjadi adalah, “…apabila Aku ditinggikan dari bumi, aku akan menarik semua orang datang kepadaku.” Terdapat kuasa yang mendorong Anda kepada Kristus. Semakin Anda mengenal Yesus, semakin Anda menjadi tertarik.

Jadi, kita melihat bahwa Yesus tidak akan menerima undangan yang dibuat hanya karena basa basi. Kadang-kadang kita berbasa basi dengan berkata, “Maukah Anda masuk dan makan bersama kami?” Dan kita berharap jawabannya adalah tidak. “Anda pasti Anda tidak mau masuk? Ah, Anda tidak bisa. Mungkin lain kali, lain kali saja.” Jadi Yesus memastikan bahwa mereka mengundangnya masuk bukan karena berbasa basi, bukan karena kesopanan orang timur. Oleh karena itu, ia berbuat seolah-olah harus pergi. Ia hanya akan masuk apabila mereka benar-benar menghendaki dia masuk. Yesus tidak akan memaksakan dirinya pada orang lain. Sangat indah. Jika Anda tidak menghendakinya, Andalah yang rugi. Andalah yang kehilangan.


ROTI HARUS MENJADI SEBAGIAN DARI KEHIDUPAN KITA

Pokok yang kelima: seperti roti, kita harus menerima Yesus ke dalam diri kita jika kita ingin memperoleh manfaat dari roti itu. Namun, bukan saja menerima Yesus, tetapi yang lebih penting bagaimana Anda menerima dia. Yesus berkata, bukan saja karena Anda mendengar, tetapi bagaimana Anda mendengar, itulah yang diperhitungkan. Terdapat banyak perbedaan di antara dua orang yang mendengar Injil yang sama. Satu menjadi orang kerdil rohani dan seorang yang lain menjadi tokoh rohani yang besar. Mereka mendengar Injil yang sama, mereka membaca Alkitab yang sama, mereka berdoa kepada Allah yang sama, dan satu menjadi seorang abdi Allah yang besar, dan seorang lagi menjadi orang kerdil secara rohani. Di mana letak perbedaannya? Perbedaannya ialah bagaimana Anda mendengar. Yesus berkata berjaga-jaga bagaimana Anda mendengar. Benih yang sama ditabur, tetapi satu tidak menghasilkan apa-apa, satu lagi menghasilkan seratus kali lipat. Benih yang sama, tanah yang berbeda. Bagaimana Anda mendengar dan bagaimana Anda menerima, ituah yang menentukan hasilnya. 

Begitu juga dengan roti. Persoalannya bukan apakah kita menerimanya atau tidak. Di dalam perumpamaan tentang seorang penabur, keempat-empat tanah menerima benih yang sama, tetapi setiapnya menerima dengan cara yang berbeda-beda. Jadi, untuk memperoleh manfaat dari roti, saya tidak hanya sekadar mengambil roti itu dan berkata terima kasih. Saya harus memakannya. Saya harus memasukkannya ke dalam diri saya. Saya harus memastikan makanan itu dicerna di dalam perut saya. Allah menempatkan perut di pusat tubuh. Untung sekali bukan di leher atau di kaki. Perut berada tepat di tengah-tengah tubuh saya. Meskipun saya tidak terlalu banyak tahu tentang anatomi, setidaknya saya tahu di mana perut saya. Saya tahu perut terletak tepat di tengah-tengah diri saya dan ketika saya merasa lapar saya merasanya tepat di situ. Saya tahu bukan tangan saya merasa lapar atau bahu saya yang merasa lapar, tetapi perut saya, yang merupakan pusat kepada seluruh tubuh saya. Sangat indah, bukan? Dengan cara yang sama, Yesus tidak akan memberi manfaat kepada Anda jika Anda menerimanya hanya secara intelektual. “Kecaplah sedikit dengan lidah. Apakah enak rasanya?” “Lumayan. Aku telah menerimanya.” Banyak orang yang berkata, “Aku telah menjadi orang Kristen”, padahal mereka hanya mengecapinya. Kita berbicara tentang memakannya, menerimanya ke dalam keberadaan Anda yang paling dalam, baru makanan itu dapat memberikan manfaat kepada Anda.

Karena itu, kita harus menanyakan pertanyaan ini: Anda telah menerima Yesus, tetapi apakah Anda telah menerimanya ke dalam keberadaan jiwa Anda yang paling dalam? Itulah yang penting. Apakah Yesus berada di pusat keberadaan Anda atau apakah ia berada di suatu tempat di luar keberadaan Anda? Begitu banyak orang Kristen yang memiliki Yesus sebagai perhiasan dan memakai Yesus seperti semacam lencana. “Lihat di sini. Kamu lihat, aku seorang Kristen yang baik. Apakah kamu melihat lencana ini? Aku seorang Kristen yang baik karena aku melakukan semua hal-hal eksternal itu.” Namun, saya ingin mengatakan: kecuali Yesus menjadi pusat kepada seluruh keberadaan Anda, pusat kepada seluruh kehidupan Anda, Anda tidak akan memperoleh suatu apa pun darinya.


ROTI YANG DISEDIAKAN OLEH ALLAH

Yesus adalah roti dari surga. Ia roti yang disediakan oleh Allah. Ia roti yang datang dari atas sebagaimana bangsa Israel menerima manna yang datangnya dari surga, yang disediakan oleh Allah. Anda mungkin bertanya, “Bagaimana seorang manusia bisa mati untuk seluruh dunia?” Sederhana. Anda harus bertanya siapa orang itu? Yesus adalah manusia yang sempurna.  Sama seperti ketidak-taatan satu orang (Adam) semua telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi benar.  (Rm 5:19).

Namun, roti itu harus dipecah-pecahkan. Saya tidak bisa mengambil sebuah roti dan menelannya begitu saja. Saya tidak dapat memakan roti tanpa memecah-mecahkannya dulu atau mengigitnya sepotong demi sepotong. Ia harus dipecah-pecahkan sebelum dapat dimakan. Dengan cara yang sama, kita membaca di 1 Korintus 11, “Ia mengambil roti…. memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuhku, yang diserahkan bagi kamu.” Yesus menyerahkan dirinya untuk dimakan kita. Hidupnya dipecah-pecahkan bagi kita supaya kita dapat makan.


SUDAHKAH ANDA MEMINTA?

Kepada orang non-Kristen, kita harus menanyakan pertanyaan ini, “Apakah Anda telah menerima roti ini?” Inilah pertanyaan yang amat penting bagi hidup dan kesejahteraan kekal Anda. Jika hari ini Anda telah mendengarkan pesan Yesus dan Anda menyadari bahwa Anda bisa meminta dari Allah untuk roti ini, apakah Anda akan meminta? Jika Allah tidak rela memberi, tidak ada gunanya kita meminta. Kita diminta untuk berdoa karena Ia lebih dari rela untuk memberi. Jika Allah berkata, “Aku tidak akan memberi kamu roti”, tidak ada gunanya Yesus menyuruh kita berdoa. Namun, Yesus memberitahu kita bahwa kita akan mendapatkan roti itu jika kita meminta. Bapa di surga akan memberikannya kepada kita. Jadi mintalah untuk menerima roti ini, janganlah membiarkan kesempatan ini berlalu.


MENGAPA TIDAK ADA SELERA MAKAN?

Terdapat satu masalah yang membingungkan saya, yaitu mengapa begitu banyak orang Kristen yang tidak mempunyai nafsu makan? Mengapa orang Kristen begitu tidak bernafsu untuk makan? Saya mau mendiagnosa masalah ini.


i) Kesehatan Rohani Yang Kurang Baik

Kurangnya selera makan akan mengakibatkan terbantutnya pertumbuhan rohani. Apakah yang menyebabkan nafsu makan yang rendah? Satu alasan yang pasti ialah kesehatan yang kurang baik. Jika kesehatan Anda kurang baik, selera makan Anda juga kurang baik. Keduanya saling berkaitan. Barangkali Anda sedang sakit secara rohani. Anda sakit secara rohani karena ada dosa dalam kehidupan Anda. Apakah Anda menyembunyikan dosa dalam kehidupan Anda? Semoga Allah berbelas kasihan terhadap Anda karena Anda sedang membunuh diri Anda. Kanker rohani itu akan membinasakan Anda. Dosa adalah seperti kanker. Anda barangkali tidak merasa sakit pada awalnya, tetapi kanker itu sedang menggerogoti Anda dari dalam dan membawa Anda menuju maut. Pastikan kanker itu disingkirkan dari sistem Anda.

Atau, apakah karena Anda belum menyerahkan diri Anda secara total kepada Kristus? Apakah Anda seorang Kristen yang setengah hati? Gereja penuh dengan orang-orang seperti ini. Semoga Allah menolong Anda untuk mengerti bahwa menjadi seorang Kristen menuntut penyerahan diri yang sepenuhnya kepada Allah. Ini adalah persoalan yang berhubungan dengan komitmen total. Allah tidak berurusan secara setengah hati dengan siapa pun. Allah hanya berurusan dengan orang yang menyerahkan dirinya secara total kepada Dia, serahkan semuanya atau tidak sama sekali.


ii) Kurangnya “Olahraga” Rohani

Hal yang kedua adalah kurangnya pelayanan. Ada banyak orang Kristen yang tidak berbuat apa-apa. Mereka selalu menunggu agar sesuatu dilakukan untuk mereka. Mereka sendiri tidak berbuat apa-apa. Orang Kristen semacam ini tidak akan bertumbuh. Berbuat sesuatu itu dapat diibaratkan sebagai olahraga rohani. Jika Anda ingin mempunyai selera makan yang tinggi, Anda harus berolahraga. Nafsu makan saya meningkat jika saya melakukan olahraga lari atau berjalan-jalan. Jika saya duduk di meja sepanjang hari, saya tidak merasa lapar. Harus ada kegiatan. Ada begitu banyak orang Kristen yang tidak berbuat apa-apa. Mereka tidak berpikir, “Apa yang dapat aku lakukan untuk Tuhan?” Ini mengingatkan saya akan Yohanes 4:32-34 dimana Yesus berkata, “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.” Ingat? Sesudah Yesus bercakap-cakap dengan perempuan Samaria itu, murid-muridnya datang membawa makanan dan Yesus tidak mau makan. Mereka berkata, “Mengapa? Apakah engkau sudah makan? Ada orang bawa makanan?” Yesus berkata, “Pada-ku ada makanan yang tidak kamu kenal.” “Makanan apa?”

“Makananku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”

Kita dikenyangkan dengan melakukan kehendak Allah. Di dalam proses melayani Allah, kita diberi makan. Itulah makanan kita. Kita harus menjadi aktif. Begitu banyak orang Kristen yang pasif. Mereka tidak bertumbuh. Mereka tidak bergerak. Sekalipun Anda mempunyai hanya sedikit tenaga, gunakanlah tenaga itu dan niscaya tenaga itu terus ditambahkan. Bertindak setialah dalam perkara-perkara yang kecil dan Anda akan dipercayakan dengan perkara-perkara yang besar.

Makanan yang perlu kita makan adalah Firman Allah. Salah satu perkara yang dapat Anda lakukan adalah merenungkan Firman Allah. Mulailah dengan itu dan Anda akan menemukan begitu banyak kekayaan yang dapat dibagikan dengan orang lain. “Lihat, tahukah Anda apa yang aku temukan dalam Firman Allah hari ini? Izinkan aku membagikan dengan Anda.” Mulai dengan hal yang kecil. Saya tidak bermaksud Anda perlu pergi dan berdiri di pojok jalan  dan berkhotbah. Ada banyak cara untuk berbuat sesuatu bagi Allah, Anda hanya perlu menggunakan akal dan pikiran Anda. Allah memberikan kita otak guna berpikir, bukan untuk tidur-tiduran dan bersantai-santai. Pakailah pemberian Tuhan untuk berpikir dan melakukan sesuatu buat Dia. Menjadi seorang Kristen tidak berarti Anda tidak lagi berinisiatif. Sebaliknya, orang Kristen akan mengalami satu ledakan energi rohani di dalam hidupnya. Kita akan terus berpikir bagaimana kita dapat melayani Allah dengan lebih efektif. Menjadi seorang Kristen tidak berarti menjadi pasif dan tidak berbuat apa-apa. Sayangnya, kadang-kadang kita melihat orang Kristen dan kita bertanya-tanya ada apa dengan mereka. Kita harus bekerja dalam melayani Allah dan dengan demikian akan memahami apa yang dikatakan Yesus, “Makananku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus aku.” Sementara Anda melakukan kehendak Allah Bapa di surga, Anda akan dikenyangkan. Allah memberi Anda makan seraya Anda bekerja.


iii) Belum Pernah Mengalami Kebaikan Allah

Nafsu makan meningkat bukan saja karena kesehatan yang baik dan olahraga, tetapi juga setelah kita merasakan makanan yang enak. Kadang-kadang kita tidak merasa terlalu lapar, tetapi selera makan langsung muncul saat hidangan yang enak disajikan. Anda mengecapnya dan Anda berkata, “Ummm, enak sekali!” dan seluruh hidangan itu Anda habiskan. Citarasa hidangan itu yang membangkitkan selera Anda. Dengan cara yang sama, begitu banyak orang Kristen belum mengecap dan merasakan bahwa Tuhan itu baik. Mazmur 34:9,

“Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya YAHWEH itu!”

Perhatikan betapa relevannya kata-kata tersebut dengan ayat kita. Kecaplah Tuhan? Bagaimana lagi Anda tahu bahwa Tuhan itu baik? Anda mengecap-Nya, maka Anda tahu bahwa betapa baiknya Tuhan itu. Sekali lagi kita melihat bahasa gambaran yang sama.

Umpamanya jika saya membawa sebuah apel dan meletakkan apel itu di sini dan Anda bertanya pada saya, “Apakah apel ini manis?” Apa yang akan saya usulkan pada Anda? Ambil apel ini ke laboratorium, potong seiris, masukkan sedikit bahan kimia dan lihat kandungan gulanya? Tentu saja tidak, ada satu cara yang jauh lebih mudah. Ambil saja apel itu dan memakannya. “Umm, manis. Ya, enak sekali. Enak dimakan.” Dengan cara yang sama, kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya YAHWEH itu! Bagaimana Anda tahu bahwa Allah adalah Allah yang hidup? Bagaimana Anda tahu bahwa Ia baik? Apakah Anda akan duduk di situ dan mempelajari-Nya? Tidak, cara untuk mengetahui bahwa Allah adalah Allah yang hidup adalah dengan mengalami Dia. Itulah artinya ‘kecap’. Makanlah, dan lihatlah, apakah roti yang hidup ini dapat mengenyangkan Anda dan apakah ia terasa enak. Ada makanan yang mengenyangkan, tetapi rasanya tidak enak. Akan tetapi, makanan ini enak. Di Perjanjian Baru, Allah telah menyediakan roti yang hidup bagi kita. Yesus adalah roti yang hidup dan betapa enaknya roti ini. Sudah tiba waktunya untuk Anda mengecapnya dan merasakannya sendiri. Sesudah Anda mengecapnya, nafsu makan Anda akan dibangkitkan. Ada beberapa orang Kristen yang berapi-api untuk Tuhan, ada apa dengan mereka? Mengapa mereka berapi-api dan Anda tidak? Karena mereka telah mengecap dan melihat bahwa betapa baiknya Tuhan itu. Itulah sebabnya. Semakin banyak Anda mengecap, semakin Anda akan mengetahui bahwa Ia baik. Karena itu, kecaplah roti ini dan selera Anda akan dibangkitkan. Rasakanlah apa yang dapat Tuhan lakukan bagi Anda!

Jadi, marilah kita menerima roti hidup ke dalam bagian terdalam keberadaan kita, supaya kita dapat memperoleh kehidupan dan kekuatan. Kecaplah dan alamilah bagi diri kita sendiri betapa baiknya Tuhan itu!

 

Berikan Komentar Anda: