Pastor Eric Chang | Matius 6:9 |

Kita akan melanjutkan dengan kata-kata penting, “Dikuduskanlah Nama-Mu”. Kita telah mempelajari apa artinya ‘Bapa kami’, dan juga arti ‘yang di surga’. Kita melihat bahwa surga bukan semacam lokasi geografis tetapi suatu keberadaan rohani. Seluruh pandangan rohani dan kehidupan doa kita berubah apabila kita memahami bahwa Allah itu tidak jauh sehingga harus dijangkau dengan doa yang seolah-olah diluncurkan dengan pesawat roket; kita melihat bahwa Allah itu dekat – hanya tinggal menyeberang perbatasan yang materiil. Yang rohani eksis bersama dengan yang materiil; seolah-olah melalui suatu perubahan frekuensi Anda masuk ke dalam suatu keberadaan yang baru dan berbeda, dan Allah ada di keberadaan itu. Allah adalah Roh, dan Ia tidak jauh atau dekat dengan cara yang dapat diukur dari segi jarak geografis.

Banyak di antara kita yang tidak menghargai betapa pentingnya hal ini. Seorang ahli teologia akan dapat memahami betapa dalamnya pokok yang telah kita bicarakan ini. Namun saya berharap, artinya akan berangsur-angsur meresap dari pikiran dan masuk ke dalam hati Anda. Dan Anda dapat memahami apa artinya Allah itu sedekat nafas Anda, sedekat roh Anda sendiri. Allah tidak pernah jauh dari Anda. Inilah pengajaran Firman Tuhan. Jika Allah jauh, itu adalah karena Anda jauh dari Dia. Anda jauh dari Dia karena dosa. Tetapi Ia tidak pernah jauh dari Anda dari segi jarak. Ia senantiasa dekat.

Lalu bagaimana kita mendekatkan diri kepada Allah? Jawabannya sangat sederhana. Kita mendekatkan diri kepada Allah melalui pertobatan. Yakobus berkata, “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.” Hal ini tergantung kepada Anda. Orang sering memberitahu saya, “Anda selalu meletakkan tanggung jawab untuk mengenal Allah itu pada pihak manusia. Yang dititikberatkan adalah apa yang harus kita lakukan.” Tetapi inilah penekanan Firman Tuhan, bukan apa yang saya tekankan. Allah selalu siap melakukan bagian-Nya.

Persoalannya ialah, apakah kita siap melakukan apa yang menjadi bagian kita. Firman Tuhan menekankan tanggung jawab kita dan tidak pernah meninggalkan kita dalam keraguan bahwa Allah senantiasa siap untuk menjawab doa kita. “Mintalah”, itu adalah tanggung jawab kita, dan Anda akan menerima. “Carilah”, itu adalah tanggung jawab kita, dan Anda akan menemukan. Begitu juga Yakobus berkata, “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.”

Anda melakukan apa yang menjadi bagian Anda, dan Allah akan melakukan bagian-Nya. Tahukah kita apa yang menjadi bagian kita? Kita tidak perlu tahu apa yang Allah perlu lakukan di pihak-Nya. Ia akan melakukan apa yang menjadi bagian-Nya. Kita tidak perlu bimbang tentang hal itu. Firman Allah selalu menekankan apa yang menjadi tanggung jawab kita karena Allah telah melakukan semua yang perlu Ia lakukan. Karena itu, semuanya tergantung kepada kita, “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.”


APA ARTINYA “DIKUDUSKANLAH NAMAMU”?

Kita membahas kata-kata ini — ‘Dikuduskanlah nama-Mu.’ Apa artinya? Tampaknya begitu mudah untuk mendoakan Doa Bapa Kami ini. Di sekolah, hal pertama yang kami pelajari adalah Doa Bapa Kami. Kami mengulang-ulanginya tanpa diberi petunjuk tentang apa artinya. Sebagai seorang anak kecil, saya sering mendoakan, “Dikuduskanlah nama-Mu.” Namun saya tidak diberitahu apa artinya. Pernahkah Anda diberi penjelasan tentang artinya? Tahukah Anda apa artinya?

Kita harus mendekati pertanyaan ini dengan menimbulkan beberapa pertanyaan yang lain. Kita harus bertanya apa artinya ‘kudus’? Apa artinya ‘dikuduskanlah nama-Mu’? Bagaimana nama-Nya harus ‘dikuduskan’? Bagaimana semua ini harus dikerjakan? Di mana semua ini harus dikerjakan? Mengapa hal ini perlu dikerjakan? Kita mempunyai banyak pertanyaan untuk diajukan. Saya berharap apabila Anda mempelajari Alkitab, Anda datang dengan banyak pertanyaan, bukan dengan satu pikiran yang kosong. Jika Anda tidak bertanya, Anda tidak akan mendapatkan jawabannya. Seringkali Anda menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu, namun tidak mendapatkan jawabannya dengan segera, tetapi setidaknya Anda mempunyai sesuatu untuk dikerjakan. Menurut pepatah Inggris, “Pertanyaan yang tepat sudah memberikan Anda separuh jawabannya.” Pokok yang utama adalah menanyakan pertanyaan yang betul.

Karena itu, Anda harus mendekati Firman Tuhan dengan satu pikiran yang spiritual dan aktif, mengajukan pertanyaan demi pertanyaan. Seringkali kita tidak berani bertanya karena kita tidak pasti kita dapat menemukan jawabannya. Tetapi jika kita rela mencari, kita akan menemukan. Seorang yang bernama Kippling mengatakan sesuatu yang sangat berguna. Sebagai orang Kristen, kita harus belajar dari Kippling saat kita mendekati Firman Tuhan. Kippling berkata, “Aku menyimpan enam pelayan yang jujur. Mereka mengajarkanku semua yang kuketahui. Nama mereka ialah: Apa, Mengapa, Kapan, Di mana, Bagaimana dan Siapa.” Ini hal yang sangat berguna untuk dipelajari. Saat kita datang kepada Firman Tuhan, jangan hanya membelalak menatap kata-katanya, atau hanya menghela nafas panjang dan berkata, “Aku tidak mengerti.” Mulai dengan mengajukan pertanyaan dan mencari jawabannya. Inilah caranya Anda bertumbuh dalam Firman Tuhan. 


KUDUS BERARTI BERBEDA, TERPISAH DARI DUNIA

Apa artinya ‘dikuduskan’? Apa artinya kata ‘kudus’ itu? Kita dapat memikirkan para santo yang dianggap kudus karena telah dikanonisasikan oleh Paus. Paus memutuskan bahwa orang ini harus ditinggikan ke tingkat seorang santo. (Kata ‘santo’ berarti ‘orang kudus’)  Apakah arti yang alkitabiah bagi kata ‘kudus’?  Apakah artinya ‘kekudusan’ di dalam Alkitab? Di dalam Alkitab, arti dasar bagi kata ‘kudus’ sebenarnya sangat sederhana. Pada dasarnya kata tersebut berarti ‘dipisahkan’, ‘berbeda’ dari segala sesuatu dan setiap orang yang lain. Allah adalah kudus dalam pengertian bahwa Ia begitu berbeda dari segala sesuatu dan dari semua yang lain. Allah itu unik, tidak ada apa-apa atau siapapun yang seperti Dia. Oleh karena itu, Allah itu terpisah — satu kategori yang tersendiri. Inilah sebagian dari arti dasar bagi kata ‘kudus’. Itu sebabnya kita adalah kudus. Dan kata ‘santo’ pada dasarnya berarti orang kudus. Kita tahu bahwa Paulus memanggil orang-orang Kristen sebagai orang-orang kudus. Kita semua adalah orang-orang kudus atau santo-santo. 

Firman Tuhan memberitahu kita bahwa setiap orang Kristen yang sejati adalah orang kudus. Apa artinya ini? Pada dasarnya arti orang kudus adalah ia berbeda dari orang-orang di dunia ini. Ia telah dipilih untuk keluar dari dunia. Ia telah dipisahkan untuk Allah. Ia dipisahkan dari dunia karena ia telah menjadi milik Allah. Seorang kudus ialah seorang yang dimiliki Allah. Apa saja yang dimiliki Allah telah dipisahkan untuk Allah. Karena itu, ia adalah kudus.

Inilah alasan mengapa Alkitab disebut ‘The Holy Bible’, atau Kitab Suci. Memang tidak salah menggunakan kata ‘kudus/suci’ atau ‘holy’ dengan cara ini karena Alkitab itu milik Allah. Ayat-ayat yang tertulis di dalamnya adalah Firman Allah. Oleh karena itu kita menyebutnya ‘Holy Bible’ atau ‘Kitab Suci’, dan memang tepat sekali kita menyebutnya sebagai ‘Kitab Suci’. Kitab Suci adalah Firman Allah. Ia adalah milik Allah. Ia tidak seperti kata-kata manusia. Ia terpisah dari segala sesuatu yang dapat diucapkan manusia.

Dengan cara yang sama, di dalam Perjanjian Lama, imam-imam adalah kudus. Mereka dipisahkan untuk Allah, mereka hidup hanya untuk Allah, mereka hanya melayani Allah. Mereka tidak ada warisan di dunia, mereka berbeda dari semua yang lain. Mereka kudus bagi Tuhan. Anda sebetulnya dapat menggunakan kata ‘holy’ dengan huruf ‘w’ di depan, ‘wholly’ atau sepenuhnya milik Tuhan. ‘Holy unto the Lord’ dapat juga dieja dengan ‘wholly ‘, yaitu ‘wholly unto the Lord’. Apa saja yang sepenuhnya milik Tuhan, adalah kudus bagi Tuhan. Ia kudus di mata Allah. Ia dipisahkan bagi Dia. Oleh karena itu, jika Anda adalah seorang Kristen yang sejati, Anda adalah kudus karena Anda sepenuhnya milik Allah.

Itu alasan mengapa saya senantiasa menegaskan bahwa ajaran Firman Tuhan mengenal hanya satu jenis komitmen, yaitu komitmen yang total. Itulah sebab mengapa Firman Tuhan berbicara tentang orang-orang kudus karena semua orang ini sepenuhnya milik Tuhan, sebagaimana Paulus berulang kali tegaskan di 2 Korintus 5:13-15, “Kristus mati untuk kita supaya kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri tetapi untuk Dia.”

Jadi kekudusan Allah menunjukkan bahwa Dia sama sekali berbeda dari segala sesuatu di dalam dunia ini. Bagaimana Ia berbeda? Ia berbeda dalam cara ini: dunia ini tercemar tetapi Ia suci; dunia ini penuh dengan kebencian tetapi Ia penuh dengan kasih; dunia ini tanpa belas kasihan tetapi Ia penuh dengan belas kasihan dan kasih setia. Allah dari segi karakter-Nya sama sekali berbeda dari segala sesuatu dan dari setiap orang yang ada di dalam dunia ini. Perbedaan yang mutlak inilah yang disebut Alkitab sebagai ‘kudus’. Inilah kekudusan di pihak Allah. Karakter-Nya sama sekali berbeda dari segala sesuatu yang dapat Anda temukan di dalam dunia. Anda tidak dapat, dan inilah kekeliruan ilmu filsafat, Anda tidak dapat menggunakan nalar dunia untuk diterapkan pada Allah karena Allah sama sekali berbeda dari manusia. Ia sama sekali berbeda. Anda tidak boleh berkata, “Nah, manusia itu seperti ini, oleh karena itu Allah adalah seperti itu.” Anda tidak boleh menalar seperti ini karena Allah sama sekali berbeda dari manusia. Ia bahkan sama sekali berbeda dari manusia yang terbaik. Kasih-Nya berbeda dari segi kualitas.

Kasih manusia bersifat egois. Seorang pria mengasihi Anda karena ia ingin memiliki Anda. Anda mengasihi seorang pria karena Anda ingin memilikinya. Semua kasih manusia adalah seperti ini. Jika kasih tersebut bermasalah, maka akan terhasil ketegangan dan kesengsaraan karena kasih manusia suka menguasai obyek kasih itu dan saat kasih itu hancur,  akan terjadi ketegangan jiwa yang luar biasa. Sama seperti logam yang patah karena tekanan yang terlalu besar. Namun kasih Allah sama sekali tidak serupa dengan kasih manusia. Ia tidak ingin mengambil. Ia hanya ingin memberi. Di dalam kasih yang semacam ini, Anda tidak mengalami ketegangan. Arahnya berbeda. Ia tidak menguasai miliknya seperti begitu banyak ibu yang suka menguasai anak-anak mereka. Anak-anak mereka adalah milik pribadi mereka. Saya sudah melihat begitu banyak orangtua yang berkelakuan seperti ini. Allah melarang kita berkelakuan seperti ini dalam membesarkan anak-anak kita, menganggap bahwa anak-anak kita adalah milik pribadi kita.

Saya mengenal beberapa ibu yang menyangkal anak-anak mereka karena ingin memaksakan bahwa segala yang dimiliki oleh anak-anak mereka juga adalah milik mereka. Kasih yang semacam ini sama sekali berbeda dari kasih Allah. Kasih Allah sama sekali tidak seperti ini. Oleh karena itu Anda tidak dapat menalar dari kasih manusia kepada kasih Allah. Itu tidak akan berhasil. Alkitab berkata, “Seorang perempuan dapat melupakan anaknya, tetapi Aku tidak akan melupakan engkau, firman Tuhan.” Kasih Allah sama sekali berbeda bahkan dari kasih manusia yang paling besar dan paling unggul.

Inilah artinya kekudusan—­ satu perbedaan yang utuh, terpisah, dan unik. Kita harus mengingat hal ini dengan jelas jika kita ingin memahami apa artinya berdoa meminta agar Allah menguduskan nama-Nya. 

Ini menuntun kita untuk melihat poin yang berikutnya. Dipisahkan tidak hanya berarti kita mempunyai satu nama yang berbeda, tetapi bahwa kehidupan kita berbeda. Terlalu banyak orang Kristen hanya mempunyai satu perbedaan dari orang non-Kristen, yaitu, mereka mempunyai etiket  (label) sebagai orang Kristen. Saya ingin menegaskan bahwa, menurut Firman Tuhan, itu tidak membuat perbedaan sama sekali. Seorang yang hanya mempunyai nama sebagai seorang Kristen bukanlah seorang Kristen menurut definisi Alkitab. Ia harus berbeda di dalam seluruh sikapnya dan seluruh pikirannya, dan seluruh cara hidupnya.

Dilahirkan kembali berarti Anda menjadi berbeda. Jika setelah dilahirkan kembali Anda masih dalam keadaan yang sama seperti sebelum Anda dilahirkan kembali, maka apa tujuannya dilahirkan kembali? Apakah hanya satu kegiatan akademis belaka. Tujuan dilahirkan kembali adalah supaya Anda menjadi berbeda. 


MENYINGKAPKAN BAHWA NAMANYA ITU KUDUS?

Mari kita mengejar pertanyaan ini lebih lanjut. Perhatikan bahwa doa ini ditujukan kepada Allah, agar Ia menguduskan nama-Nya. Ini merupakan sesuatu yang harus dilakukan Allah. Kita sedang meminta kepada-Nya untuk menguduskan nama-Nya. Apa artinya ini? Kita sedang meminta agar Ia menyucikan nama-Nya. Kita meminta agar Ia menjadikan nama-Nya kudus. Nah, Allah memang kudus, bukankah begitu? Jadi, apa lagi yang harus Ia perbuat? Ia memang sudah kudus! Apa sebenarnya sih yang kita meminta Dia untuk lakukan saat kita berkata, “Dikuduskanlah nama-Mu”? ‘Jadikanlah nama-Mu kudus’ —apa tujuannya doa ini mengingat bahwa nama Allah memang sudah kudus, mengingat bahwa Allah di dalam diri-Nya memang kudus?

Ini membawa kita ke poin yang berikutnya. Kita harus memahami arti sebuah nama. Apa artinya sebuah nama? Di dalam Firman Tuhan, nama menunjuk kepada orang itu, sama seperti dalam kehidupan seharian. Jika Anda berkata, “Aku sedang berbicara tentang seseorang.” Saya tidak tahu siapa seseorang itu sehingga Anda menyebut namanya. Anda berkata, “Si anu”. Saya berkata, “Ah! Sekarang aku tahu kamu sedang berbicara tentang siapa.” Sebuah nama mewakili orang tersebut. Tetapi dalam bahasa Inggris (maupun Indonesia), menyertai sebuah nama adalah juga reputasi orang tersebut. Begitu juga di dalam Firman Tuhan. ‘Nama baik saya’ berarti ‘reputasi baik saya’. Jika Anda ‘mencemarkan nama saya’, berarti Anda mencemarkan reputasi saya. Begitu juga di dalam Firman Tuhan, ‘nama’ berarti Allah sebagaimana Ia memilih untuk menyatakan diri-Nya.

Sesudah kita memahami hal ini, kita mulai mengerti apa sebenarnya yang kita ingin Allah lakukan. Kita sedang berkata, “Semoga Engkau, O Tuhan, melakukan satu pekerjaan yang mana nama Engkau, reputasi Engkau, dan karakter Engkau dinyatakan sebagai kudus di mata dunia.”  Ini bukanlah suatu persoalan apakah Allah kudus di dalam diri-Nya sendiri. Tentu saja ini juga secara tidak langsung menyatakan bahwa manusia di dunia tidak tahu bahwa Allah itu kudus. Tentu saja, karena dunia tidak mengenal Allah. Oleh karena itu, pada intinya doa itu berarti: “Biarlah dunia mengenal siapa Engkau, O Tuhan.” Inilah inti kepada doa tersebut: “Biarlah kuasa-Mu dinyatakan dengan dahsyat, agar seluruh dunia mengenal bahwa Engkau adalah Allah.”

Dari sini kita mulai melihat bahwa ‘Dikuduskanlah nama-Mu’ sangat dekat artinya dengan ‘Dimuliakanlah nama-Mu’. Kita meminta agar Allah memuliakan nama-Nya dengan cara di mana nama-Nya begitu dimuliakan sehingga manusia menyadari bahwa Allah adalah kudus, dan sama sekali berbeda dari dunia.


ILAH-ILAH DUNIA INI HANYALAH SUPERMAN

Dunia tidak mengenal kenyataan ini. Jika Anda keluar dari sini, Anda akan mendapati bahwa banyak orang memikirkan Allah dengan cara yang paling aneh. Orang-orang Yunani memikirkan ilah mereka sebagai superman. Mereka berkelakuan seperti manusia. Mereka melakukan hal-hal yang paling aneh. Ada satu ilah yang disebut Bacchus, ilah yang suka berpesta dan memabukkan orang lain termasuk dirinya sendiri. Ia memiliki watak yang liar. Ada satu lagi ilah yang disebut ilah peperangan, dan di antara orang Tionghoa kita ada Guan Gong, ilah peperangan. Dengan lain kata, ilah-ilah ini tidak kudus. Ilah-ilah di dunia ini hanya manusia-manusia super. Mereka mempunyai kebiasaan-kebiasaan buruk yang dimiliki manusia, dengan beberapa pengecualian tertentu karena mereka melambangkan kebajikan manusia. Namun perhatikan bahwa mereka hanyalah melambangkan kebajikan manusia. Ilah-ilah dunia ini, tidak satupun di antara mereka yang kudus. Mereka hanyalah manusia-manusia yang telah ditinggikan ke suatu tingkat yang lebih tinggi.

Orang yang akrab dengan mitologi Yunani akan menyadari bahwa ilah-ilah Yunani, atau ilah-ilah Romawi umpamanya, penuh dengan dendam, penuh dengan kebencian, berpikiran picik, berpikiran sempit, saling bertengkar, saling bercekcok, sering menjadi mabuk dan saling melukai. Ilah-ilah ini berkelakuan persis seperti manusia. Mengapa? Karena semua ilah-ilah dunia ini hanyalah manusia-manusia yang telah dibesarkan. Inilah perbedaan di antara Allah di dalam Alkitab dan ilah-ilah di dalam dunia. Itulah sebabnya saya mengatakan dari awal tadi, Anda tidak dapat menalar dari kebajikan manusia apakah itu kebajikan prajurit, kebajikan peperangan, dari mana datangnya ilah-ilah perang seperti Mars di Barat atau Guan Gong di Negeri China. Mereka hanyalah pahlawan-pahlawan yang telah ditinggikan. Guan Gong adalah seorang pahlawan perang dalam sejarah Tiongkok yang belakangan ditinggikan, didewakan menjadi ilah. Ini hanya membuktikan bahwa ilah-ilah dunia ini hanyalah superman-superman.

Hal ini masih terjadi hari ini. Manusia masih mencipta ilah-ilah mereka sendiri. Sekarang ini kita ada ‘Bat Man‘ dan ‘Iron Man’, ‘Super Man‘ atau yang lain-lain. Ia dapat berlari sedikit lebih cepat dari Anda, sedikit lebih kuat dari Anda. Pikirannya tidak tampak bekerja lebih cepat, tetapi bagaimanapun kekurangan ini dapat diperbaiki lain kali setelah mereka menambahkan satu dua juta dollar lagi. Untuk sementara waktu, dengan enam juta dollar, ia dapat melakukan hal-hal yang dapat dilakukan oleh kebanyakan buldoser. Bagaimanapun, inilah ciri khas ilah-ilah dunia ini. Mereka adalah manusia yang diangkat ke satu tingkat yang lebih tinggi.

Karena itu, kita harus memahami bahwa doa ini ialah: “O Tuhan, semoga dunia mengetahui bahwa Engkau berbeda, bahwa Engkau tidak seperti apapun di dunia ini. Nyatakanlah diri-Mu.” Dengan lain kata, inilah doanya, “Nyatakan diri-Mu kepada dunia ini. Biarlah dunia mengetahui bahwa Engkaulah Allah.” Sama seperti di dalam Perjanjian Lama khususnya di Yehezkiel, begitu banyak kali dikatakan, “Kemudian bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah Allah apabila Aku melakukan ini dan melakukan itu.” Kita akan melihat sebentar lagi apa yang akan dilakukan-Nya.


KEKUDUSAN ALLAH DINYATAKAN MELALUI UMATNYA

Kita harus mengejar persoalan ini dengan menanyakan pertanyaan yang berikut. Mengingat bahwa kita sedang meminta agar Allah memuliakan nama-Nya, bagaimana hal ini harus dilakukan? Apa sebenarnya yang sedang kita minta? Atau, tahukah kita apa yang sedang kita doakan? Langkah yang berikutnya adalah menyadari bahwa Allah akan melakukannya dan Firman Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa Ia akan melakukannya di dalam diri kita. Kita harus memahami hal ini dengan jelas. Apabila kita meminta Allah untuk menguduskan nama-Nya, kita harus bertanya, di mana dan bagaimana nama-Nya dikuduskan? Apakah nama-Nya dikuduskan melalui rumah-rumah? Apakah nama Allah akan tampak kudus dengan melihat pada rumah-rumah, pada pohon-pohon, pada bunga-bunga? Apakah dikuduskan lewat mobil? Tentu saja tidak. Tentu saja dengan melihat pada manusia. Allah akan menyatakan kekudusan nama-Nya, di mana? Di dalam umat-Nya! Ini satu hal yang sangat penting untuk dimengerti.  

Kekudusan Allah akan dinyatakan di dalam diri kita. Inilah ajaran Firman Tuhan. Saya akan membacakan kepada Anda satu ayat yang sangat penting dari kitab Yehezkiel, yang menyimpulkan seluruh pengajaran ini dengan jelas. Yehezkiel 36:23, satu ayat yang sangat mirip dengan ayat yang sedang kita pelajari sekarang.

Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka. Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, demikianlah firman Tuhan ALLAH, manakala Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa.”

Anda dapat perhatikan betapa miripnya kata-kata ini dengan kata-kata yang terdapat dalam Doa Bapa Kami. Apa yang dikatakan di sini? Apa yang dikatakan Yehezkiel? “Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa,” – oleh kamu. “Kamu [bangsa] Israel!” Dan sedihnya kata-kata ini sangat berlaku pada gereja masa kini. “Kamu telah menajiskan nama-Ku. Kamu telah menghina nama-Ku di tengah bangsa-bangsa.” Gereja bukan saja sangat sedikit atau sama sekali tidak memuliakan Allah, tetapi sebaliknya mengaibkan-Nya melalui percekcokan, pertengkaran, perselisihan maupun sikap berat sebelahnya. “Kamu telah menghina dan mempermalukan nama-Ku.” ‘Menajiskan’ justru bertentangan dengan menguduskan. ‘Menajiskan’ berarti menjadikan sesuatu sekuler, tidak menghormati dan menjatuhkan. “Kamu telah menajiskan nama-Ku di tengah bangsa-bangsa; dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan setelah Aku menyatakan kekudusan-Ku dan menguduskan nama-Ku”, demikian Firman Tuhan Allahmu, “bilamana melalui kamu — kamu yang menajiskan dan menghina nama-Ku — Aku akan bekerja sedemikian rupa sehingga Aku menguduskan nama-Ku di depan mata mereka, di depan mata bangsa-bangsa dunia.”

Baca ayat ini dengan teliti dan Anda akan mendapati justru hal inilah yang ada di dalam pikiran Yesus. Allah akan menguduskan nama-Nya. Allah akan memuliakan kekudusan nama-Nya dan Ia akan membuat semua bangsa-bangsa dunia menyaksikannya. Tetapi Ia akan melakukannya melalui Anda. Itulah caranya Tuhan bekerja. Orang yang sama yang menajiskan nama-Nya, Tuhan akan melakukan suatu pekerjaan di tengah-tengah mereka sehingga mereka memuliakan nama-Nya.

Inilah hal yang sedang saya doakan. Inilah yang harus kita doakan untuk generasi ini. Gereja telah mendatangkan nama buruk bagi Allah. Kita semua mengetahuinya. Hal ini tidak perlu diperdebatkan. Tidak ada gunanya membela gereja. Ini merupakan suatu kebenaran yang diketahui semua orang. Namun saya menaruh pengharapan bahwa jika kita berdoa dan berseru memanggil nama-Nya, Allah akan menguduskan nama-Nya melalui orang yang sama yang telah menajiskan nama-Nya, yaitu melalui kita, gereja-Nya. Ia akan melakukan satu pekerjaan yang besar dan menakjubkan.

Lantas, bagaimana Allah akan melakukan hal ini? Bagaimana Allah akan menyatakan kekudusan-Nya di tengah-tengah umat yang telah menyebabkan nama-Nya dihujat di antara bangsa-bangsa lain? Apa yang dikatakan Paulus dalam Roma 2? Jika kita terus membaca di Yehezkiel, jawabannya ada di situ. Kita tidak perlu membaca terlalu jauh. Yehezkiel memberitahu kita bagaimana hal ini akan dilakukan, yaitu, Allah akan memberikan hati yang baru, dan roh yang baru. Ia akan mengubah bangsa Israel. Ia akan mentransformasikan mereka. Inilah caranya kuasa Allah akan bekerja. Ia akan datang kepada bangsa Israel dan mengubah mereka dan menjadikan suatu umat yang baru dari mereka. Begitulah yang kita baca di beberapa ayat yang berikutnya, mulai dari ayat 24.

“Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu. Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.”

Apa artinya menjadi seorang Kristen yang sejati? Artinya, Allah memanggil kita keluar, seperti yang dikatakan dalam ayat 24, “Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa”. Allah akan mengumpulkan kita kepada diri-Nya. Ini adalah langkah yang pertama: Dipisahkan dari antara bangsa-bangsa yang telah bercampur baur dengan mereka.

Maka langkah yang pertama untuk menjadi kudus adalah: Allah memanggil kita keluar untuk dipisahkan, untuk menjadi berbeda, seperti yang dikutip Paulus di 2 Korintus 6, “Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka.” Kita telah keluar, bukan secara jasmani dari dunia tetapi keluar dari dunia dalam hal tingkah laku dan cara kita berkelakuan. Apabila kita meresponi panggilan Allah, Allah akan memberikan satu roh yang baru, satu hati yang baru dan Ia menjadikan kita suci, menjadikan kita kudus. Kita mengerti sekarang apa yang akan dilakukan Allah. Kita melihat bahwa Allah akan menjawab doa ini dengan mengubah kita.


UNTUK MEMULIAKAN NAMANYA, KITA HARUS DITRANSFORMASI

Ini menuntun kita kepada satu lagi hal yang penting tentang doa. Tahukah Anda apa yang sedang Anda doakan? Ketika Anda berdoa, “Ya Allah, biarlah nama-Mu dimuliakan sedemikian rupa sehingga seluruh dunia akan mengetahui bahwa Engkau adalah kudus”, sebetulnya kita sedang berkata, “Biarlah nama-Mu menjadi kudus di dalam kita dan melalui kita.” Kita sedang berkata, “Tuhan, ubahlah aku.” Kita tidak tulus meminta Allah untuk memuliakan nama-Nya jika kita tidak bermaksud, “Muliakanlah nama-Mu di dalam diriku”. Jangan doakan Doa Bapa Kami lagi jika Anda tidak berniat supaya Allah mengubah Anda dan memisahkan Anda dari dunia. Jangan mengulangi lagi Doa Bapa Kami ini. Doa ini bukan untuk Anda. Doa ini hanya untuk mereka yang rela mengikut Yesus sampai pada kesudahannya. Doa ini hanya untuk mereka yang rela memikul salib dan mengikut teladan Yesus dengan suatu komitmen yang total. Kita berkata, “Ya Allah, Bapaku si Surga, biarlah kekudusan nama-Mu dimuliakan di seluruh dunia melalui aku.”

Ini merupakan prinsip dasar bagi doa, bahwa apa saja yang Anda doakan, Anda memaksudkannya. Jika Anda benar-benar memaksudkannya, Allah akan meminta agar Anda melakukan bagian Anda. Umpamanya, ada seorang saudara sedang mengalami masalah keuangan, apa yang harus saya lakukan? Saya berkata, “Tuhan, cukupkan kebutuhannya.” Bagus, tetapi apakah tanggung jawab Anda? Tidak ada! Saya berdoa dan saya telah memenuhi tanggung jawab saya. Salah! Anda lebih baik jangan mendoakan doa tersebut, atau jika Anda mendoakannya, Allah akan berkata, “OK, sekarang mulai dengan kamu. Kamu lakukan sesuatu tentang hal itu.” Jika Anda tidak berniat melakukan sesuatu, maka jangan berdoa.

Perhatikan bahwa doa dan kehidupan tidak dapat dipisahkan. Anda tidak dapat memisahkan doa dan kehidupan. Jika Anda tidak berniat melakukan sesuatu, jangan mendoakan hal itu karena Allah akan menyuruh Anda menjadi orang yang pertama yang bertindak dalam hubungan dengan hal yang Anda doakan.

Bukankah saya seorang munafik jika saya berdoa untuk seorang saudara dalam kebutuhan dan berkata, “Tuhan, cukupkan kebutuhannya”, dan saya tidak mengeluarkan sedikit uang untuk diberikan kepadanya? Orang munafik semacam apa ini? Apa maksud saya berdoa untuk orang itu tetapi tidak mau menyusahkan diri untuk berbuat sesuatu? Apa gunanya berkata, “Berdoalah untuk Negeri China. Tuhan, semoga Injil dapat dibawa ke dalam Negeri China”, apabila Anda sama sekali tidak berniat untuk berbuat sesuatu? Dalam setiap perkara, entah kita berdoa untuk gereja, atau berdoa untuk seseorang dalam kebutuhan, atau berdoa untuk penginjilan di Negeri China, atau berdoa untuk pelayanan tertentu, tidak ada gunanya berdoa jika Anda tidak berniat untuk berbuat sesuatu. Maksud saya, jika Anda dapat berbuat sesuatu. Tentu saja, jika saya tak mempunyai uang, saya masih dapat berdoa untuk seseorang yang membutuhkan meskipun saya tidak mempunyai apa-apa untuk diberikan kepada orang itu. Itu situasi yang berbeda. Tetapi di mana saya dapat berbuat sesuatu, saya harus berbuat sesuatu.

Dari semua ini, kita melihat dasar-dasar penting yang timbul dari apa yang kelihatannya hanya satu doa yang sangat sederhana. Doa yang sederhana ini mengandungi banyak pengajaran. Apa pengajaran itu? 

Pertama, Allah itu kudus, Ia berbeda. Kedua, menjadi seorang Kristen berarti menjadi berbeda di mana saat orang lain memandang Anda, mereka berkata, “Wah, orang ini berbeda.” Kita tidak seharusnya takut untuk tampil berbeda. Banyak orang Kristen yang takut untuk menjadi berbeda. Kita tidak takut untuk tampil berbeda, dalam pengertian kita benar-benar kudus, tetapi bukan berbeda dalam pengertian kita memakai pakaian-pakaian yang aneh dan berkelakuan aneh. Saya tidak bermaksud tampil berbeda dengan menjadi aneh, tetapi tampil berbeda karena kita benar-benar kudus, sehingga orang lain dapat melihat, “Wah, ia seorang yang benar, yang adil, yang baik, yang mengasihi. Ia menonjol dari orang banyak sebagai seorang yang berbeda.”

Jika Anda telah mendoakan doa ini, maka bebannya terletak pada Anda untuk kembali ke keluarga Anda, ke sekolah Anda, ke kantor Anda dan membuat orang lain berkata, “Wah, orang ini berbeda. Ada sesuatu yang berbeda tentang orang ini.” Ia menonjol dari orang banyak.  Saya tidak bermaksud ‘berbeda’ karena Anda berbicara lebih banyak dari semua orang yang lain— dan memang tidak bagus jika kita berbeda dengan cara itu— tetapi kita berbeda karena kualitas kehidupan kita, dan bukan karena kita memamerkan Alkitab yang besar. Semua orang dapat melakukan itu tetapi persoalannya ialah apakah kehidupan Anda menonjol dari segi kualitas.

Begitu kita melihat bahwa di sini terkandung satu prinsip yang amat penting. Kita melihat bahwa ayat ini menimbulkan pengajaran tentang kelahiran baru, dan pengajaran mendasar tentang doa; bahwa kita tidak layak mendoakan apa-apa melainkan kita siap untuk melakukan bagian kita.


TANPA HIDUP KUDUS, KITA BELUM MENGGENAPI PANGGILAN KITA

Bagaimanapun, ini membawa kita ke poin terakhir yang sangat penting, yaitu: apa terjadi jika kita tidak menjalankan kehidupan yang kudus ini? Apakah penting untuk kita menjadi kudus; atau itu bukan persoalannya?

Izinkan saya mengatakan bahwa Firman Tuhan sangat eksplisit (gamblang) tentang hal ini: Tanpa kekudusan, tidak seorangpun akan melihat Allah. Ini bukanlah satu persoalan apakah baik bagi seorang Kristen menjadi kudus Atau apakah lebih bagus menjadi kudus dan berbeda dari orang lain? Kekudusan itu wajib karena tanpa kekudusan, Anda bukan seorang Kristen. Tanpa kekudusan, Anda tidak akan melihat Allah. Ini berarti, panggilan kita, seluruh tujuan kehidupan kita, seluruh arti kehidupan kita di dunia ini adalah untuk menjadi kudus.

Di dalam kitab Imamat, empat kali Allah berkata kepada bangsa Israel, “Haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus”. Bukan satu kali, bukan dua kali tetapi empat kali. Ia memberi perintah kepada bangsa Israel untuk menjadi kudus. Kita harus menjadi berbeda jika kita ingin memenuhi fungsi dan peran kita di dunia ini sebagai orang Kristen. Kita harus mengingat hal ini dalam benak kita, bahwa kita tidak menjadi orang Kristen hanya untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Kita telah diselamatkan untuk menjalankan satu tugas. Tugasnya ialah mengarahkan dunia kepada Allah. Seorang Kristen yang sejati menggenapi fungsi itu. Kalau tidak, Anda bukan seorang Kristen. Anda mengarahkan orang kepada Allah melalui kehidupan Anda, kalau tidak Anda bukan seorang Kristen karena Allah tidak dikuduskan di dalam kehidupan Anda.

Janganlah menjadi seorang Kristen hanya karena Anda ingin melepaskan diri dari neraka. Karena jika itu satu-satunya alasan mengapa Anda menjadi seorang Kristen, maka Anda tidak akan meraih apa-apa. Pada saat Anda menjadi seorang Kristen, Allah memberikan Anda satu tugas, yaitu untuk menguduskan nama-Nya di dunia ini. Saya merayu kepada Anda untuk mengingat hal ini dengan baik. 

Tetapi bagaimana kalau Anda tidak memenuhi tanggung jawab itu? Izinkan saya mengatakan kepada Anda bahwa terdapat beberapa tingkat dalam memenuhi tanggung jawab itu. Saya ingin menunjukkan kepada Anda contoh dari Musa. Contoh dari Musa agak mengerikan dan menakutkan saya dan di waktu yang bersamaan juga membuat saya rendah hati. Saya mengerti sekarang mengapa Paulus berkata, “Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Tidak ada yang lebih mencelakakan dibandingkan dengan orang Kristen yang puas dengan diri sendiri. Pernahkah Anda bertanya mengapa Paulus berkata di Filipi, “Kerjakanlah keselamatan Anda dengan takut dan gentar”?  Karena Allah itu Allah yang kudus. Jika Anda tidak menguduskan nama-Nya dalam kehidupan Anda, Ia akan menyangkal Anda karena Anda tidak mewakili-Nya sebagaimana semestinya.


MUSA PERNAH TIDAK MENGUDUSKAN NAMA ALLAH

Saya akan memberikan kepada Anda contoh dari Musa. Saya akan menceritakan kepada Anda peristiwa yang terkenal ini. (Bilangan 20:12) Musa adalah abdi Allah yang sangat besar, dan disebutkan bahwa Allah berbicara muka ke muka dengannya. Musa adalah alat pilihan Allah yang kudus, dipisahkan sepenuhnya untuk Allah. Musa memimpin umat Allah keluar dari Mesir. Musa memimpin umat Israel melalui padang gurun menuju Tanah Perjanjian. Tetapi Musa sendiri tidak pernah masuk Tanah Perjanjian. Tahukah Anda mengapa? Meskipun ia abdi Allah yang tiada tandingannya, tidak ada nabi yang dapat dibandingkan dengan Musa karena Allah berkata, “Aku tidak berbicara dengan nabi manapun seperti Aku berbicara dengan Musa. Aku berbicara kepada Musa muka ke muka, seperti seorang berbicara kepada temannya.” Namun begitu, Musa tidak diizinkan masuk Tanah Perjanjian. Tahukah Anda mengapa? Karena pada satu kejadian, satu peristiwa, ia tidak menguduskan nama Allah. Tuduhan terhadap Musa justru sama persis dengan apa yang terdapat dalam Doa Bapa Kami, kecuali dalam kebalikannya. Ia tidak menguduskan nama Allah di dalam kehidupannya dalam seketika. Dan karena satu peristiwa itu, Allah berkata, “Kamu tidak akan masuk Tanah Perjanjian”.

Mari kita membaca Bilangan 20:12, 

Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan (perhatikan kata-kata ini) tidak menguduskan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.”  

“Kamu tidak menghormati kekudusan nama-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan masuk ke Tanah Perjanjian.” Hal yang sama diulangi sekali lagi dalam kitab Ulangan dengan kata-kata yang sama. Saya akan membacakan Ulangan 32:51 kepada Anda.

oleh sebab kamu telah berubah setia terhadap Aku di tengah-tengah orang Israel, dekat mata air Meriba di Kadesh di padang gurun Zin, dan oleh sebab kamu tidak menghormati kekudusan-Ku di tengah-tengah orang Israel.

“Kamu tidak menghormati kekudusan-Ku, kamu tidak menguduskan nama-Ku, kamu tidak menguduskan nama-Ku di tengah-tengah orang Israel, karena itu kamu tidak akan masuk Tanah Perjanjian.”

Anda tahu, kepuasan dengan diri sendiri di antara orang-orang yang duduk santai dan berbicara tentang ‘sekali selamat dan selama-lamanya selamat’ – benar-benar menakutkan saya. Ketika saya memikirkan cerita tentang Musa, itu benar-benar menyebabkan saya berkeringat. Di sini adalah seorang yang tanpa cela seluruh hidupnya, seorang yang pengabdiannya kepada Allah sangatlah mutlak, seorang yang dikatakan mempunyai kerendahan hati yang tak tertandingi. Tidak seorangpun di seluruh Israel dapat dibandingkan dengan dia dari segi kekudusan dan kerendahan hati. Tetapi dalam satu peristiwa, ia tidak menguduskan nama Allah dalam kehidupannya, dan Allah berkata, “Kamu tidak akan membawa umat ini ke dalam Tanah Perjanjian.” Satu-satunya tujuan Musa dipanggil keluar dari Mesir, satu-satunya tujuan Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir adalah untuk membawa mereka ke dalam Tanah Perjanjian. Tetapi ia tidak dapat memenuhi janji tersebut karena ia tidak menguduskan nama Allah.

Oleh karena itu, saya ingin Anda melihat betapa pentingnya kata-kata ini, ‘Dikuduskanlah nama-Mu’. Karena saya ingin katakan bahwa tidak kira betapa kudusnya kehidupan Anda, tidak kira betapa kudusnya kehidupan saya, jika kita gagal, kita mungkin saja sekaligus gagal menerima janji-janji Allah. Ingat bahwa Allah itu kudus, dan kita sedang berurusan dengan Allah yang kudus. Ini tidak berarti bahwa Musa telah hilang; ini tidak berarti bahwa Musa binasa secara rohani. Tidak, tidak! Kita bersyukur kepada Tuhan, dia tidak binasa. Kita tahu bahwa pada saat Yesus dimuliakan diatas gunung, Musa muncul bersama Elia. Musa dan Elia tampil di atas gunung itu. Ia masih bersama Kristus. Kegagalannya tidak berarti ia menjadi hilang, tetapi ia telah kehilangan berkat. Ia kehilangan berkat dan penghargaan untuk memimpin umatnya masuk ke dalam Tanah Perjanjian.

Biarlah saya mengingatkan Anda, janganlah kita lalai dalam menguduskan nama Allah di dalam kehidupan kita, dan memenuhi tanggung jawab panggilan kita, yaitu, menguduskan nama Allah di dunia ini, sehingga seluruh dunia akan berkata, “Wah, Allah adalah seperti itu, karena lihatlah orang ini, ia adalah seorang Kristen. Apabila saya melihat dia, saya dapat melihat Allah itu seperti apa.” Itulah tanggung jawab kita. Jangan melepaskan tanggung jawab Anda, Allah tidak akan membiarkan Anda melepaskannya.

Kita suka berkata, “Nah, kami penuh dengan kekurangan”, dan memberikan beberapa dalih untuk membenarkan kekurangan kita. Allah tahu kita penuh dengan kekurangan, itulah sebabnya Tuhan mengaruniakan Roh Kudus kepada kita untuk membolehkan kita menjadi kudus. Tanpa Roh Kudus kita tidak dapat melakukannya. Kita tidak dapat menjalankan suatu kehidupan yang kudus. Tidak ada yang mengusulkan bahwa kita dapat menjalankan kehidupan Kristen dengan kekuatan kita sendiri. Hanya oleh kuasa Roh Kuduslah hal ini dapat dilakukan. Karena kuasa Roh Kuduslah yang dapat menjadikan kita kudus, seperti yang dikatakan Paulus, “Aku dapat melakukan segala sesuatu melalui Kristus yang memberikan kekuatan kepadaku”, maka kita tidak dapat berdalih. Tidak ada gunanya berkata pada hari penghakiman, “Tuhan, aku cuma seorang manusia”, seolah-olah itu suatu informasi yang tidak pernah diketahui Allah sebelumnya.

Pikirkan sekali lagi tentang Musa, abdi Allah yang besar ini, yang dicabut hak istimewanya untuk memasuki Tanah Perjanjian, setelah bersusah payah membanting tulang menanggung beban bangsa Israel selama sekian banyak tahun. Apakah kesalahannya? Apakah dosanya? Hanya ini: pada waktu itu tidak ada air. Dan Musa diberi perintah untuk menyediakan air untuk umat Israel yang menggerutu dan bersungut-sungut itu. Ia diperintahkan untuk melakukan dua hal: Pertama, berbicara kepada batu itu dan menyuruh batu itu mengeluarkan air; dan kedua, setelah memberikan perintah, pukul batu itu dengan tongkatnya, tongkat yang sama yang memukul Laut Merah itu. Ia melakukan yang kedua tetapi tidak yang pertama. Musa hanya melakukan satu dari dua perintah itu. Ia tidak berbicara kepada batu itu, dan hanya memukulnya dalam kemarahan. Ia juga teledor dengan kata-katanya. Ia berkata, “Apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini, hai orang-orang durhaka.” “Apakah kami”? Siapa ‘kami’ itu? Hanya Allah yang mengeluarkan air, bukan Musa. Siapa ‘kami’ itu? Dan mengapa Musa tidak memenuhi seluruh perintah-Nya?

Perhatikan bahwa Allah bermaksud untuk melakukan satu pekerjaan yang dahsyat dan menakjubkan di depan umat Israel supaya nama-Nya dikuduskan di depan mata bangsa Israel. Pekerjaan apa? Mereka sedang haus, mereka kering dan dipanggang panas matahari. Allah akan melakukan satu pekerjaan yang dahsyat yang akan menguduskan nama-Nya di depan bangsa Israel. Pekerjaan apa? Musa akan berdiri di hadapan orang banyak ini dan berbicara kepada batu ini dalam nama Allah, “Keluarkan air dari batu ini.” Semua orang tahu bahwa batu tidak dapat mengeluarkan air. Tetapi Musa akan berbicara kepada batu ini dalam nama Allah. Namun ia tidak melakukan itu. Ia tidak berbicara kepada batu itu. Di dalam kemarahannya dan kejengkelannya terhadap umat Israel, ia telah melupakan segala sesuatu tentang menguduskan nama Yahweh. Ia mengangkat tangan dan memukul bukit batu itu dengan tongkatnya. Air keluar dengan banyaknya tetapi ia tidak menggenapi maksud memuliakan Yahweh di depan mata orang Israel. Orang Israel akan jatuh menyembah Yahweh andai saja ia hanya berbicara kepada batu tersebut. Hanya menyentuh batu itu, dan air keluar, wah, orang Israel akan melihat kemuliaan Yahweh, tetapi tidak, di dalam kegeramannya, seluruh bangsa Israel hanya dapat melihat kemarahannya. Karena itu, seluruh pesan yang harus disampaikan telah hilang. Semuanya hilang karena kemarahannya.

Anda barangkali berkata itu dosa yang kecil. Memang sangat kecil dan barangkali orang Israel tidak akan tersandung atau terganggu karena dosa tersebut. Maksud saya, Musa memang sangat marah. Ia memang sangat digusarkan. Di mata manusia, Musa tidak melakukan kesalahan yang serius. Tetapi di mata Allah, ia telah gagal….. bukan karena apa yang dilakukannya, tetapi apa yang tidak dilakukannya. Itulah tuduhan terhadap Musa: apa yang tidak dilakukannya, yaitu, tidak menguduskan nama Yahweh di depan mata orang Israel.


PELAJARAN DARI MUSA: BUKAN APA YANG DILAKUKAN TETAPI APA YANG TIDAK DILAKUKAN

Di sini ada satu pelajaran bagi kita, saudara-saudara. Persoalannya bukanlah apakah Anda telah melakukan dosa yang menyedihkan atau tidak. Musa tidak melakukan apa-apa. Saya pikir orang Israel tidak akan terlalu memperhatikan apakah Musa marah atau tidak. Alkitab tidak mengatakan bahwa wajahnya berubah menjadi merah seperti Guan Gong (dewa perang di Tiongkok) atau sesuatu seperti itu. Ia sangat marah lalu memukul batu itu. Itu saja. Ia memukulnya dua kali. Firman Tuhan tidak mengatakan bahwa ia tidak diizinkan untuk memukul dua kali. Itu tidak terlalu penting. Itu tidak menjadi persoalan. Persoalannya di sini adalah Musa sebagai orang yang telah mati kepada dirinya, dan telah ditransformasi, ia seharusnya berbicara sebagai wakil Allah.  Jadi, persoalannya bukan pada apa yang dilakukannya, tetapi pada apa yang tidak dilakukannya. Inilah poin yang harus Anda pahami dengan sejelas mungkin. Ia tidak menguduskan nama Allah. Inilah yang harus kita ingat: persoalannya bukan apakah Anda telah melakukan sesuatu yang buruk, apakah Anda menjalankan kehidupan yang berbeda dari orang non-Kristen. Persoalan di sini ialah Anda tidak menguduskan nama-Nya di mata orang dunia, sehingga saat mereka melihat Anda, mereka tidak berkata, “Wah, inilah orang Kristen.” Mereka tidak berkata, “Wah, Allah itu menakjubkan sekali. Jika seperti itulah orang Kristen, aku ingin menjadi orang Kristen.”

Tetapi orang-orang Kristen yang ada di sekolah-sekolah saya membuat saya berkata, “Jika seperti itulah orang Kristen, aku tidak mau menjadi orang Kristen.” Nama Allah tidak dikuduskan di mata saya melalui mereka. Tetapi melalui orang-orang Kristen Tiongkok, nama Allah dikuduskan di dalam hati saya. Saya berkata, “Inilah orang-orang Kristen yang sejati.” Merekalah orang-orang Kristen. Nama Allah ditinggikan. Inilah tanggung jawab Anda. Jangan keluar ke sana dan berkata, “Baik, aku tidak melakukan dosa apapun.” Itu bukan persoalannya. Atau, “Barangkali aku pernah melakukan beberapa dosa kecil” — itu juga bukan persoalannya. Persoalannya bukan apakah Musa telah melakukan dosa besar atau dosa kecil, itu bukan pokok permasalahannya. Masalahnya, ia telah gagal berbuat sesuatu; ia telah gagal menguduskan nama Allah di depan mata orang Israel.


KITA MEMIKUL TANGGUNG JAWAB UNTUK MENGUDUSKAN NAMANYA

Dan saudara-saudara, itulah tanggung jawab kita. Pada hari itu, ketika Anda dan saya berdiri di hadapan Allah, Ia akan bertanya kepada Anda pertanyaan ini, “Apakah kamu menguduskan nama-Ku di mata orang dunia? Di kantor, di sekolah, di dalam keluarga, apakah nama-Ku dikuduskan?” Dapatkah orang dunia berkata, “Wah, inilah orang-orang Kristen, mereka memiliki sesuatu. Mereka benar-benar berbeda. Lihatlah mereka, mereka mencolok dari orang banyak. Mereka sama sekali berbeda”? Masalahnya dengan kita adalah kita begitu serupa dengan dunia. Kita berkelakuan seperti non-Kristen. Kita berpikir seperti non-Kristen.

Pikirkan tentang sejarah masa kini, nama siapakah yang menonjol dari semua? Selalunya nama yang sama — orang-orang yang telah menguduskan nama Allah di dalam kehidupan mereka. Mereka selalu menonjol dalam ingatan kita. Bagi saya adalah orang-orang seperti Yang Tze Jie, orang seperti Henry Choy, orang seperti Sung San Jie (John Sung) — orang-orang ini mencolok dari orang banyak. Mereka berbeda dari orang banyak karena nama Allah dikuduskan di dalam kehidupan mereka. Itulah panggilan surgawi kita. Semoga Allah berbicara kepada setiap dari kita supaya kita benar-benar mengerti kata-kata ini saat kita berdoa, “Dikuduskanlah nama-Mu”.

Ketika Anda mendoakan doa ini, ingatlah tanggung jawab Anda atau jangan berani Anda mendoakannya lagi. Tetapi jika Anda tidak mendoakannya, ini hanya membuktikan bahwa Anda bukan orang Kristen karena setiap orang Kristen yang sejati akan mendoakan doa ini. Semoga Allah berbicara kepada kita dari Firman-Nya yang hidup dan menunjukkan kepada kita hal-hal yang begitu penting supaya kita dapat melihat tanggung jawab yang begitu berat yang telah diberikan kepada kita.

Sebagai kesimpulan, mari kita melihat apa artinya doa ini. “Bapa kami yang di surga, semoga kekudusan nama-Mu dimuliakan dalam kehidupanku… (Itulah doanya) …supaya orang banyak tertarik kepada Engkau!” Apakah tujuan saya memuliakan Allah? Karena Ia mengasihi saya. Apakah motivasi saya memuliakan Allah? Karena orang di dunia ini tidak dapat mengenal Allah kecuali melalui saya. Tidakkah tujuan-tujuan ini mencukupi? Bagaimana orang-orang di luar sana dapat mengenal Allah jika mereka tidak mengenal Allah melalui Anda? Apakah Alkitab akan jatuh dari langit atas pangkuan mereka? Bagaimana mungkin mereka mendengar pesan kehidupan kekal jika pesan itu tidak datang dari Anda? Tetapi ingat bahwa pesan ini paling mengesankan jika disampaikan melalui kehidupan yang Anda jalani daripada melalui banyaknya kata-kata. Kebanyakan dari kita lebih pintar berbicara daripada melakukan.

Jadi, bergantunglah kepada kuasa Roh Kudus. Jangan coba menjalankan kehidupan Allah dengan kekuatan kita sendiri. Kita tidak akan berhasil. Tetapi jika Anda berkata, “Tuhan, inilah doaku.” Ingat bahwa ini merupakan satu doa kepada Allah supaya Ia melakukan sesuatu di dalam diri saya. Jika Anda memaksudkannya, maka Ia akan melakukannya. Ijinkan Allah datang ke dalam kehidupan Anda di dalam kepenuhan kuasa-Nya. Ia akan melakukannya. Ia akan mengubah Anda dan menjadikan Anda sama sekali berbeda sehingga ke mana saja Anda pergi, orang akan berkata, “Ah, orang ini berbeda.” Lalu mereka akan bertanya, “Mengapa kamu menjadi orang Kristen?” Kemudian Anda dapat memberitahu mereka dan banyak orang akan tertarik kepada Allah karena Anda telah menguduskan nama-Nya. Anda telah menguduskan nama-Nya di dalam kehidupan Anda.

 

Berikan Komentar Anda: