Mark Lee |

Kebanyakan manusia dirantai dan ditawan oleh berbagai jenis belenggu. Saya akan memberi uraian singkat mengenai delapan jenis belenggu. Tentu saja saya tidak berkata bahwa setiap orang pasti terikat oleh kedelapan jenis belenggu itu, akan tetapi satu, dua atau beberapa belenggu itu mungkin sedang mengikat Anda.


Belenggu dosa

Belenggu jenis yang pertama adalah kita ditawan dosa dan itu menjadikan kita budak dosa. Dikatakan di Yohanes 8:34 –

“Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.'”

Dikatakan di sini bahwa setiap orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa. Menjadi budak berarti masuk ke dalam keadaan tidak dapat menolong diri sendiri – sangatlah mustahil untuk berhenti berbuat dosa sekalipun Anda menginginkannya. Berdasarkan kekuatan kehendak Anda, Anda mungkin dapat berhenti berbuat dosa satu atau dua kali, akan tetapi Anda tidak dapat berhenti terlalu lama karena pada akhirnya Anda akan tetap menjadi tawanan “penguasa” ini. Ini adalah jenis pertama dari belenggu itu, yang juga merupakan belenggu yang paling parah – yaitu menjadi budak dosa.


Belenggu Mamon

Belenggu jenis yang kedua dapat kita lihat di Matius 6:24 –

“Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Mamon adalah kekayaan, status dan uang – berarti segala sesuatu yang bersifat materialistis. Jadi, belenggu jenis yang kedua adalah diperbudak oleh uang dan hal-hal materi – dimanipulasi oleh hal-hal ini.

Bagaimana Anda tahu bahwa seseorang adalah budak harta? Hal ini dapat dilihat dari beberapa tanda dan gejala. Ayat ini dilanjutkan dengan ayat 25 –

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?”

Salah satu gejala orang yang menjadi budak uang adalah kekhawatiran. Mereka dikuasai kekhawatiran yang tak terkendali akan banyak hal di dunia ini. Itu sebabnya, kutipan ini berlanjut dengan – “Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” jawabannya tentu saja adalah “Tidak”. Tak seorang pun yang bisa menambah umurnya karena kekhawatirannya. Persoalannya adalah mengapa kita terus saja khawatir padahal kita tahu bahwa kekhawatiran itu tidak ada gunanya? “Aku memang tidak mau khawatir!” Akan tetapi ternyata kehawatiran adalah suatu jenis emosi yang tak terkendali.

Jadi salah satu gejala yang timbul akibat diperbudak oleh harta adalah kekhawatiran. Banyak orang yang terus saja cemas akan berbagai hal dalam hidupnya. Beberapa orang cemas kalau-kalau dia menjadi miskin. Kenyataannya, kekhawatiran tidak dapat mencegah Anda dari menjadi miskin. Dan mengapa Anda khawatir akan hal itu sementara Anda belum miskin?

Jadi, kekhawatiran sebenarnya bukanlah masalah penalaran. Kekhawatiran tidak dapat disingkirkan hanya dengan penalaran. Alasan dari kekhawatiran itu adalah karena orang yang khawatir itu diperbudak oleh harta dan hal-hal material dan dia sangat ketakutan kalau-kalau dia nanti kehilangan apa yang dia miliki sekarang. Inilah jenis belenggu yang kedua.


Belenggu Nafsu dan Keinginan

Jenis belenggu yang ketiga dapat dilihat dari Titus 3:3 –

“Karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci.”

Dikatakan di sini “hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan” – kata “menjadi hamba” berarti kita menjadi budak dari berbagai nafsu dan keinginan.

Orang memiliki berbagai keinginan atau hasrat. Sangatlah banyak jenis keinginan. Sebagai contoh, nafsu seksual, mirip dengan rantai, telah mengikat banyak orang di dalamnya. Orang-orang itu tidak dapat mengelak dari keterlibatan dalam perkara-perkara seksual karena mereka telah menjadi budak nafsu seksual. Mereka tidak dapat menghindar dari belenggu yang telah merantai mereka ini. Contoh lainnya adalah kesenangan-kesenangan jasmani. Bukan berarti bahwa menikmati kesenangan itu tidak baik, melainkan bahwa sangatlah disesali jika seseorang akhirnya menjadi budak dari kesenangan-kesenangan itu.

Ada beberapa orang yang begitu menyukai kegiatan merakit mainan sampai-sampai menjadi kecanduan pada kegiatan ini. Sekalipun rumahnya sudah dipenuhi oleh berbagai macam mainan rakitan, dia tidak bisa berhenti untuk merakit yang baru lagi. Mereka telah menjadi budak dari kesenangan merakit mainan itu. Banyak hal yang juga bisa menimbulkan ketagihan. Contoh lainnya termasuk membaca komik dan bermain game komputer.

Pernah ada seseorang yang harus dirawat di rumah sakit akibat kram saat bermain game komputer. Bermain game komputer atau membaca komik itu sendiri bukanlah hal yang buruk, masalahnya adalah jika orang yang melakukannya sampai pada tingkatan ia sepenuhnya berada di bawah kendali dan menjadi budak kegiatan ini.

Sebagai contoh, beberapa orang menjadi budak internet – mereka tidak dapat melewatkan harinya tanpa tersambung ke internet; sebagian lagi menjadi budak rokok dan alkohol – mereka juga tidak dapat melewatkan harinya tanpa minuman keras atau rokok. Bukan berarti bahwa kita tidak boleh menjamah minuman beralkohol, akan tetapi ada perbedaan yang besar antara sekadar minum dengan kecanduan alkohol. Inilah yang dimaksudkan dengan ayat tadi sebagai menjadi hamba dari berbagai nafsu dan keinginan.


Belenggu Perasaan

Masih ada jenis belenggu yang lainnya – yang disebutkan di dalam bagian kedua dari ayat itu: persoalan kedengkian dan kebencian, yaitu, belenggu emosi. Belenggu jenis ini mengikat orang-orang pada emosi. Mereka sering cemburu pada sesamanya. Orang yang selalu cemburu atau iri dirinya sangatlah tersiksa. Hal yang sama berlaku juga pada kebencian. Jika Anda membenci seseorang, yang akan mengalami kerugian paling besar bukanlah orang yang Anda benci tetapi diri Anda sendiri. Sakit hati yang meracuni diri akan tumbuh dari kebencian dalam hidup Anda, sementara orang yang Anda benci mungkin bahkan tidak tahu apa-apa tentang hal itu.

Ada sebagian orang yang sangat mudah tersinggung. Mereka bahkan dapat menjadi emosi hanya karena perubahan cuaca – ini mungkin masalah yang lebih mudah menyerang para wanita, jika dibandingkan dengan pria. Ini juga jenis belenggu yang membuat Anda tidak merdeka.


Belenggu pada Rasa Takut

Mari kita lihat Ibrani 2:15 untuk jenis belenggu yang kelima –

“dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.”

Di sini dikatakan bahwa Yesus datang untuk membebaskan mereka yang akibat takutnya kepada maut telah diperbudak oleh maut. Belenggu atas orang-orang semacam ini adalah rasa takut, rasa takut yang ditimbulkan oleh ketakutan akan maut. Ketakutan adalah belenggu yang sangat berat. Sebagian orang takut pada kegelapan. Saya yakin bahwa rasa takut pada kegelapan ini dilandasi oleh ketakutan terhadap maut.

Sebagian orang takut terbang. Sekalipun perjalanan yang harus ditempuh itu jauh, mereka akan memilih untuk naik kereta api dan tidak pernah memilih pesawat terbang. Mereka hidup di bawah belenggu ketakutan. Selanjutnya, ada orang yang takut pada hewan-hewan kecil. Ketika hewan-hewan itu muncul, orang-orang ini benar-benar dicekam oleh rasa takut mereka. Inilah belenggu jenis yang kelima – ketakutan.


Dibelenggu Manusia

Belenggu yang keenam bisa dilihat dari 1 Korintus 7:23 –

“Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.”

Di sini, Allah memberitahu kita untuk tidak menjadi hamba manusia. Apakah artinya menjadi hamba manusia? Artinya Anda berada di bawah pengaruh dan kendali orang-orang di sekitar Anda. Anda akan menemui bahwa banyak di antara kita berada dalam belenggu ini. Banyak orang yang hilang kemerdekaannya karena mereka ingin mendapat pujian dan penghargaan dari orang lain, atau karena mereka takut dikecam oleh orang lain, atau karena mereka tidak mau diremehkan oleh orang lain. Akibatnya, mereka tidak mampu melakukan hal-hal yang mereka pikir seharusnya mereka kerjakan.

Contohnya, di tempat kerja banyak orang yang ingin disukai oleh atasan dan rekan kerja mereka. Mereka bekerja, mungkin, bukan karena uang melainkan untuk mendapat pujian dari supervisor mereka – “Perusahaan kita tidak dapat jalan tanpa Anda!” Sebagian orang bahkan mendapati bahwa sangatlah layak mengorbankan nyawa demi pujian. Untuk itu, mereka dengan bahagia bekerja sampai mati-matian demi kepentingan perusahaan. Sayangnya, semua hal tersebut hanya angan saja. Ketika perusahaan memerlukan Anda, mereka akan memuji Anda. Ketika perusahaan tidak memerlukan Anda, mungkin orang pertama yang akan dipecat adalah Anda.

Salah satu teman saya bekerja di sebuah perusahaan yang cukup besar dan kelihatannya sangat disayang oleh bosnya. Dia dikirim ke luar negeri untuk menjalankan tugas perintisan dan diberi akomodasi, gaji serta tunjangan yang sangat bagus. Ketika tugasnya telah diselesaikan dengan baik, bosnya cepat sekali berubah dan menjadi dingin terhadapnya. Orang mudah berubah. Saya rasa segala sesuatunya akan sia-sia jika Anda mengejar pujian dan pengakuan dari orang yang mudah berubah. Sebagian orang dapat saja memperlakukan Anda dengan baik hari ini, akan tetapi sikap mereka dapat berubah sepenuhnya dalam waktu bahkan seminggu saja. Akan tetapi, banyak orang yang diperbudak oleh hal ini.

Ada juga orang yang sangat takut menghadapi kecaman, celaan dan penolakan. Itu sebabnya, apapun yang mereka lakukan, mereka mengerjakannya demi mengikuti arus – apapun yang dilakukan oleh banyak orang, aku ikut saja. Mereka sangat takut bertindak melawan arus, takut didiskriminasi dan diremehkan. Situasi semacam ini sangat terlihat jelas di kalangan remaja. Mereka sangat takut ditolak oleh kawan-kawannya. Itu sebabnya, mereka ikut saja apa yang dikerjakan oleh teman-teman mereka. Jika kita juga berperilaku seperti ini, berarti kita masih diperbudak oleh orang lain.


Dibelenggu Takhyul dan Berhala

Untuk belenggu jenis yang ketujuh, mari kita lihat Galatia 4:8 –

“Dahulu, ketika kamu tidak mengenal Allah, kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah.”

Ini adalah perbudakan oleh berhala dan takhyul. Banyak orang yang terikat oleh hal-hal seperti ini. Jangan mengira bahwa mereka yang berpendidikan bukan orang yang terikat takhyul. Kenyataannya, mereka juga mempercayai Feng Shui, dan akan mencemaskan arah kemujuran. Orang yang belum mengenal Allah akan mudah disuruh taat kepada takhyul karena mereka masih belum dimerdekakan. Banyak aturan-aturan yang akan mengikat hidup kita.

Sebagai contoh, sangatlah tabu bagi orang Tionghoa untuk mengucapkan kata “mati”. Seolah-olah orang yang mengatakan hal tersebut akan segera berada di dalam bayang-bayang kematian jika sampai mengucapkan kata itu. Banyak orang tidak menyukai nomor 4 atau 13. Di gedung yang tinggi, kita jarang bertemu dengan lantai 13. Inilah belenggu takhyul.


Belenggu Kesia-siaan

Untuk belenggu yang terakhir, mari kita lihat Roma 8:20 –

“Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya,.”

Belenggu yang kedelapan adalah kesia-siaan – berada dalam kendali kesia-siaan dan hidup di dalam kesia-siaan.

Hal ini dilanjutkan di ayat 21 –

“tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.”

Kesia-siaan berjalan seiring dengan kebinasaan (corruption = kerusakan, pent.). Mengapa sia-sia? Karena segala sesuatu di dunia ini akan berlalu, akan binasa, dan tidak dapat bertahan.

Pernahkah Anda memperhatikan bahwa budaya “momen ini” sudah menjadi trend sekarang ini? Orang makan, minum dan bermain sepuasnya. Bagaimana perasaan Anda setelah Anda makan, minum dan bermain sepuasnya? Mungkin Anda akan segera merasakan kekosongan yang luar biasa! Penyebabnya adalah karena setelah Anda membenamkan diri Anda sampai melumpuhkan kepekaan [panca indera] Anda, maka Anda akan benar-benar merasa hampa. Anda tidak akan mendapatkan kepuasan yang sejati. Tak ada satu hal pun yang bisa memuaskan kita.

Anda tentu pernah mengalami perasaan seperti ini, “Kalau saja aku bisa mendapatkan barang itu, aku akan puas!” Akan tetapi, akan puaskah Anda setelah memperolehnya? Anda akan mendapati bahwa Anda masih belum puas. Jika Anda mengejar sesuatu, Anda berpikir Anda akan sangat puas setelah memperolehnya. Namun, setelah mencapainya, Anda akan mendapati bahwa kekosongan ini masih belum terisi. Ini adalah suatu jenis belenggu juga.

Demikianlah belenggu-belenggu yang umum mengikat kebanyakan orang. Ketika seseorang berkubang di dalam dosa, berbagai jenis belenggu akan mengikat dia. Masalahnya tidak sesederhana apakah Anda dibelenggu oleh satu atau dua jenis ikatan itu. Anda bisa saja diikat oleh berbagai jenis belenggu di waktu yang bersamaan. Oleh karena itu, jika Anda belum benar-benar mengalami keselamatan dan kemerdekaan dari Allah, Anda hanya akan melanjutkan peranan Anda sebagai budak dosa di dalam hidup Anda – tanpa kemerdekaan dan dikendalikan oleh berbagai masalah, hal, orang, dan bahkan berhala, emosi, dan sebagainya.

Namun, Alkitab berkata kepada kita bahwa Anak Allah telah mati bagi kita. Keselamatan dan pembebasan telah disediakan bagi kita. Kalau saja kita datang kepada-Nya, maka dia akan memerdekakan kita dan kemerdekaan ini adalah hal yang dapat langsung kita alami! Jika Anda telah mengalaminya, Anda akan tahu bahwa semua yang disampaikan di sini adalah benar.

Kebenaran dan kesesatan tidak dapat dipastikan hanya dengan mengandalkan akal pikiran kita – diperlukan pengalaman pribadi untuk memastikan hal-hal tersebut. Jika Anda telah mengalaminya, maka Anda akan tahu bahwa semua yang telah Anda alami itu benar dan tak dapat diragukan lagi. Demikianlah, saya dengan setulus hati mengundang setiap orang untuk mengalami kemerdekaan ini.

 

Berikan Komentar Anda: