Mark Lee |

Hari ini kita akan melihat topik bagaimana kita bisa dimerdekakan dari dosa. Bagaimana kita dapat kembali pada keadaan tanpa dosa?

Mari kita lihat sebuah kutipan dari 1 Yohanes 1:7-9 –

“Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”

Selama hidup ini, kita sudah begitu banyak menimbun dosa. Kita menumpuk keserakahan, kebencian, kecemburuan, nafsu berahi dan sebagainya di dalam hati kita. Siapa yang dapat mengatasi dosa-dosa itu? Kita jelas tidak dapat mengatasinya sendiri. Dari ayat di atas, satu-satunya cara di mana dosa-dosa kita dapat dibersihkan adalah dengan darah Yesus! Hanya darah Anak Allah, Yesus, yang dapat membersihkan kita dari segala dosa! Inilah satu-satunya jalan yang tersedia di muka bumi ini. Tak ada jalan lainnya!

Sekarang, dapatkah Anda melihat apakah hubungan antara kematian Yesus dengan kita?

Apakah arti dari darah Yesus itu? Darah Yesus merujuk kepada kematiannya! Darah yang mengalir ketika dia dipaku ke kayu salib melambangkan kematiannya. Hanya kematian Yesus  yang dapat menebus dosa-dosa kita dan melunasi hutang-hutang dosa kita.

Sama seperti orang yang tidak mampu membayar hutang yang telah menggunung selama bertahun-tahun karena pemakaian kartu kredit. Kita tidak dapat membayar hutang dosa kita. Jika Yesus tidak mati untuk menebus hutang dosa itu kita tidak akan mampu membayarnya. Tentu saja setiap hutang akan dihapuskan seiring dengan kematian. Itu sebabnya, kematian Yesus di kayu salib mewakili kita untuk menghapus semua dosa-dosa kita dan membuat kita menjadi bersih kembali tanpa noda.


Dua tahap pertolongan Allah

Ada dua bagian di dalam kutipan ini. Bagian yang pertama adalah ayat delapan – Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri. Kita harus memahami dengan jelas poin ini. Hati nurani kita memberitahu kita bahwa kita memiliki dosa, dan bukan sekadar dosa yang remeh. Bagian yang kedua ada di dalam ayat sembilan – Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

Dengan cara bagaimana Allah menolong kita?

Pertama-tama, Dia akan mengampuni dosa-dosa kita, lalu Dia membersihkan kita dari segala kejahatan kita. Ada dua hal yang berbeda di sini. Allah menolong kita dalam dua tahapan.

Tahap yang pertama adalah dengan mengampuni dosa-dosa kita, yaitu, semua hutang dosa kita dilunasi lewat kematian anak domba Allah. Ini mirip dengan skenario tentang pemakaian kartu kredit – ada orang-orang yang terbiasa memakai kartu kredit mereka dan menumpuk hutang yang sangat besar. Akan tetapi tak peduli seberapa besar hutang kita itu, nyawa Anak Allah cukup untuk membayarnya lunas. Dengan demikian, Allah mengampuni dosa-dosa kita, dan melupakan dosa-dosa kita – inilah tahapan yang pertama.

Apa yang akan terjadi dengan orang yang semua hutangnya telah diampuni dan dihapuskan? Pernahkah Anda mencoba menolong seseorang melunasi hutangnya? Seringkali setelah Anda melunasi hutangnya, apa yang akan dia lakukan? Dia akan pergi dan memakai lagi kartu kreditnya – bukankah begitu? Jadi, tidaklah cukup bagi Anda sekadar menolong dia melunasi hutang tersebut. Dia akan terus meminjam uang dan kembali terjerat dalam lingkaran yang menjebak ini. Itu sebabnya, tidaklah cukup bagi Yesus untuk sekadar menolong Anda melunasi hutang dosa Anda.  

Jadi, bagian yang kedua sangatlah penting. Dikatakan bahwa darah Yesus tidak sekadar mengampuni segala dosa kita di masa lalu tetapi juga menolong kita merdeka dari kendali dosa di saat ini. Ia tidak sekadar mengampuni tapi Ia mencuci semua kejahatan kita. Tidak ada lagi dosa-dosa dari masa lalu di dalam diri kita. Kita tidak lagi berada di dalam belenggu kendali dosa.

Bagian yang kedua ini sangatlah penting. Bagian yang pertama adalah bahwa Allah akan mengampuni semua dosa yang telah Anda perbuat, dan melunasi semua dosa itu bagi Anda. Bagian yang kedua adalah bahwa Dia menolong Anda untuk merdeka dari kendali dosa dan Anda memiliki kuasa untuk tidak berbuat dosa lagi. Kedua hal itu sama pentingnya – yang satu tidak dapat jalan tanpa yang lainnya. Ada dua hal penting yang Allah kerjakan di dalam diri kita – Dia telah mengampuni hutang dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan kita sehingga kita memiliki kuasa untuk berhenti dari melakukan segala macam dosa!


Bagaimana kita tahu Allah itu Ada?

Masih banyak orang yang masih meragukan apakah Allah itu benar-benar ada? Kita tidak dapat melihat atau meraba-Nya jadi bagaimana saya dapat percaya kepada-Nya?

Saya telah mendiskusikan masalah intelektul ini dengan banyak orang. Pertanyaan demi pertanyaan diajukan. Jawaban demi jawaban diberikan. Tapi pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan ada akhirnya. Karena Allah bukanlah obyek ilmu pengetahuan, Ia bukan bahan pelajaran. Dia tidak dapat dipelajari dengan pikiran Anda dan dengan cara Anda memanfaatkan pengetahuan serta informasi. Jika ini adalah persoalan matematika, maka akan ada akhir dari semua pertanyaan itu karena matematika adalah obyek pelajaran. Akan tetapi, Allah tidak seperti itu. Tidaklah mungkin kita sampai kepada kesimpulan bahwa Allah itu memang ada hanya dengan mengandalkan akal pikiran.

Bagaimana kita bisa tahu bahwa Allah itu ada? Kita akan tahu jika kita kembali kepada ayat-ayat yang sedang kita pelajari sekarang ini. Pertama-tama, kita perlu tahu bahwa kita ini berdosa – ini adalah poin yang diketahui oleh setiap orang jauh di lubuk hati mereka. Kedua, kita perlu datang ke hadapan Allah untuk mengakui semua dosa kita. Kemudian, Dia akan mengampuni kita, dan menyucikan kita dari segala kejahatan kita, dan membebaskan kita dari dosa.

Anda akan tahu apakah Allah itu nyata atau tidak jika Anda mengalami kemerdekaan dari dosa di dalam hidup Anda. Bukankah ini jalan yang lebih langsung untuk membuktikan bahwa Allah itu ada? Jika Allah itu tidak nyata, bagaimana mungkin kita dapat merdeka dari dosa? Anda tidak akan lagi meragukan realitas Allah jika Anda telah mengalami apa artinya dimerdekakan dari dosa.

Apakah Allah itu nyata? Ini bukanlah sesuatu hal yang dapat kita analisa dengan pikiran kita – Anda dapat bertanya dan saya akan memberikan jawaban. Akan tetapi, tak peduli seberapa keras usaha saya untuk menjelaskan, keraguan Anda tidak akan hilang. Jika Anda tidak mengalami Allah secara langsung seperti yang dikatakan oleh ayat-ayat Alkitab ini, maka Dia hanya akan menjadi semacam kesimpulan dari akal pikiran Anda saja.


Rasa bersalah

Dalam kenyataannya, kita bukan sekadar dapat mengalami kemerdekaan dari dosa, kita juga dapat mengalami pengampunan dari Allah! Anda akan tahu, jika Anda telah mencobanya, bahwa memang mungkin untuk mengalami kedua aspek tersebut.

Ketika seseorang berbuat dosa, dia akan mengalami rasa bersalah yang besar. Kebanyakan orang akan segera merasa bersalah di dalam hatinya sekalipun ada juga orang yang membungkam hati nurani mereka dan tidak merasa bersalah setelah berbuat dosa. Rasa bersalah ini tak dapat disingkirkan dan akan terus membelit di hati sampai lama khususnya jika kita melakukan dosa yang serius, jika kita melukai hati seseorang secara parah.

Beberapa orang mengalami insomnia [penyakit susah tidur] ketika mereka melakukan dosa yang berat, dan hati nurani mereka mengusik mereka. Mereka menjalani kehidupan mereka dalam tekanan berat. Jika Anda telah mengalami pengampunan dari Allah, maka Allah sendiri yang akan menyingkirkan rasa bersalah dan beban di dalam hati Anda itu. Anda secara pribadi akan mengalami rasa lega yang tak terkirakan ketika Allah memerdekakan Anda. Itu sebabnya, tidak perlu bertanya apakah Allah telah mengampuni dosa Anda. Anda pasti akan tahu jika Anda telah mengalaminya. Anda akan tahu persis ketika Allah telah benar-benar mengampuni dosa Anda, dan menyingkirkan balok beban dan menyucikan Anda dari segala kenajisan dosa. Ini adalah perasaan yang sangat nyata sama nyatanya dengan perasaan ketika Anda berganti pakaian dari yang jorok dan kotor ke yang bersih. Pakaian yang bersih akan membuat Anda merasa enteng dan nyaman. Pakaian yang kotor membuat Anda merasa sangat tidak nyaman.


Mengalami pembebasan dari Allah

Saya tahu akan hal ini karena saya telah mengalaminya. Rasa ringannya seperti ketika sebuah batangan besi seberat puluhan kilo yang tadinya Anda panggul tetapi sekarang Anda tidak perlu lagi berjalan sambil memanggul besi tersebut. Anda sudah bebas melompat ke sana kemari. Adalah mungkin untuk mengalami pengampunan dosa, dan lebih jauh lagi, Anda dapat mengalami kemampuan untuk berhenti berbuat dosa. Jika kemerdekaan dari penguasaan dan belenggu dosa adalah bagian dari pengalaman pribadi Anda, maka tentu saja Anda telah tahu bahwa Allah itu nyata. Hal ini juga merupakan cara yang paling cepat dan langsung yang disediakan oleh Alkitab untuk mengalami realitas Allah.

Anda boleh mengundang Allah untuk melakukan hal-hal tersebut di dalam hidup Anda sampai hidup Anda berubah dan Anda akan tahu bahwa Allah itu nyata. Dengan demikian, persoalan apakah Allah itu nyata atau tidak bukanlah persoalan analisa intelektual. Injil juga demikian. Anda tidak dapat memperlakukannya sebagai semacam bahan pelajaran di mana Anda tinggal duduk dan mendengar, dan menilai bahwa khotbah yang satu ini tidak buruk, sementara khotbah yang satunya lagi tidak meyakinkan. Bukan begitu caranya memahami Injil.

Apakah Injil itu benar atau salah? Apakah Allah itu nyata atau tidak? Semua itu perlu dibuktikan dalam pengalaman pribadi Anda dan tidak bergantung kepada kemampuan berbicara orang lain. Kemampuan berbicara bergantung kepada keahlian seseorang untuk berpidato akan tetapi ini bukanlah sarana untuk membuktikan bahwa sesuatu itu nyata karena hanya berupa hasil dari kepandaian berbicara – sama seperti yang sering Anda alami ketika Anda ditipu oleh lidah si penjual yang begitu lihai merayu Anda untuk membeli sebuah produk.

Memahami Injil tidak bergantung pada seberapa pintar si pembicara melainkan pada seberapa besar kesediaan Anda untuk mengalami sendiri realitas Allah, kesediaan Anda untuk melihat bagaimana Dia akan mengubah Anda. Saya sangat yakin akan hal ini karena saya telah mengalaminya. Jika seseorang telah menyerahkan segenap hidupnya ke dalam tangan Allah, maka Allah pasti akan mengubah Anda dan membebaskan Anda dari dosa yang telah membelenggu Anda selama ini.


Contoh pembebasan sejati

Saya ingin menyampaikan tentang contoh dari kehidupan nyata supaya Anda dapat menjadi lebih paham lagi. Suatu kali, seorang pendeta di gereja kami berkunjung ke Eropa dan kemudian bertemu dengan seorang dokter yang membagikan pengalaman dan kesaksiannya. Dia adalah seorang asing yang datang ke Swiss setelah menyelesaikan kuliah di bidang kedokteran. Dia mendapat banyak penghasilan dari karir yang bagus ini dan kemudian, dia membawa semua keluarganya untuk menetap di Swiss. Tempat tinggalnya merupakan penghasil anggur [iklim di sana sangat cocok untuk bertanam anggur] dan anggur yang dihasilkan sangat bagus untuk dibuat minuman keras. Karena melimpahnya produksi anggur di sana, maka harga buah anggur dan minumannya menjadi sangat murah.

Dokter itu mulai gemar minum anggur, dan dia menjadi semakin sering minum sampai-sampai dia ketagihan. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya – dosa akan bertumbuh sama seperti kebiasaan minum itu. Pada awalnya, hanya satu atau dua gelas. Secara perlahan, dengan meningkatnya kemampuan untuk minum, beberapa gelas besar anggur tidak lagi mencukupi ketagihannya akan anggur. Dia mencapai tahapan di mana segelas anggur harus selalu ada di tangannya dan dia selalu berbau alkohol. Apakah ada pasien yang mau terus berlangganan dengan dokter yang berbau minuman keras setiap waktu? Pasien pasti akan kaget dan meragukan apakah dokter ini akan mampu mendiagnosa penyakit dengan benar. Prakteknya segera saja ambruk akibat keadaan ini.

Kecanduan alkoholnya malah semakin parah saja dan semakin banyak uang dia hamburkan untuk meinuman keras. Minuman anggur biasa tidak lagi memuaskan kecanduannya dan dia ingin minuman yang lebih keras serta lebih mahal, sehingga uang dari praktek kedokterannya dihabiskan untuk membeli minuman keras.

Teman-temannya mengingatkan dia bahwa kebiasaan minumnya sudah terlalu berlebihan dan menganjurkan dia untuk berhenti. Akan tetapi, dia tidak punya keberanian untuk mengakui bahwa dia telah kecanduan alkohol dan menjawab bahwa dia hanya sekadar menyukai alkohol saja. Dia berkata bahwa kebiasaan minumnya masih terkendali dan dia dapat berhenti kapan saja dia mau. Untuk menolong dia, kawan-kawannya bertaruh dengannya – jika dia dapat berhenti minum untuk satu hari saja, maka mereka akan memberinya dua puluh dolar. Dia segera setuju.

Kawan-kawannya menunggu sampai esoknya untuk melihat bagaimana keadaannya. Esoknya dia membayar dua puluh dolar kepada mereka karena dia kalah. Dia bahkan tidak mampu lepas dari minuman keras itu untuk sehari saja. Sebenarnya, kawan-kawannya itu tidak menginginkan uangnya. Mereka hanya ingin agar dia tahu sudah sampai di mana keadaan kecanduannya! Akan tetapi, apa yang dapat dia lakukan setelah dia tahu keadannya itu? Dia memang akhirnya tahu akan keadaan yang dihadapi, akan tetapi untuk menghentikan kebiasaan itu adalah masalah lain lagi. Malahan sebenarnya dia sudah tahu sejak sebelumnya, tetapi dia tetap dia tidak dapat berhenti. Suatu hari, istrinya meminta uang kepadanya untuk membeli susu bubuk buat anak-anak. Dia tidak punya uang untuk diberikan, tidak satu sen pun.

Dia sangat terpukul dan terus saja bertanya-tanya mengapa dia bisa sampai sejauh itu? Dia lalu kembali ke klinik kosongnya, mengunci pintu, dan duduk linglung di mejanya. Ada sebuah pistol kecil yang tersimpan di laci bawah mejanya untuk berjaga-jaga. Dikeluarkannya pistol itu dan dia bersiap-siap untuk bunuh diri. Dia tahu persis bahwa tak ada seorang pun yang akan bisa menolongnya mengatasi masalah kecanduan alkohol ini dan bahwa dia memang sudah tidak dapat menanggalkan kecanduannya. Dalam jangka panjang, dia akan menjadi beban bagi keluarganya dan akan mengakibatkan mereka tenggelam dalam beban hutang. Dia bahkan tidak mampu membeli susu bubuk untuk anak-anaknya. Bagaimana dia dapat berhadapan lagi dengan anak dan istrinya? Bunuh diri adalah satu-satunya jalan.

Ketika dia mengeluarkan pistol tersebut, dia menemukan Alkitab di bawah pistol itu. Sebenarnya, dia adalah seorang Kristen. Dia dibaptis ketika masih kecil dan sedikit memahami tentang kekristenan (mungkin orang tuanya pernah mengajarkan sewaktu dia masih kecil). Dia tahu bahwa Allah itu ada akan tetapi dia tidak pernah pergi ke gereja dan Alkitabnya itu juga hadiah dari orang lain. Ketika dia melihat Alkitab itu, dia berpikir bahwa lebih baik dia baca dulu sebelum mati, karena toh dia juga akan mati sebentar lagi! Kemudian, dibukanya Alkitab itu – Alkitab itu sangatlah tebal sehingga dia bingung mau memulai dari bagian mana. Dia membuka sembarangan dan tiba-tiba matanya tertarik secara kuat ke arah sebuah ayat – “Akulah TUHAN Allahmu yang menebus dan menyelamatkanmu”. Dia sangat yakin bahwa kata-kata, “Akulah Allahmu, Tuhan yang menyelamatkanmu,” adalah komunikasi langsung dari Allah! Pada saat itu, dia menyadari, “Allah bisa menyelamatkanku. Mengapa aku harus bunuh diri? Allah ini pasti benar-benar bisa menyelamatkanku!”

Lalu, dia berlutut di lantai kliniknya, dan untuk pertama kalinya ia berdoa dengan setulus hatinya. Dia meminta kepada Allah, dan memohon kepada-Nya agar melepaskan dia dari belenggu kecanduan alkohol. Ajaibnya, Allah benar-benar mendengarkan doanya dan menjawab permohonannya. Pada waktu dia berlutut untuk berdoa, Allah memerdekakan dia dari belenggu alkohol di dalam dirinya. Ini adalah sesuatu pengalaman yang benar-benar dia rasakan.

Ketika dia selesai berdoa dan berdiri, dia sudah menjadi orang yang telah sepenuhnya merdeka! Kemerdekaan yang sejati telah bekerja di dalam dirinya! Mulai saat itu, dia tidak lagi berada di bawah kendali alkohol dan menjadi orang yang telah diselamatkan oleh Allah! Ketika dia pulang ke rumah dan melihat alkohol lagi, dia benar-benar tidak tergoda. Dia bahkan tidak tertarik pada alkohol itu. Itu adalah hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya sejak dia mulai kecanduan alkohol! Saya percaya bahwa dia mungkin sudah bunuh diri sejak lama jika Allah tidak berbicara langsung kepadanya pada saat itu serta menyelamatkan dia.

Sama seperti yang sudah saya sampaikan dalam pesan yang lalu – Allah tidak sekadar mengampuni dosa kita, Dia juga membuat kita merdeka dari kekuasaan dosa. Kecanduan alkohol adalah salah satunya. Kecanduan ini mengakibatkan orang menghambakan diri mereka, menjadi terikat sepenuhnya, dan tidak dapat meloloskan diri dari sana. Ini adalah salah satu akibat dari berbuat dosa. Anda akan dikendalikan oleh berbagai hal.


Rencana Pembebasan Allah bagi kita

Apa tujuan atau sasaran dari rencana Allah? Tujuan dari rencana Allah adalah untuk memerdekakan semua orang yang telah menjadi budak dosa serta terbelenggu olehnya! Renungkan hal ini – apakah sekarang ini Anda dapat melihat bahwa Anda berada dalam kendali dosa? Apakah Anda rindu untuk dimerdekakan dari dosa-dosa ini? Jika jawaban atas kedua hal tersebut adalah ‘ya’, maka Injil akan sangat berarti bagi Anda. Jika jawabannya adalah ‘tidak’, maka Injil tidak akan berarti apa-apa bagi Anda. Anda perlu memahami bahwa sasaran utama dari Injil adalah membebaskan kita dari dosa. Saat Allah membebaskan Anda dari dosa, akan ada perubahan yang sangat besar dalam hidup Anda.

Mengapa Yesus harus mati di kayu salib? Kematian Yesus bukan untuk memuaskan pengetahuan intelektual kita melainkan untuk membebaskan kita dari dosa! Saya harap setiap orang bisa melihat pokok ini. Jika tidak, maka apa yang telah kita bahas hari ini tidak ada artinya bagi Anda. Injil bukanlah bahan pelajaran buat Anda, seperti bahan penelitian, tetapi untuk memerdekakan Anda dari dosa.

Setiap manusia berada di bawah belenggu. Setidaknya terdapat delapan jenis belenggu yang lazim merantai manusia. Kita akan membahas kedelapan jenis belenggu itu di pesan yang akan datang. Tetapi tidak kira apa yang sedang membelenggu Anda, yakinlah bahwa sejak semula memang sudah menjadi rencana Tuhan untuk membebaskan kita dari segala macam belenggu. Semoga kita semua mengalami pembebasan sejati yang hanya dapat diberikan oleh Tuhan!

 

Berikan Komentar Anda: