Mark Lee |

Hari ini, kita sampai pada pesan yang ketiga dari seri pengenalan Injil dan kita akan membahas permasalahan dosa. Apakah sebenarnya dosa itu? Banyak orang berpikir bahwa dosa adalah hal yang mudah ditangani. Persoalan lainnya adalah, dapatkah seseorang menahan diri dari berbuat dosa?


APA ITU DOSA?

Sebelum kita dapat menjawab pertanyaan ini, kita perlu tahu apa itu dosa. Seperti apa rupa dosa? Beberapa orang percaya bahwa melakukan sesuatu hal yang bertentangan dengan hati nurani sudah merupakan dosa. Ya, hati nurani adalah pengukur yang bagus. Akan tetapi, setiap orang memiliki standar yang berbeda jika sudah berbicara tentang hati nurani. Si A mungkin menilai sesuatu sebagai dosa akan tetapi si B tidak menilainya demikian. Jadi, hati nurani bukan jawaban yang memadai untuk memecahkan masalah ini. Kita perlu meneliti persoalan ini lebih jauh lagi.

Beberapa waktu yang lalu, ada sebuah debat panas mengenai legalisasi perjudian di beberapa negara, misalnya di Singapore dan Hong Kong. Ada dua kubu yang bertentangan: yang satu menilai bahwa tidak ada masalah dengan perjudian karena bidang ini akan menambah pendapatan pemerintah. Bagi mereka, kegiatan ini tidak bisa dipandang sebagai dosa. Di sisi lain, kubu penentang berkata bahwa judi adalah dosa dan tidak boleh dijadikan kegiatan legal. Di sini kita melihat orang-orang yang berbeda dengan masing-masing pendapat yang berbeda pula. Lalu bagaimana kita akan memahami persoalan dosa ini?

Contoh lain adalah masalah pengguguran kandungan atau aborsi. Di Amerika perdebatan besar tentang hal ini tidak pernah berhenti, dan para presiden Amerika selama ini tidak berani berurusan dengan masalah yang sangat sensitif ini. Orang-orang kembali terbelah menjadi dua kelompok. Yang satu menekankan bahwa aborsi sama dengan pembunuhan, dan membunuh janin bayi termasuk dalam kategori dosa yang membawa maut. Di pihak lain, ada yang percaya bahwa orang tua memiliki hak penuh untuk menentukan apakah mereka akan membiarkan bayi tersebut hidup atau tidak. Situasinya begitu memanas sampai ada yang menyerang klinik aborsi dan dokter-dokter yang sedang melakukan aborsi. Bahkan pernah terjadi peristiwa di mana para pelaku aborsi ditembak mati. Bukankah pembunuhan tersebut sangat ironis, mengambil nyawa seseorang, untuk menyelamatkan hak bayi untuk hidup?

Kita juga menghadapi masalah homoseksualitas. Perilaku ini dipandang legal di beberapa tempat, dan dipandang illegal di tempat-tempat yang lainnya. Masyarakat barat memegang pandangan Liberal untuk persoalan ini, sementara masyarakat timur berpandangan konservatif. Di Taiwan, kaum homoseks bebas menikah. Ada berbagai pandangan yang bertentangan mengenai persoalan ini.

Jadi, apakah sebenarnya dosa itu? Apa yang bukan dosa? Tampaknya setiap orang berpegang pada pendapatnya sendiri, dan sangat sulit untuk mencapai kesepakatan. Di dalam kenyataannya, akan selalu ada pandangan positif dan negatif tentang segala sesuatu, dari masalah yang sekadar main-main sampai yang penting. Mengapa begitu banyak pandangan yang muncul jika pembahasannya menyangkut masalah dosa? Tampaknya sulit bagi orang untuk memberi jawaban yang tepat tentang apa itu dosa, dan apa yang bukan dosa. Apakah penyebab dari munculnya pemahaman yang kacau balau tentang dosa?


CIRI-CIRI DOSA

Pertama-tama, kita perlu memahami beberapa ciri unik dari dosa. Hal pertama yang perlu kita pahami adalah bahwa dosa akan menipu kita! Sangat sulit mengungkapkan wajah asli dari dosa karena dosa memang sifatnya memperdaya! Dosa itu seperti penjual obat di pinggir jalan yang punya berbagai muslihat. Jika kita tidak berhati-hati, maka kita akan tertipu oleh dosa. Hal yang aneh adalah walaupun sudah tertipu, kita mengira bahwa kita telah memperoleh suatu manfaat. Alasan mengapa kita tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang dosa adalah karena dosa itu sifatnya menipu. Dosa memakai tipuan yang jauh lebih canggih ketimbang yang dipakai oleh pedagang kaki lima yang berjualan obat palsu itu. Karena itu memang sulit untuk memilah persoalan dosa.


PEMBENARAN

Pada dasarnya, dosa menggunakan dua cara untuk menipu. Pertama adalah saat kita melakukan sesuatu hal yang tidak benar, kita akan berusaha mencari alasan untuk membenarkan hal itu. Kita akan menjelaskan mengapa kita melakukan suatu hal dan mengapa kita harus melakukannya. Dengan demikian, yang salah menjadi benar, karena Anda menemukan alasan untuk mendukungnya. Ambillah kegiatan merokok sebagai contoh. Mereka yang merokok tentu telah melihat iklan peringatan yang menunjukkan bahwa rokok bisa menimbulkan kanker. Akan tetapi, saat Anda mencoba untuk menasehati seorang perokok, dia akan berkata kepada Anda, “Omong kosong! Orang tua yang tinggal di seberang jalan itu berusia sekitar 80 atau 90 tahun dan dia merokok sekitar satu atau dua bungkus sehari. Saya tidak melihat ada masalah dengan dirinya. Coba lihat pemimpin Tiongkok, Deng Xiao Ping. Dia merokok seperti cerobong asap, dan masih hidup sampai di usianya yang ke delapan puluh! Jadi, jangan khawatir – tak ada yang salah dengan kegiatan merokok.” Sekali kita mendapatkan alasan, kita akan melanjutkan perbuatan kita dengan tenang. Ini sebabnya mengapa saya katakan bahwa dosa itu sifatnya menipu.

Kita lihat laporan setoran pajak sebagai contoh lainnya, ada sebagian orang yang melakukan penggelapan pajak. Ketika diperiksa, mereka berkata, “Mengapa membesar-besarkan masalah, padahal setiap orang melakukan hal ini?” Atau, pimpinan perusahaan akan berkata, “Saya harus melakukan hal ini, kalau tidak, kami terpaksa gulung tikar.” Mereka akan menemukan banyak alasan untuk menjelaskan, sambil terus melanjutkan perbuatannya. Pemahaman mereka tentang dosa menjadi sangat kacau.

Jadi, inilah hal pertama yang perlu kita ketahui berkaitan dengan masalah dosa ini. Dan kita juga perlu menguji diri kita sendiri dengan bertanya, “Apakah aku ini termasuk orang yang suka mencari alasan untuk membela tindakan aku?”


MENGALIHKAN TANGGUNG JAWAB

Cara kedua yang dipakai dosa untuk menipu kita adalah dengan mengalihkan tanggung jawab. Saat kita tahu bahwa kita telah berbuat salah, kita masih – secara naluriah – mencoba untuk mengalihkan sebanyak mungkin tanggung jawab ke pundak orang lain. Saya anggap setiap orang di sini sudah tahu tentang kisah yang sangat terkenal yaitu tentang Adam dan Hawa di dalam Alkitab. Apakah yang terjadi setelah mereka makan buah yang sudah diperintahkan oleh Allah untuk tidak dimakan itu? Ketika Allah bertanya kepada Adam, “Apakah kamu telah memakan buah terlarang itu?” Ingat bagaimana Adam menjawab Allah? Dia berkata, “Perempuan yang Kau berikan padaku, dia yang memberiku buah dari pohon itu sehingga aku memakannya.” Adam menimpakan kesalahan kepada Allah dan perempuan itu! Dengan kata lain, dia sedang berkata, “Mengapa Engkau memberi aku perempuan ini? Jika Engkau tidak menciptakan perempuan ini sebagai pendampingku, hal ini tidak akan terjadi.” Kemudian, Allah menanyai Hawa, “Apa yang telah kau lakukan?” Jawabnya, “Ular ini telah menipu aku sehingga aku memakannya.” Hawa mengalihkan kesalahan itu kepada ular. Tentu saja, Allah tidak akan menerima penjelasan semacam itu. Walaupun ular itu memang menggoda mereka, mereka tetap bisa memilih untuk tidak mendengarkannya.

Dari Adam dan generasi-generasi seterusnya, umat manusia memupuk kebiasaan mengalihkan tanggung jawab. Sifat saling menyalahkan nyaris menjadi penyakit yang menulari seluruh masyarakat. Pada masa itu, Adam hanya bisa menyalahkan Allah dan Hawa, dan Hawa menyalahkan ular. Di zaman sekarang ini, ada banyak sasaran yang bisa dituding sebagai pihak yang bersalah. Ada masyarakat, lingkungan, orang-orang tertentu dan masih banyak lagi.

Adakah yang pernah mendengar nama Polpot? Dia adalah pimpinan Khmer Merah dan dia memerintah Kamboja selama empat tahun. Beberapa tahun yang lalu, Khmer Merah kehilangan kekuasaannya, dan organisasi ini sudah tidak lagi eksis sekarang. Namun tahukah Anda berapa banyak nyawa yang melayang di bawah pemerintahan Polpot? Sekitar dua sampai tiga juta! Saya kenal seorang perempuan China asal Kamboja yang berkata bahwa pada masa itu rata-rata setiap keluarga kehilangan dua atau tiga anggota keluarganya. Beberapa anaknya mati di Kamboja dan beberapa yang lainnya mati ketika berusaha melarikan diri.

Pada akhirnya, Polpot disingkirkan dan tertangkap, lalu diadili. Saat dia diwawancarai oleh para wartawan dan penulis, dia dengan tegas menyatakan bahwa dia tidak merasa bersalah atas semua yang telah dia lakukan. Ketika para wartawan bertanya, “Banyak dari antara pemimpin politik dengan pandangan yang berbeda yang ditangkap dan dibunuh pada masa pemerintahan Anda. Apakah Anda juga tidak merasa bersalah akan hal ini?” Jawabannya adalah, “Ya.” Dia berkata bahwa dia melakukan semua itu demi perjuangan melawan ketidakadilan sosial. “Perjuangan melawan ketidakadilan sosial” adalah kalimat yang lazim dipakai oleh kaum komunis. Mereka percaya bahwa membunuh orang adalah hal yang tak terhindarkan dalam rangka revolusi untuk perjuangan melawan ketidakadilan sosial. Itu sebabnya Polpot menyatakan bahwa dia tidak merasa bersalah.

Kita lihat betapa dosa bisa menipu orang sampai sedemikian jauhnya! Polpot membunuh begitu banyak orang tetapi dia bisa berkata bahwa semua itu demi revolusi, demi perjuangan melawan ketidakadilan sosial, demi kepentingan rakyat Kamboja! Dia menekankan bahwa sekalipun ada kekeliruan di dalam pelaksanaan dalam menegakkan pemerintahan Khmer Merah, dia berhasil menahan agresi dari Vietnam (pada waktu itu, Vietnam mencoba untuk mengambil alih Kamboja di tengah-tengah kekacauan tersebut). Dia benar-benar mencoba mengklaim bahwa ia sebenarnya sudah berjasa kepada Kamboja! Kalau dia bisa mendapatkan alasan untuk membela dirinya tentang pembunuhan yang ia lakukan, apalagi untuk kejahatan lain yang telah ia lakukan? Apakah Anda terkejut melihat ada orang yang bisa berpikir seperti ini?

Akan tetapi, orang macam apakah Polpot itu? Dia dilahirkan di sebuah pedesaan di Kamboja. Dia menyelesaikan pendidikan dasarnya di sebuah biara (pada masa itu, tidak banyak sekolah umum dan anak-anak biasanya dikirim ke biara-biara untuk belajar di bawah bimbingan para bhiksu). Lalu dia melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, bahkan sampai belajar ke luar negeri. Belakangan, dia memulai karir politiknya dan bergabung dengan Khmer Merah. Saat dia mulai memiliki kekuasaan, dia menyamar dan kembali ke desanya. Dia juga berkunjung ke biara tempatnya belajar dulu. Bhiksu yang pernah mengajar Polpot pada saat itu sudah lanjut usianya. Namun daya ingatnya masih cukup baik dan dia masih bisa mengingat masa lalu Polpot. Setelah kunjungannya itu, Polpot memerintahkan anak buahnya untuk membunuh bhiksu tersebut! Alasannya adalah karena ingatan bhiksu ini masih jelas! Dia masih ingat hal-hal yang tidak dikehendaki oleh Polpot untuk tersebar luas. Setelah kunjungan itu, Polpot tidak hanya memerintahkan pembunuhan atas bhiksu tersebut, tetapi juga termasuk beberapa kerabat dan teman-temannya. Mereka tahu banyak hal yang ingin dirahasiakan oleh Polpot. Namun, setelah melakukan semua kejahatan ini, dia masih bisa menyatakan bahwa dia tidak merasa bersalah! Di manakah hati nurani orang semacam ini?


HATI MANUSIA SANGAT LICIK

Mari kita lihat sebuah ayat – Yeremia 17:9-10,

“Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.”

Ayat ini berbicara tentang kondisi manusia. Ia berbicara tentang persoalan yang sangat serius, tentang hati manusia yang lebih licik dari segala yang lainnya. Alkitab mengungkapkan kondisi sesungguhnya dari hati manusia kepada kita. Mengapa Polpot dan orang-orang yang lainnya di dunia ini bisa sampai pada kesimpulan semacam itu? Karena hati memang lebih licik daripada segala yang lain. Kita tahu bahwa ada banyak binatang yang cerdik di dunia ini, seperti rubah, musang, bunglon dan sebagainya. Akan tetapi Alkitab memberitahu kita bahwa manusia lebih licik daripada segala binatang. Manusia sesungguhnya sangat melarat dan tidak dapat diselami hatinya. Siapa yang bisa mengetahui apa yang terdapat di dalam hati seseorang? Ini adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan.

Secara umum, orang menutup dirinya terhadap orang lain. Kita tidak akan mudah percaya kepada teman baru, sampai dia menjadi kawan akrab kita. Sayangnya, bahkan orang yang paling akrab dengan kita pun bisa membuat kita syok berat, saat kita mendapati bahwa mereka mampu melakukan hal-hal yang tak terbayangkan oleh kita.

Hati manusia sangatlah tidak sesederhana itu. Ada semacam kelicikan di dalamnya. Perhatikan sekali lagi lanjutan dari ayat, “lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu“? Lanjutannya adalah, “Siapakah yang dapat mengetahuinya?” Kita bukan saja tidak bisa mengetahui isi hati orang lain, kita bahkan tidak tahu isi hati kita sendiri. Sangatlah mungkin bahwa Polpot sendiri tertipu ketika dia menyatakan bahwa hati nuraninya bersih! Sangatlah mungkin bahwa dia mengira tak ada yang salah dengannya dan bahwa dia melakukan semuanya itu demi negara, demi rakyat dan demi revolusi. Mao Ze Dong adalah contoh lainnya. Dia menipu dirinya sendiri dan menipu orang lain pada saat yang bersamaan.

Demikianlah, Alkitab menyatakan, “Siapa yang bisa mengetahuinya?” Inilah pertanyaan yang menusuk langsung ke dalam batin kita – siapa yang bisa mengetahui isi hatinya sendiri? Mungkinkah terjadi bahwa ketika kita mengira kita ini orang baik-baik, ternyata kita ini tertipu oleh diri kita sendiri? Ini adalah hal yang perlu direnungkan secara mendalam.


DOSA BERASAL DARI DALAM

Mari kita perhatikan sekali lagi Yeremia 17:10. Di sini dikatakan tentang Allah? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” Dikatakan bahwa Allah menyelidiki hati dan menguji apa yang di dalam kita. Tentu saja hati dan batin mengacu kepada bagian terdalam pada diri manusia. Ayat ini memberitahu kita bagaimana Allah menilai manusia. Dia melihat ke dalam diri kita! Di sini terlihat perbedaan besar dari cara Allah melihat manusia dengan cara manusia melihat sesamanya. Orang melihat sesamanya berdasarkan tampilan luarnya. Berdasarkan penampilannya, kita menilai apakah orang tersebut adalah orang baik-baik atau perampok yang paling jahat. Dalam kenyataannya, tampilan luar tidak dapat mewakili seseorang secara sepenuhnya. Beberapa orang tampil rapi tetapi ternyata munafik. Beberapa orang terlihat kasar tetapi ternyata sangat baik. Itu sebabnya sangatlah susah untuk menilai seseorang dari penampilannya.

Namun ayat ini memberitahu kita bahwa Allah itu berbeda. Allah melihat ke isi hati manusia dan bukan pada tindakan lahiriahnya. Allah meneliti isi hati dan menguji batin. Poin ini sangat erat berkaitan dengan masalah dosa yang sedang kita bicarakan – dosa adalah sesuatu yang tersimpan di dalam. Tentu saja, dosa terwujud dalam tindakan. Akan tetapi akan terlalu dangkal jika menilai apakah kita berdosa atau tidak hanya dengan melihat pada perbuatan lahiriah. Allah tidak melihat pada yang lahiriah tetapi pada yang batiniah! Jika kita ingin tahu apakah seseorang berdosa atau tidak, kita tidak boleh melihat perbuatan lahiriahnya melainkan melihat sikap hatinya. Ini hal yang sangat penting. Kita tidak akan mengerti tentang dosa tanpa memahami prinsip ini. Dosa itu ada di dalam!

Alkitab memakai kata penyakit untuk menggambarkan dosa. Dosa disamakan dengan penyakit, suatu penyakit rohani. Jika orang terkena penyakit jasmani, mereka harus pergi ke dokter. Jika mereka mengalami sakit jiwa, mereka pergi ke psikiater. Ada jenis penyakit ketiga selain yang dua itu. Itulah penyakit di tingkat roh yakni dosa! Ketiga penyakit itu bisa saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain. Ada beberapa orang yang mengalami sakit di badan akan tetapi tidak ditemukan penyakit jasmani apapun dalam pemeriksaannya. Akhirnya, didapati bahwa mereka ternyata mengalami penyakit kejiwaan. Menurut beberapa dokter, diperkirakan dua per tiga dari penyakit manusia berasal dari masalah kejiwaan dan hanya sepertiga yang benar-benar murni penyakit jasmani.

Jika membahas tentang penyakit, kita dapat mengerti mengapa kita perlu melihat dosa sebagai sesuatu di dalam dan bukannya di luar. Secara eksternal kita hanya tahu kita sakit jika penyakit itu sudah menunjukkan gejala yang nyata. Padahal kita sudah mengidap penyakit itu di waktu ia mulai bersarang dan bertumbuh di dalam tubuh kita. Beberapa orang menunggu sampai gejala-gejala penyakit terlihat sebelum  mereka ke dokter. Akan tetapi seringkali sudah terlambat. Penyakit kanker sifatnya seperti ini. Pada tahap awalnya, tidak terlihat gejala apapun. Namun bukan berarti bahwa Anda tidak mengidap penyakit itu. Ketika Anda sudah berada dalam kondisi kritis, sudah sangat terlambat dan dokter tak bisa lagi berbuat sesuatu bagi Anda. Itu sebabnya mengapa ketika dokter mendiagnosa penyakit, mereka meneliti bagian dalam tubuh seseorang. Mereka menggunakan alat yang disebut stetoskop untuk mendengarkan suara nafas dari paru-paru Anda. Mereka menggunakan alat berfrekuensi tinggi seperti roentgen atau USG untuk melihat organ di dalam tubuh Anda. Jadi, mereka meneliti keadaan di dalam tubuh Anda. Ini sangat mirip dengan cara Allah melihat manusia. Jika hal ini diterapkan pada penyakit jasmani, apalagi dalam hal penyakit rohani! Itu sebabnya Anda harus memahami poin ini, yaitu jangan melihat dosa dari tampilan luar saja.

Saya akan memberi beberapa contoh untuk membantu Anda memahami apa arti melihat dosa dari sisi dalam. Jika kita berbicara tentang dosa, banyak orang yang percaya bahwa mereka tidak begitu berdosa. “Aku tidak mencuri, tidak merampok, tidak menculik, tidak berbohong, dan aku tidak merugikan orang lain demi kepentingan sendiri – aku tidak berbuat dosa apapun.” Diagnosa pribadi semacam ini salah. Mengapa? Karena diagnosa ini dilandaskan pada sisi luar saja. Mungkin masih ada masalah di dalam yang belum terlihat.

Mari kita lihat Matius 5:21-22,

“Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.“

Bagian awal ayat ini berbicara tentang ajaran lama yaitu, jangan membunuh. Mereka yang membunuh harus diadili! Setiap orang tahu persis akan hal ini. Akan tetapi, penekanan Yesus bukan pada masalah ini. Dia ingin memberitahu kita bahwa bukan saja mereka yang membunuh harus dihukum, tetapi mereka yang marah kepada saudaranya juga harus dihukum! Ayat ini berkata, “Siapa yang berkata kepada saudaranya, ‘Raca’” – “Raca” di dalam bahasa Yunani berarti “tidak berotak”; ayat ini juga berkata bahwa barangsiapa yang berkata, “Bodoh,” – “Bodoh” di sini bermakna “dungu”. Yesus berkata bahwa barangsiapa yang berkata kepada saudaranya bahwa dia tidak berotak dan dungu, orang itu layak untuk diadili dan layak dilemparkan ke dalam neraka yang menyala-nyala! “Mahkamah Agama” di sini bisa kita samakan dengan pengadilan negeri. Barangsiapa yang menghina orang lain sudah layak untuk diadili! Di mata Allah, bukan hanya pembunuhan yang bisa disebut sebagai dosa; menghina orang lain juga merupakan dosa yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah!

Pada awalnya, mungkin baru sekadar kemarahan yang tersimpan di dalam hati. Akan tetapi, kemarahan sudah menumbuhkan dosa di dalam hati, dan berawal dari kejengkelan, ia berubah menjadi  kebencian dan kemurkaan. Mungkin orang lain pernah melukai hati Anda. Sebagai contoh, dia mengadukan Anda kepada atasan, atau dia menjatuhkan Anda di depan orang lain. Dan setelah itu, Anda mulai tidak menyukainya dan membencinya setengah mati. Tentu saja, Anda tidak akan membunuhnya. Akan tetapi, sangat mungkin alasan Anda tidak membunuhnya adalah karena Anda takut dihukum sebagai pembunuh. Saya teringat ketika saya masih mengajar di sebuah sekolah, seorang guru bercerita kepada saya tentang perselisihannya dengan guru yang lain. Dia sangat membenci guru tersebut dan dia berkata  kalau saja dia memiliki pistol, maka dia akan menembak mati orang tersebut. Tentu saja, sangatlah susah mendapatkan senjata api. Begitulah keadaannya jika di dalam hati ini terdapat kebencian yang mendalam terhadap orang lain. Kita sangat menghendaki agar orang tersebut dilenyapkan dari muka bumi ini. Dan karena hukum melarang Anda, maka Anda tidak atau belum melaksanakannya.

Juga di dalam Matius 5:27-29 disebutkan, “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.” Ayat-ayat tersebut juga berkata bahwa akar dari dosa terdapat di dalam hati!

Dunia punya hukum yang menentang perzinahan, yang juga terdapat di dalam Sepuluh Perintah Allah. Akan tetapi, Yesus berkata kepada kita bahwa kita berdosa bukan saja setelah tindakan itu terjadi tetapi juga di saat kita menatap seorang perempuan dengan penuh berahi. Dosa yang satu ini dapat mengakibatkan kita dilemparkan ke dalam neraka, dibinasakan di dalam neraka! Alkitab berkata bahwa Allah melihat ke dalam hati manusia. Sekalipun seseorang tidak menggerayangi orang lain atau pun melakukan tindakan kriminal lainnya, di mata Allah, mengkhayalkan perzinahan di dalam hati saja sudah merupakan dosa perzinahan itu sendiri. Jika Anda mewujudkan hal ini ke dalam tindakan, maka hukum negara akan menindak Anda. Seringkali kita tidak berani berbuat karena kita takut menanggung akibat hukumnya. Jika ada kesempatan untuk melakukan tanpa takut pada peraturan hukum, atau jika tidak ada orang lain yang tahu, apakah Anda akan melakukannya? Itu sebabnya mengapa kita harus tahu persis bagaimana keadaan batin kita.

Mari kita ambil contoh yang lain. Adakah dari antara Anda yang pernah berwisata ke Jepang? Seperti apakah orang Jepang itu? Bukankah mereka sangat sopan, sangat tertib, sangat taat hukum? Dapatkah Anda membayangkan hal tersebut di masa Perang Dunia II, ketika tentara Jepang menyerang China dan melakukan berbagai macam kejahatan? Segala kejahatan mereka lakukan – perampokan, pembakaran, pemerkosaan dan pembunuhan seperti yang terjadi di Nanking. Orang-orang macam apakah yang melakukan semua ini? Mereka adalah orang-orang Jepang biasa! Orang-orang yang tidak berbeda dengan yang kita jumpai di Jepang. Mereka yang tergabung dalam angkatan perang Kekaisaran Jepang  bisa saja bekerja sebagai guru dan pekerja kantor sebelum perang.

Pertanyaannya adalah, mengapa mereka berperilaku seperti hewan buas ketika sampai di Tiongkok? Dan kemudian, setelah perang, bagaimana mereka dapat kembali menjadi warga biasa yang beradab dan sopan? Ini sebabnya mengapa saya berkata – hal yang sangat mengerikan adalah dosa bersarang di dalam hati! Ketika masanya tiba, dosa ini akan menampilkan dirinya. Tentu saja orang Jepang bukanlah masyarakat yang paling jahat di dunia. Orang-orang dari berbagai negara juga sama saja. Jika kejadian di dalam Perang Dunia II terulang kembali, dan para perwira pasukan sekali lagi mengizinkan bawahannya untuk melakukan apa pun yang mereka mau, pembantaian yang tak berperi kemanusiaan pasti terjadi lagi.

Di Perang Dunia II, di Yangzhou pernah terjadi pembantaian 10 hari yang sangat ngeri. Pada waktu itu, untuk menghukum warga daerah Yangzhou yang melakukan perlawanan terhadap pasukan Jepang, para perwira mengeluarkan perintah bahwa para prajurit tidak akan dipersalahkan atas apa pun tindakan yang mereka lakukan selama sepuluh hari itu. Dalam keadaan di mana aturan hukum dan rintangan-rintangan eksternal disingkirkan, Anda akan melihat betapa licik dan jahatnya hati ini. Kita tidak dapat melihatnya sekarang karena hukum membatasi kita. Banyak hal mengerikan yang bisa terjadi jika seseorang tidak berada di bawah kendali hukum dan lingkungan. Sebagian orang akan melakukan hal-hl yang tidak akan berani mereka kerjakan di negara asal mereka. Kejahatan yang sama juga akan muncul jika terjadi kerusuhan. Jika tidak ada hukum, tidak ada tekanan yang mengekang seseorang, tak ada orang lain yang mengawasi dan tak ada rasa takut harus menanggung hukuman atas tindakannya, maka kejahatan di dalam hati akan tampil keluar. Dan ketika hal itu terjadi, peristiwanya akan begitu mengerikan sehingga Anda sendiri akan sulit percaya pada apa yang telah Anda lakukan!


DOSA BUKANLAH HAL YANG BARU

Apa yang ada di dalam adalah wajah asli manusia dan di sanalah Allah melihat, bukan di sisi luarnya. Itu sebabnya, kita harus memulai dari dalam jika kita ingin mengenal baik seseorang. Pada zaman Adam dan Hawa masih belum ada peraturan hukum. Lalu apakah kejahatan di dalam hati mereka termanifestasi? Alkitab memberitahu kita bahwa segera setelah Allah menciptakan Adam dan Hawa, mereka memberontak terhadap-Nya. Dan pada generasi selanjutnya, kita menemukan kejadian pembunuhan pertama. Kain membunuh adiknya, Habel. Beberapa generasi kemudian, Allah menghakimi penduduk di Timur Tengah yang dipenuhi oleh kejahatan dengan membinasakan mereka dengan air bah. Kemudian, Allah menjatuhkan hujan api ke atas dua kota yaitu Sodom dan Gomorah. Mengapa? Karena mereka melakukan dosa homoseksual. Dari sini kita mendapati bahwa homoseksualitas bukanlah sesuatu hal yang baru, tetapi sudah ada sejak zaman kuno. Malahan, sudah begitu tersebar luas sehingga Allah sendiri harus turun tangan membinasakan dua kota itu!

Janganlah berpikir bahwa masyarakat kuno adalah masyarakat yang baik. Tentu saja, di antara umat manusia di zaman itu, pasti ada beberapa orang baik. Namun, hal yang kita bahas adalah keadaan secara umum. Kita punya kecenderungan untuk mengira bahwa yang hidup di zaman kuno lebih baik daripada orang yang hidup di zaman modern dalam hal kelicikan dan kebusukan di dalam hati manusia. Buku-buku sejarah yang kita baca kebanyakan terisi dengan dua hal ekstrim – yaitu catatan tentang orang besar atau perang. Tidak banyak terdapat catatan tentang kehidupan rakyat biasa. Buku sejarah Tiongkok umpamanya mencatat tentang orang-orang hebat seperti Konfusius, Sun Tze, Lao Tze dan sebagainya. Janganlah berpikir bahwa hanya karena ada beberapa orang yang luar biasa itu maka mereka bisa mewakili kemurnian masyarakat pada zaman itu. Pada zamannya, Konfusius tidak diterima dengan baik oleh masyarakat dan dia harus pergi dari satu tempat ke tempat yang lain sekalipun ajaran dan kehidupannya sangat luhur. Kita bisa melihat dari sini generasi macam apa yang hidup pada zamannya. Sangat sedikit orang yang mau mengikuti ajarannya. Belakangan, dia malah nyaris kehilangan nyawanya.


MENGAPA DOSA MEMBAWA MAUT?

Selain memahami bahwa akar dari dosa itu berada di dalam hati, kita juga perlu memahami apa saja yang termasuk dosa yang membawa maut – dosa yang hukumannya adalah mati. Kita sekarang tahu bahwa manusia punya dosa, dan dosa berawal dari dalam hati. Akan tetapi, dosa macam apakah yang layak dihukum mati? Apakah tidak terlalu berlebihan jika seseorang harus dihukum mati karena telah berbohong? Banyak orang akan mengakui bahwa mereka tidaklah sempurna dan mereka telah melakukan beberapa hal yang buruk seperti berbohong dan marah. Bagaimana mungkin kita harus mati hanya karena pernah beberapa kali marah? Lalu, dosa macam apakah yang berhujung pada maut?

Alkitab memberitahu kita bahwa Yesus Kristus mati di kayu salib bagi dosa Anda dan saya. Akan tetapi, kita mungkin merasa bahwa kematian tidak sepadan dengan dosa yang pernah kita buat dan bahwa Yesus seharusnya tidak perlu mati bagi kita. Jika hukuman yang patut bagi saya adalah tiga puluh cambukan, maka Yesus hanya perlu menanggung tiga puluh cambukan bagi saya. Jika dosa saya membuat saya dihukum enam bulan di penjara, maka dia bisa masuk penjara selama enam bulan untuk saya. Akan tetapi Alkitab berkata bahwa Yesus mati di kayu salib bagi dosa kita. Itu berarti bahwa dosa-dosa kita layak  mendapat hukuman mati! Dosa apakah yang telah kita buat sehingga layak mendapat hukuman mati? Bagaimana mungkin beberapa kebohongan dan kemarahan layak untuk dihukum mati? Apakah ini masuk akal?

Itu sebabnya, kita perlu melanjutkan pada pemahaman akan sesuatu hal lain yang berkaitan dengan dosa. Di Yohanes 8:34,  “Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.’” Ada satu kebenaran yang sangat penting yang disampaikan di sini – perbuatan dosa itu bukanlah persoalan yang sederhana. Begitu Anda berbuat dosa, maka Anda menjadi budak dosa! Apakah artinya menjadi budak dosa? Artinya adalah bahwa Anda tidak akan dapat lepas dari belenggu dosa itu sekalipun Anda ingin lepas.

Saya percaya bahwa banyak orang yang pernah bertekad untuk meninggalkan beberapa kebiasaan buruknya. Mereka berkata, “Ini terakhir kalinya, aku tidak mau melakukannya lagi.” Akan tetapi, sering kali, kita melakukannya lagi dan lagi dan kata ‘terakhir kalinya’ itu selalu diulangi lagi. Apa yang  Yesus katakan sangatlah benar! Saat Anda menjadi budak dosa, maka Anda tidak akan pernah mengalami apa yang disebut ‘yang terakhir kalinya’ itu. Apapun yang Anda kerjakan sebelumnya, Anda akan kembali meneruskannya, dan Anda benar-benar tidak akan dapat menghentikannya.

Tadi kita menanyakan apakah Allah memiliki sifat yang keras karena menuntut hukuman mati atas kebohongan. Pahamkah Anda sekarang bahwa persoalannya tidak terletak pada beberapa kebohongan tersebut melainkan karena kita akan terus melakukan kebohongan dan tidak berhenti karena kita tidak akan mampu menghentikannya? Pahamkah Anda akan keseriusan masalah ini? Begitu seseorang memulai perbuatan dosa, maka dosa akan terus bertumbuh sampai orang itu tidak mampu menolong dirinya sendiri. Tentu saja, masing-masing dari kita memiliki kelemahan yang berbeda. Tak peduli di bidang apa kelemahan itu – dusta, judi, menyukai tontonan porno, atau mudah marah, kita akan terus melakukannya dan tidak dapat menghentikannya.

Alkitab berkata di Yakobus 1:14-15, “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” Di sini dikatakan bahwa alasan seseorang melakukan dosa berkaitan dengan keinginan di dalam hati kita sendiri. Harap diperhatikan bahwa arahnya adalah dari dalam ke luar! Ketika hasrat itu sudah muncul, ia melahirkan sesuatu, dan yang dilahirkan ini adalah ‘dosa’. Ketika dosa dilanjutkan sampai pada kedewasaannya/kematangannya, ia akan berakhir pada maut. Ada gambaran yang dipakai di sini, dosa disamakan dengan sesuatu  yang hidup, yang bertumbuh secara bertahap. Ia akan tumbuh terus sampai akhirnya menghasilkan buah, dan buah itu adalah kematian!

Tadi kita sudah melihat apa yang dikatakan oleh Yesus, “Engkau sudah cukup bersalah dan layak dilemparkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.” Hal ini bukan berarti bahwa kita akan segera dilemparkan ke dalam neraka. Kita dapat menghindari api neraka dengan bertobat! Jika orang itu ditebus, maka, selanjutnya dia berubah, dosanya bisa diampuni, dan dia bisa lolos dari penghakiman. Akan tetapi, jika seseorang menolak untuk berubah, dan terus membangun dosa, akan sulit baginya untuk menghindari api neraka. Dosa adalah suatu kehidupan jahat yang bertumbuh. Di sinilah letak persoalannya. Sama halnya dengan virus, mereka memulai dari yang kecil. Diawali dengan masuknya virus yang kecil ke dalam tubuh Anda. Jika tubuh Anda memiliki cukup kekebalan, Anda akan bisa menangkal virus tersebut. Jika tidak, bahkan virus yang paling kecil seperti virus flu sekalipun dapat menyebabkan kematian. Ada orang yang dilahirkan dengan sistem kekebalan tubuh yang kacau dan tidak mampu menangkal virus. Dengan demikian, virus tersebut akan bertumbuh dan menyusup ke organ tubuh yang vital sampai akhirnya menyebabkan kematian. Itu sebabnya, kita perlu memahami bahwa dosa itu bersifat menular dan mampu menyebar luas.


KEMATIAN YANG BERLANGSUNG SECARA PERLAHAN-LAHAN

Jawaban atas pertanyaan “dosa macam apakah yang berujung pada maut”? Sangatlah sederhana – semua dosa berujung pada maut! Sama seperti contoh kita yang tadi, jika Anda tidak memiliki kekebalan di dalam tubuh Anda, maka semua virus mampu membunuh Anda. Jika Anda tidak memiliki kekebalan untuk menangkalnya, mereka akan bertumbuh terus dan pada suatu hari, mereka akan menyebabkan kematian Anda. Di sinilah letak persoalannya, dan dari sudut inilah Alkitab memandang dosa. Malahan semakin pelahan kematiannya, maka akan semakin berbahaya. Ini adalah hal yang sangat bertentangan dengan pemikiran manusia – kita berpikir bahwa semakin cepat kematiannya maka semakin berbahaya persoalannya.

Ada dua macam virus yang sangat menakutkan di dunia ini – virus AIDS dan virus E. Boli. Akan tetapi, jika Anda bandingkan keduanya, banyak petugas medis yang akan berkata bahwa virus AIDS jauh lebih menakutkan ketimbang virus E. boli. Ini karena E. Boli mengakibatkan kematian yang sangat cepat. Setelah Anda terkena virus ini, Anda akan segera mati. Anda akan mati bahkan sebelum sempat menularkan virus ini ke orang lain. Hal yang perlu diperhatikan adalah kehati-hatian di dalam menangani jenazah.

Di sisi lain, masa inkubasi virus AIDS berlangsung antara tujuh sampai sepuluh tahun. Anda bisa bayangkan ada berapa banyak orang lain yang mungkin ditulari pada kurun waktu tersebut! Sangatlah mungkin bahwa penyakit ini menunjukkan wujudnya setelah menulari puluhan ribu orang. Jadi, virus mana yang menurut Anda lebih menakutkan? Tentu saja virus AIDS, yang tidak langsung menunjukkan gejalanya itu.

Demikian pula, kita bisa bandingkan rokok dengan daging sapi yang terkontaminasi. Tak ada orang yang berani makan daging yang kandungan virusnya berjumlah 0.157, akan tetapi banyak orang yang masih suka merokok, padahal mereka tahu bahwa merokok bisa mengakibatkan kanker. Mengapa? Karena kita mati secara perlahan jika kita merokok. Sebenarnya, kita mungkin saja tidak mati sekalipun kita makan daging sapi yang kandungan virusnya sebesar 0.157 itu, akan tetapi orang tidak berani memakannya. Di sisi lain, tak ada orang yang takut pada rokok. Seringkali kita mengabaikan faktor waktu – yang cepat dan yang lambat dalam menunjukkan gejalanya.

Saya beritahu Anda sebuah perumpamaan, yang sebenarnya merupakan suatu fakta. Setiap orang tahu bahwa kodok adalah hewan berdarah dingin. Tidak seperti manusia, kodok tidak mampu menyesuaikan suhu tubuhnya secara otomatis. Ia hanya bisa mengubah suhu tubuhnya mengikuti suhu udara atau air di sekitarnya. Sekelompok ilmuwan telah melakukan suatu percobaan di mana sekumpulan kodok ditempatkan dalam sebuah bak air yang besar. Dan suhu air itu dinaikkan satu derajat setiap beberapa waktu. Kodok-kodok itu mati setelah suhu air mencapai tingkat tertentu. Mereka tidak mampu mendeteksi serta menyesuaikan diri terhadap perubahan suhu air yang berlangsung secara bertahap dan perlahan. Sebenarnya, bak air tersebut tidak ditutup rapat. Kodok-kodok itu bisa saja melompat keluar, akan tetapi mereka tidak melakukannya karena mereka tidak menyadari bahwa suhu air telah meningkat.

Namun jika air itu telah dipanaskan sebelum kodok-kodok tersebut dimasukkan ke dalamnya, maka mereka akan tahu bahwa air itu panas dan akan segera melompat keluar. Mereka akan mendeteksi adanya perubahan suhu yang mendadak (tubuh mereka dingin dan suhu air itu panas) dan mereka akan berusaha melarikan diri. Akan tetapi, karena peningkatan suhu itu dilakukan secara perlahan, kodok-kodok itu tidak tahu bagaimana harus bereaksi.

Kondisi manusia sama saja. Kita akan menjadi sangat cemas jika terjadi suatu peristiwa yang mendadak, akan tetapi kita tidak menanggapi dengan serius pertumbuhan kejahatan di dalam diri yang berlangsung secara perlahan. Sama seperti kebanyakan orang tua yang membiarkan anak mereka bebas berkeliaran. Anak-anak itu bebas pergi kemana pun mereka suka, dan makan apapun yang mereka mau. Para orang tua tidak melihat dampak serius yang bertumbuh secara perlahan. Masalah itu mungkin tidak segera kelihatan sampai bertahun-tahun kemudian, dan pada saat masalah itu terlihat, sudah sangat terlambat untuk mengusahakan perbaikannya. Banyak orang tua yang tidak mengerti bahwa memanjakan anak justru akan mencelakakan mereka.

Kembali ke masalah para kodok ini, yang kita bahas bukanlah seekor kodok saja, tetapi sekumpulan kodok. Mereka tidak mati secara bersamaan karena setiap kodok memiliki daya tahan yang berbeda. Dan karena proses yang berlangsung secara perlahan, mereka benar-benar tidak bisa mendeteksi adanya bahaya, dan mereka juga tidak mengerti mengapa rekan-rekan mereka mati satu demi satu secara perlahan-lahan. Mereka benar-benar tidak siap menghadapi dampak yang muncul secara perlahan dan mereka tidak tahu bahwa mereka harus lari untuk menyelamatkan hidup mereka.

Manusia juga seperti itu. Mereka melihat orang lain yang dipenuhi oleh berbagai persoalan. Dan mereka tidak merasa perlu untuk bermawas diri untuk melihat apakah mereka harus mengambil suatu keputusan untuk mengatasi persoalan mereka sendiri. Jika Anda melihat orang lain bergumul dengan persoalan berat yang menimpa mereka, akan tetapi Anda tidak memanfaatkan pengetahuan itu untuk menangani persoalan Anda sendiri, maka Anda akan seperti para kodok itu, yang mati pada saat suhu air secara perlahan-lahan menjadi panas.


APAKAH ANDA MAU BEROBAT?

Pokok utama yang ingin saya sampaikan kepada Anda hari ini, adalah persoalan tentang dosa dan maut. Tidaklah mudah menangani dosa. Untuk bisa mengatasi persoalan ini, pertama-tama kita perlu memahami ciri uniknya, dan baru setelah itu kita tahu bagaimana mengatasinya. Kita juga perlu tahu bagaimana cara menyelidiki dosa-dosa kita sendiri. Jika kita memiliki dosa di dalam diri ini, sama seperti yang dikatakan oleh Alkitab, bahwa kalau kita sakit maka kita perlu kesembuhan. Langkah pertama di dalam penyembuhan itu adalah menyadari bahwa kita ini sakit. Jika kita tidak mengakui hal ini, penyakit kita tidak akan dapat disembuhkan. Itu sebabnya Anda harus mengakuinya dan Anda harus tahu persis apa penyakit Anda. Selanjutnya, Anda harus datang kepada Dokter yang terkenal ini dan membiarkan Dia menyembuhkan Anda. Biarkan Dia mengampuni dosa Anda, jika tidak maka Anda akan mati.

Bisa dikatakan bahwa saya sekarang ini sedang menguraikan cara memahami laporan kesehatan. Yang kita bicarakan sekarang ini merupakan isi dari laporan tersebut dan dengan pemahaman ini, Anda bisa melihat betapa kritisnya kondisi Anda dan sudah pada tahap mana penyakit Anda berlangsung. Saat kita menyadari bahwa kita sudah tertular, kita perlu segera meminta pertolongan dari Sang Dokter, dan jangan menunggu sampai penyakit itu menjadi kritis.

Saya teringat pada sebuah artikel yang mengisahkan tentang seorang pasien yang menyerang dokter beberapa waktu yang lalu. Persoalan ini berujung ke pengadilan karena si pasien memukul dokter tersebut ketika diberitahu bahwa dia mengidap suatu penyakit. Sangatlah tidak menyenangkan jika kita diberitahu bahwa kita sedang sakit. Dan lebih menyakitkan lagi jika penyakit itu ternyata tidak bisa disembuhkan. Pada umumnya, sekalipun kita tidak akan memukul sang dokter seperti yang dilakukan oleh pasien tersebut, kita juga tidak bersedia menghadapi persoalan ini. Sebagai contoh, banyak orang  yang tidak suka pergi ke dokter. Banyak kerabat saya yang tidak suka pergi ke dokter jika mereka sakit. Tak peduli seberapa keras usaha Anda merayu agar mau berobat, tetapi mereka lebih suka menunggu dengan harapan penyakit itu sembuh sendiri. Begitulah kondisi manusia.

Hari ini, jika Anda telah mendengar pesan ini, Anda perlu memberi tanggapan secepatnya. Tanyalah diri Anda, apakah hal yang telah disampaikan pada hari ini memang terjadi pada diri Anda. Jika memang demikian, maka Anda perlu mengambil tindakan, bangkit dan mengaku kepada Allah bahwa Anda mengalami masalah. Anda perlu mengakui dosa Anda, mintalah Allah untuk menyelamatkan Anda dan menolong Anda menyingkirkan semua dosa itu. Dosa harus disingkirkan dan Allah memiliki kuasa serta kewenangan yang mutlak untuk mengampuni dosa-dosa kita.

Kita akan melanjutkan seri pengenalan Injil ini pada waktu-waktu selanjutnya. Anda akan memahami dengan lebih baik lagi tentang bagaimana Allah dapat menolong kita menyingkirkan dosa. Pertama-tama, kita perlu mencari Dia. Dan selanjutnya, kita perlu memberi tanggapan. Jika kita tidak memberi tanggapan setelah mendengar kebenaran, maka hati kita akan menjadi semakin keras nantinya. Saat pertama kali mendengarkan, Anda akan merasa tertusuk di dalam hati. Akan tetapi jika hal ini tidak dilanjutkan dengan tindakan yang tepat, maka kelanjutannya adalah kita menjadi kebal pada waktu mendengarkan bagian yang berikutnya. Itu sebabnya, sangatlah penting bagi kita untuk melanjutkan dengan mengambil tindakan setelah kita mendengarkan! Jika tidak, sama seperti menghadapi bakteri, kita akan membangun semacam kekebalan. Jika kita tidak mengambil tindakan setelah dosis terakhir dari obat telah diberikan, maka obat yang sama tidak akan berdampak apa-apa lagi bagi Anda jika Anda meminumnya. Prinsip yang berlaku dalam pengobatan jasmani juga berlaku di dalam pengobatan rohani. Kehidupan jasmani seringkali mencerminkan kehidupan rohani, karena keduanya diciptakan oleh Allah yang satu dan keduanya memiliki prinsip yang sama.

 

Berikan Komentar Anda: