SC Chuah |

Trinitarian sering sekali memakai kata elohim untuk membuktikan bahwa Allah terdiri dari lebih dari satu pribadi. Masalahnya, orang Yahudi berbahasa Ibrani yang mendengarkan penjelasan ini akan terheran-heran dengan penjelasan ini, yang biasanya disampaikan oleh orang-orang yang bukan penutur asli bahasa Ibrani dengan nada yang agak sok tahu. Ini kira-kira dapat dibandingkan seperti orang Indonesia, setelah beberapa bulan belajar bahasa Inggris, dengan lancang mengajar orang pribumi Inggris bahwa kata-kata seperti news, scissors, pants, panties, clothes dll mengandung arti jamak karena kata-kata tersebut diakhiri dengan “s”. Saudara dapat bayangkan reaksi orang Inggris terhadap orang Indonesia yang mengajarkan itu. Seperti itulah reaksi orang Yahudi berbahasa Ibrani terhadap pengajaran Kristen tentang elohim ini. Ini dapat dikonfirmasi dengan melakukan sedikit searching di Internet. Bagaimana perasaan kita jika ada bule yang setelah beberapa bulan belajar bahasa Indonesia kemudiannya menyatakan dengan nada sok tahu bahwa dia telah menemukan sesuatu dalam bahasa Indonesia yang tidak difahami bahkan oleh orang Indonesia sendiri?

Penjelasan ini dapat juga dibandingkan dengan orang-orang yang bersikeras bahwa abbot (“bapa” dalam bahasa Ibrani) berarti “ibu” karena kata itu diakhiri dengan “-ot”, yaitu sebuah akhiran feminin. Siapa saja yang mempelajari bahasa akan tahu bahwa dalam bahasa apa pun, ada kata-kata yang tidak mengikuti aturan umum.

Bagi orang Yahudi, kata elohim ini merupakan salah satu kata berbentuk jamak yang mengandung arti tunggal. Kata elohim, secara khusus ketika merujuk kepada Allah yang esa, selalu didahului atau diikuti oleh pronomina tunggal (kata ganti tunggal), umpamanya “Berfirmanlah Allah (elohim): “Lihatlah, Aku [bukan Kami] memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi…” (Kej 1:29) Demikian juga dengan kata kerja yang mengikutinya, “Pada mulanya Allah (elohim) menciptakan (bara, kata kerja tunggal) langit dan bumi.” Kata elohim merupakan salah satu kata Ibrani yang berbentuk jamak, tetapi berarti tunggal, kira-kira seperti chayyim (hidup, nyawa). Kata chayyim juga memiliki bentuk jamak, tetapi memiliki arti tunggal.

Para trinitarian yang mengajarkan pengajaran semacam ini tidak akan memberitahu kita bahwa kata elohim juga diberlakukan pada pribadi-pribadi lain yang jelas-jelas tunggal. Berikut beberapa contoh:

Keluaran 7:1, Berfirmanlah Yahweh kepada Musa: “Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah (elohim) bagi Firaun…
Hakim 11:24, Bukankah engkau akan memiliki apa yang diberi oleh Kamos, allahmu (elohim)?
1 Samuel 5:7, …sebab tangan-Nya keras melawan kita dan melawan Dagon, allah (elohim) kita.
1 Raja-raja 11:5, Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi (elohim) orang Sidon …
2 Raja-raja 1:2, “Pergilah, mintalah petunjuk kepada Baal-Zebub, allah (elohim) di Ekron…

Kata elohim jelas-jelas diberlakukan pada Musa, Kamos, Dagon, Asytoret dan Baal-Zebub. Apakah kaum trinitarian ingin memperjuangkan juga bahwa Musa, Kamos, Dagon, Asytoret dan Baal-Zebub juga terdiri dari beberapa pribadi berbeda yang berbagi satu hakikat? Bagaimana dengan pribadi Mesias itu sendiri? (Bandingkan Mazmur 45:7 dengan Ibrani 1:8) Apakah sang Mesias juga terdiri dari tiga pribadi berbeda dengan satu hakikat?

Itulah sebabnya para teolog modern, termasuk yang trinitarian, tidak lagi memakai argumentasi ini untuk membuktikan doktrin trinitas karena mereka tahu argumentasi ini sama sekali tidak berbobot.

 

Berikan Komentar Anda: