Ev. Xiao Shan | Filipi 4:1-4 |

Saya mau memulai dengan bertanya, “Apakah Anda bahagia?” Jika 10 poin adalah nilai penuh, berapa poin yang akan Anda berikan pada diri Anda? Menurut Anda, orang yang bagaimana yang akan bahagia? Apakah mereka yang kaya, yang berpendidikan tinggi, yang punya pekerjaan yang bagus, atau yang mempunyai keluarga yang bahagia? Apakah mereka termasuk yang bahagia? Apakah ini kenyataannya?

Banyak anak muda yang impiannya adalah untuk bekerja dengan perusahaan internasional yang bergengsi dan memberikan imbalan gaji yang besar. Mereka berlomba-lomba untuk memasukkan lamaran dan mengejar cita-cita mereka. Tetapi apakah setelah mereka mencapainya, mereka merasa bahagia? Seringkali, tidak semua hal terjadi sesuai dengan keinginan kita. Karir di perusahaan besar belum tentu mendatangkan kebahagiaan, tetapi malah menyebabkan stress, tekanan, depresi, kegelisahan, dan bahkan gangguan mental. Koran menyiarkan banyak kasus bunuh diri dari orang-orang yang  yang tidak bisa bertahan di bawah tekanan pekerjaan, banyak yang memegang jabatan tinggi di dalam perusahaan maupun pemerintahan. Siapa bilang kekayaan, pendidikan dan karir dapat mendatangkan kebahagiaan? Apa yang menjadi rahasia kebahagiaan?

Hari ini kita akan mempelajari bersama Filipi Pasal 4. Mari kita buka di Filipi 4.1-4,

“Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih! Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan. Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan. Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (ITB)


Paulus memberikan perintah yang tak terduga

Dikatakan di ayat 4, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Paulus berulang kali meminta jemaat Filipi untuk bersukacita di dalam Tuhan, penghimbauan ini sesuatu yang tidak kita duga. Di dalam pemikiran kita, orang-orang yang spiritual, fokusnya mereka hanya pada bagaimana untuk membela Injil, bagaimana berhadapan dengan guru dan nabi palsu, bagaimana untuk membantu gereja bertumbuh, tetapi kita tidak akan terpikir bahwa Paulus akan meminta jemaat untuk selalu bersukacita di dalam Tuhan. Paulus bukan saja meminta gereja untuk bersukacita, tetapi dia berkali-kali mengulangi perintah ini. Dikatakan di Filipi 3.1,

Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. (3-1b) Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu.”

Dia mengulang-ulangi perintah yang sama di sepanjang surat Filipi. Dari sini, kita dapat melihat bahwa bagi Paulus, sangatlah penting bagi jemaat untuk selalu bersukacita di dalam Tuhan. Hal ini sedemikian penting, Paulus tidak keberatan berkali-kali mengulangi perintah yang sama.

Anda mungkin merasa heran, mengapa Paulus memberikan perintah yang begini kepada jemaat? Bukankah Alkitab berkata, “berbahagialah yang berdukacita?” Bukankah tertawa sepanjang hari itu tindakan yang “tidak-spiritual”? Mengapa Paulus meminta jemaat untuk selalu bersukacita? Yang jelas, terdapat dua macam sukacita di sini: Satu yang duniawi dan satunya lagi yang spiritual. Dan apa yang  Paulus bicarakan adalah sukacita yang spiritual itu. Orang yang spiritual tidak hanya memiliki sukacita di dalam hati, tetapi juga selalu bersukacita di dalam Tuhan, karena sukacita semacam ini datangnya bukan dari manusia, tapi merupakan buah Roh. Dikatakan di Galatia 5.22,

Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, (ITB)

Sekiranya setiap orang percaya dengan sepenuh hati menaati pimpinan Roh Kudus, memusatkan perhatian pada hal-hal dari Roh, maka mereka juga akan mengalami sukacita dari dalam. Dengan kata lain, sukacita adalah petanda kita sedang menaati Roh Kudus, tanda orang yang spiritual. Paulus telah berulang kali berkata di surat Filipi tentang hal bersukacita; sukacita yang tersirat di seluruh surat ini adalah sukacita besar yang tak terucapkan. Sebagai contoh, dikatakan di Filipi 2.17-18,

Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian. Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku.”

Pokok pertama yang ingin saya bagikan adalah: Paulus berulang kali meminta jemaat Filipi untuk bersukacita, karena sukacita itu adalah indikator yang mencerminkan kondisi spiritual kita. Sekiranya kehidupan spiritual itu sehat, segala sesuatu dalam keadan baik-baik dan seharusnya, maka akan ada sukacita; sekiranya terdapat permasalahan di dalam kehidupan spiritual, maka sukacita akan dengan segara menghilang.


Lalu, Bagaimana Bersukacita senantiasa?

Tidak diragukan bahwa setiap orang memimpikan kehidupan yang penuh sukacita, tetapi permasalahannya adalah, bagaimana kita dapat senantiasa bersukacita? Apa yang menjadi rahasia bagi sukacita? Paulus sudah dengan jelas memberitahukan pada kita rahasia sukacita itu.

Pertama, untuk senantiasa bersukacita, kita harus berdiri teguh di dalam Tuhan. Dikatakan di Flp. 4.1,

“Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!”

Perhatikan, di ayat 1, Paulus meminta gereja untuk berdiri teguh dalam Tuhan; di ayat 4, Paulus meminta jemaat untuk “bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan,”; keduanya sangat erat berhubungan. Untuk kita dapat senantiasa bersukacita, kita harus teguh berdiri; Hanya mereka yang teguh berdiri yang akan dapat senantiasa bersukacita. Dengan kata lain, hidup yang berkemenangan merupakan rahasia bagi kehidupan yang bersukacita. Saat Anda berhadapan dengan masalah dan ujian, dan Anda berkemenangan ke atasnya oleh kasih karunisa Tuhan, maka Anda pasti akan dipenuhi oleh sukacita yang datang dari kemenangan itu. Sebaliknya, jika Anda menyerah dan gagal saat kesusahan dan ujian datang, Anda pasti akan merasa bersalah, menyalahkan diri Anda dan jatuh ke dalam depresi. Seorang Kristen yang selalu kalah, tidak akan dapat bersukacita.

Pernahkah Anda kehilangan kendali dan marah-marah? Anda bentrok dengan orang tua, karena pemikiran mereka yang agak konservatif , dan karena itu, Anda selalu bertentangan pendapat dan tidak dapat berkomunikasi. Namun setelah perkelahian itu, Anda akan merasa sangat sedih dan punya rasa bersalah, karena Anda gagal mengendalikan emosi. Dan setelah menyampaikan kata-kata yang tidak seharusnya Anda sampaikan, Anda rasa bersalah karena telah menyakitkan hati orang tua Anda. Seorang Kristen yang selalu marah-marah, yang selalu gagal, tidak akan dapat bersukacita. Agar dapat bersukacita, Anda harus teguh dalam Tuhan, mengalahkan semua kelemahan. Mari kita buka di 2 Tes 2.15,

Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.”

Ada satu senjata yang pasti akan membantu Anda untuk berkemenangan. Senjata itu adalah ajaran Alkitab. Sekalipun Anda baru saja menjadi orang percaya, sekalipun Anda lemah, selama Anda mau berpegang teguh pada ajaran Alkitab, maka Anda pasti dapat membalikkan semuanya, Anda akan dapat mengalamai sukacita kemenangan.

Kedua, untuk dapat selalu bersukacita, Anda harus memiliki pikiran Kristus.

Mengapa Anda selalu tidak senang, gelisah dan loyo secara rohani? Apakah karena ada masalah dalam hubugan Anda dengan orang lain? Selalunya, persoalan hubungan manusia itu adalah alasan utama mengapa orang tidak dapat bersukacita. Apakah Anda senang berkerja di perusahaan, menghadiri pertemuan gereja, atau ke sekolah, semuanya itu sangat bergantung pada bagaimana hubungan Anda dengan orang lain. Anda tidak akan senang dengan pekerjaan Anda, jika Anda membenci bos  dan kolega Anda. Anda senang menghadiri pertemuan gereja karena Anda nyaman di gereja, semua orang di sana penuh kasih dan tulus. Anda tidak suka tinggal di asrama sekolah karena teman-teman di sana senang gosip. Di mana ada damai dan kesatuan, di situ akan ada sukacita;sebaliknya, di mana ada konflik, kesenjangan, akan ada tekanan dan perselisihan. Prinsip ini berlaku entah di rumah, kantor, sekolah atau gereja.

Dikatakan di Filipi 4.2-3,

“Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan. Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.”

Di sini Paulus pertama kali menyebut nama dua kakak adik yang bernama Euodia dan Sintikhe. Kita tidak tahu banyak tentang mereka berdua karena nama mereka hanya muncul satu kali saja di sini, dan tidak di tempat lain. Tetapi dari sini kita mendapat informasi yang sangat penting tentang latar belakang kedua dari mereka.

Mereka berdua bukan saja percaya pada Tuhan, tetapi juga merupakan teman sekerja Paulus dalam pelayanan Injil. Ada yang berpendapat bahwa mereka mungkin termasuk jemaat awal di Filipi karena di Kisah Para Rasul 16 dikatakan bahwa setelah Paulus tiba di Filipi, dia pergi ke suatu tempat doa dan mengabarkan Injil pada perempuan-perempuan di sana. Bagaimana pun, kedua saudara ini sangatlah berapi-api dalam pelayanan dan sama sekali tidak punya rasa takut. Sekalipun Paulus dan Silas sedang dianiaya di Filipi demi Injil, tetapi mereka masih bergabung dengan pelayanan misi. 

Di samping itu, penilaian Paulus terhadap mereka agak tinggi. Paulus menyebut mereka sebagai teman sekerja. Gelar ‘teman sekerja’ adalah gelar yang sangat terhormat, gelar yang menunjukkan bahwa mereka sudah banyak berkorban bagi pelayanan. Paulus juga memakai gelar yang sama bagi Epafroditus, dikatakan di Filipi 2.25,

Sementara itu kuanggap perlu mengirimkan Epafroditus kepadamu, yaitu saudaraku dan teman sekerja serta teman seperjuanganku, yang kamu utus untuk melayani aku dalam keperluanku.”

Meskipun kedua kakak adik tadi mempunyai kualitas yang sangat bagus, tetapi sayangnya mereka tidak akur. Masalah di antara mereka sudah sampai di tahap di mana orang lain juga sudah mengetahuinya, dan Paulus harus secara terbuka menasihati mereka. Mungkin Epafroditus saat mengunjungi Paulus dan melaporkan keadaan gereja kepadanya, juga menceritakan tentang perselisihan di antara kedua kakak adik itu. Tetapi tidak dijelaskan apa yang menyebabkan perselisihan mereka itu. Sumber perselisihan sepertinya bukan masalah doktrin atau ajaran palsu, karena jika berkaitan dengan ajaran, Paulus pasti akan dengan serius memberikan peringatan kepada gereja untuk berwaspada.

Yang jelas, perselisihan bukan disebabkan oleh doktrin, tapi besar kemungkinan karena perbedaan karakter atau pun dalam hal bagaimana melakukan sesuatu. Pada kenyataannya, banyak konflik di antara orang percaya, di antara para pemimpin bukanlah karena perbedaan doktrin, tetapi justru diakibatkan oleh perbedaan karakter dan cara bagaimana melakukan sesuatu hal.  Mungkin yang satu berpendapat kita harus dengan cepat membuat orang untuk datang pada Tuhan, dan satu lagi berpendapat, kita tidak boleh terlalu terburu-buru; satu yang berpendapat uang persembahan harus disalurkan untuk hal ini, tetapi yang satu lagi berpendapat, kita harus menyalurkan ke pelayanan yang lain. Dalam setiap hal, masing-masing mempunyai pemikiran dan alasan mereka sendiri, dan masing-masing bersikeras dengan pandangan mereka, tidak mau mengalah.

Pada awalnya, perselisihan di antara Euodia dan Sintikhe adalah masalah di antara mereka berdua, lalu mengapa Paulus menanggapinya dengan sangat serius, sampai menyebutkan secara terbuka di dalam surat? Sebenarnya, ini bukan masalah yang kecil. Mereka terlibat dalam pelayanan, jadi apa yang menjadi masalah mereka pasti akan berdampak pada gereja. Jika Paulus tidak menangani masalah ini, masalahnya akan terus berkembang dan perselisihan di antara mereka akan menjadi perselisihan di antara dua kelompok yang akan berakhir pada pepecahan gereja. Banyak gereja yang pecah dan pemimpin berpisah satu dari yang lain, karena mereka gagal untuk menangani masalah kecil dengan baik, dan akhirnya jemaat biasa juga terbawa-bawa ke dalam permasalahan mereka. Hal ini sangat tidak memuliakan Allah.

Perselisihan merupakan hal yang lazim terjadi. Konflik yang timbul akhirnya berujung pada pepecahan. Selama ada manusia, pasti akan ada konflik. Apakah di dalam dunia maupun di dalam gereja. Hampir tidak mungkin untuk setiap orang memiliki karakter dan pandangan  yang sama. Yang penting adalah setiap orang mau meninggalkan pandangannya yang subyektif dan bersama-sama mencari solusi untuk bertumbuh bersama. Persoalan kunci adalah bagaimana untuk memuliakan Allah, bukannya mendatangkan aib pada Allah dan jemaatNya.

Apa solusi Paulus dalam menangani masalah di antara Euodia dan Sintikhe? Dikatakan di Filipi 4.3,

Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil..”

Paulus sedang meminta pada seseorang di gereja untuk menjadi penengah, sebagai pembawa damai untuk memperdamaikan kedua kakak adik itu. Jadi siapa pembawa damai ini? Yang pasti, orang ini mengenal kedua pihak dan mempunyai hubungan yang baik dengan mereka. Dia juga harus menjadi orang yang dewasa, berwibawa dan adil.

Yang terakhir, untuk senantiasa bersukacita, kita harus hidup di dalam kasih Tuhan.

Orang yang hatinya penuh dengan kasih pasti akan penuh dengan sukacita; orang yang hatinya penuh dengan kebencian, iri, keluhan tidaklah mungkin dapat bersukacita. Kata sukacita dalam bahasa Yunani ini muncul lebih dari 13 kali dalam bentuk kata benda dan kata kerja. Janganlah lupa bahwa pada waktu itu, Paulus sedang berada di dalam penjara, di bawah tekanan yang besar. Mengapa dia masih dapat bersukacita di tengah lingkungan yang demikian? Apa yang menjadi rahasianya? Paulus dapat bersukacita senantiasa, karena dia selalu hidup di dalam kasih Kristus, yang menjadi perhatian dia adalah orang lain, bukan dirinya sendiri. Mari kita buka di Filipi 1.4,

Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita.”

Setiap kali Paulus mendoakan Jemaat Filipi, hatinya dipenuhi oleh ucapan syukur dan sukacita. Sukacitanya bukan untuk dirinya sendiri tetapi bagi gereja, dia bersukacita melihat pekerjaan Tuhan di tengah jemaat. Contohnya lagi di Filipi 2.2,

karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,

Kapan Paulus akan bersukacita? Saat setiap orang di dalam gereja sehati dan sepikir, tidak membentuk kelompok sendiri-sendiri dan bertikai satu dengan yang lainnya. Bagaimana dengan Anda? Kapan Anda akan bersukacita? Tentu saja saat Anda memperoleh kenaikan pangkat dan menjadi kaya, atau saat Allah memberikan kesembuhan atau saat doa Anda terjawab. Mengapa Paulus senantiasa bersukacita dan Anda selalu depresi? Di sinilah letaknya perbedaan itu: Paulus telah melupakan dirinya sendiri, tidak mencari keuntungan pribadi, hanya mencari kepentingan orang lain, dengan demikian, gereja itu dapat bertumbuh dan karena itu Paulus dipenuhi oleh sukacita.

Pada kenyataannya, prinsip ini tidak hanya berlaku bagi hal-hal spiritual, tetapi juga dapat diterapkan pada hal-hal duniawi. Orang dunia mempunyai kehidupan yang sibuk, penuh dengan tekanan dan banyak orang yang sering cemberut dan loyo. Jika Anda melihat wajah yang segar, sehat, penuh tawa dan kegembiraan, orang itu mungkin sedang jatuh cinta atau berpacaran. Karena dia merasakan dunia ini penuh pengharapan, semuanya indah dan berseri-seri. Kasih itu seperti pelumas, yang melumasi hati, memberinya energi dan sukacita, tidak kira apa kesusahan dan tantangan, dia merasakan dapat mengalahkannya dan maju terus dengan penuh keberanian.

Sebaliknya, kebencian akan menghilangkan semua sukacita dan hanya akan membawa penderitaan. Pernahkah Anda membenci kolega Anda? Mungkin dia telah menyinggung perasaan Anda, dan sejak itu setiap raut wajahnya, setiap tindakannya, semuanya membuat Anda tidak senang. Saat Anda membenci dan mengkritik saudara Anda, selalunya yang rugi dan menderita adalah diri Anda sendiri.

Seorang saudara berbicara dengan saya tentang kebenciannya pada bosnya yang terlalu menuntut dan tidak masuk akal, pada suatu hari, dia kehilangan kendali dan membalas dalam kegeraman. Akhirnya dia hanya merugikan dirinya sendiri.

Bagaimana dengan kehidupan Kristen Anda? Apakah selalu cemberut dan tidak bahagia, jika demikian berarti Anda tidak sedang hidp di dalam kasih Kristus, sudah ada racun di dalam hati Anda -kebencian, keluhan, ketidak-puasan dan lain-lain. Hal-hal ini membuat Anda tidak dapat bersukacita. Melainkan Anda mau datang kepada Allah, meminta pengampunan, memintaNya mengeluarkan semua racun, situasi Anda hanya akan menjadi bertambah parah.

Sebelum mengakhiri studi hari ini, marilah kita buka ke ayat yang terakhir, Yohanes 15.10-12,

Jikalau kamu menuruti perintah-ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-ku, seperti aku menuruti perintah Bapa-ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu kukatakan kepadamu, supaya sukacita-ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti aku telah mengasihi kamu.

 Di Ayat 11 Yesus berkata dia beharap kita akan bersukacita selalu, bukan hanya bersukacita, tapi harus memiliki sukacita yang penuh. Orang yang bagaimana yang akan mempunyai kasih  yang penuh? Ayat 10 memberitahu kita, orang yang menuruti semua perintah Bapa di surga, yang tinggal di dalam kasihNya. Perintah yang mana satu? Tentu saja, perintah untuk saling mengasihi! Barangsiapa  yang menaati perintahNya, akan selalu berada di dalam kasihNya, barangsiapa yang berada dalam kasihNya, akan selalu bersukacita. Yesus khawatir kita tidak akan mengerti, dan karena itu dia mengulang-ulangi hal ini. Di ayat 12, dikatakan, Anda harus saling mengasihi, itulah perintahku. Dengan kata lain, untuk bersukacita selalu, kita harus hidup di dalam kasih Kristus;  untuk hidup di dalam kasih Kristus, kita harus menaati perintah Tuhan; menaati perintah Tuhan adalah untuk saling mengasihi. Itulah alasan mengapa Paulus masih bisa mempunyai sukacita di dalam kesusahan, karena dia mengasihi jemaat, sebagaimana Kristus mengasihi dia.

Firman Tuhan itu adalah seperti emas, yang telah ditempa dan diproses dan dapat bertahan melewati segala macam ujian. Jika Anda selalu dikelilingi oleh masalah Anda sendiri, dalam keadaan depresi, maka Anda harus berdoa pada Allah, memintaNya untuk memimpin Anda untuk membantu orang lain untuk mengenalNya. Anda akan merasakan perubahan besar di dalam hidup Anda, masalah Anda akan lenyap begitu saja. Apa alasannya? Karena Anda tidak lagi berpusat pada masalah Anda sendiri, tetapi Anda telah memalingkan perhatian pada orang lain, dan dengan berbuat demikian, Anda sedang menjalankan perintah Tuhan.

Hari ini, kita telah melihat pada Filipi 4.1-4, judulnya adalah “Bersukacitalah di dalam Tuhan senantiasa”.

  1. Paulus berulang kali meminta jemaat untuk bersuka senantiasa, karena sukacita itu adalah indikator, ia mencerminkan kondisi kehidupan spiritual kita.
  2. Paulus memberitahu kita tiga rahasia tentang sukacita: Pertama, kita harus teguh berdiri di dalam Tuhan, menaati ajaran Alkitab agar kita hidup bekemenangan. Kedua, kita harus sehati sepikir di dalam Tuhan, melenyapkan segala perselisihan agar tidak ada jurang pemisahan di antara saudara seiman di dalam gereja. Yang terakhir, kita harus hidup di dalam kasih Kristus, memalingkan perhatian kita pada orang lain, bukannya pada diri kita sendiri, hanya dengan cara itu, sukacita kita akan menjadi penuh.

 

Berikan Komentar Anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published.