Ev. Xiao Shan | Filipi 4:10-14 |

Meskipun Anda baru percaya pada Tuhan, atau sudah lama? Apakah Anda puas dengan kehidupan rohani Anda? Apakah Anda selalu hidup berkemenangan, bergerak maju dengan berani, atau apakah gagal dan selalu mundur? Jika poin 60 adalah lulus, poin 80 adalah memuaskan, poin 90 adalah sangat memuaskan, Anda menilai diri Anda di poin berapa? Apakah Anda merasa diri Anda gagal, tidak mencapai standar Tuhan, atau hanya sekedar lulus, kadang berhasil dan kadang gagal?

Hari ini kita akan melanjutkan belajar Filipi 4:10-14,

10 Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. 11  Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. 12  Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. 13  Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. 14  Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku.”


Paulus dapat melakukan segala perkara

Dikatakan di pasal 4:13, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Yang dikatakan oleh Paulus sangat luar biasa, dia bahkan dapat membuat pernyataan seperti itu; dapat melakukan segala perkara melalui kuasa Tuhan, tanpa kesulitan, tidak ada keadaan yang dapat mengikatnya. Dengan kata lain, Paulus lebih dari seorang pemenang. Jika Anda sudah lama percaya kepada Tuhan, apakah Anda setuju dengan Paulus? Apakah itu berarti selama bergantung kepada Tuhan, maka kita dapat melakukan segala perkara? Atau apakah Anda akan berpikir bahwa meskipun ayat ini sangat menarik, tetapi tidak nyata sama sekali? Tidak banyak perbedaan antara sebelum dan setelah percaya kepada Tuhan. Ini adalah sebuah kegagalan besar jika keadaan Anda sebelum percaya kepada Tuhan tetap sama dengan setelah percaya kepada Tuhan, semuanya tidak dapat dilakukan. Paulus dapat melakukan segala perkara, apa rahasianya?


Memiliki Hati yang Selalu Puas

Dikatakan di dalam Flp. 4:11,

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri (puas) dalam segala keadaan.”

Paulus menyebutkan sebuah kualitas yang sangat penting di sini: mencukupkan diri atau merasa puas. Apa itu mencukupkan diri? Mencukupkan diri bukan sebuah sikap yang negatif, pesimis, tidak berdaya, tetapi sebuah sikap yang mampu menerima situasi apa adanya, tidak berkekurangan. Meskipun Tuhan telah membuat rencana yang tidak sesuai dengan keinginan kita, namun belajarlah untuk mengucap syukur dan puas. Manusia yang mencukupkan diri akan tahu bagaimana bergantung kepada Tuhan, tidak bergantung pada keadaan eksternal, sehingga di dalam hatinya akan tenang, stabil secara emosional.

Paulus mengatakan bahwa dia telah belajar untuk mencukupkan diri di dalam segala keadaan. Pada kehidupan sehari-hari, kepuasan adalah pelajaran yang sangat sulit karena ini berlawanan dengan sifat alami manusia. Sifat alami manusia adalah tamak. Apakah Anda pernah menjumpai orang yang mencukupkan diri? Mungkin tidak, jika pernah, sangat sedikit jumlahnya. Ada sebuah ungkapan yang berkata bahwa hati manusia sangat tamak seperti seekor ular yang ingin menelan seekor gajah. Orang yang tidak mencukupkan diri tidak akan pernah bahagia karena tidak ada suatu apa pun yang dapat memuaskan dia. Di dalam pekerjaannya, dia tidak akan puas karena penghasilan yang terlalu sedikit; di rumah, dia tidak akan puas dengan pasangannya, merasa pasangannya tidak cukup mampu atau berguna; di dalam gereja, dia tidak puas dengan pendetanya, merasa pendidikan pendetanya terlalu rendah. Di dalam segala hal, dia mengkritik segalanya, tidak puas dengan segalanya.

Hal ini mengingatkan Anda tentang apa? Tentu saja sejarah bangsa Israel. Tuhan telah mendengar tangisan bangsa Israel, sehingga mengirim Musa untuk memimpin mereka keluar dari tanah Mesir, melepaskan diri dari kehidupan perbudakan. Bangsa Israel seharusnya sangat bersyukur dan sangat puas, benar bukan? Tidak, mereka tidak puas, selalu merasa Tuhan belum cukup bertindak, dan berhutang kepada mereka, sehingga mereka selalu bersungut-sungut. Contohnya, Tuhan mengadakan mukjizat, memberi mereka manna setiap hari, memberi makan dua juta orang Israel, apakah mereka menunjukkan rasa syukur? Tidak, orang-orang yang tidak puas tidak akan tahu bagaimana bersyukur, mereka hanya tahu mengeluh. Meskipun sangat jelas Tuhan yang menyediakan manna, tetapi mereka mengeluh bahwa makanannya kurang baik, bosan makan manna setiap hari, mengapa tidak ada daging. Sebenarnya, kunci masalah di sini bukan makanannya kurang baik, tetapi tamak.

Agar dapat menjadi lebih dari seorang pemenang, maka kita harus belajar sikap mencukupkan diri. Dikatakan di Flp. 4:11,

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.”

Hati yang mencukupkan diri tidak muncul secara alami ketika kita lahir, tetapi harus dipelajari. Paulus perlu belajar mengenai mencukupkan diri, terlebih lagi kita. Bagaimana menjadi orang yang mencukupkan diri? Jika seseorang yang selalu mengeluh adalah orang yang tidak mencukupkan diri, maka orang yang mencukupkan diri adalah orang yang selalu mengucap syukur. Belajar  kualitas mencukupkan diri adalah belajar untuk selalu mengucap syukur di dalam segala hal kepada kasih karunia Tuhan. Dikatakan di dalam Flp. 4:18,

“Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Tuhan.”

Di sini Paulus mengungkapkan rasa terima kasih yang tulus kepada jemaat Filipi. Gereja telah mengirimkan orang untuk menyediakan keperluannya di masa lalu, dan sekarang malah mengirim Epafroditus untuk membawa makanan, dan hal ini membuat Paulus sangat berterima kasih. Apa yang luar biasa adalah Paulus berkata bahwa ia memiliki segalanya, bahkan lebih dari cukup, sangat puas. Jangan lupa bahwa Paulus sedang berada di penjara, tidak sedang berlibur, dalam banyak hal kekurangan kebutuhan sehari-hari, obat-obatan, atau buku – mungkin juga sangat kekurangan, tetapi Paulus berkata bahwa dia tidak kekurangan, dia telah benar-benar belajar untuk mencukupkan diri di dalam segala keadaan.

Sikap yang mencukupkan diri sangat penting bagi orang-orang Kristen, bahkan bagi para pemimpin gereja. Jika Anda kekurangan sikap ini kehidupan rohani Anda tidak akan berfungsi. Mengapa harus mengkhawatirkan hal-hal yang tidak ada? Seharusnya mengucap syukur untuk hal-hal yang telah tersedia. Sebenarnya, situasi Anda tidak seburuk dibandingkan orang lain. Anda memiliki badan yang sehat, dapat bergerak bebas, ini merupakan hadiah tidak ternilai yang diberikan Tuhan. Banyak orang yang cacat akibat kecelakaan, kecelakaan mobil, penyakit, tidak dapat mandiri, mereka tentu akan puas jika mereka dapat bergerak bebas, hidup nomal seperti Anda.

Ketika menghadapi kolega, keluarga, saudara-saudara, Anda harus ingat bahwa tidak ada yang sempurna, mereka seperti Anda, juga memiliki kekurangan. Jangan fokus pada kelemahan mereka, tetapi bersyukurlah kepada Tuhan untuk kelebihan mereka. Manusia tentu memiliki kelebihan, tidak mungkin hanya kelemahan saja. Jika orang lain hanya memiliki satu kelebihan saja, maka bersyukurlah kepada Tuhan atas satu kelebihan itu.

Saya mendorong Anda semua untuk datang kepada Tuhan setiap hari, jangan menghitung kelemahan orang lain, naikkan doa syukur. Bahkan untuk hal yang sangat kecil, tetap naikkan ucapan syukur kepada Tuhan atas mereka, belajarlah memiliki sikap mencukupkan diri.  


Tidak Dipengaruhi Keadaan Eksternal

Dikatakan di Flp. 4:11-12,

11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. 12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.:

Untuk menjadi seorang pemenang, yang dapat melakukan segala perkara, maka kita harus dapat menghadapi situasi-situasi yang berbeda. Manusia sangat sensitif, sangat rapuh, sangat mudah dipengaruhi oleh keadaan eksternal. Orang-orang Kristen tidak terkecuali. Orang Kristen gagal karena dipengaruhi oleh situasi di sekelilingnya, dan mempunyai emosi yang tidak stabil. Dalam keadaan miskin, keuangan yang sukar, iman dapat menjadi keraguan, dan bisa saja Anda akan merasa Tuhan tidak nyata; dalam keadaan kaya, keuangan yang cukup, iman akan berubah haluan, mata Anda akan tertarik pada kekayaan, dan tidak memiliki hati untuk mencari Tuhan.

Beberapa orang Kristen mungkin tidak terpengaruh oleh keadaan keuangannya, tetapi akan terpengaruh pada hubungan dengan sesamanya. Contohnya, awalnya suasana hati Anda gembira ketika berangkat kerja di pagi hari, tetapi ketika kolega Anda tidak menghiraukan salam Anda, suasana hati Anda menjadi rusak, dan membuat seluruh hari Anda menjadi buruk, lesu, apatis. Lebih buruk lagi, jika orang itu memiliki suasana hati yang buruk setiap hari, apakah ini berarti Anda akan terpengaruh oleh orang itu setiap hari? Selama orang itu bekerja di perusahaan yang sama dengan Anda, maka suasana hati Anda akan buruk, wajah Anda tidak gembira.

Atau situasi yang Anda hadapi bukan seperti itu. Di gereja, Anda kenal beberapa orang percaya yang sungguh-sungguh, pendeta yang mengasihi Tuhan, sehingga kehidupan rohani Anda berkembang pesat dan Anda dengan senang hati bergabung dalam pelayanan. Namun oleh karena pekerjaan, Anda pindah ke kota lain, meninggalkan saudara-saudari seiman Anda yang Anda kenal, meninggalkan pendeta Anda yang mengasihi Tuhan. Kehidupan rohani Anda jadi menurun banyak, dan Anda bahkan tidak lagi menghadiri pertemuan.

Untuk menjadi seorang pemenang, maka kita harus belajar untuk mengatasi berbagai situasi eksternal. Dengan kata lain, Anda harus menyiapkan hati di mana Tuhan akan menempatkan Anda pada situasi-situasi yang berbeda, agar Anda dapat dilatih. Seringkali, kasih dari orang-orang percaya itu tulus, tetapi karena jiwa mereka terlalu lemah, mereka tidak dapat melewati kesengsaraan, sepanjang ada tanda kesukaran, maka mereka akan sekarat. Agar kita dapat semakin kuat, Tuhan akan merencanakan berbagai keadaan yang berbeda sebagai tempat latihan, agar kita dapat dilatih.

Seorang Kristen pernah berkata, ” Hal yang Anda takuti sudah pasti akan terjadi.” Jika Anda sangat takut terhadap orang dengan karakter tertentu, dan mau menjauh dari orang tersebut. Lalu di tempat kerja Anda, akan datang seorang kolega dengan karakter tersebut duduk di sebelah Anda. Apakah ini murni sebuah kebetulan? Contohnya, Anda paling takut jika pendeta Anda tidak ada di gereja, takut bahwa Anda yang harus memimpin kelompok pendalaman Alkitab sendirian, sendirian menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh saudara-saudari. Siapa sangka, oleh karena alasan pekerjaan, pendeta Anda harus selalu bepergian, dan hanya Anda yang harus bertanggung jawab atas kebutuhan kelompok pendalaman Alkitab. Apakah ini sangat kebetulan?

Apakah benar ada begitu banyak kebetulan-kebetulan di dunia? Itu kita tidak tahu. Tetapi Anda harus tahu bahwa segala sesuatu ada di tangan Tuhan. Tuhan tahu situasi Anda: selama Anda tetap takut akan seseorang atau situasi tertentu, maka Anda akan dibatasi hal tersebut, tidak dapat menang. Agar Anda dapat melampaui batas Anda, maka Tuhan merencanakan situasi-situasi yang sesuai sehingga Anda mempunyai kesempatan untuk berlatih.

Di sekolah, demi keamanan para murid, pihak sekolah akan melakukan praktik latihan kebakaran secara reguler. Ketika alarm kebakaran berbunyi, semua guru dan murid harus meninggalkan kelas secepatnya, semua aktivitas harus segera berhenti. Tentu saja sekolah berbuat demikian bukan karena terjadi kebakaran sungguhan, tetapi untuk melatih para murid agar memahami bagaimana menghadapi kebakaran yang mungkin terjadi secara mendadak. Itulah tujuan latihan kebakaran dilaksanakan. Anda mungkin berkata, “Tidak perlu membuang waktu, selama para murid menggunakan imajinasi mereka untuk membayangkan situasi kebakaran, persiapan di pikiran sudah cukup.” Melakukan persiapan di pikiran memang penting, tetapi tetap tidak cukup. Sekali kebakaran benar-benar terjadi, orang-orang akan panik, semuanya akan kacau, tidak tahu arah mana yang dituju, tidak yakin harus melarikan diri ke atas atau ke bawah. Tanpa latihan praktik, semua langkah-langkah yang mungkin hanya akan sia-sia.

Tuhan juga merencanakan berbagai macam situasi agar kita mempunyai kesempatan untuk berlatih. Anda takut akan ini, takut akan itu, berpikir keras bagaimana menghindari, pada akhirnya ini bukan sebuah solusi. Tuhan tidak akan membiarkan Anda menghindar. Dia akan mendesain dengan masak-masak sebuah tempat pelatihan, mengijinkan Anda belajar bagaimana melampaui kesukaran-kesukaran itu, belajar bagaimana bergantung pada Tuhan untuk menang.

Paulus adalah orang yang demikian. Tidak peduli apa pun keadaan eksternalnya, dia akan berdiri teguh bergantung kepada Tuhan, tidak terpengaruh. Paulus berkata, tidak peduli apa pun situasinya, kenyang atau lapar, berkelimpahan atau berkekurangan, dia telah mempunyai jawaban. Paulus tidak membuat pernyataan ini dengan mudah, tetapi dia mengalaminya secara pribadi. Sebenarnya, Paulus tidak hanya menyebutkan penderitaan yang dilaluinya di kitab Filipi, tetapi juga di kitab-kitab lainnya. Lihat 2 Kor. 11:27

“Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian,”

Apakah pernah muncul di benak Anda bahwa bahkan orang yang rohani juga harus melewati penderitaan? Kebanyakan orang Kristen akan berpikir bahwa semakin orang mengasihi Tuhan akan melewati hal-hal lebih lancar. Kenyataannya, malah sebaliknya. Paulus lupa apa yang ada di belakang dan berusaha maju, memutuskan untuk mengejar kesempurnaan, menjadi serupa dengan Kristus, tetapi tetap harus melewati banyak penderitaan, banyak pencobaan. Apa alasannya? Apakah Tuhan terlalu sibuk dan melupakan kebutuhannya? Tentu saja tidak. Paulus berada di situasi-situasi yang berbeda, ini ada latihan rohani yang diberikan Tuhan kepadanya, didesain khusus oleh Tuhan untuk dia.

Tuhan memiliki rencana yang unik, latihan khusus untuk semua orang Kristen agar menolong kita untuk bergantung kepadaNya dalam segala hal. Di dalam Flp. 4, Paulus menyebutkan dua area latihan: ada hari-hari buruk, kelaparan dan kekurangan; ada juga hari-hari yang berkelimpahan, penuh dan dipuaskan, lebih dari cukup. Tuhan menggunakan dua situasi yang berbeda ini untuk mengajar kita bergantung kepada-Nya setiap saat.

Ingatlah, Tuhan menempatkan Anda pada situasi-situasi yang berbeda, kadang-kadang mungkin sangat sulit, hidup kekurangan, tujuannya untuk melatih kita bergantung kepada-Nya. Tuhan adalah Pencipta alam semesta, tidakkah Ia dapat memenuhi kebutuhan kita? Jika Tuhan bersedia mengirim Yesus ke dunia sebagai korban penebus dosa, apa lagi yang tidak diberikan-Nya kepada Anda? Ketika Anda menghadapi kesulitan, itu bukan karena Tuhan tidak nyata, juga bukan karena Tuhan tidak mengasihi, tetapi karena Tuhan menciptakan keadaan-keadaan tersebut untuk memurnikan Anda, dan melatih Anda. Tuhan ingin mengetahui bagaimana respon Anda di dalam situasi-situasi yang sulit tersebut? Apakah Anda tetap mengikuti Dia seperti sebelumnya?

Manusia selalu takut menderita. Ini adalah kelemahan manusia. Tetapi jika kita dapat menggunakan sikap yang tepat dalam menghadapi kesulitan, maka itu akan membantu pertumbuhan kehidupan rohani kita. Jika kita tetap bergantung kepada Tuhan secara terus menerus pada saat kesukaran, hubungan Anda dengan Tuhan akan semakin dalam. Ada banyak manusia rohani di dalam Alkitab, memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, tidak peduli di dalam keadaan kaya atau miskin, mereka dapat mengikuti Tuhan dengan setia. Alasannya karena mereka telah belajar untuk tidak terpengaruh oleh situasi eksternal, tetapi meletakkan iman mereka di dalam Tuhan.

Di samping belajar bergantung kepada Tuhan selama masa sukar, kita juga harus bergantung kepada Tuhan pada saat berkelimpahan. Mungkin situasi Anda berlawanan dengan Paulus. Setelah percaya kepada Tuhan, pekerjaan Anda menjadi lancar, bisnis Anda berkembang, Anda tidak memiliki kekuatiran di dalam hidup. Apakah Anda tetap bergantung kepada Tuhan saat ini? Jangan kehilangan kasih mula-mula Anda pada masa ketika Anda sukses di dalam karir, dan menempatkan fokus Anda pada uang.


Dapat Melakukan Segala Perkara

Segala perkara dapat kutanggung di dalam dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Paulus berkata, dapat menanggung segala perkara melalui Kristus. Konteks dari pernyataan ini bukan tentang mukjizat, tetapi tentang kemenangan hidup. Tentu saja, jika itu sesuai dengan kehendak Tuhan, Paulus dapat melakukan mukjizat, membangkitkan orang mati. Tetapi di dalam Flp 4, fokus Paulus bukan pada mukjizat, tetapi kemenangan hidup. Dikatakan di ayat 13, tidak peduli kita ditempatkan dalam situasi apa pun, posisi apa pun, kita tetap akan dianugerahkan kekuatan yang cukup agar kita dapat menjadi lebih dari pemenang.

Paulus berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Ini adalah sebuah pernyataan yang sangat menginspirasi dan menyatakan arti sesungguhnya dari kehidupan kekristenan. Orang Kristen sejati adalah mereka yang dapat melakukan segala perkara melalui Tuhan. Sebelum Anda mengenal Tuhan, Anda hidup dalam kekalahan, hidup tanpa kuasa. Ingin bebas dari ikatan dosa, tetapi tidak dapat bebas. Karena kita hidup di dalam dunia, kita tidak dapat menguasai tubuh kita (tidak berdaya, tidak memiliki kuasa untuk mengontrol), dan tidak dapat bebas dari ikatan dosa; ingin mengasihi musuh, mengampuni orang yang telah menyakiti kita, tetapi tidak mampu. Memiliki kepahitan dan kebencian di dalam hati kita, tetapi tidak mampu untuk menghapusnya.

Kehidupan orang Kristen dimulai ketika menanggapi panggilan Tuhan. Beberapa teman ingin percaya kepada Tuhan, tetapi takut tidak dapat mencapai standar yang ada di dalam Alkitab, sehingga menjadi ragu-ragu, dan sekian lama tidak berani dibaptis. Bagus jika Anda menyadari kelemahan Anda, tetapi jangan berdiam diri dan tidak maju, melangkahlah dengan iman dan alami Tuhan. Lihat Markus 9:22-23

22Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” 23Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”

Ada seorang ayah, anaknya kerasukan setan, sehingga mereka datang kepada Yesus, untuk melihat apa yang dapat dilakukannya. Yesus berkata, faktor kuncinya bukan di dia, tetapi iman ayah ini, karena oleh iman semua hal adalah mungkin. Kehidupan kekristenan dimulai ketika menanggapi panggilan Tuhan. Kita berkata kepada Tuhan, “Tuhan, aku tidak mampu, tetapi melalui Engkau semuanya adalah mungkin!” Dengan iman kita melangkah untuk percaya di dalam Tuhan. Kita mungkin menghadapi tantangan pada level yang berbeda di dalam kehidupan kekristenan. Anda harus bergantung kepada Tuhan untuk melewati setiap tantangan, alamilah bahwa semuanya mungkin di dalam hidup ini.

Jangan berpikir hanya orang yang rohani yang perlu bergantung kepada Tuhan untuk memenangkan setiap ujian. Tidak. Bahkan orang-orang percaya biasa juga harus bergantung kepada Tuhan untuk melangkah maju, jika tidak, konsekuensinya akan melampaui apa yang dapat kita pikirkan. Contohnya, bangsa Israel melihat orang-orang yang hidup di tanah Kanaan kuat dan besar, sehingga menjadi takut, mulai mengeluh, berkata ingin kembali ke Mesir. Sebagai hasilnya, Tuhan menghukum. Selain Yosua dan Kaleb, seluruh bangsa Israel dari generasi itu tidak diijinkan masuk ke tanah Kanaan.

Paulus berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Untuk mengalami realitas dari pernyataan ini, faktor kuncinya bukan pada Tuhan, tetapi pada kita. Dapatkah kuasa Tuhan berada di tempat kerja tanpa rintangan, semuanya tergantung pada kita. Beberapa orang percaya kepada Tuhan bertahun-tahun, tetapi tidak ada peningkatan pada kehidupan rohani mereka karena mereka tidak tahu bagaimana bergantung kepada Tuhan, sehingga pada akhirnya tidak mencapai apa-apa. Beberapa orang meskipun belum lama percaya kepada Tuhan, tetapi kehidupan rohanai mereka telah meningkat secara terus menerus karena mereka tahu bagaimana bergantung kepada Tuhan, sehingga kuasa spiritualnya meningkat setiap hari. Dikatakan di dalam Mat 13:12,

“Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.”

Di sini dinyatakan sebuah prinsip yang sangat penting: “Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi; tetapi siapa yang tidak mempunyai, akan kehilangan segalanya.” Kenyataannya, prinsip yang dikatakan oleh Paulus di Flp 3:14 adalah sama dengan prinsip ini. Mereka yang tahu bagaimana bergantung kepada Tuhan akan menang, setelah menang mereka akan memiliki kuasa yang lebih besar untuk menghadapi ujian yang lebih berat, sehingga kekuatannya akan semakin kuat dan kuat. Sebaliknya, mereka yang tidak tahu bagaimana bergantung kepada Tuhan akan gagal, setelah gagal, mereka akan menjadi lebih lemah dan akan makin tidak mampu melewati ujian lain yang akan datang.

Di gereja, Anda akan selalu melihat hal-hal seperti ini: dua orang teman dibaptis dan percaya kepada Tuhan bersama-sama, mereka berdua sama-sama tidak memahami alkitab, dan tidak memiliki pengalaman dalam pelayanan, secara keseluruhan mereka mulai dari nol. Tetapi dengan  berjalannya waktu, satu akan mengalami kemajuan secara cepat di dalam semua area, sedangkan yang satunya tetap pada level awal. Alasannya adalah kepada yang punya, kepadanya akan diberi, dan mereka akan berkelimpahan; tetapi kepada yang tidak mempunyai, bahkan apa yang mereka punya akan diambil. Beberapa orang Kristen mampu di dalam segala hal, tidak berkekurangan. Sedangkan beberapa orang Kristen lainnya bersungut-sungut, tidak mencapai apa-apa. Tipe orang Kristen mana yang akan Anda pilih?

Hari ini kita melihat Flp 4:10-14, judulnya adalah Dapat Melakukan Segala Perkara. Untuk dapat menjadi pemenang, maka kita harus bergantung kepada Tuhan, selalu memiliki hati yang mencukupkan diri, dan tidak terpengaruh oleh situasi di sekeliling. Terakhir, adalah Anda perlu melangkah maju secara terus menerus oleh iman, untuk melewati semua tantangan.

 

Berikan Komentar Anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published.