Pastor Eric Chang | Manusia Baru (20) |

“Supaya aku boleh mendapatkan Kristus. Aku ditemukan dalam Kristus bukan dalam kebenaran yang berasal dari diriku sendiri … Kiranya aku dapat mengenal dia dan kuasa kebangkitannya, serta bersatu dalam penderitaannya untuk menjadi seperti dia dalam kematiannya sehingga pada akhirnya aku memperoleh kebangkitan dari antara orang mati.” (Filipi 3:8-11)

Drama opera dipentaskan di merata tempat di dunia. Salah satu drama yang paling terkenal adalah sebuah kisah yang telah mengundang rasa penasaran banyak generasi. Nama “Faust” merupakan nama yang tidak asing lagi bagi mereka yang menggemari sastra. Ada berbagai macam versi dari cerita ini, yang paling terkenal disusun oleh seorang penulis Jerman, Johann Wolfgang von Goethe, yang diterbitkan pertama kali sekitar dua ratus tahun yang lalu. Ini merupakan kisah tentang Dr. Faust, seorang ahli filsafat, yang dijerat oleh Iblis dengan tawaran awet muda, pengetahuan dan kesenangan duniawi.

Apa yang menjadi keinginan orang–orang di dunia ini? Mereka menghendaki kekayaan, status, kesihatan dan cinta. Hal–hal tersebut akan lebih mudah diraih jika seseorang awet muda, karena jika Anda sudah terlalu tua, Anda mungkin akan kesulitan mendapatkan cinta, dan Anda mungkin kehabisan waktu untuk menikmati kekayaan Anda.

Faust, seperti kebanyakan orang, merindukan hal–hal yang tidak dapat diberikan oleh pelajaran filsafatnya. Kisah kuno tentang Faust ini menyimpulkan kerinduan yang mendalam di hati manusia. Kisah ini juga menceritakan kecerdikan Iblis dalam memainkan umpan di hadapan Faust. Iblis mengambil kesempatan atas kerinduan hati manusia, memanfaatkan hal itu sebagai alat untuk mengambil alih kendali ke atas manusia. Dalam pencobaan di padang gurun, Iblis menunjukkan kepada Yesus kemegahan seluruh kerajaan dunia, dan berkata kepadanya: “Semuanya ini akan kuberikan kepadamu, jika engkau tersungkur dan menyembahku.” (Mat 4:8-9).

Iblis juga memiliki tawaran yang menarik bagi kita. Jika kita bersedia memberinya penghargaan dan menyerahkan jiwa kita kepadanya, ia dengan senang hati akan memberi kita banyak hal sebagai balasannya. Ya, bahkan kekayaan dan kedudukan, atau apa saja untuk menjauhkan hati kita dari Allah dan dari perkara–perkara yang abadi. Iblis akan menjelaskan kepada Anda bahwa hal–hal rohani merupakan perkara yang tidak nyata dan semu, sementara hal–hal yang ada di dunia itu nyata dan konkret. Ia tentu saja tidak akan mengatakan kepada Anda bahwa dunia ini akan segera berlalu.

Ijazah universitas terasa sangat nyata di tangan Anda. Anda dapat menyentuh lembaran kertasnya, dan melihat tulisan kaligrafi yang halus di atasnya: Sarjana Muda, Magister Teknik, atau di dalam kasus Faust, Doktor Filsafat. Anda dapat meraba tulisan indah tersebut dengan jari-jari Anda. Yang menjadi pertanyaan adalah, pada akhir perjalanan nanti, apakah lembaran kertas tersebut masih memiliki signifikansi? Apa gunanya kertas itu apabila kita berdiri di pintu gerbang kerajaan Allah yang kekal?

Namun, itu tidak mengundurkan semangat Iblis dari membuat tawarannya yang menarik kepada kita. Ia tahu bagaimana membuat hal–hal duniawi terasa sangat memikat. Jangan keliru dalam hal ini, jika kita memilih dunia daripada Allah, Iblis mempunyai sumber untuk memberikan semua itu kepada kita.

Iblis menawarkan hal-hal tersebut kepada Faust: “Aku memiliki tawaran yang menakjubkan buat kamu, mirip dengan yang pernah kutawarkan kepada Yesus beberapa tahun yang lalu. Yesus memang sangat cerdas, tetapi ia tidak secerdik kamu, Dr. Faust, karena ia menolak tawaran yang kuajukan. Namun kamu, jauh lebih wajar dan pandai, dapat melihat keunggulan tawaranku.”

Ego Faust menggelembung karena sanjungan yang diutarakan oleh Iblis kepadanya. Jadi Faust menjawab, “Aku siap untuk bernegosiasi. Namun, Iblis, aku tahu bahwa engkau mahluk yang licik. Dulu aku pernah membaca di Alkitab bahwa engkau pandai dan cerdik seperti ular. Akan tetapi, jangan kamu lupa bahwa aku adalah Doktor Filsafat! Baru saja engkau mengakui sendiri kecerdasanku. Sebelum aku menandatangani kontrak ini, saya mau semacam jaminan bahwa aku dapat menikmati semua itu, jangan sampai begitu aku menelan umpan, kaitnya langsung menarikku keluar air. Aku harus memiliki waktu untuk menikmati umpan ini. Sesudah semua itu berakhir, aku siap untuk kau goreng.”

Jadi, ia menandatangani perjanjian dengan Iblis. Di dalam kisah ini, Iblis tampil sebagai seorang manusia yang bernama Mephistopheles. Mephistopheles berkata kepada Faust, “Perjanjiannya begini. Kuberikan padamu semua itu, ditambah dengan waktu untuk menikmatinya. Akan tetapi, pada saat engkau mati, jiwamu menjadi milikku.” Faust menjawab, “Siapa yang peduli tentang jiwa? Selama aku dapat menikmati hidup di dunia ini, mengapa aku harus peduli apa yang akan terjadi sesudah aku mati nanti?”

Apakah ucapan itu kedengaran akrab di telinga Anda? Justru itulah yang dipikirkan manusia duniawi. “Siapa peduli apa yang terjadi sesudah aku mati nanti? Aku tak tahu, dan aku tidak peduli apakah kebangkitan itu nyata atau tidak. Aku orang praktis yang hidup untuk hari ini. Jika Iblis ingin mengambil jiwaku sesudah aku mati, ia boleh memilikinya—selama aku dapat menikmati hidupku di sini dan sekarang! Aku dapat memahami mereka yang berkata, ‘Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati!’” (Yes 22:13; 1Kor 15:32)

Pernahkah pemikiran yang serupa melintas di benak Anda? Dapatkah Anda melihat Dr. Faust sebagai bayangan dari diri Anda? Dengan segala bekal pelajaran filsafatnya, Faust ternyata tidak memiliki pandangan yang jauh dalam pemikirannya. “Hidupku bagaimanapun juga akan berakhir, jadi siapa peduli apa yang akan terjadi sesudah itu? Jika aku dipanggang di dalam penggorengan Iblis, biar saja. Ia adalah singa yang mengaum-aum mencari orang yang akan ditelannya. Nah, ia boleh mengambil mayatku jika aku sudah selesai menikmati hidupku. Namun, sekarang aku ingin menikmati kekayaan, kehormatan dan cinta!”

Di dalam kisah Faust, ada seorang gadis manis yang ingin dinikahinya. Dalam beberapa versi kisah Faust, gadis ini akhirnya diselamatkan, dan tidak ikut mengalami nasib yang menimpa Faust. Sementara Faust sendiri dibawa oleh Iblis, Marguerita pergi bersama-sama dengan Tuhan.

Apakah Faust jadi menikah dengan gadis ini atau tidak, tidak menjadi persoalan di dalam kisah ini. Poin utamanya adalah Faust ingin menikmati gemerlapnya dunia, hal yang sangat diidamkan oleh manusia di dunia secara universal. Hal–hal seperti kebahagiaan, kemakmuran, kenikmatan, kesehatan dan umur panjang. Faust menginginkan semua itu, dan siapa dapat menawarkan semua itu—sebagai ganti jiwanya—kecuali Iblis? Apakah Anda bersedia untuk menerima tawaran itu dan melakukan pertukaran tersebut? Iblis tidak akan memberi sesuatu tanpa imbalan. Perjanjiannya adalah: Nikmati sekarang, bayar kemudian.


PERMAINAN CATUR ANTARA IBLIS DAN MANUSIA

Iblis sedang bermain catur dengan Anda dan saya, dan ia sangat mahir dalam memainkannya. Jika Anda ingin mengalahkannya dalam permainan ini, Anda harus bekerja mati–matian karena ia memiliki pengalaman tanding selama ribuan tahun. Kenyataannya, tidak ada pecatur di dunia ini yang dapat mengalahkan Iblis dalam permainan ini.

Jika Anda ke Paris, kunjungilah museum Louvre yang terkenal itu. Di museum itu ada satu lukisan yang menarik, lukisan Faust sedang bermain catur dengan Mephistopheles, yaitu Iblis dalam penampilannya sebagai manusia. Lukisan itu menunjukkan Mephistopheles sedang mengambil langkah terakhirnya—sekakmat!—terhadap Faust. Faust tidak hanya sedang mengalami kekalahan dalam permainan catur, ia akan kehilangan jiwanya. Seperti yang Yesus katakan, “Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Faust mengganti jiwanya, seluruh keberadaan rohaninya, demi menikmati hal-hal duniawi yang bersifat sementara dan sedang menghadapi sekakmat.

Pada suatu hari, seorang pecatur besar mendatangi museum Louvre. Ia langsung bergegas ke arah lukisan Faust yang sedang bermain catur dengan Iblis. Setelah mengamati lukisan itu dan menganalisa susunan buah catur, ia tiba–tiba berseru, “Tunggu dulu, Iblis! Masih ada satu langkah lagi yang bisa menyelamatkan Faust!” Itu merupakan langkah yang dapat membalikkan situasi dan menyelamatkan Faust. Kelihatannya pecatur besar ini melihat satu langkah yang tidak dilihat oleh Faust—dan pelukisnya.

Sekarang pertimbangkanlah kenyataan bahwa umat manusia secara keseluruhan, jauh dari Allah dan rakus akan keuntungan duniawi, berada dalam posisi menghadapi sekakmat dari Iblis. Di dalam permainan mengejar hal-hal yang ditawarkan dunia dan menikmati kesenangan dosa, Iblis akan segera mendesak kita pada posisi sekakmat tanpa jalan keluar. Buah–buah catur tersingkir dari papan catur kehidupan satu demi satu. Iblis sedang bermain catur dengan seluruh umat manusia secara simultan dan ia mengalahkan mereka satu per satu.

Jika Anda mengira Anda dapat mengalahkan Iblis, Anda pasti tidak tahu keadaan Anda atau kepintaran Iblis, atau tingginya taruhan yang terlibat dalam “permainan” hidup-mati ini.


KEBANGKITAN KRISTUS

Kemudian datanglah Anak Allah. Ia mempelajari papan catur dan melihat keadaan yang mendekati sekakmat ini. Posisi manusia sepertinya tidak mengandung harapan lagi. Namun, Anak Allah melihat satu langkah yang akan membalikkan situasi dan menyelamatkan kita. Apakah langkah itu? Itulah kematian dan kebangkitan Kristus.

Kematian dan kebangkitan Kristus merupakan dua bagian dari satu karya Allah yang integral bagi keselamatan umat manusia. Tentu saja, tidak akan ada kebangkitan tanpa kematian. Kematian yang tidak dikalahkan oleh kebangkitan akan menyisakan satu juruselamat mati yang tidak dapat menyelamatkan siapa pun dari dosa dan maut. Peristiwa integral kematian dan kebangkitan Kristus ini merupakan “langkah” Allah di atas papan catur kehidupan manusia, “langkah jagoan” untuk mengamankan penebusan kita.


MEMPERCAYAI KEBANGKITAN

Bagaimana kita tahu bahwa Yesus telah bangkit? Bagaimana kita dapat mengalami kuasa kebangkitan itu? Jika kita tidak mengalaminya, kita tidak mungkin dapat mempercayai adanya kebangkitan, kecuali sebatas persetujuan intelektual saja.

Mempercayai kebangkitan Kristus merupakan hal krusial bagi keselamatan. Paulus berkata,

Jika dengan mulutmu kamu mengaku bahwa Yesus adalah Tuan, dan percaya di dalam hatimu bahwa Allah membangkitkan dia dari antara orang mati, kamu akan diselamatkan. (Rm 10:9)

Apakah Anda benar-benar percaya bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati? Tidak cukup jika Anda menjawab, “Saya baru membaca buku yang menarik tentang kebangkitan Yesus. Berdasarkan bukti–bukti yang diajukan, saya menyimpulkan bahwa Yesus memang sudah bangkit dari antara orang mati. Bagaimanapun juga, saya hidup di negara Kristen dan kisah kebangkitan sudah bergema berulang–ulang di telinga saya sejak saya setinggi-lutut. Kisah itu bagian dari tradisi Kristen kami.” Namun, sejak kapan keselamatan didasarkan pada tradisi budaya?

Di dalam Kekristenan modern sekarang, banyak orang sudah mendengar kisah kebangkitan diulangi dengan begitu seringnya, barangkali sejak mereka masih kecil sehingga mereka tidak menolak untuk mempercayainya. Namun, tidak menolak untuk mempercayai tidak sama dengan mempercayai. Banyak orang sekarang ini yang terlantar dan melarat dalam kebangkrutan rohani di “belantara gersang”, di antara tidak menolak untuk mempercayai di satu sisi, dan tidak sesungguhnya mempercayai di sisi yang lain.

Keselamatan, menurut Roma 10:9, bergantung pada dua hal: Pertama, “mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuan”. Kedua, “percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan dia dari antara orang mati.” Kedua hal itu berkaitan erat satu sama lain karena Yesus yang mati tidak dapat menjadi Tuan yang hidup di dalam kehidupan kita.

Perhatikan bahwa Roma 10:9 tidak meminta kita untuk percaya pada kebangkitan Yesus sekadar sebagai suatu kenyataan yang kita terima secara nalar, tetapi “percaya dalam hati”, yaitu di tempat yang terdalam dari keberadaan kita. Apa yang masuk ke dalam hati mempengaruhi kita di tingkat yang paling dalam dan mengubah kita. Kita akan mengalami kuasa kebangkitan dari Allah bekerja di dalam hidup kita melalui Roh Kudus saat kita mempercayai di dalam hati bahwa Allah telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati.

Namun, jika kita percaya hanya sebatas pemikiran bahwa kebangkitan Yesus merupakan suatu fakta sejarah, kita tidak lebih baik daripada Iblis yang juga percaya pada kebangkitan karena ia merupakan saksi mata dari peristiwa itu; dan ia gemetar setiap kali ia memikirkan kebangkitan itu. Yakobus mengungkapkannya seperti ini, “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar” (Yak 2:19).


KEBANGKITAN SEBAGAI JANJI ALLAH

Kita akan diselamatkan jika kita percaya bahwa Allah telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati. 

Aspek utama dari iman Perjanjian Baru adalah: Oleh iman, kita harus memegang janji Allah tentang kebangkitan. Jika kita tidak melakukan hal ini, kebangkitan bagi kita tidak akan lebih berarti daripada suatu peristiwa besar dalam sejarah. Iman intelektual semacam itu tidak akan menyelamatkan siapa pun.

Untuk dapat diselamatkan, Anda harus menyadari bahwa kebangkitan Kristus merupakan janji Allah kepada Anda. Oleh karenanya, Anda menjadikan janji itu milik Anda oleh iman. Kebangkitan Kristus tersedia bagi Anda dan saya hanya jika kita menerimanya ke dalam hati kita oleh iman.

Akan tetapi, iman yang seperti apa? Kata “iman” dipakai dengan cara yang agak longgar sekarang ini. Kita menaruh iman pada supir bus, atau beriman bahwa pesawat terbang ini akan membawa kita dengan aman ke London, Frankfurt, atau Hong Kong.

Iman yang menyelamatkan menaruh keyakinannya pada firman Allah atau tindakan Allah, dalam hal ini pada kebangkitan Kristus sebagai janji. Kebangkitan tidak akan berarti apa–apa bagi kita kecuali ia menjadi janji Allah kepada kita. Kita perlu menyadari bahwa Yesus mati dan dibangkitkan bagi Anda dan saya.

Hanya ketika Abraham mempercayai janji Allah kepadanya, maka “kepadanya diperhitungkan sebagai kebenaran” (Rm 4:22); dan ia dikatakan percaya karena ia “dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan” (ay.21).

Apakah kita juga memiliki iman yang seperti itu, yang percaya bahwa Allah telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati dan bahwa Ia akan melakukannya bagi kita? Kalau tidak, jelas kita tidak akan percaya bahwa Ia sanggup menyelamatkan kita dari dosa dan maut.


ABRAHAM BERHARAP SEKALIPUN DIA TIDAK MEMILIKI DASAR UNTUK BERHARAP

Ketika Paulus berbicara tentang kebangkitan, ia sedang membayangkan iman Abraham, yang disebutnya “bapa semua orang percaya” (Rm 4:11). Abraham adalah contoh iman yang par excellence (tak tertandingi).

Di dalam lima pasal, Roma 4 sampai 8, Paulus menggunakan kata “harapan” sebanyak sembilan kali. Mari kita periksa salah satu kemunculannya:

Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya bahwa ia akan menjadi bapak banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan, “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” (Rm 4:18).

Abraham masih belum memiliki anak yang menjadi pewarisnya, tetapi Allah menjanjikan bahwa ia akan menjadi bapak banyak bangsa; keturunannya akan sebanyak bintang di langit dan pasir di laut. Bagaimana mungkin janji seperti itu digenapi? Namun, oleh iman Abraham “penuh keyakinan” bahwa firman Allah dapat diandalkan, janji-Nya tidak akan gagal.

Ia tetap “berharap sekalipun tidak ada dasar untuk berharap”, sebab secara manusia memang tidak ada dasar untuk berharap. Pada waktu bayi itu lahir, ia sudah berusia seratus tahun, tetapi masalah yang lebih besar terletak pada Sara yang berusia sembilan puluh tahun dan tidak pernah melahirkan. Akan tetapi, Abraham percaya pada Allah “yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada” (Rm 4:17)—Abraham percaya pada kebangkitan!

Mereka sama seperti mati dari segi kemampuan reproduksi (Rm 4:19; Ibr 11:12), tetapi Abraham tetap berharap di tengah kemustahilan dengan berpegang teguh pada janji Allah. Ia menempatkan harapannya pada Allah sekalipun tidak tersisa sekeping harapan pun di tingkat manusia.

Apakah kita berpegang pada janji kebangkitan itu? Apakah janji Paskah itu berbicara kepada kita? Apakah kita percaya dalam hati kita bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati bagi kita? Di dalam kelima pasal yang sama, Roma 4 hingga 8, Paulus merujuk kepada kebangkitan Yesus sebanyak sepuluh kali, menggunakan kata-kata seperti “kebangkitan” dan “membangkitkan”. Jika Anda percaya bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati bagi Anda, melalui dia Anda akan mengalahkan Iblis dalam permainan catur kehidupan ini.


JANJI ALLAH YANG MENGUBAH KEHIDUPAN

Jika Anda memegang janji Allah, hal itu akan membawa perubahan yang mendalam dan membahagiakan dalam kehidupan Anda.

Ingatlah bahwa Abraham berusia hampir seratus tahun dan Sara sembilan puluh tahun ketika Allah berkata, “Aku berjanji, pada hari yang sama tahun depan, engkau akan memiliki seorang anak laki–laki.” Anak yang dijanjikan itu akan lahir dalam waktu dua belas bulan! Dari kehamilan hingga kelahiran memakan waktu sembilan bulan. Jadi, segera sesudah Allah mengucapkan kata–kata tersebut, segala macam perubahan yang menakjubkan terjadi di dalam tubuh mereka, terutama pada Sara. Kuasa Allah yang memberi hidup mulai bekerja di dalam diri mereka. Pepatah “masa muda mereka menjadi baru seperti pada burung rajawali” (Mzm 103:5) belum memadai untuk menggambarkan apa yang terjadi! 

Allah melakukan mukjizat yang memberi hidup bagi tubuh Abraham dan Sara. Sara itu mandul sejak masa mudanya, tidak dapat hamil. Untuk menggenapi janji-Nya, Allah harus melakukan sesuatu yang mustahil: mewujudkan suatu transformasi dalam tubuh mereka yang sebanding dengan kebangkitan—menghidupkan apa yang telah mati. Demikian juga, kalau kita berpegang pada janji Allah bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati bagi kita, Ia akan membawa perubahan yang menakjubkan di dalam hidup kita melalui kuasa-Nya.

Pernahkah Anda tertidur dalam posisi yang membuat lengan Anda mengalami mati rasa? Anda mencubitnya, tetapi tidak terasa apa–apa. Hal ini kadang terjadi pada saya. Saya terbangun, tetapi saya tidak dapat menggerakkan lengan saya. Peredaran darah terhambat, tidak terasa apa–apa ketika saya meraba lengan tersebut. Benar–benar mati rasa. Namun, ketika darah kehidupan mulai mengalir kembali ke lengan tersebut, Anda mulai merasa kesemutan. Pelan–pelan lengan itu terasa hidup kembali! Saya bertanya–tanya apa yang dirasakan Abraham dan Sara ketika janji Allah yang memberi kehidupan itu mulai mengalir di dalam tubuh mereka!

Inilah kehidupan Kristen yang dinamis yang dibicarakan Alkitab. Apabila kita menerima janji kebangkitan Allah ke dalam hati kita, kita mulai mengalami kuasa-Nya bekerja secara mendalam di dalam kehidupan kita. Kehidupan dan kuasa kebangkitan Kristus mengalir ke dalam diri kita oleh Roh Kudus dan menghasilkan “hidup yang baru” (Rm 6:4) di dalam roh kita.

Kehidupan ini secara aktif mengalir di dalam kita sampai pada kebangkitan tubuh dari antara orang mati, bilamana “yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati” (1Kor 15:53,54), yaitu pada waktu Yesus Kristus “mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuhnya yang mulia” (Flp 3:20,21)

Namun, di dalam “hidup yang baru” ini kita sudah mulai mengalami kuasa kebangkitan Kristus bekerja sekarang juga di dalam diri kita, sama seperti Abraham dan Sara merasakan perubahan di dalam tubuh mereka. Seperti lengan yang terasa hidup kembali, “mayat” ini mulai merasa kesemutan, sensasi menyengat dari kembalinya kehidupan.

Sebagai contoh, kita mulai merasakan sensasi yang menyengat di dalam nurani kita, dengan kepekaan yang baru terhadap apa yang baik dan apa yang jahat. Semulanya Anda tidak peduli dengan dosa, tetapi sekarang, karena kuasa Allah sudah masuk di dalam hidup Anda, rasa kesemutan rohani itu mulai muncul dan menusuk nurani Anda. Penginsafan yang kuat mendorong Anda kepada pertobatan. Inilah bukti bahwa kuasa kebangkitan Allah sedang membawa Anda kepada kehidupan. Penginsafan batin ini mendorong Anda untuk berlutut di hadapan Allah, dan berkata, “Ya Allah, kasihanilah saya yang berdosa ini!” Sekalipun selama ini Anda bukan orang yang religius, tetapi sekarang Anda dikuasai oleh penginsafan dari Roh Kudus yang mendorong Anda untuk berkata, “Tuhan, ampunilah dosa dan sifat saya yang suka membenarkan diri ini.”

Saat orang memberi kesaksian, apa yang mendorong mereka untuk mengakui dosa-dosa mereka di depan umum? Bukankah rasa kesemutan dari nurani yang tertusuk yang mulai menjadi sadar akan Allah yang hidup itu? Roh Kudus bekerja di dalam diri mereka; kehidupan mengalir kembali ke dalam “manusia batiniah” mereka.


JANJI ALLAH MEMBAWA SUKACITA

Mereka yang mengalami kuasa Allah memiliki sukacita di dalam roh mereka. Ada binar–binar di mata, keyakinan dalam langkah dan rasa memiliki tujuan dalam kehidupan mereka. Kita melihat hal ini pada mereka yang akan menikah. Bagi mereka setiap hari diisi dengan harapan dan sukacita. Pasangan yang sudah lama menikah cenderung melupakan kenangan yang indah ini, yang telah tertutup oleh debu waktu.

Apabila Anda mengalami kuasa Allah, langkah-langkah Anda terasa ringan dan mata Anda berseri-seri—bahkan lebih daripada ketika Anda menikah! Allah dapat memberi sukacita yang jauh lebih besar daripada pernikahan, jadi Anda tidak perlu khawatir jika Anda masih lajang!

Harapan membawa sukacita (Rm 12:12). Saya tersenyum ketika saya berpikir tentang Abraham dan Sara. Dapatkah Anda membayangkan Sara mengandung pada usia sembilan puluh tahun? Jika Anda merasa sudah tua, Anda masih muda jika dibandingkan dengan Sara. Ya, pada usia sembilan puluh ia terlihat semakin besar dengan kandungannya! Tepat seperti yang dijanjikan Allah kepada Abraham, kehidupan memancar di dalam tubuh yang “sudah mati”, dan akan segera menjadi berkat bagi banyak bangsa. Abraham menatap ke arah Sara, dan hari demi hari Sara mendekati hari penggenapan. Allah membawa sukacita yang luar biasa dalam hidup mereka!

Kita dapat membayangkan Abraham berkata, “Allah benar–benar nyata! Dalam usiaku yang seratus tahun ini, aku belum ada anak yang membawa namaku. Namun, suatu hari Allah berkata kepadaku, ‘Abraham, tahun depan engkau akan memiliki anak laki–laki.’ Aku tertawa karena Allah sangat humoris. Bayangkan, memiliki anak pada usia seratus tahun!” Itulah tawa kebahagiaan. Abraham tertawa (17:17) bukan karena ia meragukan Allah, tetapi karena ia memandang Allah sangat humoris; Ia memilih usia seratus tahun untuk memberi Abraham anak yang dijanjikan-Nya!

Tentu saja, Allah tidak melakukan keajaiban ini demi humor. Namun, melakukan hal yang mustahil merupakan ciri pekerjaan-Nya. Dengan melakukan hal yang mustahil, Ia mengesahkan bahwa hal itu adalah pekerjaan-Nya karena hanya Dia yang mampu melakukannya. Ini sangat penting karena karakter manusia yang tidak mudah percaya. Apa yang saya maksudkan? Mari kita lihat kasus Abraham. Allah memberi dia janji, tetapi jika Ia memenuhi janji-Nya terlalu awal, apakah Abraham akan yakin bahwa hal itu merupakan pekerjaan Allah, dan bukan sekadar kejadian alami?

Anggaplah Sara melahirkan ketika berusia enam puluh tahun. Itu nyaris mustahil, tetapi masih mungkin… pada usia tujuh puluh akan dianggap agak mustahil; dan pada usia delapan puluh secara mutlak mustahil. Pada usia sembilan puluh, hanya sedikit wanita yang bahkan hidup sampai setua itu, jadi kemutlakannya begitu mutlak sehingga sama sekali tidak ada lagi sedikit pun bayangan keraguan. Hanya setelah sampai tahap ini, Allah siap bertindak.


KEBANGKITAN LAZARUS DARI KEMATIAN

Demikian pula dengan kasus Lazarus. Ketika Yesus diberitahu bahwa Lazarus sakit keras, Yesus tidak segera datang menyembuhkannya. Ia menunggu beberapa hari lagi. Hanya setelah Lazarus mati dan dikuburkan, barulah Yesus berangkat ke rumah Lazarus di Betania. Pada waktu Yesus sampai, Lazarus sudah empat hari dikubur (Yoh 11:17). Apa tujuan dari penundaan itu? Untuk “menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan” (Yoh 11:4). Dengan cara bagaimana Allah akan dimuliakan? Dengan melakukan hal yang mustahil— membangkitkan Lazarus dari kematian.

Menyembuhkan Lazarus tentu saja juga merupakan suatu mukjizat. Namun, mukjizat memberi hidup (“menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada”, Rm 4:17) dan kebangkitan (“menghidupkan orang mati”, Rm 4:17) merupakan hal–hal yang dapat digambarkan sebagai memiliki karakteristik dan tanda unik dari karya Allah. Itu seolah-olah adalah tandatangan-Nya.

Penundaan Yesus direncanakan untuk menguatkan iman murid–muridnya. Yesus berkata dengan terus terang kepada mereka, “supaya kamu dapat belajar percaya” (Yoh 11:15). 

Kita perlu mengingat hal ini kapanpun kita mendapati diri kita berada dalam kesulitan. Keadaan menjadi semakin sulit dan masih belum ada tanda–tanda adanya pertolongan dari Dia. Namun, apabila situasinya menjadi mustahil, Ia akan bertindak. Dengan demikian, tidak ada keraguan lagi bahwa Ia-lah yang melakukannya; dan pekerjaan-Nya membawa sukacita serta ucapan syukur yang besar.

Allah sedang mengerjakan suatu pekerjaan besar di antara kita. Ia akan membangkitkan tubuh kita pada hari kebangkitan nanti. Namun, pada masa sekarang ini, kita sudah mengalami kuasa kebangkitan-Nya bekerja dalam diri kita di tingkat rohani.


APAKAH KEHIDUPAN KITA MEMBAWA PESAN KEBANGKITAN?

Sudahkah kita membiarkan Allah mengubah kita sehingga kita memiliki kualitas seperti Abraham dalam hidup kita? Lihatlah rata–rata orang Kristen sekarang ini. Apakah Anda melihat binar–binar di mata dan langkah-langkah ringan di kaki mereka? Kalau tidak, bagaimana mungkin kita dapat membangkitkan hasrat orang lain untuk mengenal Kristus? Pikirkanlah tentang Abraham dan Sara, dan dampak yang mereka timbulkan pada masyarakat sekitarnya, dan bahkan pada seluruh dunia. Setiap orang akan berbicara tentang mereka: “Sudahkah engkau mendengar tentang wanita yang hamil pada usia sembilan puluh? Ia dan suaminya bersemangat seperti sepasang remaja!”

Nenek saya hidup sampai usia sembilan puluh tahun. Apakah matanya berseri-seri, atau langkah-langkah kakinya ringan? Secara umum, pikirannya masih tajam dan agak sehat pada usia setua itu, tetapi penglihatannya sudah pudar dan tubuhnya lemah. Sekarang bayangkan seorang wanita yang akan melahirkan pada usia tersebut. Hal ini belum pernah terjadi dalam sejarah dunia! Seluruh bangsa, bahkan seluruh dunia, akan mencatat peristiwa itu. Dapatkah kita melihat signifikansinya? Itu berarti Abraham dan Sara telah menjadi sebuah tanda bagi dunia—tanda kebangkitan—yang menyatakan bahwa Allah adalah Allah yang mendatangkan hidup dari dalam maut.

Setiap Kristen harus menjadi tanda kebangkitan kepada dunia. Hal itu mustahil kecuali kita mengalami kuasa kebangkitan Allah di dalam hidup kita. Orang–orang di sekitar kita akan bertanya, “Harapan dan sukacita apa ini yang ada di dalam hidupmu?” “Siap sedialah untuk memberi jawaban kepada siapa pun yang menuntutmu mengenai pengharapan yang kamu miliki” (1Ptr 3:15).

Banyak orang pasti akan membanjiri Abraham dan Sara dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kehamilan Sara. Abraham dan Sara, dalam memberikan kesaksian mereka, memberitakan Injil kepada generasi mereka. Adakah sesuatu di dalam hidup kita yang menarik perhatian orang lain?

Sudahkah kuasa Allah menyentuh hidup Anda dan menjadikan Anda berbeda? Pernahkah orang lain berkata kepada Anda, “Ada sesuatu yang luar biasa dalam hidupmu”? Jika rekan-rekan atau sahabat-sahabat Anda tidak menanyakan hal itu, Anda berada dalam masalah. Karena pertanyaan yang dapat ditanyakan adalah, “Apakah Allah sudah melakukan sesuatu dalam hidupmu?” Jika kita tidak mengalami kuasa kebangkitan itu di sini dan pada masa kini, lalu apa yang membuat kita begitu yakin bahwa Allah akan membangkitkan kita dari antara orang mati pada Hari itu?

Bilamana Paulus berbicara tentang kebangkitan kita bersama-sama dengan Kristus, ia sering menggunakan kalimat bentuk lampau (past tense) untuk menekankan bahwa hal itu sudah menjadi kenyataan dalam hidup kita (Ef 2:6; Kol 2:12; 3:1). Siapa yang mendapat pujian dan kemuliaan? Segala pujian bagi Allah. Tidak ada orang yang memuji Abraham dan Sara atas mukjizat dalam kehidupan mereka ini, karena hanya kuasa Allah yang dapat melakukannya.


MENYALURKAN KUASA KEBANGKITAN ALLAH KEPADA ORANG LAIN

Pokok yang berikut tentang iman yang berkaitan dengan kebangkitan adalah: kebangkitan bukan saja kenyataan yang kita alami, tetapi sesuatu yang kita salurkan kepada orang lain. Jika kita tidak menjadi saluran kuasa kebangkitan Allah, yaitu hidup baru yang kita miliki dalam Kristus, iman kita cacat. Janji Allah tidak diberikan kepada kita untuk memuaskan keegoisan kita. Kita bukanlah tujuan akhir itu sendiri, tetapi  suatu salur keselamatan bagi orang lain. Allah memberi janji kepada Abraham bukan saja demi kepentingan Abraham, tetapi supaya segala bangsa akan diberkati melalui Abraham (Kej 22:18).

Kita tidak hidup bagi diri kita sendiri, kita juga tidak mati bagi diri sendiri.

“Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2Kor 5:15).

Jika kita hidup untuk diri kita sendiri, maka sejauh yang dijelaskan dalam Alkitab, kita adalah orang Kristen sebatas nama saja. Kita masih belum mengalami kemerdekaan dari dosa dan ego. Jika kita tidak peduli tentang menjadi saluran berkat kepada orang lain, kita belum memahami apa-apa tentang menjadi orang Kristen menurut pengertian yang alkitabiah.

Kuasa kebangkitan Allah mengubah seluruh fokus dari hidup kita; keasyikan yang egosentris dengan “aku, aku dan aku…” ditransformasi menjadi suatu kepedulian bagi orang lain.

Pada hari itu, saat kita berdiri di hadapan-Nya, adakah orang yang akan berkata kepada kita, “Puji Tuhan karena pada hari saya bertemu engkau, engkau telah menjadi saluran berkat kepada saya”? Atau, akankah kita meninggalkan dunia ini tanpa menjadi berkat kepada siapa pun? Jika kita hidup bagi diri kita sendiri, keberadaan kita tidak akan membawa perbedaan kepada siapa pun. Dan akhirnya, tidak membawa perbedaan bahkan bagi diri kita sendiri.

tetapi orang yang minum dari air yang kuberikan kepadanya takkan pernah haus lagi; melainkan air yang kuberikan kepadanya itu akan menjadi mata air di dalam dirinya yang akan terus memancar sampai kepada hidup yang kekal. (Yoh 4:14)

Orang yang percaya kepadaku, seperti yang dikatakan Kitab Suci, dari dalam dirinya akan mengalir aliran air hidup. (Yoh 7:38)

Walaupun kelihatannya terlalu menakjubkan, Allah dapat melakukan pekerjaan yang luar biasa ini di dalam hidup kita sehingga bangsa–bangsa di bumi dapat diberkati melalui kita. Tidak ada yang mustahil jika, seperti Abraham, kita juga percaya kepada Allah untuk menggenapi janji-Nya melalui kita. Pesan tentang kebangkitan, dengan demikian, bukanlah sekadar sebuah janji bagi kita, tetapi juga menugaskan kita untuk menyalurkan hidup-Nya kepada dunia.

 

Berikan Komentar Anda: