Pastor Boo | Kematian Kristus (5) |

Mari kita baca ayat di dalam Matius 26:27-28

27 Sesudah itu ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini.  28 Sebab inilah darahku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.

Kata kunci dalam ayat ini adalah ‘darah perjanjian’. Darahku, darah perjanjian. Perjanjian apakah ini? Memang benar bahwa Allah menetapkan perjanjian antara Dia dengan kita melalui darah Krisuts. Namun, perhatikan kata-katanya lagi; yang dibahas bukan saja kematian Yesus di sini; ungkapan ‘darahku’ tidak sekedar menunjukkan kematiannya. Ungkapan itu juga mengacu pada kehidupannya. Sebagaimana yang sudah saya tunjukkan dari Imamat 17:11-14, kata darah mengacu pada kehidupan. Jadi, di dalam ayat ini, Yesus sedang mengatakan, “Kehidupanku di dalam perjanjian.”

Dengan kata lain, jika anda ditanyakan apa isi perjanjian yang Allah tetapkan bagi anda dan saya? Kehidupan Kristus itulah perjanjiannya. Bukan sekedar kematiannya, tetapi seluruh isi hidupnya itulah yang menjadi pokok perjanjian dengan Allah.


PERJANJIAN PERNIKAHAN

Cara yang paling mudah untuk memahami konsep perjanjian di zaman sekarang adalah dengan melihat pernikahan. Ini karena pernikahan memang merupakan perjanjian. Akad nikah, secara ringkas, merupakan ikatan perjanjian antara dua pihak, yakni seorang pria dan wanita untuk saling setia sampai mati. Ini berarti entah bagaimanapun keadaan pasangan anda, anda berdua akan setia sampai mati. Harta milik, usia, kesehatan dan penyakit, semua yang terjadi pada diri pasangan tidak mengubah kesetiaan di antara keduanya. Itulah makna perjanjian. Seperti itulah ikatan sumpah yang diikrarkan oleh pasangan pengantin. Pihak suami memastikan bahwa pihak istri akan selalu aman bersamanya, walaupun harus mengorbankan nyawa demi keselamatan pihak istri. Itulah yang disebut ikatan perjanjian.

Itu sebabnya kasus perzinahan disebut pelanggaran terhadap perjanjian karena adanya ketidaksetiaan. Sekalipun ikatan pernikahan merupakan contoh yang bagus untuk menggambarkan perjanjian ini, tetapi perjanjian rohani antara kita dengan Allah masih ada perbedaannya. Apakah perbedaannya? Masyarakat Timur Tengah di zaman dahulu, jika ada dua pihak yang membuat perjanjian bisnis, mereka akan membuat ikrar yang mengikat keduanya. Ikrar ini bersifat sementara. Begitu pekerjaan sudah diselesaikan, maka ikatan kontrak juga berakhir, dan anda bebas dari perjanjian tersebut.

Akan tetapi, ikatan perjanjian dengan Allah bersifat kekal, hal yang diharapkan juga dalam ikatan nikah. Namun, kefanaan ikatan nikah ditentukan oleh kematian. Di sisi lain, cakupan ikatan nikah meliputi segenap keberadaan diri anda, hal yang mirip dengan ikatan perjanjian dengan Allah. Perbedaannya adalah, ikatan antar manusia, seperti semua hal yang dibuat oleh manusia, tidak ada yang sempurna. Ada pasangan yang bertahan dalam waktu lama, tetapi kasih di antara mereka sudah lama hilang. Pernikahan hanya menjadi topeng, tidak lagi mengandung hubungan yang bermakna. Sangatlah sukar menemukan hubungan jangka panjang yang tetap berisi komitmen penuh. Hubungan semacam itu tergolong langka.

Anda akan melihat di sini bahwa di saat kita melihat isi perjanjian dengan Allah, ikrar itu bersifat permanen, dan ikrar itu juga meliputi segenap keberadaan diri kita. Dengan kata lain, segenap keberadaan saya diserahkan kepada Allah, dan Allah memberikan segenap keberadaan-Nya kepada kita, dan Dia selalu setia dan tak pernah gagal. Jika anda renungkan, ini jelas pengaturan yang indah, bukankah demikian? Akan tetapi, seperti yang sudah diungkapkan dalam Kitab Suci, perjanjian Allah sering batal dan terputus, dan kesalahannya berada di pundak kita. Namun, kesetiaan Allah bersifat kekal. Di dalam kasih-Nya, Dia memanggil kita untuk kembali melalui pertobatan dan komitmen kepada-Nya.


PERJANJIAN ANTARA YANG KUAT DAN YANG LEMAH

Perjanjian antara Allah dengan kita bukanlah bentuk perjanjian antara dua pihak yang setara. Sama seperti wujud perjanjian zaman dulu antara kerajaan yang kuat dengan kerajaan taklukan, pihak yang kuat akan menetapkan persyaratan. Pihak yang lemah akan menuruti persyaratan tersebut serta menikmati perlindungan dan pertolongan dari pihak yang kuat. Perbedaan yang menyolok dengan jenis perjanjian semacam ini adalah sifatnya yang murni kontraktual, tidak ada kasih dan persahabatan di sana. Sebagaimana yang bisa kita lihat, perjanjian dengan Allah dilandasi oleh kasih, kemurahan, kesetiaan dan kebaikan-Nya. Ini adalah perjanjian di mana kita sebenarnya tidak punya apapun yang bisa kita tawarkan kepada Allah, selain keberadaan, hati, jiwa, pikiran dan kekuatan kita. Dari dalam kemurahan dan kasih karunia-Nya, Dia menerima kita masuk ke dalam bimbingan-Nya, dan berikrar untuk merawat kita.

Ketika Yesus menyebutkan tentang ‘darah perjanjian’, ungkapan ini berasal dari Perjanjian Lama, dan hanya terdapat di dalam Keluaran pasal 24. Sesudah Allah membebaskan bangsa Irael dari Mesir, bangsa Israel lalu masuk ke dalam perjanjian dengan Allah. Musa menyampaikan semua firman Yahweh kepada Israel.

3 Lalu datanglah Musa dan memberitahukan kepada bangsa itu segala firman TUHAN dan segala peraturan itu, maka seluruh bangsa itu menjawab serentak: “Segala firman yang telah diucapkan TUHAN itu, akan kami lakukan.”  4 Lalu Musa menuliskan segala firman TUHAN itu. Keesokan harinya pagi-pagi didirikannyalah mezbah di kaki gunung itu, dengan dua belas tugu sesuai dengan kedua belas suku Israel.  5 Kemudian disuruhnyalah orang-orang muda dari bangsa Israel, maka mereka mempersembahkan korban bakaran dan menyembelih lembu-lembu jantan sebagai korban keselamatan kepada TUHAN. 6 Sesudah itu Musa mengambil sebagian dari darah itu, lalu ditaruhnya ke dalam pasu, sebagian lagi dari darah itu disiramkannya pada mezbah itu.  7 Diambilnyalah kitab perjanjian itu, lalu dibacakannya dengan didengar oleh bangsa itu dan mereka berkata: “Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan.”

Demikianlah, dua kali bangsa ini menyatakan ikrarnya.

8 Kemudian Musa mengambil darah itu dan menyiramkannya pada bangsa itu serta berkata: “Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini.”

Setelah Musa menyampaikan semua perintah dari Hukum Taurat kepada bangsa Israel, dia lalu memercikkan darah anak lembu dan kambing …

19 Sebab sesudah Musa memberitahukan semua perintah hukum Taurat kepada seluruh umat, ia mengambil darah anak lembu dan darah domba jantan serta air, dan bulu merah dan hisop, lalu memerciki kitab itu sendiri dan seluruh umat,  20 sambil berkata: “Inilah darah perjanjian yang ditetapkan Allah bagi kamu.” (Ibrani 9:19-20)

Di ayat ini kita melihat istilah ‘darah perjanjian’, tetapi ketika Yesus mengedarkan cawan kepada murid-muridnya, dia berkata, “Darahku.” Dengan kata lain, kita tidak sedang berbicara tentang persembahan hewan kurban, yang kita bahas di sini adalah hidup Yesus. Di sini ada kemiripan sekaligus perbedaan juga. Kita tidak berbicara tentang anak lembu, lembu jantan atau kambing domba di sini. Yang kita bicarakan adalah Yesus sendiri. Darahnya adalah darah perjanjian.

Di sini anda melihat satu hal lagi: Apa itu perjanjian di dalam Keluaran 24? Isinya dituliskan dalam sebuah kitab oleh Musa, semua firman dan ketentuan dari Yahweh, lalu Musa memercikkan darah hewan korban ke atasnya, dan juga ke arah rakyat. Mereka memasuki perjanjian dengan Yahweh melalui ikrar yang mereka ucapkan serentak berkaitan dengan firman-Nya. Di dalam Keluaran 24:7, kitab itu berisi perjanjian. Akan tetapi, surat Ibrani dan kitab-kitab di dalam Perjanjian Baru memberitahu kita bahwa Israel telah gagal memenuhi Hukum Taurat. Mengapa? Karena kuasa dosa masih bekerja dengan kuat di dalam diri mereka.

Anda bisa saja membuat ikrar, hal ini terjadi pada mereka yang melangsungkan pernikahan. Mulanya mereka terlihat berbahagia dan saling menyayangi. Kemudian mereka membuat ikatan janji saling setia. Selanjutnya apa yang terjadi? Bertahun-tahun kemudian mereka sudah bosan. Di dalam beberapa kasus, waktunya hanya dua tahun. Lalu mereka mulai mencari selingkuhan. Ikatan perjanjian batal dengan sendirinya karena sudah diputuskan. Anda lihat persoalannya di sini. Sekalipun Israel bersedia untuk taat, tetapi hanya dalam waktu sebentar saja mereka sudah gagal. Ini sebabnya Perjanjian Baru lebih baik daripada Perjanjian Lama karena dilibatkannya perubahan di dalam hati kita. Puji syukur kepada Yesus! Mari kita lihat Ibrani 9:22

Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.

Penulis kitab Ibrani membahas tentang isi Perjanjian Lama, mengenai tabernakel dan upacara persembahannya. Dengan pencurahan darah hewan korban, turunlah pengampunan dari Allah. Namun, sebagaimana yang sudah kita lihat, pengampunan saja tidaklah cukup; harus ada pembebasan. Karena kita akan terus melakukan dosa, dan pengampunan harus selalu dimohonkan. Ini sebabnya mengapa mereka yang menjadi pengajar akan menemukan orang-orang semacam ini, yang terus saja melakukan kesalahan yang sama. Anda coba memperbaiki mereka, tetapi mereka tetap melakukan hal yang sama. Ada saatnya ketika anda akan berkata, “Kamu tidak mau belajar. Saya sudah berusaha memperbaiki kamu. Namun, kamu terus saja berbuat sama.” Nah, jika latihannya menyangkut satu jenis keahlian, mungkin kita masih bisa melakukan perbaikan jika orang yang belajar memiliki ketekunan yang cukup. Akan tetapi, jika menyangkut masalah dosa, kita memang tidak bisa membuat perbaikan. Kita dapat saja menyembunyikannya, tetapi kita tidak dapat mengubahnya; itulah isi hidup kita. Kita tahu pepatah yang mengatakan, “Macan tutul tidak dapat mengubah belangnya.” Bagi seekor harimau, loreng-loreng di tubuhnya bersifat permanen. Tak seorangpun dari kita yang dapat mengubah kepribadian kita, tetapi dengan adanya Perjanjian Baru, hal itu menjadi mungkin!

Hal pertama yang dilakukan oleh Yahweh – jika dikaitkan dengan isi perjanjian – tertulis di dalam Kisah pasal 3. Di bagian ini, Petrus berbicara kepada bangsa Israel

25 Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyang kita, ketika Ia berfirman kepada Abraham: Oleh keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati26 Dan bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu (dengan cara bagaimana?) dengan memimpin kamu masing-masing kembali dari segala kejahatanmu.”

Berkat dari Allah di dalam Perjanjian ini adalah pimpinan yang mengubah kita! Di dalam Roma 11:26-27, kita melihat hal yang sama:

26 Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: “Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub.  27 Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka.”

Dalam rangka menegakkan hubungan yang serius dengan kita, hal pertama yang dilakukan oleh Allah adalah menyingkirkan dosa-dosa kita. Dia harus mematahkan kuasa dosa di dalam hidup kita. Begitu anda mulai mengalami Allah, khususnya kuasa Allah di dalam hidup anda, maka anda akan mengetahui kebenaran.


HATI YANG LAIN DAN ROH YANG BARU

Nah, di dalam perjanjian yang baru ini, hal apakah yang dilakukan oleh Allah melalui kematian dan kebangkitan Yesus? Mari kita Yehezkiel 11:19-20

19 Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat,  20 supaya mereka hidup menurut segala ketetapan-Ku dan peraturan-peraturan-K dengan setia; maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka.

Perhatikan ungkapan “Aku akan memberikan mereka hati yang lain (one heart – satu hati).” Karena di dalam perjanjian itu, yang diutamakan bukan sekedar kesatuan dengan Allah, melainkan kesatuan satu dengan yang lain, dalam satu hati. Itu sebabnya disebutkan, “Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras.” Jika anda masih belum memahaminya, maka di Yehezkiel 36:26-27 hal itu diulangi lagi

26 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.  27 Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.

Sekarang kita tahu mengapa Israel gagal menaati sekalipun mereka ingin melakukannya. Hati yang keras, ini masalahnya. Itulah sebabnya, saat anda masuk mengalami Perjanjian yang Baru, yang diberikan bukan sekedar hati yang menyatu, tetapi juga hati yang baru. Jika Allah memberi kita hati yang baru, maka hati yang baru ini membawa saya untuk merangkul semua orang, bukan hanya Allah. Saya merangkul semua orang supaya terwujud hati yang menyatu.

Hal ini akan menjadi mustahil selama hati yang keras masih di dalam diri kita. Jika anda tanyakan, “Apa itu hati yang keras?” Sangatlah mudah menjawab pertanyaan ini. Yang menjadi pokok persoalan bukan apakah saya ini pembunuh atau pencuri. Bukan itu yang menjadi pokok utamanya. Hati yang keras artinya adalah hati yang tidak peduli dan tidak menghargai perkara-perkara rohani. Anda bisa perhatikan ketika Yesus menangani murid-muridnya, dia sering berkata, “Mengapa hatimu begitu keras?” Itu karena hati mereka dipenuhi oleh urusan duniawi, hal-hal materi. Jika kita tidak punya selera pada hal-hal rohani, dan tidak mencari pemahaman akan hal-hal yang berasal dari Allah, maka kita menjadi bebal dan tak dapat mendengarkan hal yang disampaikan oleh Allah kepada kita.

Saat saya menyaksikan berita tentang virus corona, beberapa orang China berpandangan bahwa virus ini adalah peringatan dari alam. Ada pesan dari alam melalui virus ini: “Mungkin karena keserakahan kita, maka bencana ini datang menimpa kita.” Nah, setidaknya ada sebagian orang yang berusaha mendengarkan. Masih ada orang yang ingin mencari tahu mengapa bencana ini datang. Ada orang lain yang berspekulasi bahwa virus ini adalah senjata biologi yang sedang  dikembangkan oleh pemerintah, dan tanpa sengaja menyebar keluar dari laboratorium. Akan tetapi, hal ini masih merupakan spekulasi.

Bukankah lebih penting mencari pelajaran dari bencana ini? Orang yang berusaha memahami pelajaran dari bencana ini lebih benar: ada pelajaran dari alam oleh bencana ini. Jika anda melihat dari sudut pandang Allah, setiap kali anda melihat adanya bencana yang menimpa umat manusia, akan selalu ada pesan dari alam untuk hal tersebut. Pertanyaannya adalah: “Apakah kita mau mendengarkan?” Demikianlah, memiliki hati yang keras bukan berarti kita merupakan orang jahat yang selalu berbuat jahat terhadap orang lain. Bukan itu masalahnya. Yang menjadi masalah adalah kurangnya kepekaan kita terhadap Allah. Itu sebabnya Allah perlu menyingkirkan hati yang keras ini. Hati yang keras tidak sensitif. Anda boleh mencoba untuk menusukkan jarum ke dalam batu, dan jarum itu akan patah. Namun,, sekarang Allah telah memberi hati yang peka dalam diri anda, hati yang baru ini sangat peka terhadap suara dari Allah. Ini adalah hal yang boleh anda minta kepada Allah. Anda ingin mengalami apa artinya melangkah bersama dengan Allah. Apa artinya mengenal Dia? Nah, tanyakan saja pada Dia. “Tuhanku, saya memiliki hati yang keras. Singkirkanlah hati yang keras ini dan berilah saya hati yang peka kepada-Mu. Berilah saya hati yang ingin menjalankan kehendak-Mu.” Nah! Allah sangat senang dengan permohonan yang semacam ini.

Sekarang anda mengerti mengapa saya berbicara tentang “darah perjanjian”. Kita perlu memahami kehidupan Kristus untuk mendapatkan pemahaman tentang prinsip kerjanya. Yesus sangat peka kepada Bapa. Dia selalu tunduk kepada kehendak-Nya. Di dalam perjanjian yang baru ini, dia ingin membuat anda dan saya menjadi selaras dengan gambaran anak-Nya, untuk menjadi sama dengan Yesus. Mulai dari peristiwa baptisan, kita ditentukan untuk menjadi serupa dengan Yesus. Mengapa? Karena Yesus adalah pribadi yang tahu apa artinya memiliki hubungan akrab dengan Allah.


KEAKRABAN ANTARA BAPA DAN ANAK

Seberapa akrab hubungan itu? Mari kita lihat Matius 11

25 Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.  26 Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.  27 Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Seberapa akrab hubungannya dengan Yahweh? Yesus sendiri berkata, “Tak ada yang mengenal Bapa selain anak.” Pertanyaan yang muncul adalah: Siapa yang disebut dengan istilah ‘tak ada’? Istilah ‘tak ada’ ini memang memiliki makna harafiah, bahkan Musa tidak bisa dikecualikan dari sini. Kita berbicara tentang hubungan yang akrab dengan Allah. Musa adalah pribadi yang memiliki hubungan paling dekat dengan Allah di dalam sejarah Perjanjian Lama. Bahkan, Kitab Suci berkata, “Yahweh berbicara dengan Musa, muka dengan muka” (Keluaran 33:11). Berikutnya, di Bilangan 12:8, dikatakan, “Dengan dia, Aku berbicara mulut ke mulut, jelas, dan tidak menggunakan maksud yang tersembunyi.” Akan tetapi, keakraban Yesus dengan Bapa jauh melampaui itu. Sedemikian akrabnya sehingga rasul Yohanes dapat berkata bahwa Yesus ada di dalam pangkuan Bapa. Musa bisa berbicara muka dengan muka dan mulut ke mulut, tetapi Yesus malah ada di dalam pangkuan Bapa. Dia bisa merasakan perasaan dan detak jantung Bapa. Sedekat itulah keakrabannya dengan Bapa.

Kita melihat pernyataan, “Tak ada yang mengenal Bapa selain anak.” Sekarang perhatikan ungkapan, “Orang yang kepadanya anak itu berkenan menyatakannya.” Ini adalah ayat yang penting karena memberitahu kita bahwa di dalam Perjanjian Baru terdapat peluang yang indah. Sama seperti Yesus, kita juga bisa duduk di pangkuan Bapa. Cobalah untuk memahami betapa dalam dan mulia peluang ini. Jika anda bayangkan Perjanjian Lama, berikut para nabinya, bahkan sampai ke Yohanes Pembaptis, mereka adalah orang-orang yang akrab dengan Allah sehingga mereka bisa mendengar suara Allah berbicara kepada mereka. Mereka dapat melihat hal-hal rohani, bahkan takhta Allah, sebagaimana yang disampaikan oleh Yesaya. Mereka yang menjadi bagian dari Perjanjian Baru diberi kesempatan untuk mencapai itu semua. Begitu Allah sudah menyingkirkan hati yang keras, anda dan saya akan mendapat kesempatan untuk mengenal Dia di dalam keakraban yang paling hangat.

Pada zaman gereja modern sekarang ini, kita bahkan mengalami kesulitan untuk menemukan orang yang bisa dibandingkan dengan nabi Yunus. Banyak orang akan membantah, “Wah, Yunus bukan contoh yang bagus. Dia bukan nabi yang taat.” Namun, setidaknya dia masih bisa mendengarkan suara Allah. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Setidaknya, Allah masih bisa memakai dia dan menyuruh dia untuk datang ke sebuah kota. Dia tahu bahwa Allah menyuruh dia untuk pergi ke sebuah kota. Akan tetapi, kita sebagai orang Kristen bahkan tidak tahu apa yang Allah inginkan dari kita. Tidak ada keakraban dengan Allah. Mengapa? Saya rasa karena hati yang keras itu masih ada di dalam diri kita, sama seperti para murid yang masih dalam proses belajar, di tahap awal pelayanan Yesus. Hati yang keras itu harus disingkirkan dari diri kita. Dibutuhkan peristiwa kebangkitan Yesus, di mana dia datang dan menegur mereka akan kekerasan hati mereka dan juga ketidakpercayaan mereka. Hanya melalui peristiwa kebangkitan itu, barulah hati mereka yang keras bisa disingkirkan.

Saya rasa inilah pelajaran yang harus dipahami oleh anda dan saya. Tidak ada pengecualian di sini. Setiap orang yang ingin masuk ke dalam hidup yang baru, ke dalam Perjanjian yang baru dengan Allah, semua akan mengalami proses yang sama. Sekarang ini, Allah sedang menangani hati kita.

Jika saya menyebut tentang perjanjian yang baru, maka perjanjian itu memang benar-benar baru. Yang lama harus berlalu; watak dan sikap hati yang lama, yang membuat kita tidak peka terhadap Allah, harus berlalu. Mari kita lihat konteksnya di dalam Matius 11:21-24

21 “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. 22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.  23 Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini.  24 Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.”

Di dalam pelayanannya, Yesus menunjukkan banyak mujizat. Dan dia juga mengajarkan firman Allah. Akan tetapi, tidak seorang pun dari bangsa Israel yang memahami pentingnya semua yang sudah disampaikan dan dijalankan oleh Yesus. Mereka semua buta. Mengapa mereka buta? Karena, segenap isi pikiran diisi oleh kebutuhan sehari-hari, oleh apa yang bisa dilakukan, oleh perkembangan karir dan profesi, oleh kebutuhan keluarga dan sebagainya, hal-hal yang dikuatirkan oleh manusia yang terikat dengan keduniawian. Sekalipun Yesus ada di sana, tak ada yang dapat memahami perkara rohani. Itu sebabnya mengapa Yesus mengatakan bahwa sekalipun penduduk Sodom dan Gomora dipandang jahat oleh masyarakat, ternyata masyarakat yang sejahat itu masih dipandang lebih baik daripada masyarakat zaman Yesus! Hal ini menegaskan betapa parahnya masalah kekerasan hati yang ada pada zaman Yesus. Harap diperhatikan bahwa kekerasan hati yang dibahas di sini tidak berkaitan dengan kejahatan seperti pembunuhan, pencurian dan penipuan. Yang dibicarakan adalah sikap hati kepada Allah.

Paulus merangkumnya (uraian dari Perjanjian Lama) di dalam 2 Korintus 3:2-3, di sini Paulus berkata

2 Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang.  3 Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.

Kemudian anda juga bisa lihat di dalam Ibrani 8:8-12, yang berbunyi:

8 Sebab Ia menegor mereka ketika Ia berkata: “Sesungguhnya, akan datang waktunya,” demikianlah firman Tuhan, “Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan dengan kaum Yehuda,  9 bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka, pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Sebab mereka tidak setia kepada perjanjian-Ku, dan Aku menolak mereka,” demikian firman Tuhan.  10 “Maka inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu,” demikianlah firman Tuhan. “Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. 11 Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku.  12 Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.”


YAHWEH MENARUH TAURATNYA DI DALAM HATI DAN PIKIRAN KITA

Di sini ada tiga unsur yang perlu diperhatikan. Lihatlah betapa pengampunan muncul terakhir. Lalu, apa yang harus terjadi dulu? Yang pertama harus dilakukan adalah bahwa Yahweh harus memasukkan Taurat-Nya ke dalam hati dan pikiran kita. Itulah hal pertama yang harus Dia wujudkan.


ANDA AKAN MENGENAL DIA

Sesudah itu, anda akan mulai mengenal Dia secara pribadi. Dimulai dari pengalaman paling kecil sampai yang paling mulia. Kita akan mulai mendapat pengalaman dari Yahweh. Baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, keduanya menyatakan hal yang sama jika kita masuk di dalam perjanjian itu. Hati kita akan berubah ketika Yahweh mulai menuliskan hukum-hukum-Nya di dalam hati kita. Saat hati kita berubah, maka hasrat kita juga berubah. Kita tidak lagi mengidamkan hal-hal duniawi yang dikejar oleh masyarakat. Jika hukum-hukum itu sudah dituliskan di sana, tak ada hal lain lagi yang tersisa di sana. Kita hidup hanya oleh firman-Nya. Hati kita dibersihkan ketika Dia mulai menulis di sana (Yohanes 15:3). Kita hidup di dalam dunia yang penuh dengan kekuatiran dan ketidakpastian, jadi, di dalam hati kita, selalu saja ada urusan yang membuat kita kuatir. Mengapa kita kita tidak datang saja kepada Yahweh dan mempercayakan semua urusan kepada-Nya? Biarkan saja Dia menuliskan firman-Nya ke dalam hati kita. Biarkan saja Dia yang menangani kekerasan di dalam hati kita, segala ketidak percayaan dan ketidaktulusan di dalam hati harus disingkirkan. Semakin kita merasa harus bisa mengatasi suatu masalah, semakin kita terikat dengan masalah tersebut. Akhirnya pikiran kita terjerat dalam lingkaran persoalan tersebut. Jika hal ini terjadi, maka anda akan mengabaikan Allah di dalam hidup anda. Kadang kala, anda merasa sudah mendapatkan jawabannya, dan anda lalu bertindak mencobanya. Kemudian anda gagal. Akhirnya anda harus memulai dari awal lagi. Demikianlah, anda terus berusaha sampai merasa sudah mendapatkan jawabannya. Akan tetapi, di mana sisi rohani dari usaha anda? Di mana kedudukan Allah dalam proses itu? Dia tidak mendapat tempat sama sekali. Itu sebabnya mengapa Yahweh perlu membuang hati yang keras serta menggantinya dengan hati yang baru, hati dari daging, yang peka akan firman-Nya. Lalu kita mulai belajar menjalani rintangan dengan mengandalkan firman-Nya. Hati dari daging bukan sekedar peka akan firman-Nya, ia juga gemar akan firman tersebut. Segenap arah hidup anda akan berubah.

Ketika saya mengalami Allah, arah hidup saya berubah, segenap tata nilai saya juga berubah. Saya heran bagaimana saya bisa berubah? Saya sudah berusaha dan selalu gagal. Nah, hal ini terkait dengan kuasa Allah. Allah mengubah saya. Sekarang saya selalu mengutamakan Allah di dalam pikiran dan tindakan saya, walaupun kadang-kadang saya menyimpang. Namun,, segenap pola pikirnya sudah mengarah kepada Dia. Saya harus kembali kepada-Nya. Anda dapat merasakan tarikan dari Firman Allah. Yahweh memanggil saya kembali dan menarik hati saya kepada-Nya. Setiap kali saya datang kepada-Nya, Dia menuliskan hukum-hukum-Nya di dalam hati saya. Firman-Nya memberi pengungkapan, tantangan, motivasi dan kesegaran. Firman Allah memenuhi hati saya, apa yang anda ungkapkan dari dalam hati anda adalah hal-hal yang menguasai diri anda. Yahweh mengatakan di dalam surat Ibrani, “Aku akan menuliskan di dalam hati dan pikiranmu.” Ini berarti bahwa segenap hati dan pikiran mulai berubah. Kita lalu mulai merenungkan Firman Allah. Anda mulai berpikir mengikuti hikmat Allah. Anda tidak lagi mengikuti hikmat manusia. Anda sendiri tidak lagi mengandalkan hikmat pribadi, juga tidak mengandalkan pengalaman pribadi. Yang mulai anda pikirkan adalah kehendak Allah bagi diri anda, apa yang benar untuk dipikirkan dan dilakukan.


PENGAMPUNAN

Itu sebabnya sebagian orang bertanya, “Bagaimana saya bisa akrab dengan Allah?” Sangat sederhana. Biarkanlah Firman-Nya mengatur hidup anda. Semakin anda mentaatinya; semakin anda mengalami kuasa Allah dalam hidup anda. Saat anda mengalami hadirat-Nya; anda akan tahu bahwa anda sudah diampuni.

Anda dapat melihat tiga langkah tersebut, urutannya sanagt jelas. Semua sudah diuraikan dengan jelas; sudah dipaparkan bagi kita. Tidak perlu lagi menebak-nebak.

Renungkanlah hal ini, jadikanlah hal ini sebagai doa anda. Jika anda tidak tahu bagaimana menyampaikan doa anda, ungkapkanlah seperti ini:

“Tuhan Yahweh, tuliskanlah firmanMu di dalam hati saya. Saya tahu bahwa hati saya sangat keras. Saya tidak tahu apa yang harus dipikirkan dan dilakukan. Saya buta. Singkirkan lah hati yanhg keras ini dan saya bersedia untuk merelakannya.”

Begitu anda merelakannya, maka Dia akan segera mengubah hati anda. Semua itu bergantung pada diri anda sekarang, karena Allah tak pernah gagal. Ensiklopedia Standar Alkitab Internasional memberi uraian berikut tentang “perjanjian”:

Memang lebih baik jika makna ‘covenant (perjanjian)’ dipertahankan. Pelaksanaannya biasanya dilakukan dengan menggunakan hewan korban, yang pada umumnya, disembelih, seiring dengan dilakukannya perjanjian. Hewan korban melambangkan bahwa pikiran semua pihak yang terlibat dalam perjanjian tidak akan berubah karena kematian (yang dilambangkan oleh hewan korban) membuat pikiran tidak berubah lagi. Semua pihak yang terkai tidak mengalami perubahan pikiran lagi seeprti orang yang sudah mati.

Demikianlah, ketika Yesus mati, hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak akan pernah mengubah pikiran-Nya tentang kesetiaanNya kepada kita. Hal ini juga menandakan kematian saya dengan Yesus. Saya juga tidak akan berubah pikiran mengenai mengikuti Yahweh. Sekalipun kehidupan menjadi sukar, saya tidak akan berubah. Saya akan selalu setia kepada-Nya. Karena saya tahu bahwa Allah, di dalam kepribadian-Nya sendiri, memang tidak pernah berubah. Dan kitab Ibrani memberitahu kita bahwa Dia menegaskan ikrar-Nya dalam kematian Yesus. Tentu saja, itu semua menetapkan bahwa Dia tidak akan berubah. Dia akan selalu setia, dan Dia tak pernah gagal.

Itu sebabnya kita bersukacita akan satu hal ini. Setiap kali saya mengenang tugas penginjilan saya, sebelum Benjamin dilahirkan, kami selalu mengalami kesetiaan Allah setiap saat. Allah sungguh setia. Tak ada hal yang perlu dikuatirkan. Suatu hari, saya sedang berada di dalam bus umum. Di sana saya bertemu dengan seorang kenalan saya. Saya ceritakan padanya tentang pengalaman saya di Indonesia. Ada beberapa pengalaman yang saya sampaikan kepadanya. Dia berkata, “Wah, ternyata cukup berbahaya!” Saya menjawab, “Tidak ada masalah. Tuhan menyertai saya.” Dia sangat tersentuh dengan apa yang sudah Tuhan perbuat bagi saya. Lalu dia berkata, “Karena Allah sudah membuka jalan bagi anda di sana, maka anda perlu menunggu di hadapan Tuhan. Sangat mudah bagi kita untuk menangani langsung segala sesuatu yang kita hadapi. Kita cenderung melakukan apa yang kita mau. Dalam hal menantikan Tuhan, Roh Kudus akan membimbing anda. Dan pada saat Dia membimbing anda, anda akan tahu bahwa Dia sedang membimbing anda.” Saya bersyukur akan nasehatnya, karena saya termasuk orang yang cenderung tergesa-gesa. Ini adalah nasehat yang tepat waktu.

Masuklah ke dalam pengalaman akan Allah; Dia tak pernah gagal dalam kesetiaan-Nya. Jika anda setia kepada-Nya, maka Dia akan tetap setia kepada anda. Dan anda akan melihat satu hal lagi; saat anda berurusan dengan orang yang sukar berubah, tetapi anda tetap setia kepada Allah, maka Dia akan menghargai anda. Mereka yang terkait dengan anda akan mengalami kuasa Yahweh yang memberi perubahan juga. Ada kuasa yang bekerja di dalam pengenalan akan Allah. Dan Yesus mengalami hal ini setiap saat. Inilah darah perjanjianku. Dan darahnya mewakili kehidupan dan kematiannya. Demikianlah, kehidupan dan kematiannya menjadi tujuan yang memotivasi hidup kita. Kita belajar dari cara Yesus berpikir dan bertindak, dalam kegiatannya dengan Yahweh. Inilah pokok yang penting.

Saya harap anda dapat memahami pokok yang penting ini. Yesus sudah membuka jalan bagi kita. Jalan itu sekarang tersedia bagi anda dan saya. Akankah kita bersedia untuk masuk ke jalan yang menuju kepada Allah dan mengalami Dia? Perjanjian Baru memberitahu kita bahwa bahkan nabi-nabi Perjanjian Lama tidak mengalaminya, tetapi anda dapat mengalaminya! Mari kita bersama-sama datang kepada Yahweh, menurut jalan yang sudah ditetapkan di sini.

 

Berikan Komentar Anda: