Pastor Eric Chang | Matius 11:1-11 |

Hari ini, kita akan membahas ajaran Yesus di Matius 11:1-11.

Setelah Yesus selesai berpesan kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka. Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Yesus menjawab mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” Setelah murid-murid Yohanes pergi, mulailah Yesus berbicara kepada orang banyak itu tentang Yohanes: “Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian halus itu tempatnya di istana raja. Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi. Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar dari padanya.


Yohanes Pembaptis dipenjarakan karena menegur raja

Ada sesuatu hal yang sangat penting yang Yesus sampaikan kepada kita di sini. Kita melihat bahwa Yohanes Pembaptis sedang berada di dalam penjara. Dia berada di dalam penjara karena telah menegur raja yang mengambil istri saudaranya untuk diperistri. Ini adalah suatu tindakan yang sangat berani. Tindakan ini menunjukkan kepribadian Yohanes: dia tidak takut pada manusia. Dalam memberitakan Firman Allah, dia menjalankan kewajiban itu tanpa kenal takut. Menegur raja pada zaman itu adalah perkara hidup dan mati. Dan sekarang, Yohanes Pembaptis berada di dalam penjara, dan penjara pada masa itu adalah tempat yang sangat buruk. Saat itu jelas tidak ada televisi untuk ditonton seperti yang ada di dalam penjara masa kini. Tidak ada  makanan yang enak. Dan jika kondisi penjara tidak bagus, Anda tidak akan bisa melakukan aksi mogok atau protes atau memukuli sipir penjara. Di tempat beginilah Yohanes berada, di dalam penjara, menunggu saat-saat terakhirnya. Dan memang tidak lama setelah itu, dia dipenggal.


Yohanes berharap agar Mesias menghakimi dosa, tetapi Yesus malah menjadi sahabat orang-orang berdosa

Ketika dia duduk di dalam penjara, dia mendengar hal tentang Yesus dan apa yang Yesus kerjakan –  yaitu memberitakan Injil. Akan tetapi semua laporan yang dia terima dari murid-muridnya adalah tentang kebaikan dan kemurahan Yesus kepada orang-orang. Dia menyembuhkan orang yang sakit dan yang buta. Dan Yohanes Pembaptis mulai merasa tidak tenteram. Mengapa dia merasa tidak tenteram? Karena dia tidak membayangkan bahwa Mesias, Juruselamat dunia, akan mengerjakan hal-hal seperti ini. Anda tentu ingat jika Anda mengamati kembali khotbahnya di Matius pasal 3 dan Lukas pasal 3, di sana Yohanes berbicara bahwa Mesias yang akan datang itu akan membersihkan tempat pengirikan dengan api. Dia akan membakar debu jerami dengan api. Jika Anda amati khotbah Yohanes Pembaptis, Anda akan menyadari bahwa pusat perhatiannya adalah pada penghakiman, bukannya anugerah.

Pokok utama khotbah Yohanes adalah bahwa ketika Mesias datang, saat Juruselamat dunia datang, pada dasarnya dia akan menghakimi dan setelah menghakimi barulah datang waktu pengumpulan gandum. Intisari khotbah Yohanes Pembaptis adalah penghakiman. Akan tetapi Yohanes tidak melihat Yesus sedang menghakimi orang-orang. Dia tidak melihat api yang membakar debu jerami. Dia tidak melihat penghakiman atas dosa di Israel.

Yang dia lihat adalah Yesus yang mengerjakan hal-hal yang berbeda dengan yang dia kerjakan. Ketika sang raja berbuat dosa, Yohanes Pembaptislah yang maju menegur raja. Akan tetapi yang dia lihat Yesus justru menjadi sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Yohanes menjadi kebingungan. Mana penghakimannya? Yohanes Pembaptis merindukan datangnya penghakiman atas dosa. Semua nabi menghardik dosa. Tetapi Yesus malahan makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa. Kali ini Yohanes Pembaptis sangat bingung. Dia melihat Roh Kudus datang ke atas Yesus saat ia dibaptis. Dan Allah sudah berkata pada Yohanes Pembaptis bahwa jika ia melihat Roh Kudus turun pada seseorang, maka ia akan tahu bahwa orang itu adalah Mesias, Juruselamat dunia. Jadi Yohanes Pembaptis tahu, “Ya, aku telah melihat Roh turun ke atas Yesus. dialah Mesias, Juruselamat itu. Tetapi dia tidak berlaku sebagaimana seharusnya seorang Mesias berperilaku. Mesias, Juruselamat dunia, seharusnya menghancurkan dosa. Dia bukannya membinasakan para pendosa di Israel tapi ia malah bersahabat dengan mereka.

Ketika Yohanes Pembaptis berkhotbah di tepi sungai, orang-orang berdosa datang untuk bertobat. Dan Yohanes Pembaptis berbicara kepada mereka dengan bahasa yang paling keras. Dia berkata kepada mereka, “Jangan berpikir bahwa karena kamu adalah anak-anak Abraham, maka kedudukan itu akan menyelamatkan kamu. Kapak penghakiman Allah sudah disiapkan di akar pohon, dan dalam sekali ayun pohon itu akan tumbang. Allah akan membinasakan setiap orang berdosa yang tidak bertobat. Jangan mengira bahwa dengan datang kepadaku serta dibaptiskan maka kamu akan selamat. Tidak, aku mau melihat buah pertobatan muncul dari kehidupan kamu, yaitu, mulai sekarang kalian menjalani kehidupan yang kudus.”

Pokok yang penting adalah bahwa Yesus setuju bahwa semua yang diajarkan oleh Yohanes Pembaptis itu benar. Yesus berkata, “Yohanes Pembaptis adalah hamba Allah yang sejati. Segala yang dikatakannya itu berasal dari Allah.” Jika demikian, lantas mengapa Yesus menjadi sahabat orang berdosa? Hal itulah yang memusingkan kepala Yohanes Pembaptis. Dia tidak dapat memahaminya.

Kemudian, kita lihat di ayat 2 bahwa Yohanes mengutus murid-muridnya kepada Yesus dan menanyai dia,

“Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”

Ungkapan, ‘Dia yang akan datang itu’ adalah ungkapan yang sudah lazim di kalangan umat Yahudi untuk mengacu kepada Mesias. “Engkau atau orang lain lagikah yang Mesias itu?” Yohanes Pembaptis tidak mengatakan bahwa dia bukanlah Mesias. Namun di saat dia duduk di penjara, dia agak kebingungan. Dia sekadar bertanya kepada Yesus, “Tolonglah aku untuk memahami hal ini. Mengapa tindak-tandukmu tidak seperti apa yang kuharapkan?”


Penilaian Yohanes tentang Yesus terusik ketika Yesus ternyata tidak berlaku sesuai dengan harapannya

Sangatlah berbahaya jika kita menilai seseorang menurut pandangan kita sendiri. Sangatlah berbahaya jika saya menilai seorang manusia Allah menurut definisi saya sendiri tentang bagaimana seharusnya seorang manusia Allah itu! Manusia Allah hadir dalam berbagai bentuk dan ukurannya, berbagai macam kepribadian yang berbeda; perilaku mereka tidak seragam. Janganlah membandingkan satu dengan yang lainnya. Kita tidak boleh menilai manusia Allah menurut pamahaman kita sendiri.

Ada seorang manusia Allah yang besar di Liverpool, dari salah satu gereja Anglikan. Jika Anda berjumpa dengannya, saya pikir Anda mungkin akan sedikit kecewa dengan perilakunya karena Anda tidak terbiasa dengan perilakunya yang sangat tidak formal. Itulah kepribadiannya. Pada acara pernikahan, mungkin dia masih bercanda dengan mempelai pria di saat mempelai perempuan sudah melangkah masuk dan para pengunjung sedang hening. Dan Anda mungkin agak terganggu dengan perilaku semacam ini. Jika dia datang mengunjungi kami, misalnya, setelah berjabat tangan dengan kami, dia justru akan langsung duduk di lantai dan asyik bermain-main dengan anak perempuan kami. Anda mungkin berkata, “Mengapa pendeta ini malah duduk di lantai bermain-main dengan anak kecil?” Dan Anda merasa kecewa dengan perilakunya. Namun secara pribadi, saya melihat bahwa itu adalah hal yang indah, bahwa dia tidak terpaku pada tindak-tanduk yang kaku, dia bisa santai dengan anak-anak. Tetapi mungkin Anda menyimpan kesan bahwa tidak seharusnya pendeta berperilaku seperti itu. Lalu Anda tersinggung karenanya.


Yohanes masih belum mengerti tentang suatu aspek penting dalam pekerjaan Mesias

Dan inilah yang terjadi pada Yohanes Pembaptis. Belum apa-apa dia sudah membayangkan dulu seperti apa itu Mesias. Dan dia menemukan bahwa Yesus tampaknya tidak cocok dengan gambaran tersebut. Lalu dia mulai merasa kecewa dengan Yesus. Dari sini Anda dapat melihat bahwa orang besar semacam Yohanes Pembaptis juga memiliki kekurangan. Jangan mengira bahwa jika seseorang menjadi Kristen, maka orang itu sudah sempurna. Jika orang besar macam Yohanes Pembaptis juga punya kekurangan, maka berbelas kasihanlah pada orang Kristen yang lainnya juga. Bukan berarti ini merupakan pembelaan bagi orang Kristen. Tetapi sekadar agar kita menyadari fakta bahwa memang ada banyak hal yang belum mereka pahami. Dan hal yang belum dipahami oleh Yohanes Pembaptis adalah bahwa pemahamannya tentang Mesias sangat tidak memadai. Dia hanya memahami satu aspek dari pekerjaan Mesias. Dia belum memahami aspek lain yang lebih penting, atau paling tidak sama pentingnya, dari pekerjaan Mesias.

Murid-murid Yohanes Pembaptis datang kepada Yesus dan mengajukan pertanyaan Yohanes kepadanya. Apa jawaban Yesus kepada Yohanes? Apakah Yesus berkata, “Aku akan memberitahu kalian tentang apa yang diuraikan oleh Perjanjian Lama tentang bagaimana seharusnya Mesias bertindak”? Apakah dia berkata, “Yah, aku sangat kecewa dengan Yohanes Pembaptis. Aku mengharapkan hal yang lebih baik dari dia. Bagaimanapun juga, dia adalah seaorang hamba Allah yang besar. Dia seharusnya lebih tahu tentang ini”? Tidak ada hal semcam ini. Keindahan dari kepribadian Yesus terungkap. Yesus hanya berkata kepada para murid Yohanes, “Perhatikanlah hal-hal yang kukerjakan dan kembalilah kepada Yohanes dan sampaikan padanya tentang apa yang telah Anda lihat dengan mata kalian sendiri, orang buta memperoleh penglihatan mereka kembali, orang lumpuh berjalan, orang kusta ditahirkan, yang tuli mendengar dan bahkan orang mati dibangkitkan. Dan orang miskin, orang-orang yang tersisih dari Israel, mereka mendengarkan kabar baik.” Dan dia menambahkan satu kalimat lagi, “Berbahagialah mereka yang tidak tersandung karena-Ku.”


Yesus mengutip Yesaya untuk memberitahu Yohanes bahwa dia sedang menggenapi nubuatan tentang Mesias

Jika Anda amati apa yang Yesus katakan, Anda akan mendapati bahwa tidak ada satupun dari semua hal itu yang belum diketahui oleh Yohanes Pembaptis. Ketenaran dari apa yang Yesus kerjakan sudah menjangkau seluruh Israel. Setiap orang di Israel tahu bahwa Yesus menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati. Jadi Yesus tidak menyampaikan kepada Yohanes tentang hal-hal yang belum diketahuinya. Lalu mengapa? Karena Yesus tahu, bahwa saat Yohanes Pembaptis mendengarkan pesan tersebut, maka dia akan mengerti.

Hal apakah yang akan dipahami oleh Yohanes Pembaptis kali ini? Dia akan mengerti bahwa apa yang dikutipkan oleh Yesus kepadanya itu adalah tiga perikop di dalam kitab Yesaya. Yohanes Pembaptis adalah orang yang sangat mengerti akan Firman Allah. Yesus seolah-olah sedang memberitahu Yohanes Pembaptis, “Jika engkau telah mengerti apa yang telah dinubuatkan oleh Yesaya, apa Firman Allah yang dinubuatkan oleh Yesaya, maka kamu tidak akan kecewa denganku. Bagian-bagian seperti Yesaya 29:18-20, 35:5-6 dan 61:1. Jika kamu sudah memahami ayat-ayat tersebut, maka kamu tidak akan tersandung dengan apa yang aku kerjakan. Malahan kamu akan melihat bahwa yang aku kerjakan ini adalah penggenapan dari nubuatan tentang Mesias.”

Di saat para murid Yohanes itu kembali dan menyampaikan laporan kepada guru mereka, Yesus berkata kepada kerumunan orang banyak, “Tahukah kamu siapa Yohanes Pembaptis itu? Tahukah kamu betapa besar orang ini? Untuk apakah kamu ke padang gurun? Untuk melihat buluh yang digoyangkan angin ke sana kemari? Batang-batang lemah yang dihembuskan kian kemari oleh angin? Atau untuk melihat orang berpakaian bagus? Tidak, kamu pergi untuk mencari nabi. Dan dia memang seorang nabi. Tapi kuberitahukan kepadamu, dia ini lebih besar daripada nabi. Dia adalah yang terbesar dari semua nabi yang pernah dilahirkan oleh seorang perempuan.” Wah! Ini pernyataan yang mengejutkan. Yesus berkata bahwa Yohanes Pembaptis ini lebih besar dari nabi-nabi yang lain. Ia yang paling besar yang pernah dilahirkan oleh perempuan di bumi ini. Ini memberi kita sesuatu hal untuk direnungkan. Anda segera bertanya-tanya, “Hei, tampaknya, kalau saya boleh menyimpulkan, ini pernyataan yang terlalu membesar-besarkan. Seolah-olah Anda sedang berkata bahwa dia bahkan lebih besar dari Abraham? Lebih besar dari Musa?” Dalam pandangan orang Yahudi, tak ada orang yang lebih besar daripada Musa. Seorang cendekiawan Yahudi yang hidup di zaman Yesus, namanya Philo, yang menyusun buku tentang kehidupan Musa, berkata bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menyaingi Musa dalam hal kebesarannya. Dan jika Anda membaca Perjanjian Lama, Anda pasti akan berkata, “Wah! Musa ini sangat luar biasa. Kerohaniannya sangat hebat!” Tetapi Yesus berkata bahwa Yohanes Pembaptis lebih besar lagi.


Apakah yang dikerjakan oleh Yohanes Pembaptis sehingga disebut sebagai yang terbesar?

Anda mungkin bertanya, “Hal apakah yang membuat Yohanes Pembaptis besar?” Dan ini memang pertanyaan yang akan kita bahas di dalam waktu yang tersisa. Kebesaran rohani yang seperti apa? Apakah hal yang membuat seseorang secara rohani dipandang besar di mata Allah? Itu adalah pertanyaan yang sangat penting untuk dipahami. Karena hal itu berkaitan dengan hal menjadi yang besar di dalam Kerajaan Allah. Hal ini berkaitan dengan ambisi rohaniah tentang bagaimana Anda dapat menjadi besar di dalam Kerajaan Allah; bagaimana supaya Anda menjadi orang yang berharga di mata Allah – orang yang mengejar hati Allah.

Tetapi kalau Anda perhatikan apa yang dikerjakan oleh Yohanes Pembaptis, tampaknya Anda tidak melihat adanya sesuatu hal yang membuatnya layak menyandang gelar sebagai yang terbesar. Hal ini memang memusingkan para penafsir dan sarjana Alkitab. Mereka mengajukan pertanyaan, “Apakah Yesus benar-benar serius dengan pernyataannya? Maksud saya, Musa memimpin umat Israel keluar dari Mesir melawan penguasa yang kuat luar biasa. Suatu prestasi yang hebat! Dan kalau dipikir, Musa, seorang manusia yang hanya berbekal tongkat di tangan, menghadap Firaun dan berkata, ‘Biarkanlah umatku pergi.'” Anda berkata, “Orang ini fantastis. Dia tidak memiliki angkatan perang yang mendukungnya. Dia tidak punya pasukan, tanpa pedang, tanpa senapan dan dia datang menghadap raja yang paling berkuasa pada zaman itu dan berkata, “Aku mau membawa umatku keluar dari sini.” Dan dia membawa umatnya keluar dengan menghadapi lawan yang mustahil untuk dikalahkan. Dia memimpin umatnya. Sungguh kepemimpinan yang sangat hebat! Suatu kemampuan yang hebat karena dia memimpin dua juta orang di padang gurun selama 40 tahun! Ini adalah orang yang kemampuannya tak tertandingi, yang mampu menjaga sekitar dua juta orang di bawah kepemimpinannya, dan juga mengajarkan Firman Allah kepada mereka! Dan malahan, Allah berkata, “Aku berbicara kepada orang lain tidak seperti Aku berbicara dengan Musa.”

Akan tetapi Yesus berkata, “Tidak ada orang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis.” Apakah hal yang dikerjakan oleh Yohanes Pembaptis? Musa melakukan mukjizat. Yohanes Pembaptis, sejauh yang kita ketahui, tidak mengerjakan satu pun mujizat. Yohanes Pembaptis tidak pernah berbahasa lidah walaupun sejak lahir dia telah dipenuhi oleh Roh. Dia tidak pernah menyembuhkan orang sakit. Dia tampaknya tidak pernah menunjukkan karya kuasa rohani. Dia berkhotbah di padang gurun, memang benar, dan ada banyak orang, ratusan atau bahkan ribuan orang, datang padanya dan dibaptiskan. Tetapi bagaimanapun juga, banyak penginjil besar yang melakukan hal yang sama. Dia tidak pernah membangun atau mengembangkan gereja. Apakah yang dia kerjakan sehingga disebut sebagai yang terbesar? Apakah jawaban Anda atas pertanyaan ini? Sekarang Anda mengerti akan kebingungan yang dihadapi oleh para sarjana Alkitab. Apakah Yesus sedang membesar-besarkan sesuatu? Mungkin memang orang besar tetapi bukanlah yang terbesar!

Apakah inti dari kebesarannya?


Apakah karena dia adalah utusan Allah yang mempersiapkan jalan Yesus?

Jika Anda menuliskan biografinya, Anda bahkan mungkin tidak tahu di mana kebesarannya, apa yang harus dituliskan. Tetapi Yohanes Pembaptis memang sangat besar. Lalu bagaimana cara kita untuk memahami hal ini? Sudahkah Anda memperoleh jawaban untuk pertanyaan ini? Mungkinkah kebesarannya itu berasal dari jabatannya, yaitu dari tugas yang diberikan kepadanya? Mungkinkah karena Yesus berkata, “Dia adalah utusan yang Allah utus mendahului Mesias.” Jadi, mungkin dia sendiri tidaklah besar akan tetapi jabatannya itulah yang besar, dia mempersiapkan jalan bagi Mesias.

Masalahnya, jawaban ini juga tidak memuaskan. Pertama, setiap nabi adalah seorang utusan. Dan seorang utusan raja adalah orang yang berjalan mendahulu sang raja; itu hanya formalitas. Dan di dalam suatu kerajaan, ada banyak pejabat yang berpangkat lebih tinggi daripada utusan. Kedua, kebesaran seseorang di dalam Alkitab tidak pernah dikaitkan dengan jabatannya. Di dalam Perjanjian Lama Anda akan melihat banyak raja, dan tak ada dari antara mereka yang besar atau memiliki arti penting secara rohani. Fakta bahwa mereka adalah raja tidak membuat mereka menjadi besar. Dan kita tahu dari sejarah bahwa banyak raja yang ternyata adalah orang-orang yang tidak memiliki arti penting dari segi kemampuan dan kepribadian mereka. Jadi, Alkitab tak pernah menghubungkan kebesaran dengan jabatan, khususnya jika kita berbicara tentang kebesaran rohani, hal yang sedang dibicarakan oleh Yesus di sini. Jadi, bagaimana cara kita untuk memahaminya? Jika Yohanes Pembaptis tidak besar karena jabatannya sebagai utusan Allah, jika hal itu bukan sumber kebesarannya, lalu di mana letak kebesarannya?


“Yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar daripada Yohanes Pembaptis”

Yesus juga menyampaikan sesuatu di bagian akhir dari ayat-ayat ini. Dia berkata, “Yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar daripada Yohanes Pembaptis.” Yohanes Pembaptis adalah orang terbesar yang pernah dilahirkan oleh seorang perempuan, tetapi yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar daripada dia. Sebelumnya saja kita sudah dipusingkan oleh persoalan mengapa Yohanes adalah yang terbesar, sekarang malah ditambah dengan pernyataan bahwa yang terkecil lebih besar dari Yohanes Pembaptis!

Jika Anda meneliti tafsiran-tafsiran, Anda akan menemukan bahwa dari titik ini, para penafsir benar-benar dibuat kebingungan. Sampai saat ini, mereka masih belum menemukan apa kebesaran Yohanes Pembaptis itu, sekarang malah dikatakan bahwa yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar daripada dia. Orang besar atau bukankah dia itu? Tidak dapat dipahami.

Siapakah “yang terkecil dalam Kerajaan Sorga” itu? Jika Anda dan saya adalah yang terkecil di dalam Kerajaan Allah, maka kita semua lebih besar daripada Yohanes Pembaptis. Lalu apa maksudnya menyatakan bahwa Yohanes Pembaptis adalah yang terbesar dari antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan, karena bagaimanapun juga kita semua dilahirkan oleh perempuan? Menyatakan bahwa dia yang terbesar tentunya tidak berguna! Tidak masuk di akal. Demikianlah, para penafsir mendapat tambahan persoalan. Yesus berkata, “Yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar dari padanya” jadi, setiap orang di dalam Kerajaan Allah lebih besar daripada Yohanes Pembaptis. Apakah memang seperti itu maksud ucapan Yesus?


Yohanes Pembaptis berada di dalam atau di luar Kerajaan?

Persoalannya adalah, apakah Yohanes Pembaptis itu berada di dalam Kerajaan Allah atau tidak? Satu-satunya cara bagi kita untuk menjadi lebih besar daripada Yohanes Pembaptis adalah jika dia tidak berada di dalam Kerajaan dan kita ada di dalamnya. Maka kita bisa menjadi lebih besar daripada Yohanes Pembaptis karena kita berada di dalam Kerajaan sedangkan dia tidak. Mungkin kita bisa memahaminya dengan jalan ini. Saya tidak tahu apakah Anda dapat mengikuti apa yang saya bicarakan ini. Ini adalah pekerjaan berat bagi otak kita dalam mempelajari Injil. Ini bukan bahan bahasan bagi mereka yang benaknya sedang lelah. Anda bisa melihat bahwa pertanyaannya adalah, apakah Yohanes Pembaptis itu berada di dalam atau di luar Kerajaan? Mungkin Anda berkata, “Persoalannya cukup sederhana; kita berada di dalam Kerajaan dan Yohanes Pembaptis tidak berada di dalam Kerajaan, dan karena kita berada di dalam Kerajaan, maka sekalipun kita ini bukan orang besar, kita tetap lebih besar daripada Yohanes Pembaptis. Baiklah, aku sudah memecahkan persoalannya. Sangat sederhana!”

Sebenarnya Anda masih belum memecahkan persoalannya. Dengan pemikiran semacam itu, Anda bahkan mempersulit persoalan.

Persoalan menjadi semakin rumit karena dua alasan. Pertama-tama, di Matius 8:11 di sebutkan bahwa Abraham, Ishak dan Yakub semuanya berada di dalam Kerajaan dan kita akan duduk bersama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Allah. Jika Abraham, Ishak dan Yakub semuanya ada di dalam Kerajaan Allah, apakah Yohanes Pembaptis tidak akan berada di dalam Kerajaan Allah? Kita baru saja melihat, sebagaimana yang dikatakan oleh Yesus, bahwa Yohanes Pembaptis lebih besar daripada Abraham, Ishak dan Yakub, yaitu “di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan,” dan jika mereka berada di dalam Kerajaan, apakah Yohanes Pembaptis tidak berada di dalam Kerajaan?

Dan yang kedua, tidak berada di dalam Kerajaan berarti bahwa Anda tidak selamat. Di dalam Alkitab, satu-satunya jalan untuk masuk ke dalam Kerajaan adalah Anda harus diselamatkan. Jika Yohanes Pembaptis tidak berada di dalam Kerajaan, maka itu berarti bahwa dia tidak selamat. Sekarang Anda berada dalam masalah yang lebih rumit lagi. Itulah yang saya maksudkan. Anda bukan saja tidak memecahkan masalahnya, Anda bahkan masuk ke dalam masalah yang lebih rumit dengan solusi semacam itu.


Apakah yang menjadi kebesaran Yohanes Pembaptis itu?

Lalu bagaimana cara kita untuk memahaminya? Apakah prinsip rohani dari kebesaran di mata Allah? Satu-satunya jalan bagi Anda untuk memecahkan pertanyaan yang kedua itu adalah dengan mencari jawaban atas pertanyaan yang pertama dulu; dan pertanyaan yang pertama adalah, “Apakah yang menjadi kebesaran Yohanes Pembaptis itu?”

Kita sudah melihat bahwa dia tidak mengerjakan perkara-perkara yang besar. Dia tidak pernah berbahasa lidah. Dia tidak menyusun pekerjaan yang besar di Israel. Yang dia kerjakan adalah menyerukan pertobatan, dan memang banyak orang yang bertobat, akan tetapi kita juga melihat bahwa ada banyak orang yang mengerjakan hal tersebut, dan kita tidak melihat di mana letak kebesaran dari pekerjaan itu. Lalu apa jawabannya?” Jawabannya adalah dengan memahami bagaimana seseorang menjadi besar secara rohani.


Allah selalu memilih orang yang terkecil di tengah keluarga, suku atau bangsanya

Di sepanjang Alkitab Anda akan menemukan satu prinsip. Saya bisa memberikan contoh dari sepanjang Perjanjian Lama di mana Anda akan menemukan bahwa orang yang dipilih oleh Allah selalu orang yang terkecil dari keluarga atau suku atau bangsanya. Sebagai contoh, Yusuf di dalam kitab Kejadian, dipilih dari tengah keluarganya untuk menjadi yang terbesar dari antara keluarganya. Dia menjadi Perdana Menteri di Mesir. Dan tahukah Anda mengapa dia menjadi yang terbesar? Karena dialah yang terkecil. Pikirkanlah hal itu. Dialah yang terkecil di tengah-tengah keluarganya. Dia tidak punya kedudukan di tengah keluarganya. Dia bahkan dijual ke dalam perbudakan oleh kakak-kakaknya.  

Gideon sangat terkejut ketika dia dipilih untuk menyelamatkan Israel. Ingatkah Anda apa katanya? Dia berkata, “Sukuku adalah yang terkecil di Israel dan aku adalah yang terkecil di tengah keluargaku” (Hak 6:15). Lalu dia berkata, “Aku ini adalah yang terkecil di tengah Israel.” Daud adalah anak yang termuda dan Allah memilih dia untuk diurapi oleh nabi Samuel. Dialah orang yang diinginkan Allah (1 Sam 16:12). Ini adalah hal yang sangat luar biasa. Selalulah berjalan seperti ini di dalam Alkitab. Orang yang tidak dipandang oleh orang lain adalah orang yang diinginkan oleh Allah. Allah mengasihi orang yang lemah lembut dan rendah hati, orang yang tahu bahwa “Aku bukan siapa-siapa.”


Allah harus merendahkan saya dulu sebelum Ia dapat memakai saya

Ketika Allah ingin memakai saya, Dia harus merendahkan saya sedemikian rupa, bahkan selama tiga tahun harus “merangkak di selokan” sebelum Allah melirik saya. Tahukah Anda prinsip apa ini? Sama seperti banyak orang yang dipakai oleh Allah, saya berasal dari keluarga yang cukup mampu. Akan tetapi Allah tidak memakai saya dalam keadaan seperti itu. Selama tiga tahun di China, setiap hari kelaparan. Tubuh saya semakin menyusut karena kekurangan gizi. Saya menjadi semakin kurus sampai tulang-tulang rusuk saya menonjol keluar, dan tubuh saya bisa dijadikan gitar! Saya begitu miskinnya sehingga hanya memiliki sepasang celana untuk dipakai, dan saya tidak bisa berganti pakaian karena tidak ada pakaian lain untuk berganti. Jadi pakaian saya berubah warna dari putih menjadi kuning, dari kuning menjadi coklat, dan seterusnya. Begitulah cara yang harus dipakai oleh Allah untuk merendahkan saya. Tuhan berkata, “Kamu pikir kamu ini orang penting? Sekarang lihatlah dirimu. Pergilah ke cermin dan amati dirimu.” Saya menatap ke cermin dan hampir tidak bisa mengenali diri saya lagi di sana. Setelah tiga tahun. Allah menggilas wajah Anda di lumpur sampai semua kesombongan, keangkuhan, dan kekotoran itu hilang; sampai Anda sadar, “Tuhan, aku bukan siapa-siapa lagi di dunia ini. Jika Engkau tidak mencukupi kebutuhanku, aku bahkan tak akan bisa hidup besok. Aku bahkan tidak punya uang untuk membeli makanan. Hidupku sepenuhnya bergantung kepadaMu.” Dengan cara ini, Allah membuat saya siap untuk melayani Dia.

Saat Allah merendahkan Anda, bersyukurlah kepada Allah akan hal itu. Jika Anda tidak mau direndahkan, maka Allah tidak akan memakai Anda. Dapatkah Anda memahami rahasia kebesaran dalam Kitab Suci? Kebesaran rohani seseorang di dalam Alkitab, saudaraku, bukan ditentukan oleh seberapa banyak hal yang dia kerjakan atau tidak lakukan; itu hanya tolok ukur yang mengandalkan jumlah. Kebesaran rohani yang Allah lihat adalah kualitas hidup Anda. Tak masalah apakah tak seorangpun yang peduli pada Anda, apakah Anda bukan siapa-siapa di mata orang lain. Itu bukan masalah. Yang penting adalah apakah Anda ini dipandang oleh Allah.


Kebesaran Yohanes Pembaptis terletak pada kualitas kerendahan hatinya

Tadinya kita berpikir, seperti halnya para sarjana yang mempelajari Yohanes Pembaptis, dan berkata, “Yah, apa yang sudah dia kerjakan? Dia tidak melakukan sesuatu yang hebat.” Kita sedang mengamati dia dengan pandangan manusiawi kita. Kebesarannya tidak terletak pada apakah dia menyembuhkan orang sakit atau tidak. Kebesaran Yohanes Pembaptis terletak pada kualitas wataknya. Apakah Anda ingin tahu di mana kualitas watak seseorang? Anda hanya perlu melihat cara dia berbicara untuk bisa memahaminya. Selanjutnya, Anda akan semakin mengaguminya. Semakin saya pelajari mengenai Yohanes Pembaptis, semakin saya melihat kebesarannya, walaupun pada awalnya saya, sama seperti para sarjana itu, tak bisa melihat apa-apa.

Pada saat ada yang bertanya kepada Yohanes Pembaptis, “Apakah kamu ini Mesias? Apakah kamu ini nabi besar? Lalu siapakah kamu?” Yohanes Pembaptis menjawab, “Tidak, aku bukanlah Mesias. Aku bahkan tidak layak untuk membuka tali kasut Mesias. Jangan sebut aku Mesias. Aku bahkan tidak layak untuk membasuh kakinya.” Saat kebanyakan orang membaca itu, biasanya mereka hanya melewati saja kalimat itu. Saya ingin agar Anda renungkan kalimat itu baik-baik, karena itu mengungkapkan watak Yohanes Pembaptis.

Kebanyakan orang, ketika mereka menjadi Kristen, berpikir, “Sungguh beruntung Kristus mendapat orang Kristen sepertiku! Aku lulus sarjana dengan penghargaan utama. Yesus bisa mendapatkan seseorang yang pintar di Gerejanya! Sungguh beruntung Yesus karena dia mendapatkan murid seperti aku! Dia layak bersyukur untuk itu! Dan kalau aku dibaptis di gereja ini, sungguh merupakan suatu kemuliaan bagi gereja ini. Pikirkan saja: gereja ini punya catatan bahwa aku pernah dibaptis di sini. Dalam sejarah nanti, akan disebutkan bahwa aku dibaptiskan di gereja ini. Sungguh merupakan suatu berkah bagi sang pendeta untuk bisa mendapatkan aku duduk di antara jemaat mendengarkan khotbahnya! Jujur saja. Berapa banyak dari kita yang tidak pernah mempunyai pikiran semacam ini terlintas di benak kita?


Yohanes hanya minta dipanggil “suara”!

Namun betapa berbedanya Yohanes Pembaptis! Dia berkata, “Jangan panggil aku Mesias. Aku bahkan tidak layak untuk melepas tali kasutnya!” Ucapan ini disampaikan oleh orang yang memiliki latar belakang yang sangat hebat. Kelahiran Yohanes Pembaptis diberitakan oleh seorang malaikat. Dia berasal dari keluarga yang sangat hebat di Israel, dari keluarga imam yang mendapat tempat tertinggi di tengah bangsa Israel. Dia dipenuhi oleh Roh sejak lahirnya. Dia memiliki riwayat yang luar biasa. Dia bisa saja berkata, “Yah, jika ada orang yang harus mempersiapkan jalan bagi Mesias, pasti aku orangnya. Maksudnya, siapa lagi yang layak selain aku?” Tetapi tidak. Adakah orang di sini yang kelahirannya diberitakan oleh malaikat? Dan bukan sekadar malaikat biasa, tetapi oleh malaikat berpangkat tinggi yaitu Gabriel sendiri? Utusan Allah yang paling tinggi kedudukannya yang memberitakan kelahiran Yohanes! Saya yakin bahwa ibunya bercerita padanya tentang hal ini. “Kamu adalah bayi spesial. Saat kamu dilahirkan, malaikat tinggi Gabriel yang memberitakan hal itu padaku. Kamu akan mempersiapkan jalan bagi Mesias.” Wah! Jika kita memiliki riwayat semacam, pikirkanlah hal itu, kepala ini akan semakin membesar setiap waktu: Aku orang yang sangat khusus di dalam sejarah!

Dalam terang seperti itu, Anda mestinya bisa memahami kerendahan hati Yohanes Pembaptis. “Aku bahkan tidak layak untuk melepas tali kasutnya.” Kemudian mereka bertanya, “Jika kamu bukan Mesias, bukan Nabi itu, lalu siapakah kamu?” Yah, Yohanes Pembaptis menjawab, “Ibaratnya seperti ini. Aku hanyalah suara yang berseru di padang gurun. Apakah kamu ingin memberi aku gelar? Maka janganlah panggil aku Nabi atau Mesias atau apapun itu, sebut saja aku ini suara yang berseru-seru di padang gurun.” Hanya suara! Ketika saya mengamati perkataan Yohanes Pembaptis, hati saya luluh. Saya sangat malu dengan diri saya sendiri. Orang ini adalah orang yang berkhotbah di depan ribuan pendengar, dan ribuan juga orang yang bertobat. Ini sungguh suatu sukses yang sangat hebat. Perhatikanlah dia, orang dengan sukses yang besar! Segenap Israel berlutut di kakinya. Bahkan para pemimpin agama di Israel datang untuk dibaptiskan olehnya. Sungguh dia seorang pengkhotbah yang sukses! Itulah yang namanya keberhasilan! Kata yang sangat kita agungkan: Sukses. Setiap orang datang kepada Yohanes Pembaptis. Berduyun-duyun orang datang padanya, akan tetapi dia tidak berbangga akan hal itu sedikitpun. Dia hanya meminta satu hal: Ingatlah aku sebagai suara yang berseru-seru di padang gurun. Itulah yang membuat saya tertegun dan berseru, “Wah! Yohanes! Dia memang orang besar! Sangat hebat!” Dia mungkin tidak hebat di mata Anda melainkan di mata Allah, dan itu sangatlah berharga; jauh melebihi yang lainnya. Semakin Anda meninggikan diri, semakin Allah merendahkan Anda. Semakin Anda merendahkan diri, semakin Dia meninggikan Anda.


“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”

Dan di dalam kesempatan yang lain (Yoh 3:26), beberapa muridnya dan juga beberapa orang Yahudi mendatangi Yohanes Pembaptis dan berkata, “Tahukah kamu? Yesus membaptis lebih banyak orang daripada kamu. Kamu mulai dikalahkan olehnya. Dia mendapat sukses yang lebih besar daripadamu. Ada apa denganmu? Kamu terus saja berkata, ‘Dia adalah Mesias,’ jadi sekarang orang banyak datang padanya. Tidak ada yang mau mendengarkanmu sekarang. Kamu sudah tersingkirkan. Dulu kamu sangat berhasil dan segenap Israel datang padamu. Tetapi sekarang mereka tidak datang kepadamu; mereka pergi kepada Yesus.”

Apakah jawaban Yohanes Pembaptis? Dia berkata, “Aku bersukacita akan hal itu. Sama halnya dengan sahabat mempelai laki-laki. Aku bersukacita demi dia. Aku bahagia mendengar suaranya.” Tak ada jejak kecemburuan, tak ada tanda kepahitan yang membayang pada dirinya. Dia sudah menjalankan tugasnya dengan setia, dan sekarang apa yang terjadi? Dia ditinggalkan kesepian. Namun dia melanjutkan ucapannya dengan kalimat yang terkenal ini, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Yohanes berkata, “Yesus harus melanjutkan sampai pada kemuliaan, namun aku, Yohanes Pembaptis, aku harus menuju titik nol dan menghilang.” Anda tahu, di saat saya membaca ucapan tersebut, air mata saya berjatuhan. Anda tidak akan mampu bersaing dengan orang seperti ini. Tak seorang pun yang pernah dilahirkan ke bumi lebih besar daripadanya! Tak ada nabi yang dapat dibandingkan dengan dia di mata Allah.


Kontras Yohanes dengan Yunus

Pikirkanlah nabi Yunus. Perbandingannya sangat jauh. Ketika Allah tidak mewujudkan apa yang disampaikan oleh Yunus, Yunus memprotes keras seperti anak kecil. “Engkau tidak mewujudkan apa yang telah kusampaikan. Aku kecewa pada-Mu.” Nabi ini mengeluh kepada Allah: “Engkau telah berlaku tidak adil denganku. Sekarang aku kehilangan muka. Reputasiku sebagai nabi sekarang musnah. Tadinya aku tidak mau datang ke tempat ini, tetapi Engkau menyeretku kemari. Akan tetapi ketika aku sudah menyampaikan Firman yang Kau berikan untuk kuberitakan, lihat apa yang terjadi sekarang: mereka semua bertobat dan Engkau menolak untuk menjatuhkan penghakiman.” Dapatkah Anda melihat perbedaan dalam watak mereka? Saling bertolak belakang.


Tak ada orang yang karakternya paling mendekati Yesus dibandingkan Yohanes Pembaptis

Dan jika Anda menelusuri ulang jejak Yohanes Pembaptis, kerendahan hati yang luar biasa dari orang ini terlihat cukup dengan mengamati ucapannya, dan hati Anda akan terharu. Dapatkah Anda lihat sekarang mengapa dia begitu besar di mata Allah? Sekarang Anda tahu mengapa Allah memilih orang ini untuk menjadi pembuka jalan bagi Mesias. Mengapa? Karena tak seorang pun yang memiliki watak paling mendekati Yesus dibandingkan dengan Yohanes Pembaptis.


Hal merendahkan diri tidak dapat dipisahkan dengan hal keselamatan

Saat membaca Matius pasal 11, Anda akan menyadari bahwa seluruh pasal itu berbicara tentang kerendahan hati. Anda akan melihat hal ini di sepanjang pasal itu. Ayat 19 berbicara tentang Yesus sebagai sahabat dari orang-orang rendah, orang yang tersingkirkan; para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Di ayat 23, Yesus menegur Kapernaum, “Kamu yang meninggikan dirimu sampai ke langit akan direndahkan sampai ke neraka.” Di ayat 25 Yesus menyebut murid-muridnya sebagai orang kecil (=babes = bayi-bayi.). Orang kecil tidak punya kedudukan di dalam hukum Yahudi. Dan terakhir, di ayat 29, Yesus berkata, “Belajarlah pada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati.” Lemah lembut dan rendah hati –  bukankah itu kepribadian dari Yohanes Pembaptis? Mengertikah Anda rahasia kebesaran rohani? Ingatlah selalu kata-kata di Lukas 9:48 – 

“Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”

Hal merendahkan diri ini berkaitan erat dengan keselamatan. Dua kali di dalam Perjanjian Baru, di Yakobus 4:6 dan 1 Petrus 5:5 dikatakan, “Allah menolak orang yang sombong tetapi Dia menganugerahkan kasih karunia keselamatan-Nya kepada orang yang rendah hati, kepada yang lemah lembut.” Jika Anda ingin menjadi orang Kristen, hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah belajar merendahkan diri Anda. Itu sebabnya mengapa setiap kali orang datang kepada Tuhan, saya berlutut bersama mereka di hadapan Tuhan. Bagi kebanyakan dari mereka, itu adalah kali pertama mereka berlutut di hadapan Allah. Ini untuk menunjukkan perendahan diri yang total dari mereka di hadapan Allah karena Allah tak akan pernah menerima Anda di dalam kesombongan Anda. Allah hanya menerima mereka yang rendah hati. Dia menganugerahkan kasih karunia keselamatan-Nya kepada mereka yang rendah hati.


Siapakah “yang terkecil dalam Kerajaan Sorga” itu?

Selanjutnya, mari kita masuk ke kalimat yang terakhir. Yesus berkata, “Yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar daripada Yohanes Pembaptis.” Bagaimana cara kita untuk memahaminya? Siapakah dari antara kita yang berani membayangkan diri lebih besar daripada Yohanes Pembaptis? Siapa di antara kita yang sudah mendekati tingkatan rohaninya, apalagi melebihinya? Kita bahkan tidak bisa mengimbangi dia, apa lagi melebihi dia. Dia berada begitu jauh di depan saya. Saya hanya bisa melihatnya dengan memakai teropong. Mana mungkin saya bisa lebih besar darinya? Membayangkannya saja tidak mungkin. Siapakah di gereja ini yang berani membayangkan bahwa dia lebih besar daripada Yohanes Pembaptis?

Kita semua dipenuhi oleh kesombongan. Kita semua membayangkan diri ini akan menjadi orang penting, dan berpikir, “Aku datang ke gereja ini tetapi tak ada yang memperhatikanku. Seharusnya kalian menggelar karpet merah saat aku datang ke gereja ini.” Dan itulah hal yang sering saya rasakan di saat datang ke gereja (saat merasakan kedinginan dan kurangnya kasih di gereja masa kini. Dan tentu saja saya bukan membenarkan hal ini. Memang suatu hal yang sangat nyata bahwa ada banyak gereja yang tidak memiliki kasih). Tetapi pokok saya adalah banyak orang di dalam gereja yang memiliki pemikiran, “Sungguh, aku ini orang penting di sini, seharusnya orang-orang menaruh perhatian padaku.” Sering saya merasa seperti itu. Saya membayangkan diri saya sebagai orang penting. Itu sebabnya saya masih begitu jauh dari Yohanes Pembaptis. Siapa di antara kita yang berani membayangkan diri sebagai orang yang sejajar dengan Yohanes Pembaptis?


Yesus, “yang terkecil dalam Kerajaan Surga” lebih besar daripada Yohanes Pembaptis

Lalu, bagaimana cara kita untuk bisa memahami maksud Yesus di sini, bahwa yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar daripada Yohanes Pembaptis? Sangat mudah dipahami jika Anda telah mengerti bahwa yang terbesar itu adalah yang terkecil dan yang terkecil itu adalah yang terbesar. Tidak ada masalah. Tahukah Anda siapa itu “yang terkecil dalam Kerajaan Surga”? Jika saya sebutkan, Anda mungkin akan terkejut. Dia itu Yesus sendiri. Yesus merendahkan dirinya menjadi yang terkecil di dalam Kerajaan; itu sebabnya mengapa dia menjadi yang terbesar. Itulah hal yang perlu Anda pahami. Yang terkecil adalah yang terbesar.

Mungkin, saat Anda pulang nanti, Anda bisa baca Filipi pasal 2 lagi. Sekalipun Yesus dalam gambar rupa Allah, dia merendahkan dirinya ke dalam posisi sebagai budak, sebagai hamba. Dia membasuh kaki murid-muridnya. Di Markus 10:45 Yesus berkata, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.” Dia mengambil kain dan membasuh kaki mereka: pelajaran terakhir yang ingin Yesus sampaikan kepada murid-muridnya adalah pelajaran ini. Itu adalah pekerjaan para hamba, para budak di dalam masyarakat. Dia menjadikan dirinya sebagai budak para muridnya sendiri. Dia bahkan akan mengerjakan hal yang lebih dari itu; Dia akan menyerahkan hidupnya untuk menyelamatkan mereka. Jadi, dari posisi sebagai manusia, dia menjadi budak, dan dari budak, dia mati di kayu salib. Kita melihat hal itu di Filipi pasal 2. Artinya, dari posisi sebagai budak, dia turun lebih jauh lagi ke posisi sebagai orang hukuman, menjadikan dia bahkan lebih rendah daripada budak. Dia mati sebagai orang hukuman di kayu salib. Tak seorang pun di tengah masyarakat yang posisinya lebih rendah daripada orang yang di bawah hukuman.

Sebagaimana yang telah dinubuatkan oleh Yesaya, dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, orang-orang hukuman. Dia adalah yang terkecil. Dia merendahkan dirinya sampai pada posisi yang paling rendah. Tidak seorang pun dari antara kita yang bisa turun sampai pada posisi serendah yang telah Yesus jalani. Lagi di dalam Filipi pasal 2, justru karena dia telah merendahkan dirinya sampai ke posisi yang paling rendah, maka Allah meninggikan dia di tempat yang paling tinggi dan memberinya nama di atas segala nama.


‘Yang terkecil’ hanya menunjuk kepada satu orang

Perhatikan lagi kata ‘yang terkecil.’ Di dalam bahasa Yunani, kata itu memakai kata ganti tunggal. Hanya satu orang yang bisa menjadi yang terkecil, tidak lebih. Di dalam bentuk perbandingan, memang hanya akan ada satu saja. Kesalahan kita dalam mempelajari ayat ini adalah karena kita membayangkan bahwa ‘yang terkecil’ itu mengacu pada setiap orang yang menjadi murid Yesus Kristus. ‘Yang terkecil’ selalu berarti hanya satu saja. Sama halnya dengan yang terbesar, hanya boleh ada satu saja. Itu sebabnya mengapa maknanya akan hilang jika dikatakan bahwa “yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar daripada Yohanes Pembaptis” (padahal sudah jelas bahwa Yohanes tentu berada di dalam Kerajaan Allah juga) jika ‘yang terkecil’ itu diartikan sebagai setiap orang yang berada di dalam Kerajaan Allah.

Namun jika Anda memahami ‘yang terkecil dalam Kerajaan Surga” sebagai ungkapan yang mengacu kepada Yesus dan hanya dia saja, maka maknanya segera menjadi jelas. Yohanes Pembaptis adalah manusia terbesar yang pernah dilahirkan oleh perempuan, dengan satu pengecualian. Hanya Yesus yang lebih besar daripada dia. Sambil kita lanjutkan, kita melihat di Matius 12:6, kita lihat bahwa Yesus lebih besar daripada Bait Allah. Di Matius 12:41, Yesus lebih besar daripada Salomo. Dan di sini, Yesus juga lebih besar daripada Yohanes Pembaptis. Tetapi Yohanes Pembaptis lebih besar daripada Salomo dan juga Yunus. Tak ada orang yang lebih besar daripada Yohanes.


Semakin rendah Anda, semakin besar Anda di mata Allah

Mari kita tutup sambil kita renungkan khotbah ini. Saya harap Anda memahami kekayaan dan keindahan dari ajaran Yesus bahwa, jika Anda ingin dekat dengan Allah, menjadi besar di mata Allah, tak peduli apakah Anda dipandang besar di mata manusia atau tidak, rahasianya adalah dengan turun ke posisi di bawah. Semakin turun Anda, maka semakin besar Anda di mata Allah. Ingatlah selalu Yakobus 4:10 –

Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.

Dan Yesus berkata,

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” (Mat 18:3)

Anda bisa lihat bahwa paling sedikit Anda harus merendahkan diri sampai ke tingkat anak kecil, itu yang paling sedikit. Itu bukan tingkat terendah yang bisa Anda capai. Sebagaimana yang bisa Anda lihat, Anda bisa turun lebih rendah dari tingkatan anak kecil. Anda bisa turun ke tingkatan budak. Anda bisa turun ke tingkatan orang hukuman. Jika ada di antara kita yang dihukum mati karena menjadi Kristen, berarti kita dihukum mati sebagai orang hukuman. Berbahagialah para saudara seiman kita di negara-negera tertentu, yang duduk di penjara karena mereka diperlakukan sebagai orang hukuman. Mereka dijadikan orang hukuman sekalipun mereka tidak pernah berbuat sesuatu yang menentang negara. Akan tetapi Anda tidak perlu prihatin pada mereka. Mereka telah mencapai tingkat yang paling rendah. Allah akan meninggikan mereka.

Itulah keindahan dari hal merendahkan diri. Mereka merendahkan diri mereka, mereka memilih untuk menjadi orang Kristen, dan Allah meninggikan mereka. Pada Hari itu, Anda akan melihat mereka berada di tempat yang sangat tinggi di samping Allah. Mereka mendapat bagian yang lebih baik. Dengan kasih karunia Allah, marilah kita memahami rahasia kehidupan Kristen; menujulah ke tempat yang rendah agar kita akan tiba ke tempat yang tinggi.

 

Berikan Komentar Anda: