SC Chuah | Jumat Agung 2020 | Covid-19 |

Hari ini kita menyambut Good Friday atau Jumat Agung. Kita memperingati kematian Yesus Kristus di atas kayu salib. Kristus bukan saja telah mati, tetapi dia mati di atas kayu salib. Firman Tuhan membedakan kematian dengan kematian di atas kayu salib. Seseorang bisa mati dalam kemuliaan, mati sebagai pahlawan tetapi Yesus, Juruselamat kita mati di atas kayu salib, sebagai seorang penjahat. Ini berarti, Yesus bukan saja mati tetapi dia mati dalam penghinaan, mati dalam keadaan yang sangat-sangat hina. Satu-satunya manusia sempurna yang tak pernah berbuat dosa disalibkan sebagai penjahat? Bukankah ini puncak dari ketidakadilan? Bukankah ini ketidakadilan yang terbesar di sepanjang sejarah manusia?


MENGAPA DISEBUT “GOOD FRIDAY”?

Lalu, mengapa hari ini disebut sebagai “Good Friday” atau Jumat Agung? Bukankah lebih tepat jika disebut sebagai Horrible Friday, Terrible Friday atau Bad Friday – Jumat yang mengerikan! Mengapa malah disebut Jumat Agung atau Good Friday? Apa yang “Good” tentang Jumat ini? Jumat Agung adalah Good Friday justru karena Allah adalah ahli dalam mengubah apa yang tidak baik menjadi baik. Allah sangat ahli dalam mengubah apa yang mengerikan menjadi sesuatu yang indah, malah sangat amat indah. Dia mengubah sebuah alat yang mengerikan seperti salib, alat untuk mencabut nyawa, menjadi alat yang menyalurkan hidup yang kekal. Dan selama 2000 tahun, Allah telah memakai salib untuk mengubah orang-orang berdosa yang jelek menjadi orang-orang kudus yang indah. Dosa dalam segala bentuk menjelekkan kita, tetapi kebenaran memperindah kita.

Khususnya di tengah wabah ini, di dalam keadaan yang sangat tidak baik ini, di mana kematian terjadi di mana-mana, dan krisis ekonomi melanda setiap penjuru dunia, kita harus lebih-lebih lagi datang dengan penuh pengharapan bahwa Allah kita akan mengubah segala sesuatu menjadi baik pada waktunya.


PASKAH YANG UNIK

Paskah tahun 2020 sangat unik karena buat pertama kali dalam sejarah kita merayakannya dalam suasana yang cukup mirip dengan Paskah pertama yang diadakan oleh orang Yahudi di Mesir. Paskah yang pertama diadakan pada malam sebelum bangsa Israel dituntun keluar dari perbudakan di Mesir. Paskah yang pertama berlangsung di tengah-tengah serangkaian wabah yang memuncak pada malam Paskah di mana bangsa Israel tidak diizinkan untuk keluar dari rumah mereka. Paskah yang pertama diadakan sebagai ibadah keluarga, bukan ibadah berjemaat. Bangsa Israel tidak berkumpul tetapi setiap keluarga makan bersama-sama di dalam rumah mereka masing-masing. Demikian pula di tengah-tengah wabah dan bayangan maut, kita merayakan Paskah di rumah masing-masing. Sekalipun sederhana, marilah kita merayakannya dengan penuh rasa syukur dan pengharapan.

Paskah orang Yahudi adalah hari ketika orang Yahudi mengenang bagaimana Allah telah melepaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Akan tetapi sedahsyat-dahsyatnya peristiwa itu, apa yang telah dilakukan Allah melalui Yesus Kristus bagi kita semua, adalah jauh lebih dahsyat dan ajaib daripada itu. Penyelamatan yang telah Allah kerjakan bagi kita jauh lebih besar daripada itu.


MENG-UPGRADE HUBUNGAN

Pesan untuk Jumat Agung ini, saya mau berbicara tentang upgrading. Kehidupan kita terdiri dari serangkaian upgrading. Semua orang meng-upgrade kehidupan mereka. Bahkan sebagian besar dari kehidupan kita adalah tentang upgrading. Kita meng-upgrade dari sepeda ke sepeda motor, setelah motor, kita mau upgrade ke motor yang lebih bagus, dan setelah beberapa waktu kita mau upgrade ke mobil. Dulunya tinggal di gubuk, kita mau upgrade ke rumah batu, ke apartemen dan setelah itu rumah yang lebih mewah. Memang tidak salah kita meng-upgrade standar kehidupan kita selama sesuai kemampuan, tidak berutang dan setelah menunaikan tanggung jawab kita terhadap Allah dan sesama manusia. Namun, di tengah situasi wabah sekarang, semua upgrading terpaksa berhenti total. Bahkan sekarang, orang yang berpotensi survive dalam situasi wabah ini adalah orang yang tahu bagaimana untuk downgrade. Orang yang tidak tahu atau tidak mau downgrade bakal menjadi orang yang paling stres. Bagi yang melakukan downgrading, mereka akan bisa survive dan melewati masa krisis ini dengan baik. Kita harus fleksibel dan menerapkan downgrading di dalam gaya hidup dan pengeluaran kita.

Lalu, upgrading apa yang ingin kamu bicarakan? Saya ingin berbicara tentang suatu upgrading yang seringkali diabaikan dalam kesibukan kita meng-upgrade kehidupan kita. Suatu upgrading yang diabaikan oleh hampir semua orang. Saya mau berbicara tentang upgrading dalam hubungan kita antara sesama, khususnya di antara anggota keluarga. Paskah sebenarnya adalah acara keluarga karena itu saya mau berbicara tentang upgrading di dalam hubungan di antara anggota keluarga, dan juga hubungan kita dengan Allah. Kita mau meng-upgrade hubungan justru karena di dalam situasi di mana kita terkurung di rumah bersama keluarga, kita telah diberikan kesempatan luar biasa, suatu kesempatan emas untuk mulai melakukan upgrade.


HUBUNGAN SUAMI-ISTRI: USAHA KECIL, UPGRADE BESAR

Suatu hal yang menarik tentang upgrading dalam hubungan adalah investasi yang sedikit akan menghasilkan upgrade yang sangat besar. Ini sangat benar dalam hubungan antara anggota keluarga, terutamanya dalam hubungan suami istri. Hanya satu perubahan dalam nada berbicara dengan suami atau istri, saudara akan mengalami suatu upgrade yang sangat-sangat besar. Boleh dibandingkan dengan perubahan dari tinggal di rumah gubuk langsung ke apartemen; atau dari sepeda ke mobil; mobil tua ke mobil mewah. Hanya dengan sedikit perubahan dalam nada suara saat berbicara, sudah akan terjadi satu upgrade yang besar dalam hubungan.


NADA BICARA

Nada bicara itu sangat penting. Kita memakai nada yang berbeda dengan orang yang berbeda. Ketika bergaul dengan teman, kadang kita mendengar bagaimana teman kita menerima panggilan telpon. Dari nada bicara saja, kita dapat menebak dengan tepat siapa yang menelpon. Dengan customer, kita memakai satu nada, dengan bos nada yang berbeda, dengan orangtua lain lagi dan seterusnya. Dalam masa lockdown ini, ketika orang bekerja dari rumah dan meeting pakai ZOOM, ada suami dan istri yang kaget mendengarkan nada pasangan ketika meeting dengan teman sekantor. Mereka belum pernah mendengar nada itu sebelumnya!

Namun, sayangnya, kita dapat menebak bahkan usia sebuah pernikahan hanya dari nada bicara. Jika nada percakapannya lembut dan diwarnai kata “sayang”, “honey”… ini baru beberapa bulan bernikah. Kalau nadanya ceplos-ceplos, “ya udah…”, yang ini dua tiga tahun. Bagaimana nadanya kalau yang dua atau tiga puluh tahun? Bukankah ini menyedihkan? Kita meng-upgrade kenyamanan jasmani kita, tetapi mengalami downgrading dalam hal yang paling penting bagi kita; yaitu hubungan dengan pasangan kita. Itu sebabnya banyak orang tetap tidak bahagia sekalipun mengalami upgrade secara ekonomi.      


MENGAKUI KESALAHAN

Satu contoh lagi, dalam situasi suami istri yang lagi saling menyalahkan. Dalam kebanyakan kasus, kedua-duanya ada salahnya. Jarang sekali ada yang salah sepihak walaupun pasti ada. Masalah pernikahan semacam ini sebenarnya mudah diselesaikan (kalau tidak melibatkan dosa berat seperti adanya pihak ketiga). Andai saja masing-masing stop saling menyalahkan dan masing-masing mengakui kesalahan masing-masing; masalah selesai! Ini pasti akan membawa satu upgrade yang sangat besar dalam hubungan itu. Itulah hal yang luar biasa tentang upgrading di dalam hubungan antara sesama, investasinya kecil tetapi hasilnya sangat amat besar.

Namun, pada kenyataannya, disebabkan oleh ego kita, mengakui kesalahan dan mengucapkan kata sorry itu terasa teramat sangat sulit. Seperti lagu Elton John, “Sorry seems to be the hardest word”, lebih baik disambar petir daripada “say sorry”! Ada suami atau istri yang sudah bernikah 30-40 tahun, tapi tidak pernah sekalipun meminta maaf dari pasangannya! Wah, pasti manusia sempurna yang tidak pernah berbuat kesalahan. Pasti hebat jadi seperti dia. Kita harus belajar untuk meminta maaf. Kita harus belajar berkata, “Aku salah dalam hal ini, aku minta maaf.” Katakan secara spesifik kesalahannya. Jangan berkata, “Kalau aku salah… aku minta maaf.” Itu permintaan maaf yang tidak tulus. Semua orang bisa melihat saudara tidak merasa bersalah. Kalau saudara belajar meminta maaf secara tulus, “sorry, aku salah”; saudara akan melihat mukjizat terjadi di hadapan mata. Itu kata yang membawa mukjizat, bukan saja dengan sesama manusia, tetapi terutamanya dengan Allah.    


KRISTUS TELAH MATI UNTUK … ?

Jadi marilah kita meng-upgrade hubungan kita dengan sesama. Rumah sebaik apa pun dapat di-upgrade. Demikian pula, rumahtangga kita, kalau buruk, perlu di-upgrade; kalau sudah baik pun, masih dapat di-upgrade. Satu tips untuk menolong kita untuk memulainya:

Sebab jika engkau menyakiti hati saudara seimanmu karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudara seimanmu karena makananmu, sebab Kristus telah mati untuk dia. (Roma 14:15)

Jadi, melalui pengetahuanmu, orang yang lemah itu, yaitu saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati, menjadi binasa. (1 Korintus 8:11)

Tema khotbah hari ini adalah Kristus telah mati untuk … Tiga titik itu adalah untuk “dia”! Jika Kristus telah mati untuk “dia”, beranikah saudara meninggikan suara terhadap dia? Jika saudara sadar bahwa Kristus telah mati bukan saja bagi saudara, tetapi bagi “dia”, saudara akan berpikir dua kali untuk meninggikan suara terhadap siapa pun. Saudara akan menghormati semua orang (1Petrus 2:17), terlebih lagi pasangan saudara!


MENG-UPGRADE HUBUNGAN DENGAN ALLAH

Dalam hal meng-upgrade hubungan dengan Allah, mungkin banyak yang bertanya, bagaimana hal ini dapat dilakukan? Kelihatannya seperti sesuatu yang sangat sulit. Bagaimana kita memulainya? Bagaimana kita meng-upgrade hubungan dengan Allah? Dalam kenyataannya, sangatlah mudah untuk meng-upgrade hubungan dengan Allah. Meng-upgrade hubungan kita dengan Allah, jauh lebih sederhana daripada meng-upgrade hubungan kita antara sesama. Mengapa saya berkata demikian? Karena manusia jauh lebih rumit dari Allah. Allah sebenarnya tidak rumit, Allah jauh lebih mudah untuk dipahami dibandingkan dengan seorang manusia.

Dari apa yang kita tahu tentang Allah dari Firman Tuhan maupun dari pengalaman pribadi, Allah sesungguhnya sangat simpel. Allah bukanlah sosok yang rumit dan sulit dipahami. Apakah dari segi kepribadian maupun karakter, Allah sangat simple.

Mengapa saya berkata adalah sederhana untuk meng-upgrade hubungan kita dengan Allah? Karena Allah rindu untuk menjalin hubungan dengan kita. Dia sangat menginginkan hubungan ini. Allah menciptakan kita dalam gambar dan rupa-Nya justru untuk tujuan ini, agar bisa menjalin hubungan dengan kita. Dia memanggil kita dan mencari-cari kita untuk kita datang kepada-Nya. Allah juga telah mengambil inisiatif untuk membuka jalan untuk kita datang kepada-Nya. Dua ribu tahun yang lalu, dia mengutus Anak-Nya untuk mati di atas kayu salib untuk tujuan ini. Itulah pesan dari Jumat Agung. Dia sungguh merindukan untuk menjalin hubungan dengan kita. Harga yang besar telah dibayar oleh Anak-Nya supaya hubungan ini bisa terjalin.


LEBIH MUDAH BERURUSAN DENGAN ALLAH DIBANDINGKAN MANUSIA

Dari pengalaman saya berurusan dengan manusia dan Allah. Satu hal yang pasti adalah jauh lebih mudah berurusan dengan Allah dibandingkan dengan manusia. Apa lagi ketika mau memperdamaikan sepasang suami istri, itu suatu hal yang jauh lebih sulit dibandingkan dengan berdamai dengan Allah. Langkah-langkah untuk berdamai dengan Allah sangatlah sederhana. Namun, memperdamaikan dua orang, apa lagi suami istri yang lagi bertengkar, merupakan hal yang rumit dan sulit oleh karena adanya dosa. Dosa telah menjadikan karakter atau kepribadian manusia itu sangat rumit. Kita berbelat-belit; kita tidak tahu apa yang kita inginkan; dan kita bahkan tidak memaksudkan apa yang kita katakan.  

Seorang yang hidupnya kacau dan berantakan, seringkali kepribadiannya juga sangat rumit dan sulit. Hanya orang yang rumit dan sulit yang seringkali mengacaukan kehidupannya. Dalam berurusan dengan Allah, dalam berurusan dengan kebenaran, kita akan mendapati bahwa kebenaran sangat lurus dan sederhana. Karena itu orang-orang benar, juga merupakan orang-orang yang tidak rumit dan sangat sederhana. Tidaklah sulit dan rumit untuk mengenal Allah.


TUJUAN KEMATIAN KRISTUS: MENGAMANKAN HUBUNGAN ANTARA MANUSIA DENGAN ALLAH

Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuan kita, yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia. (1 Tesalonika 5:9-10)

Yesus mati bagi kita supaya apa? Supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia. Apa artinya hidup bersama-sama dengan Dia? Ini berarti untuk memiliki sebuah hubungan dengan Dia, itulah tujuannya Yesus mati bagi kita.

Marilah kita meng-upgrade hubungan kita dengan Allah dan Bapa kita. Ini sama sekali bukan hal yang sulit. Kita telah diberi kesempatan untuk meng-upgrade hubungan dengan Dia karena Allah telah mengutus Anak-Nya untuk mati di atas kayu salib supaya kita bisa berhubungan dengan Dia. Kematian Yesus di atas kayu salib telah menghilangkan dan menghapuskan semua rintangan dan batasan.

Di Yeremia 9:23 dikatakan,

“Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi, sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman Tuhan.”

Kalau kita mau bermegah, bermegahlah dalam hal ini, bahwa kita memahami dan mengenal Dia, Yahweh Bapa kita. Bukan hal sulit karena dikatakan bahwa Dia dapat dipahami dan dikenali. Apa yang Dia sukai? Dia menyukai kasih setia, keadilan dan kebenaran. Kalau ada yang berkata, “Oh, apakah Allah begitu sederhana, itu saja yang Dia sukai?” Memang benar, sedemikian sederhanalah Allah itu! Sangat mudah dipahami dan dikenali. Apa yang disukai-Nya, apa yang tidak disukai-Nya, apa yang diinginkan-Nya dari kita, semuanya dinyatakan dengan jelas. Tidak ada yang tersembunyi. Kita dapat membaca Dia seperti buku terbuka. Pepatah Inggris menggambarkan kepribadian seperti ini dengan istilah, “Open Book Personality”. Allah secara harfiah dapat dibaca seperti sebuah buku terbuka. Setiap kali saudara membuka Alkitab menghayatinya, saudara sedang berada dalam hadirat-Nya. Tidak ada yang tersembunyi.   

Justru manusia yang aneh-aneh dan rumit yang sulit dipahami. Kita harus menebak-nebak apa yang diinginkannya. Kita bahkan kadang tidak tahu apa yang kita inginkan. Kita suka bingung sendiri. Kalau kita sendiri bingung dengan diri kita sendiri, bagaimana saudara berharap orang lain untuk memahami saudara?

Di Jumat Agung ini marilah kita melihat Yesus yang mewakili Allah memanggil kita dengan tangan yang terbuka luas, tangan yang berbekas paku, yang mengundang kita untuk datang kepada-Nya. “Marilah kepadaku…” Suatu undangan untuk mengenal dan memahami Bapa, agar kita dapat menjalin sebuah hubungan dengan Dia. Harapan saya adalah melalui Paskah ini, di kesempatan yang diberikan kepada kita di tahun 2020 ini, untuk memanfaatkan waktu yang ada untuk memulai sebuah petualangan dalam mengenal dan memahami Allah kita.

 

Berikan Komentar Anda: