Pastor Eric Chang | Matius 14:13-21 |

Hari ini kita akan melanjutkan pembahasan kita tentang ajaran Yesus di Matius pasal 14. Terdapat beberapa unsur penting yang dapat kita pelajari dari mukjizat memberi makan kepada 5000 orang tersebut. Mari kita membaca Matius 14:13-21

Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka: “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata: “Bawalah ke mari kepada-Ku.” Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.

Anda yang telah cukup lama menjadi Kristen tentunya pernah mendengar tentang perikop ini. Ini adalah salah satu perikop favorit banyak penginjil. Istilah lima roti dan dua ikan ini menjadi semacam ungkapan khusus (metonym), di mana jika kita berkata, “Allah memberkati ‘lima roti dan dua ikan’ saya”, maka yang dimaksudkan adalah sedikit karunia yang Allah berikan kepada saya bisa menjadi berkat bagi orang lain. Ide dasar yang selalu disampaikan adalah bahwa jika Anda persembahkan karunia kecil, kemampuan kecil, sedikit harta milik Anda itu kepada Allah, maka Tuhan akan memberkati karunia yang kecil itu sedemikian rupa sampai-sampai bisa memberi makan banyak orang. Ini memang sangat penting dan berharga.


Sudahkah Anda mempersembahkan lima roti dan dua ikan Anda?

Akan tetapi, hal ini masih belum menjawab beberapa pertanyaan. Jika kita memiliki, setidaknya, sedikit karunia yang bisa diberkati dan dilipatgandakan oleh Allah, lalu mengapa Allah tidak memberkati ‘lima roti dan dua ikan’ milik Anda untuk memberkati orang di sekitar Anda? Apakah karena Anda tidak punya ‘lima roti dan dua ikan’ tersebut? Atau, jika Anda memang punya, lalu mengapa tidak digunakan untuk memberkati banyak orang? Mengapa Allah tidak memakai Anda? Itulah pertanyaannya, dan pertanyaan ini tampaknya tidak terjawab.

Apakah itu berarti bahwa Anda belum mempersembahkan ‘lima roti dan dua ikan’ milik Anda? Apa jawaban bagi pertanyaan ini?


Apakah hal yang ingin Yesus ajarkan?

Ada satu unsur penting di dalam peristiwa mukjizat ini yang bersifat mendidik. Yesus ingin memakai mukjizat ini untuk mengajarkan sesuatu hal kepada para murid. Dan hal tersebut adalah pokok di ayat 16: Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Orang banyak itu sedang mengikuti Yesus, mendengarkan khotbahnya. Saat itu sudah senja; mereka lelah dan lapar. Dan para murid melakukan hal yang lazim. Mereka menyarankan kepada Yesus, “Suruhlah mereka pulang supaya mereka bisa beristirahat atau pergi ke desa-desa membeli sesuatu untuk dimakan, dan mereka boleh datang kembali esok hari.”

Tetapi Yesus berkata, “Tidak, mereka tidak perlu pulang. Kamu harus memberi mereka makan.” Jika Yesus berkata, “Aku akan memberi mereka makan,” tentunya tidak ada masalah. “Baiklah. Silahkan engkau memberi mereka makan.” Akan tetapi Yesus tidak berkata, “Aku akan memberi mereka makan,” yang dia katakan adalah, “Kamu harus memberi mereka makan.”

Saya yakin, jika mereka membawa sapu tangan, para murid saat itu sudah pasti akan menyeka dahi mereka yang mulai bercucuran keringat, sambil memandang ke arah kerumunan orang-orang itu: 5000 laki-laki, ditambah dengan perempuan dan anak-anak! Tentunya mereka berpikir, “Ada berapa ribu orang jumlahnya? Kami harus memberi mereka makan? Yesus, engkau pasti bercanda, bukankah begitu? Kecuali kami punya beberapa ratus gerobak makanan, bagaimana mungkin kami bisa memberi makan kerumunan orang ini?” Inilah hal yang saya katakan bersifat mendidik [didactic]. Yesus ingin mengajarkan sesuatu kepada mereka.

Persoalannya adalah: apa yang ingin Yesus ajarkan kepada mereka? Tentu saja Yesus tahu bahwa mereka tidak akan bisa memberi makan 5000 orang ditambah perempuan dan anak-anak itu. Bahkan perempuan dan anak-anak juga memerlukan takaran makan yang tidak sedikit, bukankah begitu? Dengan jumlah kerumunan sebanyak itu, dengan cara apa Anda akan memberi mereka makan? Yesus jelas tahu bahwa mereka tidak bisa melakukannya. Itulah persoalannya: Hal apakah yang ingin Yesus ajarkan? Persoalan inilah yang akan kita bahas.

Ini bukan masalah tentang Yesus yang bisa memberkati lima roti dan dua ikan itu. Tentang hal itu, orang bisa saja berkhotbah tanpa akhir. Tentu saja, Allah lewat Yesus mampu melipatgandakan lima roti dan dua ikan. Akan tetapi bukan itu pokok yang mau disampaikan.  

Yang ingin disampaikan adalah: dengan cara apa Yesus ingin agar para muridnya memberi mereka makan? Itulah hal mau dia lakukan. Dia berkata, “Kamu harus memberi mereka makan,” perhatikan baik-baik ucapannya, “Kamu harus memberi mereka makan.”

Saya yakin, para murid ini tidak akan pernah melupakan pelajaran yang mereka dapatkan, di saat mereka menatap ke arah kerumunan orang itu sambil menggaruk kepala mereka dan berkata, “Bagaimana kita mengerjakan tugas ini?”

Di sini ada satu pelajaran yang sangat penting dan berharga. Apakah pelajaran itu? Jika Anda adalah para muridnya dan Yesus menatap ke arah dunia sekarang ini dan berkata kepada kita, “Kamu harus memberi mereka makan,” apa yang akan menjadi reaksi Anda? Dan hal ini memang sedang Yesus katakan kepada kita sekarang ini.

Anda mungkin akan berkata, “Yesus, aku tidak punya apa-apa yang bisa diberikan kepada mereka. Kau tahu bahwa aku tidak punya karunia, talenta, tak bisa berkhotbah, tak bisa mengerjakan ini atau itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana mungkin engkau menyuruhku untuk memberi mereka makan?”

Renungkanlah hal ini baik-baik: menurut Anda, apakah Yesus hanya berbelas kasihan kepada kerumunan orang-orang yang itu saja? Rombongan tersebut tidak lebih baik daripada kumpulan orang-orang yang lain. Kumpulan orang-orang itu juga tidak lebih menyedihkan keadaannya daripada kumpulan orang-orang yang lain sekarang ini. Jika Yesus berbelas kasihan kepada orang-orang tersebut, dia juga akan berbelas kasihan kepada kumpulan orang-orang yang lainnya sekarang ini. Yesus tidak akan hanya berbelas kasihan kepada orang-orang di abad pertama tetapi tidak terhadap orang-orang di abad ke-20. Dan karena itu Yesus juga akan berkata kepada Anda dan saya, “Aku kasihan kepada mereka. Kamu harus memberi mereka makan.”

Apakah Anda bisa melihat bahwa pelajaran yang sedang disampaikan oleh Yesus kepada para muridnya itu juga tertuju secara langsung kepada kita? Yesus yang sama, dengan belas kasihan yang sama telah berbicara kepada murid-muridnya. Kita ini juga murid-muridnya, dan di dalam pengertian itu, kita juga telah menerima pesan yang sama dengan mereka, “Kamu harus memberi mereka makan.” Dan kita akan menjawab, “Dengan cara apa saya bisa memberi mereka makan?” Inilah pokok pentingnya. Kita harus memahami dengan baik pelajaran yang ingin Yesus sampaikan kepada ke-12 orang muridnya dan juga yang sedang disampaikan kepada kita sekarang ini. Apa kunci untuk memahami semua ini?


Yesus ingin para murid berbelas kasihan pada kebutuhan orang lain

Perhatikan sekali lagi ayat 14.

Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka.

tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Mari kita lihat kata ‘belas kasihan’ ini. Dia berbelas kasihan. Dia memberi makan 5000 orang itu bukan karena Yesus ingin memamerkan kuasanya yang sangat besar. Alkitab memberitahu kita bahwa Yesus memberi makan 5000 orang itu hanya demi satu alasan: Dia berbelas kasihan. Dia tidak ingin melihat anak-anak menangis kelaparan, atau perut orang dewasa melilit karena kelaparan juga. Dia berbelas kasihan; dia merasa tersentuh oleh kebutuhan mereka. Sungguh luar biasa! Dia merasakan, bersimpati dan tersentuh oleh kebutuhan kita!

Kata ‘belas kasihan’ ini diterjemahkan dari kata Yunani yang, di dalam Perjanjian Baru, dipakai dalam hal yang berkenaan dengan Yesus saja. Tidak dipakai di bagian yang lain.  Hanya digunakan berkenaan dengan Yesus, untuk menggambarkannya sebagai suatu Pribadi yang memiliki belas kasihan.


Pemakaian kata ‘belas kasihan’ di dalam bahasa Yunani

Kita akan mempelajari bagaimana kata ini dipakai di dalam bahasa Yunani. Kata yang diterjemahkan dengan ‘belas kasihan’ ini berasal dari kata yang memiliki makna isi perut, bukan kata yang terdengar sopan. Dan malahan, terjemahan Authorized Version kadang kala menerjemahkan kata ini dengan kata ‘bowels (isi perut)’: “bowels of compassion”.

Kata ini di dalam bahasa sumbernya memang memiliki arti isi perut. Kata ‘isi perut’ tidak sekadar menunjuk pada alat pencernaan saja, melainkan menunjuk kepada seluruh organ yang terdapat di dalam badan kita. Mungkin kedengarannya kurang begitu halus akan tetapi bukan itu yang penting.

Anda tahu bahwa seluruh bagian dalam tubuh kita sering dihubungkan dengan jenis-jenis perasaan tertentu. Kita sering berkata, “Hati kita tersentuh” Secara jasmani, hati adalah organ tubuh yang bekerja membersihkan racun dan membantu dalam pembentukan darah. Akan tetapi kata ‘hati’ juga memiliki makna kiasannya dan dihubungkan dengan jenis perasaan tertentu. Jadi, di saat Anda mengatakan ‘hati’, kata ini tidak Anda dimaksudkan untuk menunjuk kepada organ tubuh Anda yang sedang bekerja membersihkan racun di dalam tubuh dan membantu pembentukan darah, walaupun itu adalah makna aslinya, melainkan untuk menunjukkkan perasaan Anda.  Itulah makna yang dimaksudkan oleh kata Yunani yang diterjemahkan sebagai kata belas kasihan ini. 

Kata Yunani tersebut bukan saja menunjuk pada satu organ tubuh tertentu tapi menunjuk isi perut secara keseluruhan, dan makna kiasan untuk kata ini adalah belas kasihan. Kata ini mau menekankan bahwa belas kasihan adalah semacam perasaan yang tidak muncul di permukaan saja, tidak dangkal. Perasaan ini tidak bisa dikaitkan dengan kulit atau rambut Anda, yang berada di sisi luar, karena perasaan ini muncul jauh di dalam. Di dalam bahasa Inggris, ada istilah ‘gut feeling‘. Kata ‘gut’ berarti perut dan istilah ‘gut feeling‘ berarti perasaan yang terdalam dari diri Anda terhadap seseorang atau satu pribadi. Jadi, kata Yunani yang bermakna ‘isi perut’ ini dipakai untuk menekankan perasaan kasih, kepedulian dan simpati yang paling dalam: belas kasihan. Belas kasihan itu muncul dari dalam diri Anda.

Malahan, di sejumlah tempat, kata ini juga dipakai untuk menunjuk kepada hidup kita. Di dalam salah satu kitab apokrif, yaitu kitab Barukh; Barukh 2:17 berbicara tentang isi perut/bowels yang menjadi tempat kedudukan pneuma (roh) Anda. Dengan kata lain, hidup itu berpijak di dalam perut Anda.

Di bagian-bagian yang lainnya, kata ini dipakai untuk mengungkapkan perasaan ibu pada anaknya. Mungkin juga perasaan ayah terhadap anaknya. Perasaan orang tua terhadap anak mereka terungkap lewat kata ‘belas kasihan’ atau isi perut ini. Makna yang sangat berharga. Dan sangatlah penting untuk bisa memahami pokok tentang belas kasihan ini; karena hanya dengan pemahaman itu baru kita bisa menjadi aliran air hidup, baru Allah bisa menjadikan kita sumber saluran berkat bagi orang lain. Semuanya itu terkait dengan pemahaman kita tentang kata ‘belas kasihan’ ini.

Di dalam 2 Makabe, sebuah kitab apokrif juga, kata ini dipakai untuk mengungkapkan perasaan seorang ibu kepada anak-anaknya yang dihukum mati karena iman mereka. Kasih dari ibu ini kepada anak-anaknya terungkap lewat kata ‘belas kasihan’ ini, saat ia menyaksikan anak-anaknya disiksa sampai mati, satu demi satu. Kitab ini berbicara tentang belas kasihannya kepada anak-anaknya, simpatinya yang tak terkirakan di saat dia menyaksikan mereka menderita ketika disiksa sampai mati demi iman mereka. Dapatkah Anda memahami perasaan seorang ibu yang menyaksikan anaknya dihukum mati? Jika Anda bisa memahaminya, maka Anda bisa mengerti makna kata ‘belas kasihan’ ini. Sangat sulit bagi kita untuk bisa memahaminya, bukankah begitu?

Perasaan semacam inilah yang dimiliki oleh Yesus saat memandang pada kerumunan orang banyak itu. Dapatkah Anda memahaminya? Inilah belas kasihan dari seorang ayah atau ibu kepada sang anak. Saat Yesus menatap ke arah orang banyak itu dan melihat mereka kelaparan, dia berbelas kasihan pada mereka. Ini adalah kata dengan makna yang sangat kuat. Sangat susah digambarkan jika Anda belum mengalami perasaan ini.


“Jika kamu bisa merasakan apa yang Aku rasakan, berilah mereka makan.”

Selanjutnya, apakah hal yang ingin Yesus ajarkan kepada para muridnya di ayat 16 ini? Dia berbelas kasihan kepada mereka, Yesus berkata kepada mereka: “…, kamu harus memberi mereka makan.” Lucu, jika Yesus berbelas kasihan kepada mereka, seharusnya dialah yang memberi mereka makan, tetapi dia malah menyuruh murid-muridnya memberi mereka makan. Justru inilah poin yang ingin Yesus ajarkan kepada mereka.

Dapatkah Anda memahami apa yang sedang Yesus sampaikan? Dia sedang berkata, “Aku ingin agar kalian tahu apa yang kurasakan tentang mereka. Aku ingin agar kalian ikut merasakan dorongan hatiku untuk memberi mereka makan. Aku ingin kalian ikut berbelas kasihan pada orang banyak ini. Aku ingin agar kalian peduli pada orang banyak ini. Kamu harus memberi mereka makan. Milikilah belas kasihan ini, jangan aku saja yang memilikinya. Tapi bisakah kamu merasakan bekas kasihanku kepada mereka? Kalau kamu bisa merasakan belas kasihanku kepada mereka, maka kamu harus memberi mereka makan.”

Di sini, kita sedang menyinggung pokok yang paling mendasar di dalam kehidupan Kristen. Kapan Anda pernah merasa berbelas kasihan kepada orang banyak? Pernahkah Anda berbelas kasihan kepada orang banyak? Harus saya akui bahwa saat saya baru menjadi orang Kristen, saya tidak punya belas kasihan pada orang banyak. Saya tidak berbelas kasihan kepada satu orang pun, apalagi kepada orang banyak.

Belas kasihan bukan perasaan yang secara alami ada di dalam diri kita karena kasih tidak secara alami ada di dalam diri kita. Kita hanya peduli pada diri kita sendiri karena kita dibesarkan untuk mengurusi diri kita sendiri saja. Kapan Anda pernah meratapi orang yang tidak Anda kenal? Kapan Anda pernah melihat penderitaan orang lain dan merasa tersentuh pada penderitaan orang itu? Untuk bisa merasa tersentuh pada kebutuhan orang banyak, Anda harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Tanpa pikiran Kristus, tanpa Roh Kristus, Anda tidak akan pernah tersentuh oleh belas kasihan pada orang banyak, dan mungkin pada siapapun.


Banyak yang akan binasa secara kekal: Apakah Anda peduli?

Kami yang pernah tingal di Tiongkok telah begitu banyak melihat penderitaan, dan hati kami telah dikeraskan karena begitu banyaknya penderitaan yang telah kami lihat. Kami tidak merasakannya. Jika Anda belum terbiasa melihat pengemis di jalanan, Anda mungkin akan tersentuh oleh pemandangan itu, tetapi kami tidak. Kami sudah terbiasa melihat pengemis. Pada waktu itu di Shanghai, ada begitu banyak pengemis – di setiap sudut jalan ada pengemis. Anda tidak merasa tersentuh lagi pada kebutuhan mereka. Anda tidak merasakan apa-apa. Hati Anda dikeraskan. Anda bisa saja melangkah [dengan tenang] melewati kumpulan pengemis yang kurus, ringkih, kotor, merangkak sambil dikerubungi nyamuk dan lalat. Anda tidak merasakan apa-apa! Hati kita sudah dikeraskan oleh begitu banyaknya penderitaan dan kekurangan. Justru di sanalah letak persoalannya. Kita tidak tersentuh sebagaimana Kristus tersentuh.

Izinkan saya mengingatkan Anda, di Palestina pada zaman itu terdapat banyak sekali pengemis di mana-mana. Orang-orang pergi bersembahyang di Bait Allah setiap harinya, dan Anda tidak akan bisa mencapai Bait Allah tanpa berjalan menembus kerumunan pengemis di pintu gerbang. Di sekitar pintu gerbang itulah para pengemis menunggu orang yang akan pergi ke Bait Allah. Jadi jika Anda tinggal di Palestina pada zaman itu, Anda akan menjadi sama seperti kami yang tinggal di Tiongkok beberapa puluh tahun yang lalu, menjadi terbiasa dengan adanya pengemis. Pada saat itu kami tidak tersentuh sama sekali.

Tentu saja, beberapa orang Eropa yang tidak pernah melihat pengemis sebelumnya, ketika mereka datang ke Tiongkok, mulanya mereka sangat terkejut melihat kemiskinan dan kemelaratan para pengemis di sana. Mereka sampai merasa mual, bukan oleh belas kasihan tetapi oleh rasa jijik. Mungkin ada sedikit belas kasihan di sana, namun saya tidak tahu seberapa besar belas kasihan itu, yang jelas adalah rasa terkejut yang amat sangat melihat penderitaan semacam itu. Namun, beberapa waktu kemudian, mereka juga akan terbiasa, mereka tidak merasakannya lagi, dan belas kasihan itu lenyap. Inilah persoalan yang melanda kita.

Saya pernah berbicara dengan seorang teman yang menjadi Kristen, dan dia berkata, “Ada satu hal yang sangat mengusik saya. Tampaknya saya tidak merasa berbelas kasihan kepada mereka yang akan binasa di luar sana. Saya tahu bahwa saya harus berbelas kasihan. Saya seharusnya prihatin bahwa mereka akan binasa selamanya, masuk ke dalam kebinasaan yang kekal, akan tetapi saya tidak berbelas kasihan pada mereka.” Apakah Anda merasa berbelas kasihan? Apakah Anda merasa sedih melihat orang-orang itu akan binasa? Dan sementara waktu terus berlalu, orang-orang itu akan mati dan terhilang? Oh, Anda berkata, “Kami sudah sering dengar para penginjil mendramatisir perkara ini dan berusaha menggugah perasaan kami.”

Anda tidak perlu mendramatisir perkara ini. Namun fakta tetaplah fakta. Mereka akan terhilang. Apakah hal ini menggugah diri kita? Apakah Anda tiba-tiba mendapati bahwa ternyata Anda tidak memiliki belas kasihan? Anda tidak menguatirkan hal itu. Anda tidak merasa terusik. Jujur saja. Hal itu tidak mengusik perasaan Anda.

Dan tadinya hal itu juga tidak mengusik perasaan saya. Kemudian, saya menyadari bahwa saya ini tidak memiliki belas kasihan. Kita masih belum menjadi seperti Kristus. Kenyataan ini mengusik hatinya. Jika tidak, maukah dia pergi ke Kalvari? Maukah dia dipaku di kayu salib demi kita? Jika dia tidak berbelas kasihan, apa yang akan terjadi pada kita? Apa yanga akan terjadi pada dunia? Haruskah Yesus mengirim para malaikatnya untuk membawa mereka masuk ke dalam keselamatan karena tampaknya kita tidak terharu pada kebutuhan mereka?


Allah hanya bisa memakai orang yang memiliki belas kasihan

Jangan membayangkan yang terlalu jauh dulu. Mari kita renungkan saudara dan saudari di gereja yang kekurangan. Apakah Anda tidak merasa tergugah melihat mereka mengalami kesulitan keuangan? Selama Anda tidak tahu persoalan tersebut, Anda tidak peduli. Siapa peduli? Apakah hal itu mengusik hati Anda? Apakah penderitaan orang lain mengusik hati Anda? Jika Anda adalah seorang perawat atau dokter, Anda mungkin sudah begitu terbiasa melihat orang lain menderita. Anda telah melihatnya setiap hari, tetapi Anda tidak bisa terlibat secara emosional dengan orang-orang. Dan para perawat biasanya diperingatkan, saat pertama kali menjalani pelatihan, untuk tidak melibatkan perasaan. Perawat-perawat yang baru masuk akan sangat menderita! Ada banyak perawat baru di gereja kita ini. Dan saya tahu, dari kesaksian mereka, betapa menderitanya mereka ketika pertama kali masuk kerja. Mereka merasa sangat menderita melihat orang-orang yang sedang sekarat. Namun sejalan dengan waktu, mereka menjadi terbiasa melihat begitu banyak orang menderita. Masihkah mereka merasakannya? Mungkin tidak terlalu terasa lagi, atau mungkin malah tidak sama sekali.

Mungkin pada waktu pertama kali Anda menyaksikan operasi dan melihat darah, Anda jatuh pingsan! Namun sekarang, Anda bisa melihat darah mengalir begitu saja, ada apa ini? Anda mungkin memandangnya sama seperti jus tomat. Anda menjadi terbiasa melihatnya. Dengan kata lain, perasaan kita sudah melakukan penyesuaian. Kita belajar untuk menyesuaikan dan mengeraskan hati kita. Namun bagaimana mungkin hal tentang manusia yang akan terhilang itu tidak mengusik hati kita sama sekali? Atau, jika Anda percaya bahwa mereka akan binasa, mengapa hal itu tidak mengusik perasaan Anda? Mengapa perasaan saya tidak terusik?


Ketidaksabaran, satu aspek dari ketiadaan belas kasihan

Tadi malam, saya sedang merenungkan tentang diri saya, menguji diri saya di hadapan Tuhan dan membiarkan Roh Allah memeriksa saya. Dan yang bisa saya rasakan hanyalah kejijikan terhadap diri saya ini karena kurangnya belas kasihan itu. Tentu saja, jika kita bandingkan diri kita dengan orang-orang yang paling keras hatinya, kita bisa berkata bahwa kita lebih berbelas kasihan daripada mereka. Akan tetapi saya tidak mau membandingkan diri saya dengan orang yang sangat dikeraskan hatinya, saya membandingkan diri saya dengan Yesus, karena tujuan saya adalah menjadi serupa dengan dia. Itulah rencana Allah buat saya, menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya. Dan ketika saya membandingkan diri saya dengan Yesus, saya nyaris putus asa. Begitu sedikit belas kasihan saya!

Mungkin karena di masa lalu saya, ambisi saya adalah menjadi pemimpin militer. Seorang prajurit tak boleh terganggu oleh perasaan. Dia tak boleh mengizinkan perasaan mengendalikannya. Anda tidak boleh ragu di saat menarik pelatuk untuk menembak mati orang lain. Itu adalah bagian dari tugas Anda. Agar Anda bisa menjalani kehidupan di tengah masyarakat yang keras maka Anda harus menjadi keras; Anda akhirnya menjadi tidak berperasaan.

Dan saya [tadi malam] merenungkan tentang diri saya. Saya merenungkan tentang ketidaksabaran saya. Persoalan yang satu ini sangat mengusik hati saya. Hal ini menunjukkan satu gejala di dalam diri saya. Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda, akan tetapi saya adalah orang yang sangat tidak sabar. Saya harus bergumul dengan ketidaksabaran ini setiap saat. Saya akan gambarkan apa yang saya maksudkan. Saya sampaikan kesaksian ini kepada Anda dengan rasa malu pada diri saya sendiri. Dan lagi pula, Kitab Suci menyuruh kita untuk mengakui dosa-dosa kita antar satu dengan yang lain supaya kita dipulihkan.

Saya mengakui dosa-dosa saya. Saya tidak berpura-pura tampil lebih baik daripada orang lain. Jika saya berdoa bersama orang lain, dan orang itu berdoa sangat lambat, saya menjadi sangat tidak sabar, dan nyaris merasa jengkel. Memang ada orang yang memiliki kebiasaan untuk berdoa dengan sangat lambat. Diperlukan waktu sampai dua menit bagi mereka untuk mengeluarkan kata yang kedua, dan dua menit lagi untuk kata yang ketiga, dan pada saat itu, saya sudah benar-benar jengkel. Saya membatin, “Pada saat orang ini selesai dengan satu doa, saya sudah selesai dengan tiga, empat, atau lima doa! Kamu sedang membuang waktu saya. Selesaikan doamu. Berapa lama waktu yang kamu perlukan untuk memikirkan kalimat yang berikutnya!?” Sekarang Anda bisa melihat seperti apa saya ini. Sungguh memalukan!

Atau, misalnya, ada sebagian orang yang memang terbiasa berbicara sangat perlahan dan hal ini akan membuat saya tidak sabar. Saya berpikir, “Cepat selesaikan bicaramu! Apakah kau ingin agar aku menunggu di sini seharian sampai kau selesai menyampaikan ucapanmu?” Watak saya memang tidak sabaran. Saya cenderung berbicara dengan cepat. Saya cenderung bekerja dengan cepat. Dan kesabaran saya akan menipis jika melihat orang yang bekerja dengan lambat, entah mengerjakan sesuatu dengan tangan ataupun dengan mulutnya atau apapun itu. Saya orang yang sangat tidak sabaran. Dan perlu saya katakan, kadang kala kelambatan orang lain malah sampai membuat saya marah.

Lalu datanglah pertanyaan ini ke benak saya, “Mengapa kamu seperti ini?” Jika orang lain itu lambat, dan memang secara alami dia itu lambat, tidakkah seharusnya kamu memahami orang itu? Kita diciptakan berbeda-beda. Kita cenderung berfungsi secara berbeda-beda. Bukan karena saya bekerja lebih cepat lalu diartikan bahwa saya lebih baik daripada orang lain. Itu hanya keadaan alamiah saya saja. Bahkan sekarang ini, saya harus belajar untuk mengurangi kecepatan saya di saat berbicara. Dan hal ini sangat mengganggu saya. Sikap hati yang egois, angkuh dan tidak sabaran ini sangat mengusik hati saya. Saya tidak punya belas kasihan. Sekarang ini, dengan kasih karunia Allah, mungkin saya sudah sedikit lebih baik. Namun saya masih tidak sabaran. Saya memang tidak memiliki kesabaran.

Contoh lagi, saya bahkan lebih tidak sabar lagi terhadap orang-orang yang terus saja berkata bahwa mereka sedang tidak sehat, sakit di sana-sini. Saya hanya berkata kepada mereka, “Nah, mungkin kamu sekadar bermanja-manja saja. Bangkitkan semangatmu. Yang diperlukan oleh orang-orang semacam ini adalah sedikit paksaan untuk bangkit dan tidak bermalas-malasan. Apa itu sakit di sana-sini? Siapa yang mau peduli dengan urusan semacam ini?”

Jadi, Allah harus menangani saya. Sampai dengan sekarang pun Dia masih membenahi saya, agar saya bisa belajar untuk lebih berbelas kasihan, lebih berperasaan. Saya sering menyampaikan bahwa mempelajari bidang kedokteran adalah satu hal yang tak pernah terlintas di benak saya. Saya tidak berminat pada bidang kedokteran; saya tidak tertarik mengurusi orang sakit. Jika Anda belajar kedokteran, maka Anda akan curahkan hidup Anda untuk mengurusi orang sakit. Saya tidak punya belas kasihan terhadap orang sakit. Kedokteran adalah bidang yang tidak pernah menarik minat saya. Saya tidak pernah mempertimbangkannya. Jadi, Yesus harus membenahi saya, meremukkan saya. Dia harus menangani saya, membenahi saya lewat berbagai cara. Namun, saya akui kepada Anda, masih jauh jalan yang harus saya tempuh. Ya Tuhan, ampunilah saya!


Kata ‘belas kasihan’ yang dipakai lima kali untuk Yesus

Mengapa saya begitu prihatin akan hal ini? Karena jika Allah ingin memakai kita, pertama-tama Dia harus menjadikan kita berbelas kasihan. “Kamu harus memberi mereka makan.” Itulah yang dimaksudkan. Saat saya meneliti hal ini, saya melihat apa yang sedang Yesus ajarkan kepada murid-muridnya. Para muridnya tidak memiliki belas kasihan. Yesus harus mengajarkan belas kasihan kepada mereka.

Kata ‘belas kasihan (dari kata Yunani yang berarti isi perut ini)’ dipakai sebanyak lima kali dalam kaitannya dengan Yesus:

Kata ini dipakai di Matius 9:36, yang menyebutkan Yesus

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.

Pernahkah Anda melihat kerumunan penonton sepak bola? Atau pernahkah Anda melihat kerumunan orang banyak? Saya sering berada di tengah kerumunan orang banyak, dan bagi Anda yang berasal dari kota besar, tentu terbiasa melihat kerumunan orang banyak. Namun pernahkah Anda merasa, saat Anda melihat orang banyak itu, bahwa mereka seperti domba yang tidak bergembala? Apakah hal ini pernah menyentuh hati Anda? Hal itu tidak pernah menyentuh hati saya. Saya akui kepada Anda, hal itu tidak pernah menyentuh hati saya, setidaknya sampai dengan baru-baru ini.

Apakah yang Anda rasakan ketika Anda melihat orang banyak? Reaksi saya adalah meninggalkan kerumunan orang banyak yang tidak tertib itu. Yang ada di tengah-tengah kerumunan orang banyak hanyalah kebisingan dan debu dan hal-hal yang semacam itu. Anda hanya ingin cepat-cepat menyingkir dari tempat itu. Mengapa Anda ingin pergi berlibur? Karena Anda ingin pergi ke tempat yang tenang untuk menyingkir dari orang banyak. Namun ketika Yesus melihat orang banyak itu, hati-nya tergerak. Allah ingin menjadikan kita seperti ini!  Yesus ingin mengubah kita sehingga ketika melihat orang banyak, kita tidak akan berpikir, “Oh, biang ribut!” Sebaliknya, kita melihat mereka dan berkata, “Kemana mereka akan pergi? Mereka ini domba tanpa gembala! Mereka akan terhilang! Mereka akan binasa!” Dapatkah kita merasakannya? Kita tidak bisa, bukankah begitu? Terasa sangat berat. Bukan hal yang secara alami ada di dalam perasaan kita.

Kali kedua penggunaan kata ‘belas kasihan’ ini adalah di dalam peristiwa pemberian makan kepada 5000 orang (Matius 14:14) dan 4000 orang (Matius 15:32). Kembali lagi, bukan saja dia tersentuh oleh fakta bahwa kerumunan orang itu sedang berada di jalur menuju kebinasaan, tetapi dia juga terharu pada kebutuhan jasmani mereka. Mereka tidak punya makanan. Hal itu menyentuh hatinya. Mungkin kita bisa tersentuh pada kebutuhan rohani mereka, namun apakah kita tersentuh oleh kebutuhan jasmani mereka? Saya ragu akan hal itu.

Yang ketiga kalinya, kata ini digunakan di Markus 1:41 di mana Yesus berbelas kasihan kepada penderita kusta. Pernahkah Anda melihat penderita kusta? Terlihat sangat menjijikkan. Saya pernah mengunjungi Leper Colony (Pemukiman Penderita Kusta) di Hong Kong. Jika Anda pernah berkunjung ke pemukiman tersebut, apa reaksi pertama Anda? Reaksi pertama saya ketika melihat orang tanpa hidung, tangan yang buntung, dan segala macam bilur dan koreng, adalah sangat tidak nyaman. Anda merasa mual melihat orang dengan daging yang membusuk di wajahnya. Anda merasa pusing. Apakah Anda merasakan belas kasihan? Saya tidak merasakannya. Jika Anda merasakannya, berarti Anda jauh lebih baik daripada saya. Yesus menatap penderita kusta yang dagingnya membusuk itu, dan dia berbelas kasihan. Dia bahkan menjamah penderita kusta itu. Dia berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”

Peristiwa keempat di mana Yesus berbelas kasihan adalah saat menangani dua orang buta di Matius 20:34. Pernahkah Anda bertemu dengan orang buta? Kita banyak bertemu dengan orang buta di belahan timur ini. Dan kembali lagi, rasa terkejut dan tidak nyaman yang muncul saat Anda melihat keadaan mata mereka itu yang tidak normal itu.

Kejadian kelima di mana dia berbelas kasihan adalah dalam peristiwa janda dari Nain yang ditinggal mati oleh anaknya, di Lukas 7:11. Di saat Anda berbicara dengan orang yang ditinggal mati oleh anak atau suami atau istrinya, pernahkah Anda merasa Anda tidak tahu harus berbicara apa? Anda menjadi gagap karena canggung, bukan karena berbelas kasihan. Anda sedang merenungkan tentang diri Anda sendiri, bukannya memikirkan mereka. Anda tidak tahu bagaimana bersikap dalam kaitannya dengan orang itu. Anda tidak tahu apa yang harus Anda katakan.

Itulah pokoknya. Kita tidak memiliki belas kasihan karena kita memikirkan diri, perasaan dan reaksi kita sendiri saja. Kita tidak memikirkan tentang orang yang bersangkutan berikut kebutuhannya, dan juga penderitaannya. Kalau saja kita bisa melupakan diri ini dan menaruh perasaan kepada orang lain. Kita tidak menyukai kerumunan orang banyak karena kita tidak suka dengan kebisingan. Kita tidak suka tergencet. Kita tidak suka terdorong kesana kemari. Tentu saja, kita tidak akan suka dengan kerumunan orang banyak jika kita memikirkan diri sendiri saja. Kalau saja kita bisa melupakan diri ini dan mulai memikirkan mereka.

Itulah faktor kunci yang ingin Yesus ajarkan kepada murid-muridnya. Dia tahu bahwa mereka tidak memiliki belas kasihan. Dia tahu bahwa mereka telah terbiasa melihat orang buta, pengemis dan orang yang kelaparan. Sama seperti kita, mereka sudah terbiasa melihat hal ini. Namun Yesus mengubah mereka sehingga kekerasan hati mereka bisa disingkirkan, dan mereka bisa merasakan kebutuhan orang lain, mereka bisa berbagi rasa dengan orang banyak.


Berbelas kasihan bukan berarti menjadi sentimental

Perhatikanlah, Yesus tidak sedang bersentimentil. Berbelas kasihan tidak berarti menjadi sentimental. Keduanya adalah hal yang berbeda. Anda bisa saja menjadi sentimental terhadap sesuatu hal untuk sesaat, namun sentimentalitas itu memiliki satu ciri yang menyolok yaitu berlangsung sesaat, ia akan berlalu. Di sisi lain, belas kasihan akan semakin mendalam sejalan dengan berlalunya waktu. Mungkin kadang-kadang, Anda menonton film dan ketika Anda melihat ada penderitaan di dalam film itu, apa yang terjadi? Air mata Anda menetes. Mengapa Anda menangis? Jika Anda bertanya pada diri Anda, apakah ini belas kasihan? Sepertinya bukan. Yang sedang Anda pikirkan adalah bagaimana jika hal itu terjadi pada diri Anda? Anda tidak sedang memikirkan orang yang bersangkutan.

Sentimentalitas berarti Anda sedang berpikir bagaimana jika hal itu terjadi pada saya? Dan Anda tidak menangis untuk orang tersebut, melainkan bagi diri Anda sendiri, seandainya hal itu terjadi pada diri Anda. Bukankah begitu? Yang saya alami adalah seperti itu. Kadang kala di saat saya menonton film, saya memang merasa sedih. Dan saya tahu bahwa itu hanyalah sentimentalitas karena bersumber dari keegoisan. Yang saya pikirkan saat itu adalah: bagaimana jika anak perempuan saya yang mati, dan saya menangis. Saya tidak memedulikan dia yang sedang kehilangan anaknya itu. Yang saya pikirkan adalah bagaimana jika saya yang kehilangan anak perempuan saya, itu sebabnya saya menangis. Atau, jika Anda melihat seseorang yang sedang menderita dan Anda lalu menangis, itu karena Anda berpikir: seandainya dia itu aku, sungguh mengerikan keadaaannya, lalu Anda menangis. Anda sedang memikirkan [seperti apa] penderitaan Anda. Itulah sentimentalitas. Itu bukanlah belas kasihan. Belas kasihan terjadi jika Anda melupakan diri Anda, perasaan Anda, dan Anda memikirkan mereka, di saat Anda tidak menangisi diri Anda melainkan menangisi mereka. Kapan Anda pernah menangisi orang lain?


Apa yang harus terjadi sebelum Allah bisa memberkati ‘lima roti dan dua ikan’ kita?

Itulah alasan mengapa Anda akan bisa memahami jawaban atas pertanyaan saya di bagian awal khotbah ini. Jika Allah tidak memberkati lima roti dan dua ikan milik Anda, dan memakainya untuk memberi makan orang banyak, apakah itu karena Anda tidak punya lima roti dan dua ikan itu? Atau karena Anda tidak bersedia mempersembahkan lima roti dan dua ikan itu? Anda berkata, “Tidak, aku bersedia mempersembahkannya.” Lalu mengapa Allah tidak memberkati lima roti dan dua ikan Anda itu? Jawabannya sederhana: sebelum Dia bisa memakai kita, Dia harus membuat kita berpikir seperti Dia. Sang nabi berkata, “Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?

Bagaimana bisa Yesus bekerja melalui kita jika kita bahkan tidak memiliki perasaan yang dia miliki terhadap umatnya? Kita akan menjadi penghalang bagi aliran kuasa itu. Kita akan menjadi penyumbat. Sumber airnya ada akan tetapi salurannya tertutup. Hal yang akan membuka keran itu adalah belas kasihan di dalam diri kita. Belas kasihanlah yang akan membuka diri kita pada orang lain. Jika kita sudah terbuka, kuasa itu akan segera mengalir. Tidakkah Anda berpikir bahwa Yesus sudah tahu kalau para muridnya tidak akan bisa memberi makan 5000 orang itu? Jelas Yesus tahu itu.

Lalu apa persoalannya? Persoalannya bukan pada kemampuan dia di dalam memberi makan 5000 orang itu. Dia ingin memberi makan 5000 orang itu melalui para murid. Oleh karena itu, belas kasihan di dalam diri mereka harus ada terlebih dahulu supaya belas kasihannya bisa mengalir melalui belas kasihan mereka, dan sampai pada 5000 orang itu. Dapatkah Anda memahami maksud saya?

Sekarang ini, air hidup itu sudah tersedia. Sumber air keselamatan dari Allah tersedia secara berkelimpahan (Anda bisa pakai gambaran semacam ini), akan tetapi mengapa orang-orang di luar sana tidak bisa mendapatkannya? Karena Anda dan saya sedang tersumbat, bukankah begitu?

Jika kita tidak tersumbat, maka air hidup itu akan mengalir kepada mereka. Tetapi air itu sekarang tidak mengalir kepada mereka. Apakah karena sumber airnya tidak ada? Anda tahu bahwa sumber airnya ada. Lalu mengapa airnya tidak sampai kepada mereka? Karena Anda dan saya sedang tersumbat. Semua keran sedang tertutup, jadi dari mana orang-orang itu bisa mendapatkan air?

Kita hanya perlu menjadi keran airnya. Kita tidak perlu menjadi sumber air itu. Yesus adalah sumber air itu. Allah di dalam kasih karunia-Nya yang luar biasa itu sudah menyediakan sumber air kehidupan bagi orang banyak, akan tetapi masalahnya adalah kita sedang tersumbat. Akibatnya, orang-orang di sekitar kita tidak mendapatkan air. Itulah pokok yang ingin diajarkan oleh Yesus kepada murid-muridnya.

Dia sedang berkata kepada murid-muridnya, “Mengertikah kamu bahwa aku tidak akan selalu berada di sini untuk menangani kebutuhan orang banyak ini? Akan tetapi kamu akan selalu ada. Kamu harus melanjutkan pekerjaan ini. Kamu harus memberi mereka makan. Aku akan pergi ke kayu salib. Aku akan membuka gerbang surga bagi orang banyak ini. Aku akan mengalirkan air hidup dari Bait Surgawi. Aku tidak akan ada di sini lagi, akan tetapi kamu akan tetap di sini. Kamu harus memberi mereka air hidup. Kamu harus memberi mereka roti hidup. Siapa yang akan memberi mereka jika bukan kamu?”

Hal yang sama juga berlaku sekarang ini. Keselamatan Allah sudah tersedia. Sudah ada untuk memberi makan orang-orang yang kelaparan di luar sana. Namun apakah Anda melihat apa yang terjadi? Keselamatan itu macet di tangan Anda. Macet di tangan saya. Allah tidak menghendaki hal itu! Akibatnya, apakah yang mereka dapatkan? Tidak ada yang mereka dapatkan karena kita tidak memberi apa-apa kepada mereka. Apa yang kita katakan kepada mereka? Kita berkata, “Tuhan, hari sudah larut. Suruhlah mereka pulang. Mereka boleh pergi dan membeli sendiri makanan buat diri mereka. Biarlah mereka cari sendiri jalan untuk memenuhi kebutuhan mereka.”

Bukankah itu yang sedang kita ucapkan sekarang ini? Kita berkata, “Biarkan saja mereka. Mereka bisa memenuhi kebutuhan mereka di tempat lain. Ada banyak gereja di luar sana yang mengajarkan berbagai agama. Jika mereka memerlukan agama, mereka bisa pergi ke gereja mana saja dan mendapatkannya. Jika mereka tidak pergi mencari, itu salah mereka sendiri.” Bukankah begitu cara kita berpikir? Kita tidak mempunyai belas kasihan.

Kita tidak mau peduli. Airnya berhenti mengalir di sini. Tentu, Allah bisa melipatgandakan ‘lima roti dan dua ikan’ milik Anda, karunia Anda yang sedikit itu, akan tetapi tidak ada sesuatu pun hal yang terjadi karena kita tidak peduli dan tidak memiliki belas kasihan. Dan di akhir hidup Anda, ke – ‘lima roti dan dua ikan’ itu tetap tinggal di dalam diri Anda.

Satu mina yang telah Tuhan berikan kepada Anda itu, akan Anda kembalikan kepada Tuhan sambil berkata, “Tuhan, Engkau telah memberiku satu mina, ini dia. Engkau bisa mengambilnya lagi. Aku menyimpannya dengan rapi di sapu tangan ini.” Hal ini yang kita pelajari di dalam perumpamaan yang terakhir di injil Lukas. Kiranya kita dapat memahami apa yang sedang Yesus ajarkan kepada murid-muridnya ini. Yesus juga ingin mengajarkan hal ini kepada kita.

Kita tidak  boleh menjadi keran yang tertutup sehingga air hidup yang berlimpah itu tidak dapat menjangkau orang lain. Jangan menjadi orang-orang Kristen yang membual dengan berkata, “Kau tahu, aku diselamatkan. Yay! Aku memiliki Roh Kudus di dalam diri ini. Aku memiliki air hidup yang kekal.” Memang, saluran itu memang terisi air, namun bukankah saluran itu ada di sana untuk menyalurkan air, menjadi saluran air bagi orang lain?

Kita dibesarkan dalam doktrin tentang keselamatan yang pada dasarnya mengajarkan kita untuk menikmati keselamatan kita sendiri: Anda saja yang diselamatkan. Berkenaan dengan keselamatan orang lain, tampaknya Anda harus menerima panggilan khusus untuk itu. Untuk memberitakan Injil kepada orang lain, Anda haus menerima panggilan khusus dari atas.

Panggilan macam apa yang kita perlukan? Panggilan macam apa yang Anda perlukan? Satu-satunya panggilan adalah panggilan untuk berbelas kasihan. Jika Anda memang memiliki belas kasihan, Anda tidak akan berkata, “Aku menunggu panggilan khusus.” Panggilan macam apa yang Anda perlukan? Panggilan yang sudah diberikan adalah bahwa kita harus berbelas kasihan kepada orang banyak yang akan binasa.


Kita diselamatkan untuk mengerjakan satu tugas: menjadi aliran air hidup

Dan sebagai penutup, saya ingin beralih ke satu ayat di Yohanes 7:38. Mari kita baca dari ayat 37:

Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”

Yesus berkata, “Jika engkau percaya kepada-Ku, dari dalam hatimu akan mengalir aliran air hidup.” Kata yang diterjemahkan dengan hati ini adalah kata yang bermakna isi perut, sama seperti kata ‘belas kasihan’. Dan inilah alasan mengapa saya masukkan ayat ini ke dalam pembahasan.

Kata Yunani yang digunakan berbeda, akan tetapi keduanya memiliki arti yang sama. Dan terjemahan Authorized Version menerjemahkan dengan, “out of your belly will come rivers of living water (dari perutmu akan mengalir aliran-aliran air hidup).” Terjemahan itu tepat. Kata yang digunakan memang ‘belly (perut)’, ‘bagian dari diri yang terdalam’. Dan kata ini adalah sinonim (persamaan kata) dari kata yang diterjemahkan dengan ‘belas kasihan’.

Dan saya menghubungkan kedua kata itu karena alasan di atas. Saat Yesus berkata, “Barangsiapa percaya kepada-ku,” yang Yesus maksudkan adalah setiap orang Kristen. Dia tidak menyebutkan pendeta atau penginjil, melainkan, “Barangsiapa percaya kepadaku, dari dalam hatinya, dari tempat belas kasihannya, akan mengalir aliran-aliran, bukan hanya beberapa aliran atau beberapa tetes, tetapi aliran-aliran air hidup.” Ini berlaku untuk setiap orang Kristen, bukan sekadar penginjil tetapi setiap orang Kristen, “Yang percaya kepadaku.”

Dan kalimat ini bukan sekadar mengatakan bahwa kita diselamatkan supaya kita bisa pergi ke surga, tetapi kita diselamatkan untuk menjalankan satu fungsi di sini dan sekarang juga. Saya harap Anda mengerti akan hal ini: kita diselamatkan bukan sekadar supaya kita bisa pergi ke surga. Kita diselamatkan untuk menjalankan satu pekerjaan di dunia ini. Pekerjaan apakah itu? Menjadi aliran-aliran air hidup.


Mengapa orang Kristen tidak menjadi aliran-aliran air hidup?

Inilah alasan mengapa saya membahas perikop ini sekarang. Mengapa orang Kristen tidak menjadi aliran-aliran air hidup? Apakah Anda telah berfungsi sebagai pancuran air hidup? Jika tidak, kita bisa ajukan salah satu dari dua macam pertanyaan. Pertanyaan yang pertama adalah: Apakah Anda ini orang Kristen? Kalimat itu mengatakan, “Barangsiapa percaya kepada-Ku”, dan itu berarti setiap orang Kristen. Jadi, apakah Anda ini orang Kristen?

Jika Anda ini orang Kristen, maka pertanyaan yang kedua adalah: Mengapa air hidup itu tidak mengalir dari diri Anda? Jadi, entah Anda ini bukan orang Kristen, berarti ini persoalan yang besar, atau Anda adalah seorang Kristen yang juga berarti air itu seharusnya sudah ada di dalam diri Anda. Dan air ini harus mengalir sekarang juga – akan mengalir aliran-aliran air hidup, bukannya suatu hari nanti karena di saat itu tidak ada lagi padang gurun di dalam bumi dan langit yang baru.

Padang gurunlah yang membutuhkan air. Orang-orang yang kehausan itu ada di sini dan ada di saat ini juga. Kiranya Allah menjadikan setiap orang Kristen sebagai pancuran air hidup!


Injil mungkin belum sampai pada kedalaman hati kita

Kehidupan ditopang oleh air. Namun saya sangat tertekan melihat air itu tidak mengalir sebagaimana seharusnya dari dalam diri saya. Ia tidak mengalir sebagaimana mestinya dari dalam diri orang Kristen. Dan penyebabnya adalah: Injil mungkin sudah menjamah pikiran kita akan tetapi belum sampai pada kedalaman hati kita. Ia belum menjamah perut kita, ginjal, paru-paru dan hati kita. Air itu belum sampai di kedalaman diri kita! Dan saya kira ini adalah persoalan yang sedang melanda kekristenan kita di zaman sekarang ini. Kekristenan telah menjamah pikiran kita. Akal pikiran kita sudah diyakinkan. Di zaman sekarang ini, kita adalah ‘orang-orang Kristen intelektual’.

Kekristenan hanya masuk di otak kita. Masih belum masuk ke dalam diri kita, karena jika sudah masuk ke dalam diri kita, maka dari dalam diri kita ini akan mengalir aliran-aliran air hidup. Kekristenan belum menaklukkan kita. Sudahkah air itu menaklukkan Anda sampai pada kedalaman hati Anda? Sudah? Biarlah Allah yang akan meneliti hati saudara hari ini.

Jika Anda hanya ‘orang Kristen intelektual’, maka Anda tidak akan bisa bertahan lama. Anda bisa membahas tentang ‘kekristenan intelektual’; Anda tahu apa yang harus disampaikan; Anda mengerjakan hal-hal yang benar; namun semua itu tidak masuk ke dalam hati Anda. Akan tetapi jika Roh Allah menjadikan Anda seorang Kristen yang sejati, maka kekristenan itu akan masuk ke dalam diri Anda, menuju jantung, lambung, perut, jeroan Anda. Dan jika air itu sampai di sana, maka aliran-aliran air hidup akan mulai mengalir.


Berbelas kasihanlah kepada suami atau istri Anda

Satu hal yang perlu kita ingat sebagai penutup khotbah ini: Saat belas kasihan Anda mulai mengalir, ia mungkin masih dalam tetesan yang kecil. Sungai-sungai yang besar tidak langsung besar dari sumbernya. Sungai-sungai yang besar berasal dari hulu sungai yang kecil-kecil. Anda akan terkejut jika Anda menelusuri sungai-sungai besar itu sampai ke sumbernya, betapa kecil aliran-aliran yang ada di sana. Berkat aliran-aliran yang kecil itu terciptalah sungai yang besar.

Suatu hari nanti, Anda akan mulai bisa berbelas kasihan kepada salah satu anggota keluarga Anda. Suatu kejutan, namun kadang-kadang saya dapati, belas kasihan sangatlah kurang di dalam hubungan antara suami dan istri. Tahukah Anda akan hal itu? Tahukah Anda mengapa banyak pernikahan hancur? Karena tidak ada belas kasihan. Sang suami tidak menaruh perasaan kepada istri dan demikian pula sebaliknya. Kasih mereka tidak pernah masuk jauh ke dalam sampai ke kedalaman batin mereka. Tidak ada belas kasihan, dan pernikahan mulai retak. Apakah Anda berbelas kasihan pada suami Anda? Apakah suami Anda berbelas kasihan kepada Anda? Atau, jika Anda adalah si suami, apakah Anda memiliki belas kasihan terhadap istri Anda? Setiap kali Anda tersinggung, setiap kali Anda menunjukkan ketidaksabaran, bukankah itu menunjukkan bahwa belas kasihan Anda sudah tidak ada lagi?


Berbelas kasihanlah kepada anak Anda

Lalu bagaimana dengan anak-anak kita? Kurangnya tindakan disiplin menunjukkan kurangnya belas kasihan. Kelebihan tindakan disiplin juga menunjukkan kurangnya belas kasihan. Jika Anda tidak mendisiplin anak Anda, berarti Anda tidak berbelas kasihan kepadanya. Tidakkah Anda tahu bahwa dengan mendisiplin anak Anda, maka Anda sedang mencegah penderitaan yang mungkin muncul atas mereka di masa depan akibat melakukan hal yang salah? Kurangnya tindakan disiplin menunjukkan kurangnya belas kasihan.

Begitu juga dengan disiplin yang berlebihan: jika Anda berkata kepada anak Anda, “Jangan lakukan ini, jangan lakukan itu, jangan berbuat apa-apa,” itu sama saja dengan memborgol anak Anda. Mungkin Anda perlu merantai anak Anda ke tembok. Dengan demikian, dia tidak akan bisa menumpahkan susu, dia tidak bisa menumpahkan teh ke pakaian Anda, dan tidak bisa menjatuhkan makanan karena dia terikat. Anak Anda mungkin akan sangat aman. Ada sebagian orang yang ingin agar anak mereka tidak mengerjakan apa-apa. Cukup duduk diam, menutup mulut, seolah-oleh menempelkan plester di mulut mereka, dan Anda akan menikmati ketenangan. Anak yang ideal adalah anak yang diborgol tangannya dan diplester mulutnya! Akan tetapi itu bukanlah belas kasihan.

Anda tidak merasakan apa yang dibutuhkan oleh anak Anda, dan anak itu tahu bahwa Anda tidak berbelas kasihan kepadanya. Tahukah Anda apa akibatnya nanti? Mereka tidak akan mentaati Anda. Banyak perkara ketidaktaatan anak terjadi karena mereka tahu bahwa orang tua mereka tidak memahami mereka. Orang tua mereka tidak berbelas kasihan pada kebutuhan mereka. Akan tetapi janganlah membuat kesalahan dengan beranggapan bahwa belas kasihan itu berarti Anda tidak akan melakukan tindakan disiplin pada si anak. Hal ini juga bukanlah belas kasihan, karena seperti yang telah saya sampaikan, jika Anda tidak mendisiplin si anak, maka anak itu akan melakukan semua hal yang salah dan mencelakai dirinya sendiri secara lebih parah di masa depan nanti. Jika segala sesuatu yang Anda kerjakan didasari oleh belas kasihan, maka semua yang Anda kerjakan akan didasari oleh hikmat.

Demikian pula dengan gereja, Anda harus menjalankan disiplin jemaat. Sebagai orang yang mengajar, dan juga pernah diajar, kami harus menjalankan disiplin berdasarkan belas kasihan. Hati kami sakit, namun kami tahu bahwa kalau kami tidak melakukannya, maka kami akan lebih merusak orang tersebut. Oleh karena itu, Anda perlu bertindak di dalam hikmat dan di dalam niat yang benar.

Saya prihatin dengan keluarga-keluarga Kristen karena saya telah sering melihat banyak keluarga di mana suami dan istrinya tidak memiliki belas kasihan lagi antara satu dengan yang lain, dan pernikahan itu berada di tepi jurang kehancuran. Pernikahan itu goyah; menuju perpisahan.

Saat Allah berbicara kepada kita dan menjamah kedalaman batin kita, Dia mengubah hubungan pernikahan kita, Dia mengubah hubungan kita dengan anak-anak kita. Dia mengubah segala-galanya. Dan hal terburuk yang mungkin terjadi adalah jika kita tidak menjadi saluran berkat bagi mereka yang akan binasa karena kita tidak berbelas kasihan. Saya harap Anda bisa melihat arti penting belas kasihan ini. Jika kita ingin menjadi saluran berkat bagi Allah, maka yang paling kita perlukan adalah menjadi serupa dengan Kristus di dalam hal belas kasihan ini. Kiranya Roh Kudus menjamah dan mengubah cara berpikir kita sehingga ketika kita melihat dunia, kita mulai memiliki belas kasihan.

Saya bersyukur kepada Allah karena saya mulai memiliki belas kasihan. Masih sangat jauh perjalanan yang harus saya tempuh. Saya merasa tertekan melihat jauhnya perjalanan yang harus ditempuh ini. Dibandingkan dengan Yesus, saya bahkan tidak tahu seberapa jauh jarak saya; tidak ada bayangan sama sekali. Tapi saya bersyukur kepada Allah karena sudah ada aliran kecil belas kasihan yang mengalir di hati saya. Memang belum cukup, akan tetapi sudah dimulai. Seperti aliran air hidup yang keluar dari Bait Suci di Yehezkiel 47, yang merupakan gambaran di balik firman di Yoh 7:38. Pada sumbernya, aliran itu masih dangkal, mungkin hanya setinggi mata kaki, atau mungkin lutut. Namun semakin jauh, aliran itu menjadi semakin dalam. Kita bersyukur kepada Allah akan aliran ini. Saya berdoa kiranya Allah berbicara kepada kita semua dan mengubah kita, agar Dia menyelamatkan kita dari keegoisan kita supaya di tengah angkatan ini, kita benar-benar menjadi aliran-aliran air hidup.

 

Berikan Komentar Anda: