Pastor Eric Chang | Matius 12:46-50 |

Kita akan membahas Firman di Matius 12:46-51. Pada pesan yang lalu, kita telah membahas pengajaran Yesus di ayat 43-45. Kita melihat betapa pentingnya dipenuhi oleh Roh Allah; bahwa hidup kita tidak boleh sampai kosong. Jika kita tidak dipenuhi oleh Roh Allah, maka kita akan menjadi korban kuasa si jahat.

Hari ini kita masuk pada Matius 12:46-50:

Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Maka seorang berkata kepada-Nya: “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: “Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Kata-kata di atas sangatlah penting bagi kita dalam memahami ajaran Yesus. Kita lihat juga bagian bacaan yang sejajar di Lukas 8:19-21.

Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak. (Hal ini memberi kita gambaran lain bahwa begitu banyak orang yang mengerumuni Yesus saat dia mengajarkan Firman Allah sehingga keluarganya tidak bisa mendekati dia) Orang memberitahukan kepada-Nya: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” Tetapi Ia menjawab mereka: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”

Perikop yang sejajar ini menjelaskan ayat-ayat di Matius tadi: Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku? Jawabnya adalah “siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku”. Apakah arti dari kalimat “yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga”? Itulah “mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya!” Dengan membandingkan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya di dalam Kitab Suci, kehendak Allah dan Firman Allah ternyata sejajar.

Selanjutnya, jika kita buka ke Lukas 11:27-28, Anda akan melihat bahwa perikop yang sebelumnya berkaitan dengan apa yang sedang kita pelajari di Matius pasal 12, tentang orang yang hidupnya kosong dan dikuasai lagi oleh delapan roh najis.

Lukas 11:27-28 berbunyi:

Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Tetapi Ia berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”

Bagian bacaan ini berkenaan dengan kehendak Allah. Apakah kehendak Allah itu? Bagaimana kita bisa melakukan kehendak Allah? Apakah makna penting dari kehendak Allah itu?


Ikatan keluarga bukan paspor menuju Kerajaan Allah

Apa konteks dari Matius 12:46? Yesus sedang mengajar banyak orang, dan apa yang terjadi? Keluarganya datang dan menyela kegiatannya. Ayat 46 berbunyi, “Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu,” dia belum selesai, dia masih sedang berbicara pada orang banyak, dan keluarganya datang serta berkeras ingin bertemu dengannya. Mereka ingin berbicara dengannya, padahal dia masih belum selesai mengajar. Suatu hal yang lazim dilakukan oleh sanak keluarga, bukankah begitu? Mereka selalu merasa bahwa mereka punya hak atas diri Anda, tak peduli apapun hal yang sedang Anda kerjakan. Dan jelas sekali, fakta bahwa Yesus sedang mengajarkan Firman Allah tidak mengendurkan niat mereka; orang banyak yang sedang bersemangat mendengarkan Firman Allah juga tidak membuat mereka undur. Kelihatannya mereka belum siap untuk menunggu sampai Yesus selesai mengajar, mereka menyuruh seseorang untuk memberitahunya, padahal  Yesus masih sedang mengajar. Inilah hal yang perlu kita camkan.

Lalu, ketika Yesus sedang terhenti sejenak kegiatan mengajarnya, dia berkata, “Saudaraku dan ibuku adalah mereka yang melakukan kehendak Allah, Bapaku di surga.” Hal pertama yang perlu kita perhatikan adalah, hubungan darah, pertalian antara manusia, tidak punya makna penting di dalam Kerajaan Allah. Yesus berkata kepada orang banyak dan kepada orang yang menyampaikan pesan tersebut, bahwa tak seorang pun yang berhak mengklaim dirinya hanya karena orang tersebut adalah kerabatnya. Hanya ada satu hal yang penting di dalam Kerajaan Allah, dan hal itu adalah kehendak Allah. Dan ini adalah pokok yang harus dipahami oleh semua orang Kristen. Satu-satunya hal yang penting di dalam Kerajaan Allah adalah kehendak Allah, yang lain tidak penting.

Jadi jelaslah bahwa para kerabatnya itu belum mengerti hakekat dari Kerajaan Allah. Dan mereka berpikir bahwa pertalian jasmani antara mereka dengannya memberi mereka hak atas Yesus. Hal ini memang berlaku di dalam kerajaan duniawi. Jika Anda kebetulan adalah seorang kerabat dari presiden, perdana menteri, atau petinggi di sebuah negara, maka sudah sewajarnya, menurut ukuran duniawi, Anda berhak mendapat perhatian darinya. Sebagai contoh, jika saya adalah saudara dari Presiden Obama, maka tentu saja saya bisa langsung masuk ke Gedung Putih, sementara orang lain masih harus antri di luar dan menunggu sampai pemandu mereka mengantarkan mereka berkeliling di Gedung Putih. Jika saya bisa menunjukkan bahwa saya adalah saudaranya, maka hal itu sudah merupakan bukti yang cukup. Tak seorang pun akan berani menghalangi saya untuk bertemu dengan saudara saya. Jika ibu dari seorang Presiden datang, maka tak seorang pun akan berani mengusirnya dari hadapan sang presiden. Dia berhak untuk bertemu dengan si presiden dan orang yang berani menghalanginya akan menghadapi banyak masalah. Begitulah tata cara yang berlaku di dunia, akan tetapi bukan itu tata cara yang berlaku di dalam Kerajaan Allah. Di dalam Kerajaan Allah, pertalian darah tidak berarti apa-apa. Yang penting hanya kehendak Allah saja. Yang lainnya tidak berlaku. Hal ini saya tegaskan berkali-kali karena Yesus memang ingin agar kita memahaminya.

Berdasarkan ayat-ayat ini, Maria sama sekali tidak memiliki kedudukan yang khusus, tidak di dalam Kitab Suci dan juga tidak di dalam ajaran Yesus. Jika dia memang berhak untuk mendapatkan penghargaan, tentunya hal itu bukan karena dia memiliki pertalian darah, dan pokok ini akan kita lihat nanti. Di dalam Kerajaan Allah, pertalian darah sama sekali tidak berarti apa-apa. Ini bukan berarti bahwa Yesus tidak menghormati dan tidak mengasihi ibunya; bukan begitu maksudnya. Dia mengasihi ibu dan menghormati ibunya. Akan tetapi kita sekarang ini sedang berbicara tentang Kerajaan Allah, yaitu di dalam kaitannya dengan makna keselamatan, tentang hal memasuki Kerajaan Allah. Anda tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah, atau diselamatkan, karena Anda memiliki pertalian darah dengan Yesus. Pertalian darah bukanlah paspor menuju keselamatan. Ini adalah poin penting pertama yang perlu kita camkan.


Iman yang mengerjakan kehendak Allah

Pertama-tama, tak seorangpun masuk ke dalam keselamatan kecuali melalui pelaksanaan kehendak Allah. Jika Anda tidak mengerjakan kehendak Allah, Anda tidak akan mungkin diselamatkan. Anda tidak akan diselamatkan oleh keyakinan pada doktrin yang benar. Tidak ada ayat yang mendukung keyakinan semacam itu. Anda tidak diselamatkan dengan mengandalkan kenyataan bahwa Anda adalah jemaat Injili yang baik, karena kebetulan Anda masuk ke gereja yang benar dan mempercayai hal-hal yang benar. Apakah semua itu akan menyelamatkan Anda? Tidak sedikitpun! Anda tidak akan melangkah masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan hal semacam itu. Keyakinan Injili Anda hanya akan membawa Anda masuk ke dalam gereja Injili. Atau, jika Anda adalah seorang jemaat Anglikan, hal itu akan membawa Anda masuk ke gereja Anglikan seandainya Anda mempercayai doktrin-doktrin Anglikan yang benar. Jika Anda mempercayai doktrin-doktrin Katholik yang benar, hal itu hanya akan membawa Anda masuk ke dalam gereja Katholik, dan tercatat di dalam daftar jemaat mereka. Hal itu tidak akan membawa Anda masuk ke dalam Kerajaan Allah. Tidak akan membawa Anda mendekat kepada Allah.

Satu-satunya hal yang penting di dalam keselamatan hanyalah kehendak Allah, bukannya menyakini kredo yang benar, atau doktrin yang benar. Sekalipun hal tersebut sangat penting, akan tetapi tidak akan membawa Anda masuk ke dalam Kerajaan Allah. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa jika hal-hal tersebut tidak membawa kita masuk ke dalam Kerajaan Allah, lalu kita boleh mempercayai sembarang doktrin yang salah.

Yang saya maksudkan adalah bahwa mempercayai doktrin yang benar tidaklah cukup untuk membawa Anda masuk ke dalam Kerajaan Allah. Doktrin yang benar hanyalah titik awal saja. Anda masih harus melangkah mengerjakan kehendak Allah. Yesus menegaskan hal ini dengan sangat nyata di Matius 7:21,

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”

Lalu, siapakah orang yang akan masuk ke dalam Kerajaan Allah jika bukan mereka berseru, “Lord, Lord“? Lagi pula, seluruh Jemaat berseru, “Lord, Lord“! Yesus berkata, “Hanya mereka yang melakukan kehendak BapaKu di surga, bukan yang berseru kepada-Ku!'” Yesus berkata, “Jangan berpikir karena kamu memanggil Aku ‘Lord’ maka hal itu akan membawa kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Bahkan yang melakukan mukjizat, karya-karya besar, berbahasa roh, apapun itu, semua itu tidak akan membawa kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Orang-orang tersebut melakukan semua hal itu di Matius 7:21, namun mereka tidak masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Anda berkata, “Wah! Lalu bagaimana caranya masuk?” Yesus berkata, “Dengan melakukan kehendak BapaKu di surga”; itulah syarat yang dia minta. Jadi, jangan berpikir bahwa karena Anda telah memiliki kuasa rohani tertentu, Anda bisa mengerjakan mukjizat, maka hal itu merupakan jaminan bagi Anda untuk masuk ke surga. Anda tidak akan masuk ke surga dengan mengandalkan hal itu. Tidak ada cara lain kecuali melakukan kehendaknya.

Yesus sendiri menegaskan bahwa satu-satunya jalan bagi Anda untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah melalui iman yang mengerjakan kehendak Allah. Sekarang jelaslah, tanpa iman, Anda tidak akan mau melakukan kehendak Allah, bukankah begitu? Akan tetapi iman itu sendiri tidak akan menyelamatkan Anda jika tidak terwujud dalam pelaksanaan kehendak-Nya. Itulah yang diajarkan Yesus. Iman yang mengerjakan kehendak Allah. Iman yang tidak sekadar percaya bahwa kehendak Allah itu baik tetapi juga bergerak melakukannya.


Banyak Orang hanya memperalat Allah

Tentu saja, kita bisa percaya bahwa kehendak Allah itu baik. Saya sering bertemu dengan orang-orang Kristen, yang tidak pernah melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah. Tetapi di saat mereka berada dalam masalah mereka selalu mencari tahu tentang kehendak Allah. Bisa dikatakan bahwa mereka tahu bahwa kehendak Allah itu baik. Jika tidak, mengapa mereka ingin mencari tahu? Mereka datang dan bertanya, “Bagaimana cara supaya aku bisa tahu kehendak Allah?”

Akan saya katakan pada mereka bahwa jika Anda ingin tahu apa kehendak Allah, janganlah menunggu sampai masalah datang baru mau melakukannya, karena, pada saat itu, Anda akan mendapati bahwa mencari tahu kehendak Allah itu sangat sukar. Anda harus mulai dengan melakukannya sekarang juga. Lalu, seiring dengan pelaksanaannya, Anda akan mendapati bahwa mencari tahu kehendak Allah itu mudah.

Bagi mereka yang bergegas mendatangi Allah di saat-saat berada dalam masalah, mereka akan menghadapi kesulitan yang sangat besar untuk mengetahui apa kehendak Allah. Mereka mendapati bahwa Allah tidak berbicara kepada mereka. Mengapa? Karena mereka hanya ingin memperalat Allah. Mereka tidak tahu apa arti melakukan kehendak Allah itu. Hanya pada saat Anda mempunyai masalah, Anda membutuhkan Allah dan ingin tahu apa yang dikehendaki oleh Allah karena Anda tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Banyak juga orang yang lari ke tukang ramal. Anda bisa memperalat tukang ramal. Taruh saja uang di atas meja, maka petunjuk akan Anda dapatkan, jika hal itu bisa Anda katakan sebagai ‘petunjuk’. Anda tidak bisa memperalat Allah dengan cara ini. Anda harus secara konsisten melakukan kehendak Allah atau, jika tidak saat tiba waktunya, Anda akan kesulitan mengetahui apa kehendak-Nya, karena pada saat itu Anda hanya ingin memperalat Dia. Dan Allah tidak mau diperalat seperti ini. Dia tidak akan tunduk kepada kita. Kitalah yang harus tunduk kepada-Nya. Jadi, marilah kita pahami hal ini dengan jelas.


Bersediakah Anda mengarahkan kehendak Anda untuk melakukan kehendak-Nya?

Ungkapan ‘Memasuki Kerajaan Allah’ yang dipakai oleh Yesus sebenarnya berarti ‘diselamatkan’ dalam istilah Paulus. Kerajaan Allah, seperti yang sudah kita lihat sebelumnya, berarti masuk ke dalam pemerintahan-Nya. Kerajaan Allah artinya kedaulatan Allah, pemerintahan Allah di atas kita. Bagaimana mungkin Anda bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah jika Anda tidak bersedia melakukan kehendak-Nya dan berada di bawah pemerintahan-Nya? Cukup mudah untuk dipahami bukan?

Mengapa begitu penting melakukan kehendak Allah? Karena Allah memberikan Roh-Nya hanya kepada mereka yang melakukan kehendak-Nya. Hal itu dinyatakan dengan jelas bagi kita di dalam Kisah 5:32. 

Kisah 5:32 berbunyi

… Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia.

Dan Paulus memberitahu kita di Roma 8:9, Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Jika Anda sandingkan kedua ayat itu, maka Anda tidak perlu menjadi seorang ahli logika, atau matematika, untuk bisa memahaminya. Jika Anda ingin memiliki Roh Kudus, maka Anda harus mentaati Dia. Hanya mereka yang memiliki Roh Kudus yang menjadi milik Kristus. Dengan demikian, hanya mereka yang mentaati Kristus yang merupakan miliknya.

Semuanya sangat jelas, dan saya ingin bertanya kepada Anda sekarang, jika Anda menilai bahwa Anda ini orang Kristen, apakah Anda taat dalam melakukan kehendak Allah? Orang Kristen macam apakah Anda? Apakah Anda termasuk jenis mereka yang berpikir bahwa karena Anda memeluk doktrin yang benar, maka Anda akan masuk surga?

Kalau begitu, berarti saya merusak impian Anda. Berdasarkan Kitab Suci Anda tidak akan masuk ke surga dengan cara itu. Anda harus siap berkata, “Tuhan, dengan kasih karunia-Mu, aku akan melakukan kehendak-Mu, segala kehendak-Mu.” Jika Anda memiliki komitmen semacam ini dalam melakukan kehendak Allah, maka saya bisa berkata bahwa Anda berada di jalur menuju keselamatan. Anda termasuk jenis orang yang bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah, karena Anda adalah orang yang telah menerima Roh Allah; karena Anda adalah jenis orang yang bersedia mengarahkan kehendak Anda untuk melakukan kehendak-Nya.


Kehendak Allah tidak memberatkan karena saya percaya dan mengasihi Dia

Hal ini membawa kita pada pertanyaan selanjutnya. Apakah kehendak Allah yang begitu penting itu? Apakah hakekat dari kehendak-Nya? Mengapa saya harus melakukan kehendak-Nya? Mengapa Anda ingin melakukan kehendak orang lain jika Anda tidak percaya pada orang itu, jika Anda tidak mengasihi orang itu? Saya melakukan kehendak orang lain tentunya karena saya percaya kepada orang itu. Jika dia memberi saya perintah, saya akan mentaatinya karena dia adalah orang yang pertimbangannya bisa saya percayai. Jika dia menyampaikan sesuatu yang harus saya kerjakan, sekalipun saya tidak mengerti, saya tetap akan melakukannya, karena saya percaya pada pertimbangan dan hikmatnya.

Mengapa saya bersedia melakukan kehendak Allah? Karena saya percaya kepada Allah. Saya percaya pada hikmat, pengetahuan dan pemahaman-Nya. Lebih dari itu, saya melakukannya karena saya mengasihi Dia. Mengapa seseorang mentaati orang yang lainnya? Salah satu alasannya adalah karena Anda mengasihi orang itu. Bukankah kita sering melakukan kehendak orang lain karena kita mengasihi orang itu, sekalipun bisa saja orang itu ternyata salah? Syukur kepada Allah, tidak ada bahaya melakukan kesalahan jika kita melakukan kehendak-Nya.

Namun itulah alasan lain mengapa kita melakukan kehendak-Nya. Karena kita mengasihi Dia. Jadi, kita memiliki dua dasar di dalam melakukan kehendak Allah: yang pertama adalah karena kita tahu bahwa kehendak Allah tidak mungkin salah, dan yang kedua adalah karena kita mengasihi Dia.

Dengan demikian, melakukan kehendak-Nya tidak akan menjadi beban bagi kita. Seperti yang dikatakan oleh rasul Yohanes di dalam suratnya yang pertama, “Perintah-perintah-Nya itu tidak berat.” Mengapa tidak berat? Karena kita mengasihi Dia. Di saat Anda mengerjakan sesuatu bagi orang yang Anda kasihi, tak terasa ada beban di sana. Justru membahagiakan; menyenangkan. Seperti yang tertulis di Ibrani 10:7, “Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku.” Benar! Orang Kristen sejati adalah orang yang mengerjakan kehendak Allah bukan karena merasa wajib, melainkan karena hal itu memberi dia sukacita. Itulah tanggapan yang layak bagi Allah yang kasih-Nya tidak akan membiarkan kita pergi. Sungguh sangat indah.


Kehendak Allah selalu baik bagi saya

Terlebih lagi, saya percaya kepada kehendak Allah karena saya tahu bahwa kehendak Allah buat saya selalu baik. Poin ini sangat penting untuk kita camkan. Cukup mengejutkan, banyak sekali orang Kristen yang tidak memahami hal ini dengan jelas. Saat Allah berkata kepada kita, “Jangan lakukan itu.” Kita merasa bahwa diri kita sedang dikekang. Itu pemahaman yang salah. Sangat keliru! Inilah alasan mengapa Hawa jatuh ke dalam dosa saat dia digoda oleh Iblis. Dia mengira bahwa Allah sedang menahan sesuatu yang baik dari dia, bukankah begitu? Saat Allah berkata, “Jangan makan buah dari pohon itu.” Jika Anda berpikir, “Hah! Pasti ada sesuatu yang baik dari pohon yang Allah larang untuk kumakan buahnya ini.” Ini adalah suatu kebodohan! Ini adalah suatu kegagalan di dalam memahami bahwa kehendak Allah adalah selalu dilandasi itikad yang baik.

Jangan pernah berpikir bahwa ketika Allah berkata, “Jangan lakukan hal ini atau itu,” berarti Dia sedang menahan sesuatu yang baik dari Anda. Dia tidak pernah menahan sesuatu yang baik dari Anda. Seperti yang kita lihat di dalam Mazmur 84:12,

Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.

Apakah Anda memiliki keyakinan seperti itu? Jika tidak, itu karena Anda masih belum mengenal Allah dengan baik.

Pelajarilah Firman Allah dan Anda akan mendapati bahwa segala sesuatu yang Allah buat itu dirancang untuk kebaikan kita. Kedengarannya seperti omongan seorang guru kepada murid-muridnya, bukankah begitu? Atau, seperti omongan orang tua kepada anak-anaknya, “Itu semua demi kebaikanmu.” Namun kita tidak senang mendengarnya. Walaupun ternyata memang semuanya demi kebaikan kita.

Telitilah kehendak Allah di dalam Kitab Suci, dan Anda akan mendapati bahwa semua yang Dia inginkan, yang telah Dia kerjakan, semuanya demi kebaikan dan kesejahteraan kita. Pernahkah Anda memperhatikannya? Apakah ada tertulis di dalam Kitab Suci tentang kehendak-Nya yang tidak untuk kebaikan kita? Semuanya merupakan ungkapan kasih-Nya kepada kita. Bahkan hajaran yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya, dilakukan karena kasih dan kepedulian mereka pada kesejahteraan si anak. Tidak ada hal yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya yang tidak diniatkan untuk kebaikan si anak. Dapatkah Anda memiliki keyakinan yang sama terhadap kehendak Allah? Jika Anda bisa, maka Anda akan bersukacita di dalam melakukan kehendak-Nya, karena kehendak-Nya itu demi kesejahteraan Anda.


Kita mengetahui kehendak Allah melalui Firman dan Roh-Nya

Namun hal ini membawa kita pada pertanyaan selanjutnya. Bagaimana kita bisa tahu kehendak Allah supaya kita bisa melakukannya? Baru saja, kita melihat bahwa kehendak Allah terungkap di dalam Firman-Nya. Dan betapa Yesus bersukacita di dalam melakukan kehendak Allah, sampai dia berkata di Yoh 4:34, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Maksudnya adalah, “Apakah makananku? Untuk apa aku menjalani hidup ini? Untuk melakukan kehendak Allah. Kehendak Allah mencukupkanku. Mengerjakan kehendak Allah adalah hal yang menyehatkanku.” Itulah pola kehidupan Yesus. Itulah kualitas hidupnya. Tekad Yesus di dalam menjalankan kehidupan ini hanya satu: kehendak Allah, yang merupakan makanan baginya.

Di Matius 4:4, saat Iblis mencobai Yesus, Yesus berkata kepadanya,

“Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”

Dengan kata lain, Firman Allah adalah makananku. Aku hidup dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Sandingkan ayat-ayat itu dan Anda akan dapatkan bahwa Firman Allah dan Kehendak Allah itu identik. Mengerjakan kehendak Allah berarti mengerjakan Firman Allah.


Roh Kudus adalah air yang kita minum

Ada hal indah yang lain di Yohanes 7:36-37, di mana Yesus berkata, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” Lalu kita lihat di ayat 37 dan 38 bahwa yang dia maksudkan adalah Roh Kudus. Tahukah Anda apa yang sedang kita bahas sekarang ini? Firman Allah adalah roti, makanan. “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Dan Roh Allah adalah air. Firman Allah adalah makanan untuk kita makan, dan Roh Allah adalah air untuk kita minum. Anda bisa hidup untuk sementara waktu tanpa makanan, akan tetapi Anda tidak bisa hidup tanpa air. Dengan kata lain, tak ada orang Kristen yang bisa hidup tanpa Roh Allah. Saya tidak bisa hidup tanpa Roh Kudus. Saya bahkan tidak bisa berbicara tentang kehendak Allah tanpa Roh Kudus. Roh Kuduslah yang memampukan saya untuk hidup. Dialah hidup saya. Dialah aliran-aliran air yang hidup itu, air yang saya terima dari Yesus.


Roh Kudus membuat kita lapar akan Firman Allah

Jika saya haus, maka selera makan saya hilang. Pernahkah Anda mencoba makan di saat Anda kehausan? Mulut Anda terasa kering. Tenggorokan Anda terasa macet. Anda tidak bisa menelan apa-apa. Saat Anda telah minum, sesaat kemudian, selera makan Anda muncul. Dengan kata lain, Roh Allah bekerja di dalam  diri kita: saat Roh Kudus masuk ke dalam hidup Anda, Anda mulai merasa lapar akan Firman Allah. Saat saya melihat orang-orang yang lapar akan Firman Allah, saya mulai melihat bahwa Roh Allah bekerja pada orang-orang itu. Saya tahu bahwa orang tersebut telah datang kepada Tuhan. Saya bisa melihat perubahan di dalam hidupnya.

Demikianlah  kita bisa mengetahui kehendak Allah melalui Firman-Nya dan melalui Roh-Nya. Di satu sisi, Roh Kudus yang menjelaskan kepada saya tentang arti Firman Allah. Di sisi lain, Firman Allah yang mengajarkan kepada saya untuk terus taat kepada Roh. Dengan demikian, keduanya bekerja bersama-sama, Firman Allah dan Roh Allah memampukan saya untuk melakukan kehendak Allah, dan memampukan saya untuk mengetahui kehendak-Nya. Jadi, saya membutuhkan makanan dan air untuk mengerjakan kehendak-Nya. Dan Allah telah menyediakan keduanya. Dia tidak membiarkan saya dalam kebingungan tentang apa itu kehendak-Nya dan bagaimana melakukannya? Satu-satunya hal yang Dia minta dari kita adalah bahwa kita sendiri memiliki hasrat untuk mencari tahu tentang kehendak-Nya, dan hasrat untuk mengerjakan hal tersebut di atas segala-galanya.


Apakah Anda bersedia melakukan kehendak-Nya?

Orang bertanya pada saya, “Bagaimana saya bisa tahu kehendak Allah?” Saya berkata, “Sebelum Anda menanyakan hal itu, Anda perlu bertanya pada diri Anda, ‘Apakah Anda bersedia melakukan kehendak-Nya, apapun kehendak itu? Jika Anda tidak bersedia melakukan kehendak-Nya, maka tidak ada gunanya bertanya tentang apa kehendak-Nya.'” Hal ini sangatlah penting  karena: Banyak orang yang mencari tahu tentang kehendak Allah supaya mereka bisa menentukan apakah akan mengerjakannya atau tidak.

Jika Anda menghampiri Allah dengan sikap hati seperti itu, maka Anda sedang membuang-buang waktu Anda. Allah tidak akan memberi Anda petunjuk sama sekali. Dia tidak menyampaikan kehendak-Nya untuk Anda periksa dan setujui. Kehendak-Nya bukan hal yang bisa Anda periksa lalu Anda putuskan apakah akan dikerjakan atau diabaikan. Kehendak-Nya bukan seperti barang jualan di super market, di mana Anda bisa periksa setiap produk dan memutuskan, “Kupikir aku suka yang ini saja,” atau, “Aku tidak suka yang itu.” Anda tidak bisa memperlakukan kehendak Allah seperti itu.

Anda harus datang kepada Allah dengan komitmen tanpa syarat, komitmen yang berkata, “Tuhan, apapun kehendak-Mu itu, aku akan mengerjakannya.” Jika Anda bisa dengan setulus hati mengucapkan hal itu, maka Anda tidak akan pernah kesulitan di dalam mencari tahu apa kehendak Allah. Anda mungkin harus menunggu sesaat, akan tetapi Anda boleh yakin bahwa Anda pasti akan tahu apa kehendak Allah itu pada saatnya nanti. Saya menyampaikan ini sebagai suatu kesaksian berdasarkan pengalaman saya sendiri. Dia tidak pernah membiarkan saya berada dalam kebingungan mencari tahu apa kehendak-Nya karena, oleh kasih karuniaNya, saya memiliki satu komitmen: apapun kehendakNya itu, saya akan melakukannya. Apapun itu! Bisakah Anda memiliki komitmen seperti itu?

Jika Anda memiliki komitmen seperti itu, Anda boleh yakin bahwa Anda akan tahu apa kehendak-Nya. Anda tidak akan pernah berada dalam ketidakpastian.

Namun jika Anda datang dengan sikap hati orang yang sedang berbelanja, yang berkata, “Pertama-tama, aku mau tahu dulu apa kehendak-Nya itu, dan jika Allah ingin agar aku pergi ke kutub utara, aku akan berkata, ‘Maaf, Tuhan, kutub utara terlalu dingin buatku.'” Lalu bagaimana dengan Kongo? “Kongo terlalu panas buatku. Maksudku, yang satu terlalu dingin dan yang satunya lagi terlalu panas. Tempatkanlah aku di daerah yang tidak dingin dan tidak panas, supaya aku tetap baik-baik saja. Dan nanti aku akan mengerjakan kehendakMu, selama tempatnya di daerah yang sejuk.”

Jika Anda menghampiri Allah dengan sikap hati semacam itu, berarti Anda sedang menyia-nyiakan waktu Anda. Allah tidak akan memberitahu apa-apa buat Anda. Dia tidak akan berkata apa-apa, karena Dia tahu bahwa Anda hanya mau mengerjakan kehendak-Nya selama hal itu bersesuaian dengan kehendak Anda sendiri. Pada akhirnya, keputusan akhir berada di dalam kehendak Anda, dan itu berarti Anda tidak sedang menundukkan kehendak Anda kepada kehendak Allah. Allah tunduk pada kehendak Anda. Anda tidak akan pernah tahu apa kehendak-Nya dengan cara itu. Tidak mungkin!

Hanya jika Anda datang kepada-Nya dan berkata, “Tuhan, jika harus ke Kongo atau ke kutub utara, atau di tempat sejuk, atau di manapun itu, aku menerimanya. Utuslah aku ke manapun Engkau mau.” Anda tidak akan berkata, “Kau tahu, Tuhan, aku telah dua tahun tinggal di Kanada, dan aku telah membeku kedinginan di sini. Bagaimana jika Engkau mencarikan aku tempat pelayanan di wilayah Florida? Mungkin di Kalifornia? Maksudku, ada banyak orang Kristen di sana. Ada banyak orang yang lapar akan Firman Allah di sana. Mungkin Engkau bisa kirim aku ke sana. Bagaimana?” Lalu saya menunggu dan menunggu, tapi saya tidak mendengar apa-apa, tak ada tanggapan dari-Nya.

Allah sebenarnya sedang berkata, “Kalau kamu mau pergi ke Florida, tidak perlu bertanya kepada-Ku. Kamu mau pergi? Berangkat saja. Mau pergi ke Kalifornia? Pergi saja. Buat apa bertanya kepada-Ku?” Saya baru bisa benar-benar datang kepada Dia dengan berkata, “Tuhan, kemanapun Engkau mengirimku, jika ke daerah tropis, maka ke sanalah aku berangkat. Jika ke daerah kutub, di mana aku akan lebih membeku lagi, terpujilah nama-Mu! Aku akan berangkat karena aku senang melakukan Firman-Mu, ya Tuhan. Apapun itu, aku menerimanya.”

Jika saya bisa berkata seperti itu dengan setulus hati, maka Dia akan memberi saya petunjuk-Nya. Dia akan mengungkapkan kehendak-Nya bagi saya. Tentu saja, mungkin saya akan mendapat kejutan di dalam hidup saya! Mungkin ke Florida. Bisa saja. Namun kehendak-Nya tidak akan terungkapkan sebelum saya bisa berkata, “Tuhan, apapun kehendak-Mu itu.” Demikianlah, Anda harus memiliki kesediaan yang tulus untuk mengikuti kehendak Allah.

Kekristenan apa yang ada sekarang? Kita memanggil Tuhan, “Lord, Lord,” namun kita mengerjakan kehendak kita sendiri. Itulah kekristenan zaman ini. Dan kita mengharapkan keselamatan. Tentu saja, pada akhirnya, tidak heran jika Yesus berkata kepada orang-orang ini, “mengapa kamu memanggil-Ku ‘Lord, Lord,’ padahal kamu tidak melakukan apa yang kuperintahkan?”

Kita mau mendapatkan yang terbaik dari dua dunia. Kita ingin menjejakkan satu kaki di dalam kerajaan Allah, sambil berpijak di dunia dengan kaki yang satunya. Kita ingin berada dalam keseimbangan yang enak dan mapan. Hal itu disebut dengan istilah jalan tengah. Cara ini tidak berlaku bagi Allah. Berkomitmenlah sepenuhnya pada kehendak-Nya, atau hiduplah berdasarkan kehendak Anda dan terimalah akibatnya. Tidak ada jalan tengah di antara keduanya.

Selanjutnya, apakah kehendak Allah itu? Anda berkata, “Baik, dengan kasih karunia Allah, apapun kehendak-Nya itu, aku mengerti bahwa kehendak-Nya itu baik buatku dan juga orang lain. Mungkin aku tidak bisa menikmatinya sekarang ini, namun nanti, aku akan melihat hikmat dari rencana-Nya. Apapun kehendak-Nya, hal itu pastilah baik, itu sebabnya aku siap untuk melakukannya tanpa syarat, dengan kasih karunia Allah.”


Mengerjakan kehendak Allah tidak mengacu pada perbuatan lahiriah

Selanjutnya muncul pertanyaan, apa arti melakukan kehendak Allah? Apakah, misalnya, mengerjakan kehendak Allah itu sama seperti yang dipahami oleh orang-orang Farisi dan ahli taurat? Berarti mengerjakan kehendak Allah itu adalah dengan meneliti secara cermat setiap hukum Taurat, misalnya, “Tidak boleh bekerja pada hari Sabat.”

Lalu, apa arti mengerjakan kehendak Allah di dalam hal ‘tidak boleh bekerja di hari Sabat’? Apakah ‘memasak’ itu bekerja? Orang-orang Farisi dan ahli Taurat memandang hal itu sebagai ‘pekerjaan’. Memasak itu ‘bekerja’. Sejak kapan ‘memasak’ itu bukan merupakan pekerjaan? Anda bekerja keras di saat memasak. Anda harus mencuci semuanya, mengupas kentang, bersusah payah di dalam dapur di hari yang panas. Jika hal itu bukan ‘bekerja’, lalu apa arti ‘bekerja’ itu? Tentu saja kegiatan itu termasuk ‘bekerja’. Lalu orang-orang Farisi dan ahli Taurat memutuskan, “Tidak boleh memasak di hari Sabtu.” Jadi hukumnya adalah bahwa makna dari mengerjakan kehendak Allah itu adalah ‘tidak boleh bekerja di hari Sabat’.

Lalu bagaimana dengan berjalan? Apakah berjalan itu bekerja atau bukan? Berjalan itu bisa diartikan bekerja tetapi juga bisa diartikan tidak bekerja. Lalu mulailah orang-orang pandai itu memikirkannya. Para ahli taurat mulai merenungkannya. Dan secara ajaib mereka sampai pada kesimpulan, kamu boleh berjalan sampai jarak sekitar 1500 yard di hari Sabat. Lebih dari itu, kegiatanmu dianggap sebagai bekerja, kurang dari itu, tidak dianggap sebagai bekerja.

Jadi itulah mengerjakan kehendak Allah bagi mereka. Melakukan kehendak Allah berarti berjalan kurang dari jarak 1500 yard di hari Sabat dan berarti Anda tidak boleh memasak sayur dan lauk Anda di hari Sabat.

Pada akhirnya, apa yang kita hasilkan? Kita menghasilkan satu sistem keagamaan. Mengerjakan kehendak Allah akhirnya menjadi satu sistem keagamaan. Itukah yang dimaksudkan? Jadi, orang yang akan masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah orang yang melangkah tidak lebih dari jarak 1500 yard di hari Sabat? Dan mereka yang tidak memasak makan malam mereka di hari Sabat? Anda berkata, “Nah, urusan ini terlihat semakin ‘praktis’, atau mungkin malah semakin ‘menggelikan’.” Di mata para ahli Taurat, hal ini terlihat praktis. Di mata orang lain, hal ini terlihat keterlaluan.

Apa yang sedang saya bicarakan ini? Saya ingin menunjukkan kepada Anda bahwa, di dalam ajaran Yesus, jika kita berbicara tentang hal mengerjakan kehendak Allah, yang kita bicarakan bukanlah tindakan lahiriahnya. Ini sangat penting untuk dipahami. Mengerjakan kehendak Allah itu yang terutama adalah persoalan sikap hati terhadap Allah. Saya bisa saja berjalan dalam jarak kurang dari 1500 yard di hari Sabat, namun apakah itu menunjukkan bahwa hati saya taat kepada Allah? Apakah hati saya benar-benar hidup di dalam keselarasan dengan kehendak-Nya? Atau, saya bisa saja tidak memasak di hari Sabat, namun apakah hal itu menunjukkan bahwa hati saya berada dalam ketaatan yang penuh sukacita kepada Allah, bahwa saya benar-benar hidup dalam penundukan secara sukarela kepada Dia? Semua itu tidak membuktikan apa-apa karena itu hanyalah ketaatan lahiriah. Sama sekali tidak menyatakan isi hati.

Demikianlah, di zaman sekarang ini, kita juga menciptakan aturan-aturan yang lain. Sebagai orang Kristen, kita tidak boleh minum minuman keras; tidak boleh merokok; tidak boleh memakai rok mini; tidak boleh begini dan begitu. Dan kita harus beribadah di gereja secara teratur, dan mungkin termasuk menghadiri acara perjamuan kudusnya, kalau tidak, minimal mengikuti kebaktiannya. Kita harus membaca Alkitab sedikitnya sepuluh menit setiap hari, jika tidak, berarti Anda bukan orang Kristen yang baik. Dan diharapkan Anda juga membacanya bersama dengan buku renungan harian Anda atau buku-buku Kristen yang lainnya. Anda harus melakukan berbagai macam hal, dan dilarang mengerjakan berbagai macam hal juga. Itulah yang mereka maksud dengan mengerjakan  kehendak Allah.

Bukankah kita sudah menjadi sama dengan orang-orang Farisi dan para ahli taurat? Kekristenan kita menjadi urusan perbuatan lahiriah. Kita harus melakukan hal-hal tertentu; dan kita juga dilarang melakukan hal-hal lainnya.

Demikianlah, urusannya menjadi perkara ‘halal’ dan ‘haram’. Anda boleh melakukan yang ini, tetapi tidak boleh melakukan yang itu. Bukannya saya mau berkata bahwa minum anggur itu baik. Saya juga tidak bermaksud berkata bahwa merokok itu baik. Saya sendiri tidak tahan dengan bau asap rokok. Namun yang saya maksudkan adalah: apakah kekristenan itu berkenaan dengan hal-hal semacam ini? Apakah melakukan kehendak Allah itu adalah urusan eksternal? Sekarang ini banyak orang Kristen yang mengira bahwa urusannya memang seperti itu.

Saya ingin tahu apa yang dikatakan oleh Kitab Suci. Apakah ini yang diajarkan oleh Yesus? Saat Yesus berkata, “Inilah saudara-Ku dan ibu-Ku.” Siapakah orang-orang itu? Apakah mereka adalah orang-orang yang tidak merokok, tidak minum, tidak pergi ke bioskop, dan yang membaca Alkitabnya minimal sepuluh menit setiap hari?

Anda mungkin akan berkata, “Tidak. Itu tidak cukup. Anda juga harus mempercayai doktrin yang benar, yaitu kredo para rasul, kredo Nicea, pengakuan iman Westminster.” Anda berkata, “Baiklah, setidaknya Anda meyakini pengakuan iman Westminster, dan kredo Nicea. Ditambah dengan tidak merokok dan tidak minum, maka cukup sudah. Nah, jika Anda meyakini pengakuan iman Nicea tetapi Anda masih merokok dan minum, berarti Anda tidak melakukan kehendak Allah, dan Anda pasti masuk neraka.” Sungguh membingungkan. Maksud saya, apakah arti melakukan kehendak Allah itu? Jawabannya adalah meyakini pengakuan iman Nicea, tidak merokok dan tidak minum, dan juga tidak pergi ke bioskop. Apa lagi yang lainnya?

Saya kuatir, seperti itulah kekristenan yang diramu pada zaman sekarang ini. Anda meyakini hal-hal yang benar, Anda tidak melakukan hal-hal tertentu, Anda wajib mengerjakan beberapa hal tertentu, maka Anda diselamatkan. Tidak dibicarakan tentang isi hati kita, tentang kualitas hidup yang kita jalani. Hal itu tidak dipentingkan lagi.

Malahan, berbicara tentang ‘kekudusan’ itu bisa dianggap sebagai mau membuat ‘sekte kekudusan’. Demikianlah, kekudusan tidak menjadi penting lagi. Saat saya berkhotbah tentang Ibrani 12:14, “Kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan,” beberapa penginjil terkenal menyalahkan saya karena memberitakan kekudusan. Saya tidak malu membicarakan kekudusan. Apakah saya salah karena memberitakan kekudusan?


Kehendak Allah itu selalu rohani

Di dalam pengajaran yang alkitabiah, kehendak Allah itu selalu rohani. Apakah yang dimaksudkan oleh Yesus? Jika Anda teliti pengajaran Yesus, melakukan kehendak Allah itu berarti Anda menyelaraskan kehendak Anda mengikuti kehendak Allah. Itulah yang rohani. Keselarasan di dalam batin antara kehendak kita dengan kehendak Allah adalah suatu penyatuan rohani. Itulah persatuan rohani di dalam Alkitab.

Jika Anda dapati bahwa di dalam hati Anda, ada sukacita yang indah di dalam penundukan dan ketaatan kepada kehendak Allah, berarti Anda sudah tahu apa artinya menjadi orang Kristen, karena hal itu muncul dari dalam hati Anda, dari dalam batin Anda. Tidak ada kaitannya dengan ketaatan lahiriah. Anda mulai tahu apa artinya menjadi orang Kristen, apa yang sedang diajarkan oleh Yesus. Namun setiap orang yang membayangkan bahwa melakukan kehendak Allah itu sekadar urusan ketaatan lahiriah, dia belum mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Yesus di sini. Anda tahu, Yesus sama sekali tidak tertarik dengan yang lahiriah. Begitu juga dengan rasul Paulus; dia sama sekali tidak tertarik dengan yang semacam itu.


Keagamaan versus kerohanian: Kristen palsu vs Kristen sejati

Saya akan menunjukkan dari tulisan-tulisan Paulus bahwa Yesus memang mengajarkan hal ini. Apakah rasul Paulus menyatakan hal yang berbeda? Sama sekali tidak. Paulus, sama seperti Yesus sendiri, sangat prihatin dengan penyimpangan dari kerohanian menjadi keagamaan. Ada perbedaan yang sangat besar di antara keduanya. Menjadi orang beragama tidak sama artinya dengan menjadi orang yang rohani. Jika Anda tidak tahu perbedaan keduanya, maka Anda belum tahu apa bedanya orang Kristen palsu dengan yang sejati.

Anda harus tahu apa bedanya menjadi orang yang rohani dengan orang beragama. Jangan mengira bahwa karena Anda orang yang religius maka Anda adalah orang yang rohani. Jangan pernah membuat kesalahan seperti itu. Itulah kesalahan yang dibuat oleh orang-orang Farisi. Mereka mengira bahwa karena mereka orang yang religius, maka mereka adalah orang yang rohani. Dan karena mereka religius, maka mereka mendapat jaminan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Saudara-saudaraku, hal ini sama sekali tidak benar.

Saya sampaikan sekali lagi, hanya satu hal yang penting di dalam Kerajaan Allah, yaitu melakukan kehendak Allah. “Aku senang melakukan kehendak-Mu” – di manakah rasa senang itu muncul? Rasa senang itu muncul di dalam hati Anda. Karena hati kita menggemakan isi hati Allah. Batin kita menggemakan batin Allah; pikiran kita bertaut dengan pikiran-Nya; jiwa kita, hidup kita bertaut dengan hidup-Nya. Itulah yang disebut melakukan kehendak Allah: keselarasan batin yang mendalam di hati kita dengan Allah.


Jemaat di Galatia: dalam bahaya menyimpang dari yang rohani menjadi yang religius

Ketika jemaat di Galatia beralih dari yang rohani kepada yang religius, Paulus menjadi sangat prihatin. Seluruh isi surat Galatia hanya membahas tentang hal ini: bahayanya beralih dari yang rohani kepada yang religius. Kita tidak bisa membahas semua isi surat Galatia sekarang, namun saya akan memberi beberapa contoh dari hal ini.

Tanda pertama dari penurunan kualitas kerohanian adalah menguatnya aturan dan tata cara keagamaan. Camkanlah hal ini baik-baik. Dan hal inilah yang Paulus sampaikan kepada, misalnya, orang-orang di Galatia, di dalam Galatia 4:10,

Kamu (jemaat di Galatia) dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun.

Kalian telah mendangkalkan makna agama menjadi urusan ketaatan lahiriah.

Apakah persoalannya parah? Sangat parah! Di ayat 11, dia berkata, “Aku kuatir kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah sia-sia.” Apa artinya itu? Tidak ada hasilnya aku bersusah payah untuk kalian. Aku telah bekerja keras demi keselamatan kalian tetapi kalian tidak selamat. Dan oleh karena itu, dia berkata di Galatia 5:4, Kamu lepas dari Kristus. Kalian telah terpisah dari Kristus.

Kalian yang ingin dibenarkan menurut ketaatan pada hukum Taurat, telah lepas dari kasih karunia. Dan inilah hal yang Paulus katakan kepada mereka di Gal 3:3,

Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?

Tidakkah Anda melihat bahwa agama itu hanya perbuatan daging? Hanya menyentuh bagian permukaan. Hanya menyangkut tindakan lahiriah. Dia berkata kepada jemaat di Galatia, Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, setelah memulai dengan yang rohani, kalian ingin mengakhirinya dalam kedagingan, yaitu dalam ketaatan pada tata cara keagamaan?

Mereka telah beralih dari yang rohani menjadi yang religius. Itulah tahap pertama dari penurunan kualitas rohani, tahap pertama dari langkah berbahaya menuju kebinasaan.

Berwaspadalah, khususnya mereka yang baru-baru ini dibaptiskan. Saya melihat sukacita di dalam diri Anda yang dipenuhi oleh Allah, dipenuhi oleh Roh. Namun betapa cepatnya, sungguh cepat, hal itu bisa berlalu. Hal itu akan segera terjadi jika Anda mengambil langkah menuju kehidupan yang religius. Sungguh berbahaya. Selanjutnya, apa yang tadinya berkisar di dalam batin, menjadi urusan lahiriah, dan yang ada di dalam batin itu tidak bersisa lagi. Segala sesuatunya menjadi dangkal, dan apa yang ada di dalam batin menjadi kosong kembali. Dapatkah Anda memahami hal yang sedang kita bahas ini?

Ingatkah Anda betapa sempurnanya ajaran Yesus itu? Masihkah Anda ingat tentang rumah yang menjadi kosong di Matius pasal 12? Orang tersebut telah membuat semacam reformasi moral. Semua kehidupan religius itu adalah sisi luarnya. Itu semua hanya hiasan. Perhatiannya mengarah ke sisi luar lagi, yang ada di dalam menjadi kosong. Dan apa yang dikatakan oleh Yesus? “Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula.”

Saya harap Anda bisa mencermati hal ini dengan baik: melakukan kehendak Allah itu tidak berkaitan dengan ketaatan lahiriah. Melakukan kehendak Allah bukan urusan mentaati aturan-aturan lahiriah. Menjadi seorang Kristen bukan sekadar urusan apakah Anda merokok atau minum. Saya tidak memandang bahwa merokok itu baik; merokok itu buruk bagi kesehatan Anda. Mabuk juga buruk bagi kesehatan Anda, khususnya jika sudah berlebihan. Akan tetapi kekristenan bukan masalah itu. Orang bisa saja tidak merokok atau mabuk, namun tetap bukan seorang Kristen. Ada juga orang non-Kristen yang tidak merokok atau mabuk. Dan ada juga orang non-Kristen yang tidak melakukan hal-hal yang tidak bermoral. Apa artinya itu? Tidak ada arti apa-apa. Hal-hal tersebut tidak membawa mereka masuk ke dalam kerajaan Allah.


Sekilas tentang 1 Korintus 11:2-16

Saya ingin menunjukkan kepada Anda tentang bahaya ini, yang mungkin jauh lebih besar daripada yang mungkin Anda bayangkan. Bahkan orang-orang yang terlihat berpola pikir rohani juga bisa gagal mencermati pokok yang satu ini dan gagal. Untuk alasan ini, saya akan berhenti sejenak di 1 Korintus 11, dan akan memberikan ilustrasi kepada Anda tentang poin ini.

1 Korintus 11:2-16 merupakan bagian yang terkenal yang membahas tentang apakah perempuan harus menutupi kepala mereka. Di dalam bagian bacaan inilah Paulus menyampaikan tentang hal ini. Di dalam ayat 3, dia berkata,

Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.

Ada suatu hirarki di mana Allah adalah Kepala dari Kristus; Kristus adalah kepala dari laki-laki, dan laki-laki adalah kepala dari perempuan.

Lalu dia berkata di ayat 4,

Tiap-tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya. Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.

Dengan kata lain, perempuan seharusnya menudungi kepala mereka; laki-laki tidak diperkenankan menudungi kepala. Demikianlah pembahasan selanjutnya di dalam bagian tersebut.

Bagaimana kita akan memahami hal ini?

Beberapa waktu yang lalu kita kedatangan tamu. Dan saat mereka datang beribadah, mereka mengeluarkan kain dan menudungi kepala mereka. Nah, ini adalah suatu tindakan yang sangat baik. Mereka memang berhasrat mengerjakan kehendak Allah. Untuk itu, Anda boleh memberikan penghargaan kepada mereka. Akan tetapi mereka melakukan hal ini karena  ada dua orang pengajar Alkitab yang memberitahu mereka bahwa di 1 Korintus 11:2-16 tertulis tentang hal ini, yaitu bahwa mereka harus menudungi kepala mereka. Demikianlah, mereka, di dalam ketaatan mereka kepada kehendak Allah, memakai kain untuk menudungi kepala mereka.

Saya sampaikan kepada Anda bahwa kedua guru Alkitab itu sangat mengasihi Allah, dan memang mereka berhasrat melakukan kehendak Allah. Namun mereka sedang memperlakukan kehendak Allah sebagai aturan lahiriah, inilah prinsip yang sedang kita bicarakan.

Malahan, di dalam persoalan ini, perlu diperhatikan bahwa bahkan saudara kita yang hebat, Watchman Nee, juga telah keliru. Karena, sebagaimana yang Anda ketahui, Watchman Nee, dan (jemaat) Xiao Qun, “kawanan kecil (the Little Flock),” menuntut agar setiap perempuan memakai kerudung di tengah jemaat. Watchman Nee menghendaki agar para perempuan memakai kerudung. Mengapa dia membuat persyaratan ini? Karena dilandasi oleh ayat-ayat ini. Saudara Nee telah menulis banyak karya yang luar biasa, dan menyusun banyak buku yang bermutu, namun di dalam hal ini dia melalaikan prinsip tersebut dan telah salah jalur. Mengapa?

Saya akan memberi Anda satu uraian singkat. Namun pertama-tama, dan yang terutama, Anda perlu tahu prinsip untuk tidak pernah mendangkalkan kehendak Allah ke dalam bentuk sekumpulan aturan, dan jika Anda mendangkalkan kehendak Allah, maka itu berarti Anda telah mengambil langkah pertama menuju kesalahan yang fatal.

Saya tidak memiliki persoalan apapun dengan Saudara Nee. Jadi, ini bukanlah masalah pribadi, namun penting bagi saya untuk menyatakan Firman Allah. Apakah kesalahannya? Kesalahannya adalah: kesalahpahaman di dalam ajaran Alkitab dan uraian yang tidak tepat.


Kata-kata tersebut hanya berlaku bagi perempuan yang sudah menikah

Pertama-tama, jika mereka teliti lagi ayat-ayat itu, mereka akan melihat bahwa kata-kata tersebut hanya berlaku bagi perempuan yang sudah bersuami. Dengan demikian, para gadis, perempuan yang belum bersuami, tentunya tidak perlu mengeluarkan kerudung dan menutupi kepala mereka. Maksud saya, jika mereka mau lebih jeli lagi, akan terlihat bahwa uraian ini hanya berlaku bagi perempuan yang sudah menikah; tidak ada kaitannya dengan perempuan yang belum menikah. Tentunya tidak berlaku bagi para gadis yang belum menikah, sekalipun jika ayat-ayat itu memang disyaratkan bagi para perempuan yang sudah menikah untuk menjadi tanda tunduknya mereka pada suami mereka. Kata ‘suami’ muncul di ayat 3. Di mana letak kesulitan pemahamannya? Kepala setiap perempuan adalah suaminya.

Malahan, jika mereka mau bersusah payah sedikit dalam meneliti latar belakangnya, mereka akan tahu bahwa hal itu mengikuti kebiasaan orang Yahudi (kita tidak tahu banyak dengan kebiasaan di tengah jemaat di Korintus). Hanya perempuan yang sudah menikah yang menudungi kepala mereka, namun apakah mereka melakukan hal itu dalam rangka penundukan diri kepada suaminya tidak bisa diketahui dengan pasti. Itu hanya gaya busana saat itu. Dan tulisan-tulisan pada zaman itu tidak bisa memberikan konfirmasi apakah itu memang tanda penundukan diri. Kerudung itu hanya menjadi tanda sudah menikah atau belum, sama seperti apakah Anda memakai cincin pernikahan atau tidak. Istri saya memakai cincin pernikahan itu, tetapi itu bukan bukti bahwa dia menundukkan dirinya kepada saya. Hanya menjadi bukti bahwa dia telah menikah. Namun ada banyak perempuan yang sudah menikah tetapi tidak memakai cincin pernikahan. Dan para lelaki juga banyak yang tidak memakainya. Jadi, perkara lahiriah ini sama sekali tidak membuktikan apa-apa.


Istri tunduk kepada suami, namun bukan berarti bahwa setiap perempuan tunduk kepada laki-laki

Namun tujuan dari uraian itu bukanlah untuk menyatakan bahwa semua perempuan harus tunduk kepada laki-laki, melainkan bahwa istri tunduk kepada suami. Tidak ada ajaran alkitabiah yang menyatakan bahwa setiap perempuan tunduk kepada laki-laki. Akan tetapi, memang ada ajaran bahwa istri tunduk kepada suami, dan inilah pokok yang diuraikan di sini.


Hal menudungi kepala ini berkaitan dengan nubuat dan doa

Poin kedua yang perlu diamati dari ayat-ayat ini, dari ayat 4, 5 dan 13, adalah bahwa hal tentang menudungi kepala ini hanya berlaku pada saat seorang perempuan yang sudah menikah bernubuat tentang Firman Allah atau sedang berdoa. Hanya itu yang dinyatakan di sana. Bukan berkata bahwa mereka harus menudungi kepalanya setiap saat; hanya secara khusus menunjuk pada saat bernubuat atau berdoa. Paulus tidak menyebutkan tentang hal yang lainnya.

Ayat 4 menyatakan: Tiap-tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dan kemudian di ayat 5, Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya. Dan di dalam ayat 13: Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?

Kembali, pokok pembicaraannya adalah doa. Tidak ada kaitannya dengan hal yang lain.

Jika Anda mempelajari Kitab Suci, uraian di dalam Kitab Suci sangatlah jelas. Berulang kali disebutkan tentang hal berdoa dan bernubuat. Mengapa dua hal ini disebutkan? Aapa yang Anda lakukan di saat berdoa? Anda sedang berbicara dengan Allah. Renungkanlah baik-baik. Paulus sedang berkata, “Perempuan yang sudah menikah seharusnya menudungi kepala mereka saat sedang berbicara dengan Allah,” bukannya di saat mereka sedang berbicara dengan laki-laki. Sudahkah hal ini Anda pahami dengan jelas? Dan di saat Anda bernubuat, Anda sedang menyampaikan ucapan Allah. Anda lebih merasakan kehadiran Allah ketimbang laki-laki di saat Anda bernubuat. Itulah hal yang seharusnya Anda lakukan di setiap saat. Sekali lagi, uraian ini berkaitan dengan hubungan Anda dengan Allah. Baik bernubuat ataupun berdoa, keduanya menyangkut hubungan Anda dengan Allah, bukan dengan manusia. Ini harus ditegaskan. Jadi tidak ada kaitannya dengan masalah apakah Anda harus menudungi kepala Anda di saat berkhotbah. Tindakan ini dilakukan di saat mereka bernubuat atau berdoa, bukan di saat orang lain berdoa atau bernubuat buat mereka. Bukankah itu yang disampaikan oleh Firman Allah dengan sangat gamblang?

Sekali lagi, perhatikan baik-baik bahwa masalah menudungi kepala ini berkaitan dengan hubungan mereka dengan Allah.


“Menjadi orang Kristen tidak ada hubungannya dengan urusan keagamaan lahiriah”

Poin ketiga adalah ini: renungkan baik-baik apa yang sudah kita lihat di surat Galatia misalnya, kita sudah melihat bahwa Paulus tidak peduli dengan ketaatan lahiriah; dengan urusan makanan, minuman, pakaian, hari-hari, waktu, tahun dan musim; dia tidak peduli dengan hal-hal semacam itu. Orang-orang religius sangat peduli akan hal-hal semacam itu. Hari yang satu lebih suci daripada hari yang lain. Pada hari Jumat, Anda harus makan ikan, tidak boleh daging lainnya. Mereka sangat memperhatikan hal makanan dan minuman.

Paulus berkata di Roma 14:17,

Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.

Kebenaran, damai sejahtera dan sukacita itu ada di dalam batin. Bagaimana kita akan membaca Firman Allah dengan kerudung yang menutupi muka? Tidak bisakah kita memahami apa yang dia maksudkan? Dia sedang berkata, “Aku tidak mau mengatakan kepadamu bahwa menjadi orang Kristen itu berkenaan dengan hal ketaatan lahiriah. Menjadi orang Kristen itu berkaitan dengan kebenaran, damai sejahtera dan sukacita di dalam Roh Kudus yang berdiam di dalam diri kamu. Kamu adalah bait-Nya.”

Apakah Anda berpikir bahwa Paulus (di dalam surat Korintus) ingin berkata kepada kita bahwa menjadi orang Kristen itu berkaitan dengan pakaian yang kita kenakan? Apakah Anda berpikir bahwa dia telah melupakan apa yang dia sampaikan dalam surat yang sebelumnya, dan sekarang secara mendadak ia menetapkan bahwa menjadi orang Kristen itu berkaitan dengan hal pakaian yang Anda kenakan? Atau model topi yang Anda kenakan? Atau bahwa Anda harus atau tidak boleh mengenakan kerudung?


Apakah Paulus bermaksud berkata bahwa semua perempuan harus mengenakan penutup kepala?

Hal ini membawa kita pada poin tentang hal penutup kepala. Apakah penutup kepala ini? Apa maksud kata menudungi ini? Apakah Paulus bermaksud mengatakan bahwa perempuan harus mengenakan topi? Bahwa laki-laki tidak boleh mengenakan topi, karena jika mengenakan topi berarti dia telah menghina kepalanya? Itukah yang Paulus maksudkan? Dalam kasus ini, setiap kali saya mengenakan topi, di hari yang panas, lalu saya tiba-tiba teringat kata-kata Paulus: Tiap-tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya. Segera saja saya melepaskan topi saya, dan berpanas-panas di bawah terik matahari. Tidak, dia tidak bermaksud berkata seperti itu.

Begitu Anda mulai menjadikan agama sebagai perkara lahiriah, Anda akan jatuh ke dalam bahaya penciptaan tata cara yang keliru

Apakah arti ‘menudungi kepala’ itu? Anda tidak bisa menyangkal bahwa topi adalah penutup kepala. Atau mungkinkah yang dimaksudkan itu selendang? Nah, jika Anda mulai menjadikan agama sebagai perkara lahiriah, bisakah Anda melihat poin yang sedang saya sampaikan? Anda akan jatuh ke dalam bahaya casuistry. Casuistry terjadi jika orang-orang berusaha mendefinisi apa itu kehendak Allah. Jika kita harus menutupi kepala kita, pertanyaan yang bersifat casuistry segera muncul. Pertanyaan macam apa? Pertanyaan seperti, penutup macam apa yang layak disebut sebagai penutup kepala? Itu pertanyaan yang pertama. Seberapa besar penutup kepala itu dibuat agar layak disebut sebagai penutup kepala? Misalnya, jika saya memakai kertas untuk menudungi kepala saya, bukankah itu bisa disebut sebagai penutup kepala? Kertas itu menutupi kepala saya, bukankah begitu? Lalu, apakah kertas ini sudah cukup besar untuk menjadi penutup kepala? Bagaimana kalau separuhnya saja? Masih bisakah disebut sebagai penutup kepala? Atau, bagaimana kalau seperempatnya saja? Seberapa besar ukuran yang layak? Maka Anda akan jatuh ke dalam lubang yang telah menjebak orang-orang Farisi dan para ahli taurat.

Saat Anda berkata, “Berjalan itu termasuk bekerja,” maka seberapa jauh jarak perjalanan yang layak dianggap sebagai bekerja? Lalu mereka menetapkan bahwa jarak 1500 yard adalah batasannya. Baiklah, lalu bagaimana jika 1400 yard? Bukan. Itu tidak termasuk bekerja. Demikianlah, akan ada orang yang harus membuat patokan ukuran. Akan ada orang yang harus menetapkan seberapa besar ukuran penutup kepala yang layak disebut sebagai penutup kepala. Banyak dari antara Anda yang telah melihat orang Yahudi yang memakai tutup kepala. Seberapa besar tutup kepala mereka? Hanya menutupi separuh bagian belakang kepala mereka, dijepitkan di rambut mereka. Anda pasti pernah melihat tutup kepala yang dipakai oleh orang-orang Yahudi. Apakah yang sebesar itu sudah cukup? Bisakah kita buat lebih kecil lagi? Mengapa tidak? Sedikit lebih besar lagi? Bisa saja. Yang lebih besar juga bisa. Segera saja, Anda terjerat dengan berbagai macam persoalan. Lalu, seberapa tebal seharusnya ukuran penutup kepala itu?  

Jika menudungi kepala saya itu merupakan tanda ketaatan, maka tentunya jika semakin besar dan tebal ukuran yang saya kenakan, berarti semakin besar pula tanda ketaatan saya. Bukankah hal ini masuk akal? Jika menudungi kepala itu merupakan tanda ketaatan, maka tentunya, semakin besar, semakin menutupi, berarti semakin jelas pula ketaatan terhadap suami itu. Jadi, jika seorang istri ingin mengungkapkan ketaatannya kepada sang suami, mungkin hal terbaik yang perlu dia lakukan adalah mencari topi dengan ukuran yang paling besar, atau kerudung yang paling besar, supaya setiap orang bisa melihat seberapa taat Anda kepada Allah. Apakah Anda pikir ini lucu?

Justru hal inilah yang terjadi pada orang-orang Yahudi. Dalam hal inilah Yesus menegur mereka: “Kalian membuat phylactery (kotak berisi salinan ayat-ayat yang diikatkan di dahi orang Yahudi) yang besar. Kalian sudah sangat mendangkalkan agama menjadi kumpulan aturan.” Mereka memakai sabuk kulit, dan sabuk ini sangat lebar. Mereka mengikatkan kotak kulit di dahi mereka untuk menunjukkan bahwa mereka selalu ingat pada hukum Taurat Allah. Mereka mengikatkan kotak kulit juga di lengan mereka, untuk menunjukkan bahwa mereka selalu melakukan kehendak Allah, hal yang sebenarnya jarang mereka laksanakan. Akan tetapi, yang penting ada kotak kulit itu di lengan.


Paulus berkata bahwa perempuan sudah memiliki rambut sebagai tutup kepala mereka

Lebih jauh lagi, di ayat 15, Paulus sendiri mengatakan bahwa perempuan sudah memiliki tudung dalam bentuk rambut mereka sendiri. Jika dia sudah memiliki tutup kepala, mengapa dia memerlukan tambahan penutup lagi? Ayat 15 berbunyi: “Tetapi bahwa adalah kehormatan bagi perempuan, jika ia berambut panjang? Sebab rambut diberikan kepada perempuan untuk menjadi penudung.” Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perempuan sudah memiliki penudung kepala, apakah masih belum cukup? Apakah Paulus membantah hal itu dan menyatakan bahwa perempuan masih harus memakai tudung yang lain? Jika memang demikian, berapa banyak tutup kepala yang harus dia kenakan supaya bisa dikatakan cukup? Sebenarnya, apa yang mau dijelaskan?

Kata Yunani ‘veil’, kata benda yang berarti penudung, tidak ada tertulis di sana; yang ada hanya kata kerja ‘menudungi’ dan kata benda ‘tanda wibawa (authority)’

Jika Anda cermati secara ketat, dari sudut pandang eksposisi, Anda akan melihat bahwa kata benda ‘penudung atau tutup kepala’ yang secara konstan saya pakai, dan kata ‘veil’, yang juga berarti tutup kepala, tidak ada tertulis di ayat-ayat ini. Tidak muncul di sana. Kata benda ‘penudung atau tutup kepala’, atau ‘veil’ di dalam bahasa Yunaninya, tidak muncul barang satu kalipun. Saya sudah memeriksanya berulang-ulang, dan saya tidak mendapati kata benda yang mengacu pada penudung, atau topi, atau apapun itu. Hal ini sangat mengejutkan. Tidak satu kata benda pun! Kata benda ‘veil’ memang dipakai oleh Paulus, akan tetapi tidak di dalam ayat-ayat ini. Ia hanya muncul di 2 Korintus 3:13 dan seterusnya, di mana dia berbicara tentang Musa, yang menudungi wajahnya saat berhadapan dengan kemuliaan Allah. Hanya di sana dia memakai kata ‘veil’, sekitar empat atau lima kali.

Akan tetapi di dalam ayat-ayat ini, kata ‘veil’ atau ‘penudung kepala’, dalam naskah aslinya tidak ada. Tidak tertulis satu pun. Tidak ada kata ‘veil; tidak ada kata yang berarti penudung atau tutup kepala; tidak ada kata yang berarti topi; tidak ada!

Lalu apa yang tertulis di sana? Yang ada hanya kata kerja yang berarti ‘menudungi’. Dan beberapa terjemahan bahasa Inggris menggunakan kata benda, ‘wearing a veil (memakai kerudung)’, atau ‘wearing a covering (memakai penutup)’, atau memakai sesuatu yang semacam itu. Namun sebenarnya, kata ‘tudung atau tutup kepala’, di dalam naskah Yunaninya tidak tertulis sama sekali; yang ada hanya kata kerja, ‘menudungi’.

Dan satu-satunya ayat di mana dia mestinya bisa memakai kata benda untuk mengacu pada penutup kepala adalah di ayat 10, “Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya“, dia sama sekali tidak memakai kata kerudung. Jika Anda memiliki terjemahan bahasa Inggris versi RSV, Anda akan lihat bahwa di bagian catatan pinggirnya ada penjelasan bahwa kata Yunani yang dipakai adalah ex-ousia yang berarti kekuasaan atau wibawa. Dan kata ex-ousia tidak pernah memiliki arti kerudung; tidak pernah diartikan sebagai tudung atau bentuk penutup kepala lainnya. Saya sudah memeriksa hal itu di dalam kamus yang paling diakui, karya Liddel & Scott. Kata ex-ousia tidak pernah, dalam keadaan apapun, diartikan sebagai kerudung, atau penutup kepala dalam bentuk apapun. Demikianlah, di dalam satu-satunya ayat yang memungkinkan dia untuk memakai kata benda untuk menunjuk penutup kepala, dia justru memakai kata ‘tanda wibawa’.


Tindakan nyata penundukan dari dalam hati kepada suami

Apakah Anda mengerti maksud semua ini? Pokok uraiannya sederhana: secara eksegetik, Paulus tidak peduli pada ‘benda’, pada kata benda, dia memusatkan perhatian pada kata kerja, yang berarti suatu tindakan. Dan yang dia pikirkan adalah suatu tindakan yang tunduk kepada suatu kuasa. Bisakah Anda memahaminya? Dia tidak peduli pada apa yang Anda kenakan di kepala Anda, dia peduli pada apa yang Anda perbuat. Artinya, Anda harus menjadi orang macam apa, yaitu orang yang tunduk pada otoritas, orang yang mengenakan penudung.

Maksudnya, di dalam bahasa gambar, adalah menjadi orang yang tunduk pada kewenangan, di dalam hal ini, istri tunduk kepada suami. Jadi segenap agumentasinya adalah: seorang perempuan yang tidak hidup di dalam sikap tunduk dari dalam hati kepada suaminya merupakan kehinaan di hadapan Allah, sama seperti perempuan yang menggunduli rambutnya di mata laki-laki. Perempuan yang menggunduli rambutnya akan terlihat sangat aneh. Pernahkah Anda melihat perempuan gundul di sekitar Anda? Terlihat sebagai suatu kehinaan.

Jadi Paulus sedang bermaksud mengatakan bahwa sama seperti perempuan yang menggunduli rambutnya, yang akan ditolak atau dipandang hina di mata laki-laki, demikian pula perempuan yang tidak tunduk kepada suaminya menjadi kehinaan di hadapan Allah. Poin ini sebenarnya dinyatakan secara tegas oleh Petrus. Di 1 Petrus 3:3-4, dia berkata,

“Perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.”

Perhatikan kata-kata, di mata Allah, jadi bukannya di mata laki-laki; dia tidak peduli dengan pandangan laki-laki di dalam ayat-ayat ini.

Sekarang Anda bisa mengerti mengapa di saat Paulus berbicara tentang hal menudungi kepala, dia selalu berbicara di dalam rangka hubungan dengan Allah, saat berdoa atau saat bernubuat bagi Allah. Apakah Anda pikir Paulus, orang yang sangat memahami perkara rohani, benar-benar berpendapat bahwa ketaatan sejati berkenaan dengan apa yang Anda kenakan di kepala Anda? Apa mungkin pemahamannya sedangkal itu? Apakah Anda berpikir bahwa apa yang dikenakan oleh seorang perempuan di kepalanya menunjukkan sikap sejatinya kepada sang suami, walau secuil saja? Tentu tidak. Apapun yang Anda kenakan di kepala Anda tidak menunjukkan apa-apa dalam hal sikap hati Anda kepada suami Anda. Ketaatan tidak pernah bisa ditunjukkan lewat penampilan; ketaatan berasal dari dalam hati.

Demikianlah, di zaman sekarang ini, jika Anda pergi ke gereja tertentu Anda akan melihat perempuan-perempuan memakai kerudung, atau topi hitam, karena mereka mengira sedang mengikuti petunjuk di ayat-ayat itu. Jadi, mereka melakukan kekeliruan dengan membuat iman sejati kepada Allah menjadi kumpulan aturan. Apakah Anda berpikir bahwa perempuan yang mengenakan kerudung itu benar-benar taat kepada suaminya? Anda bisa buktikan hal itu di saat dia sudah sampai di rumah. Akan tetapi Anda tidak akan bisa membuktikannya dengan cara menilai topi atau kerudungnya. Hal ini sama sekali tidak menunjukkan apa-apa. Mungkin di saat dia sudah sampai di rumah, justru dia yang menjambak rambut suaminya, tetapi di saat dia pergi ke gereja, dia mengenakan topi di kepalanya. Sungguh menggelikan jika Anda mambayangkan bahwa apa yang dikenakan di kepala itu berkaitan dengan ketaatan.

Dan bahkan lebih keterlaluan lagi jika memandang bahwa memang hal itu yang mau disampaikan oleh Paulus, akan tetapi, orang-orang dengan kualitas seperti Watchman Nee dan yang lain-lainnya ternyata masih terkena kekeliruan semacam ini, jadi kita harus semakin mawas diri. Kita harus sangat waspada. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa jika Anda melalaikan satu prinsip rohani, Anda bisa tersesat sangat jauh. Ini sebabnya mengapa mereka yang sedang dalam pelatihan diajarkan untuk memahami prinsip-prinsip rohani dan juga eksegetik. Jika Anda tidak memahami prinsip-prinsip rohani, maka Anda bisa terjatuh ke dalam kekeliruan semacam ini.

Demikianlah, saudara-saudariku, saya memakai gambaran dari 1 Korintus 11 untuk menunjukkan kepada Anda tentang poin ini: melakukan kehendak Allah tidak berkaitan dengan ketaatan lahiriah. Ia berkenaan dengan sikap di dalam hati kita yang menyelaraskan diri dengan hati Allah.


Ketaatan kepada kehendak Allah itu sangat besar pengorbanannya

Terakhir, perhatikanlah harga yang perlu dibayar dari ketaatan ini. Di Matius pasal 12, tidakkah Anda akan melihat bahwa apa yang dikatakan oleh Yesus itu akan menyinggung hati saudara dan ibunya, saat Yesus berkata, “Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku? … siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Jadi, dalam pengertian tertentu, dia menyangkal klaim dari para saudara dan ibunya. Tidakkah mereka akan merasa tersinggung?

Namun itulah harga yang perlu dibayar dalam melakukan kehendak Allah. Anda harus menyatakan kebenaran sekalipun hal itu terasa menyinggung hati, sekalipun bisa disalahpahami, sekalipun orang akan menolak ucapan Anda. Saya yakin bahwa para kerabat itu sama sekali tidak suka mendengar ucapan, “Kamu tidak berhak atas diri saya, hanya mereka yang melakukan kehendak Allah yang berhak atas diri saya.” Mereka tidak akan suka mendengar hal itu. Namun jika Anda menyampaikan Firman Allah, Anda harus menyatakan kebenaran. Dan Anda akan menyatakan kebenaran, entah orang suka atau tidak suka mendengarkannya. Tidak jadi masalah. Anda harus menyatakan kebenaran, karena hanya dengan menyatakan kebenaran itulah Anda bisa membantu mereka sampai pada pemahaman tentang kebenaran dan dengan demikian diselamatkan.

Dan Yesus, saya yakin, tentu telah menyinggung hati para saudaranya dan juga ibunya di saat dia berkata seperti itu. Namun perhatikan betapa indahnya ketika para saudaranya itu kemudian berpaling kepada Tuhan. Anda tahu bahwa Yakobus, salah satu saudaranya, belakangan hari menjadi pimpinan jemaat di Yerusalem. Firman Allah mungkin tidak terasa enak untuk didengarkan pada awalnya, namun ia akan mencapai tujuannya.


Melakukan kehendak Allah adalah hal yang terpenting di dalam Kerajaan Allah

Dan sebagai rangkumannya, kita perlu perhatikan ini: hanya satu hal yang penting di dalam kerajaan Allah. Dan kita mengerti sekarang, dan saya sendiri dengan perih hati menguraikan kepada Anda bahwa melakukan kehendak Allah itu bukan sekadar urusan ketaatan lahiriah belaka, tentang hal larangan ini atau kewajiban itu. Melainkan masalah sikap hati kepada Allah, dan jika Anda sudah memiliki sikap hati yang benar, Anda akan melakukan hal-hal yang benar. Karena perkaranya bukan sekadar mencari tahu kehendak Allah saja, melainkan untuk melakukannya. Inilah hal yang terpenting.

Satu kata penutup berkenaan dengan Maria, ibu dari Yesus. Dan dari sini kita juga mendapat pelajaran lain. Maria sangat dihormati, dan kita juga perlu menghormati Maria, bukan karena dia adalah ibu dari Yesus menurut daging melainkan karena Maria adalah orang yang melakukan kehendak Allah. Renungkahlah Lukas 1:38 ketika Roh Allah datang kepada Maria, dan dia mengandung oleh Roh Kudus, dan melahirkan Yesus. Ingatkah Anda akan kata-kata berharga yang diucapkan oleh Maria di Lukas 1:38: Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”?

Ada ketaatan untuk melakukan kehendak Allah bahkan sampai mengorbankan nama baiknya. Dia akan disalahpahami. Dia akan dituduh oleh orang-orang yang tidak mengerti persoalannya, mungkin bahkan dengan tuduhan percabulan, perzinahan, atau apapun itu. Namun dia berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Maria adalah orang yang taat pada kehendak Allah.

Namun pelajaran yang perlu kita tarik adalah: Anda mungkin saja taat pada kehendak Allah dalam satu perkara, namun Anda lupa pada ketaatan itu di dalam perkara yang lainnya. Jelas bukan suatu tindakan yang terpuji di saat Maria menyela kegiatan mengajar Yesus. Dia harus diingatkan bahwa pernah melakukan kehendak Allah itu tidaklah cukup. Ini adalah perkara melakukan kehendak Allah secara berkelanjutan. Dan Anda harus terus mengingat hal itu.

Mereka yang dibaptiskan beberapa minggu yang lalu, mereka saat itu sedang melakukan kehendak Allah. Mereka dibaptiskan di dalam ketaatan mereka kepada Allah. Mereka taat kepada Allah, menyerahkan hidup mereka sepenuhnya kepada Dia. Dan kita bersyukur kepada Allah akan hal itu. Namun sekarang janganlah duduk bersantai dan berkata, “Kau lihat, aku pernah taat kepada Allah. Sekarang aku sudah aman untuk seterusnya!” Jangan buru-buru. Ketaatan kepada Allah adalah suatu proses yang berkelanjutan; ia terus menerus berlangsung. Anda baru saja memulainya. Sekarang Anda berada di tengah jalan itu, teruslah melangkah. Maria harus belajar akan hal itu. Dia pernah menunjukkan ketaatan yang indah kepada Allah, namun apa yang dia lakukan sekarang? Menyela kegiatan Yesus saat sedang memberitakan Firman Allah, saat sedang melakukan kehendak Allah. Dia harus diingatkan untuk terus melakukan kehendak Allah.

Demikianlah, kita mendapati begitu banyak pelajaran yang berharga berkenan dengan hal kehendak Allah ini. Yesus, lewat beberapa ayat yang pendek itu, sedang menyampaikan segala sesuatu yang paling penting untuk kita ketahui mengenai kehendak Allah.

Sebagai kesimpulannya, tanyakanlah diri Anda sekali lagi, dan saya juga perlu menanyakan diri saya sendiri: Apakah kita benar-benar taat pada kehendak-Nya? Apakah sekarang ini kita menyadari bahwa inilah hal yang paling penting? Bahwa inilah satu-satunya jalan menuju keselamatan?

 

Berikan Komentar Anda: