previous arrow
next arrow
Slider

 

John Teo |

MENCARI ALLAH BERARTI MENCARI KEHENDAKNYA

Pesan hari ini adalah tentang mencari Allah. Tujuan pencarian akan Allah adalah demi mengenal Dia. Mengenal seseorang berarti mengetahui apa yang disukainya dan tidak disukainya, apa yang menyenangkannya dan tidak menyenangkannya. Singkat kata, tujuan kita mencari Allah adalah untuk mengenal kehendak-Nya.

Sejujurnya, kebanyakan orang tidak tertarik dengan kehendak Allah, mereka lebih tertarik untuk mengetahui apakah Allah akan membantunya untuk menggenapi kehendak pribadinya. Seringkali kita tidak tahu apa akan terjadi saat mengambil suatu tindakan tertentu. Misalnya saat mencari pekerjaan, kita bertanya kepada Allah, “Apakah pekerjaan ini ialah kehendak Engkau bagi saya?” Sebenarnya apa yang kita mau dari Allah? Apakah kita meminta pekerjaan yang baik demi diri kita atau kita sedang meminta pekerjaan yang sesuai keinginan Allah? Keduanya merupakan hal yang sangat berbeda.

Saat kita mempertimbangkan pekerjaan yang mau diambil, kita akan mempertimbangkan apakah gajinya bagus, jam kerjanya cocok dan apakah bosnya baik. Maksud dari, “Apakah pekerjaan ini kehendak Allah bagi saya” adalah apakah semua persyaratannya sesuai dengan yang saya mau. Jadi kita sedang meminta Allah melakukan dan menggenapi kehendak kita. Manusia tidak tertarik untuk melakukan kehendak Allah yang pada dasarnya juga berarti mereka tidak tertarik untuk mencari Allah.

Apa artinya mencari Allah? Apa akibatnya jika manusia tidak mencari Allah? Jikalau Anda tidak mencari-Nya berarti Anda tidak mengenal-Nya. Jika Anda tidak mengenal Allah itu juga berarti Anda tidak dikenal Allah. Apakah ada keselamatan bagi orang yang tidak dikenal Allah?

Mencari Allah bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan dengan santai. Pencarian akan Allah membutuhkan ketekadan hati yang bulat dan ketekunan karena bukanlah hal yang mudah untuk mengenal dan melakukan kehendak Allah. Alkitab berkata, “Jalan-Ku bukan jalanmu, cara-Ku bukan caramu”. Kehendak Allah dan kehendak kita seringkali berbentrokan. Kehendak manusia terikat pada hidup di bumi. Sebaliknya kehendak Allah terpusatkan pada kerajaan Sorga. Kehendak Allah terutamanya berkaitan dengan keselamatan manusia. Di dalam Kitab Suci, frasa ‘kehendak Allah’ atau ‘kehendak-Nya’ selalu bersangkutan dengan keselamatan manusia, yaitu berkaitan dengan membalikkan manusia dari jalan kejahatan. Demi melakukan kehendak Allah kita harus berpaling dari kejahatan kita. Berbalik dari kejahatan atau dosa membutuhkan ketekadan hati.

 

KESATUAN YANG INTERNAL DAN EKSTERNAL DENGAN KRISTUS

Sekalipun ada ketekadan hati tetap masih sangat sulit untuk mengenal kehendak Allah apalagi melakukannya. Ketekadan hati saja tidak memadai. Masih dibutuhkan satu unsur penting, yakni kesatuan dengan Kristus.

Yesus memberikan perumpamaan tentang pokok anggur dan carang-carangnya di Yohanes 15 untuk menunjukkan pokok ini. Ajaran di perikop ini merupakan kata-kata terakhir dari Yesus kepada umat. Dapat dikatakan bahwa perikop ini adalah kesimpulan dari seluruh ajarannya. Kesatuan yang dibicarakan Yesus mempunyai dua aspek yaitu kesatuan eksternal dan internal.

Rata-rata kita bukan petani dan juga belum pernah melihat pokok anggur. Kita pun tidak tahu cara menanam pokok anggur. Kiasan lain yang dapat membantu untuk memahami kesatuan eksternal dan internal ialah gambaran pernikahan. Bila terjadi kesatuan internal di dalam pernikahan, tentu saja akan terdapat juga suatu kesatuan eksternal. Namun kesatuan eksternal belum tentu berarti ada kesatuan internal. Apa arti kesatuan internal dan eksternal dalam pernikahan? Kita menemukan pengarahan yang sederhana di Efesus 5:22:23 untuk suami mengasihi istri dan istri tunduk kepada suami agar tercapai suatu kesatuan internal.

Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.

Kesatuan ini hanya terjalin kalau kedua-dua pihak menaatinya. Jika hanya istri yang tunduk kepada suami, kesatuan internal tidak akan tercapai. Atau hanya suami mengasihi istri tanpa istri tunduk kepada suami, tetap tidak akan ada kesatuan internal ini. Pernikahan dapat merupakan suatu kesatuan internal atau bisa juga hanya sekadar suatu kesatuan yang eksternal. Kesatuan eksternal ialah saat dua orang mempunyai status sebagai suami istri, mereka menjalani upacara pernikahan, mereka tinggal serumah dan mereka menggunakan perkakas rumahtangga bersama.

Apakah kesatuan internal? Terdapat komunikasi antara keduanya di mana bukan hanya suami yang berbicara kepada istri atau hanya istri yang berbicara kepada suami. Komunikasi berarti kedua-dua pihak saling berbicara, saling bertukar pikiran, saling terbuka untuk mendengarkan dan mempertimbangkan bersama. Tidak ada yang perlu disembunyikan antara suami istri sebab mereka adalah satu. Apa mungkin tangan kiri tidak tahu apa yang dikerjakan tangan kanan? Jika ya, berarti kita tidak ada kesatuan internal melainkan cuma kesatuan eksternal. Pada dasarnya kesatuan internal berarti suatu persahabatan yang mendalam.

 

SAHABAT SEJATI

Bagi yang sudah menikah. Apakah Anda adalah sahabat bagi pasangan Anda? Apakah sesungguhnya kita bersahabat? Kebanyakan suami tidak meluangkan waktu bersama istri karena dia mempunyai sahabat-sahabat di luar yang lebih penting. Istri juga mempunyai sahabat-sahabat sendiri. Satu hal yang jelas ialah sebelum pernikahan memang ada persahabatan. Sahabat yang sangat saling mengasihi sehingga rela menyerahkan diri untuk bernikah. Namun setelah bersatu dalam pernikahan, apa terjadi kepada persahabatan tadi?

Kesatuan yang disebutkan Alkitab bukan sekadar kesatuan jasmani antara suami dan istri. Yang jauh lebih penting ialah kesatuan rohani yang merupakan suatu kesatuan yang kekal. Bagaimana Anda tahu Anda bersahabat dengan pasangan hidup Anda? Anda tahu karena makin hari Anda makin mengenal dia. Anda tahu kado apa yang perlu disediakan saat ulang tahunnya. Seandainya istri Anda tidak menyukai kucing tetapi Anda membelikan dia kucing; atau suami Anda tidak suka makan ikan tetapi Anda malah memasakkan ikan bagi dia. Jika hal-hal ini terjadi berarti Anda tidak mengenal istri dan suami Anda.

Terdapat berbagai jenis persahabatan. Terdapat persahabatan yang didasari oleh saling memanfaatkan – saya memiliki yang Anda ingini, Anda mempunyai apa yang saya ingini. Di dalam HP kita ada daftar kontak yang panjang. Terdapat ratusan “friends” di akun Facebook. Apakah mereka benar-benar sahabat Anda? Besar kemungkinan kebanyakan dari mereka tidak dapat disebut sebagai sahabat.

Apa yang menjadikan seseorang sahabat sejati? Apa persahabatan sejati dengan Allah? Persahabatan sejati ialah saat keduanya sepikir dan sehati yang akan membawa kepada suatu kesatuan kehendak. Kesatuan kehendak ialah kesatuan internal yang sangat sulit dicapai bahkan dalam pernikahan. Sekalipun kesatuan kehendak ini nyaris mustahil dicapai dalam hubungan antara manusia, tetapi sangatlah mungkin terjadi secara rohani. Tahukah Anda kenapa? Hal ini mungkin karena hadirnya Roh Kudus yang menjadi unsur kunci yang membantu kita untuk mencapai kesatuan dengan Allah. Perikop tentang pohon anggur dan carang-carang terletak di tengah-tengah pembahasan tentang Roh Kudus dari Yohanes 14 sampai 16.

 

KESATUAN KEHENDAK DIUNGKAPKAN MELALUI KETAATAN

Mari kita baca dari Filipi 2:13,

Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.

Paulus berkata kamu senantiasa taat. Apa arti ketaatan? Jika Anda harus memaksa diri untuk berbuat sesuatu berarti itu bukan kehendak Anda, betul? Umpamanya Anda tertekan oleh bos yang memberi perintah yang tidak Anda sukai tetapi karena dia ialah bos maka Anda terpaksa mengerjakannya. Sebaliknya jika kita melakukan karena kita yang mau melakukannya itu ialah kehendak diri kita. Tentu saja jemaat Filipi sedang menaati kehendak Allah. Di ayat 13, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya, yaitu menurut kehendak-Nya. Itu sebabnya adalah mungkin untuk mencapai kesatuan dengan Allah. Sekiranya Allah berhasil mengerjakan di dalam Anda maka Anda akan mencapai kesatuan kehendak dengan Allah.

Jika Allah yang bekerja, apakah akan berhasil? Tidak akan berhasil sekiranya Anda tidak menghendakinya. Oleh karena itu, kita perlu membuat satu keputusan di tingkat hati – “Ya, saya tidak tahu apakah kehendak Allah tetapi saya mau melakukan kehendak-Nya entah apapun situasinya. Saya mau menjadikan kehendak Allah sebagai kehendak saya.” Dengan sikap demikian, maka Allah akan bekerja dalam Anda dan Anda akan mencapai kesatuan kehendak bersama Allah. Apakah kita bersatu dengan Allah? Ada ujian yang cukup sederhana – periksalah reaksi diri pada saat mendengar Firman Tuhan. Apakah terdapat sukacita dan penundukan dari hati terhadap firman Allah? Ketika mendengar sesuatu dari firman Allah yang belum pernah didengar sebelumnya atau ada pemahaman baru, apakah kita merasa bersemangat dan hati kita meluap-luap dengan sukacita?

Ini merupakan pengalaman biasa dari orang-orang yang sangat mengasihi Allah. Apabila secara tiba-tiba mereka memahami sesuatu yang baru tentang Allah yang belum pernah mereka ketahui sebelumnya, mereka merasa sangat gembira sampai-sampai menjadi lupa diri. Pernah ada seorang pengkhotbah yang sedang mandi dan tiba-tiba dia menerima sebuah ilham dari Allah. Dia lari keluar dari rumahnya tanpa mengingat bahwa dia sedang telanjang! Suatu sukacita yang luar biasa! Tentu saja bukan keharusan untuk kita memperoleh sukacita yang sedemikian rupa tetapi setidaknya ada sukacita yang muncul dari hati; “Wah! Saya belum pernah memahami hal ini!” Atau ketika kita membaca firman Allah, hati kita diinsafkan, “Ternyata ini yang disebutkan Firman Tuhan. Selama ini saya sedang melakukan hal yang salah di depan Allah.” Dan kita bersyukur kepada Allah karena pemahaman baru yang disingkapkan. Selanjutnya kita membulatkan hati untuk tidak melakukannya lagi. Apakah kita mempunyai reaksi semacam ini terhadap firman Allah? Reaksi yang menandakan adanya kesatuan bersama Allah.

 

TAURAT ALLAH BERADA DI LUAR ATAU DI DALAM HATI KITA?

Pemazmur ialah orang yang sangat amat mencintai Allah. Mari kita membaca Mazmur 40:9,

aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku.

Baik apabila firman Allah diberitakan maupun Anda yang membacanya sendiri ada sesuatu yang keluar dari hati seolah-olah berkata aku suka melakukan kehendak-Mu. Anda sedang mencari kehendak Allah. Taurat-Mu ada dalam dadaku. Dalam kata lain, kehendakku dan Taurat-Mu adalah satu. Jika Taurat Allah berada di luar saya, ia memaksa saya berbuat sesuatu. Sebaliknya jika Taurat Allah berada di dalam saya berarti saya yang mau melakukannya. Misalnya pada waktu Anda merasa lapar, apakah keinginan untuk makan berasal dari luar atau dari dalam Anda? Tentu saja ‘taurat lapar’ ada di dalam Anda. Apabila ‘taurat lapar’ mulai bekerja dalam Anda, Anda akan mencari makanan. Selanjutnya di Mazmur 119:16-18,

Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan. Lakukanlah kebajikan kepada hamba-Mu ini, supaya aku hidup, dan aku hendak berpegang pada firman-Mu. Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu.

Kata-kata ini sangat indah. Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu yaitu firman Allah; firman-Mu tidak akan kulupakan. Biasanya seraya usia bertambah, kita juga semakin melupakan banyak hal. Namun pemazmur melupakan banyak hal terkecuali firman Allah. Kemudian di Mazmur 119:47,

Aku hendak bergemar dalam perintah-perintah-Mu yang kucintai itu.

Perintah yang bukan berada di tingkat eksternal melainkan di dalam hatinya. Beberapa contoh ayat yang di atas menggambarkan orang yang bersatu dengan Allah. Renungkanlah ayat-ayat ini – dan tanyakan pada diri apakah saya menjalani hidup Kristen yang demikian? Sekiranya Anda dapat jujur mengakui bahwa “firman Allah ialah cintaku, yang tidak akan saya lupa sepanjang hidupku,” maka Anda berada di jalur yang benar. Anda telah mencapai kesatuan dengan Allah seperti pemazmur dan Anda akan mengenal Allah. Allah akan sangat berkenan untuk menyingkapkan kehendak-Nya bagi Anda.

 

HARUS BERAKAR DALAM FIRMAN ALLAH

Saya ingin membagikan satu hal dari guru saya. Almarhum meninggal dunia pada awal bulan Januari 2013. Sekelompok dari kami pemimpin gereja sempat berkumpul dengan beliau untuk terakhir kali pada tahun 2011. Walaupun keadaan kesehatan Almarhum Pastor Eric sudah sangat lemah pada waktu itu tetapi beliau meluangkan waktu selama 4-5 hari untuk bersekutu bersama kami untuk menbagikan isi hatinya kepada kami. Hal-hal yang dibagikan sepanjang waktu itu dapat disimpulkan dalam kata-kata ini “Sekiranya kita melenceng dari Firman Allah sekalipun sedikit saja disebabkan oleh kelalaian dari pihak kita sebagai pemimpin gereja, dengan bergulirnya waktu kita akan disesatkan cukup jauh. Kita akan membawa gereja ke tempat yang tidak diingini di masa depan. Kita harus berakar di dalam Firman Allah. Tanpa itu kita tidak ada fondasi dalam hidup ini.” Ini ialah pesan terakhir dari guru kami dan bukan merupakan pesan yang belum pernah didengar atau yang asing. Namun inilah pesan yang terus diulangi oleh guru kami terus-menerus sejak dulu.

Ini sangat jelas terlihat dari kondisi gereja sekarang. Kita bukan menuding gereja lain karena kita sendiri juga merupakan sebagian dari gereja universal. Gereja berada dalam kondisi rohani yang sangat terpuruk sebab kita tidak menyelidiki firman Allah dengan saksama. Mengapa terdapat begitu banyak perpecahan? Sebab tidak ada yang rela mendengarkan sesama. Masing-masing berpegang kuat pada pendapat diri akan Firman Allah. Semua enggan memeriksa pemahaman diri apakah benar sesuai Firmah Allah. Akibatnya sangat jelas yaitu hampir semua gereja termasuk gereja kita sudah serong dalam kualitas rohani. Karena Firman Allah tidak ada dalam dada kita. Kita tidak ada kesukaan semacam pemazmur.

Pesan ini bukan hanya pemikiran pribadi guru saya, Pastor Eric Chang. Ketika Paulus berpamit dengan jemaat Efesus juga menyampaikan pesan yang sama seperti yang tercatat di Kisah Para Rasul 20:27. Dari sekian banyak perjalanan penginjilannya Paulus menghabiskan waktu yang paling lama dengan jemaat Efesus yaitu kurang lebih 1 ½ – 2 tahun berbanding jemaat-jemaat lain.

Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu.

Seluruh maksud Allah ialah kehendak Allah.

Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya.

Seluruh waktu Paulus berada di Efesus ialah untuk mengajarkan mereka tentang kehendak Allah. Sebelum Paulus pergi dia berkata yang dapat menyelamatkan dan membantu orang memperoleh hidup kekal ialah Allah dan firman kasih karunia-Nya. Kedua-dua hal ini adalah sama sebab Allah menggunakan firman-Nya untuk memelihara kita. Ini merupakan kata-kata terakhir dari Paulus kepada jemaat Efesus sebelum mereka berpisah dari satu sama lain, “Selama hidupku aku mengajarkan kamu tentang firman Allah. Sebelum aku pergi aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya demi kelangsungan hidup rohanimu.” Paulus mengingatkan mereka akan bahaya rohani yang menantikan Kristen di situ dari ayat Kisah Para Rasul 20:29-31,

 Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka. Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata.

Yesus juga memberitahu hal yang sama, Yohanes 17:17,

Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.

Apakah tujuan firman Allah? Untuk melindungi mereka dari pada yang jahat. Paulus juga mengatakan sesudah dia pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu. Jadi kita dapat perhatikan baik guru saya, Paulus maupun Yesus mengatakan hal yang sama sebab inilah kebenaran yang mereka pegang. Hanya Firman Allah yang dapat melindungi kita dari pada yang jahat. Tidak ada yang lebih penting dari firman Allah. Anda harus mencapai kesatuan dengan firman Allah. Sesuai dengan kata-kata pemazmur, Taurat-Mu ada di dalam dadaku. Kesatuan semacam itu yang perlu kita cari.