previous arrow
next arrow
Slider

 

Helen Chang |

PERJAMUAN KUDUS ADALAH KOMUNI DENGAN ALLAH

Di saat perjamuan kudus atau komuni, kita sedang membahas soal komunikasi. Ini bukan komunikasi dengan benda melainkan dengan satu pribadi. Kita menganggap pasti bahwa rata-rata dari kita sudah dan sedang berkomunikasi dengan Allah. Hal ini belum tentu benar. Perjamuan Kudus menjadi tidak berarti saat kita yang berkumpul di sini tidak mempunyai komunikasi dengan Allah. Hanya setelah masing-masing dari kita mempunyai hubungan pribadi dengan Allah barulah perkumpulan semacam ini dapat memperdalamkan kesatuan antara kita, dan dengan demikian menikmati hadirat Allah yang istimewa. Pokok yang ditekankan di Perjamuan Kudus ialah hubungan. Tentu saja hubungan memerlukan waktu untuk dipupuk, untuk saling mendengar, berbicara dan mengenal. Ada juga bahaya terputusnya komunikasi karena terjadinya hal-hal yang membuat komunikasi itu terhambat. Oleh anugerah Allah, saya ingin membagikan pesan yang diletakkan Allah dalam hati saya tentang hal ini.

Mari kita membaca 1 Korintus 11:23-26 yang berkaitan dengan Perjamuan Kudus,

Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti 24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” 25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” 26 Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.


MANUSIA TIDAK SUKA BERBICARA TENTANG DOSA

Kita akan memulai dengan melihat pada hal yang dapat menghalangi hubungan kita dengan Allah. Tentu saja, penghalang yang utama adalah dosa. Dosa merupakan  subyek yang jarang dibicarakan. Dunia juga tidak suka menyentuh hal ini karena tidak ada yang suka mempunyai rasa bersalah. Menurut mereka, perasaan bersalah sangat buruk untuk kejiwaan manusia, sampai-sampai timbul banyak omongan yang mengatakan bahwa kita perlu belajar mengampuni diri. Pokoknya manusia harus merasa bahagia dan tidak perlu merasa bersalah tentang apa pun. Sebenarnya ilmu kejiwaan atau psikologi ialah bagian dari ciptaan Allah. Tidak ada masalah dengan psikologi tetapi yang menjadi masalah adalah penyalahgunaan yang memutarbalikkan kenyataan dengan mengatakan bahwa manusia harus mengampuni diri dan jangan menyinggung persoalan dosa. Jangan menyebut putih atau hitam tetapi cukup menyebutnya abu-abu. Dosa diberikan istilah lain seperti kekeliruan dan kelemahan. Siapa yang tidak pernah berbuat kesalahan? Memang sifat alami manusia untuk berbuat salah maka kita tidak perlu menyalahkan diri. Demikianlah kita membenarkan diri kita agar kita tidak perlu menangani dosa-dosa kita.

 

PENGALAMAN PRIBADI SAYA

Saya ingin membagikan sebagian dari pengalaman pribadi saya. Selama bertahun-tahun saya mengalami kuasa-Nya dalam cara yang sangat luar biasa. Apabila saya berada di titik kritis secara finansial, saya mengalami persediaan Allah secara ajaib. Saya bukan tipe orang yang mengedarkan surat ke mana-mana untuk memberitahu bahwa pada tahun depan kami membutuhkan sekian dana dan tolonglah mendoakan kami. Cara meminta orang berdoa seperti itu sebenarnya adalah meminta sumbangan dari orang. Saya mempelajari dari suami saya yang sama sekali tidak pernah menceritakan kebutuhannya kepada siapa pun. Kami banyak kali mengalami campur tangan Allah yang telah menyatakan kuasa-Nya di dalam hidup kami.

Beberapa kali saya dan suami mengalami masalah dengan izin tinggal di Inggris. Setiap kali Allah membuka jalan secara ajaib dan selalu pada waktu yang tepat. Tidak perlu khawatir saat  pemerintah mempersulit izin tinggal, karena masih ada satu pemerintah yang lebih tinggi di atas. Saat Allah membuka jalan tidak ada yang dapat menutupnya. Kami banyak sekali pengalaman dengan Tuhan. Namun, sekalipun telah mengalami kuasa Allah yang bekerja secara eksternal,  secara pribadi saya belum mengalami kuasa Allah yang mengubah saya secara internal.

 

DOSA YANG TERSEMBUNYI

Di dalam diri saya telah tersembunyi dosa selama lebih daripada dua puluh tahun karena saya tidak menganggap hal tersebut sebagai dosa. Saya akan menceritakannya secara singkat. Ayah saya mempunyai dua keluarga dan saya ialah anak sulung. Ayah saya menyediakan saya pakaian, makanan dan menyekolahkan saya, hal-hal yang memang merupakan tanggung jawabnya sebab bukan saya yang minta dilahirkan. Namun saat ayah saya tidak memberikan satu-satunya hal yang saya cintai yaitu sebuah piano, saya membuat kesimpulan bahwa dia tidak mengasihi saya sama sekali. Dengan bergulirnya waktu secara perlahan-lahan saya memendamkan rasa iri, bersungut-sungut bahkan kebencian terhadap seluruh keluarga yang satu lagi. Keadaan keluarga yang sering bertengkar dan saling menyerang membuat saya sangat tersiksa dan merasa tidak ingin hidup lagi. Saya meminta kepada Allah apakah saya boleh ditabrak oleh kenderaan ketika melintasi jalan. Secara diam-diam saya menggerutu kepada Allah, “Engkau adalah kasih. Mengapa Engkau mengizinkan saya dilahirkan di keluarga ini?” Singkat kata, setelah lebih dari dua puluh tahun baru saya menyadari bahwa saya memendamkan kebencian terhadap ayah dan keluarga yang satu lagi.

 

SAAT ALLAH MEMBUKA MATA KITA

Setelah mengetahui itu apa yang dapat saya lakukan? Sekalipun saya tahu, saya tetap tidak punya kekuatan untuk mengatasinya. Selama tiga hari berturut-turut saya bergumul dan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah untuk menangani saya. Kemudian Allah menunjukkan kepada saya sesuatu yang tak terduga. Kelihatannya cukup sepele tetapi Allah terus menunjukkan kepada saya kejadian-kejadian yang menunjukkan keegoisan saya, bagaimana saya mementingkan diri sendiri dan kepribadian saya yang tidak memiliki kasih sama sekali.

Allah membuka mata saya untuk melihat jati diri saya sebagaimana Allah memandang saya. Hal ini dengan kuat menghantam saya dan menyadarkan saya bahwa sebenarnya saya tidak lebih baik daripada ayah saya. Padahal selama itu, saya berpikir saya adalah orang yang jauh lebih baik berbanding ayah saya. Ayat di Yeremiah 17:9 berbunyi,

Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?

 

DOSA BERDIAM DI DALAM HATI YANG LICIK

Saya pikir hati yang licik adalah hati orang yang belum percaya. Setelah bertobat saya tidak menganggap hati saya licik lagi. Namun sebenarnya hati kita tetap saja licik sekiranya kita mengizinkan dosa berdiam di situ. Jika kita membiarkan dosa bercokol dalam hati dan menyesatkan kita maka kita akan buta terhadap kebenaran Allah. Dua hal ini sangat berkaitan. Sebaliknya jika kita tidak disesatkan oleh hati, kita pun tidak akan disesatkan sehubungan dengan firman Tuhan. Hati yang licik tidak dapat melihat kebenaran dari Allah sama sekali.

Pertama kali saya mengalami kekuatan yang dahsyat dari Allah ialah pada saat saya ditunjukkan siapa diri saya yang sesungguhnya. Pada waktu itu saya tidak perlu lagi disuruh untuk mengampuni atau lebih banyak mengasihi ayah saya karena apabila Allah membukakan hal itu di depan mata saya, seluruh beban hati saya langsung diangkat. Saya benar-benar berseru kepada Allah dengan tangisan. Tidak lama kemudian saya memperbaiki hubungan saya dengan seluruh keluarga saya. Setiap satu hubungan di keluarga berubah menjadi sebuah mukjizat karena telah menjadi sama sekali baru. Kami sekarang menjalin hubungan yang mesra, akrab dan penuh kepedulian.

 

DOSA KELALAIAN

Dosa bukan saja saat kita berbuat perlanggaran tetapi kita telah berbuat dosa saat kita tidak melakukan apa yang kita tahu kita harus berbuat. Mari kita membaca Yakobus 4:17,

Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.

Kita tidak perlu seperti komputer untuk menganalisa dan meneliti segala sesuatu untuk mengetahui apakah kita sedang berbuat dosa. Kita hanya perlu menjadi seperti perangkat handphone yang senantiasa nyala dan siaga untuk menerima sinyal. Roh Kudus yang akan bergerak dalam hati kita untuk mengingatkan kita apa yang telah dilalaikan.

Saat berhadapan dengan meja Perjamuan Kudus, kita harus membereskan segala sesuatu yang menghindari hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama manusia. Tanggung jawab kita adalah untuk dengan setia meresponi Roh Allah. Saat kita sengaja memberontak dan tidak mengindahkan gerakan oleh Roh Allah, saat itulah kita menjadi tidak berkenan kepada Allah.

Saya akan sepintas menyebutkan beberapa kelalaian yang lazim terjadi. Umpamanya, mengenai penguasaan diri, berapa di antara kita yang selalu memakai waktu kita untuk mencari hal-hal dari Tuhan, untuk merenungkan dan bermeditasi akan hal-hal yang dari atas? Di Filipi 4:8, Paulus mengingatkan kita untuk merenungkan dan memikirkan hal-hal yang suci dan kudus karena pikiran kita sangat mudah tercemar. Untuk hal-hal jasmani kita tahu bahwa pencegahan adalah lebih baik daripada pengobatan. Hal ini juga benar untuk kehidupan rohani. Jika kita tidak memakan dari firman Tuhan agar firman menjadi bagian dari kita, maka pikiran dan jiwa kita akan senantiasa tercabik-cabik oleh hal-hal yang tidak perlu.

1 Tesalonika 5:15, 16 memberitahu kita bahwa kita harus senantiasa berdoa dan bersukacita dalam segala hal. Adalah kehendak Allah bagi kita agar kita menjadi orang yang selalu bersyukur. Saat kita mengomel dan tidak bersyukur, kita sebenarnya telah melalaikan kehendak Tuhan bagi kita.

Melakukan kehendak Allah bukanlah tentang melakukan itu atau ini, tetapi tentang menjadi pribadi yang menyenangkan Allah. Tidak ada hal yang lebih penting ketimbang menjadi pribadi yang mempunyai hubungan hidup dengan Yahweh. Doa, rasa syukur, dan sukacita merupakan tanda-tanda jelas dari orang yang memiliki hubungan dengan Dia.

 

BAGAIMANA KITA MEMPERINGATI YESUS?

Di nas tentang Perjamuan Kudus di 1 Korintus 11, lebih dari satu kali dikatakan bahwa saat kita memakan roti dan meminum cawan, kita sedang memperingati Yesus Kristus. Dalam cara apa peringatan ini berbeda dari peringatan Hari Pahlawan, yang memperingati prajurit-prajurit yang tewas di medan perang? Apakah kita memperingati Yesus sebagai tokoh besar yang telah mati seperti itu? Memperingati Yesus adalah mengingat teladan serta hidupnya dan membiarkan  firman Allah hidup dalam kita dan menjadi bagian dari hidup kita.

Saat kita mengalami kuasa Allah yang mengubah hidup, orang-orang yang belum pernah mengalami hubungan hidup dengan Allah akan melihatnya. Saat kita memiliki hubungan yang hidup dengan Tuhan yang telah mentransformasi kita, orang-orang sekitar kita akan melihatnya. Demikianlah caranya Allah menggenapi rencana dan maksud-Nya dalam hidup kita yakni membawa orang menjadi tertarik dengan rencana agung-Nya lewat kehidupan kita.

 

[Helen Chang adalah istri Almarhum Pastor Eric Chang. Sharing Perjamuan Kudus ini diberikan ketika beliau menghadiri Camp Cahaya Pengharapan tahun 2016. Beliau juga akan hadir dan berbagi dengan kita di Camp Cahaya Pengharapan pada bulan Nopember 2019. Untuk mendengarkan salah satu lagu ciptaan beliau, silakan klik “Play” pada tautan di permulaan artikel.]