Pastor Eric Chang | Matius 5:8 |

Hari ini kita akan melanjutkan pelajaran kita dari Khotbah atas Bukit dan kita akan mempelajari Matius 5:8,

“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” 

Mereka akan melihat Allah! Satu prospek yang luarbiasa! Satu janji yang menakjubkan! Pertama-tama, saya ingin anda memperhatikan bentuk kata kerja yang menunjukkan waktu akan datang: mereka akan melihat Allah. Ini merupakan satu bentuk kalimat yang menunjukkan sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Sekarang kita masih belum dapat melihat Allah di dalam kemuliaan dan kebesaran-Nya. “Kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar”,  Paulus mengatakan di 1 Korintus 13:12. Kita melihat tetapi melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar. Akan tetapi Paulus selanjutnya mengatakan bahwa  nanti kita akan melihat muka dengan muka.


Apa gol kehidupan ini?

Apakah tujuan/gol kehidupan manusia? Saya bertanya-tanya apakah gol kehidupan anda? Kehidupan ini mengarahkan kita ke mana? Di mana jalan kehidupan ini berakhir? Seringkali saya mendapati jalan kehidupan ini tidak membawa kita ke mana-mana kecuali ke dalam satu lubang beberapa kaki di bawah tanah. Dan semua pencapaian dan semua hasil usaha kita berakhir, ketika kita masuk ke dalam lobang itu, yang terletak beberapa kaki di bawah tanah. Anda tidak mungkin dapat menjadi pelayan Tuhan tanpa sekali-sekali harus memimpin upacara pemakaman dan menyadari bahwa itulah nasibnya bagi semua yang hidup. Ketika kita masih muda, sangat sulit untuk kita memikirkan kenyataan ini, bahwa apakah kita suka atau tidak, nasib bagi semua yang hidup berakhir di dalam debu. Akan tetapi jika kita berhenti di sini, kita semua akan menjadi orang-orang yang pesimis. Kita mungkin saja berusaha melakukan yang terbaik di dalam kehidupan ini, akan tetapi pada akhirnya kita tetap berakhir menjadi debu.  Kalau inilah yang menjadi prospek bagi kehidupan manusia, maka ini sesungguhnya adalah satu prospek yang sungguh suram sekali. Bahkan di antara kami yang harus sekali-sekali memimpin upacara pemakaman seringkali pulang dengan banyak pikiran yang sungguh serius: pada akhirnya, apakah tujuan/gol kehidupan ini? Nampaknya tidak berarti  bagi sanak saudara menceritakan pencapaian-pencapaian yang telah dicapai oleh orang yang telah meninggal itu – bahwa beliau pernah melakukan ini dan melakukan itu, dan bahwa beliau memiliki sarjana ini dan sarjana itu, dan bahwa beliau memiliki penghormatan dalam bidang ini dan bidang itu. Nampaknya tidak relevan untuk melakukan semua itu. Semuanya sudah berakhir. Semuanya sudah berlalu. Menceritakan semua pencapaian almarhum adalah seperti membuka album foto dan memandang hari-hari silam yang tidak ada lagi. Akan tetapi, ke mana lagi dapat anda pergi, jika anda tidak mengenal Allah, karena memang kehidupan ini tidak akan membawa kita ke mana-mana. Kehidupan ini adalah satu jalan buntu. Tragedi bagi orang-orang yang tidak mengenal Tuhan memang sangat menyedihkan. Mereka melakukan yang terbaik untuk tidak memikirkan persoalan ini tetapi mereka mendapati persoalan ini sering menghantui mereka, mungkin ketika saat-saat sepi di tengah malam setelah pulang kerja, atau ketika seorang saudara yang dikasihi meninggal dunia dan mereka  sekali lagi berhadapan dengan persoalan yang tidak ingin mereka hadapi itu.

Ketika saya berada di Hong Kong beberapa bulan yang lalu, saya bertemu dengan seorang teman lama. Kami dibesarkan bersama-sama di kota Shanghai. Ia adalah  seorang wanita yang sangat pintar dan apa saja yang ia kerjakan ia kerjakan dengan baik – apakah bermain piano atau studi. Kemudian ia pergi ke Amerika dan berhasil mendapatkan satu karir yang sangat baik dalam bidang sains dan berhasil mencapai puncak dunia akademik. Ia telah memperoleh gelar Master jauh sebelum saya mendapat gelar Sarjana Muda. Dalam bidang akademik, ia berada jauh di hadapan saya. Ia memulai dari awal dan selesai awal. Pada usia yang sangat muda ia bukan saja telah mendapatkan gelar Ph.Dnya, tetapi juga  telah memegang jabatan ‘Associate Professor’, di Universitas negeri Michigan. Maka, pada usia yang sangat muda ia telah berada di puncak dunia sains di dalam bidang yang khusus yang disebut kristalogi, terutamanya mineralogi.   Tetapi ketika saya bertemu dengan dia di Hong Kong, ia tidak lagi berada di dalam bidang sains tetapi dalam bidang bisnis. Ia sekarang menjalankan bisnis ayahnya. Ayahnya adalah seorang yang sangat kaya, seorang jutawan di Hong Kong, atau lebih tepat lagi, seorang jutawan  besar. Belakangan ini, terdapat banyak sekali jutawan di Hong Kong.

Saya mengalami satu percakapan yang menarik bersama dia dan saya bertanya kepada dia mengapa dia rela melepaskan karirnya yang begitu berhasil di dalam bidang sains untuk menjalankan bisnis ayahnya, yang kelihatannya tidak ada hubungan dengan sains sama sekali. Ia mengatakan bahwa itulah alasannya mengapa ia meninggalkannya, karena mereka tidak ada hubungan sama sekali. Saya bertanya, “Apa maksud kamu?” Ia menjawab, “Saya sudah mencapai puncak di bidang sains dan karena itu saya tidak dapat pergi ke mana-mana lagi. Saya sudah sampai di jalan buntu. Saya tidak dapat melihat prospek lagi.” Menurutnya, seseorang masih dapat melanjutkan untuk melakukan sedikit riset lagi, tetapi ia tidak tertarik. Ia telah mencapai puncak. Ia sudah menyandang gelar professor. Jadi ada apa lagi yang dapat dikejar? Makanya, ketika bapanya mengajak dia untuk mengurus bisnisnya di Hong Kong, ia mengatakan bahwa ia tidak tahu apa-apa tentang bisnes, tetapi ia siap untuk menerima tantangan baru.  Maka ia memasuki bidang bisnis dan menjadi pengurus bisnis ayahnya dan kelihatannya ia juga sangat berhasil di dalam bidang bisnis, dengan cepat ia menguasai setiap departemen, setiap aspek dari dunia bisnis dari saham, ke bagian-bagian lain dari dunia bisnis. Dan kemudian saya bertanya kepada dia, “Apakah anda mendapati dunia bisnis itu menarik?” Ia menjawab, “Ya, sangat menarik – untuk tahun pertama! Tetapi sekarang saya mendapati tidak sisa banyak untuk dipelajari dan dunia bisnis ini semakin lama semakin membosankan. Semuanya rutin sekarang, dan tidak ada tantangan lagi.” Saya berkata, “Jadi, apa artinya?” Ia berkata, “Itu berarti saya harus mencari tantangan yang baru karena rutinitas ini sangat membosankan saya.” Ia telah mencapai puncak dunia bisnis dan sekali lagi ia tidak tahu harus ke mana lagi.  Apa lagi yang dapat dikerjakan? Tidak ada puncak baru untuk didaki, tidak ada tantangan baru; setidak-tidaknya tidak ada yang menarik perhatiannya.  Maka saya bertanya lagi, “Bidang apa lagi yang ingin kamu coba? Setelah mencoba bidang sains dan bisnes, nampaknya tidak banyak pilihan yang lain.” Maka pada akhirnya kami sampai ke pokok pembicaraan bahwa kehidupan ini kelihatannya adalah satu jalan buntu.

Kelihatannya begitu sedikit yang dapat dilakukan oleh seseorang setelah ia mencapai puncak. Ketika anda berada di kaki gunung, anda memandang ke atas dan puncak bersalju itu tampak begitu mulia! Ah, tantangan besar! Betapa tingginya! Tetapi ketika anda berdiri di atas puncak gunung, anda tidak dapat pergi ke mana-mana lagi melainkan anda memiliki helikopter untuk mengangkat anda ke atas. Akan tetapi, helikopter juga tidak dapat terbang terlalu tinggi. Jadi kita mendapati bahwa pada umumnya inilah keadaan umat manusia. Ketika saya mempertimbangkan keadaan teman saya ini, saya melihat bahwa secara umum itulah keadaannya dengan umat manusia. Saya melihat bahwa begitu banyak orang berjuang keras untuk gelar Sarjana, untuk gelar Master, untuk gelar Ph.D dan sebagainya. Dan setelah itu, mereka tidak tahu harus ke mana lagi, tidak tahu apa lagi yang harus dikerjakan, dan tidak tahu apa lagi yang harus dikejar. Tampaknya mereka sudah tiba di jalan buntu. Nah, anda dapat melakukan sedikit riset di sana sini, tetapi apakah anda akan menghabiskan seluruh hidup anda untuk hal seperti ini? Apakah itu artinya kehidupan ini? Apakah itu tujuan/gol kehidupan anda? Kalau berbicara tentang uang, uang tidak menjadi masalah kepada teman saya ini karena ayahnya adalah seorang jutawan besar dan ia sendiri adalah pengusaha yang besar. Siapa perlu bicara tentang uang? Apa yang dapat anda lakukan dengan uang?  Teman saya bisa menempel dinding dengan uang; dan setelah beberapa waktu, bahkan itu juga tidak kelihatan bagus. Jadi, setelah memiliki uang, beberapa gelar, status, ke mana lagi anda akan pergi dari situ? Kelihatannya anda sudah sampai di jalan buntu.


Prospek yang mulia: melihat Allah

Tapi alangkah mulianya prospek bila kita dapat melihat di balik semua ini, dan berkata, “Kita akan melihat Allah – muka dengan muka.” Kepada saya ini mengubah segalanya. Sewaktu saya masih belum percaya, itulah perasaan saya. Saya mempelajari kehidupan manusia dan saya tidak dapat melihat jalan keluar. Karena, tentu saja terdapat satu jalan, akan tetapi apa gunanya mengadakan perjalanan di jalan itu kalau pada akhirnya didapati jalan itu adalah jalan buntu? Nasib seperti ini tidak terlalu menarik. Banyak kali saya dikuasai perasaan kecewa, bertanya-tanya apa gunanya manusia membanting tulang di dunia ini. Saya tidak menjadi seorang Kristen untuk mendapatkan prospek yang mulia. Itu bukan alasannya. Saya tidak menjadi seorang Kristen karena saya berharap untuk menemukan suatu jalan keluar dari jalan mati itu. Jika memang benar dan merupakan kenyataan bahwa  kehidupan ini tidak lebih dari satu jalan buntu, maka kita harus menerimanya, sebagaimana yang dinyatakan oleh Bertrand Russell, “Sekalipun kehidupan manusia berakhir di jalan buntu, kita masih perlu melakukan yang terbaik.” Tetapi pertanyaannya ialah: apakah terdapat sesuatu di balik? Dan Yesus memberitahu kita, bahwa bagi orang-orang yang suci hatinya, terdapat banyak yang menunggu di balik kematian. Dan Yesus memberitahu kita supaya kita dapat mengalaminya. Kita dapat menikmatinya, tetapi Yesus tidak menawarkannya dengan harga yang murah. Anda harus menjadi – dan ini adalah syaratnya – anda harus menjadi orang yang suci di hati! Dan itulah yang menjadi kesulitan, bukan? Yesus tidak menawarkan keselamatan dengan harga yang murah dan mudah, seperti banyak penginjil-penginjil modern yang sentiasa ingin melariskan jualan dengan menjual dengan harga yang murah.

Yesus memberitahu kita dengan terus terang bahwa, “Anda dapat melihat Allah! Allah dapat dilihat oleh anda, tetapi dengan syarat anda siap untuk menjadi suci di dalam hati.” Makanya sangat penting untuk kita menyelidiki apa artinya menjadi suci di dalam hati, dan apakah impian ini dapat menjadi satu kenyataan. Persoalan ini juga tergantung kepada hal ini: melainkan Allah menjadi nyata kepada kita di dalam hidup ini, kita mungkin saja berbicara tentang sesuatu yang tidak realistik. Kita mungkin saja sekadar menghibur diri kita sendiri dan enggan menerima kenyataan bahwa jalan buntu adalah jalan buntu. Kita ingin  menciptakan suatu masa depan untuk diri kita sendiri, yang kita sebut sebagai ‘melihat Allah’. Sebagaimana yang telah saya nyatakan tadi bahwa saya tidak menjadi seorang Kristen karena saya ingin melihat sesuatu di balik jalan buntu itu. Saya siap untuk menerima jalan buntu itu jika itulah kenyataannya, sehingga saya bertemu dengan Allah dan menyadari bahwa Allah ada. Pengalaman itu secara menyeluruh mengubah kehidupan saya. Saya menyadari bahwa Allah nyata, dan bahwa Allah ada.  Itu menjadi titik permulaan kehidupan Kristen saya. Oleh karena itu, melainkan anda pernah bertemu dengan Allah dalam cara tertentu di dalam hidup ini, maka impian untuk melihat Allah ini tentu saja merupakan satu khayalan yang tidak realistik.

Karena itu saya telah berulang kali menekankan betapa pentingnya satu hubungan yang hidup dengan Allah, di dalam hidup ini. Kalau tidak, iman anda mungkin lebih didasari oleh khayalan dan bukan kenyataan. Kita tidak dapat – melainkan kita hidup di dalam kesucian hati di dalam hidup ini – kita tidak akan dapat berkata seperti Paulus, “Aku kenal Dia, yang aku percaya.”  Apakah anda dapat mengatakan bahwa anda kenal Dia, yang anda percaya? Atau apakah anda hanya dapat semata-mata mengucapkan satu ungkapan tautologi, “aku percaya Dia, yang aku percaya.” Itu tidak akan membawa anda ke mana-mana, karena kita semua dapat mempercayai apa saja yang kita memilih untuk percaya. Kita harus bergerak dari hanya mempercayai apa yang kita percaya, kepada satu pengenalan akan Siapa yang kita percaya itu. Dan cara untuk mengenal Dia adalah melalui satu langkah komitmen, satu komitmen yang total. Tidak ada cara lain anda dapat mengenal Allah melainkan melalui satu komitmen yang total di dalam hidup ini. Itulah alasannya mengapa saya menekankan hal ini berulang kali, karena tanpa menyerahkan diri anda secara total kepada Allah, iman anda merupakan satu iman yang bersifat intelektual semata-mata. Anda hanya dapat pergi sejauh itu. Iman yang bersifat intelektual mungkin menarik untuk ahli filsafat, tetapi tidak berguna untuk membangunkan satu kehidupan yang kokoh. Apakah iman anda bersifat intelektual? Atau apakah ia berdasarkan suatu kenyataan di mana anda dapat berkata bersama rasul Paulus, “Aku kenal Dia, yang aku percaya”, karena anda telah mengalami kuasa-Nya di dalam kehidupan anda, karena anda telah bertemu dengan Dia di dalam satu hubungan yang hidup, di mana Ia telah membuat anda menjadi seseorang yang dapat disebut dengan pantas sebagai satu ciptaan baru di dalam Kristus?

Dapatkah anda mengatakan semua ini untuk diri anda? Jika tidak, iman apa saja yang anda miliki itu, terus terang saja saya katakan, adalah ‘iman yang bersifat intelektual’. Iman seperti ini mungkin bermanfaat untuk tujuan psikologi, sangat cocok untuk diskusi intelektual, dan sangat menarik perhatian ahli-ahli filsafat, tetapi sangat sedikit manfaatnya untuk kehidupan sehari-hari – karena kepercayaan kita akan Allah harus berakar  dalam hidup, dan kesucian hati adalah satu kualitas hidup. Ia bukan merupakan satu kepercayaan intelektual, satu keyakinan intelektual.  Ia berakar dalam kehidupan, yakni di dalam kualitas kehidupan anda. Jadi, sekali lagi saya katakan, bahwa keselamatan di dalam ajaran Yesus tidak berdasarkan iman yang mempercayai hal-hal tertentu sebagai kebenaran – bahwa Allah ada, bahwa Yesus mati dan sebagainya. Keselamatan juga tidak melalui berbuat ini dan itu – melakukan pekerjaan yang baik – membakar lilin di gereja, memberikan uang persembahan, melakukan semacam perbuatan baik di sana sini. Ia bukan satu keselamatan oleh perbuatan; ia juga bukan satu keselamatan oleh iman intelektual; tetapi satu keselamatan oleh transformasi, satu keselamatan oleh kasih karunia Allah yang datang ke dalam hidup anda dan mengubah anda menjadi manusia yang baru. Ini baru kenyataan! Kita sedang berbicara tentang sesuatu yang anda tahu telah terjadi pada diri anda; sesuatu yang dapat anda katakan sebagai satu pengalaman yang telah anda alami di dalam kehidupan anda; dan bukan sesuatu yang telah anda percaya di dalam pikiran sebagai suatu keyakinan intelektual. Saya tidak bermaksud bahwa keyakinan intelektual itu tidak baik. Ia sangat baik. Tentu saja, pelajarilah ilmu apologetik dan pelajarilah ilmu filsafat, filsafat Kristen jika anda suka. Tentu saja, pelajarilah semua ini. Akan tetapi jika anda berhenti di situ, maka keselamatan anda juga berhenti di situ. Keselamatan berhubungan dengan kesucian hati.


Untuk melihat Allah, anda harus suci di hati

Jadi catatkanlah aspek bersyarat di dalam pernyataan ini. Anda dapat melihat Allah tetapi dengan syarat anda suci di dalam hati. “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka – bukan orang lain mereka akan melihat Allah.”  Ini berarti bentuk negatif dari pernyataan ini juga benar, yakni, jika anda tidak suci di dalam hati, anda tidak perlu kuatir tentang melihat Allah, karena itu bukan bagian anda. Hanya mereka – mereka yang suci di hati, yang akan melihat Allah; mereka yang lain tidak menerima janji keselamatan dalam bentuk apa pun. Sekarang perhatikan dengan seksama aspek bersyarat dari pernyataan ini. Saya harus menekankan hal ini, karena keselamatan ada syaratnya. Tidak ada keselamatan yang tidak bersyarat di dalam firman Tuhan. Saya harus menekankan hal ini karena saudara kita Martyn Lloyd-Jones yang saya sebutkan di khotbah yang lalu, berusaha untuk menghilangkan aspek bersyarat ini. Kelihatannya beliau, karena alasan-alasan dogmatis, merasa terganggu oleh perkataan-perkataan Yesus yang berbunyi, “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan menerima kemurahan.” Dengan kata lain, jika anda ingin menerima kemurahan, anda wajib menjadi orang yang murah hati. Pernyataan ini menganggu beliau, karena menurut pandangan dogma beliau, keselamatan bergantung hanya pada satu hal, dan sebagaimana menurut beliau, bahwa pengampunan adalah berdasarkan pertobatan semata-mata. Tetapi sekarang menurut Yesus, pertobatan plus  menjadi murah hati. Dan ini menganggu keseimbangan teologis dan dogmatis beliau. Hal ini tidak sesuai dengan pandangannya. Maka, apa yang dilakukan beliau? Dr. Lloyd-Jones memutuskan untuk menyusun kembali perkataan-perkataan Yesus, dan saya mendapati tindakan ini tak dapat diampuni. Ini tidak boleh diizinkan. Untuk menghilangkan syarat itu, beliau justru menjungkir-balikkan pernyataan Tuhan. Ketika anda mempelajari cara beliau menjelaskan ayat itu, secara efektif kesimpulan beliau adalah, “Berbahagialah orang yang telah beroleh kemurahan, karena mereka akan menjadi murah hati.” Kita tidak mempunyai hak untuk menjungkir-balikkan firman Tuhan. Pertama-tama, untuk melakukan ini, yakni mengubah satu pernyataan bersyarat menjadi satu pernyataan tidak bersyarat, beliau harus membalikkan seluruh kalimat, tetapi lebih dari itu, beliau juga telah mengubah bentuk kata-kerjanya. Catatkan bahwa apa yang dikatakan oleh Yesus ialah, “mereka akan beroleh kemurahan. – mereka akan  Dalam istilah teologi, ini adalah satu pernyataan eskatologi, berarti, ia adalah satu pernyataan yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Mereka akan, di masa akan datang, apabila keselamatan Allah datang, menerima kemurahan pada hari itu. Tetapi Lloyd-Jones telah mengubah pernyataan itu menjadi: mereka telah beroleh kemurahan, dan karena itu mereka harus bermurah hati.

 Dan ini memang benar. Tentu saja apa yang dikatakan oleh Lloyd-Jones ini juga benar: “Berbahagialah orang-orang yang telah beroleh kemurahan, karena itu mereka harus bermurah hati.” Akan tetapi, meskipun pernyataan itu benar, (karena Yesus menyatakan hal itu di Matius 18:33), itu bukan arti yang dimaksudkan oleh Yesus di dalam ucapan bahagia ini. Di dalam Matius 18:33 Yesus ada menyatakan hal itu. Jadi pernyataan itu tersendiri memang benar, tetapi tidak relevan dengan apa yang dikatakan Tuhan di sini. Dan di dalam Matius 18:35 Yesus menyatakan bahwa jika anda tidak mengampuni orang lain, anda juga tidak akan diampuni. Ajaran ini begitu jelas dan tidak bergantung kepada penafsiran. Malah ia tidak membutuhkan penafsiran sama sekali. Kita hanya perlu mengizinkan firman Tuhan yang berbicara. Ajaran firman Tuhan sangat jelas. Kita tidak boleh dan tidak berani mengubah aspek bersyarat dari ayat ini. Kita tidak boleh meniadakan persyaratan yang telah ditetapkan oleh Yesus seenak hati kita. Amat penting untuk kita memperhatikan hal ini. Anda tidak boleh bermain-main dengan firman Tuhan. Ketika Lloyd-Jones akhirnya sampai pada pengakhiran khotbah, beliau menyadari bahwa beliau tidak memberitakan dengan tepat apa yang ingin disampaikan oleh Yesus. Pada akhirnya beliau sadar dan kemudian beliau menambah beberapa kalimat yang kira-kira berarti orang-orang yang murah-hatinyalah yang akan menerima kemurahan. Akan tetapi dalam pada itu, beliau sudah terlebih dulu meniadakan aspek bersyarat itu. Ini tidak boleh diizinkan. Maka di sini kita harus menyadari  bahwa terdapat satu syarat di dalam janji ini: anda akan melihat Allah hanya jika anda suci di dalam hati. Cukup mengherankan ketika Dr. Lloyd-Jones berkhotbah dari Matius 5:8, beliau tampaknya tidak lagi ingin mempersoalkan aspek bersyarat itu. Tampaknya beliau sudah meninggalkan subyek itu. Hal ini sangat mengherankan.

Kita harus mengingat fakta ini dengan baik, sebagaimana yang diperhatikan oleh Profesor Eduard Schweizer dengan tepat, dan beliau mengatakan ini: “Tidak ada orang yang dapat mengandalkan kemurahan Allah jika dia sendiri tidak menunjukkan kemurahan.” Pernyataan ini tepat dan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Yesus, karena justru itulah yang dimaksudkan oleh Yesus. Tidak ada orang yang dapat mengandalkan belas kasihan Allah jika dia sendiri tidak berbelas kasihan. Ini adalah satu butir yang sangat penting untuk dicatat. Dan saya mengabungkan kedua ayat ini karena terdapat hubungan yang dekat antara “Berbahagialah orang yang murah hatinya” dan “Berbahagialah orang yang suci hatinya”. Hubungan ini muncul dengan jelas di dalam Mazmur 24:3-4. Izinkan saya untuk membacakan kepada anda karena ayat-ayat ini menjadi dasar PL bagi perkataan-perkataan Yesus ini. Mazmur 24:3-4 berbunyi begini:

“Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.”

Kata ‘kemurahan’ di sini diterjemahkan sebagai ‘keadilan’ di dalam Alkitab Terjemahan Baru Indonesia dan ‘belas kasihan’ di dalam PL dalam bahasa Yunani, atau Septuaginta. Dia akan menerima ‘kemurahan’, dan karena itu ayat ini dapat dikaitkan dengan ucapan bahagia yang sebelumnya dalam ajaran Tuhan.

Akan tetapi terdapat satu hal lagi sebelum kita meneruskan untuk menyelidiki apa artinya suci di dalam hati. Hal ini juga ditimbulkan oleh Dr. Lloyd-Jones, dan beliau menimbulkan pertanyaan tentang penglihatan akan Allah itu. Apakah kita melihat Allah – pada Hari itu – apakah kita melihat Dia dengan mata telanjang, atau kita melihat Dia dalam pengertian rohani? Bagaimana kita akan melihat Allah?


Dalam pengertian apa kita melihat Allah?

Saya tidak akan menimbulkan pertanyaan ini jika beliau tidak menimbulkannya. Dan karena beliau menimbulkan persoalan ini dan karena buku tafsiran beliau tentang Khotbah atas Bukit merupakan salah sebuah buku tafsiran yang paling banyak diandalkan, saya diharuskan memberi sedikit komentar. Nah, setelah beliau mempertimbangkan pertanyaan ini, Lloyd-Jones membuat kesimpulan bahwa kita tidak tahu jawaban kepada pertanyaan ini. Ini sangat mengherankan! Tapi bagi saya, saya tidak puas dengan jawaban seperti ini karena pertanyaan itu terlalu penting untuk ditinggalkan begitu saja. Apakah kita akan melihat Allah pada hari itu dengan mata jasmani kita ini? Apakah kita akan melihat Allah, seperti yang dikatakan Ayub, “di dalam dagingku aku akan melihat Allah”? (Ayub 19:26)

Atau apakah kita akan melihat Allah dalam pengertian yang rohani? Dengan kata lain, penglihatan rohani akan Allah ini tidak berbeda dari segi kualitas, tidak berbeda dari segi macam, dari cara kita melihat Allah sekarang, tapi hanya kita akan melihat Dia dengan lebih jelas. Kita melihat Dia sekarang, tetapi samar-samar, tidak jelas. Kita melihat Dia dengan mata iman – secara rohani – tetapi kita tidak melihat dengan jelas. “Kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar”.  Akan tetapi pada hari itu, penglihatan akan Allah akan menjadi semakin jelas, menjadi semakin jernih karena kehidupan rohani kita akan menjadi sempurna. Dan sebagai jawaban kepada pertanyaan ini, Lloyd-Jones menyampaikan beberapa bukti dari firman Tuhan dan berdasarkan bukti-bukti itu beliau mengatakan bahwa kita tidak tahu. Pertama-tama, saya harus mengatakan bahwa bukti-bukti yang beliau sampaikan juga tidak lengkap. Beliau melangkahi banyak bukti-bukti penting yang lain. Sebagai contoh, Lloyd-Jones mengutip kasus Musa. Beliau mengatakan bahwa Musa tidak diizinkan untuk melihat Allah muka dengan muka; Musa hanya melihat bagian belakang kemuliaan Allah. Karena itu beliau menyimpulkan bahwa manusia tidak dapat melihat kemuliaan Allah dengan mata jasmani. Tetapi pernyataan beliau  tentang Musa ini, terus terang saja, tidak relevan. Pernyataan itu tidak relevan karena sekali lagi Lloyd-Jones lupa bahwa kita sedang berbicara tentang eskatologi, bahwa kita akan melihat Allah di suatu waktu di masa depan. Janji melihat Allah itu bersifat eskatologi, yaitu, bukan sesuatu yang akan terjadi di zaman ini tetapi di zaman akan datang. Makanya, mengutip Musa tidak relevan.

Di zaman ini, di masa sekarang, tidak seorangpun yang dapat melihat Allah  dan hidup karena dosa. Musa, sebagai seorang yang berdosa seperti kita semua, tentu saja tidak dapat melihat Allah dan hidup. Musa hanya diizinkan untuk melihat bagian belakang Allah. Musa tidak dapat melihat Allah muka dengan muka. Akan tetapi itu tidak ada kaitannya dengan firman Yesus di sini, karena kita tidak berbicara tentang apakah atau tidak kita dapat melihat Allah sekarang dengan mata ini, tetapi apakah kita akan melihat Allah pada hari itu, apabila tubuh ini diubahkan; apabila tubuh yang dapat binasa mengenakan yang tak dapat binasa, yang takluk maut mengenakan yang tak takluk maut, apabila tubuh dosa ini tidak ada lagi dan diganti oleh tubuh yang baru – penuh kemuliaan dan serupa seperti Kristus. Kita sedang berbicara tentang eskatologi. Mengutip Musa sama sekali tidak relevan. Musa tidak ada kaitannya dengan persoalan ini sama sekali karena kita sedang berbicara mengenai eskatologi, di mana mereka akan melihat Allah pada hari itu, pada hari di mana mereka akan mengenakan tubuh yang kekal, apabila tubuh yang hina ini diubah menjadi serupa dengan  tubuh Kristus yang mulia, sebagaimana diberitahukan kepada kita oleh Paulus di Filipi 3:21. Karena itu jawaban kepada pertanyaan ini sebetulnya tidak samar-samar.

Perhatikan bahwa saya sudah mengutip 1 Korintus 13:12 dua kali. Patut dicatat bahwa menurut Paulus, penglihatan kita akan Allah pada hari itu nanti – berbeda dengan penglihatan Musa – akan bersifat muka dengan muka. Musa tidak dapat melihat Allah muka dengan muka, tetapi sebaliknya itulah yang akan kita lakukan oleh anugerah Allah: melihat Allah muka dengan muka. Dan lebih dari itu, penglihatan ini adalah satu penglihatan yang berbeda dari segi kualitas, bukan saja dari segi tingkat. Paulus menyatakan hal ini dengan jelas sekali. Sekarang kita melihat dalam cermin secara samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat dengan cara yang berbeda – nanti kita akan melihat muka dengan muka. Apa artinya “melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar”? Itu berarti bahwa penglihatan kita akan Allah sekarang tidak dengan langsung. Sekarang kita melihat dalam cermin suatu pantulan kemuliaan Allah yang samar-samar. Pada zaman itu, sebagaimana yang anda tahu, cermin dibuat dari kuningan atau logam yang dipoles. Logam itu dipoles begitu bersih sehingga anda dapat melihat ke dalam dan melihat satu pantulan. Mereka tidak memiliki cermin seperti yang kita miliki hari ini. Makanya Paulus berkata kita melihat kemuliaan-Nya yang dipantulkan. Kita melihat suatu gambaran yang samar-samar. Tetapi nanti penglihatan kita adalah suatu penglihatan yang sama sekali berbeda. Ia bukan lagi suatu penglihatan yang tidak langsung  melalui pantulan. Tetapi nanti kita akan melihat secara langsung; seperti yang dinyatakan oleh Paulus, ‘muka dengan muka’. Jadi firman Tuhan menerangkan dengan jelas kepada kita bagaimana kita akan melihat Allah. Kita akan melihat Dia! Dan ini merupakan satu prospek yang sangat menarik! Kita akan melihat Dia. Jika hal ini tidak membangkitkan gairah anda, tidak banyak hal lain di dunia ini yang dapat menggairahkan anda. Apa yang menggairahkan anda? Memiliki mobil balap? Apa yang membangkitkan gairah anda? Atau memiliki helikopter? Bagi saya tidak ada hal yang lebih membangkitkan gairah daripada prospek ini: kita akan melihat Allah, dalam keadaan-Nya yang sebenarnya, dan kita akan menjadi sama seperti Dia! Kita akan menjadi sama seperti Dia karena Ia akan mengubah kita dengan sepenuhnya. Di dalam daging yang dapat fana ini, dengan segala dosa-dosanya, saya tidak dapat melihat Allah, dan hidup; akan tetapi pada Hari itu, kita akan melihat Allah, dan hidup.


Cara untuk mencapai impian melihat Allah: Memiliki hati yang baru!

Mari kita segera mempertimbangkan pertanyaan ini: bagaimana kita dapat memperoleh penglihatan yang mulia ini? Bagaimana mungkin anda dan saya mendapat bagian dalam penglihatan yang mulia itu? Ah, betapa mulianya masa depan kita! Apa artinya ‘suci di dalam hati’? Apa sebenarnya sih yang harus terjadi kepada saya? Nah, kita melihat dari firman Tuhan bahwa sifat dasar hati manusia adalah sangat jauh dari suci. Hati manusia sangat licik, lebih licik dari segala sesuatu, menurut Jeremiah 17:9 dan seterusnya. Manusia sangat licik. Ia malah pandai menipu dirinya sendiri, jangankan orang lain. Kita pandai mempermainkan diri kita; kita pandai memperbodohi diri kita; kita pandai menyakinkan diri kita untuk melakukan hal-hal yang bukan-bukan. Hati kita sangat licik. Kita harus sentiasa berjaga-jaga terhadap kelicikan hati kita. Lantas,  bagaimana caranya kita dapat mengubah hati yang licik ini menjadi hati yang suci? Yesus memberitahu kita hal yang sama di Markus 7:21-22. Yesus memberitahu kita bahwa dari dalam, dari hati orang, timbul segala macam dosa dan kejahatan: pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, irihati, hujat, kesombongan, kebebalan. Ini adalah satu daftar kejahatan yang panjang dan yang menjijikkan yang timbul dari dalam hati. Jika begitulah keadaan hati saya, apakah saya mempunyai harapan untuk melihat Allah? Jawabnya, “tidak sama sekali”. Dengan kekuatan sendiri, tidak sama sekali. Apa yang harus terjadi? Apa yang harus terjadi ialah Allah melakukan sesuatu kepada hati saya. Allah harus melakukan satu operasi hati untuk saya. Ia harus mengeluarkan hati saya yang lama yang sudah mati itu dan menanamkan satu hati yang baru yang hidup. Allah harus melakukan satu transplantasi hati. Dan syukur kepada Allah karena kalau Allah yang melakukan transplantasi hati, peluang saya untuk terus hidup sangat tinggi, kalau dibandingkan dengan begitu banyak orang yang mengalami transplantasi tetapi tidak hidup lama. Kalau salah satu dari orang-orang ini hidup lebih dari enam bulan, operasi itu dianggap satu sukses yang luar biasa. Barangkali jika ia tidak dioperasi ia mungkin dapat hidup setidak-tidaknya dua tahun, tetapi setelah mengalami transplantasi ia hidup selama enam bulan. Ini mungkin merupakan satu eksperimen ilmiah yang menarik, tetapi sebagai satu seni untuk memperpanjang nyawa manusia, saya tidak akan menganggapnya sebagai satu sukses. Walau bagaimanapun, saya tidak mau terlibat dalam perdebatan medis. Saya berbicara tentang transplantasi hati secara rohani, dan prospek yang baik daripadanya. Jadi, bagaimana hati saya dapat disucikan? Bagaimana Allah mengubah hati saya? Bagaimana Allah memberikan saya satu hati yang baru?

Di dalam PL kita telah diberitahu bahwa Allah akan memberikan kita satu hati yang baru. Secara khusus Yehezkiel adalah nabi untuk hati yang baru itu. Ia menyatakan hal itu beberapa kali. Sebagai contoh di Yehezkiel 11:19, ia berbicara mengenai ‘hati yang baru dan roh yang baru’. Ia mengatakan hal yang sama di Yehezkiel 18:31 dan saya akan membacakan ayat ini kepada anda karena ia penting untuk tujuan kita:

“Buangkanlah dari padamu segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku dan perbaharuilah hatimu dan rohmu! Mengapa kamu akan mati, hai kaum Israel?”

Saya ingin supaya anda mencatatkan sesuatu yang sangat menarik di sini yang berkaitan dengan bagaimana caranya kita memperoleh hati yang baru ini. Yehezkiel mengatakan, “Buangkanlah dari padamu segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku dan dapatkan untuk dirimu hati yang baru.” (Terjemahan dari bahasa Inggeris) Allah dapat memberi kepada kita hati yang baru, tetapi kita harus mencarinya. Aspek ini – anugerah Allah dan kerinduan kita, kelaparan dan kehausan kita untuk mendapatkannya – adalah paling penting. Kita akan kembali kepada butir ini sebentar lagi. Tetapi marilah kita perhatikan apa yang harus kita lakukan. Bagaimana Allah dapat mengubah hati kita atau menyucikan hati kita? Nah, terdapat tiga hal di dalam PB yang berhubungan dengan pembersihan hati.

Yang pertama, di dalam Ibrani 9:14 kita membaca bahwa darah Kristus menyucikan hati atau nurani kita dari dosa. Hanya darah Kristus yang dapat menyucikan hati kita. Kristuslah yang menjadikan kita suci dan begitu memberikan kita satu hati yang baru. Hal yang sama dinyatakan di 1 Yohanes 1:7, “jika kita hidup dalam terang….darah Yesus, Anaknya itu, menyucikan kita dari segala dosa.” Kedua, kita membaca di dalam Efesus 5:26 bahwa Ia menyucikan kita juga dengan air firman-Nya. firman Tuhan menyucikan hati kita. Yohanes 15:3 menyatakan hal yang sama di mana Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.” Yang ketiga, kita diberitahu bahwa di pihak kita, hati kita disucikan oleh iman (Kisah Rasul 15:9). Oleh iman Allah menyucikan hati kita. Tetapi kita, di pihak kita, harus mempunyai iman. Jadi anda dapat mengubah tamsilnya tetapi gagasannya tetap sama, apakah tamsil itu berbicara tentang membersihkan hati yang kotor atau mengantikan hati yang telah menjadi keras. firman Tuhan menggunakan gambaran yang berbeda untuk mengatakan hal yang sama. Gambaran yang dipakai mungkin berbeda; tetapi pesannya adalah sama. Satu hati yang telah disucikan adalah sama baiknya dengan satu hati yang baru, atau satu hati yang telah diubah adalah satu hati yang baru. Kedua-dua gambaran menyampaikan hal yang sama.


Hati adalah manusia batiniah

Apakah sebenarnya sih hati manusia? Apa sebenarnya yang diubah? Apa sebenarnya yang disucikan atau dibersihkan? Tentu saja, kita harus menyadari bahwa hati di dalam firman Tuhan ialah apa yang disebut Paulus sebagai manusia batiniah – manusia batiniah bersama semua emosinya, bersama kemampuannya untuk mengambil keputusan dan bersama kemampuannya untuk berpikir. Hati di dalam firman Tuhan adalah kata lain untuk menggambarkan manusia yang paling dalam; manusia yang sebenarnya, dan bukan hanya apa yang tampak di luar. Hati adalah diri anda yang sebenarnya di dalam, dan bukan apa yang anda tunjukkan kepada orang lain di luar. Mungkin anda adalah seorang yang sangat menarik dari tingkah laku di luar, tetapi seorang pemarah di dalam. Banyak orang yang menjalankan kehidupan mereka seperti itu. Mereka hidup dalam satu eksistensi semacam Dr. Jekyll-and-Mr. Hyde, semacam suatu skizofenia rohani. Mereka adalah satu pribadi di dalam dan satu pribadi yang lain di luar. Tetapi hati adalah siapa diri kita sesungguhnya di dalam, yakni, manusia batiniah itu. Hal ini sangat penting untuk dimengerti.  Hati kita menunjukkan kepada kita apa yang ada di dalam pikiran kita, bukan apa yang kita beritahu orang lain. Apabila anda ditanya apakah yang akan anda pilih di jajak pendapat mendatang – ya atau tidak? Anda mungkin berkata, ‘Ya’, tetapi pada hari pemilihan anda memilih ‘Tidak’. Satu untuk konsumsi umum, satu lagi untuk apa sebenarnya yang akan dilakukan pada hari itu. Apa yang dipikirkan tidak semestinya sesuai dengan apa yang diucapkan; dan apa yang diucapkan tidak semestinya sesuai dengan apa yang dipikirkan. Jadi, bila firman Tuhan berbicara tentang hati, ia berbicara tentang diri anda yang sebenarnya di dalam. Diri anda yang sebenarnya, itulah yang harus diubah.

Firman Tuhan ingin menjangkau kita di tahap yang paling dalam dari permasalahan kita, dan bukan semata-mata ingin merawat gejala-gejalanya. Tidak seperti, “Nah, kamu sakit di sini, aku akan memberi kamu beberapa pil aspirin untuk mengurangi rasa sakit.” Itu baik dan rasa sakit itu hilang dari situ, tetapi kemudian ia muncul di tempat lain. Sama seperti banyak operasi hari ini, anda mengeluarkan kanker dari tempat ini dan ia muncul dengan lebih parah di tempat lain. Anda membedah di sini, dan ia muncul di sana. Sama seperti ketika anda mencabut semalu. Anda mencabut satu semalu, kemudian tumbuh dua lagi. Anda berkata, “Apa yang sudah terjadi? Aku baru mencabutnya beberapa hari yang lalu.” Maka anda mencabut lagi dan memotong lebih ke dalam kali ini, dan kemudian anda menemukan tiga semalu. Jadi anda berkata, “Ini mustahil!” Tetapi begitulah dengan pengobatan gejala; anda hanya menangani gejala-gejalanya. Tetapi firman Tuhan langsung menangani akar permasalahan! Allah ingin menangani anda pada pribadi yang sesungguhnya di dalam. Dari luar ketika anda datang ke gereja, anda mempamerkan senyuman yang indah dan anda kelihatan cakap dalam jas yang elok itu. Anda datang ke gereja dengan Alkitab yang bagus yang diperbuat dari kulit kambing yang halus. Anda kelihatan begitu indah di luar. Tetapi apa yang ada di dalam? Bila anda pulang ke rumah, anda menengking istri anda, anda mencekik leher saudara anda, anda membuat teman sekamar hidup sengsara, dan di sinilah ‘si aku’ yang sebenarnya muncul. Itulah pribadi yang sebenarnya. Allah ingin menangani hati kita, dan ‘hati’ di sini berarti manusia yang sebenarnya, manusia batiniah itu.

Kita melihat hal ini umpamanya di Efesus 3:16. Di sini Paulus berbicara tentang batin dan di ayat 17 ia berbicara tentang hati, dan tentu saja, kedua-duanya adalah hal yang sama. Hati adalah manusia batiniah; manusia yang sebenarnya itu. Itulah tujuan kedatangan Yesus: Ia harus menyucikan manusia batiniah itu dengan darah-Nya; bukan supaya kita mengenakan jubah agama di luar yang menyebabkan kita kelihatan lebih beragama dari sebelumnya; bukan supaya kita menggantungkan kayu salib di kalung leher yang menyebabkan kita kelihatan lebih beragama lagi. Jika dasi saya tidak mengesankan anda, lain kali saya akan mengenakan kerah pendeta supaya anda menghormati saya sebagai seorang pendeta. Dan jika kerah pendeta masih tidak mengesankan anda akan kesalehan saya, lain kali saya akan mengenakan pakaian pendeta – yang berwarna hitam. Jika pakaian pendeta masih belum dapat mengesankan anda, dan kerah saya masih tidak dapat menyakinkan anda bahwa saya adalah seorang pendeta, lain kali saya akan datang mengenakan kerah pendeta, pakaian pendeta dan gown akademik sekaligus. Pada waktu itu saya berharap anda terkesan dengan sepenuhnya bahwa saya adalah hamba Tuhan. Jika saya harus mengesankan orang lain bahwa saya adalah seorang Kristen dengan cara-cara eksternal seperti ini, saya sudah keliru. Jika kesalehan saya bergantung pada jubah pendeta yang saya pakai untuk berkhotbah, ini sangat memalukan! Memalukan sekali!


Kesucian hati dalam praktek

Hari ini kita berkhotbah dan berusaha membangunkan agama kita dengan jubah-jubah eksternal, sedangkan Allah ingin melihat ke dalam batin. Allah melihat ke dalam hati. Allah  ingin mengubah manusia dari dalam dirinya. Apa yang benar untuk pendeta juga berlaku untuk orang Kristen. Dan saya menekankan hal ini karena kesucian hati adalah sesuatu yang sangat, sangat praktis. Ia sangat praktis. Karena bukan saja ini satu kesucian di dalam hati, tetapi satu kesucian yang dapat dilihat di dalam terang. Bukan dilihat hanya dari cara kita berpakaian atau menggantungkan lambang salib di leher. Saya tidak mempunyai masalah jika anda suka menggantungkan lambang salib di leher, tetapi menggantungkan salib di leher tidak menjadikan anda lebih saleh dari siapapun. Karena Alkitab anda  diperbuat dari kulit kambing yang halus dan Alkitab saya diperbuat dari plastik, itu tidak berarti karena itu anda adalah orang Kristen yang lebih baik.

Jadi, apa artinya suci di dalam hati? Sekarang kita sudah tahu apa itu hati dan kita tahu bagaimana hati menjadi suci, kita masih harus bertanya persis apa artinya ‘suci di dalam hati’.  Nah, bila kita mempelajari firman Tuhan, kita mendapati sekali lagi bahwa ajaran ini berakar di dalam PL. Seperti yang telah kita lihat di Mazmur 24 kesucian hati adalah sesuatu yang sangat praktis. Saya berharap anda membacanya dengan teliti. Andaikata anda masih belum, saya berharap anda membaca sekali lagi karena dinyatakan di sini kemurnian hati, tangan yang bersih, dan  kebenaran dalam tutur kata; mereka semua berada di dalam paket yang sama.  Kesucian hati pasti akan dinyatakan oleh tangan yang bersih, yakni, anda tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang berdosa, melakukan hal-hal yang berdosa.  Kesucian di hati juga akan diungkapkan di dalam kejujuran  dalam tutur kata, bahwa apa saja yang kita ucapkan adalah benar. Dengan orang ini kita tidak perlu ragu-ragu, “Berapa banyak dari pernyataan itu yang benar? Berapa banyak yang dilebih-lebihkan? Berapa banyak yang ikhlas?”

Tentu saja hal ini menjadi satu masalah yang besar karena anda harus mempercayai sebagian saja dari setiap kalimat. Pada akhirnya, mungkin hanya 20% yang benar. Ini mencerminkan ketidaksucian di dalam hati. Di mana terdapat kesucian di dalam hati, terdapat juga kejujuran di dalam tutur kata.  Setiap kata yang diucapkan oleh orang ini, dapat dipercayai. Ia tidak bermain-main dengan kata-katanya, dan tangannya juga bersih. Dengan kata lain, apabila Yesus berbicara tentang suci di dalam hati, janganlah kita membuatnya kedengaran begitu rohani sehingga ia menjadi sama sekali tidak berarti. Banyak kali orang berkata, “Oh, itu sangat rohani sekali tetapi tidak praktis” seolah-olah apa yang rohani selalunya tidak praktis. Sangat mengherankan! Karena di dalam firman Tuhan, yang sebaliknya yang benar. Segala-sesuatu yang rohani sangat praktis! Hal-hal yang tidak rohanilah yang sesungguhnya tak nyata, dan karena itu tidak praktis. Kita harus belajar untuk mengubah pemikiran kita. Bila firman Tuhan membicarakan sesuatu yang rohani, bila firman Tuhan membicarakan kesucian di dalam hati, itu berarti bahwa perubahan yang terjadi pada diri anda itu sangat nyata. Berarti apa yang suci adalah nyata. Ia nyata karena ia bersih, dan kebersihan harus diungkapkan dalam setiap aspek kehidupan seseorang, bahkan dalam cara dia berpakaian. Ada orang yang berpikir bahwa berpakaian kotor itu rohani karena itu membuktikan bahwa mereka tidak terlalu peduli akan hal-hal eksternal, atau hal-hal di luar. Mereka mengatakan, “Kamu baru saja berkata, kamu baru saja mengatakan bahwa apa yang ada di dalam manusia itu yang diperhitungkan, dan manusia di luar itu tidak penting. Karena itu jika aku tidak sisir rambut, apa salahnya? Jika aku tidak mencuci rambut dan rambut saya berantakan, maka aku sangat rohani. Apa yang penting adalah kesucian di dalam. Jika aku berkelakuan kasar, itu tidak apa-apa; kekasaran itu hanya di luar. Sebenarnya saya sangat ramah di dalam.” Janganlah kita memperbodohi diri kita ketika menafsirkan firman Tuhan. Suci di dalam hati tidak berarti apa yang di luar tidak penting atau kelakuan tidak penting. Tidak! Sama sekali tidak! Suci di dalam hati dalam firman Tuhan mempunyai penerapan yang nyata dan praktis. Berarti kita masih mencuci muka sekalipun kita suci di dalam hati. Karena itu bukan saja hati kita bersih, tetapi muka kita juga bersih. Itulah yang dimaksudkan oleh firman Tuhan. Ia begitu praktis. Karena itu tangan anda bersih juga. Kita membaca mengenai itu Mazmur 24 tadi: tangan yang bersih! Oke. Saya tahu bahwa tangan yang bersih berarti tidak berbuat dosa, tetapi ia juga berarti anda mencuci tangan anda secara harfiah.

Orang-orang Kristen harus memperhatikan cara mereka berpakaian sebagai satu kesaksian bagi Kristus. Begitulah praktisnya kehidupan Kristen. Saya memperhatikan penampilan setiap pekerja Kristen. Ada beberapa pekerja Kristen yang harus memperbaiki penampilan mereka. Apakah anda sikat sepatu atau tidak, juga penting. Biarlah sepatu anda juga bersih, sebagaimana hati anda bersih. Seperti yang telah saya katakan, kesucian di dalam hati mempengaruhi setiap aspek kehidupan seharian kita. Ketika kita pergi ke rumah orang Kristen, kita berharap rumahnya bersih. Janganlah kita berkata, “Nah, kesucian ialah di dalam hati, makanya jika rumah aku kelihatan seperti bak-sampah yang jungkir-balik, itu tidak apa-apa. Yang penting kita suci di dalam hati.” Saya menekankan hal ini karena banyak orang menganggap bahwa kerohanian adalah di dalam, maka apa yang diluar tidak penting. Dan dari situ kita menarik kesimpulan bahwa kelakuan kita juga tidak penting. Tidak heran mengapa terdapat begitu banyak orang Kristen dan pendeta yang tidak sopan. Dan kalau anda menegur mereka karena kelakuan mereka yang tidak sopan itu, mereka berkata kesucian di dalam hatilah yang diperhitungkan. Nah, saya ingin melihat kesucian hati diperlihatkan di dalam tingkah laku anda, di dalam penampilan anda, di dalam kelakuan anda, di dalam tutur kata anda. Yesus seterusnya mengatakan di khotbah atas bukit, kalau ‘ya’ katakan ‘ya’! Kebenaran yang mutlak! Oh, ya, firman Tuhan begitu praktis. Dan bukan saja di bagian Firman ini. firman Tuhan menyatakan hal ini dengan banyak cara. Berulang kali kita menemukan bahwa kesucian hati diungkapkan di dalam ketaatan kepada Allah. Ia diungkapkan dalam ketaatan yang praktis dalam kehidupan sehari-hari. Ia begitu kongkrit dan nyata.


Hati yang suci adalah hati yang sempurna

Kalimat ‘hati yang sempurna’ digunakan berulang kali di dalam PL. Ia digunakan umpamanya di 1 Raja-raja 8:61, 2 Raja-raja 20:3 dan banyak ayat lagi di dalam firman Tuhan. Ia merujuk kepada satu hati yang dikuduskan dan secara total berkomitmen kepada Allah, dan karena ia secara total berkomitmen kepada Allah, ia mengungkapkan dirinya melalui ketaatan yang praktis terhadap Allah. Umpamanya di 1 Raja-raja 8:61 anda membaca di situ mengenai ‘sepenuh hati’  – ketaatan yang sepenuh hati. Kata ‘sepenuh’  berarti sempurna dan tidak terbagi-bagi. Suci di dalam hati berarti anda mengasihi Allah dengan sepenuh hati, bukan dengan sebagian-bagian. Ini sangat penting untuk dicatatkan, sangat penting. Di 2 Tawarikh 25:2, Raja Amazia

“melakukan apa yang benar di mata TUHAN, hanya tidak dengan segenap hati.”

Sangat menarik! Anda dapat melakukan apa yang benar di mata Tuhan, sekalipun hati anda tidak sempurna. Apakah orang seperti ini akan melihat Allah? Tidak, jika kita mengikuti ajaran Yesus dengan berhati-hati. Yesus berkata orang yang suci hatinya, merekalah yang akan melihat Allah, mereka yang hatinya sempurna. Suci berarti sempurna; tidak bercela, tidak berbintik. Ia bersih secara sempurna; Tidak kotor, tidak najis. Oleh karena itu, hanya orang yang hatinya sempurna – secara total berkomitmen kepada Allah – akan melihat Allah. Tetap Amazia disebut telah melakukan apa yang benar. Aneh! Ia melakukan apa yang benar. Dari luar, ia melakukan segala-sesuatu dengan baik, tetapi di dalam dia tidak sempurna terhadap Allah. Tidak sempurna. Hal ini sangat penting. Karena itu kita mesti mempertahankan keseimbangan. Kita harus sempurna di dalam dan kesempurnaan itu harus juga menemukan expresinya di luar. Akan tetapi tidak boleh hanya di luar; ia mesti juga sempurna di dalam – secara total berkomitmen kepada Allah di dalam. Sempurna, sepenuh hati berarti ‘total’. Hati yang total terhadap Allah. Itulah caranya bagaimana mata anda menjadi sehat, dalam penglihatan akan Allah.

Akhirnya sekali,  suci di dalam hati juga berarti sunat di dalam hati. Roma 2:29 berbicara juga mengenai sunat di dalam hati. Begitu juga dengan Kolose 2:11, bersunat di dalam hati. Apa artinya sunat di dalam hati? Sunat di dalam hati berarti penanggalan akan daging dari dalam hati. Apa artinya menanggalkan daging dari dalam hati? Ia berarti murni dalam motif rohani. Apa artinya motif yang murni? Secara sederhana ia berarti ketaatan yang total kepada Allah – ketaatan yang tidak mempertahankan apa-apa, ketaatan yang digerakkan oleh kasih Allah. Dengan ini kita harus tutup. Saya percaya sekarang kita sudah mengerti bagaimana kita menjadi suci di dalam hati. Kita mengerti apa itu hati. Kita mengerti apa artinya suci di dalam hati. Kesucian di dalam hati adalah melakukan kehendak Allah, dan melakukan kehendak Allah dengan sepenuhnya dan bersungguh-sungguh, tanpa mempertahankan apa-apa. Harapan saya kepada Allah, anda dan saya akan melihat Allah, pada Hari itu, muka dengan muka.

 

Berikan Komentar Anda: