Ev. Xin Lan | Kejadian 24 |

Hari ini tokoh Alkitab yang akan kita pelajari merupakan satu tokoh kecil. Kita bahkan tidak tahu siapa namanya karena tidak ada catatan dalam Alkitab. Pribadi ini muncul di Kejadian 24. Dia adalah hamba Abraham yang paling tua yang bertanggung jawab atas seluruh harta bendanya. Mari kita sebut di sebagai “pelayan tua.” Kita ingin melihat pada orang ini, karena di dalam Alkitab, seseorang yang mengikuti Allah disebut hamba Allah. Sebagai contohnya, Abraham, Ishak, Yakub, adalah leluhur Israel dan juga para nabi di Perjanjian Lama dan para rasul di Perjanjian Baru. Mereka menyebut diri mereka “hamba-hamba Allah.” Kita yang menjadi orang Kristen juga disebut hamba Allah. Bagaimanakah seharusnya kita menjadi hamba Allah? Saya berharap melalui hamba Abraham yang tua ini kita dapat belajar sesuatu.

Peristiwa tentang pelayan tua ini tercatat di Kejadian 24. Dikatakan di sana bahwa Abraham telah menjadi tua, lalu dia memanggil hambanya yang paling tua, orang yang paling lama melayani dia, agar datang kepadanya. Abraham memintanya bersumpah untuk pergi ke kampung halaman Abraham untuk mengambil seorang istri untuk anak tunggalnya, Ishak. Maka bersumpahlah hamba yang tua itu kepada Abraham, lalu segera bersiap dan berangkat ke dataran Mesopotamia, kampung halaman Abraham. Dia membawa 10 ekor unta milik tuannya dan berbagai harta benda berharga di atas setiap unta itu. Beberapa hamba yang lain juga ikut bersama dia.


Meminta Pertolongan dari Tuhan

Setelah melalui perjalanan yang panjang mengendarai unta, mereka akhirnya tiba di kota tempat tinggal Nahor. Nahor adalah saudara kandung Abraham. Saat itu sudah petang. Mungkin sudah kebiasaan penduduk di situ yang mana wanita-wanita dari setiap keluarga pergi ke bagian luar kota untuk mengambil air setiap petang. Pelayan tua itu membiarkan 10 untanya untuk membungkuk di pinggir sebuah sumur, lalu dia memohon kepada Allah dan berkata,

“Ya YAHWEH, Allah tuanku Abraham! Buatlah aku berhasil pada hari ini, dan tunjukkanlah kemurahan-Mu kepada tuanku, Abraham. Lihatlah, aku berdiri di dekat sumur dan anak-anak gadis dari kota ini datang untuk mengambil air. Kiranya gadis yang kepadanya aku berkata: ‘Tolong turunkan gucimu supaya aku dapat minum,’ dan menjawab dengan, ‘Minumlah, dan aku juga akan memberi minum unta-untamu,’ dialah yang Engkau tetapkan bagi hamba-Mu, Ishak. Dengan demikian aku akan mengetahui bahwa Engkau telah menunjukkan kemurahan-Mu kepada tuanku.”

Terjadilah sebelum pelayan tua itu selesai berkata-kata pada saat itu, Ribka, yang adalah anak perempuan Betuel putra Nahor, saudara Abraham keluar dengan guci di atas bahunya. Anak perempuan itu sangat cantik dan belum menikah. Pelayan tua itu melihat dia mengisi gucinya dengan air. Kemudian dia berlari untuk menjumpai gadis itu dan berkata, “Tolong izinkan aku untuk meminum sedikit air dari gucimu.”

Jawab Ribka, “Minumlah, tuan”, maka segeralah diturunkannya buyungnya itu ke tangannya, serta diberinya dia minum.

Setelah ia selesai memberi hamba itu minum, berkatalah Ribka, “Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum.” Kemudian segeralah dituangnya air yang di gucinya itu ke dalam palungan, lalu berlarilah ia berulang kali ke sumur untuk menimba air dan ditimbanyalah untuk semua unta orang itu. Dengan berdiam diri, pelayan tua itu mengamat-amatinya untuk mengetahui apakah Yahweh mengabulkan permintaannya sesuai yang ia doakan dan mengizinkannya untuk mendapatkan seorang istri bagi Ishak.

Setelah Ribka selesai mengambil air dan unta-unta sudah selesai minum. Pelayan tua itu mengambil sebuah cincin emas seberat setengah syikal yang kalau sekarang ini sama dengan 5.75 gram; dan dua gelang tangan untuk tangannya yang seberat sepuluh syikal emas yang pada masa sekarang sama dengan 115 gram. Dia memberikan semua ini kepada Ribka dan berkata, “Anak siapakah engkau? Apakah di rumah ayahmu ada kamar kosong untuk kami bermalam?”

Ribka berkata kepadanya, “Ayahku Betuel, anak Milka, yang melahirkannya bagi Nahor. Baik jerami, baik makanan unta banyak pada kami, tempat bermalam pun ada.”

Setelah mendengar semua itu, hamba tua itu lalu berlutut dan sujud menyembah Yahweh. serta berkata,

“Terpujilah YAHWEH, Allah tuanku Abraham, yang tidak mengabaikan kasih setia-Nya kepada tuanku. Dan bagiku, YAHWEH telah menuntun perjalananku menuju kerabat tuanku ini.”

Berlarilah gadis itu pergi menceritakan kejadian itu ke rumah ibunya. Ribka mempunyai saudara laki-laki, namanya Laban. Laban berlari ke luar mendapatkan orang itu, ke mata air tadi, dan berkata kepada pelayan tua itu, “Marilah engkau yang diberkati Yahweh! Mengapa engkau berdiri di luar, padahal telah kusediakan rumah bagimu, dan juga tempat untuk unta-untamu.”


Fokus dan Setia pada Tugas

Pelayan tua itu membawa segala sesuatu ke rumah Laban. Laban memperlakukan mereka dengan baik, memberi makan unta dengan jerami dan menyediakan hidangan di hadapannya dan orang-orangnya.

Akan tetapi, ketika makanan disajikan di hadapan pelayan Abraham, ia pun berkata, “Aku tidak akan makan sebelum aku mengatakan kepadamu apa yang harus kukatakan.” Kata Laban kepadanya, “Kalau begitu, katakanlah kepada kami.”

Kemudian hamba tua itu menceritakan semuanya. Lalu Laban dan Betuel menjawab:

“Hal ini berasal dari YAHWEH, karena itu kami tidak dapat mengatakan kepadamu baik atau buruknya. Lihatlah, Ribka berada di hadapanmu. Bawalah dia dan pergilah. Biarlah ia menjadi istri bagi anak tuanmu seperti yang telah YAHWEH katakan.”

Ketika hamba Abraham itu mendengar perkataan mereka, sujudlah ia sampai ke tanah menyembah Yahweh. Kemudian hamba itu mengeluarkan perhiasan emas dan perak serta pakaian kebesaran, dan memberikan semua itu kepada Ribka; juga kepada saudaranya dan kepada ibunya diberikannya pemberian yang indah-indah. Sesudah itu makan dan minumlah mereka, ia dan orang-orang yang bersama-sama dengan dia.

Paginya sesudah mereka bangun, berkatalah hamba itu: “Lepaslah aku pulang kepada tuanku.” Namun, saudara serta ibunya Ribka berkata: “Biarkanlah anak gadis itu tinggal pada kami barang sepuluh hari lagi, kemudian bolehlah engkau pergi.”

Namun, jawabnya kepada mereka: “Janganlah tahan aku, sedang Yahweh telah membuat perjalananku berhasil; lepaslah aku, supaya aku pulang kepada tuanku.”

Kata mereka: “Baiklah kita panggil anak gadis itu dan menanyakan kepadanya sendiri.”

Akhirnya Ribka berkata, “Aku mau pergi.”

Kemudian keluarga itu mengizinkan pelayan tua itu membawa Ribka pergi. Keluarganya memberkati dia. Setelah perjalanan yang panjang, hamba itu membawa Ribka kepada Ishak dengan selamat. Ishak menikahi Ribka dan mencintainya.

Apa perasaan anda mendengar cerita ini? Ketika saya selesai membaca cerita ini, saya langsung teringat perkataan di Amsal 25:13

Bagai salju yang dingin di musim panen, utusan yang setia bagi mereka yang mengutusnya. Ia menyegarkan hati tuan-tuannya.

Pelayan tua ini sangat setia. Dia melakukan sesuai dengan instruksi dari tuannya dan menyelesaikan tugas yang diembankan dengan sepenuhnya. Siapa pun yang mempunyai hamba yang demikian adalah berkat yang sangat besar dan yang menyegarkan jiwa tuannya.

Hamba yang tua itu menunjukkan kesetiaan kepada tuanya dari awal sampai akhir. Tugas yang diembankan tuannya itu relatif sulit. Pertama ia harus melakukan perjalanan yang panjang. Kita tahu perjalanan Abraham sekitar 1.500 km jauhnya ketika dia meninggalkan kampung halamannya datang ke Kanaan. Pada waktu itu tidak ada kereta atau pun pesawat, mereka harus mengendarai kuda atau unta, atau berjalan kaki. Mungkin sekarang ini, menunggang kuda atau unta merupakan suatu kegiatan olahraga, sangat menarik dan romantis. Namun, jika kita mengendarai selama beberapa bulan, melalui gunung dan padang gurun, kita akan tahu rasanya. Kita akan dapati tulang kerangka kita begitu banyak diguncang dan kesakitan.

Pada waktu itu, jalan tidak terbuat dari aspal melainkan tanah. Ketika pejalan kaki atau penunggang kuda lewat banyak debu yang akan berterbangan. Beberapa tempat mungkin tidak mempunyai jalan, mereka harus memotong semak-semak untuk membuka jalan. Terlebih sulit lagi jika berangin dan hujan.

Jika ada perampok, mereka harus melawan. Pada waktu itu tidak ada polisi. Mereka tidak dapat menelpon 999. Bisa saja mereka kehilangan seluruh harta benda mereka bahkan nyawa mereka.

Di samping itu mereka harus bermalam dan makan di alam terbuka di padang gurun. Hamba tua ini dalam usia yang lansia, tidaklah gampang baginya untuk menanggung kesulitan-kesulitan dalam perjalanan itu. Untuk setia di bawah kondisi yang menyenangkan tidaklah sulit. Namun, di bawah tekanan dan kesulitan di mana-mana, dapatkah kita tetap setia dan memenuhi pekerjaan Allah?

Ketika hamba tua itu tiba di kota Nahor dan bertemu Ribka, dia diundang dengan ramah ke dalam rumah Laban. Laban menyediakan hidangan bagi mereka. Dia sangat lapar setelah berjalan sepanjang hari dan hari sudah petang. Namun, hal pertama yang ia lakukan bukanlah makan dan minum, dia berkata, “Aku tidak akan makan sebelum kusampaikan pesan yang kubawa ini.”

Di dalam hati pelayan tua itu hanya ada satu hal, yaitu apakah dia dapat menyelesaikan misi yang diembankan oleh tuannya. Jika dia tidak dapat menyelesaikannya di sini, dia akan memilih untuk tidak menerima undangan keluarga ini dan segera berpindah menuju keluarga yang lain. Lalu setelah mengutarakan semua yang ingin disampaikannya, akhirnya dia berkata,

“Sekarang jika engkau berkenan menunjukkan kemurahan hati dan kesetiaan kepada tuanku, katakanlah kepadaku; dan jika tidak, katakanlah juga supaya aku tahu ke mana aku harus pergi.”

Orang ini sangat setia sampai ke tahap dia tidak ingin membuang-buang waktu untuk melakukan hal yang lain selain menyelesaikan tujuan tuannya.

Ada pepatah Tionghoa, yaitu “demi mengatur sungai dan air, tiga kali Yu (禹) melewati rumahnya”, dia tidak memasukinya. Cerita ini terjadi pada zaman kuno zaman kaisar Shun (舜). Pada waktu itu terjadi banjir besar di seluruh negeri. Kaisar Shun (舜) mengutus seseorang bernama Yu (禹), untuk mengatur sungai dan aliran air serta mengeruk sungai-sungai. Dalam melaksanakan tugasnya itu, dia bekerja selama 13 tahun. Selama 13 tahun, tiga kali dia melewati rumahnya, dia tidak memasukinya. Dia sangat setia pada tanggung jawab sampai ke tahap dia tidak ingin kehilangan waktu sedikit pun.


Apakah Yesus akan Menemukan kita Setia?

Yesus berkata dalam Injil, ketika kamu diutus jangan memberi salam kepada siapa pun di jalan. Untuk waktu yang lama saya tidak memahami maksudnya. Sekarang saya tahu. Sebenarnya hal ini berhubungan dengan soal kesetiaan. Menjadi setia sampai ke tingkat tidak terganggu dengan hal lain di tengah-tengah pekerjaan.

Di generasi sekarang ini, sangat susah kita menemukan seseorang dengan kesetiaan semacam ini. Sering kali kita hanya berkeliling, mengunjungi teman, berwisata ke sana-sini. Saat waktunya tiba, misi dari tuan kita belum kita selesaikan. Pada saat-saat terakhir, kita baru mengerjakannya dengan cara yang terburu-buru dan tidak serius.

Yesus mencari orang yang setia. Apakah kita setia terhadap apa yang dipercayakan kepada kita?

Kembali lagi pada pelayan yang tua tadi, dia tidak ingin menghabiskan waktu untuk makan sebelum dia menyelesaikan tugasnya. Dengan setia, sabar dan jelas dia memberitahu Ribka dan keluarganya seluruh ceritanya. Tanpa pemahaman yang baik, kita akan bertanya-tanya kenapa pasal 24 agak bertele-tele. Mengapa begitu banyak pengulangan hanya dalam satu pasal? Sebenarnya Alkitab ingin menggunakan itu untuk memberitahu kita betapa setianya pelayan tua itu. Dengan rinci dia memberitahu seluruh perintah dari tuannya dan semua permintaannya kepada Allah. Dia tidak menambah atau mengurangi sedikit pun. Menyampaikan semua keinginan tuannya.

Di Matius 5:19, Yesus berkata,

“Siapa yang meniadakan salah satu dari perintah-perintah terkecil ini dan mengajar orang lain untuk melakukan hal yang sama, ia akan disebut yang terkecil dalam Kerajaan Surga. Namun, siapa yang melakukan perintah-perintah itu dan mengajarkannya akan disebut besar dalam Kerajaan Surga.”

Hal yang sama dalam Wahyu 22:18-19 pasal yang terakhir dalam Alkitab, Rasul Yohanes berkata

“Aku bersaksi kepada semua orang yang mendengar perkataan nubuat kitab ini: “Jika ada yang menambahkan sesuatu pada perkataan-perkataan ini, Allah akan menambahkan kepadanya semua bencana yang tertulis dalam kitab ini. Dan, jika ada yang mengurangi sesuatu dari perkataan-perkataan dalam kitab nubuat ini, Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan, dari kota kudus, dan dari hal-hal yang tertulis dalam kitab ini.””

Allah ingin kita menyampaikan firman-Nya dengan setia. Namun, apakah kita setia dalam menyampaikan kehendak Allah? Itulah alasan kenapa Paulus mengingatkan Timotius, anaknya di dalam Tuhan untuk dengan tepat menguraikan firman Allah. Mengurai dan mengkhotbahkan Alkitab dengan tepat. Apakah kita mempunyai sikap yang setia ini? Pada masa depan, Allah akan menghakimi kita. Apakah kita sudah salah dalam mengkhotbahkan firman Allah?

Bukan hanya itu, pelayan tua itu juga jujur dalam menjelaskan, orang yang seperti apakah tuannya Abraham itu. Bagaimana Allah memberkatinya, memperoleh anak pada masa tuanya dan memberikan seluruh kepunyaannya kepada anak tunggalnya. Saya percaya Ribka dan keluarganya dengan begitu cepat mengiyakan pernikahan yang istimewa ini karena cara pelayan tua memperkenalkan tuannya. Pelayan tua berhasil membuat orang tahu dan percaya bahwa, “Oh, tuanmu diberkati Allah dan makmur, menikahkan anak gadisku ke dalam keluarganya merupakan pilihan terbaik”.

Dapatkah kita membuat orang tahu: Allah kita yang terbaik?

Mari kita melanjutkan membaca Kejadian 24. Ketika Ribka menyetujui permintaan pelayan tua itu, nampaknya pernikahan ini sudah dipastikan. Akhirnya pelayan tua ini dapat sepenuhnya lega. Namun, keesokan paginya hamba tua itu memberitahu mereka, “Lepaskanlah aku pulang kepada tuanku”. Begitu cepat berangkatnya? Keluarga itu agak kaget, setidaknya biarlah anak gadis kami tinggal setidaknya 10 hari lagi! Anda juga bisa bertamasya keliling dulu. Anda sudah datang dari tempat yang jauh, negeri kami sangat makmur, kenapa tidak tinggal lebih lama?

Hamba tua itu berkata,

“Jangan menahan aku, ketahuilah bahwa YAHWEH telah membuat perjalananku berhasil. Izinkanlah aku pergi supaya aku dapat pergi kepada tuanku.”


Tidak Menunda dalam Melakukan Kehendak Tuhan

Meskipun soal pernikahan sudah mantap, pelayan tua ini tidak ingin berlama-lama di rumah Ribka. Dia ingin secepatnya membawa Ribka kepada tuannya. Tugasnya belum selesai kalau dia belum membawa Ribka pulang. Lagi pula tuannya tidak tahu apa yang telah terjadi. Kata “menahan” berarti menunda. Sering kali ketika kita diminta untuk melakukan sesuatu, kita tidak berkata tidak, tetapi kita menunda-nunda dan tidak segera melakukannya. Namun, di dalam Alkitab, menunda sama saja dengan tidak melakukan. Mari kita baca Ulangan 23:21,

“Jika kamu sudah bernazar kepada YAHWEH, Allahmu, janganlah menunda untuk memenuhinya. Sebab, YAHWEH, Allahmu akan menuntutnya darimu. Kamu akan berdosa jika tidak memenuhinya.”

Di katakan di sini, ketika anda bernazar kepada Yahweh, jika anda menunda-nunda untuk membayarnya, itu disamakan dengan tidak membayar. Allah dengan pasti akan menuntutnya dari anda.

Di Matius 21, Yesus berbicara tentang perumpamaan dua orang anak. Ayahnya berkata kepada yang sulung, “Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini di kebun anggur.” Jawab anak itu: ‘Ya, bapa,’ tetapi setelah itu ia tidak pergi. Yesus katakan dia anak yang tidak taat. Kenapa anak yang sulung tidak pergi? Mungkin, dia berpikir, “aku akan pergi nanti!”

Orang yang tidak setia tidak selalunya berkata dia tidak mau melakukannya, tetapi dia sering berkata, “Aku akan melakukannya nanti.” Allah tidak menyukai itu. Apakah kita sering menunda melakukan pekerjaan yang Allah minta kita lakukan dan juga hal yang orang lain minta untuk kita kerjakan? Bagi seorang yang setia, dia akan segera melakukannya dan tidak menunda-nunda. Persis seperti pelayan yang tua ini. Dia dengan cepat dan aman membawa Ribka kembali ke rumah tuannya. Dengan setia dia memberitahu Ishak tentang semua yang telah terjadi. Lalu, Ishak menikahi Ribka dengan demikian hal itu dengan sempurna terlaksana.

Dari seluruh kejadian ini, kita dapat melihat kesetiaan pelayan tua ini. Hal ini merupakan kualitas dasar yang harus dimiliki seorang hamba.


Pelayan Tua ini memiliki Inisiatif

Berikutnya, kita juga dapat melihat pelayan tua ini, dalam melakukan perkara yang diminta tuannya, dia sepenuhnya mengandalkan Tuhan. Dalam kata lain, dia berhasil menyelesaikan tugasnya karena dia mengandalkan Tuhan. Pertama kali dia tiba di kota Nahor, dia mulai memohon, “Ya Yahweh, Allahnya tuanku Abraham.” Karena dia berseru seperti itu, Allah memimpin dia langkah demi langkah dan membuat dia menemukan Ribka. Jika kita hamba Allah yang ingin menyelesaikan tugas yang Allah berikan, kita harus mengandalkan Allah. Di luar Allah, kita tidak dapat melakukan apa-apa.

Berbicara tentang bergantung kepada Allah, bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa, dan tinggal menunggu Allah. Perhatikan bahwa hamba yang tua ini mengambil inisiatif untuk dengan aktif memikirkan langkah-langkah untuk menyelesaikan pekerjaan dari tuannya. Ketika dia tiba di kota Nahor, dia berpikir tentang meminta petunjuk kepada Allah.  

Kiranya gadis yang kepadanya aku berkata: ‘Tolong turunkan gucimu supaya aku dapat minum,’ dan menjawab dengan, ‘Minumlah, dan aku juga akan memberi minum unta-untamu,’ dialah yang Engkau tetapkan bagi hamba-Mu, Ishak. Dengan demikian aku akan mengetahui bahwa Engkau telah menunjukkan kemurahan-Mu kepada tuanku.”

Hal ini tidak diperintahkan oleh Abraham. Itu merupakan inisiatifnya sendiri. Kemudian dia memberikan anting-anting emas untuk Ribka dan bertanya apakah dia dapat bermalam di rumahnya. Setibanya di rumah Ribka, pelayan tua itu segera memberitahu kepada mereka seluruh ceritanya dan bertanya apakah mereka mau mengizinkan Ribka menikah dengan Ishak. Akhirnya pelayan tua itu memutuskan untuk berangkat pada hari berikutnya. Semua tindakan ini tidak diinstruksi oleh Abraham. Dia sendiri yang memutuskannya.

Jadi, kita dapat melihat prinsip lain di sini. Perintah yang Allah berikan kepada kita adalah perintah yang besar. Contohnya, memberitakan Injil dengan luas dan jauh, tetapi bagaimanakah melakukannya secara rinci? Allah tidak mengatakannya. Kita harus memikirkannya. Tentu saja yang pertama-tama kita harus mengandalkan Allah. Seperti pelayan tua yang berseru kepada Allah untuk menolong dalam seluruh prosesnya. Namun, bagaimana melakukannya, bagaimana meminta pertolongan Allah, semua ini kita yang harus dengan aktif mengambil inisiatif, inilah perbedaan antara hamba yang bijak dan bodoh.

Demikianlah persisnya kualitas yang dimiliki oleh pelayan yang tua ini, yang pada akhirnya dia dapat menyelesaikan tugas yang diberikan tuannya. Hal ini sangat mendorong kita, sebab dari awal kita katakan hamba yang tua ini bukanlah siapa-siapa. Kita bahkan tidak tahu siapa namanya. Selain di Kejadian pasal 24 kita tidak menemukan catatan tentang orang ini baik sebelum dan sesudahnya. Dia melakukan satu hal yang sangat penting. Mendapatkan seorang istri untuk anak tunggal Abraham dan membuat kisah Perjanjian Lama terus berlanjut. Tanpa hamba ini mungkin sejarah harus ditulis ulang. Sekalipun kita bukan siapa-siapa, Allah juga akan memberikan kita suatu tugas penting untuk dilakukan. Ada begitu banyak contoh dalam Alkitab. Namun, jika pelayan tua ini tidak setia di sepanjang hidupnya, Abraham pada masa-masa akhir hidupnya, tidak akan memberikannya tugas yang sepenting itu untuk dilakukan. Pertanyaannya adalah apakah kita siap sedia sehingga Allah kapan saja dapat meminta kita untuk melakukan sesuatu yang besar?


Kesimpulan

Dari hamba Abraham yang paling tua ini, kita dapat melihat kualitas seperti apa yang harus dimiliki oleh seorang hamba Allah atau seorang Kristen:

  1. Kesetiaan mengungkapkan apakah kita sepenuhnya melakukan instruksi dari tuan kita—Allah. Dengan setia memberitakan firman Tuhan dan menafsirkan Alkitab dengan benar. Kesetiaan diungkapkan lewat, “melakukan tanpa menunda”. “Menunda” di dalam Alkitab sama dengan tidak melakukan. Seorang yang tidak setia sering berkata, “aku akan melakukannya nanti.” Akankah kita berpikir di dalam hati kita, “Ya, Allah, aku akan melayani-Mu setelah aku pensiun?
  2. Mengandalkan Allah. Tanpa pertolongan Allah, kita tidak akan dapat meraih apa-apa. Bahkan bila kita melayani Allah kita, kita juga harus mengandalkan Allah.
  3. Mengandalkan Allah bukan berarti kita hanya duduk dan semata-mata menunggu Allah mengurus segala sesuatu. Kita harus mengambil inisiatif dan aktif memikirkan cara untuk menyelesaikan kehendak Allah.

Pada generasi sekarang ini, Allah mencari hamba yang demikian. Apakah kita hamba yang seperti itu?

 

Berikan Komentar Anda: