Pastor Boo | Wahyu 1:9 |

Kita akan mulai dengan Wahyu 1:9

9 Aku, Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus, berada di pulau yang bernama Patmos oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus.

Anda bisa lihat di sini ada sebuah peta yang menunjukkan lokasi pulau Patmos. Ini adalah sebuah pulau yang sangat kecil, sekitar 16 x 8 km. Kita terbiasa beranggapan, atau diajarkan, bahwa Yohanes dikirim ke pulau ini untuk menjalani kerja paksa. Pada dasarnya, pandangan ini tidak didukung oleh arkeologi. Tak ada yang bisa memastikan apakah kejadiannya memang seperti itu. Yang paling mungkin adalah dia sekadar disingkirkan ke sebuah tempat di pulau ini, tetapi tidak ada keterangan mengenai hal kerja paksa. Jadi, pada dasarnya, dia dibuang ke sana dan tidak diperbolehkan meninggalkan pulau Patmos itu.

Setiap kali kita mempelajari kitab Wahyu, kita harus selalu ingat akan rencana utama dari Allah. Apakah hal yang disampaikan oleh kitab Wahyu? Ada banyak hal dalam kitab Wahyu yang menimbulkan silang pendapat di antara para cendekiawan, tetapi ada satu kesepakatan umum bahwa kitab ini berbicara tentang pemuridan radikal. Kita tidak sekadar berbicara tentang pemuridan melainkan pemuridan yang radikal, karena kita berada dalam kondisi antara teguh bertahan atau jatuh; tidak ada jalan tengah. Kita akan tinggal di dalam tata nilai kerajaan Allah atau di dalam tata nilai duniawi; tidak ada kompromi dalam hal ini. Anda tidak bisa menjalani kehidupan Kristen sambil tetap berdiam di pagar pembatas, yang berarti anda masih belum memutuskan akan memihak ke mana. Ini adalah panggilan yang tegas untuk menjalani kehidupan dalam kesetiaan pada Yesus dan pada Allah.

Kita perlu mengajukan pertanyaan: Mengapa ada pesan tentang pemuridan radikal di dalam kitab Wahyu? Adakah kalimat ringkas yang bisa merangkum semua pokok tersebut? Biasanya jika kita memahami suatu persoalan dengan baik, kita akan bisa menyimpulkannya dalam satu kalimat saja. Mari kita cari kalimat rangkumannya di dalam tulisan Paulus.


RENCANA UTAMA YANG KEDUA: MENYATUKAN SEGALA SESUATU DI BAWAH KRISTUS

9   Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus
10  sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi. (Efesus 1:9-10)

Paulus berkata bahwa Allah telah menyatakan rahasia kehendak-Nya untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi. “Segala sesuatu yang di bumi” itu mencakup umat manusia. Segala sesuatu akan diletakkan di bawah Anak-Nya. Itu sebabnya kita tidak menimbun harta di bumi, dan kita juga harus mengelola waktu yang ada dengan bijaksana. Kita harus mengerti rencana Allah: pada hari itu nanti, kita akan bertemu dengan Yesus saat dia datang kembali, dan kepada dialah kita akan memberi pertanggungjawaban tentang cara hidup yang kita jalani.

Pada hari itu, segala harta duniawi kita, gelar akademis dan berbagai prestasi yang ada tidak akan berarti sama sekali. Satu-satunya hal yang penting adalah apakah kita sudah menjalani hidup ini sesuai dengan rencana Allah di dalam Kristus di sepanjang masa hidup kita. Persoalannya adalah apakah kita sudah menyenangkan hati Allah. Pada saat ini, renungkanlah hal-hal yang sudah dilakukan dalam hidup kita, ke mana arah hati kita, dan hal apa saja yang sering menyita pikiran kita. Itu sebabnya kita berbicara tentang pemuridan yang radikal, karena segala sesuatunya akan disatukan di dalam Kristus. Perbedaan antara langit dan bumi akan hilang saat Yesus datang kembali. Pada dasarnya, ini adalah tujuan yang mengarah pada tujuan tertinggi. Memang masih belum merupakan titik akhir, yang menunjukkan bahwa ini merupakan rencana yang kedua. Mengapa saya mengatakannya seperti itu?

26  Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut.
27  Sebab segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya. Tetapi kalau dikatakan, bahwa “segala sesuatu telah ditaklukkan,” maka teranglah, bahwa Ia sendiri yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak termasuk di dalamnya.
28  Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua. (1 Korintus 15)

Di ayat 28, tujuan pengantaranya adalah Allah menyatukan semua di bawah Kristus, dan tujuan yang tertinggi adalah supaya Allah menjadi semua di dalam semua. Segala penolakan akan disingkirkan di dalam Kristus, dan setiap orang akan ditundukkan kepada dia. Kemudian Kristus sendiri akan menundukkan diri kepada Allah. Pada akhirnya, dia akan menyerahkan segala kemuliaan kepada Yahweh.


MENYANGKAL DIRI DAN MENDENGARKAN ALLAH

10  Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala,
11  katanya: “Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia.”
19  Karena itu tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini. (Wahyu 1:10,11,19)

Yang ada di tangan kita adalah kitab Wahyu, dalam bentuk tertulis. Hal ini disebutkan di ayat 11 dan 19. Yohanes melihat berbagai penglihatan; tetapi kita tidak melihat apa-apa. Kita mendapatkan firman Wahyu, yang merupakan catatan dari penglihatan yang diberikan kepada Yohanes. Ketika visi ini ditulis dan dibacakan di tengah jemaat, semua gereja akan mendengarkan firman ini. Semua firman itu kemudian diwariskan lewat semua generasi sampai ke zaman sekarang. Kita masih membaca dan mendengarkan firman tersebut.

Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat. (Wahyu 1:3)

 “Jika anda mendengarkan dan menurutinya,” demikian kata ayat ini, “anda akan berbahagia.” Allah akan memberkati anda. Anda akan mengerti arti kebahagiaan rohani. Anda akan tahu apa artinya hidup berkenan kepada Allah, yang berarti Allah senang melihat kehidupan anda. Jika Dia senang melihat kita, jelaslah bahwa anda sudah mengalami realitas Allah melalui firman ini. Dengan kata lain, ini adalah tantangan bagi kita untuk mengalami realitas Allah melalui ketaatan.


YESUS ADA DI ANTARA KITA

12  Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas. 13  Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas.  (Wahyu 1:12,13)

Jika anda cukup cermat, anda akan melihat angka 7 disebutkan empat kali di sini. Demikianlah, ada tujuh roh di hadapan takhta di ayat 4, ada juga 7 kaki dian di ayat 12 dan 20, ada tujuh bintang di ayat 16 dan 20, dan yang terakhir, ada tujuh fitur bagi Yesus yang sudah dibangkitkan, mulai dari ayat 14 sampai 16.

20  Dan rahasia ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tangan kanan-Ku dan ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat.” (Wahyu 1:20)

Tujuh bintang di tangan kanannya mengacu pada tujuh malaikat dari tujuh jemaat, dan tujuh kaki dian melambangkan tujuh jemaat. Ketujuh bintang itu adalah tujuh malaikat yang mewakili tujuh jemaat. Para cendekiawan banyak yang berbeda pendapat tentang siapa para malaikat ini. Jika anda perhatikan kata “malaikat”, di dalam kitab Wahyu mereka adalah mahluk rohani. Sekalipun para malaikat ini biasanya tidak disamakan dengan manusia di dalam Perjanjian Baru, ada juga beberapa ayat yang menunjuk manusia sebagai malaikat.


ANGKA TUJUH MELAMBANGKAN KEGENAPAN, KEPENUHAN DAN KESEMPURNAAN

Angka “tujuh” muncul sebanyak 55 kali di dalam kitab Wahyu, dari total 94 dalam Perjanjian Baru. Angka ini melambangkan kegenapan dan kesempurnaan. Dengan demikian, tujuh roh berarti kepenuhan Roh. Para cendekiawan tidak mengalami kesulitan dalam memahaminya sebagai Roh Kudus. Tujuh kaki dian melambangkan keseluruhan Jemaat Allah. Kita perlu berhati-hati dan tidak mengartikan tempat-tempat seperti Efesus, Pergamun dan yang lainnya secara harfiah, karena sekarang ini jemaat di sana sudah tidak ada lagi. Berbagai lokasi yang saat itu disebutkan lebih baik diartikan sebagai jemaat secara keseluruhan. Ketujuh bintang, atau tujuh malaikat dari ketujuh jemaat, dapat kita artikan sebagai suatu kegenapan dari perhatian para malaikat di setiap jemaat. Yang terakhir, tujuh ciri dari Kristus yang sudah bangkit melambangkan kesempurnaannya.

Kejelian dalam pengamatan sangat diperlukan karena ayat 1 memberitahu kita bahwa Allah memberikan Wahyu ini kepada Yesus, yang kemudian menyampaikannya melalui malaikatnya, dan malaikat ini menyampaikannya kepada Yohanes. Di sini kita melihat adanya suatu perkembangan yang linear: Dari Roh Allah kepada Yesus kepada malaikatnya kepada Yohanes dan terakhir kepada semua jemaat. Jadi, sejak dari titk awalnya, terlihat suatu kesempurnaan dari hubungan antara Allah, Yesus, malaikat dan Gereja.


YESUS MEMEGANG KENDALI ATAS JEMAAT

16  Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik. (Wahyu 1:16)

Di ayat 16 disebutkan bahwa dia memegang ketujuh bintang di tangan kanannya. Memegang tujuh bintang ini sama artinya dengan memegang ketujuh jemaat itu, yang berarti bahwa kita berada di dalam tangannya. Dengan kata lain, Yesus memegang kendali atas semua umat Allah. Hal ini juga berarti bahwa dia memelihara Jemaat Allah dan menjaga serta melindungi kita.

Kita bisa mengibaratkannya seperti gembala dan domba-domba di Yohanes 10:28, di mana Yesus berkata, “seorang pun tidak akan merebut mereka dari tanganKu.” Kita juga bisa mengibaratkannya seperti orang tua yang memelihara anaknya. Sang anak berada di dalam kendali orangtuanya, dan kendali itu ditunjukkan lewat berbagai bentuk perhatian.

Kita bisa melihat bahwa Kristus yang telah bangkit ini sangat peduli pada Jemaat. Demikianlah, dengan tangan kanannya, tangan yang melambangkan kuasa atau kewenangan, dia memelihara Jemaat. Itu sebabnya tak ada yang bisa mengalahkan Jemaat jika Jemaat berada di tangan Yesus. Tidak akan cukup jika kita hanya memahami bahwa dia peduli, kita perlu tahu bahwa dia menunjukkan kepeduliannya melalui kehadirannya yang sangat dekat dengan kita, dia berada di antara kita. Mereka yang memiliki anak yang masih kecil akan bisa memahami hal ini. Orangtua tidak akan mengawasi anak-anak mereka dari kejauhan, mereka akan selalu berada di dekat anak-anak kecil itu. Pemahaman ini diuraikan dalam Wahyu 1:12 dan 13, di mana kita melihat bahwa Yesus berada di antara kaki dian itu. Dia ada di antara kita.


YESUS BERJALAN DI ANTARA KITA

1 “Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu. (Wahyu 2:1)

Yesus tidak sekadar hadir; dia berjalan di antara kita. Dengan kata lain, dia bekerja aktif di antara kita, bergiat untuk memastikan bahwa kita menggenapi tujuan Yahweh. Ini adalah berkat yang luar biasa, jika anda mengetahui hal ini. Dia tidak mengabaikan kita; dia tetap setia pada jemaat Allah.

Hal ini mengingatkan kita pada kisah yang tercatat dalam injil. Ketika Yesus akan disalibkan dan sedang berada di taman Getsemani, para murid justru tertidur di sana. Tak ada yang ikut berdoa bersamanya. Kemudian, ketika dia ditangkap, semua pengikutnya melarikan diri, dan Yesus ditinggalkan seorang diri. Tentu saja, kita tahu bahwa dia tidak sendirian karena Bapa selalu bersamanya. Kalau dia mengandalkan para muridnya, dia akan sangat kecewa.

Mari kita renungkan pertanyaan berikut: “Tidakkah kita ingin agar ada orang yang teguh berpihak kepada kita”? Saya yakin bahwa banyak dari anda yang sudah pernah melalui penderitaan maupun permasalahan, dan berharap agar ada orang yang berpihak kepada anda. Bisakah anda mengetahui siapa saja yang akan berpihak kepada anda? Tentu saja, kita tidak perlu menunjuk siapa orangnya, tetapi satu hal yang perlu kita ketahui adalah bahwa dia yang pernah ditinggal lari oleh orang-orang sekarang menjadi sosok yang selalu mendampingi mereka.

Saya ingin agar anda memahami cara berpikir Yesus dalam kejadian itu. Saat kita mengalami hal yang buruk, bagaimana cara kita mengartikan kejadian itu? Saya rasa, kebanyakan dari kita akan mengeluh, “Tak ada orang yang bisa diandalkan. Saya mempercayai orang ini dan itu, hasilnya mengecewakan.” Saya rasa kita semua mengerti perasaan semacam itu. Lalu, apa dampaknya? Kita cenderung menarik diri dari pergaulan. Kita tidak mau percaya pada siapa pun juga. Ada seseorang yang berkata, “Jika anda ingin mencapai suatu hasil, lakukanlah sendiri.” Akan tetapi, masalahnya adalah setiap orang memiliki keterbatasan serta ketidaksempurnaannya, kita semua memiliki kelemahan dan kekurangan.


YESUS TIDAK MENINGGALKAN ORANG-ORANG YANG MENINGGALKANNYA

Akan tetapi, jika anda perhatikan Yesus, dia justru berkata, “Baiklah, para muridku semua melarikan diri, tetapi aku tidak akan meninggalkan mereka.” Itu sebabnya ketika Yesus bangkit dari antara orang mati, dia mendatangi para muridnya. Ini adalah suatu cara berpikir yang baru. Di dalam pemikiran Yesus, “Karena aku pernah ditinggalkan oleh para muridku, aku tidak akan membiarkan ada orang yang merasa ditinggalkan.” Di Wahyu pasal 2, ketika jemaat mengalami penganiayaan, mereka diabaikan oleh masyarakat dan pemerintah. Hal yang sama terjadi pada Yohanes, dia ditelantarkan di sebuah pulau kecil bernama Patmos. Namun, perhatikan hal yang dia katakan di ayat 9.

9 Aku, Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus, berada di pulau yang bernama Patmos oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus. (Wahyu 1:9)

Di ayat ini Yohanes berkata, “Aku, Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan.” Sekutu? Dalam pengertian apa? Dia berada di tempat yang jauh, terasing di sebuah pulau kecil. Bagaimana bisa dia menjadi sekutu bagi kita? Hal yang indah dari seorang hamba Allah, seperti yang dikatakan oleh Paulus, “Sekalipun aku tidak hadir secara jasmani, tetapi rohku hadir.” Anda lihat, rohnya bisa menyertai jemaat, mendoakan serta menopang mereka. Mengapa? Karena Yohanes memiliki pikiran yang sama dengan Kristus. Jadi, renungkanlah fakta bahwa Yesus berdiri di antara kaki dian, dan semoga Yahweh memberi kita mentalitas serta kepedulian yang baru.


KEMISKINAN YANG PERNAH DIALAMI PASTOR ERIC

Saya teringat pada kesaksian yang disampaikan oleh Pastor Eric bertahun-tahun yang lalu, bahwa dia pernah mengalami kemiskinan yang sangat parah ketika masih muda. Kemiskinan yang dia alami mungkin belum pernah kita alami. Ketika dia kemudian melayani Tuhan, tak ada orang yang mengupahnya untuk pelayanan itu. Dia harus bekerja sambil melayani jemaat. Keindahan dari pengalaman ini adalah bahwa dia tahu persis arti kemiskinan. Selanjutnya, dia tidak ingin ada rekan pelayanan yang mengalami kemiskinan yang sama. Dalam pemikirannya, dia ingin agar kita semua tidak perlu menguatirkan masalah harta benda dan bisa memusatkan perhatian pada pelayanan kepada Tuhan. Ini adalah cara berpikir yang sangat baru.

Jadi, pengalaman buruk apa pun yang pernah anda alami, tidak perlu anda jadikan ganjalan. Anda dapat berpikir dalam cara yang baru, “Aku tidak ingin ada orang lain yang mengalami kejadian buruk seperti ini. Jika aku bisa menolong orang lain, aku akan lakukan segala hal yang perlu untuk menolong orang lain menjadi lebih dekat dengan Allah dan menggenapi tujuan-Nya.” Cara berpikir seperti ini adalah penggenapan dari ajaran Yesus.

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 7:12)

Jika anda ingin agar ada yang membela anda, sekalipun saat itu tak seorang  pun yang sedang memihak kepada anda, yang perlu anda lakukan adalah membela orang lain. Anda baru bisa ‘menghendaki’ sebelum mengambil peranan aktif. Jika anda tidak ingin ditinggalkan, anda perlu mendukung orang lain. Anda membela orang lain. Jika anda tidak ingin dikritik, misalnya, dan ingin mendapat dorongan semangat, maka anda perlu membangkitkan semangat orang lain. Dengan kata lain, semua pengalaman yang buruk, entah yang sudah terjadi atau yang baru diperkirakan, tidak perlu anda cari kambing hitamnya. Yang perlu anda lakukan adalah melakukan hal yang positif untuk menjadi berkat bagi orang lain.

 

Berikan Komentar Anda: