Pastor Eric Chang | Matius 13:33 |

Mari kita memulai dengan membaca Matius 13:33,

Kemudian Yesus menceritakan sebuah perumpamaan yang lain kepada mereka, “Kerajaan Surga itu seperti ragi, yang oleh seorang perempuan diambil dan dimasukkan ke dalam adonan tepung terigu sebanyak tiga sukat sampai seluruh adonan itu tercampur ragi.

Intisari dari perumpamaan ini adalah seperti berikut: “Kerajaan Allah akan tersebar pada zaman ini ke seluruh dunia, tetapi aku ingin memberitahu kamu sesuatu yang lain,” kata Yesus, “Dunia juga akan menyebar ke dalam gereja!” Ini merupakan sebuah peringatan dari Yesus.

Kerajaan Allah, seraya ia menyebar ke dalam dunia, juga akan mengakibatkan dunia menyebar ke dalam gereja. Yesus telah meramalkan hal ini dan betapa tepatnya ramalan itu, karena gereja memang telah menjadi duniawi. Gereja telah dirusakkan oleh dunia dengan banyak cara. Pemikiran-pemikiran dunia dan cara-cara fungsi dunia telah berangsur-angsur mempengaruhi gereja. Ini mewujudkan suatu situasi di mana terjadinya saling pengaruh-mempengaruhi. Hal ini menghasilkan suatu campuran di antara dunia dan gereja. Yesus di sini memperingatkan kita dengan keras akan hal ini.

Sangat banyak yang Yesus katakan hanya dalam satu ayat ini. Kebanyakan dari kita membutuhkan waktu yang panjang untuk mengatakan satu hal, tetapi Yesus dapat mengatakan begitu banyak hanya dalam satu ayat. Apa yang dapat kita lihat dari ayat ini?

Izinkan saya melukiskan gambarannya bagi Anda. Yesus sedang mengatakan sesuatu seperti ini:

“Dapatkah kamu melihat? Lihat pada jendela itu, apakah kamu melihat perempuan itu?”

Murid-muridnya berkata, “Ya, kami melihat dia.”

“Apakah kamu melihat ia sedang membuat adonan dari tepung terigu?”

“Ya, kami dapat melihat ia sedang membuat adonan. Ia akan membuat beberapa buah roti atau mungkin kue. Ya, kami dapat melihatnya.”

“Dan tahukah kamu apa yang dia lakukan sekarang? Ia mengambil sedikit ragi, dan memasukkannya ke dalam adonan. Sekarang ia sedang mengaduk tepung itu supaya ragi bercampur dengan adonan sampai khamir seluruhnya,” Yesus menjelaskan.

Hari ini, kita ada tepung naik-sendiri (self-raising) di mana ragi sudah dicampurkan ke dalam tepung. Namun, pada zaman itu, mereka tidak ada tepung naik-sendiri. Bahkan pada masa sekarang di mana tepung naik-sendiri ada tersedia, masih banyak orang yang lebih suka menggunakan ragi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Mereka mengadukkan ragi ke dalam tepung sehingga khamir seluruhnya. Adonan itu mengembang apabila ditempatkan di tempat yang tidak terlalu panas, dan tidak terlalu dingin. Mereka yang pernah membuat roti tahu apa yang saya maksudkan. Saya pernah membuat roti sebelumnya. Saya suka makan roti yang saya buat sendiri. Saya mengaduk ragi ke dalam adonan dan menempatkannya di tempat yang hangat dan Anda akan melihat adonan itu naik. Adonan itu dipenuhi dengan udara, mengembang dan kemudian menjadi halus dan lunak. Setelah dibakar, ia menjadi lembut dan dapat dipecahkan ketika Anda memakannya.

Melalui perumpamaan ini, Yesus sedang menunjukkan beberapa pengajaran rohani yang penting. Terdapat hanya dua cara untuk memahami perumpamaan ini dan saya akan menjelaskannya.


Dua Pandangan yang Bertentangan

Jika ragi diartikan sebagai pekerjaan Allah dan roti sebagai dunia, perumpamaan ini merupakan satu lagi gambaran yang tidak berbeda dengan perumpamaan biji sesawi. Ini berarti, gereja ialah ragi yang bekerja di dalam dunia, yang dilambangkan oleh roti, dan pengaruhnya tersebar ke seluruh dunia. Jika itulah gambarannya, perumpamaan ini semata-mata mengulangi perumpamaan yang sebelumnya tentang biji sesawi dan tidak memberitahu kita apa-apa yang belum kita ketahui. Yesus sekali lagi mengatakan bahwa pengaruh gereja akan meresap ke dalam dunia, mempengaruhi dunia secara menyeluruh dalam satu cara atau cara yang lain. Masalahnya, jika inilah yang dimaksudkan oleh perumpamaan ini, pesannya malah tidak sejelas perumpamaan yang sebelumnya karena perumpamaan tentang ragi ini tidak memberitahu kita apa artinya pengaruh gereja tersebar ke seluruh dunia. Dengan cara apa pengaruh gereja menyebar ke seluruh dunia? Gambarannya terlalu samar-samar. Kita ditinggalkan tanpa suatu definisi yang nyata. Apa yang dimaksudkan dengan pengaruh gereja? Apakah pengaruh gereja yang bersifat rohani atau yang moral? Apakah yang dimaksudkan itu pengaruh kekuasaan, di mana gereja akan menyebar ke seluruh dunia, dan menguasai kedudukan-kedudukan penting di dunia? Atau, apakah terdapat semacam gabungan dari semua ini? Namun, jika yang dimaksudkan adalah gabungan dari semua ini, pernyataan seperti ini tidak sepenuhnya benar karena pengaruh rohani dari gereja tidaklah menyeluruh di dunia.

Cara yang lain untuk memandang perumpamaan ini adalah pandangan yang sebaliknya, yaitu pengaruh dunia yang menyebar ke dalam gereja. Pengertian ini, sebagaimana telah saya isyaratkan tadi, merupakan eksposisi yang betul.  Saya akan memberikan alasan-alasan mengapa saya membuat pernyataan seperti ini. Akan tetapi, hampir semua penafsir modern mengambil pandangan bahwa perumpamaan ini hanya sebuah pengulangan dari perumpamaan yang sebelumnya, yaitu perumpamaan biji sesawi yang menyatakan bahwa gereja akan menyebar ke seluruh dunia. Akan tetapi, alasan-alasan eksegesis yang dikemukakan sangat tidak meyakinkan. Salah satu alasan yang diberikan adalah perumpamaan ini menyusul dengan baik dari perumpamaan yang sebelumnya, seolah-olah ini merupakan semacam bukti. Akan tetapi, kita telah melihat berulang kali bahwa perumpamaan yang berikutnya seringkali menyampaikan kebenaran dari sisi lain dan tidak semata mengulangi perumpamaan sebelumnya. Sebenarnya dalam ajaran Yesus, tidak ada perumpamaan yang hanya sekadar mengulangi perumpamaan yang sebelumnya.

Fritz Rienecker, seorang penafsir Jerman dan seorang ahli teologi, menyatakan dengan jelas dalam buku tafsirannya yang berjudul “Lucas” bahwa, jika kita memandang perumpamaan ini sebagaimana kebanyakan penafsir hari ini, perumpamaan tentang ragi ini memberikan sebuah janji yang menghiburkan. Akan tetapi, untuk mengatakan bahwa kita lebih menyukai pandangan ini karena ia sangat menghibur bukanlah dasar untuk eksegesis. Tentu saja, pandangan yang alternatif dari perumpamaan ini membuat kita merasa sangat tidak nyaman. Sangat menggoncangkan bagi kita untuk menyetujui pernyataan bahwa pengaruh dunia sedang meresap ke dalam gereja. Akan tetapi, kita tidak boleh memutuskan perkara berdasarkan apakah ia menyenangkan atau tidak. Itu bukan alasan yang dapat diterima. Rienecker berbicara tentang janji yang menghiburkan, tetapi janji yang menghiburkan itu telah dinyatakan dalam perumpamaan yang sebelumnya. Apakah perlu dua janji yang sama? Selain dari itu, tidak ada satu pun pertimbangan eksegese yang diberikan. Eksegesis berarti penjelasan firman Tuhan yang terperinci. Firman Tuhan menjelaskan dirinya. Kita tidak perlu memasukkan interpretasi kita sendiri. Kita tidak perlu membuat-buat satu interpretasi baginya. Firman Tuhan itu jelas tanpa keterangan lebih lanjut. 

Banyak penafsir gagal untuk memberikan alasan yang konkrit untuk mendukung pandangan mereka tentang perumpamaan ini. Ini sangat membingungkan karena kedua pandangan ini — bahwa gereja menyebar ke seluruh dunia dan sebaliknya, yaitu dunia meresap ke dalam gereja — pernah dipegang dalam gereja. Di sepanjang sejarah gereja, kedua pandangan ini pernah dipegang.

Sejak abad ke-20, barangkali memulai dari abad-19, pandangan bahwa gereja yang menyebar ke seluruh dunia mulai menonjol, berkat dari ahli-ahli teologia Jerman yang tampaknya selalu menguasai bidang teologia. Bilamana saja sekelompok ahli-ahli teologia Jerman mengajarkan sesuatu, sangat mengherankan untuk melihat bagaimana ahli-ahli teologia Inggris dan Amerika mengikut tanpa perlawanan. Sangat mengherankan. Saya tidak dapat menemukan alasannya. Anda akan mendapati bahwa dalam bidang teologia, setiap gagasan yang besar diajukan oleh teolog Jerman. Ahli-ahli teologia Inggris, Perancis, dan Amerika selalu akan menyusul. Ini tidak menjadi masalah jika para teolog Jerman itu ternyata benar. Namun, bagaimana kalau mereka salah? Ahli-ahli teologia Jerman tentu tidak sempurna.


Kesalahan dalam eksegesis

Apabila saya membaca buku-buku tafsiran masa kini, saya menjadi heran, karena setiap penafsir modern mengikuti pimpinan teolog-teolog Jerman ini yang menyatakan bahwa alternatif pertama — yaitu pengaruh gereja menyebar ke seluruh dunia — yang betul. Sekalipun hal yang sama telah disampaikan dalam perumpamaan sebelumnya, apakah tidak bisa diulangi di perumpamaan tentang ragi ini? Ini bukan keberatannya. Keberatannya bersifat eksegesis, dan saya ingin menunjukkan kepada Anda eksegesis semacam ini tidak dapat dipertahankan berdasarkan firman Tuhan.

Hari ini beberapa pendeta, umpamanya di gereja-gereja Tiongkok, bergantung pada terjemahan Tionghoa karena tidak dapat membaca bahasa Inggris. Apa yang mereka lakukan? Mereka mengandalkan pada orang-orang yang mereka anggap sebagai ahli, yaitu para penafsir Alkitab. Mereka mengikuti para penafsir Alkitab, tetapi mereka tidak tahu bahwa para penafsir juga saling mengikuti. Akibatnya seperti kawanan domba, yang saling mengikuti menuju tempat penyembelihan. Ketika saya melihat gejala ini, saya dipenuhi dengan rasa sedih. Mengapa kebutaan seperti ini menimpa gereja? Apakah mungkin perumpamaan ini justru membuktikan apa yang baru kita katakan — yaitu, dunia telah merembes ke dalam gereja? Tampaknya mereka tidak dapat melihat arti perumpamaan ini meskipun bukti-bukti eksegesisnya sangat jelas. Saya hanya dapat menyampaikan sebagian kecil dari bukti-bukti itu.

Perumpamaan ini tidak semata mengulangi perumpamaan yang sebelumnya. Sebenarnya apa yang dikatakan justru adalah dunia sedang mempengaruhi gereja dan Yesus sedang memperingatkan murid-muridnya akan hal ini. Inilah kenyataannya: gereja zaman ini telah dipengaruhi dunia. Namun, selain dari kenyataan di depan mata ini, mari kita lihat bukti-bukti alkitabiahnya.


Ragi menggambarkan sesuatu yang jahat

Pertanyaan yang berikut ialah: apa yang diwakili oleh ragi di dalam firman Tuhan? Firman Tuhan banyak berbicara mengenai ragi. Bukalah konkordasi Anda dan lihat di bawah “ragi” di dalam Perjanjian Baru dan Anda akan segera mendapati satu hal yang pasti: di dalam Alkitab ragi selalu menunjuk pada sesuatu yang jahat. Ini merupakan fakta yang dinyatakan oleh setiap Kamus Alkitab.

Berikutnya kita membidik para penafsir. Apakah mereka tidak membaca buku referensi yang standar? Mengherankan sekali Yeremias, ekspositor Jerman itu, yang pada kebiasaannya merupakan ekspositor yang bagus, menyatakan bahwa dalam semua kasus yang lain, ragi merujuk kepada sesuatu yang jahat di dalam firman Tuhan, tetapi kasus ini merupakan pengecualian. Pertanyaan saya ialah: mengapa yang satu ini sebuah pengecualian? Yeremias seharusnya mengajukan banyak bukti untuk mengesahkan pengecualian ini, tetapi ia tidak memberikan satu bukti pun untuk mendukung pandangannya. Ia telah menetapkan pikiran terlebih dulu dan mengizinkan pendapatnya sendiri menentukan eksegesisnya. Itulah sebabnya saat kita mempelajari firman Tuhan, kita tidak boleh mempunyai pendapat yang terbentuk sebelumnya. Jika kita datang dengan pendapat yang terbentuk sebelumnya, kita telah memutuskan terdahulu artinya dan kita akan berusaha untuk membuat ayat itu berarti sesuai dengan apa yang kita inginkan. Jika kita ingin membuatnya berarti gerejalah yang merembes ke dalam dunia, kita akan mengesampingkan ayat ini sebagai sebuah pengecualian. Akan tetapi, kita tidak dapat memberikan satu alasan pun untuk mendukung apa yang telah kita katakan.

Apa yang lebih luar biasa ialah kata Yunani bagi “ragi” di ayat ini justru merupakan kata yang sama bagi “ragi” di1 Korintus 5:6-7, di mana rasul Paulus berkata kepada jemaat di Korintus:

6 Kesombonganmu itu tidak baik. Tidak tahukah kamu bahwa sedikit ragi saja akan meragikan seluruh adonan?
7 Bersihkanlah semua ragi yang lama supaya kamu menjadi adonan baru, sebagaimana memang kamu tidak beragi. Sebab, Kristus, Domba Paskah kita, sudah disembelih.

Di sini Paulus berkata bahwa orang-orang Kristen adalah seperti roti yang tidak beragi. Kita harus membuang ragi yang lama dari kehidupan kita. 1 Korintus 5 berbicara mengenai dosa serius yang terjadi di dalam jemaat Korintus di mana ada orang yang hidup dengan istri ayahnya. Ini sangat mengerikan. Paulus mengatakan kepada jemaat Korintus dalam kegeraman, “percabulan yang begitu rupa, sangatlah menjijikkan sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, dan kamu berani melakukan dosa seperti ini dalam gereja?” Paulus melanjutkan untuk  berkata, “Aku mengucilkan orang ini. Lempar dia keluar dari gereja. Buanglah ragi itu dari gereja. Keluarkan pengaruh dosa ini supaya ia tidak mengotorkan seluruh gereja.”

Pada zaman itu, gereja berani menangani dosa dengan keras. Mereka adalah gereja-gereja yang kuat dan berani menangani dosa dengan keras. Hari ini, semuanya diam ketika seseorang di dalam gereja berbuat dosa karena dosa dianggap enteng. Apa salahnya jika kita sedikit lembut dengan dosa? Akan tetapi, Paulus tidak ada waktu untuk hal semacam ini; ia berbicara dengan terus terang saat ia memberitahu jemaat Korintus untuk membuang ragi itu.

Paulus menyatakan hal yang sama di Galatia 5:9.

“Sedikit ragi telah membuat seluruh adonan mengembang.”

Dalam konteks ini, ia berbicara tentang pengaruh ajaran sesat di dalam gereja — yaitu pengembalian pada sunat. Sebenarnya, dalam Perjanjian Baru Yunani, kata Yunani bagi “ragi” digunakan hanya di dalam perumpamaan ini dan di dua ayat yang baru saya sebutkan ini. Inilah dua kali kemunculan di luar perumpamaan ini di mana kata Yunani yang sama digunakan. Meskipun kebanyakan penafsir Alkitab yang menulis buku memahami bahasa Yunani ke tahap tertentu, tampaknya mereka tidak perhatikan hal ini sama sekali — yaitu ragi selalu mengacu pada sesuatu yang jahat di dalam Alkitab. Itulah sebabnya di bawah hukum Taurat, persembahan tidak boleh dipersembahkan dengan ragi di dalamnya. Roti harus dipersembahkan tanpa ragi. Pada perayaan Paskah, ragi harus dibuang dari setiap rumah orang Yahudi sebagaimana masih dilakukan hari ini. Mereka harus memakan roti tak beragi karena ragi adalah tanda kejahatan.

ROTI MELAMBANGKAN ORANG PERCAYA

Sekarang mari kita memusatkan perhatian pada roti. Roti merujuk kepada apa? Ketika Anda menyelidiki ajaran Firman tentang roti, Anda akan perhatikan roti selalu mengacu pada orang-orang percaya, tanpa pengecualian. Roti dibuat dari gandum. Andainya kita memahami perumpamaan-perumpamaan yang sebelumnya, kita pasti sudah perhatikan hal ini. Di dalam perumpamaan tentang seorang penabur, apa yang ditabur oleh penabur? Gandum. Di dalam perumpamaan tentang lalang di antara gandum, Yesus telah memberikan petunjuk bahwa gandum mengacu kepada orang-orang percaya. Jadi, apabila kita berbicara tentang tepung gandum, kita berbicara tentang orang-orang percaya. Ragi dimasukkan ke dalam adonan tepung gandum. Banyak penafsir Alkitab yang tidak menyebutkan hal ini dan ini mencerminkan kurangnya rasa tanggung jawab dalam eksposisi mereka.

Kita mendapati bahwa di dalam Alkitab, gandum, tepung gandum dan roti selalu menunjuk kepada orang-orang Kristen. Di Yohanes 6:35, roti melambangkan Kristus sendiri: “Akulah roti hidup.” Sebagai perpanjangan, kita sebagai tubuh Kristus juga disebut sebagai roti. Karena itu, di 1 Korintus 10:17, gereja disebut sebagai roti. Kita adalah roti karena kita adalah bagian dari tubuh Kristus, yang adalah roti hidup. Seolah-olah ini tidak cukup jelas, kita mendapati Yesus berkata kepada Petrus di Lukas 22:31,

“Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum.”

Apa yang diwakili oleh gandum? Dalam setiap contoh, gandum mewakili orang percaya. Di dalam Alkitab, gandum tidak pernah mewakili orang tak percaya. Bukti-buktinya begitu banyak.


Ragi mengembungkan (puffs up)

Hal yang berikut untuk diperhatikan adalah fungsi ragi di dalam roti. Apakah sumbangan ragi kepada roti? Tidak ada apa-apa. Ragi hanya menyumbangkan udara panas. Apabila ragi menjadi hangat, ia mengeluarkan semacam gas. Ragi semata mengembungkan roti. Jika gereja adalah ragi di dalam dunia, itu berarti gereja sebenarnya tidak menyumbangkan apa-apa kepada dunia kecuali menjadikannya sombong. Gagasan yang bagaimana ini?

Kata “kembung” (puff-up) di dalam firman selalu menunjuk kepada kesombongan dan pengaruh yang jahat. Kita baru saja melihat 1 Korintus 5:6 yang mengatakan, “buanglah ragi yang lama itu.”  Beberapa ayat sebelum itu mengisyaratkan hubungan di antara ragi dan menjadi kembung, Paulus berkata, “Sekalipun demikian kamu kembung”, atau langsung diterjemahkan sebagai “Sekalipun demikian kamu sombong” (1Kor 5:2). Lalu, beberapa ayat kemudian ia menyuruh mereka membuang ragi yang telah mengembungkan mereka itu. Tidakkah ini jelas? Tidakkah jelas bahwa ragi menunjuk kepada pengaruh dunia yang tak diingini ke atas gereja? Ia mengembungkan gereja, memenuhinya dengan kesombongan.

Banyak kali saya memandang pada gereja yang tertentu — bagaimana mereka memperagakan permata-permata mewah, jubah-jubah adat dengan salib-salib emas yang dihiasi dengan permata-permata dan cincin delima dan hal-hal seperti itu — tampaknya seperti gambaran menjadi “kembung”. Gereja telah menjadi penguasa-penguasa dunia; gereja berkelakuan seperti dunia. Dari segi struktur, organisasi, dan tingkah laku — saling mencium tangan dan sujud mencium kaki dan hal-hal seperti itu — mencerminkan cara-cara dunia.

Yesus memberitahu kita:

“Kamu tahu bahwa para penguasa bangsa-bangsa lain memerintah atas mereka, dan orang-orang besar mereka menjalankan wewenang atas mereka. Seharusnya tidak demikian di antara kamu, tetapi siapa yang ingin menjadi besar di antara kamu, ia harus menjadi pelayanmu.” (Mat 20:25-26)

Saya merasa gelisah bilamana saya melihat pemimpin-pemimpin gereja dipanggul dan dipawaikan seolah-olah mereka tidak bisa berjalan sendiri. Saya tidak dapat menerima hal-hal semacam ini dan saya berbicara langsung dari hati. Dunia telah masuk ke dalam gereja dan menjadikannya angkuh. Inilah ajaran yang alkitabiah. Kata “kembung” (puffs up) menggambarkan pekerjaan ragi di dalam roti, demikian pula, kata “sombong” menggambarkan pekerjaan ragi di dalam jemaat.


Pekerjaan Tuhan tidak dilakukan secara tersembunyi

Berikutnya kita melihat kata “disembunyikan”. Perumpamaan ini berkata, “…..ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan (menurut Yunani asli, “disembunyikan”) ke dalam tepung terigu.” Kata “sembunyi” menunjukkan dua hal: pertama, tindakan yang bersifat rahasia, dan kedua, usaha untuk menutupi sesuatu. Allah tidak akan melakukan hal seperti ini. Apakah Allah menyembunyikan Kerajaan-Nya ke dalam dunia? Dalam pengertian apa Allah menyembunyikan Kerajaan-Nya ke dalam dunia? Kerajaan Allah tidak datang dengan cara yang tersembunyi. Kerajaan Allah datang ke dalam dunia agar dunia mengetahuinya. Misalnya, Paulus berkata di Kisah 26:26,

Sebab, Raja mengetahui hal-hal ini dan kepadanya aku juga berbicara dengan berani. Sebab, aku yakin bahwa tidak ada satu pun dari hal-hal ini yang lolos dari perhatiannya karena ini tidak terjadi di tempat yang terpencil.

Apa yang dilakukan Yesus juga jelas kepada semua orang. Ia tidak berbuat apa-apa secara rahasia. Seluruh Palestina dapat melihat apa yang dilakukannya. Ia tidak melakukan apa-apa secara tersembunyi. Itulah sebabnya apabila mereka datang untuk menangkap Yesus secara rahasia, Yesus berkata, “Mengapa kamu datang menangkap aku dalam kegelapan? Padahal tiap-tiap hari aku ada di tengah-tengah kamu mengajar di Bait Allah, aku berdiri di lapangan dan berkhotbah dan kamu tidak menangkap aku. Aku ada di tempat-tempat umum. Aku tidak menyembunyikan diri. Jadi mengapa kamu menangkap aku secara tersembunyi?” Dunia bertindak secara rahasia, tetapi Kristus tidak bertindak secara rahasia. Ia tidak melakukan apa-apa secara tersembunyi.

Dengan cara yang sama, rasul Paulus berkata di 1 Korintus 4:9,

“Kami telah menjadi tontonan bagi dunia.”

Apa yang menjadi tontonan tidak disembunyikan. Seluruh dunia dapat melihatnya dan tidak ada yang tersembunyi sama sekali. Di Kisah 17:6, para rasul dituduh mengacaukan seluruh dunia. Pekerjaan mereka tidak dapat disembunyikan. Dunia menyadari bahwa ia dikacau-balaukan. Itulah sebabnya mereka berusaha untuk membunuh Paulus; itulah sebabnya mereka menganiaya orang-orang Kristen. Kerajaan Allah tidak tersembunyi sama sekali.

Paulus menyatakan pernyataan ini tentang pemberitaan Injil di 2 Korintus 4:3-4,

“Bahkan, jika Injil kami masih tertutup juga, Injil itu tertutup untuk mereka, yang akan binasa,”

Mengapa mereka binasa? Apakah Allah ingin mereka binasa? Tidak sama sekali. Ia melanjutkan berkata di ayat 4,

“yang di antaranya, ilah dunia ini telah membutakan pikiran mereka yang tidak percaya sehingga mereka tidak dapat melihat terang kemuliaan Injil Kristus, yang adalah gambaran Allah.”

Dengan lain kata, Injil tidak ditutupi oleh Allah. Jika Injil tertutup, Iblislah yang menutupnya, yang membutakan mata mereka agar tidak dapat melihat kemuliaan Kristus.


Gereja tidak mungkin tersembunyi

Seperti yang dikatakan juga oleh Yesus,

“Kota yang terletak di atas bukit tidak dapat disembunyikan.” (Mat 5:14)

Bukan gereja yang tersembunyi di dalam dunia; tetapi dunialah yang masuk secara rahasia ke dalam gereja. Inilah pengaruh dunia yang menyelusup secara rahasia. Di Yudas ayat 4, disebutkan tentang orang-orang tertentu yang masuk menyusup ke dalam gereja. Mereka adalah dunia dan guru-guru palsu yang bekerja secara tersembunyi di dalam gereja. Akan tetapi, gereja sendiri tidak berfungsi secara rahasia sama sekali; gereja berfungsi secara terbuka di dunia dan tidak menyembunyikan dirinya.

Pengaruh gereja tidak pernah bekerja dengan cara yang tersembunyi. Sebaliknya, ia selalu berkembang dari krisis demi krisis. Apa yang kita maksudkan dengan krisis? Mengacau-balaukan dunia merupakan satu krisis. Saat Anda mendengar Injil, ia menantang hati Anda dan Anda mulai merasakan krisis di dalam batin Anda. “Haruskah aku berpaling dari dosa? Haruskah aku menjadi seorang Kristen atau tidak? Beranikah aku menjadi seorang Kristen? Apa yang akan dikatakan oleh keluargaku jika aku menjadi seorang Kristen?” Akan terjadi sebuah krisis dan hal ini bukanlah sesuatu yang tersembunyi.  Di sepanjang sejarah gereja, Kerajaan Allah selalu berkembang dari krisis demi krisis. Pada saat Injil mengenai Anda, Anda berhadapan dengan sebuah krisis, yang akan tampak jelas pada siapa saja yang bergaul dengan Anda.

Sebagaimana hal ini berlaku di tingkat individu, ia berlaku juga di tingkat gereja. Kita semua tahu bahwa gereja selalu dianiaya. Jika gereja tersembunyi, ia tidak perlu dianiaya. Oleh karena dianiaya, banyak kali gereja berusaha untuk menyembunyikan diri untuk sementara waktu, tetapi sangat sulit untuk gereja menyembunyikan diri. Kota yang terletak di atas bukit tidak mungkin tersembunyi. Pemerintah Romawi dapat menemukan mereka dengan mudah sekali. Hanya minta mereka mempersembahkan kemenyan kepada Kaisar, dan siapa saja yang enggan mempersembahkan kemenyan kepada Kaisar atau berhala, dengan segera Anda bisa mengenali dia sebagai orang Kristen.

Bahkan di Negeri Tiongkok, apabila Anda berbicara tentang gereja-gereja bawah tanah, apa yang dimaksudkan dengan “bawah tanah”? Dulu saya anggota gereja bawah tanah di Tiongkok. Setiap anggota Komunis tahu bahwa saya adalah orang Kristen. Satu-satunya cara saya dapat menyembunyikan diri adalah dengan tidak mengakui nama Yesus. Akan tetapi, tidak ada orang Kristen yang akan melakukan itu karena kita diamanatkan untuk bersaksi bagi Kristus.

Umpamanya teman saya yang dibaptis bersama saya. Ia seorang ahli bedah. Ketika Komunis menyuruhnya berhenti bersaksi kepada pasien-pasiennya, ia berkata, “Aku tidak dapat berbuat yang lain. Aku diperintahkan untuk bersaksi. Kristus mengatakan kepada aku bahwa aku harus memberitakan Injil sampai ke ujung dunia. Aku harus terus bersaksi.” Barangsiapa yang percaya di dalam hatinya dan mengaku dengan mulutnya akan diselamatkan. (Rm 10:9) Definisi ini tidak memungkinkan Anda untuk bersembunyi. Anda tidak dapat bersembunyi, setidaknya tidak untuk jangka waktu yang panjang. Oleh karena itu, gereja adalah kota di atas bukit. Ia bersinar dan semua orang dapat melihatnya.

Jika kita berbicara tentang gereja yang tersembunyi di dunia, ini menunjukkan kita sama sekali gagal untuk memahami ciri gereja sebagaimana yang diajarkan dalam Perjanjian Baru. Barangkali itulah yang dilakukan oleh gereja masa kini; barangkali gereja sedang menyembunyikan diri di dalam dunia. Itu mungkin terjadi. Akan tetapi, kita sedang berbicara tentang gereja Perjanjian Baru yang tidak mungkin tersembunyi. Ia berdiri tegak dengan penuh kemuliaan dan tidak gentar. Sebagaimana Yesus katakan, “Janganlah kamu takut” (Mat 10:28). Nasihat semacam ini hanya dapat diberikan kepada mereka yang tidak takut untuk membela dan memberitakan kebenaran.


Dunia Menyelusup ke dalam gereja

Bagaimana dunia menyusup ke dalam gereja? Kita telah melihat bahwa bukan gereja yang bersembunyi di dalam dunia; tetapi dunia yang bersembunyi di dalam gereja dan bekerja dari dalam untuk mengembungkannya, dan merusakkannya dari dalam. Itulah yang diperingatkan oleh Yesus saat dia berkata, “Berjaga-jagalah dan berdoalah agar kamu tidak jatuh ke dalam pencobaan.”

Pada masa sekarang, tidak banyak yang berbicara tentang hal ini lagi. Apakah tidak ada orang yang jatuh ke dalam pencobaan? Atau, sekalipun jatuh, tidak menjadi masalah? Namun, Yesus memperingatkan, “Janganlah jatuh ke dalam pencobaan. Waspadalah terhadap ragi dunia yang akan menyusup ke dalam kehidupan kamu.” Kebanyakan orang Kristen tidak jatuh karena penganiayaan. Penganiayaan bukanlah hal yang menyebabkan kejatuhan kebanyakan orang. Saya pernah melihat orang Kristen bertahan terhadap penganiayaan dengan tabah. Ada yang diusir dari keluarga mereka, dan kehilangan warisan sebanyak berjuta-juta dollar. Ini bukanlah sesuatu yang saya besar-besarkan. Saya ada seorang teman yang merupakan anak kepada seorang pemilik perkebunan karet di Malaysia. Ketika ia bertobat, orangtuanya tidak mengakuinya lagi. Ia diminta untuk membuat satu pilihan: berhenti menjadi orang Kristen, atau namanya dihapus dari surat wasiat. Teman saya memilih untuk mengikut Tuhan dan sebagai akibat dari keputusannya itu, ia diusir dari keluarga, diburu dan dianiaya, tetapi ia menerima semua perlakuan itu dengan tabah. Akan tetapi, tahukah Anda apa yang menghancurkan dia pada akhirnya? Pengaruh dunia yang tersembunyi. Yang ini lebih berbahaya daripada apa saja yang lain.

Yesus tahu bahwa orang-orang Kristen dapat bertahan terhadap penganiayaan. Kebanyakan dari mereka tidak akan menyerah. Ada beberapa orang mungkin akan menyangkal, tetapi kebanyakan tidak akan. Saya pernah melihat mereka di Tiongkok, mereka berdiri seperti pohon yang dilanda badai — tergoncang, tetapi tidak roboh. Bahkan dahan-dahannya patah semua, semuanya ditiup angin, tetapi pohon itu tetap berdiri berakar dalam Tuhan.

Akan tetapi, tahukah Anda apa yang dilakukan dunia? Dunia mengirim serangga-serangga kecil, sedikit hama, yang masuk ke dalam melalui kulit kayu, memakan serat pohon, dan merusakkannya dari dalam untuk membunuhnya. Jamur yang bertumbuh di luar juga merusakkan pohon itu. Apa yang tidak dapat dilakukan oleh badai, pengaruh jahat yang diam-diam dan tersembunyi ini dapat. Inilah yang ingin Yesus sampaikan kepada kita melalui perumpamaan yang singkat, tetapi penting ini: waspadalah terhadap ragi yang akan membinasakan Anda jika Anda tidak berhati-hati.


Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi

Apakah ragi itu? Yesus tidak meninggalkan kita dalam kegelapan. Ia menjelaskan dirinya dengan sempurna. Saya mendapati Yesus sangat menakjubkan. Ia tidak meninggalkan kita untuk menebak; semuanya dijelaskan dengan baik. Yesus memberitahu murid-muridnya di Matius 16:6,11,12 untuk

“berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi.”

Ia memperingatkan murid-muridnya untuk, “berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki.” Oleh karena itu, inilah ragi yang harus kita waspadai. Kata Yesus kepada murid-muridnya, “Aku yakin kamu akan bertahan menghadapi hari-hari yang mengerikan di depan. Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan aku dalam segala pencobaan yang aku alami.” Akan tetapi, Yesus melanjutkan dengan berkata, “Aku mau kamu berjaga-jaga terhadap satu hal —  pengaruh jahat yang tersembunyi yang dapat membinasakan kamu dari dalam: berjaga-jagalah terhadap ragi orang Farisi dan orang Saduki.”

RAGI ORANG FARISI

Kalau begitu, apakah ragi orang Farisi? Di Lukas 12:1, ragi orang Farisi adalah kemunafikan. Kemunafikan bukanlah sesuatu yang datang secara mendadak. Anda dihanyutkan pelan-pelan sampai Anda menjadi seorang munafik. Tidak ada orang yang memulai dengan niat untuk menjadi seorang munafik. Orang Farisi bukanlah orang yang tidak jujur yang berniat untuk menjadi orang munafik, setidaknya tidak dari permulaan. Jika Anda berpikir seperti itu, Anda telah salah mengerti orang Farisi. Orang Farisi adalah orang yang tulus, setidaknya pada permulaan. Seperti begitu banyak orang Kristen, mereka sangat tulus apabila mereka menyerahkan hidup mereka kepada Kristus, tetapi setelah beberapa waktu, berangsur-angsur mereka hanyut dibawa arus. Itulah sebabnya Paulus berkata di Kolose 1:23,

“tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar.”

Digeser merupakan proses yang terjadi secara berangsur-angsur. Anda pelan-pelan menjauhi, dihanyutkan oleh arus, mungkin oleh arus air. Atau, mungkin karena ditiup angin atau apa saja yang menyebabkan penggeseran itu. Anda digeser pelan-pelan, tak terasa dan kemudian kemunafikan perlahan-lahan menyusup masuk. Kemunafikan adalah penyakit yang telah membunuh banyak orang Kristen. Mereka memulai sebagai orang Kristen sejati yang tulus, tetapi lama-kelamaan mereka menjadi dingin, dan kemudian satu hari apa terjadi? Mereka telah menjadi orang munafik! Gereja masa kini sudah dipenuhi dengan orang-orang munafik. Mereka adalah orang-orang tidak memulai dengan niat untuk menjadi munafik, tetapi tanpa mereka sadari telah bergeser sehingga pada akhirnya hanya bentuk luarnya yang tersisa, sementara di dalamnya kosong. Mereka memuliakan Allah dengan bibir mereka, tetapi hati mereka jauh dari Dia.


Bahaya menjadi suam-suam kuku

Tahukah Anda bagaimana ragi bekerja? Ragi bekerja hanya dalam satu suasana, yaitu suasana yang suam-suam. Anda yang pernah membuat roti tahu akan hal ini. Jika Anda memasukkan ragi ke dalam suatu tempat yang dingin, ia tidak akan berbuat apa-apa. Jika Anda memasukkannya ke dalam suatu tempat yang terlalu panas, ragi akan binasa. Ragi tidak akan mengkhamiri apa-apa dalam keadaan panas. Beberapa orang yang membuat kue memasukkan ragi terlalu cepat; lalu menyorongkannya ke dalam tanur. Kemudian mereka berkata, “Hei, mengapa tidak naik?” Ragi tidak menggembung karena terbakar sampai mati di dalam. Terlalu panas. Anda harus menyediakan keadaan yang suam-suam kuku. Tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin.

Akan tetapi, ini bukanlah caranya gereja bekerja. Gereja tidak seharusnya beragi. Gereja harus dingin atau panas. Sebagaimana dikatakan di Wahyu 3:16,

“Karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas.”

Mereka begitu dikhamiri sehingga mereka tidak lagi panas atau dingin. Mereka telah meninggalkan kasih yang semula untuk Tuhan.

RAGI ORANG SADUKI

Terdapat juga apa yang disebut “ragi orang Saduki”. Kita belajar dari Lukas 20:27, ragi orang Saduki ialah ketidakpercayaan. Ragi orang Saduki ialah ketidakpercayaan yang telah masuk ke dalam gereja. Ini hal yang menakutkan. Ada banyak orang Kristen yang tidak percaya pada masa kini seraya ketidakpercayaan merembes dengan pelan-pelan ke dalam gereja. Bagaimana ini bisa terjadi? Anda mulai dengan sedikit keraguan dalam pikiran Anda. Apabila Anda tidak menangani keraguan-keraguan ini, ia menjadi makin besar dan berangsur-angsur memakan iman Anda. Anda ada pertanyaan, tetapi Anda tidak tahu bagaimana untuk menjawabnya. Sedikit demi sedikit, ketidakpercayaan mengambilalih. Anda harus tahu bagaimana untuk melawan keraguan-keraguan tersebut.

Saya pernah melihat bagaimana orang dimakan oleh ketidakpercayaan. Mereka membaca beberapa buku filsafat dan mereka menjadi bingung. Iman mereka mulai goyah. Apabila mereka membaca tentang gagasan ini dan gagasan itu, mereka diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran dan tidak lama kemudian iman mereka dihanyutkan oleh ketidakpercayaan. Saya pernah melihat banyak mahasiswa teologi yang pergi ke seminari dengan niat untuk melayani Allah dan mereka keluar dalam keadaan iman yang tergoncang, belum lagi beberapa yang sama sekali hancur. Itu karena mereka harus bergumul dengan begitu banyak ketidakpercayaan di seminari, begitu banyak ketidakpercayaan di fakultas Teologia di universitas. Mereka tidak dapat bertahan. Mereka tidak mempunyai iman yang cukup rohani atau yang cukup dalam di mana mereka dapat menarik kekuatan dari Allah untuk mengatasi persoalan-persoalan ini.

Saya dilatih di fakultas Teologi yang liberal di sebuah universitas dan berhadapan dengan ketidakpercayaan setiap hari. Saya diserang dan dihantam oleh ketidakpercayaan dari ajaran liberal setiap hari. Akan tetapi, syukur kepada Allah, itu tidak menggores saya sedikit pun. Ini karena saya mengenal siapa yang saya percaya. Saya dapat melihat bahwa orang-orang ini tidak mengenal siapa yang mereka percaya. Mereka sendiri mengaku mereka tidak mengenal Allah.

RAGI HERODES

Akhir sekali, kita melihat “ragi Herodes”. Di Markus 8:15, dikatakan, “awaslah terhadap ragi Herodes.” Yesus tidak meninggalkan kita dalam kebingungan akan artinya ragi. Herodes merupakan seorang yang sangat mementingkan diri sendiri. Seorang yang mementingkan diri sendiri adalah seorang yang duniawi; dan oleh karena ia mementingkan diri sendiri, ia adalah seorang yang oportunis (suka mengambil kesempatan). Orang yang oportunis adalah mereka yang melentur mengikut angin; mereka yang tidak memiliki pendirian. Mereka takut untuk membela Kristus di sekolah karena mereka takut ditertawakan orang. Mereka tidak mau berdoa apabila ada orang lain yang duduk di samping karena mereka tidak mau ditertawakan. Orang lain memandang mereka dan berkata, “Lihatlah dia. Ia sudah menjadi saleh, sok suci; sudah menjadi sedikit sinting.” Nah, kita takut akan semua ini. Kita adalah oportunis. Umpamanya, jika seseorang bertanya, “Kamu sedang apa?”, Anda mungkin menjawab, “Ah, mataku sedikit capek. Aku harus menggosok mataku sendikit.” Anda takut untuk berdoa karena Anda kuatir akan pendapat orang lain. Anda takut orang lain akan menertawakan Anda.

Jadi, ragi Herodes ialah paham oportunis. Anda harus membaca sejarah Herodes untuk melihat bagaimana ia berubah pihak. Memang luar biasa. Suatu saat ia bersahabat dengan orang ini dan kemudian apabila bangsa yang lain datang mengalahkan Palestina, ia menjadi sahabat Roma, dan kemudian ia menjadi sahabat Mesir. Ia menjadi sahabat setiap orang. Selama Anda tetap menjadikan dia raja atas kerajaannya, dia tidak peduli siapa sahabatnya. Ia akan berperang untuk Anda jika Anda mau, asal saja Anda yang menang. Selama Anda berada di pihak sedang menang, ia akan berperang untuk Anda; tetapi jika Anda sedang kalah, ia akan meninggalkan Anda. Itulah caranya seorang oportunis berfungsi.

Bukankah orang Kristen juga oportunis? Mereka menginginkan yang terbaik dari dunia ini dan juga yang terbaik dari Kerajaan Allah. Dengan kata lain, mereka ingin memiliki semuanya. Mereka mau menempatkan satu kaki di dalam Kerajaan Allah dan satu lagi kaki di dunia, dan berharap Kerajaan Allah akan menerima mereka apabila kuburan dibuka nanti. Kekristenan macam apa ini? Inilah paham oportunis. Ini merupakan sesuatu yang mengerikan. Seperti apa orang Kristen seperti ini? Mereka selalu mementingkan diri sendiri. Mereka ingin melakukan perkara mereka sendiri; mereka ingin mengikut kemauan mereka sendiri. Dunia masuk ke dalam kehidupan mereka melalui kehendak mereka. Itulah caranya dunia bekerja di dalam kehidupan kita — dengan mempengaruhi kehendak kita, keinginan kita. Barangkali Anda tergoda untuk berpikir, “Kamu harus punya pendirian. Lakukan saja apa yang kamu inginkan. Mengapa kamu harus lakukan apa yang Tuhan katakan? Maksudku, ajarannya tidak lagi praktis pada masa kini. Tidak ada gunanya mengasihi semua orang. Kamu mengasihi mereka, tetapi mereka menampar kamu di wajah. Ini bukan caranya untuk menjalani kehidupan ini. Kekristenan macam ini tidak baik. Tidak praktis. Kita harus lebih praktis. Jika ia menampar wajahmu, kamu hajar dia dua kali. Itulah caranya. Kembalikan kepada dia dengan bunganya sekalian. Itulah hikmat. Kamu masih bisa menjadi orang Kristen. Tentu saja, pergilah ke gereja. Akan tetapi, jika ada orang yang berani menampar kamu, kamu tinju dia dua kali. Jika ia lebih kuat dari kamu, pergilah belajar kungfu dan setelah kamu menguasainya, kamu hajar dia kembali.”

Apakah kamu menginginkan yang terbaik dari segala sesuatu? Apabila Anda mulai berpikir seperti itu, “Aku ingin mempertahankan kepentingan diriku. Yesus tidak praktis. Aku kadang-kadang menyukai ajarannya, tetapi ajarannya tidak terlalu praktis. Jadi, aku akan melakukan perkaraku sendiri. Aku tidak keberatan dibaptis, selagi aku bisa melakukan perkaraku sendiri. Tidak apa-apa. Aku masih suka menjadi orang Kristen, karena orang Kristen agak menyenangkan. Selagi aku bisa melakukan kehendakku sendiri, tidak apa-apa.” Dengan cara ini, “ragi Herodes” telah meresap ke dalam dan Anda menjadi seorang oportunis.

Kita dapat melihat bagaimana pengaruh dunia masuk ke dalam kehidupan kita. Inilah yang diperingatkan oleh Yesus kepada kita. Barangkali penganiayaan tidak akan mematahkan Anda, tetapi pengaruh dunia yang halus akan menghasilkan apa yang tidak dapat dihasilkan oleh penganiayaan. Marilah kita berjaga-jaga. Marilah kita berwaspada. Saya tidak takut akan penganiayaan. Saya percaya tidak ada orang Kristen, khususnya mereka yang menjadi Kristen di Tiongkok, yang takut akan penganiayaan. Kami menantikan penganiayaan. Namun, pengaruh dunia yang tersembunyilah yang akan mematikan Anda. “Pentingkanlah diri kamu sedikit. Tahukah kamu betapa menyenangkan dunia ini? Lihatlah pada benda-benda yang ditawarkan oleh dunia; mereka kelihatan menawan dan menyenangkan. Mengapa tidak mencobanya?” Sebelum kita menyadarinya, kita telah hanyut dibawa arus dunia.

Berikan Komentar Anda: