Pastor Boo | Wahyu 2:8-11 |

“Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna: Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali: 9  Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu  —  namun engkau kaya  —  dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis. 10  Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. 11  Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua.”


MEMANDANG KETUJUH JEMAAT ITU SEBAGAI SATU GEREJA

Jika kita memandang ketujuh jemaat itu sebagai satu kesatuan, kita dapat melihat berbagai aspek dari hal-hal yang membentuk Jemaat Allah. Jika kita mengindahkan semua peringatan yang disampaikan serta meniru berbagai contoh positif yang diberikan, kita bisa tahu seperti apa Jemaat Allah yang sejati itu. Ketujuh surat kepada para jemaat itu merupakan landasan dari kitab Wahyu. Dengan kata lain, kitab Wahyu sedang memberitahu kita tentang jenis orang yang akan bisa bertahan sampai pada akhirnya. Jadi, saat kita mempelajari ketujuh surat itu, kita tidak boleh memandang setiap surat secara terpisah. Sebagai contoh, surat kepada jemaat di Efesus, unsur utamanya berbicara tentang kasih mula-mula kepada Allah. Dengan kata lain, kasih mula-mula itu adalah unsur yang sangat penting dan menjadi landasan bagi kehidupan rohani kita. Kasih mula-mula ini sebenarnya adalah perwujudan dari perintah utama yang pertama, hal mengasihi Allah, Shema. Dalam kaitannya dengan perikop yang akan kita bahas hari ini, jika kita tidak memiliki kasih mula-mula kepada Allah dan Yesus, bagaimana mungkin kita mau mengorbankan nyawa kita? Ini akan menjadi pertanyaan besar.


PENDUDUK SMIRNA MENYEMBAH KAISAR

Smirna adalah salah satu pusat penyembahan kaisar yang penting. Tentu saja, ada banyak dewa Yunani dan Romawi lainnya yang disembah oleh masyarakat Smirna. Akan tetapi, penyembahan kaisar memiliki kedudukan penting di Smirna karena mereka ingin menunjukkan ketaatan mereka kepada Roma. Para cendekiawan memberitahu kita bahwa kesetiaan mereka kepada Roma sangatlah tinggi. Istilah yang dipakai oleh para cendekiawan adalah ‘komitmen yang ekstrim kepada Roma’. Seperti itulah wujud kesetiaan mereka kepada kaisar. Dalam hal komitmen, pengikut Yesus memiliki arah komitmen yang berbeda, yakni kepada Yesus. Oleh karenanya, hanya akan ada satu kesetiaan yang  bisa dijalankan di Smirna ini; kita tidak melihat adanya jalan tengah. Jika anda berbicara tentang komitmen kepada orang Smirna, mereka tahu persis apa maknanya.

Ada satu peristiwa yang pernah terjadi di Smirna. Dalam suatu musim dingin yang ekstrim, sekitar tahun 130, prajurit Roma yang bertugas di Smirna sangat menderita oleh musim dingin ini. Tahukah anda apa yang dilakukan oleh penduduk Smirna? Mereka yang kebetulan melihat ada prajurit Roma yang kedinginan, akan melepaskan jubah atau mantel mereka dan memberikannya kepada sang prajurit yang sedang kedinginan itu. Mereka rela menghadapi cuaca dingin itu tanpa pakaian penghangat daripada melihat prajurit Roma mengalami kedinginan. Dari sini anda bisa melihat kasih dan kepedulian mereka terhadap para prajurit, yang terwujud sampai pada tingkat rela berkorban bagi kepentingan para prajurit.

Kaisar Roma, di sisi lain, berinisiatif membalas kesetiaan mereka. Sebagai hasilnya, penduduk Smirna menikmati berbagai kemudahan yang diberikan oleh Kaisar. Di sinilah letak tantangannya jika anda mendatangi tempat-tempat yang penduduknya sangat setia kepada pemerintah mereka karena pemerintah mereka mampu memberi mereka jaminan standar kehidupan yang tinggi. Jika anda menginjili mereka, mereka harus bisa melihat bahwa Yesus lebih besar daripada kaisar. Lalu, apa yang bisa anda tunjukkan? Itulah pertanyaannya! Dalam kasus jemaat di Laodikia, mereka begitu kaya raya dan puas diri sehingga tidak bisa memahami kebutuhan rohani mereka. Memang ada persoalan besar jika menjangkau orang-orang yang sudah menikmati kehidupan yang makmur. Mereka mungkin tidak akan menanggapi sama sekali. Orang-orang miskinlah yang paling besar kemungkinannya untuk memberi tanggapan, karena mereka tahu apa yang mereka butuhkan.


KEKRISTENAN ADALAH HAL YANG ILEGAL DI MATA PEMERINTAH ROMA

Mereka yang berkomitmen kepada Yesus berada dalam posisi yang rawan. Pada masa itu, hanya orang Yahudi yang secara resmi diizinkan menjalankan ibadah mereka dalam wilayah kekaisaran Roma, dan mereka dibebaskan dari kewajiban menyembah kaisar serta dewa-dewa bangsa Roma. Pemerintah Roma mengakui Yudaisme sebagai salah satu agama kuno di tengah masyarakat.

Sebagai tambahan, saya juga sudah menyebutkan tentang berbagai serikat dagang dan pekerja di tengah masyarakat itu. Oleh karena orang Yahudi tidak boleh menyembah dewa-dewa lain, maka mereka membentuk serikat dagang dan pekerja tersendiri, dan mereka mampu berkembang dengan baik. Hasilnya adalah kemampuan orang Yahudi untuk berdiri sejajar dengan masyarakat lain pada zaman itu.

Ketika kekristenan baru mulai berkembang, para murid yang umumnya adalah orang Yahudi menikmati pengecualian yang sama, karena pemerintah saat itu memandang mereka sebagai bagian dari penganut agama Yahudi. Belakangan orang Yahudi secara keras menentang para murid, serta memberitahu pemerintah bahwa para murid ini bukanlah bagian dari mereka dan bukan jemaat sinagog mereka. Ini membuat para murid tidak lagi menikmati perlindungan hukum. Pemerinah Roma menyatakan mereka sebagai penganut ajaran ilegal. Menjadi milik Yesus saat itu adalah hal yang ilegal! Urusan mengikut Yesus sejak saat itu menjadi urusan yang sangat berbahaya.

Bagi anda yang dibesarkan di Malaysia sekitar 40 atau 50 tahun yang lalu, tentu anda pernah merasakan sedikit kesulitan semacam ini. Kesulitan ini akan menimpa tanpa peduli apa pun latar belakang agama atau ras anda. Entah seseorang berasal dari keluarga Tionghua dengan berbagai dewa orang Tionghua yang mereka sembah, atau dari India dengan berbagai dewa yang mereka sembah, atau penduduk setempat yang kebanyakan adalah orang Muslim, pengorbanan yang harus dilewati sangatlah besar jika anda menjadi Kristen. Saya tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang karena Malaysia sudah semakin larut dalam kebudayaan barat. Namun di masa lalu, pilihan anda untuk menjadi Kristen bisa memicu reaksi yang sangat keras dan bermusuhan. Saya kenal seorang dari kalangan Sikh yang diusir oleh keluarganya setelah dia menjadi Kristen!


DUA MACAM KEMULIAAN

Itulah hal yang disampaikan oleh Yesus kepada para murid, “Mereka akan mengucilkanmu,” dan hal ini juga yang kita saksikan saat kita mulai mempelajari kitab Wahyu. Nah, jika kita sudah mendapat pengalaman tentang Yesus dan menyaksikan kemuliaannya yang berasal dari Allah, kita akan mulai memahami bahwa kemuliaan dunia ini secara perlahan akan berlalu. Demikianlah, kita ditantang untuk memilih satu dari dua macam kemuliaan. Namun, kita sendiri biasanya lebih mengerti tentang kemuliaan duniawi. Saya tidak perlu menguraikan pokok tentang kemuliaan duniawi; bayangkan saja tentang segala hal yang bisa ditawarkan oleh negara-negara seperti AS dan Kanada kepada rakyatnya. Akan tetapi, justru hal semacam ini yang banyak dikejar oleh orang Kristen.

Namun, jika berbicara tentang kemuliaan Kristus, apakah kita melihat ada kemuliaan? Itu sebabnya hal ini menuntut kita untuk memiliki pengalaman berhubungan langsung dengan Yesus. Jika kita tidak mengalami Yesus secara langsung, tidak ada perbandingan yang bisa dibuat. Tidak ada alternatif, itu sebabnya banyak orang yang menyebut diri Kristen yang masih mengasihi dunia. Mereka mengaku Kristen, dan mereka merasa yakin bahwa mereka memang orang Kristen, tetapi mereka tidak memiliki hubungan langsung atau kontak dengan Yesus. Jadi, secara intelektual, kita mungkin ingin mengalami Yesus, tetapi dalam kenyataannya, visi kita masih dilandasi keduniawian; kita tidak tahu visi yang lain. Dunia jasmani terasa lebih nyata bagi kita dibandingkan dengan dunia rohani, dibandingkan dengan hal-hal yang berasal dari Allah.

Jadi ketika Yesus menyampaikan pesannya kepada jemaat di Smirna, serta meminta mereka untuk tetap setia sampai mati, anda perlu tahu hal-hal apa saja yang tercakup di sini. Mereka memiliki kedalaman pengalaman rohani, pengenalan akan Yesus — yang berarti mengenal Yahweh juga melalui Yesus — bagi mereka jauh lebih berarti dibandingkan dengan apa pun yang ada di dunia ini. Ini adalah tantangan yang sangat besar bagi kita yang hidup di abad ke-21 ini. Saya dapati bahwa ada banyak orang yang bersedia menjalani baptisan, tetapi mereka tidak mendapatkan pengalaman rohani apapun. Hal ini menunjukkan bahwa landasan kerohanian mereka masih belum tepat. Saat masih belum menjadi Kristen, pikiran saya saat itu adalah jika saya tidak mengalami langsung siapa Yesus itu, saya tidak mau menjadi Kristen. Saya berasal dari keluarga yang menyembah banyak dewa, dan saya bisa mengalami realitas para dewa itu. Jangan mengira bahwa semua itu hanya kayu dan batu, ada roh di balik semua itu. Jadi jika saya harus berpaling kepada Yesus, saya perlu tahu realitasnya. Ini adalah prinsip penting yang perlu dicamkan. Kita masih belum berbicara tentang urusan berkorban nyawa di sini. Kita masih belum berbicara tentang penderitaan. Kita baru berbicara tentang awal kehidupan Kristen.


PENDERITAAN SEKARANG VERSUS KEMULIAAN AKAN DATANG

Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. (Roma 8:18)

Paulus mengatakan, “Penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” Perhatikan hal-hal yang tidak disampaikan oleh Paulus. Dia tidak berkata, “Kesenangan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” Yang dia katakan adalah penderitaan.

Mari kita pikirkan sejenak: Sejak kapan penderitaan memiliki nilai? Dalam pandangan kita, penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kehidupan yang sedang kita jalani, sesederhapa apapun itu. Walau pun kita berasal dari kalangan berpenghasilan rendah, paling tidak kita belum mengalami penderitaan. Setiap hari kita masih bisa menjalani hidup yang cukup nyaman. Kita bisa berkata, “Penderitaan zaman ini tidak dapat dibandingkan dengan kehidupan sederhana yang sedang saya jalani.”

Jadi, kita perlu bertanya kepada Paulus, “Ada apa denganmu? Mengapa kamu bahkan memakai penderitaan untuk dibandingkan dengan hal lain?” Saya rasa kita perlu berhenti sejenak untuk merenungkan pokok ini secara lebih mendalam. Mengapa Paulus menguraikannya seperti itu? Ini karena dia memandang bahwa penderitaan yang dia jalani di dunia ini (yakni demi pemberitaan Injil) adalah hal yang memiliki nilai. Tadi saya menyebutkan tentang “kemuliaan Roma” dibandingkan dengan “kemuliaan Kristus”. Kita bisa melihat bahwa keduanya memang bisa dibandingkan. Akan tetapi, Paulus bahkan tidak menyebutkan tentang kemuliaan duniawi. Dia masih memandang bahwa penderitaan yang dia tempuh lebih bernilai daripada kemuliaan dunia ini. Demikianlah, bagi Paulus, kemuliaan dunia ini tidak ada artinya, dia berpandangan bahwa penderiaan di dunia — demi Kristus — adalah hal yang layak memiliki nilai. Akan tetapi, hal ini pun masih tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan nanti.


MUSA MEMILIH MENDERITA SENGSARA

25  Karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. 26  Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah. (Ibrani 11:25-26)

Ayat ini mengacu kepada Musa. Dia lebih memilih untuk ikut menderita bersama umat Allah daripada menikmati kesenangan dosa. Perhatikan bahwa urusan “menderita sengsara” lebih berharga daripada kesenangan dosa. Kemudian ayat 26 menyebutkan, “Penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir.” Apa arti menderita sengsara? Apa arti penghinaan karena Kristus yang ingin dialami oleh Musa? Nah, ini adalah jenis penderitaan karena melakukan hal yang benar. Dengan kata lain, penderitaan demi kebenaran itu sendiri sangatlah tinggi nilainya.

Seperti itulah pemikiran Paulus. Setiap kali dia dianiaya atau difitnah, dia bersukacita karena dia berdiri teguh dalam nilai-nilai yang dianut oleh Yesus. Jika kita teguh di dalam kebenaran dan keadilan Allah dalam hal-hal yang dipandang benar oleh Allah, hal itu memiliki nilai. Penderitaan ini akan menguatkan iman kita. Hal ini akan menumbuhkan kekuatan rohani kita. Penderitaan ini juga akan memberi kita kuasa dalam menghadapi dosa.

Jadi, jangan pernh goyah saat teman atau keluarga anda menolak anda. Mereka yang berusia cukup dewasa, mungkin orang tua anda akan keberatan saat anda memilih untuk menjadi Kristen. Semua penolakan itu belum sampai mengancam nyawa anda, berbeda dengan yang kita baca dari dalam Wahyu pasal 2. Semua yang anda alami baru merupakan reaksi penolakan dari orang lain, dan mungkin mereka akan menghina dan mengolok-olok anda. Ini adalah reaksi yang umum kita temui di wilayah Amerika Utara.

Di berbagai tempat lain, keadaannya bisa lebih buruk. Ada yang dipukuli dan sampai dipenjara. Mereka mengalami siksaan. Bagi mereka ini, Wahyu 2:10 memiliki makna yang sangat berarti. Namun bagi kita, tidak banyak penganiayaan yang bisa kita alami di Kanada ini, karena kekristenan di Kanada adalah keyakinan yang legal. Kita memiliki hak untuk menganut kekristenan dan hal ini dilindungi oleh konstitusi. Penganiayaan tidak ada, dalam kebanyakan kasus, kecuali jika kita mencakup hal-hal buruk yang diucapkan orang tentang kita. Mungkin kita akan kehilangan beberapa sahabat. Faktanya, pengalaman kita tentang penderitaan sangatlah minimal.

Jadi, kita di sini hanya bisa membayangkan saja. Beberapa minggu yang lalu, ketika saya duduk di kursi khusus dokter gigi, dia berkata, “Lihatlah keajaiban pengobatan modern.” Dia lalu menyuntikkan obat bius di mulut saya. “Obat ini,” katanya, “Akan menghasilkan keajaiban.” Kemudian dia mulai membor gigi saya, dan saya tidak merasakan sakit sedikit pun. Sambil menjalani pengobatan itu, saya teringat pada kesaksian seorang tentara Inggris yang pernah tertangkap dalam sebuah perang di Timur Tengah. Para penangkapnya menyiksa dia dengan memakai bor gigi, semua giginya mereka bor. Nah, perlu saya akui keberanian tentara ini. Dia mampu menanggung semua rasa sakit itu. Demikianlah, saya hanya bisa membayangkan saja. Saya belum pernah mengalami siksaan jasmani demi Kristus. Saya pernah mengalami fitnah dan ancaman, tetapi belum pernah sampai ke tahap siksaan jasmani.

Musa memandang bahwa menderita demi Allah, untuk hal-hal yang benar di mata Allah, sebagai harta yang lebih berharga. Ini berarti bahwa dia memihak umat Allah, mengasihi mereka, dan menolong mereka. Hal ini jauh lebih berharga daripada dosa dan semua harta kekayaan Mesir. Namun Paulus berkata, saat segala kemuliaan Allah dinyatakan sepenuhnya, hal itu akan jauh lebih berharga daripada penderitaan pada masa sekarang.


MAKNA SEPULUH HARI

Di Wahyu 2:10, sebagian dari jemaat di Smirna akan dijebloskan ke dalam penjara selama sepuluh hari. Waktu sepuluh hari itu melambangkan periode yang singkat. Akan tetapi, ini bukanlah jangka waktu penderitaan untuk kemudian bisa kembali ke dalam kehidupan normal sebelumnya. Yesus berkata, “Hendaklah kamu setia sampai mati.” Jadi, masa sepuluh hari ini bukanlah periode hukuman. Ini adalah masa penahanan sampai mereka dihadapkan ke pengadilan. Dalam periode itu, petugas penjara akan memakai berbagai alat penyiksaan untuk memaksa mereka agar berubah pikiran. Selanjutnya mereka akan diadili. Pengadilan ini berjalan sederhana: Mereka akan disuruh untuk menyangkal Kristus. Jika mereka tidak mau, mereka segera dihukum mati. Jadi, ungkapan sepuluh hari ini berarti masa penyiksaan dan penderitaan. Dan kejadian berikutnya yang harus mereka hadapi adalah kematian. Hal itulah yang sedang kita lihat dari keadaan jemaat di Smirna jika kita pelajari latar belakang kehidupan di sana saat itu.

Dengan kata lain, kita perlu bertanya pada diri kita sendiri: Apakah layak kita jalani kehidupan dan kematian demi Kristus? Apakah anda mendapati bahwa melanjutkan iman dan langkah anda bersama Yesus memang benar-benar sangat berharga? Kita tentu saja tidak ingin berakhir dalam keadaan menyangkal Kristus. Jika kita melakukannya, pada akhirnya nanti, kita akan kehilangan segalanya, terutama keselamatan kekal.

Di dalam dunia ini, ada banyak orang yang rela mati demi suatu keyakinan. Mereka menganut ideologi mereka sendiri. Beberapa minggu yang lalu, ada sebuah wawancara dalam siaran berita. Ada seseorang yang dengan garang berkata, “Saya rela mati untuk Trump.” Wow! Dia sanagt setia pada Donald Trump, dan Trump layak dibela sampai mati dalam pandangannya. Pemihakan semacam ini bukanlah hal yang baru. Waktu saya masih mengajar di China, ada seorang siswa di dalam kelas yang bangkit dan berkata, “Saya rela mati demi China. Jika negara saya mengalami ancaman, saya siap membela sampai mati.” Banyak orang yang rela untuk berkorban bagi bangsa mereka atau bagi tokoh yang mereka dukung sampai mati. Bagi saya ini adalah hal yang agak aneh. Orang yang anda bela sampai mati, apakah orang itu mengenal anda? Anda rela berkorban nyawa bagi orang yang tidak mengenal anda. Jika saya mengorbankan nyawa bagi negara saya, saya yakin bahwa perdana menteri tidak akan tahu siapa saya. Mungkin di akhir peperangan mereka akan menemukan jasad saya, dan mungkin termasuk identitas saya. Pemerintah saya hanya mengenal saya dari nama saya saja.Dan hanya itu yang mereka ketahui. Namun mereka tidak mengenal saya!

Itu sebabnya saya merasa hal ini sangat aneh: anda rela mengorbankan nyawa bagi orang atau tujuan, tetapi tokoh atau pendiri ideologi atau pemimpin bangsa yang anda bela tidak mengenal anda. Kita memiliki mentalitas yang aneh. Bahkan para penggemar klub sepak bola akan berkelahi satu sama lain demi tim yang mereka dukung. Kita bisa melihat hal semacam ini di Inggris sebagai contohnya. Mereka bahkan saling tikam demi tim kesayangan mereka, dan tim sepak bola ini sama sekali tidak mengenal mereka! Bahkan pemilik klub juga tidak mengenal mereka!


JIKA KITA MEMILIKI HUBUNGAN DENGAN ALLAH, DIA BENAR-BENAR MENGENAL KITA

Saya harap kita semua bisa mengerti bahwa jika kita mati demi Dia, kerelaan ini muncul dari keakraban kita dengan Yesus. Dia mengenal kita sampai jauh ke dalam hati kita. Dia mengakui dan menghargai kesetiaan serta iman kita kepadanya. Itu sebabnya mengapa Paulus berbicara tentang kemuliaan yang akan dinyatakan. Dia berbicara tentang hubungan yang sangat akrab dengan Allah, di mana tidak ada lagi rintangan yang menghalangi. Tidak ada lagi halangan yang merintangi pandangan kita. Kita bisa masuk ke dalam keakraban itu. Yesus berkata, “Aku akan memberimu mahkota kehidupan.” Hidup yang dijanjikan itu adalah hidup milik Allah. Yesus bisa melihat sukacita yang disiapkan di hadapannya; dia bisa memandang Bapa secara sepenuhnya, termasuk kemuliaan dari rencana-Nya atas Gereja. Itu sebabnya mengapa Yesus rela mati di kayu salib.

Jadi jika anda siap berkorban nyawa, janganlah hal itu dilandasi oleh ideologi Kristen. Jika dilandasi oleh ideologi, tidak akan ada gunanya. Landasan yang benar adalah hubungan yang nyata, dan di dalam hubungan yang akrab dengan Allah ini, kita tidak digerakkan oleh motivasi kebencian. Kita tidak akan membunuh siapapun. Kita dimotivasi oleh kasih Allah. Demikianlah, kita kembali lagi ke pokok tentang kasih mula-mula.

Saya harap kita semua bisa menghayati pokok ini. Dalam sisa waktu selanjutnya, saya ingin membahas satu ayat lagi.


JEMAAH IBLIS (SINAGOGE IBLIS)

Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta. (Yohanes 8:44)

Yesus berkata bahwa mereka mengaku sebagai orang Yahudi padahal bukan, mereka adalah jemaah (sinagoge) Iblis. Kata ‘jemaah’ (sinagoge) dan kata ‘gereja’ memiliki makna yang sama karena keduanya berarti kumpulan umat. Jadi, anda bisa mengganti kata jemaah dengan kata gereja, “Mereka mengaku sebagai orang Kristen padahal bukan, mereka adalah gereja Iblis.”

Ini bukan berarti bahwa mereka adalah penyembah Iblis, bahwa mereka beribadah kepada setan di dalam gereja atau pun sinagoge. Mereka terus memandang diri sendiri sebagai orang Yahudi atau sebagai orang Kristen, tetapi tindakan mereka menunjukkan bahwa mereka adalah hamba-hamba Iblis. Dalam kaitan inilah Yohanes 8:44 memberikan maknanya. Pada saat itu Yesus sedang berbicara kepada para pemimpin agama, terutama orang-orang Farisi. Bapa mereka adalah Iblis karena “mereka ingin melakukan keinginan-keinginan bapa mereka.”


KEINGINAN IBLIS: MENGHAPUSKAN KEBENARAN INJIL

Apakah “keinginan bapamu” atau keinginan Iblis itu? Sangat sederhana. Segenap perhatiannya dipusatkan pada urusan menghapuskan kebenaran dan keutuhan injil, hal yang bisa kita lihat terjadi dalam dua jemaat berikutnya. Saat anda mendengarkan Injil yang sejati, ajaran tersebut tidak mudah untuk dihayati. Banyak orang yang tidak sanggup menerimanya dan, bahkan, mendapatinya ofensif. Lalu, apa keinginan Iblis? Cukup dengan mengubah isi injil. Menyingkirkan urusan pemuridan dari dalamnya. Menjadikan kekristenan sebagai ajaran yang gampang dipercayai. Demikianlah, yang perlu anda lakukan hanya percaya kepada Yesus dan anda akan masuk surga. Jangan berkhotbah tentang urusan ‘setia sampai mati’. Wah! Ini khotbah yang buruk. Tak akan ada orang yang mau menjadi Kristen dengan khotbah semacam itu. Jangan berbicara tentang kasih mula-mula. Kita harus bersikap praktis. Ada banyak hal yang masih harus kita pikirkan.

Itu sebabnya anda sering mendengar ucapan semacam ini, “Memang baik anda beribadah ke gereja, asal jangan menjadi terlalu ekstrim, terlalu bersemangat.” Ini adalah omongan yang sering kita dengar. Dengan cara itulah Iblis membutakan kita. Dia mengubah isi pesan dari injil. Dia membuat injil menjadi murahan bagi semua orang karena dia tahu bahwa begitu kita menjalankan hal-hal semacam ini, kita tidak akan hidup. Kita akan menjadi jemaah Iblis karena kita akan menyebarkan pesan yang sudah dia serongkan.

39 Jawab mereka kepada-Nya: “Bapa kami ialah Abraham.” Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. (Yohanes 8:39,41)

41  Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri.” Jawab mereka: “Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah.”

Orang Yahudi mengaku bahwa Abraham adalah bapa mereka dan bahwa Allah adalah Bapa mereka. Mereka sangat yakin bahwa mereka adalah umat Allah. Namun, Yesus berkata kepada mereka, “Tidak! Bapamu adalah iblis!” Demikianlah, ada kumpulan orang semacam ini di kota Smirna. Banyak cendekiawan yang berbeda pendapat tentang kumpulan orang yang disebut sebagai jemaah Iblis ini. “Apakah mereka ini orang-orang Yahudi yang menentang orang Kristen? Atau apakah mereka ini orang Kristen palsu yang menentang orang Kristen sejati?” Sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah karena, seperti yang sudah saya sampaikan, makna dasar dari kata sinagoge dan gereja itu sama saja.


APAKAH ANDA MENERIMA DAN MENGASIHI KEBENARAN?

Satu-satunya jalan bagi kita untuk memenangkan peperangan rohani ini adalah dengan memahami kebenaran pokok yang satu ini.

9  Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, 10  dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. (2 Tesalonika 2:9-10)

Pada akhir zaman, sebelum kedatangan Yesus kembali, si pendurhaka ini akan tampil dengan membawa berbagai tanda-tanda dari Iblis. Dia adalah jenis orang Kristen yang bekerja dengan berbagai macam tanda dan mukjizat palsu. Mengapa banyak orang yang akan tertipu olehnya? Paulus menjelaskan, “Karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran.”

Anda mungkin berkata, “Saya tidak tahu apa itu kebenaran tidak ada orang yang mengajarkan kebenaran kepadaku. Jadi bagaimana saya bisa menerima sesuatu kalau tidak ada yang memberitahu saya tentang hal itu?” Alasan semacam ini menunjukkan ketidakpedulian anda pada Alkitab. Dalam hal ini Yesus membuat penekanan yang tegas.

7 “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 8  Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. (Matius 7:7-8)

Mintalah! Anda harus terus meminta, dan hal itu akan diberikan kepada anda. Anda harus terus mencari dan anda akan mendapatkannya. Jika anda terus mengetok pintu, pintu akan dibukakan untuk anda. Ini adalah prinsip dasar yang memastikan keberlangsungan kehidupan rohani kita. Jika anda tidak gigih mengejar kebenaran, anda tidak akan pernah tahu apa itu kebenaran.

Dengan kata lain, 2 Tesalonika 2 ini tidak menghendaki sikap pasif. Kita harus mengambil peranan aktif. Jadi, bagaimana agar anda bisa menerima dan mengasihi kebenaran? Itu terjadi jika anda aktif meminta kepada Allah, mencari Dia, dan mengetok pintu-Nya. Kita harus berinisiatif mencari Dia dan menanggapi Dia. Sebenarnya, Allah-lah yang lebih dulu berinisiatif dan tindakan kita hanya merupakan tanggapan terhadap inisiatif-Nya. Teruslah menanggapi, dan dengan cara itulah anda akan menemukan serta menerima. Carilah dengan tekun, dan Yahweh akan menyatakan kebenaran-Nya kepada anda di dalam Kristus Yesus.


TIGA TOPIK DI DALAM PL YANG SERING DIKUTIP DALAM PB

Jika anda membaca surat-surat yang dikirimkan kepada ketujuh jemaat, kita akan temukan ungkapan yang sering diulangi, “Barangsiapa bertelinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengarkan apa yang disampaikan oleh Roh kepada jemaat.” Dalam semua surat itu, Yesus secara aktif memakai ungkapan yang diambil dari isi Perjanjian Lama.

Saya sudah memeriksa berbagai ayat di dalam Perjanjian Lama yang terkait dengan topik-topik tertentu dan sangat sering dipakai dalam Perjanjian Baru. Kelompok ayat dari Perjanjian Lama yang paling banyak dipakai adalah yang terkait dengan kasih, keseluruhannya ada 30 kali pemakaian di dalam Perjanjian Baru. Dengan kata lain, perintah untuk mengasihi adalah pokok yang paling penting di dalam Perjanjian Baru.

Dua topik berikutnya memiliki jumlah pemakaian yang sama banyak, yakni 13 kali. Yang kedua adalah topik tentang keutamaan Yahweh, yakni ayat-ayat yang memusatkan perhatian kita kepada Yahweh. Dan topik yang ketiga adalah tentang kebutaan rohani.

9  Kemudian firman-Nya: “Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan! 10  Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh.” (Yesaya 6:9-10)

Ayat ini sering muncul di dalam Perjanjian Baru. Para penulisnya memakai ayat yang penting ini untuk memperingatkan para pembaca dan pendengarnya akan bahaya kebutaan rohani. Tujuh kali di dalam kitab Wahyu pasal 2 dan 3, Yesus memakai ungkapan dalam kitab Yesaya tersebut dalam nada yang positif. Ucapan yang kita lihat di dalam kitab Yesaya itu bernada negatif: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan! Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup. Demikianlah, kita harus mendengar dan mengenali kebenaran dengan secara aktif mengejarnya, sesuai dengan Matius 7:7,8. Jika tidak, kita akan sama saja dengan orang lain, entah itu orang Yahudi atau yang bukan Yahudi, kita akan berbalik menentang injil. Bahkan umat Allah bisa berbalik menentang Yesus.


CONTOH YANG MENYEDIHKAN

Sebagai penutup, saya ingin berbicara tentang seorang pastor terkenal yang masuk dalam berita kemarin.

Laporan: Ravi Zacharias Terlibat dalam Pelecehan Seksual

12 Februari 2021 | Joe Carter

Zacharias memanfaatkan berbagai istilah religius untuk mendapatkan kepatuhan, saat perempuan ini dibentuk untuk menjadi orang yang taat. Perempuan ini melaporkan bahwa Zacharias menyuruh dia untuk berdoa bersamanya kepada Allah atas ‘kesempatan’ yang didapatkan oleh mereka berdua. Perempuan ini berkata bahwa Zacharias menyebutnya sebagai ‘hadiah’ karena dia menjalani kehidupannya dalam pelayanan kepada Allah. Dan Zacharias juga menunjukkan berbagai referensi tentang para “hamba Allah” di dalam Alkitab yang memiliki istri lebih dari satu. Perempuan ini berkata bahwa dia dilarang untuk membocorkan urusan tersebut atau dia harus bertanggungjawab atas “jutaan jiwa” yang keselamatannya akan lenyap jika reputasi Zacharias tercemar.

https://www.thegospelcoalition.org/article/report-ravi-zacharias-sexual -abuse/

Kebanyakan dari kita pernah tahu tentang orang ini karena dia memang orang terkenal secara internasional. Dia meninggal pada tahun lalu. Pada tahun lalu juga sudah ada beberapa laporan yang diajukan mengenai perilaku seksualnya. Sejak saat itu, dilakukanlah suatu penyelidikan, dan penyelidikan ini mencakup berbagai isi pesan di dalam HP-nya yang dia kirimkan kepada berbagai perempuan. Dia pernah memberikan konseling kepada seorang ibu rumah tangga dan berhasil mendapatkan kepercayaan dari perempuan itu. Lalu, dia menyuruh perempuan ini mengirimkan foto bugilnya kepada Zacharias, dan perintah ini ternyata dituruti. Para penyelidik kemudian mendapati bahwa perempuan ini bukanlah satu-satunya korban. Masih ada banyak perempuan yang mengalami eksploitasi seksual dari Ravi. Dia sangat menggemari pijat dan melakukan hubungan seks dengan beberapa dari antara perempuan yang memijatnya.

Dalam tampilan laporan ini, kita melihat ibu rumah tangga yang dia beri konseling, dan berhasil dia pikat. Anda bisa lihat apa yang terjadi ketika orang ini memakai Alkitab dan berbagai istilah rohani untuk membenarkan hasrat seksualnya. Jelaslah bahwa orang ini bukan hamba Allah dan, dalam periode itu, dia melayani kehendak Iblis.

Saat kita baca Yohanes 8:44, kita tidak sedang membahas tentang orang-orang yang melakukan dosa semacam ini. Tak ada orang Farisi yang akan bertindak sejauh itu. Itu sebabnya mengapa Yesus berkata, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga (Matius 5:20).” Namun di sini kita melihat orang yang berkedudukan sebagai pimpinan di gereja – dan dianggap sebagai orang yang benar-benar abdi Allah — ternyata berperilaku lebih buruk daripada orang-orang Farisi. Jika berada di dalam kebenaran orang-orang Farisi masih menjadi anak-anak iblis, kiranya Yahweh berbelas kasihan kepada kita semua, khususnya kepada Gereja.

Pada awalnya, ketika persoalan ini masuk berita, saya membatin, “Nah, apa yang baru dari masalah ini?” Namun, jika anda baca laporan lengkapnya di dalam website terkait, anda akan dapati hal yang mengerikan. Hal ini akan membuat kita merasa takut dan gentar! Para penyelidik mendapatkan lebih dari 200 gambar di dalam HP-nya, beberapa di antaranya dalam pose setengah telanjang. Sebelum meninggal, dia bersumpah bahwa dia tidak pernah menggauli satu pun dari para wanita itu, dia hanya melakukan hubungan seks dengan istrinya. Dengan kata lain, dia mati tanpa bertobat, bukan hanya melakukan dosa seksual, dia juga berdusta. Kiranya Allah berbelas kasihan kepadanya.

Jadi pelajaran yang perlu kita tarik dari kasus ini adalah  bahwa sebagai hamba-hamba Allah, kita perlu memelihara hubungan kita dengan Yahweh dan dengan Kristus-Nya, dan jangan berakhir di dalam genggaman Iblis.

 

Berikan Komentar Anda: