Mark Lee |

Allah sangat adil. Dia telah memanggil kita untuk percaya kepada-Nya, maka Dia pasti akan memberikan kita bukti yang cukup supaya kita tidak bingung dan meragukan kenyataan-Nya. Di sini kita akan melihat pada tiga macam bukti.

Renungkan hal ini dengan saksama karena hal ini berkaitan dengan hidup Anda.


Ciptaan

Alam semesta ini merupakan bukti yang paling sederhana yang telah Allah sediakan. Bukti fisik ini tersedia bagi semua orang. Di saat kita melihat pada gunung, sungai-sungai dan keindahan alam di sekeliling kita, kita akan segera merasa bahwa semua itu tidak hadir begitu saja. Mengapa alam bisa seajaib dan seindah itu?

Ilmu pengetahuan manusia telah berkembang sampai pada tingkatan di mana kita bukan sekadar bisa mengamati planet bumi saja, kita dapat juga mengamati seluruh alam semesta yang tanpa batas ini. Adakah orang yang tahu seberapa besarnya alam semesta ini?

Dibutuhkan waktu satu milyar tahun cahaya, untuk melakukan perjalanan dari planet bumi untuk mencapai sisi lain dari alam semesta ini. Seberapa lama satu milyar tahun cahaya itu? Kecepatan yang paling tinggi di dunia ini adalah kecepatan cahaya. Satu tahun cahaya adalah jarak yang bisa ditempuh oleh cahaya dalam waktu satu tahun. Cahaya dapat mengelilingi bumi sebanyak delapan kali dalam satu detik. Hanya diperlukan seperdelapan detik untuk mengelilingi bumi. Ini berarti ketika Anda mengedipkan mata Anda, cahaya sudah melintas mengelilingi bumi sekali putaran. Cahaya bergerak sangat cepat. Walaupun demikian tetapi masih diperlukan waktu satu milyar tahun untuk bisa mencapai pinggiran alam semesta! Dan ini baru bagian yang diketahui oleh manusia. Para ilmuwan masih belum tahu ada apa di bagian yang lebih jauh dari satu milyar tahun cahaya itu..

Bertahun-tahun yang lalu, Rusia meluncurkan pesawat luar angkasa yang dapat membawa manusia ke angkasa luar. Pada waktu itu mereka masih belum dapat mendarat di bulan. Namun mereka dengan sangat bangga berkata, “Allah itu tidak ada karena kami telah sampai di bulan dan tidak bertemu dengan Allah.” Ilmu pengetahuan pada masa itu belum memungkinkan bagi mereka untuk mengetahui seberapa luas alam semesta ini. Itu sebabnya, ketika mereka pergi ke bulan dan tidak bertemu dengan Allah, mereka menyimpulkan bahwa Allah itu tidak ada. Mereka mengira bahwa tidak ada Allah, padahal mereka baru mencapai bulan saja.

Alam semesta ini bukan sekadar luar biasa besarnya, tetapi juga sangatlah teratur. Rakyat Tiongkok tahu persis bahwa seringkali hujan turun sebelum dan sesudah perayaan “Qing Ming” [perayaan memperingati leluhur yang berlangsung sekitar bulan April dan Mei] jadi mereka selalu membawa payung. Segenap alam semesta ini sangatlah teratur. Para ilmuwan dapat memperkirakan sejak jauh hari bintang-bintang mana yang akan bertabrakan. Sejak ratusan tahun yang lalu mereka sudah dapat menghitung posisi bintang dengan tepat. Namun kita bahkan tidak pernah dapat mengukur waktu dengan tepat jika kita bepergian dengan angkutan umum. Struktur alam semesta yang dikelola Allah begitu rapi tertata dibandingkan dengan angkutan umum yang dikelola oleh manusia. Itu sebabnya, orang Tiongkok bisa mengembangkan perhitungan kalendar ‘Yin’ dan ‘Yang’ didasarkan pada pergerakan bulan dan perubahan musim. Perhitungannya sangat akurat, mengapa bisa demikian? Karena adanya keteraturan dalam segala sesuatu.

Hal-hal yang kejadiannya tidak beraturan sangatlah susah diperhitungkan. Seluruh alam semesta bergerak dalam suatu keteraturan. Dapatkah alam semesta yang terjadi akibat dari suatu ‘ledakan besar’ akan menjadi begitu teratur? Tidak mungkin! Dari berbagai film kita melihat bahwa setelah terjadinya ledakan besar, keadaan justru menjadi kacau balau dan berantakan, sama sekali tidak ada keteraturan.

Bagaimana mungkin dunia dan alam semesta ini bergerak sedemikian teratur jika tidak ada yang mencipta dan mengaturnya? Kita tahu kapan datangnya musim semi, dan kapan musim gugur. Mungkinkah semua itu tertata tanpa ada yang mengelolanya dan semua itu berjalan secara sendiri-sendiri? Itu sebabnya, jika kita amati betapa ajaibnya alam semesta ini, kita akan melihat bahwa pasti ada Penciptanya.

Kita juga dapat mengetahui bahwa Pancipta itu ada dengan mengamati keajaiban biologis planet ini. Para ahli biologi sangat mengetahui hal ini. Sebagai contoh, ada satu jenis laba-laba yang sebesar biji kedelai yang tinggal di tepi pantai. Laba-laba ini memiliki cara hidup yang sangat tidak lazim. Mereka akan mengerumuni kulit kepiting dan membungkus kepiting tersebut dengan jaring-jaring mereka. Lalu mereka akan menariknya sekitar satu atau dua meter dari permukaan tanah, untuk menghindari serangan hewan lain dan terjangan air laut. Bayangkan laba-laba yang ukurannya hanya sebesar biji kedelai, akan tetapi ia mampu menarik kulit kepiting sampai sekitar satu atau dua meter dari pemukaan tanah. Sangatlah sulit membayangkan betapa beratnya pekerjaan ini. Sebanding dengan upaya seseorang yang ingin mengangkat besi seberat satu ton sampai setinggi hampir dua kilometer dari permukaan tanah. Dapatkah manusia melakukan ini? Lalu bagaimana laba-laba tersebut dapat melakukan pekerjaan yang berat ini?

Tentu saja mereka memiliki caranya. Pertama, mereka akan mencari dahan yang kokoh di antara ranting-ranting pohon. Kemudian mereka memanjat lokasi itu dan mengulurkan jaring mereka ke kulit kepiting. Tetapi mungkinkah makhluk kecil itu menarik kulit kepiting yang jauh lebih besar dan berat darinya? Sebenarnya, apa yang terjadi adalah jaring yang diulurkan oleh laba-laba itu berada dalam keadaan basah. Dan setelah jaring itu berangsur kering, jaring itu akan mengerut dan dengan demikian menarik kulit kepiting itu ke atas, mungkin sekitar lima atau sepuluh milimeter. Kemudian, laba-laba itu akan memanjat ke bagian yang lebih tinggi dan mengulurkan rangkaian jaring yang berikutnya. Setelah jaring itu kering, kulit kepiting itu akan diangkat ke lokasi yang lebih tinggi. Demikianlah hal ini dilakukan berulang-ulang. Sebagai sentuhan akhirnya ia akan mengeluarkan rangkaian jaring-jaringnya untuk mengokohkan kedudukan kulit kepiting itu. Tidakkah ini hal yang ajaib? Manusia saja mungkin tidak secerdas mereka.

Dapatkah evolusi mengajarkan hal semacam itu kepada laba-laba ini? Bagaimana laba-laba itu bisa tahu cara untuk mengerjakan hal semacam itu jika bukan karena Allah yang menciptakan dan menaruh kemampuan itu di dalam dirinya? Bagaimana dia bisa berevolusi sampai ke tingkatan ia tahu cara untuk mengerjakannya? Generasi leluhur yang mana yang mengajarkan hal itu kepada laba-laba itu??

Ada contoh lain lagi di samping laba-laba. Ada berbagai macam lebah. Di antara sekian macam itu, ada jenis tawon yang memiliki ciri-ciri yang unik. Tawon ini akan mati setelah berkembang biak. Persoalan terbesarnya adalah bagaimana keturunannya bisa dirawat setelah ia mati? Tawon jantan tidak peduli. Ia akan pergi begitu saja. Hanya tawon betina yang mau merawat keturunannya. Namun masalahnya adalah, ia akan segera mati setelah selesai bertelur. Lalu bagaimana ia bisa menyimpan makanan supaya anak-anak tawon yang baru lahir itu tidak akan mati kelaparan?

Sebelum sang induk bertelur, ia akan menangkap beberapa serangga dan menyuntiknya dengan sengatnya. Jumlah racun yang disuntikkan cukup untuk sekadar membuat korbannya pingsan. Kemudian, induk tawon itu akan bertelur dan terbang ke tepat lain untuk mati. Ketika bayi-bayi tawon itu keluar dari kepompongnya, makanan yang berlimpah sudah disediakan bagi mereka. Jumlahnya cukup untuk mereka makan sampai mereka cukup dewasa dan mampu untuk berburu mangsa mereka sendiri. Bukankah ini hal yang ajaib? Induk tawon tahu bagaimana menyimpan persediaan makanan, dan yang paling aneh adalah ketepatan takaran pembius yang dia gunakan – cukup untuk menidurkan tetapi tidak sampai membunuh. Jika serangga itu mati, maka ia tidak akan dapat dimakan karena akan membusuk dalam beberapa hari, dan bayi-bayi tawon tidak akan mendapatkan persediaan makanan saat mereka lahir.

Diperlukan penelitian bertahun-tahun bagi kita untuk bisa menakar dosis yang tepat. Sudah ada kasus-kasus medis di mana jumlah obat bius yang dipakai doktor terlalu banyak sehingga pasien yang dibius tidak bangun setelah operasi. Akan tetapi, tawon ini sangat tepat dalam mengukur dosisnya sehingga serangga yang dibiusnya tidak mati dan juga tidak mendadak terbangun karena kurangnya dosis bius. Jika serangga-serangga itu terbangun sebelum bayi-bayi tawon itu lahir, mungkin malah bayi-bayi tawon itu yang menjadi santapannya! Hal yang ajaib adalah, siapakah yang mengajarkan hal itu kepada mereka? Apakah sumber dari keajaiban itu kalau bukan Allah Yahweh yang maha pencipta?

Itu sebabnya, jika kita mengamati ilmu pengetahuan, entah itu astrologi, astronomi, atau biologi, kita akan melihat bahwa semuanya mengarah kepada Allah yang tidak sekadar memiliki kuasa, tetapi juga hikmat yang tidak ada batasnya. Anda dan saya tidak akan sampai pada kemampuan membuat rancangan semacam itu, akan tetapi Dia maha kuasa, maha tahu, dan maha pengasih. Dia adalah Allah yang sangat mengasihi dan kebesaran-Nya terletak pada perlindungan-Nya atas semua makhluk-makhluk ciptaan-Nya termasuk serangga-serangga kecil itu.

Ilmu pengetahuan dan Alkitab tidak saling bertentangan. Semakin lama, ilmu pengetahuan semakin membuktikan kebenaran dan ketepatan Alkitab. Semakin banyak penelitian ilmiah yang mengungkapkan bahwa makhluk hidup tidak mungkin berasal dari evolusi.


Firman Tuhan

Jenis bukti yang kedua adalah Alkitab. Alkitab ini membuktikan bahwa Allah itu ada. Bagaimana cara Alkitab membuktikan bahwa Allah itu ada? Alkitab di Yesaya pasal 44, ayat 6 dan 7 berkata,

“Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: ‘Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.'” Anda mungkin bertanya, “Bagaimana bisa?” Dia berkata, “Adakah Allah lain yang dapat memberitahukan hal-hal yang akan datang selain Aku?”

Peristiwa-peristiwa yang akan datang sudah diberitahukan sebelumnya – Allah sudah sejak dahulu kala menuliskan semua itu di dalam Alkitab dan Dia sudah memberitahu Anda – “Sebab memang dari dahulu telah Kukabarkan dan Kuberitahukan hal itu kepadamu. Kamulah saksi-saksi-Ku.” Jika Anda membaca Alkitab dan Anda melihat bahwa peristiwa-peristiwa yang dinubuatkan sejak dahulu telah digenapi, maka Anda akan mengetahui bahwa “Tak ada Allah lain selain Aku, tak satu pun.” 

Banyak orang akan bertanya, “Ada begitu banyak agama di dunia ini, mengapa saya harus percaya pada yang satu ini? Semuanya menyuruh orang untuk menjadi baik dan membimbing orang ke jalan yang baik, jadi bagaimana kita bisa tahu mana Allah yang benar?” Kita diberitahu satu cara untuk menguji di sini. Jika Dia adalah Allah yang benar, maka Dia pasti bisa memberitahukan apa yang akan terjadi di masa depan. Sebagai alat pembuktian-Nya, Ia dapat memberitahu Anda apa yang akan terjadi. Bukankah ini ujian yang adil?

Jumlah nubuat di dalam Alkitab bukan sekadar sepuluh atau dua puluh buah. Ada lebih dari seribu atau dua ribu nubuat di dalam Alkitab. Jika hanya ada satu atau dua nubuat, maka kegenapan mungkin terjadi secara kebetulan. Sebagian orang, dalam rangka menentang kebenaran Alkitab, menyatakan bahwa Alkitab ditulis setelah terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut. Akan tetapi, penelitian arkeologi menunjukkan bahwa Alkitab ditulis sebelum peristiwa-peristiwa itu berlangsung.

Saya akan membagikan beberapa contoh. Nubuat di dalam Alkitab tidak kabur seperti yang biasa dibuat oleh para peramal. Apa yang diucapkan oleh si peramal bisa diartikan sesuka hati Anda karena ucapannya sangatlah kabur, bukan yang ini juga bukan yang itu. Akan tetapi, jika Anda perhatikan isi Alkitab, Anda akan tahu bahwa apa yang disampaikan sangatlah berbeda.

Yeremia pasal 51 ditulis sebelum tahun 1000 Sebelum Masehi. Ia berbicara tentang akhir dari negara kuno Babel. Apa nubuat Allah tentang negara ini? Yeremia 51:58 –

“Beginilah firman TUHAN semesta alam: Tembok-tembok tebal Babel akan disamaratakan, dan pintu-pintu gerbangnya yang tinggi akan dibakar dengan api, sehingga bangsa-bangsa bersusah-susah untuk yang sia-sia dan suku-suku bangsa berlelah untuk api saja.”

Nasib akhir dari Babel dinubuatkan di sini. Sangat jelas, bahkan bagaimana nasib tembok kotanya juga dinubuatkan. Dengan sangat jelas dituliskan bahwa tembok kota itu akan dihancurkan sepenuhnya (utterly broken) dan dalam beberapa terjemahan lain diterjemahkan dengan kata diratakan dengan tanah (completely razed). Segenap tempat itu akan diratakan dengan tanah, tidak ada yang akan tersisa. Demikianlah apa yang dinubuatkan oleh Alkitab sebelum hal itu terjadi.

Kota macam apakah Babilon itu? Ini adalah kota yang paling besar dan paling tidak bisa ditembus sejak awal sejarah umat manusia. Tembok kotanya setinggi sekitar 65 meter yang sebanding dengan bangunan bertingkat 14 atau 15 di zaman ini. Kota ini dibangun dengan teknologi yang sangat mengagumkan untuk ukuran zaman dahulu. Bagian dasar dari tembok kota itu tebalnya sekitar 60 meter. Ada ruang-ruang di dalamnya untuk keperluan tempat tinggal, pos jaga, tangga-tangga dan sebagainya. Ia merupakan kota yang paling kokoh perlindungannya dalam sejarah umat manusia.

Pemandangan di balik tembok kota itu juga sangatlah indah. Kota Babilon adalah salah satu dari sepuluh keajaiban dunia zaman purba. Di dalamnya terdapat taman gantung Babilon yang sangat terkenal, telaga-telaga, paviliun dan bangunan-bangunan lainnya. Kota-kota modern sekalipun akan sulit dapat bersaing dengannya.

Allah berkata bahwa kota yang aman dan megah itu akan dimusnahkan sepenuhnya dan tembok kota yang tidak bisa ditembus itu akan diratakan dengan tanah. Mungkin Anda akan berkata, “Babilon adalah kota yang ada pada sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Tentu saja, kota kuno itu akan diratakan dengan tanah, karena sekarang adalah tahun 2000 Sesudah Masehi.”

Benarkah? Apakah persoalannya sesederhana itu?

Seberapa tua tembok besar di China? Apakah ia sudah diratakan dengan tanah? Jangan berpikir bahwa semua tembok tua akan hancur sejalan dengan waktu. Tembok besar China tidak sebesar tembok kota Babilon dan tembok besar China dibangun melintasi pegunungan. Walaupun demikian, tetapi ia bisa bertahan menghadapi angin dan hujan tanpa runtuh. Tembok besar China berusia lebih tua daripada kota Babilon dan masih berdiri teguh. Jadi, janganlah berpikir bahwa kota-kota kuno pasti sudah rubuh sekarang. Tentu saja ia akan mengalami kerusakan akan tetapi tentunya masih akan ada sisa-sisa keberadaannnya.

Ambillah contoh Tembok Ratapan yang sangat terkenal di Yerusalem. Bait Allah yang asli sudah rubuh dan hanya menyisakan tembok bagian barat. Oleh karena itu, Tembok Ratapan ini juga disebut Tembok Barat. Tembok kuno ini masih bertahan sejak lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Jadi, janganlah berpikir bahwa kota-kota kuno pasti sudah runtuh sekarang. Belum tentu runtuh. Hanya kota Babilon ini yang hancur lebur karena Allah sudah menubuatkannya.

Keruntuhan tembok kota ini tidak langsung terjadi. Tentara Persia mengepung Babel sekitar tahun 500 Sebelum Masehi dan berhasil merebut kota itu. Sejak saat itu, Babel tidak lagi menjadi suatu negara. Tetapi bangsa Persia tidak menghancurkan kota Babilon. Kota itu tetap ada dan tembok kota itu bahkan masih bertahan sampai pada zaman Yunani selama masa pemerintahan Aleksander Agung di tahun 300 Sebelum Masehi. Belakangan, tampillah Kekaisaran Roma yang mengambil alih kota itu di masa Yesus Kristus, sekitar tahun 0 Masehi. Pada zaman ini, bahkan setelah lewat 500 tahun, kota itu masih ada berikut tembok kotanya.

Di tahun 300 Masehi, salah satu kaisar Roma, Julian, berperang dengan raja-raja Persia dan peperangan itu berlangsung di kota Babilon. Para musuhnya memanfaatkan reruntuhan tembok kota itu sebagai kubu pertahanan, dan kaisar Julian, di dalam kemarahannya, memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan reruntuhan kota itu sepenuhnya sehingga pihak musuh tidak lagi memiliki kubu pertahanan dan Julian berhasil mengalahkan mereka. Demikianlah, baru di dalam peperangan di tahun 300 M inilah reruntuhan kota Babilon benar-benar dihancurkan.

Memerlukan waktu sekitar 800 tahun sebelum nubuatan ini digenapi. Lalu kapankah nubuatan ini dituliskan jika anggapan bahwa nubuatan ini ditulis setelah peristiwa itu terjadi? Sangatlah mustahil nubuatan itu ditulis setelah kejadian karena kita tahu bahwa Perjanjian Lama sudah ada jauh sebelum Yesus datang ke dunia. Perjanjian Baru ditulis di sekitar jaman Yesus, jadi sangatlah mustahil kalau nubuatan ini ditulis setelah itu. Apa yang tertulis Kitab Suci sangatlah tepat.

Mari kita lihat pasal 51:26 –

“Orang tidak akan mengambil batu penjuru atau batu dasar dari padamu, tetapi engkau akan menjadi tempat tandus yang kekal, demikianlah firman TUHAN.”

Ini adalah nubuatan lain yang tidak sekadar berbicara tentang penghancuran tetapi juga tentang ketandusan tempat itu selamanya. Ini sangat berbeda dengan kota-kota kuno lainnya. Sekalipun banyak kota kuno yang dihancurkan tetapi setelah itu kotanya dibangun kembali. Ada beberapa kota kuno yang sampai lebih dari 10 kali dibangun. Akan tetapi, ayat ini berkata bahwa Babilon tidak akan pernah dibangun kembali, bahwa ia akan tandus selamanya.

Pernyataan ini sangatlah serius dan dapat dengan mudah untuk dibatalkan karena orang-orang yang tidak percaya pada Alkitab bisa dengan sengaja menentang nubuatan ini dan mengumpulkan segala sumber daya untuk membangun kembali kota ini. Pernah ada satu orang yang berniat seperti itu. Pada zaman itu, sekalipun kota Babilon belum diratakan dengan tanah dan keadaannya sudah tidak bisa diperbaiki lagi tetapi penguasa dunia pada waktu itu, Aleksander Agung mengeluarkan perintah untuk memindahkan ibu kota kekaisarannya ke kota Babilon. Ia memilih lokasi itu karena ia sangat strategis.

Sungai Efrat menyediakan sumber air yang berlimpah dan letaknya juga sangat sesuai dengan kepentingan militer. Jadi, Aleksander Agung memilih untuk pindah ke sana dan berniat untuk membangun kembali kota Babilon. Tetapi, apakah dia berhasil? Tidak, dia gagal karena dia mati muda. Dia mati oleh suatu penyakit, dua minggu setelah mengeluarkan perintah itu. Dia gagal mewujudkan niatnya.

Sampai dengan sekarang ini, Anda tidak akan menemukan apa-apa jika Anda mengunjungi lokasi bekas kota Babilon. Pemandu wisata akan memberitahu Anda bahwa lokasi itu adalah bekas kota purba Babilon. Tapi yang terlihat sekarang hanyalah padang pasir belaka. Sesuai nubuat Alkitab, tandus selama-lamanya  dan tidak ada orang yang akan tinggal di sana. 

Di dalam pasal yang sama, ayat 42-43 dikatakan,

“Laut telah naik meliputi Babel, gelombang-gelombangnya yang menderu telah melingkupinya. Kota-kotanya sudah menjadi tempat tandus, menjadi negeri yang kering dan padang belantara, negeri yang tidak didiami oleh seorangpun dan yang tidak dilewati oleh seorang manusiapun.”

Apanya yang spesial dari kedua ayat ini? Yang pertama berkata tentang laut yang meliputi kota Babel, yang belakangan berkata tentang Babel yang menjadi negeri yang kering dan padang belantara. Keduanya bertolak belakang. Lalu manakah yang benar? Ia akan diliputi oleh air laut atau menjadi padang belantara?

Demikianlah, jika Anda membaca Alkitab dengan teliti, Anda akan melihat banyak keganjilan seperti ini. Jangan pernah menganggap bahwa ini adalah suatu kontradiksi. Kita memiliki pandangan semacam ini hanya karena pengetahuan kita yang terlalu dangkal. Anda tidak akan berani mengkritik Alkitab jika Anda melakukan penelitian yang lebih mendalam lagi.

Sekarang ini, ada masa dua bulan di mana sungai Efrat mengalami banjir. Banjir itu akan meliputi segenap daerah di sekitarnya dan menenggelamkan Babilon, dan mengubah daerah itu menjadi rawa-rawa, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Alkitab – air laut akan naik dan meliputinya. Akan tetapi, banjir itu hanya akan berlangsung selama dua bulan di dalam setahun, dan pada bulan-bulan yang lainnya tanah itu menjadi kering karena cuaca di tempat itu kering dan panas. Retakan-retakan muncul di permukaan tanah dan memperlihatkan tanah yang tandus dan kering. Bukankah ini ajaib?

Allah menubuatkan dengan ketepatan yang sempurna dan sangat jelas setiap perincian sampai yang paling kecil. Pada permukaannya, terlihat seperti ada kontradiksi akan tetapi jika Anda meneliti kenyataannya, maka Anda akan melihat bahwa tidak ada pertentangan.

Saya ingin bertanya, jika Allah itu tidak ada, lalu siapakah yang menuliskan semua ini? Bagaimana orang itu bisa tahu bahwa semua ini akan terjadi? Sampai dengan hari ini, tidak ada satu orang pun dan tidak ada satu bukti arkeologi pun yang bisa memastikan bahwa nubuatan Alkitab itu salah. Tentu saja, tidak semua nubuatan sudah terlaksana. Bahkan nubuatan yang baru saja kita bicarakan memerlukan waktu 800 tahun untuk digenapi.

Sebenarnya, Alkitab juga menubuatkan tentang Mesir di dalam Yehezkiel 29:14-15 –

“Dan Aku akan memulihkan keadaan Mesir dan mengembalikan mereka ke tanah Patros, yaitu tanah asal mereka, dan di sana mereka menjadi kerajaan yang lemah. Di antara kerajaan-kerajaan ia akan yang paling lemah dan tidak akan dapat meninggikan dirinya lagi di atas bangsa-bangsa lain. Aku akan membuat mereka begitu lemah, sehingga mereka tidak akan memerintah bangsa-bangsa lagi.”

Perhatikanlah keadaan dunia sekarang ini. Anda akan mendapati bahwa Mesir sekarang ini hanya sebuah negara kecil tanpa pengaruh yang berarti di kancah politik dunia. Nubuatan di dalam Alkitab sangatlah akurat. Tidak dinubuatkan bahwa Babel akan menjadi negara kecil dan Mesir akan kosong tidak berpenghuni. Demikianlah, Anda akan mendapati bahwa Alkitab sangatlah tepat. Sekarang ini, segala nubuat yang ditetapkan mengenai Babel dan Mesir sudah menjadi kenyataan. Bagaimana mungkin Allah itu tidak nyata?


Mukjizat

Karena keterbatasan waktu, kita akan masuk segera ke dalam jenis bukti yang ketiga. Jenis bukti ini adalah tanda dan mukjizat yang masih terjadi sampai sekarang ini. Ini membuktikan bahwa Allah tidak berhenti bekerja. Sampai dengan sekarang, Allah tetaplah Allah yang hidup. Allah masih mengerjakan berbagai tanda dan mukjizat untuk membuktikan keberadaan-Nya kepada kita.

Saya akan mengutip satu contoh yang nyata. Contoh ini dimuat di dalam majalah ‘Times’. Saya sengaja mengambil contoh yang ini dari majalah ‘Times’ dan bukan dari buku-buku Kristen, yang mungkin memiliki bias tertentu. Majalah Times adalah salah satu majalah di dunia ini yang tingkat penjualannya termasuk yang tertinggi. Majalah ini yang beredar secara internasional dan tentunya memiliki ketepatan dan keterbukaan, sebagaimana yang telah menjadi ciri utamanya. Ia tidak akan berat sebelah dan memihak pada kekristenan.

Pada tahun lalu, Times menuliskan suatu artikel tentang sebuah keluarga di North Carolina. Keluarga ini memiliki bayi yang berusia empat bulan yang bernama Elizabeth. Ayahnya melihat bahwa mata kanan bayi ini selalu saja berair dan tidak bertenaga. Hal ini bukan karena si bayi sedang mengantuk melainkan karena bola matanya tidak bereaksi terhadap cahaya. Kakeknya, seorang ahli bedah lulusan Harvard, merasa khawatir dan menganjurkan agar orang tua Elizabeth membawa anak mereka ke dokter.

Demikianlah, mereka lalu membawa bayi itu ke dokter mata. Dokter mata lalu menyarankan mereka untuk mendatangi dokter anak. Kemudian si dokter anak menyuruh mereka mendatangi dokter syaraf. Keadaan semakin lama tampaknya semakin buruk saja, dari sekadar masalah bola mata sampai ke masalah kelainan fisik, sampai ke masalah gangguan syaraf. Pada akhirnya, Elizabeth divonis menderita tumor otak yang mungkin mempengaruhi penglihatannya.

Orang tuanya adalah orang Kristen dan mereka berdoa dengan sepenuh hati. Mereka memohon kepada Allah untuk menyembuhkan si anak. Belakangan, para dokter menyarankan mereka untuk menjalani operasi pemeriksaan. Operasi di otak sangatlah berbahaya karena banyaknya jaringan syaraf maka mereka tidak berani melakukan operasi yang bersifat luas. Para dokter menyarankan untuk melakukan operasi pemeriksaan yang memiliki 20% peluang untuk menimbulkan kerusakan otak yang berdampak pada kehilangan sebagian ingatan atau bahkan sebagian kemampuan yang lain. Namun mereka tidak punya pilihan lain kecuali menjalani operasi ini sekalipun ada 20% resiko kerusakan otak. Mereka melakukan operasi itu dan mengambil sedikit contoh dari tumor itu untuk diteliti.

Hasilnya menunjukkan bahwa kondisinya jauh lebih buruk dari yang diperkirakan sebelumnya. Tumor itu ternyata adalah jenis tumor yang sangat jarang dan sangat mematikan. Dalam sejarah kedokteran, tak seorang pun yang mengidap tumor jenis ini yang dapat bertahan hidup. Anda bisa bayangkan bagaimana perasaan orang tuanya mendengarkan laporan tersebut. Para dokter meramalkan bahwa bayi ini akan mengalami penurunan kondisi sampai ke tingkat lumpuh dan akhirnya mati.

Demikianlah, keluarganya menjadi sangat sedih dan berdoa sepenuh hati buatnya. Mereka juga meminta segenap jemaat untuk berdoa bagi dia. Di pihak lain, secara kejiwaan, mereka mempersiapkan diri untuk menerima rencana Allah seandainya dia tidak disembuhkan. Kakeknya telah menjadi dokter bedah selama tiga puluh tahunan. Dia tahu tentang penyakit ini dan setelah memeriksa laporan medis, dia bersaksi bahwa dia tidak memiliki keyakinan untuk berdoa bagi kesembuhan bagi cucunya. Karena dia tahu betapa ganasnya sel-sel tumor jenis ini, dia tidak yakin bahwa penyakit itu akan sembuh. Jadi, dia hanya bisa berdoa agar Allah merawat cucunya dan mengurangi tingkat penderitaan yang harus dia lalui.

Setelah beberapa waktu, kondisinya menjadi semakin buruk. Nanah mulai menumpuk di otaknya dan kanker itu sudah bertumbuh sampai menekan beberapa jaringan syaraf. Dia tidak bisa melihat apapun dengan mata kanannya, sehingga para dokter harus mengeluarkan nanah tersebut untuk mengurangi tekanan di otaknya. Kemudian, mereka menilai bahwa tindakan mengeluarkan nanah ini sudah tidak memadai lagi. Jadi, satu-satunya alternatif mereka adalah melakukan operasi yang lebih besar. Resikonya sangatlah tinggi, akan tetapi tidak ada lagi pilihan lain karena tumor itu telah mempengaruhi kerja organ tubuh Elizabeth. Dia terus muntah setiap hari sehingga mereka merencanakan untuk melakukan operasi ini pada hari Senin berikutnya.

Pada akhir pekan sebelum operasi ini, keluarganya menerima seorang tamu yang sedang melewati kota mereka. Dia adalah seorang pelayan full-time. Keluarga ini menampungnya di rumah selama akhir pekan itu, lalu dia ikut berdoa bersama mereka. Orang tua si anak juga meminta hamba Tuhan ini untuk mendoakan kesembuhan bagi si anak menurut ajaran Alkitab, yaitu dengan mengurapi dahi anak dengan minyak zaitun. Lalu hamba Tuhan ini melakukannya, mengurapi si bayi dengan minyak dan berdoa kepada Allah. Dia juga meninggalkan sisa minyak itu supaya keluarganya bisa melanjutkan doa pengurapan itu jika mereka memerlukannya nanti.

Sehari sebelum operasi, ketika doktor sedang melakukan tindakan rutin membuang nanah, mereka menemukan bahwa tidak ada tanda-tanda sama sekali bahwa ada nanah di dalam otak. Karena merasa aneh dengan hal ini, sekumpulan dokter mendiskusikannya sampai cukup lama, lalu memutuskan untuk melanjutkan operasi. Setelah membuka bagian otak, mereka tidak menemukan adanya tumor. Sungguh ajaib, akan tetapi, para dokter tetap dengan rencana mereka membuang sebagian dari otak si bayi. Tentu saja mereka tahu bahwa dengan memotong bagian tersebut bisa berakibat kebutaan bagi mata kanan si bayi. Demikianlah, mata kanan Elizabeth lalu menjadi buta. Ketika bagian otak yang diangkat itu diperiksa ternyata tidak ada tanda-tanda adanya tumor. Sayangnya, mereka telah mengambil keputusan yang sangat salah. Belakangan, ketika mereka memakai alat ultrasound [MRI] untuk memeriksa otaknya, tidak ditemukan adanya sel tumor atau kanker.

Tahun ini, Elizabeth telah berusia tiga belas tahun. Sekalipun mata kanannya buta sampai sekarang tetapi dia sangatlah sehat. Sayangnya dia kehilangan penglihatan di mata sebelah kanannya akibat para dokter tidak memahami kuasa Allah. Akan tetapi, setiap kali keluarganya berbicara tentang masalah ini, mereka bersyukur kepada Allah karena telah mendengar doa mereka dan bukannya meratapi hilangnya penglihatan mata kanan itu. Allah adalah Allah yang ajaib. Dapatkah Anda memberitahu saya bagaimana persoalan ini bisa dijelaskan?

Kisah ini ditemukan di dalam majalah “Times”, bukan kisah yang dikarang oleh saya atau salah satu dari para pengikut Kristus yang fanatik. Apakah kesembuhan itu terjadi sebagai suatu kebetulan yang alami? Kita tidak melihat adanya kebetulan lain yang serupa, bukankah begitu? Allah itu nyata. Sampai dengan saat ini, Allah masih menggunakan berbagai bentuk bukti untuk menyatakan bahwa Dia ada supaya kita bisa mencari dan mengenal Dia.

Tentu saja Anda akan bertanya mengapa Dia tidak menyembuhkan orang lain. Tidaklah penting bagi Dia untuk melakukan hal itu. Allah hanya ingin menyediakan bukti bagi kita. Dia hanya perlu melakukannya sesekali saja untuk membuktikan bahwa Dia itu nyata. Dia tidak perlu melakukannya berulang kali untuk menyatakan realitasNya – sekali saja sudah cukup. Keinginan Allah bukanlah untuk menyembuhkan semua orang di dunia ini, kalau demikian, maka semua dokter di dunia ini akan menganggur dan Allah akan punya masalah baru untuk diurus! 

Allah tidak berminat untuk merusak kehidupan normal manusia di bumi ini. Dia hanya ingin mengerjakan beberapa mukjizat untuk memberi bukti bagi kita akan realitas-Nya. Sebenarnya, satu atau dua bukti sudah lebih dari cukup untuk menyatakan keberadaan-Nya.

Saya telah melihat orang mati yang dibangkitkan kembali. Saya telah berbicara dengan orang yang dibangkitkan dari kematian. Jadi bukannya saya tidak pernah melihat hal-hal semacam itu. Bagi saya, mengapakah saya merelakan segala-galanya demi Tuhan? Karena saya tahu pasti bahwa Allah yang ini nyata. Saya mempertaruhkan hidup saya untuk ini. Memang benar bahwa orang mati bisa dibangkitkan – saya telah melihat kejadian ini dengan mata saya sendiri.

Yang lebih penting bukanlah perkara bahwa orang mati telah dibangkitkan, tetapi kehidupan orang-orang yang diubahkan. Mukjizat terbesar adalah melihat hidup orang dibalikkan sepenuhnya. Di masa lalunya, dia adalah seorang penjudi, di masa lalunya, dia adalah pecandu obat bius, di masa lalunya, dia adalah pecandu alkohol, di masa lalunya, dia seorang pemarah yang telah membuat keluarganya berantakan. Satu demi satu, saya melihat bagaimana mereka diubah oleh Allah. Mukjizat ini jauh lebih berharga ketimbang penyakit yang disembuhkan. Saya telah menyaksikan banyak kejadian ini selama lebih dari sepuluh tahun saya melayani Tuhan.


Apa yang akan Anda lakukan?

Persoalannya terletak pada diri Anda, bukan pada diri saya. Seperti yang telah saya katakan, Allah adalah Allah yang sangat adil. Dia ingin agar Anda percaya kepada-Nya. Dia akan memberikan bukti yang tidak sekadar mencukupi bagi Anda, tetapi bukti yang berlimpah.

Sebenarnya satu jenis bukti saja sudah memadai akan tetapi Dia berulang kali menyediakan begitu banyak bukti kepada kita. Anda boleh mengutarakannya jika Anda merasa semua ini masih belum cukup. Anda boleh sebutkan bukti macam apa yang Anda inginkan dan jika apa yang Anda inginkan itu memang wajar, maka Allah akan menyediakan bukti itu bagi Anda. Allah sangatlah adil dan berbelas kasih. Persoalannya adalah apakah Anda ingin mengenal Dia atau tidak? Anda akan punya kesempatan untuk menjawab pertanyaan ini di hadapan Allah nanti.

Di manakah kedudukan Anda sekarang? Apa tanggapan Anda setelah mendengarkan semua ini dan setelah mengetahui begitu banyak hal? Mengapa Anda tidak bersedia mengamati semua fakta itu dengan jelas? Mungkin Anda akan berkata bahwa Anda sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk memeriksa semua bukti itu..

Apakah Anda pikir Allah akan menerima jawaban semacam itu? Jadi pokok persoalannya terletak pada Anda. Sebenarnya, keberadaan Anda itu juga merupakan suatu bukti, akan tetapi saya tidak punya waktu untuk menguraikannya. Anda adalah bukti bahwa Allah itu nyata.

Renungkanlah persoalan ini. Banyak orang yang hati nuraninya akan mengatakan bahwa ada Satu Pribadi di balik langit dan di bumi ini sekalipun mereka tidak yakin sepenuhnya siapa Pribadi itu. Jika Anda menanyakan hati nurani Anda, Anda akan tahu bahwa ada penghakiman atas dunia ini. Penulis skrip drama dan film tahu akan hal ini. Tidak ada drama yang berakhir dengan semua orang baik mati dan semua orang jahat lolos dari penghakiman. Drama semacam itu tidak akan laris di pasaran. Orang-orang tahu bahwa ada sebab dan akibat di dunia ini.

Akan tetapi bagaimana mungkin ada pembalasan jika Allah tidak ada? Bagaimana ada pembalasan jika dunia ini tercipta akibat dari sebuah ledakan besar (Bing Bang)? Anda sendiri adalah saksi – tanyakanlah hati nurani Anda dan Anda akan menemukan jawabannya.

Jadi, saya berharap Anda bersedia memeriksa apa yang telah saya sampaikan. Anda harus memeriksa lebih jauh lagi perkara ini, sama seperti kasus di pengadilan, di mana dasar-dasar dari bukti yang memadai telah disampaikan. Paling sedikit, saya telah memberikan Anda bukti-bukti itu. Entah Anda akan menindak-lanjutinya dengan suatu perbuatan atau tidak, terserah pada Anda. Namun hal ini akan mempengaruhi kehidupan Anda ke depannya.

Allah tidak takut diuji. Jika Anda ingin mencari tahu, Anda pasti akan mengerti bahwa Dia itu nyata. Pertanyaannya adalah – apakah Anda berani menerima tantangan ini?

 

Berikan Komentar Anda: