SC Chuah | 8 Nopember 2019 |

Tema camp ini diambil dari 1 Yohanes 2:6,

“Siapa yang mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”

Dalam bahasa Inggris, “ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” adalah “ought to walk in the same way in which he walked”, jadinya “Walking as He Walked”. Indonesian Modern Bible juga menerjemahkan ayat itu secara literal, “Siapa yang berkata ia tinggal di dalam Yesus, ia seharusnya berjalan sebagaimana Dia telah berjalan.” Sekilas baca, saudara segera dapat merasakan betapa pentingnya ayat ini dalam membentuk kehidupan kita. Namun ayat ini sangat jarang dibicarakan atau dikhotbahkan. Banyak yang mengaku Kristen, banyak yang mengaku ada di dalam Kristus, tetapi berapa banyak yang hidup sebagaimana Kristus telah hidup? Atau setidaknya, berusaha hidup seperti itu? Pada kenyataannya, hal ini merupakan suatu tantangan yang sangat besar. Menjadi seorang Kristen bukanlah untuk orang yang berusaha melarikan diri dari kerasnya kenyataan hidup. Injil bukanlah untuk orang yang mencari pelarian, atau orang yang mencari aman dan nyaman.

Mungkin itu sebabnya, hal ini jarang dibahas karena kalau hal ini ditekankan apa adanya seperti yang dinyatakan di sini, berapa banyak yang berani mengaku sebagai orang Kristen? Berapa banyak yang berani bergabung dengan gereja Anda? Jika saya berkata bahwa harapan Tuhan adalah sebuah jemaat yang setiap anggotanya berjalan seperti Yesus berjalan, dan siapa saja yang tidak mempunyai niat itu sebagai tujuan hidupnya, sebaiknya jangan bergabung di dalam jemaat ini. Ada banyak gereja lain yang siap membaptis dan menerima Anda. Kalau saya sampaikan dengan cara ini, saudara pasti akan merasa bahwa ini pernyataan yang terlalu keras. Tentu saja, saya juga tidak akan menyampaikannya seperti itu! Namun dapatkah saudara melihat bahwa ini adalah tujuan Allah bagi kita semua? Dapatkah saudara melihat kata “wajib” di situ?

Selama beberapa bulan ini, hampir setiap minggu di gereja, kita mempromosikan camp dan memajangkan slide berisi tema “Walking as He walked”. Ini berarti kita terekspos kepada ayat ini hampir setiap minggu. Namun, saat kita melihat dan membaca kalimat ini, seberapa banyak yang menanggapinya dengan serius? Apakah kita melihat tetapi tidak melihat? Mendengar tetapi tidak mendengar? Sejak awal tahun kita sudah tahu bahwa tema camp adalah “Berjalan sebagaimana Dia telah Berjalan”, tetapi selama ini apakah saudara masih marah-marah? Atau apakah ada yang masih suka ngambek? Karena saya tidak dapat membayangkan Yesus marah-marah ataupun ngambek. Andai saja kita semua menanggapi setiap firman dan setiap perintah dengan serius!


UJIAN KEASLIAN

Mari kita perhatikan konteks kepada tema ini dengan membaca 1 Yohanes 2:3-6,

Inilah tandanya bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Siapa yang berkata, “Aku mengenal Dia,” tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi siapa yang menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui bahwa kita ada di dalam Dia. Siapa yang mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Dari konteksnya, Yohanes tidak memberikan ayat-ayat ini sebagai suatu tantangan. Di sepanjang surat ini, Yohanes memberikan tanda-tanda keaslian. Kalimat “inilah tandanya” atau dalam bahasa Inggris, “by this you know”, muncul 12 kali dalam surat ini. Dengan kata lain, surat 1 Yohanes ini diberikan kepada kita bukan sebagai sebuah tantangan, tetapi sebagai ujian keaslian. Tema dari surat 1 Yohanes adalah kasih, tetapi dalam surat inilah terkandung bahasa-bahasa yang paling tajam untuk membedakan yang asli daripada yang palsu. Inilah surat yang membedakan yang asli daripada yang palsu; yang dari Allah atau yang dari Iblis; yang dari Allah atau yang dari dunia. Itulah tujuannya seluruh surat 1 Yohanes.

Itulah betapa pentingnya tema ini. Tema ini bukan sebuah tantangan atau sebuah slogan tetapi sebuah ujian keaslian. Apakah kita asli atau palsu? Apakah kita dari Allah atau dari Iblis? Dengan kata lain, kalau ada di antara kita yang tidak hidup seperti Yesus hidup, ataupun, setidaknya memiliki tujuan hidup itu, saudara tidak berasal dari Allah.


ORANG KRISTEN ASLI ATAU PALSU?

Berulang kali sudah saya katakan bahwa hal yang paling tragis di dalam hidup ini adalah menemukan bahwa di penghujung hidup kita, kita kedapatan palsu seperti di Matius 7. Banyak orang datang ke hadapan Yesus dan berkata, “Tuhan, Tuhan, aku sudah mengusir setan, melakukan banyak mukjizat dan kesembuhan demi namamu”, tetapi mereka sama sekali tidak sadar mereka itu palsu. Hal ini tidak terbayangkan ngerinya dan saya benar-benar berharap tidak ada yang di antara kita di sini yang ditemukan palsu seperti itu.

Dalam hidup ini, terdapat banyak hal yang kita bisa salah. Kita telah dan akan melakukan banyak kesalahan di dalam hidup ini. Akan tetapi sehubungan dengan hal ini, sehubungan dengan iman percaya kita, saya benar-benar merayu dan meminta kepada saudara untuk jangan pernah keliru. Dan ini benar-benar menuntut rasa cinta kepada kebenaran yang tiada ampun. Benar-benar cinta kepada kebenaran.

Kebenaran yang dimaksudkan di sini bukanlah kebenaran doktrin. Kita semua bisa duduk dan membahas dengan seru siapa Yesus secara abstrak. Kita semua ahli Kristologi. Yang jauh lebih sulit untuk dihadapi adalah kebenaran tentang diri kita sendiri. Siapa kita? Dan dari mana kita berasal? Yang jauh lebih berat untuk dibahas adalah kebenaran tentang kesalahan dan kegagalan dalam hidup kita. Kita harus berani untuk menghadapinya apa adanya. Itulah sebabnya, salah satu doa saya di hadapan Tuhan adalah, “Tuhan, lindungilah hatiku dari segala macam kepalsuan.”

Di dalam kehidupan ini, kita bisa salah dalam banyak hal. Mungkin kita salah dalam investasi bisnis dan akibat paling parah, kita bangkrut. Kalau kita bertemu doktor yang palsu, paling parah, kita cacat atau bahkan mati. Kalau kita salah mempercayai GPS, paling kita masuk ke dalam got. Kalau salah menikah, paling saudara sengsara seumur hidup dan barangkali saudara akan disempurnakan melalui penderitaan itu! Kalau saudara menikah dengan orang yang tepat, saudara akan bahagia. Kalau menikah dengan orang yang salah, menurut pepatah, saudara akan menjadi seorang filsuf. Dalam hal pernikahan, menikah dengan orang yang salah atau tepat, mendatangkan kebaikan. Tidak ada yang namanya salah menikah. Itu sebabnya, Firman Tuhan tidak mendorong perceraian. Seberat-beratnya masalah pernikahan, (saya tidak menyangkal bahwa masalah pernikahan itu bisa sangat-sangat berat), tetapi salah dalam hal apa pun, itu tidak separah salah dalam hal tema camp hari ini. Karena yang dipertaruhkan adalah apakah saudara palsu atau asli, dari Iblis atau dari Allah.


KELAKUAN YANG TIDAK KONSISTEN DENGAN PENGAKUAN

1 Yohanes 2:4 berkata demikian, “Siapa yang berkata, ‘Aku mengenal Dia,’ tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.” Bandingkan ayat ini dengan Yohanes 8:44, saudara akan menemukan bahwa seorang pendusta yang di dalamnya tidak ada kebenaran adalah gambaran yang dipakai untuk menggambarkan Iblis sendiri. Apakah saudara bisa melihat bahwa di seluruh surat 1 Yohanes, waktu dikatakan seorang itu adalah seorang pendusta, yang dimaksudkan bukannya berdusta di mulut saja? Kalau seorang itu suka berdusta dengan mulutnya, itu cukup buruk. Namun, kalau kita lihat dari surat 1 Yohanes, yang dimaksudkan sebagai pendusta adalah seorang yang apa yang dia katakan atau apa yang dia akui, tidak konsisten dengan hidupnya. Itulah seorang pendusta. Dengan kata lain, seorang yang pengakuan dan kelakuannya tidak konsisten.

Terkandung satu struktur kalimat di surat 1 Yohanes yang berbunyi, “Barangsiapa berkata…tetapi…”. Struktur kalimat ini muncul setidaknya sebanyak 7 kali. Itulah maksudnya pendusta menurut 1 Yohanes. Hidupnya, perilaku dan kelakuannya tidak sesuai dengan pengakuan mulutnya. Itulah seorang pendusta dan keturunan Iblis. Dapatkah saudara melihat dengan jelas masalah kemunafikan dari 1 Yohanes? Hidup yang tidak sesuai dengan pengakuan. Ini merupakan masalah kuno, yang sudah ada sejak gereja didirikan di zaman para rasul. Hal ini berlanjut sampai sekarang.


SUNGGUH SUDAH SEMPURNA KASIH ALLAH

Kalau kita hidup sesuai dengan firman-Nya, dijanjikan di sini bahwa “di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah”. Kata orang, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Namun menurut firman Tuhan di sini, ada sesuatu yang bisa sempurna. Ada sesuatu yang bisa sempurna di dunia yang serba tidak sempurna ini. Entah kasih Allah di sini merujuk kepada kasih kita kepada Allah, atau kasih Allah kepada kita, tidaklah terlalu jelas. Namun itu tidaklah penting karena kedua-duanya benar dan tak terpisahkan. Kalau kita hidup benar-benar seperti Yesus, hidup seperti dia hidup dan berjalan seperti dia berjalan, apa yang dialami oleh Yesus, bahwa kasih Allah itu sempurna dalam dirinya, bisa juga terjadi di dalam diri kita.

Pertanyaannya, apakah saudara menginginkan kasih Allah sempurna dalam hidup saudara? Sekalipun kita tidak banyak, tetapi harapan saya adalah agar kita semua di sini menjadikan tujuan hidup kita untuk hidup seperti Yesus hidup. Kita semua tidak sempurna. Kita jatuh bangun dalam menjalani kehidupan rohani kita. Itu hal biasa. Namun, minimal kita harus mempunyai tujuan hidup yang jelas, bahwa seluruh tujuan hidup kita, sekalipun kita jatuh bangun, kita mengarahkan hidup kita untuk berjalan seperti Yesus berjalan.

Kita harus selalu mempersoalkan banyak kata-kata bijak di dunia ini. Kata orang, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Namun menurut Firman Tuhan, ada sesuatu yang sempurna yang dapat kita alami, yakni kasih Allah di antara kita. Paulus berkata kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Memang secara materi, kita tidak dapat membawa apa-apa keluar dari dunia ini. Namun saya yakin ada sesuatu yang dapat kita bawa keluar. Dan kita memang harus membawanya keluar saat kita meninggalkan dunia ini. Apakah hal itu? Sebuah karakter. Seluruh tujuan hidup kita di dunia ini adalah untuk membentuk karakter itu. Tidak ada apa-apa yang dapat kita bawa keluar dari bumi ini. Kita masuk telanjang dan keluar telanjang, tetapi di ujung hidup kita, kita dapat membawa sesuatu. Di dalam rencana Bapa, Dia ingin agar kita membawa sebuah karakter, yaitu yang seperti anak-Nya. Kita hidup 70-80 tahun di dunia ini, dan di hujungnya yang tersisa adalah sebuah karakter. Pertanyaannya ialah, siapakah yang membentuk karakter itu? Dan karakter siapakah itu?


APAKAH INI PANGGILAN YANG MUSTAHIL?

Pertanyaan penting berikut untuk kita semua pikirkan adalah, apakah hal berjalan seperti Yesus telah berjalan itu, sesuatu yang mustahil atau mungkin? Ketika berhadapan dengan ayat seperti ini, hati kecil kebanyakan orang akan langsung berkata, “Ah, tidak mungkin…” dengan pelbagai macam dalih dan alasan. Mungkin karena itu kebanyakan orang tidak menanggapi firman Tuhan dengan serius.

Namun hal yang paling penting dalam kekristenan adalah iman. Iman pada dasarnya berarti kemampuan untuk melakukan apa yang mustahil. Itulah definisi iman. Iman adalah kemampuan yang diberikan oleh Allah untuk melakukan apa yang mustahil. Saudara telah banyak berkorban untuk datang ke camp ini, ada yang harus mengalang dana dan berjualan agar bisa datang ke camp ini, tetapi kalau tema camp ini mustahil, beli tiket pulang saja. Namun, saya yakin saudara ke sini karena saudara menyakini bahwa adalah mungkin untuk “hidup seperti Yesus hidup, untuk berjalan seperti Yesus telah berjalan.”

Setiap orang yang mau dibaptis, saya menanyakan pertanyaan yang sama. Pertanyaan saya kepada mereka adalah berdasarkan Amanat Agung, Matius 28:19-20, “pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan – berdasarkan amanat ini, saya menjadikan ini syarat utama untuk seseorang dibaptis. Saya tidak akan membaptis seorang yang ingin dibaptis… saya tidak akan juga membaptis orang yang ingin jadi Kristen… saya hanya akan membaptis orang yang ingin menjadi murid. Jadi paling minimal, calon baptisan harus setuju untuk melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Yesus. Dengan kata lain, seluruh hidup saudara sekarang, diarahkan untuk mempelajari, mengetahui dan mengenal apa yang diajarkan oleh Yesus dan untuk melakukannya. Itulah seorang murid. Dengan cara itulah kita belajar untuk hidup seperti Yesus hidup. Hanya dengan cara ini, gereja tidak akan lagi dianggap sebagai sebuah organisasi agama, tetapi sesungguhnya tubuh Kristus yang hidup yang memancarkan kemuliaan Bapa dan membawa hadirat Bapa.


TEMA CAMP: KEHENDAK BAPA YANG TERUTAMA BAGI KITA

Saya benar-benar berharap saudara sadar bahwa Bapa kita, tidak akan pernah meminta kita melakukan sesuatu yang tidak sanggup kita lakukan. Tidak ada ayah di sini yang akan menyuruh anak balitanya untuk memikul beban 10 kg. Tidak ada ayah yang akan melakukan itu. Tidak mungkin, itu bapa yang jahat dan kejam. Jadi kalau Bapa memberikan kepada kita sebuah perintah untuk kita lakukan, Dia akan memberikan kepada kita, segala sumber, segala kemampuan kepada kita untuk melakukannya.

Kalau saudara ingin anak saudara menjadi seorang dokter, saudara pasti akan memberikan segala sesuatu yang anak saudara perlukan untuk menjadi seorang dokter. Demikian juga Bapa kita. Karena Dia telah meminta kita untuk berjalan seperti Yesus berjalan, Dia akan memberikan kepada kita segala sumber kekuatan untuk melakukan hal itu.

Kita harus mendekati tema kamp ini dengan positif. Di benak banyak orang saat membaca tema kamp ini, “Berjalan seperti Yesus Berjalan,” yang terlintas adalah, hal ini adalah sesuatu yang tidak mungkin. Namun, dekatilah tema ini dengan positif. Kalau ini adalah perintah dari Bapa, Dia akan memberikan kepada kita segala anugerah, segala kekuatan untuk kita melakukannya.

Mungkin saudara pernah mendengar kisah tentang dua salesman di Inggris yang diberikan tugas untuk menilai potensi menjual sepatu di Afrika. Seorang langsung ke Afrika dan setelah beberapa hari membuat laporan telegram berikut, “Penelitian selesai. Bencana besar. Tidak ada yang pakai sepatu di sini.” Seorang lagi pergi ke kantor telegram yang sama dan membuat laporan berikut, “Penelitian selesai. Kesempatan emas! Tidak ada yang pakai sepatu di sini.” Dua orang melihat situasi yang sama dan menarik kesimpulan yang sama sekali berbeda. Inilah hal penting yang harus kita perhatikan, apa reaksi kita terhadap panggilan ini? Apa reaksi kita terhadap tema camp ini? Apakah kita seperti salesman yang pertama? Atau yang kedua?

Di Roma 8:28 dikatakan bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia”. Kebaikan di sini tidak ada kaitannya dengan kebaikan menurut pikiran kita: seperti promosi, gaji lebih gede, dulu naik sepeda, sekarang naik sepeda motor; dulu naik motor, sekarang naik mobil; dari mobil sekarang naik helikopter. Tidak ada kaitannya dengan semua itu. Ayat berikutnya memberitahu kita bahwa kebaikan di ayat 28 merujuk kepada rencana Allah dari semula, merujuk kepada rencana Allah sebelum segala sesuatu dijadikan. Rencana Allah yang sudah Dia tetapkan sebelum segala sesuatu ada, yaitu untuk umat pilihan-Nya menjadi serupa dengan gambaran anak-Nya.  Itulah kebaikan yang dimaksudkan di Roma 8:28.

Dengan kata lain, kalau saudara menjadikan tema ini, “Berjalan seperti Yesus Berjalan”, sebagai tujuan hidup saudara, saudara akan mendapati bahwa segala sesuatu di dalam hidup saudara, segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup saudara, itu akan membawa saudara dari hari ke hari menjadi lebih mirip dengan Yesus. Saudara akan menemukan “tangan” Allah di balik “segala sesuatu”.

Saya ingin setiap jemaat pulang dari sini setidaknya dengan satu keyakinan bahwa tidak ada kelemahan, tidak ada dosa, tidak ada tantangan, tidak ada apa pun di dalam diri saudara yang tidak bisa dikalahkan oleh Tuhan. Apakah itu dosa amarah, pornografi, dosa cemburu, konflik dalam hubungan, tidak ada sesuatu pun yang tidak dapat diatasi oleh Bapa kita yang merupakan sumber segala anugerah.


ALLAHLAH YANG BEKERJA DI DALAM DAN MELALUI KITA

Saya ingin mengakhiri pesan ini dengan sebuah gambaran yang indah tentang Allah kita.  Kita semua adalah hamba Allah. Kalau kita melihat ke dunia, seorang hamba adalah seorang yang melakukan kehendak Tuannya, benar? Itulah definisi seorang hamba. Namun dari Firman Tuhan dan dari pengalaman hidup saya sendiri, saya menemukan bahwa seorang hamba Tuhan adalah seorang yang melalui dia, Allah melakukan kehendak-Nya. Itu perbedaan yang sangat-sangat besar. Seorang hamba Allah bukanlah hanya seorang yang melakukan kehendak Allah, tetapi seorang hamba Allah adalah seorang yang melaluinya, Allah melakukan kehendak-Nya. Allah melakukan kehendak-Nya di dalam dan melalui hamba-Nya. Itulah indahnya menjadi seorang hamba Allah.

Baru-baru ini saya ingin mendoakan satu pokok doa yang penting. Saya hampir mau membuka mulut dan berkata kepada Bapa, “Aku telah melakukan itu dan ini untuk Engkau, sekarang aku meminta agar Engkau melakukan hal ini untuk aku.” Saya menemukan sulit untuk membuka mulut mengucapkan kalimat ini. Tidak dapat saya ucapkan. Karena saya sadar bahwa saya tidak pernah melakukan apa-apa untuk Dia. Apa pun yang terjadi, yang telah saya lakukan, Dia yang melakukannya, bukan saya yang lakukan untuk Dia. Itulah indahnya, Bapa kita. Itulah sebabnya, saya benar-benar percaya bahwa kalau saudara menjadikan tema ini tujuan hidup saudara, terlepas dari kelemahan, kesusahan, atau kegagalan saudara, saudara akan selalu mengalami anugerah-Nya, saudara akan senantiasa hidup dalam anugerah-Nya.  Saudara akan mengalami bahwa Allah, Bapa kita sangat sangat dekat dengan kita. Dia tidak jauh. Dia bukannya duduk di atas sana menyaksikan kita melakukan kehendak-Nya. Namun, Dia menyertai kita, hidup di dalam kita, mengerjakan keselamatan-Nya melalui kita bagi umat dunia ini.


KEHIDUPAN YANG MENINGGALKAN JEJAK

Yang terakhir, saya merujuk kepada desain di kaos camp kita. Banyak orang telah melewati dunia ini tanpa meninggalkan jejak. Burung terbang, tidak meninggalkan jejak. Kapal mengharungi lautan tanpa meninggalkan jejak. Namun kalau saudara hidup mengikuti Yesus, berjalan sebagaimana Yesus berjalan, kehidupan saudara akan meninggalkan jejak di bumi ini. Satu teladan untuk diikuti. Itulah sebabnya, setiap kali saudara memakai kaos camp itu, jadikan itu sebagai peringatan bagi kita bahwa kalau kita berjalan seperti dia berjalan, langkah-langkah saudara akan meninggalkan jejak di bumi ini.

 

Berikan Komentar Anda: