Pastor Jeremiah C | Yakobus 2:1-7 |

Pada kesempatan yang lalu, kita mempelajari Yakobus 1:26-27 dan membahas pertanyaan penting tentang arti melakukan firman. Di dalam ayat 26-27, kita melihat kontras antara dua macam kualitas hidup: hidup dalam ibadah yang lahiriah dan hidup dalam ibadah yang rohaniah. Rasul Yakobus ingin agar kita mengerti bahwa hal melakukan firman yang sejati itu mencakup:

1) hidup kita dikendalikan dan diubah oleh Allah;

2) mempraktekkan ajaran Tuhan di dalam kehidupan sehari-hari kita.

Inilah definisi Yakobus tentang ‘melakukan firman’. Secara sederhananya, makna melakukan firman mencakup menerima Firman Tuhan dan mengijinkan firman itu mengubah hati kita. Inilah tepatnya hal yang disampaikan oleh ayat 27 – menjaga agar diri kita tidak dicemarkan oleh dunia. Nilai-nilai kita tidak lagi dipengaruhi dan diatur oleh nilai-nilai duniawi melainkan oleh nilai-nilai Allah. Hanya dengan begitu baru perilaku, ucapan, tindakan dan hubungan kita dengan sesama manusia bisa selaras dengan hati Allah. Hanya dengan begitu kita bisa disebut sebagai pendengar dan pelaku firman. Kita harus selalu ingat bahwa berbekalkan amal baik tanpa perubahan di dalam manusia batiniah adalah ibadah yang sia-sia di mata Allah. Sebaliknya, seseorang yang hatinya telah diubah oleh Allah akan secara alami menjalankan kehendak Allah di dalam hidupnya.

 

Sikap memandang muka masalah besar dalam gereja

Hari ini, kita akan mempelajari Yakobus 2:1-7.

1 Saudara-saudaraku, jangan menunjukkan imanmu dalam Tu(h)an kita yang mulia, Yesus Kristus, dengan membeda-bedakan orang.
2 Jika ada orang yang datang ke sinagogemu dengan memakai cincin emas dan pakaian yang mahal, pada saat yang sama, datang juga orang miskin yang berpakaian kotor,
3 dan kamu memberikan perhatian khusus kepada orang yang berpakaian mahal itu dan berkata kepadanya, “Silakan duduk di tempat yang baik ini,” tetapi kepada orang miskin itu kamu berkata, “Berdirilah di sana!” atau “Duduklah di dekat kakiku!”
4 Bukankah kamu sudah membeda-bedakan di antara kamu dan menjadi hakim dengan pikiran-pikiran yang jahat?
5 Saudara-saudara yang kukasihi, dengarkanlah! Bukankah Allah telah memilih orang yang miskin di mata dunia untuk menjadi kaya dalam iman dan mewarisi Kerajaan Allah yang telah Ia janjikan kepada mereka yang mengasihi Dia?
6 Akan tetapi, kamu telah menghina orang miskin. Bukankah orang kaya yang menindas dan menyeretmu ke pengadilan?
7 Bukankah merekalah yang menghujat Nama baik, yang olehnya kamu dipanggil?

Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, Yakobus berbicara tentang pentingnya menjadi pendengar dan pelaku firman mulai ayat 19 dan seterusnya. Penekanan ini melebar sampai ke pasal 2. Rasul Yakobus membahas masalah yang lazim terjadi di tengah jemaat di dalam Yakobus 2:1-7, yaitu sikap memandang muka. Jika Anda seorang non-Kristen, harap jangan menganggap aneh jika sikap berat sebelah juga ada di tengah gereja. Sebenarnya, ini adalah persoalan yang lazim terjadi di tengah gereja. Seringkali, gereja justru melakukan hal yang bertolak belakang dengan Yakobus 1:27. Gereja bukan saja tidak menjaga agar dirinya tidak dicemarkan oleh dunia, tetapi malah mengikuti dunia. Jika Anda seorang Kristen, harap jangan buru-buru menyangkal apa yang saya sampaikan ini. Sikap memandang muka ini sering terlihat bukan hanya di kalangan jemaat awam saja, tetapi sangat sering ditemui juga di kalangan pemimpin gereja. Banyak perpecahan dan pertentangan di dalam gereja ini yang bersumber pada sikap memandang muka ini. Ini juga merupakan salah satu persoalan yang menimpa jemaat di Korintus. Tentu saja, sikap berat sebelah hanya merupakan puncak dari ‘gunung es’; kita akan meneliti sampai jauh ke dalam persoalan ini sesaat lagi.

Sikap memandang muka adalah hal yang sudah sangat akrab dengan kita. Beberapa tahun terakhir ini, fenomena ini telah meluas di merata tempat karena reformasi ekonomi yang menyebabkan peningkatan dramatis di dalam standar kehidupan, dan munculnya celah yang semakin melebar antara yang miskin dan yang kaya. Orang-orang berjuang keras mengejar kenikmatan material di dalam hidup ini. Yang paling disesalkan adalah bahwa pemilikian harta benda itu lalu menjadi cara kita mengukur seseorang. Setiap kali Anda berkenalan, pertama-tama Anda akan mengamati pakaian yang dia kenakan, sepatu yang dia pakai, merek jam tangannya serta jenis mobil yang dia kendarai. Ringkasnya – semua berkaitan dengan uang. Kuncinya terletak pada apakah Anda memiliki uang. Jika Anda tidak punya uang, maka Anda akan diremehkan dan dilecehkan oleh orang lain. Jika Anda punya uang, maka Anda akan disanjung, dihargai dan diterima oleh semua orang. Itulah sebabnya mengapa orang menjadi semakin cinta uang. Uang harus ada untuk semua urusan. Kita mencari uang untuk berbagai keperluan. Oleh karena berbagai tekanan itu sangat nyata, banyak orang berpura-pura makmur agar tidak diremehkan oleh orang lain. Tak peduli seberapa berat hidup ini jadinya, kita harus mengenakan pakaian yang bagus, jam tangan yang berkilauan, dan sepatu yang bermerek. Setidaknya kita merasa lebih percaya diri saat bertemu dengan orang lain.

Jika Anda khawatir akan penilaian orang lain terhadap Anda, Anda pasti akan memperlakukan orang lain dengan cara yang sama. Sebagai orang yang percaya dan melayani Yesus Kristus, akankah Anda menilai buku berdasarkan sampulnya? Tak perlu dikatakan lagi, mereka yang tidak percaya kepada Tuhan hidup dengan sikap memandang muka. Oleh karena mereka tidak takut akan Allah dan mereka tidak memegang harapan yang kekal, maka prestasi duniawi menjadi segala-galanya bagi mereka. Akan tetapi, jika gereja juga menerapkan sikap memandang muka, apakah Anda akan merasa terkejut atau kecewa (kita sedang membahas tentang gereja mula-mula, jika gereja mula-mula saja sudah memandang muka, maka gereja masa kini akan lebih buruk lagi)?

Harap jangan terkejut jika Anda adalah orang yang belum percaya kepada Tuhan. Saya beritahu Anda, ada begitu banyak persoalan yang melanda gereja karena begitu banyaknya orang Kristen yang mendengar, tetapi tidak melakukan firman. Inilah persoalan yang sedang ditangani oleh rasul Yakobus. Tidak setiap orang yang menyebut dirinya Kristen benar-benar hidup di bawah pemerintahan Tuhan. Anda tidak akan mengalami kuasa pengubah hidup dari Allah jika Anda belum menyerahkan hidup Anda sepenuhnya kepada Allah. Jadi, sekalipun Anda menyatakan diri Anda sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, kehidupan Anda masih belum berubah, Anda tidak berbeda dengan orang dunia yang lainnya. Orang yang tidak percaya itu memandang muka, dan Anda juga demikian. Anda sama sekali tidak punya kuasa untuk menolak pencemaran dari dunia.

Masalah pilih kasih sudah sangat meluas di tengah gereja. Sedemikian meluasnya sehingga kita menjadi terbiasa dengan keadaan ini. Janganlah tergesa-gesa menerapkan cermin yang satu ini pada orang lain jika Anda adalah seorang Kristen. Harap Anda arahkan cermin itu ke wajah Anda dan cari tahu apakah Anda sendiri bersikap seperti itu. Coba amati sikap dan reaksi Anda terhadap orang lain. Sebagai contoh, jika seorang penginjil terkenal mengunjungi kita, apakah Anda akan menunjukkan penghormatan dan perhatian yang khusus kepada dia dan juga kepada ucapannya? Bukankah sikap hati semacam ini menunjukkan adanya sikap yang berat sebelah? Lalu, bagaimana sikap Anda terhadap mereka yang punya banyak uang, kekuasaan, berpendidikan dan berkedudukan? Apakah Anda cenderung lebih suka berteman dengan mereka? Apakah Anda cenderung meremehkan orang yang tidak punya kedudukan, pendidikan, uang, dan tidak memberi keuntungan apa-apa buat Anda? Gereja zaman sekarang sangat menghormati orang kaya. Sangatlah mudah bagi orang Kristen yang kaya untuk berperan serta di dalam kepemimpinan gereja. Mengapa gereja begitu menghormati orang kaya? Alasannya mudah untuk dipahami oleh setiap orang: orang kaya memberi banyak dukungan bagi keuangan gereja.

Di sini, Yakobus memberitahu kita bahwa masalah ini sudah sangat meluas di gereja zaman awal. Mereka menghormati orang-orang kaya dan yang berkedudukan tinggi serta meremehkan orang miskin. Jangan terburu-buru mengkritik gereja mula-mula dan berprasangka buruk terhadap mereka. Bayangkanlah: jika ada orang yang kotor dan bau berkumpul di tengah jemaat kita yang sangat bersih dan rapi, lalu Anda mendapati bahwa bau badannya mengganggu hati jemaat, Anda akan menyarankan agar orang itu duduk di sudut belakang agar tidak menggangu jemaat yang lain. Mungkin kita tidak pernah berpikir bahwa perlakuan semacam ini juga merupakan cerminan dari sikap pilih kasih. Orang miskin pada umumnya tidak berpakaian layak, keadaan mereka kadang kala tidak memungkinkan mereka untuk mandi, dan tak perlu dikatakan lagi, dandanan mereka umumnya tidak mentereng. Hal ini bukan karena dia secara sengaja ingin tampil kotor dan berbau. Tentu saja, rasul Yakobus tidak menyuruh kita untuk mengabaikan masalah kerapian. Persoalan yang ingin dia tangani adalah sikap pandang bulu dan kecenderungan kita untuk merendahkan orang lain.

Saya ingat pada suatu kali, ada tetangga kami yang datang berkunjung. Saat itu, saya sedang bersama dengan beberapa orang saudara seiman. Tetangga kami ini adalah orang yang rapi, dan dia baru saja pulang dari tempat kerjanya. Saat itu dia masih kotor dan berkeringat. Dia lupa membawa kunci dan tidak bisa masuk ke rumahnya. Lalu, dia mampir ke tempat saya dan bertanya apakah dia boleh menumpang mandi. Saya langsung menjawab, “Silakan.” Saya bahkan menyuruh dia untuk tidak ragu memakai perlengkapan apa pun yang ada di kamar mandi. Tiba-tiba, terpikir oleh saya bahwa dia mungkin memerlukan handuk. Akan tetapi, saya enggan menanyakan apakah dia perlu handuk, karena saya hanya punya satu handuk dan saya tidak mau meminjamkannya karena saat itu dia sangat kotor. Akan tetapi, salah satu saudara yang saat itu sedang bersama dengan saya, dengan sangat ramah menawarkan handuk kepadanya. Saya merasa sangat bersalah setelah itu. Allah mengizinkan saya untuk mengerti bahwa, tepatnya, inilah yang disebut dengan sikap memandang muka.


Allah peduli pada orang miskin

Mengapa rasul Yakobus sangat serius dalam memandang persoalan ini? Yakobus memberitahu kita di ayat 5 bahwa sudah menjadi sifat Allah untuk memelihara mereka yang miskin dan yang rendah. Saat Yesus datang ke dunia ini, dia tidak memilih untuk dilahirkan di Yerusalem atau di tengah keluarga bangsawan. Dia malah memilih untuk tinggal di Galilea. Galilea adalah daerah miskin dan tertinggal. Para bangsawan dan bahkan orang-orang yang religius memandang remeh orang-orang Galilea. Akan tetapi, Yesus memilih untuk tinggal di tempat ini. Melalui Yesus, Allah ingin menyampaikan pesan bahwa Dia memelihara orang miskin, bahwa Dia tahu derita yang mereka tanggung di dunia ini dan bahwa Dia ingin melegakan mereka dengan keselamatan.

Apakah ini berarti bahwa orang miskin itu pasti memiliki kaya iman? Jelas tidak. Memang benar bahwa Allah peduli pada mereka yang miskin dan yang menderita, tapi bukan berarti bahwa mereka tidak perlu bertobat dan meninggalkan kejahatan. Itu sebabnya mengapa di ayat 5 rasul Yakobus menekankan poin bahwa hanya mereka yang mengasihi Allah yang bisa mewarisi Kerajaan Allah. Jadi, baik yang kaya atau yang miskin, semua harus bertobat, meninggalkan kejahatan, dan mengasihi Allah dengan segenap hati mereka supaya mereka dapat mewarisi kerajaan Allah.

Kita harus pahami poin ini dengan jelas. Saat rasul Yakobus menyuruh kita untuk tidak memilih kasih, dia tidak berkata bahwa kita harus berpihak pada orang miskin. Penekanannya adalah bahwa kita tidak boleh memandang muka. Kita harus memandang setiap orang berdasarkan kebenaran dan hati Allah (ayat 4). Jadi, ketika Yakobus berkata bahwa Allah telah memilih orang miskin di ayat 5, dia tidak berkata bahwa Allah berpihak kepada orang miskin tanpa syarat. Maksud Yakobus adalah bahwa Allah mengingat penderitaan mereka dan melalui Yesus Kristus, Dia ingin menyatakan keselamatan pertama-tama kepada mereka.

Ayat 6 dan 7 memberitahu kita bahwa orang kaya justru menindas orang Kristen sejati dan menghujat nama Allah. Jika Anda pelajari Alkitab dengan cermat, Anda akan melihat bahwa Alkitab tidak menyebutkan hal yang baik-baik tentang orang kaya. Orang kaya sering kali bersandar pada kekayaan mereka dan harta mereka itu menjadi ilah bagi mereka. Kekayaan dengan mudah bisa membuat orang menjadi sombong dan buta. Seorang yang kaya biasanya secara materi akan menjadi miskin jika dia benar-benar bersandar kepada Allah, karena dia akan memakai uangnya untuk melayani Allah dan menolong mereka yang kekurangan.

Saya mengenal seseorang yang memutuskan untuk memakai uangnya untuk melayani Tuhan setelah mempercayai Yesus. Dia membuka pabrik di daerah Selatan dan mempekerjakan banyak orang Kristen. Dia menyatakan ingin memakai semua keuntungannya untuk pekerjaan Tuhan. Akan tetapi, saat bisnisnya berkembang, dia mulai mengeksploitasi pekerjanya, membayar mereka gaji minimal untuk jam kerja yang sangat panjang. Beberapa saudari seiman mulai jatuh sakit akibat kelelahan kerja. Demikianlah, uang sering menimbulkan godaan yang sangat kuat kepada kita, dan membuat kita menjadi tidak sepenuh hati di dalam mengikut Allah. Kita mungkin bahkan melangkah lebih jauh dengan memanfaatkan nama Allah untuk memperalat orang lain demi keuntungan kita. Bukankah ini persis seperti yang dikatakan oleh Yakobus – menindas orang dan menghujat nama Allah?

Yesus berkata bahwa lebih mudah bagi seekor unta untuk masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Yesus bukannya mau mempersulit orang kaya. Sebenarnya dia sedang berkata: orang kaya sering jatuh ke dalam berbagai macam dosa akibat kekayaan mereka dan menjadi musuh Allah. Jadi Anda lihat, jika orang kaya yang menjadi musuh Allah itu kita idolakan, bukankah kita juga sedang melawan Allah? Bukankah gereja lantas menjadi musuh Allah?

Izinkan saya membuat rangkuman singkat. Di ayat 1, Yakobus mengingatkan kita, orang-orang yang percaya kepada Yesus, untuk tidak bersikap berat sebelah kepada orang lain. Mengapa? Rasul Yakobus tidak peduli apakah kita punya uang atau tidak. Yang dia pedulikan adalah nilai-nilai apa yang kita pegang. Sebagai jemaat Allah, umat Allah, pikiran kita seharusnya mencerminkan pikiran Allah: kita seharusnya peduli pada apa yang dipedulikan oleh Allah; dan kita harus membenci apa yang dibenci oleh Allah. Sebagai orang yang percaya dan melayani Yesus, kita seharusnya mengejar harapan yang di surga. Akan tetapi, mengapa di dalam kenyataannya, kita masih sangat menghargai hal-hal yang duniawi – uang, gengsi dan kedudukan? Mungkin kita tidak mengaku bahwa kita sangat menghargai hal-hal yang duniawi, tetapi cara kita memperlakukan orang lain sangat mencerminkan nilai-nilai yang kita pegang. Yakobus sangat peduli tentang perubahan di dalam nilai-nilai yang kita pegang. Jika nilai-nilai duniawi kita tidak berubah, kita akan bergerak menentang Allah dan bukannya mencerminkan karakter dan kemuliaan Allah di setiap tindakan kita. Kita akan menjadi musuh-Nya karena kita akan meremehkan hal-hal yang dipedulikan oleh Allah dan menikmati hal-hal yang dibenci oleh Allah. Saya akan membahas hal ini lebih mendalam lagi dalam kesempatan berikutnya.

 

Berikan Komentar Anda: