SC Chuah | Monoteisme |

Kebanyakan orang Kristen trinitarian percaya Yesus Kristus adalah pencipta segala sesuatu. Mereka mempercayai hal ini karena mereka telah diyakinkan bahwa Yesus adalah Allah. Oleh karena Allah menciptakan segala sesuatu, maka Yesus adalah pencipta segala sesuatu bersama Allah Bapa dan Allah Roh Kudus.

Di antara umat unitarian yang menolak pengajaran Trinitas, mayoritas juga mempercayai Yesus Kristus sebagai pencipta segala sesuatu. Mereka mempercayainya sebagai “ciptaan yang menciptakan”. Mereka meyakini sebelum segala sesuatu diciptakan, Allah telah menciptakan Yesus sebagai “yang sulung dari segala ciptaan” (Kol 1:15, ILT). Kemudian “yang sulung dari segala ciptaan” itu diberikan kuasa untuk menciptakan segala sesuatu.

Apakah Yesus sang pencipta yang lahir sebagai tukang kayu di bumi? Tujuan artikel ini adalah untuk menunjukkan bahwa bukti Alkitab untuk pemahaman seperti itu terlalu tipis dan terlalu rapuh.  Lebih dari itu, pemahaman itu mengubah karakter Yesus yang indah menjadi sesuatu yang tidak dapat diselaraskan dengan Yesus dari Perjanjian Baru.

Menurut Alkitab, Allah yang menciptakan segala sesuatu adalah Yahweh. Itulah tanda pengenal-Nya.

Kejadian 1:1, Pada mulanya, Allah menciptakan langit dan bumi.

 

Nehemia 9:6, Engkau sendirilah, ya YAHWEH, hanya Engkau! Engkau yang telah menjadikan langit, langit segala langit dengan segala bala tentaranya, bumi dengan segala yang ada di atasnya, dan laut dengan segala yang ada di dalamnya, dan Engkau memelihara kehidupan mereka semua. Dan bala tentara langit sujud menyembah-Mu.

Mazmur 8:2, 4, Ya YAHWEH, Tuhan kami,… Jika aku melihat langit-Mu, perbuatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang, yang telah Kautempatkan.

Yesaya 40:28, YAHWEH ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung;

Yesaya 45:12, Beginilah firman YAHWEH, “… Akulah yang menjadikan bumi, dan menciptakan manusia di atasnya. Tangan-Kulah yang membentangkan langit dan menetapkan semua penghuninya.”

Yesaya 48:12-13, Dengarkan Aku, hai Yakub, hai Israel, yang Aku panggil! Akulah Dia. Akulah yang Awal dan Akulah yang Akhir. Tangan-Kulah yang meletakkan dasar bumi, dan tangan kanan-Kulah yang membentangkan langit. Ketika Aku memanggil mereka, mereka akan datang bersama-sama.

Yesaya 51:13, YAHWEH, Penciptamu, yang membentangkan langit dan meletakkan dasar bumi.

Yeremia 10:10, 12, YAHWEH adalah Allah yang benar… Dialah yang menjadikan bumi dengan kuasa-Nya, yang mendirikan dunia dengan hikmat-Nya, dan dengan pengertian-Nya, Ia membentangkan langit.

Yeremia 27:4, 5, Beginilah firman YAHWEH semesta alam, “Aku telah menjadikan bumi, manusia, dan binatang yang ada di atas bumi dengan kuasa-Ku yang sangat besar dan dengan lengan-Ku yang terentang…”

Yeremia 32:17, “Ya, Tuhan YAHWEH! Sesungguhnya, Engkau telah menciptakan langit dan bumi dengan kuasa-Mu yang besar dan lengan-Mu yang terentang! Tidak ada yang terlalu sulit bagi-Mu.

Yeremia 51:19, Sebab, Ia adalah Pembentuk segala sesuatu, dan Israel adalah suku ahli waris-Nya, YAHWEH semesta alam adalah nama-Nya.

Zakharia 12:1, Berfirmanlah YAHWEH yang membentangkan langit, meletakkan dasar bumi, dan menciptakan roh di dalam manusia…

Di tengah masyarakat yang menyembah banyak allah, Allah bangsa Israel menyatakan diri sebagai Pencipta segala sesuatu. Itulah tanda pengenal satu-satunya Allah yang benar. Ayat-ayat di atas bukan saja menyatakan Yahweh sebagai Pencipta, tetapi Dia menciptakan segala sesuatu tanpa bantuan dari siapa pun. Yahweh sejak dahulu kala sepertinya sudah meramalkan apa yang akan terjadi pada masa sekarang ini. Jika ayat-ayat tersebut masih belum jelas, Yahweh menyatakannya sehingga di luar bayang-bayang keraguan:

Yesaya 44:24, Beginilah firman YAHWEH, Penebusmu, yang membentukmu sejak dalam kandungan, “Akulah YAHWEH, yang menjadikan segalanya; yang membentangkan langit sendirian dan menghamparkan bumi sendirian.

Fakta ini merupakan fakta yang tidak dapat berubah. Oleh karena itu, Perjanjian Baru tidak memberitakan hal yang berbeda (Kis 4:24, 7:48-50, 14:15, 17:24-26, Rm 1:20, Ef 3:9, Why 4:11, 14:7). Perhatikan bahwa konteks bagi Kisah 4:24 dan 17:24-26 menjadikannya mustahil untuk Yesus menjadi pencipta atau rekan pencipta karena Yesus disebut masing-masing sebagai “hamba-Mu yang kudus” (4:27, 30) dan “orang yang ditentukan-Nya”. Yesus adalah “hamba Sang Pencipta yang kudus” dan “orang yang ditentukan Sang Pencipta”.

Lalu, bagaimana dengan ayat-ayat Perjanjian Baru yang mengaitkan Yesus dengan ciptaan? Ayat-ayatnya tidak banyak, dan mereka yang mempercayai Yesus sebagai pencipta atau rekan pencipta paling banyak dapat menunjukkan lima ayat: Yohanes 1:3, 10; 1 Korintus 8:6; Kolose 1:16 dan Ibrani 1:2.

Ibrani 1:2 dapat kita singkirkan segera karena kebanyakan Alkitab terjemahan Indonesia telah melakukan penafsiran dan bukan terjemahan. Satu-satunya Alkitab Indonesia yang menerjemahkannya dengan tepat ialah Alkitab ILT.

pada masa terakhir ini Dia berbicara kepada kita di dalam Putra, yang telah Dia tetapkan sebagai ahli waris segala sesuatu; melaluinya pula, Dia telah menjadikan zaman-zaman.

Melalui Kristus, Allah telah menjadikan zaman-zaman. “Zaman-zaman” merupakan terjemahan yang tepat, bukan “alam semesta”. Memang benar, Sang Mesias merupakan pribadi yang membedakan zaman. Kedatangannya, kepergiannya dan kedatangannya kembali mengantarkan zaman baru. Akan tetapi, ayat ini sama sekali tidak menyatakan Yesus sebagai pencipta atau rekan pencipta. “Alam semesta” sama sekali bukan terjemahan yang pantas untuk kata Yunani aionas (jamak untuk aion).

Makna Yohanes 1:3, 10 pula sangat bergantung pada cara seorang penafsir menafsirkan Firman di Yohanes 1:1-2. Siapakah Firman yang dimaksud di Yohanes 1:1? Kebanyakan orang berasumsi tanpa bukti bahwa Firman di Yohanes 1:1 mengacu kepada Yesus yang praeksisten, yaitu pribadi kedua dari Trinitas. Persamaan itu merupakan sebuah asumsi belaka. Di dalam seluruh tulisan Yohanes , Yesus tidak pernah disamakan dengan Firman sebagai sebuah persamaan identitas (Firman = Yesus). Yesus memang mewujudkan (embodies) Firman Allah dalam segala aspek kehidupannya, dalam pikiran, perkataan dan perbuatan (Yoh 1:14, 1Yoh 1:1-2). Namun, untuk mengatakan bahwa Firman di Yohanes 1:1 mengacu kepada Yesus yang praeksisten merupakan sebuah asumsi yang dibacakan ke dalam ayat.

Yang bernama “Firman Allah” di Wahyu 19:13 lebih mungkin mengacu kepada Yahweh sendiri karena darah di jubah-Nya bukanlah darahnya sendiri, tetapi darah musuh-musuh-Nya (“Ia akan memeras anggur dalam batu kilangan”, Why 19:13, bdk. Yes 63:1-3). Lagi pula, ayat 14 menggambarkan “seluruh pasukan di surga mengikuti Dia”, dan hal ini berpadanan dengan nama khas bagi Allah, Yahweh Sabaot (Yahweh Bala Tentara). Hal ini akan sesuai dengan Yohanes 1:1, Firman itu adalah Allah. Dalam kenyataannya, “Firman” di Yohanes 1:1 merupakan sebuah metonimia untuk Yahweh. Firman, yang mengacu kepada Yahweh itulah yang mengambil eksistensi baru di dalam daging dan bertabernakel di antara kita (Yoh 1:14). Itulah sebabnya Yesus di dalam Injil Yohanes tidak pernah menyatakan dirinya sebagai Allah atau sebagai Bapa, tetapi bahwa Bapa tinggal di dalam dirinya (Yoh 10:38; 14:10, 20; 17:21, 23, 2Kor 5:19, Ef 4:32, Kol 1:19, 2:9, 1Tes 2:14). Kristologi Injil Yohanes adalah Kristologi “God-in-Christ”, bukan “God-is-Christ”.

Untuk membaca sebuah penafsiran alternatif atas Yohanes 1:1 yang non-trinitaris, dan juga berbeda dari penafsiran Saksi-saksi Yehowa, silakan membaca Bab 3 dari buku THE ONLY PERFECT MAN.

Ini menyisakan 1 Korintus 8:6 dan Kolose 1:16.

namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari Dia berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tu(h)an saja, yaitu Yesus Kristus, yang melalui dia segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena dia kita hidup.

 

karena di dalam dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh dia dan untuk dia.

Kata preposisi yang dimiringkan dalam kedua ayat di atas memiliki kontruksi yang sama dalam bahasa Yunani, yaitu (dia + genitif). Kata dia dalam bahasa Yunani dapat mengambil makna berikut, yaitu through, on account of, because of (melalui, oleh karena, sebab). Jadi, kata Yunani dia bisa mengambil dua makna. Makna pertama yang instrumental, “melalui”; dan makna kedua yang kausal, yaitu “oleh karena”. Dua contoh bagaimana konstruksi (dia + genitif) dapat mengambil makna kausal “oleh karena, sebab” ialah  Roma 8:3 (“lemah oleh karena daging” dan 2 Korintus 9:13, “oleh sebab kamu…, mereka…”).

Ketika sebuah preposisi bisa mengambil dua makna yang berbeda, tentu saja kita akan memilih makna yang masuk akal menurut konteks. Sebagai contoh:

Kamar ini dibuat (melalui, oleh karena) bayi yang akan lahir tiga bulan lagi.

Tentu saja, kita memilih makna kausal “karena” sebab lebih sesuai dengan konteks dan lebih masuk akal. Memilih makna “melalui” mengharuskan saya mempercayai bayi yang belum ada itu sudah ada sebelum dia ada. Itulah pengajaran trinitaris dan Arian. Dalam pengertian apa bayi semacam ini dapat disebut manusia sangat sulit dimengerti. Dengan kata lain, 1 Korintus 8:6 dan Kolose 1:16, akan lebih sesuai dengan konteks seluruh Alkitab mengenai ciptaan jika konstruksi (dia + genitif) diterjemahkan sebagai “karena”:

namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari Dia berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tu(h)an saja, yaitu Yesus Kristus, yang karena dia segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena dia kita hidup.

 

karena di dalam dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan karena dia dan untuk dia

Dengan kata lain, Kristus adalah alasan bagi ciptaan. Segala sesuatu diciptakan demi dia dan untuk dia (with Christ in view, for his sake). Oleh karena Yesus Kristus merupakan representatif manusia, atau Adam yang akhir, kita dapat menyimpulkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu “oleh karena” manusia dan “untuk” manusia dalam Kristus. Itulah keindahan dari maksud dan rencana abadi Allah bagi manusia dalam Kristus. Itulah Allah yang dinyatakan dalam Alkitab.

Akan tetapi, perhatikan terjemahan yang merusak potret Yesus yang indah yang digambarkan bagi kita dalam Perjanjian Baru, “segala sesuatu diciptakan oleh dia dan untuk dia”. “Oleh dia dan untuk dia”? Yesus menciptakan segala sesuatu untuk dirinya sendiri? Yesus yang egois seperti ini tidak dapat diakurkan dengan Yesus yang memberi-diri di dalam Perjanjian Baru. Yesus yang seperti ini bukanlah teladan baik bagi manusia.

Hanya ada dua ayat di dalam Perjanjian Baru yang secara terang-terangan mengaitkan ciptaan dengan Yesus, dan kedua ayat itu sebaiknya jangan diterjemahkan sedemikian rupa sehingga melanggar apa yang dinyatakan oleh Yahweh sendiri dengan begitu jelas:

Yesaya 44:24, Beginilah firman YAHWEH, Penebusmu, yang membentukmu sejak dalam kandungan, “Akulah YAHWEH, yang menjadikan segalanya; yang membentangkan langit sendirian dan menghamparkan bumi sendirian.

 

Thus says YAHWEH, your Redeemer, and the one who formed you from the womb, “I, YAHWEH, am the maker of all things, stretching out the heavens by Myself and spreading out the earth all alone, (Isa. 44:24 NAU)

 

Berikan Komentar Anda: