SC Chuah | Matius 5:3 |

Berbahagialah orang yang miskin dalam roh, karena kerajaan surga adalah milik mereka.

Ayat yang sangat penting ini adalah ayat pertama yang memulai khotbah Yesus di bukit. Pengajaran di Matius 5, 6 dan 7 disebut Khotbah di Bukit. Khotbah ini sangat unik karena isi khotbah hanya satu dua kalimat tetapi setiap kalimat mengandung banyak poin-poin penting. Tidak seperti rata-rata pengkhotbah seperti kita yang berbicara banyak tetapi poinnya sedikit. Kita bisa berkhotbah satu jam tetapi poinnya hanya satu atau dua, itupun kalau ada.

Setiap kalimat yang diucapkan Yesus penuh dengan kuasa dan mengandung signifikansi yang luar biasa.  Sekiranya kita berpegang hanya pada satu kalimat saja, kita akan dibawa ke dalam hubungan yang benar-benar hidup bersama Tuhan.


BACA FIRMAN SECARA PELAN-PELAN

Saya mau menyarankan bagi orang Kristen untuk mempelajari firman secara pelan-pelan. Dengan berbuat demikian, banyak hal yang akan terjadi di dalam hidup kita. Bacalah Firman pelan-pelan untuk benar-benar dapat menghayatinya. Awalnya membaca dengan cepat ada manfaatnya, yakni untuk mendapatkan suatu gambaran yang menyeluruh dan luas tentang Kitab Suci. Setelah beberapa tahun, kita harus mulai mempelajarinya secara pelan-pelan karena hanya saat saudara mempelajarinya dengan pelan-pelan kita akan dapat memahami apa yang ingin Yesus sampai kepada kita.


KERAJAAN ALLAH MILIK KITA SEKARANG

Matius 5:3 berkata, “Berbahagialah orang yang miskin dalam roh, karena kerajaan surga adalah milik mereka”. Hal yang menarik dari ayat ini adalah kalimat “kerajaan surga adalah milik mereka” ditulis  dalam bentuk present tense. Present tense berarti sekarang, masa sekarang. “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi”, kalimat itu disampaikan dalam bentuk future tense. Future tense berarti mereka akan mewarisi bumi, sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Namun di ayat 3, memiliki kerajaan surga disampaikan dalam present tense. Ini memberitahu kita bahwa dalam pengertian tertentu, kerajaan surga menjadi milik orang yang miskin di waktu sekarang.


KUNCI MASTER HARTA KARUN ROHANI

Pokok ini adalah ayat kunci kepada seluruh pengajaran Yesus.  Jika kerajaan Allah digambarkan sebagai sebuah rumah yang penuh dengan harta karun yang terkunci di dalam kamar-kamar yang berbeda, ayat ini merupakan kunci master/induk yang bisa membuka setiap kamar yang penuh dengan harta karun itu. Ayat ini merupakan kunci untuk kita mengalami atmosfir surgawi saat kita berada di dunia ini. Suasana surgawi akan dapat kita rasakan dalam kehidupan keluarga, di antara teman-teman, sanak-saudara dan di tempat kerja dan lingkungan kita. Orang yang miskin dalam roh sudah menemukan rahasia bagaimana memancarkan atau menyebarkan aroma surgawi.

Paulus mengatakan sesuatu yang unik di Efesus, Allah “dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga.”. Dengan kata lain, saat kita berbicara tentang atmosfir surgawi, saya berbicara tentang sebuah kehidupan di bumi ini yang bebas dari keluhan, tidak bersungut-sungut,  tidak menggerutu, tidak tegang dan tidak selalu bertengkar; saya berbicara tentang sebuah kehidupan nyata yang bebas dari ketidakpuasan dan kekalahan.

Hidup dalam atmosfir surgawi bukan berarti tidak ada masalah dalam hidup ini. Kita hidup di dunia yang penuh dosa, dunia yang memperhadapkan kita dengan banyak masalah. Malahan, sebagai orang benar, masalah kita akan lebih banyak dibandingkan orang yang tidak benar. Itulah sebabnya Mazmur 34 berkata, “Many are the afflictions of the righteous”. Atau dalam bahasa Indonesia, “kemalangan orang benar itu banyak”. “Kesusahan, kesesakan, kemalangan orang benar itu banyak, bukan hanya ada. Semua orang mempunyai masalah, tetapi bagi orang benar, masalahnya jauh lebih banyak. Kalau saudara orang benar, kesusahan saudara bertambah banyak. Namun, Yahweh melepaskan kita dari semua itu.


HAMBA TUHAN, TARGET UTAMA IBLIS

Jadi saya mengatakan ini bukan karena saya tidak punya masalah. Banyak orang berpikir, “Kamu pendeta, hidupnya pasti enak dan bebas dari masalah”. Itu sama sekali tidak benar. Jika saudara berpikir demikian, itu tanda jelas saudara tidak pernah melayani Tuhan.  Pekerjaan sebagai hamba yang melayani Tuhan, dari eksternal kelihatannya seperti kehidupan yang paling aman, tetapi sebenarnya melayani Tuhan merupakan pekerjaan yang paling merbahaya di dunia ini.  Mengapa? Kitab Suci memberitahu kita, “Bunuhlah gembala itu dan domba-dombanya akan tercerai berai”.

Sejujurnya, kesusahan saya banyak walaupun tidak saya ungkapkan. Karena diungkapkan pun saudara belum tentu mengerti. Saya banyak diserang, tetapi tidak perlu saya utarakan karena Tuhan yang saya layani lebih besar dari semua itu. Saya hanya harus memastikan saya berada di jalan yang benar. Siapa saja yang melayani Tuhan secara benar, langsung menjadi target nomor satu Iblis. Orang itu harus dimatikan dulu. Kalau tidak secara jasmani, karena zaman sekarang tidak populer lagi untuk membunuh secara jasmani, tetapi dia harus dimatikan secara rohani, apakah melalui kesombongan, harta kekayaan dan lainnya. Selama rohaninya mati, dia akan memimpin domba-dombanya ke jalan sesat, mengusung mereka menjadi milik Iblis. Kemalangan orang benar banyak, tetapi Tuhan melepaskannya dari semua itu!

Kalau saudara berjalan di jalan yang benar, saudara akan mengalami bahwa makin lama, saudara akan makin hidup di dalam atmosfir surgawi. Saudara membawa suasana surgawi ke kehidupan saudara. Kalau hal ini tidak terjadi, itu merupakan tanda pasti bahwa saudara bukanlah orang yang miskin di hadapan Allah. Saudara tidak miskin, saudara orang kaya.


ILUSTRASI SEORANG PENGEMIS

Dalam hal miskin dalam roh, ilustrasi yang terbaik adalah dengan melihat kepada seorang peminta sedekah. Seorang pengemis adalah seorang yang miskin secara jasmani, dia hidup dari hari ke hari. Apa yang dia miliki hari ini hanyalah cukup untuk hari ini. Besok dia membutuhkan persediaan yang baru. Dengan cara yang sama, kondisi seorang peminta sedekah secara jasmani harus menjadi kondisi kita secara rohani sehubungan dengan Allah. Tiap hari, kita meminta karunia dari Tuhan untuk hari ini, cukup untuk hari ini.  Untuk menghadapi hari besok, kita butuh karunia lagi. Itulah cara kita datang pada Tuhan setiap hari. Ayat ini berbicara tentang ketergantungan total kepada Allah. Satu kehidupan yang bergantung total kepada Dia dalam segala sesuatu.


PILIHAN UNTUK MENJADI “SEPERTI ALLAH”

Saat Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, itu bukan sekadar suatu tindakan ketidaktaatan. Sebenarnya, kejatuhan mereka adalah suatu pilihan untuk menjadi seperti Allah, memilih apa yang baik dan buruk sesuai dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka tidak ingin Allah yang menentukan apa yang baik dan buruk, mereka ingin menentukan sendiri. Pada dasarnya pencobaan itu adalah pencobaan untuk independen dari Allah. Itulah yang dilakukan oleh dunia sekarang, “Biar kami yang tentukan sendiri!”. Sebaliknya, hidup dari pohon kehidupan adalah sebuah kehidupan yang dari hari ke hari bergantung sepenuhnya kepada Allah.


MENGAPA ORANG KRISTEN SULIT BERDOA?

Orang Kristen tahu berdoa itu penting. Namun kita semua mengalami kesulitan dalam hal berdoa. Mengapa kita tidak tahu bagaimana untuk berdoa? Sekalipun berdoa, kita tidak tahu harus meminta apa. Kita bergumul untuk berdoa.  Kita juga menemukan hal yang aneh dalam firman Tuhan.  Doa itu sangat penting tetapi anehnya firman Tuhan sangat sedikit mengajarkan kepada kita hal berdoa,  khususnya bagaimana kita harus berdoa. Sangat sedikit. Hanya di satu tempat saja, kita diajarkan bagaimana untuk berdoa. Itupun atas permintaan murid-murid Yesus. Kita hanya melihat orang berdoa dan bagaimana doa-doa mereka dijawab. Kita tidak diajarkan bagaimana untuk berdoa. Ataupun bagaimana untuk menyembah. Tidak ada ajaran terang-terangan untuk dua topik penting ini di dalam Kitab Suci.  Saudara tahu kenapa? Sama seperti seorang peminta sedekah, orang yang benar-benar miskin, mereka tidak perlu belajar atau diajar untuk meminta. Demikian halnya juga bagi seorang yang miskin dalam roh. Seorang yang miskin dalam roh, tidak perlu diajar bagaimana untuk berdoa. Dia langsung tahu. Dia akan tergerak terus untuk berdoa.

Saya mempelajari ini dari pengalaman saya sendiri. Selama puluhan tahun ini, saya sendiri juga bertumbuh. Makin hari saya merasa makin mudah untuk berdoa. Bukan untuk menyombongkan diri bahwa saya rohani… sama sekali tidak! Namun makin hari,makin mudah untuk saya berdoa. Mengapa? Karena makin hari, saya makin merasakan betapa miskinnya saya. Betapa miskinnya saya secara rohani. Bukan berarti saya sangat menikmati doa seperti yang kita baca dari kesaksian orang-orang tertentu.  Mereka bisa menikmati doa selama lima sampai enam jam. Membaca kesaksian seperti itu membuat kita bertanya-tanya kok kita tidak bisa. Saat saya sadar betapa miskinnya saya, dan ditambah dengan bertambahnya tanggung jawab, saya merasakan berdoa itu menjadi semakin alami. Saya mulai mengerti apa yang dikatakan Paulus di 1 Tesalonika 5:17, “Berdoalah tanpa henti hentinya”, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai, “tetaplah berdoa”. Bahasa aslinya adalah “berdoalah tanpa henti-hentinya”. Bagaimana mungkin seseorang itu tidak henti-henti berdoa? Satu jam saja sudah setengah mati. Saya sekarang sadar bahwa ini sebenarnya sesuatu yang sangat-sangat mungkin untuk dilakukan saat kita menyadari bahwa kita seorang yang benar-benar miskin di hadapan Allah. Sedemikian miskin, tanpa uluran bantuan-Nya, kita tidak dapat berbuat suatu apa pun.

Saya membaca sebuah doa yang membuat saya terharu. Doanya berbunyi, “Tuhan, sudah delapan jam aku tidak berbuat dosa, apakah di pikiran, di hati, di perkataan dan perbuatan (karena tidur selama delapan jam). Namun untuk 16 jam berikutnya, saya benar-benar membutuhkan pertolongan-Mu untuk menjalani hidup tanpa dosa. “


DOA MENJADI MUDAH JIKA KITA SERIUS MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH

Kita mengalami kesulitan berdoa, kenapa? Karena kita terlalu kaya. Orang kaya, disuruh minta sesuatu, mereka akan bingung tidak tahu mau minta apa. Semuanya serba ada. Demikian juga orang yang kaya dalam “roh”, saat mau berdoa, mereka tidak tahu mau meminta apa. Namun jika saudara miskin dalam roh, otomatis saudara tahu bagaimana harus berdoa. Itu sebabnya, doa saya sederhana saja, saya tidak tahu bagaimana mendoakan yang rumit-rumit. Itu alasannya saya tidak terlalu suka pada doa umum yang kadang kedengaran seperti kegiatan merangkai kalimat saja. Doa saya sangat sederhana, berisi seruan, “Tuhan tolong, Tuhan tolong…”. Setiap hari dan setiap situasi adalah seruan meminta pertolongan dan meminta bantuannya. Kenapa? Karena saya miskin, saya membutuhkan Dia. Saya membutuhkan Dia untuk melakukan kehendak-Nya.

Saya mau menyaksikan bahwa jika saudara hidup seperti itu. Saya percaya, tinggal waktu, Tuhan akan membawa suasana surgawi ke dalam hidup saudara. Saudara akan menyebarkan aroma surgawi dari kehidupan saudara.

Saya benar-benar percaya bahwa Khotbah di Bukit, khususnya ucapan bahagia merupakan foundasi. Sebelum Yesus mengakhiri Khotbah di Bukit di Matius 7, dia berkata barangsiapa pun yang mendengarkan perkataanku ini dan melakukannya, dia akan membangun rumahnya di atas dasar yang tak tergoyahkan. Hidup di dunia akan penuh dengan goncangan. Di saat saudara berusaha membangun kehidupan di atas dasar Khotbah di Bukit, otomatis saudara akan merasa terdesak untuk berdoa secara terus menerus. Ini adalah karena ajaran di Khotbah di Bukit mustahil tanpa pertolonagan Tuhan. Sekiranya saudara menjadikan Khotbah di Bukit sebagai tujuan hidup saudara, hal berdoa menjadi mudah.  Jadikan tujuan hidup saudara untuk mengejar kekudusan, dan saudara akan menemukan berdoa itu mudah, berdoa itu menjadi sesuatu yang spontan dan otomatis. Jika melakukan Khotbah di Bukit dan Ucapan Bahagia menjadi tujuan hidup saudara, saudara akan menemukan  berdoa itu menjadi sangat mudah karena saudara akan tergerak terus untuk meminta kekuatan dari Tuhan.

Saya agak heran dengan orang Kristen yang bisa marah tanpa merasa bersalah sama sekali. Jujur saja, jika saya merasa sedikit kesal di hati walaupun belum terungkap, saya sudah datang kepada Tuhan meminta pertolongan untuk menangani rasa kesal itu. Usahakanlah dengan sepenuh hati untuk hidup bebas dari dosa. Dengan melakukan itu, saya yakin Tuhan akan mendatangkan atmosfir surgawi dalam kehidupan saudara, khususnya dalam hubungan dengan keluarga. Siapa kita sebenarnya terlihat paling nyata dalam keluarga. Dalam gereja, kita bisa berusaha memoles dan menjaga imej. Siapa kita sebenarnya terlihat paling jelas oleh istri dan anak-anak kita.


“AKULAH YANG PALING BERDOSA!”

Saat  saya baru bertobat ada satu ayat yang saya benar-benar setuju dengan segenap hati.  Saya sesungguhnya bisa beridentifikasi dengan ayat ini. Saudara tahu ayat apa? 1 Timotius 1:15 yang berbunyi,

“Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antaranya akulah yang paling berdosa.”

Atau dalam bahasa aslinya, akulah orang berdosa yang paling utama, yang nomor satu, yang paling besar. Dari semua firman Tuhan yang saya tahu, hanya firman ini yang  sesungguhnya menggambarkan siapa saya. Padahal, kalau pandang kembali, sebagai seorang non-Kristen, seorang religius yang taat, saya orang yang baik-baik. Namun, saat Tuhan menyatakan diri-Nya, walaupun secara moral saya orang yang baik, tetapi pertemuan dengan Allah mengungkapkan seluruh kejahatan hati saya. Inilah tanda orang yang telah bertemu dengan Allah. Dia akan merasakan dirinya orang yang paling berdosa walaupun dia tidak pernah membunuh atau berzina. Pada waktu itu menyentuh wanita saja saya tidak mau. Namun saat orang bertemu dengan Tuhan, walaupun secara moral dia tidak bermasalah, dia akan merasakan keberdosaan yang luar biasa. Itulah yang terjadi pada para rasul, pada para nabi. Itulah yang terjadi pada Yesaya. Pertemuan dengan Allah akan mengungkapkan seluruh kejahatan hati kita. Saya kadang-kadang berpikir bahwa banyak di antara kita belum tiba ke tahap itu. Kita memang mengaku orang berdosa, tetapi kita merasa tidak jahat-jahat banget. Kita masih merasa diri kita lebih baik dari beberapa orang.

Ada kecenderungan orang untuk memuji dirinya sendiri. Menyanjung diri sendiri. Saat kita masih demikian, itu berarti kita belum sampai ke tahap yang disebutkan di 1 Timotius 1:15, merasa bahwa kita benar-benar orang yang berdosa di hadapan Allah. Akulah orang yang paling berdosa.

Orang yang masih memandang dirinya baik, juga merupakan tanda bahwa orang tersebut belum pernah bertemu dengan Allah. Karena pertemuan dengan Allah akan membuat kita merasa jauh dibandingkan dengan kekudusan Allah. Jujur, bahkan sekarang, saya tetap merasakan demikian. Itu sebabnya ada satu lagi ayat dari Paulus yang paradoksal. Sebenarnya hidup Paulus sangat-sangat baik. Paulus sangat bermoral hidupnya. Sekalipun dia pernah menganiaya orang Kristen, dia menganiaya mereka karena Allah, demi Allah. Namun dia berkata bahwa dalam dirinya tidak ada sesuatupun yang baik, “in my flesh, there is nothing good in me”.

Saya benar-benar percaya bahwa siapa saja yang mengejar kekudusan dalam hidupnya akan merasakan itu. Akan dapat merasakan bahwa di dalam dagingnya, di dalam dirinya tidak ada sesuatu pun yang baik. Itu sebabnya, kalau kita benar-benar miskin di hadapan Allah, kita tidak akan punya kata-kata pedas, kritikan dan bahkan tidak mau menghakimi siapa pun. Saya tidak punya kata- kata tajam untuk dipakai menusuk orang. Orang yang suka mengkritik, mencari kesalahan orang lain, adalah orang yang tidak miskin di hadapan Allah.

Ini tidak berarti saya berkompromi dengan dosa. Dari mimbar ini sudah banyak kecaman terhadap dosa yang disampaikan.  Namun, sekalipun saya harus mengoreksi seseorang, itu lahir dari hati yang remuk. Terkadang, saya harus mengutarakannya dengan air mata. Koreksi atau teguran bukan untuk menjatuhkan tetapi lahir dari perasaaan untuk melindungi orang itu dari perbuatan jahatnya. Bukan sikap mengkritik, merendahkan dan meremehkan. Dalam mengoreksi seseorang pun, hal itu harus dilakukan dari kepedulian yang mendalam. Seperti Paulus, dia melakukannya dengan air mata sekalipun dengan nada yang keras.

Saat kita mengejar hal-hal rohani, sangat mudah untuk kita tersesat dan punya kecenderungan untuk menjadi sombong. Kita mungkin akan berkata, “Aku bersyukur, aku tidak seperti orang itu”. Dengan demikian kekudusan kita sudah dicemari. Seperti seseorang memasak sesuatu yang enak tetapi dimasukkan kecoa atau cicak. Keangkuhan kita merusakkan segala sesuatu.


APAKAH SAUDARA MISKIN DI HADAPAN ALLAH?

Tanyakan pada istri atau suami saudara. Saudara tahu sendiri di dalam hati, apakah kehidupan saudara membawa aroma surgawi kepada orang di sekitar. Orang lain bisa merasakan, istri, suami, anak-anak dan bahkan pembantu saudara. Mereka sangat jelas siapa saudara. Bahkan hewan piaraaan seperti anjing akan tahu apakah majikannya sudah berubah.

Marilah kita belajar menjadi miskin di hadapan Allah. Orang yang miskin akan merasa bersyukur secara terus menerus, bukan karena dipaksakan, tetapi entah bagaimana dia akan senantiasa merasakan anugerah Tuhan dalam hidupnya.

Seluruh Ucapan Bahagia, dimulai dengan kata “berbahagialah”, atau dalam bahasa Inggris, seharusnya “happy are the poor in the spirit”, “happy are those who mourn”. Pertanyaan saya adalah, bagi yang mencari happiness atau kesenangan di dunia, kenapa begitu bodoh? Itu saja pertanyaan saya kepada saudara, “Why so stupid, mengapa begitu bodoh?  Saya berharap tidak ada yang tersinggung. Yesus sendiri sebagai wakil Allah telah menjanjikan segala sesuatu kepada kita. Dia berjanji untuk memberikan kebahagiaan yang sejati kepada kita. Kebahagiaan yang diberikan dunia hanya sementara. Yesus menjanjikan kepada kita kebahagiaan yang sejati. Dan firman-Nya adalah Ya dan Amin. Berbahagialah orang yang miskin dalam roh, mereka akan memiliki Kerajaan Allah.

 

Berikan Komentar Anda: