SC Chuah | Matius 5:7 |

Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

Siapa yang tidak ingin beroleh kemurahan Allah? Saya percaya kita semua rindu memperoleh kemurahan Allah. Oleh karena itu, bacalah dengan teliti, karena Yesus di sini menyatakan jalannya untuk beroleh kemurahan. 


UCAPAN BAHAGIA MENGUNGKAPKAN KEHENDAK BAPA BAGI KITA

Ucapan Bahagia ialah kumpulan perkataan-perkataan Yesus yang menyatakan kepada kita apa yang dikehendaki Bapa dari kita. Di dalam Alkitab, saudara akan perhatikan bahwa berulang kali Allah berkata kepada umat-Nya, “Inilah yang Kuhendaki dari engkau, dan bukan ini dan itu…” Ayat yang terkenal, yang berkaitan dengan pesan ini ialah, “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan”. Allah ialah penentu makna hidup. Itulah sebabnya, sangatlah penting untuk kita mengetahui dengan sejelas-jelasnya, apa yang sebenarnya yang dikehendaki Allah dari kita. Jika kita keliru dalam hal ini, seluruh hidup kita akan menjadi percuma. Jika apa yang dikehendaki oleh Allah dari kita, tidak kita lakukan, bukankah hidup ini akan berakhir dalam kesia-siaan? Apa pun yang kita kerjakan dan lakukan, jika bukan sesuatu yang dikehendaki oleh Allah, akan menjadi sia-sia sekalipun saudara sangat berhasil. Untuk apa saudara sukses dalam segala macam hal, tetapi gagal dalam hal kehendak Bapa.

Hal ini mirip seperti waktu saya sekolah dulu. Pada ujian kelas 6 SD ada tiga mata pelajaran yang diwajibkan lulus. Kalau saya gagal salah satu dari tiga mata pelajaran itu, saya tidak akan naik kelas, sekalipun semua mata pelajaran lain saya unggul. Hal yang menentukan apakah saya naik kelas atau tidak adalah ketiga mata pelajaran itu.

Ucapan Bahagia ini diberikan kepada kita agar kita tahu dengan jelas hal-hal utama yang Allah inginkan dari kita. Kalau kita gagal dalam hal Ucapan Bahagia, kita bisa saja unggul dalam segala hal yang lain, tetapi tidak ada gunanya. Kita akan gagal total di hadapan Allah. Namun, yang dikehendaki Bapa dari kita bukanlah sebuah performa, tetapi karakter.


KEMURAHAN MERUPAKAN SIFAT ALLAH BAPA DAN ANAKNYA, YESUS KRISTUS

Hal yang kedua adalah setiap kualitas yang ada di Ucapan Bahagia: miskin dalam roh, berdukacita, lapar dan haus akan kebenaran, setiap dari kualitas ini merupakan sifat-sifat yang ada di dalam pribadi Yesus Kristus. Pahamilah dengan sejelas-jelasnya bahwa menjadi pengikut Yesus berarti menjadi seperti Kristus. Itulah maknanya menjadi murid. Pendidikan pada zaman Yesus berbeda dengan pendidikan zaman sekarang. Pada zaman sekarang, kita berguru kepada seseorang tanpa perlu menjadi seperti guru kita. Yang terjadi di kelas hanyalah transfer pengetahuan yang bersifat informatif. Namun, pada zaman Yesus, tujuan kita berguru kepada seseorang adalah untuk menjadi seperti sang guru. Itulah satu-satunya tujuan kenapa kita mengikut seseorang, untuk menjadi persis seperti guru kita.

Dengan demikian, jika kita menyebut diri sebagai pengikut Yesus, tujuan hidup kita hanyalah satu, yakni untuk menjadi persis seperti guru kita, Yesus Kristus. Konsep ini mirip dengan konsep murid yang berguru kepada shifu di dalam film kungfu. Satu-satunya tujuan murid berguru adalah untuk meraih sebanyak ilmu yang mungkin dan bisa jago bersilat sama seperti shifunya, dan kalau bisa melebihi gurunya.

“Berbahagialah orang yang murah hatinya.” Ingin saya tekankan bahwa kemurahan ini bukan saja merupakan kualitas Yesus Kristus, tetapi salah satu kualitas paling utama dari Allah Bapa kita. Kemurahan merupakan sifat dari Allah Bapa sendiri. Yesus berkata,

Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.

Jadi, kita dipanggil oleh Yesus bukan saja untuk menjadi seperti dia, tetapi untuk menjadi seperti Bapa di surga.


PADA UMUMNYA, MANUSIA BERDOSA TIDAK BERMURAH HATI

Pada umumnya, di dalam dunia yang penuh dosa, manusia itu sangatlah tidak murah hati. Lawan dari kemurahan hati adalah kekerasan hati. Satu tanda dasar dari orang yang tidak bermurah hati adalah suka mencari kesalahan, dan suka menyalahkan orang lain. Itulah sifat Adam, manusia yang pertama. Hal yang pertama yang dilakukan Adam setelah dia berbuat dosa adalah dia menyalahkan istrinya. Sejak Adam, salah satu ciri umum dari dunia yang berdosa ialah saling menyalahkan. Dari Adamlah kita semua mempelajari taktik “menyalahkan dulu, sebelum dipersalahkan”.

Adam bukan saja menyalahkan istrinya, tetapi juga Allah. Adam berkata kepada Allah, “Perempuan yang Engkau berikan untuk bersamaku itu, memberiku buah dari pohon itu, jadi aku memakannya.” Adam bukan sekadar menyalahkan Hawa, tetapi sekaligus menyalahkan Allah yang telah memberikan perempuan itu kepadanya. Itulah sifat manusia, seperti anak kecil yang suka saling menyalahkan. Tidak ada belas kasihan, bahkan terhadap adik sendiri. Manusia di dalam Adam memang tidak memiliki kemurahan, dan suka menyalahkan.

Yang lebih mengherankan, banyak orang sekarang yang berkata, “Mengapa Engkau memberikan kepada aku istri atau suami seperti ini?”, padahal mereka yang pilih sendiri! Itulah sifat manusia. Allah mungkin bertanya-tanya di surga, “Lho, salah apa Aku?” Bukankah kamu sendiri yang memilih istri atau suami itu? Adam menyalahkan Allah masih masuk akal karena Hawa memang diberikan oleh Allah.


JARI YANG MENUNJUK-NUNJUK

Andai saja dalam sebuah keluarga yang selalu bertengkar, setiap anggota memutuskan untuk tidak saling menyalahkan dalam keadaan apa pun, saya percaya keluarga ini akan berangsur-angsur berubah menjadi keluarga yang bahagia. Mari kita baca Yesaya 58:9,

Pada waktu itu, kamu akan memanggil dan YAHWEH akan menjawab. Kamu akan berseru, dan Ia akan berkata, “Aku di sini.” Apabila kamu menyingkirkan kuk dari tengah-tengahmu, jari yang menunjuk-nunjuk, dan perkataan yang jahat,…

Kamu akan memanggil dan YAHWEH akan menjawab, “Aku di sini.” Apakah kunci bagi jawaban doa? Apakah yang membawa kehadiran Allah dalam kehidupan kita? Salah satu hal utama yang terdaftar di sini ialah menyingkirkan jari yang menunjuk-nunjuk, yaitu berhenti saling menyalahkan. Singkirkan sifat jelek itu dan lihat bagaimana kehidupan saudara akan berubah. Selama saudara terus menyalahkan orang lain atas nasib saudara, nasib saudara tidak akan pernah berubah. Itulah kenyataan hidup. Langkah pertama menuju transformasi total ialah berhenti menunjuk jari.  

Tetapi betapa kayanya kemurahan hati Allah! (Ef 2:4)

Firman Tuhan menggambarkan Allah sebagai kaya dalam banyak hal, tetapi Paulus hanya menggarisbawahi satu aspek, yakni kemurahan. Kalau kita ingin menjadi orang arif atau bijaksana, jadilah orang yang kaya dengan kemurahan. Bukan kaya uang, kaya harta, tetapi jadilah orang yang kaya di dalam kemurahan. Sekalipun saudara kaya dari segi finansial, tetapi miskin dalam kemurahan, dari sudut pandang Allah, saudara orang yang miskin. Kekayaan finansial di mata Allah sama sekali tidak berarti apa-apa, hanya orang yang kaya dalam kemurahan yang bernilai di mata Allah. Orang seperti itulah yang paling mirip dan serupa dengan Dia. Keserupaan seperti inilah yang memungkinkan persekutuan. Itulah pentingnya ayat ini, “Berbahagialah orang yang murah hati, mereka akan beroleh kemurahan.”


SEMUA ORANG DAPAT MENUNJUKKAN KEMURAHAN

Saudara tidak perlu ilmu pengetahuan teologi yang tinggi untuk bermurah hati. Oleh karena itu, pengetahuan Alkitab bukanlah alasan mengapa seseorang dipakai, atau tidak dipakai Tuhan. Jangan pernah seorang pun yang berkata bahwa saya tidak dapat memberkati orang, saya tidak bisa pelayanan karena saya kurang ilmu, atau saya tidak bisa apa-apa, atau tidak punya apa-apa. Jangan pernah berkata demikian, kenapa? Apa yang saudara perlukan untuk bermurah hati?

Pertanyaan saya adalah, apa yang perlu saudara ketahui sebelum bisa menunjukkan kemurahan kepada orang lain? Tidak perlu tahu banyak. Apakah dengan mengetahui semua ayat di dalam firman Tuhan, saudara akan menjadi murah hati? Belum tentu. Tidak ada orang yang boleh berkata, “Saya tidak mempunyai apa-apa untuk diberikan”. Setahu saja, untuk menunjukkan kemurahan, saudara tidak perlu mengetahui apa-apa. Kemurahan tidak bergantung pada pengetahuan Alkitab.

Apakah saudara mempunyai pengetahuan atau tidak, saudara tetap mempunyai sesuatu untuk diberi atau dibagikan dengan sesama.


ALLAH BERURUSAN DENGAN KITA SEBAGAIMANA KITA BERURUSAN DENGAN ORANG LAIN

Dalam berbicara tentang kemurahan, kita sedang berbicara tentang cara kita memperlakukan orang lain. Ucapan Bahagia ini dengan jelas menunjukkan kepada kita satu prinsip penting: Allah berurusan dengan kita, sebagaimana kita berurusan dengan orang lain. Dalam pergaulan kita dengan orang lain, apakah kita dapat disebut sebagai seorang yang murah hati? Apakah suami atau istri saudara akan melihat saudara sebagai seorang yang murah hati? Jika saudara punya karyawan atau pembantu rumah tangga, apakah mereka akan melihat saudara sebagai seorang yang murah hati? Saya berharap tidak ada pembantu rumah tangga yang bekerja di keluarga Kristen akan berkeluh kesah tentang cara mereka diperlakukan.

Dalam berurusan dengan orang lain, kita harus selalu mengingat prinsip penting ini: cara kita berurusan dengan orang lain, itulah caranya Tuhan akan berurusan dengan kita. Sebelum saudara membuka mulut memarahi dan memaki seseorang, ingatlah, Tuhan akan berurusan dengan kita dengan cara yang sama. Seketika saya mengaitkan cara saya berurusan dengan orang lain dengan cara Allah berurusan dengan saya, dengan serta merta, reaksi saya berubah.

Kita bahkan tidak akan memberikan kepada diri kita apa yang pantas kita terima. Jika Allah memberikan kepada kita apa yang sepantasnya kita terima, selesailah kita, tamatlah kita. Kita berharap Allah memberikan kepada kita apa yang tidak pantas kita terima. Itulah caranya orang yang bermurah hati akan berurusan dengan orang lain. Orang yang bermurah hati tidak akan berhitung-hitungan dengan orang lain karena dia sadar jika Allah berhitung-hitungan dengan dia, habislah dia. Justru karena kita tidak ingin Allah hitung-hitungan dengan kita, kita belajar tidak berhitung-hitungan dengan orang lain. Satu-satunya hal yang saya inginkan adalah Allah baik dengan saya. Saya ingin Allah menunjukkan kemurahan kepada saya. Setiap hari saya membutuhkan kemurahan-Nya untuk hidup kudus dan tidak berbuat dosa. Saya membutuhkan kemurahan yang sebesar-besarnya dari Dia, dan oleh karena itu saya berusaha untuk menunjukkan kemurahan sebesar-besarnya kepada orang lain. Saya berharap tidak ada seorang pun yang pernah berurusan dengan saya, akan berkeluh kesah bahwa saya tidak memperlakukan dia dengan baik. Saya berharap jangan sampai hal ini terjadi.


KEMURAHAN, BUKAN KEKERASAN, MEMIMPIN KEPADA PERTOBATAN

Kalau saudara telah mengalami anugerah Allah di dalam hidup saudara, ada baiknya saudara mengecek bagaimana saudara telah berurusan dengan orang lain selama ini. Firman Tuhan dengan jelas memberitahu kita di Roma 2:14 bahwa kemurahan Allahlah yang menuntun kita kepada pertobatan.

Atau, apakah kamu menganggap remeh kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya, dan kelapangan hati-Nya dengan tidak mengetahui bahwa kebaikan Allah bertujuan untuk memimpin kamu kepada pertobatan?

Pertobatan kita terjadi bukan karena kekerasan Allah. Kebaikan-Nya yang menuntun kita kepada pertobatan. Itu metode Allah untuk membawa kita kepada-Nya. Bukan dengan mengancam atau menakut-nakuti.

Ada dua cara seseorang mengalami berubah. Metode Allah adalah melalui kebaikan dan kemurahan. Satu lagi adalah metodenya Iblis atau manusia, yaitu dengan marah-marah, mengancam dan menghina. Metode Allah adalah melalui kebaikan dan kemurahan, sebaliknya metode manusia adalah dengan marah-marah dan menakut-nakuti. Apa yang akan terjadi kalau kita berteriak-teriak dan orang tidak berubah? Kita akan berteriak dengan lebih keras lagi. Kira berpikir besar kecilnya volume suara kita yang akan membawa perubahan. Namun, Allah membawa pertobatan secara diam-diam melalui kebaikan dan kemurahan, secara khusus melalui penyaliban anak-Nya Yesus Kristus. Kebaikan seperti inilah yang dapat melembutkan hati yang sangat keras. Setahu saya, kekerasan hanya membawa perubahan dangkal. Memang cukup efektif, terutama pada anak kecil. Kita membentak anak, “Hentikan itu!” Dia berhenti, tetapi bukan karena dia bertobat melainkan karena dia takut. Tidak terjadi perubahan apa-apa pun di dalam hatinya. Perubahan yang terjadi karena ketakutan adalah perubahan yang dangkal.


KITA BERMURAH HATI KARENA ALLAH TERLEBIH DULU BERMURAH HATI

Lalu, bagaimana kita bisa bermurah hati karena pada dasarnya kita tidak murah hati? Berbicara tentang kemurahan hati, kita tidak bisa lepas dari perumpamaan yang diberikan oleh Yesus tentang hamba yang berhutang kepada seorang raja (Mat 18:23-35). Ada seorang hamba yang berhutang 10,000 talenta kepada sang raja. Jumlah hutang ini kalau dirupiahkan kira-kira senilai Rp 3 trilliun. Lalu, raja memerintahkan supaya ia dijual, beserta istri dan anak-anaknya, juga semua yang ia miliki, dan dengan itu pembayaran dilakukan.

26  Maka, hamba itu tersungkur dan menyembah tuannya, katanya, ‘Bersabarlah kepadaku dan aku akan membayar semuanya kepadamu.’
27  Kemudian, tuan dari hamba itu berbelas kasihan, dan membebaskannya, dan memberi ampunan atas utangnya itu.

Tuannya tidak hanya bersabar dan memberi waktu, tetapi bahkan menghapuskan semua hutangnya. Haleluyah! Hamba ini seperti orang mati yang hidup kembali. Akan tetapi, setelah dibebaskan dari hutangnya, dia menagih hutang ke sesama hambanya yang berhutang kepadanya. Berapa hutang yang dia tagihkan itu? Hutangnya hanya Rp 5 juta. Sang Raja membebaskan atau mengampuni dia dari hutangnya yang sebanyak 3 trilliun, tetapi dia tidak rela melepaskan saudaranya yang berhutang hanya Rp 5 juta kepadanya. Perumpamaan ini berakhir dengan hamba yang tidak mengampuni itu, diserahkan kepada algojo-algojo. Lalu, Yesus menyimpulkan dengan kata-kata berikut,

“Bapaku di surga juga akan melakukan hal yang sama kepadamu, jika kamu tidak mengampuni saudaramu dari dalam hatimu.”

Maksud dari perumpamaan ini sangat sederhana. Hutang kita pada Allah terlalu besar, tak terbayarkan, bahkan lebih dari Rp 3 triliun nilainya. Hutang orang terhadap kita, sebesar apa pun, hanya beberapa juta. Jika kita sudah dilepaskan hutang sebesar Rp 3 triliun, tetapi tidak rela melepaskan hutang saudara terhadap kita yang bernilai hanya beberapa juta, apa yang akan terjadi kepada kita? Yesus memberitahu kita dengan bahasa yang sangat jelas, Bapa di surga tidak akan mengampuni kita dan kita akan diserahkan kepada algojo-algojo. Jika Allah Yang Maha Mengampuni tidak mau lagi mengampuni, tamatlah kita. Orang ini membuktikan dirinya tidak layak diampun.  Camkanlah bahwa pengampunan yang telah diberikan itu akhirnya ditarik balik.  

Algojo-algojo adalah penyiksa. Kalau saudara merasa tersiksa di dalam hidup saudara, saudara merasakan seolah-olah dibantai algojo secara bertubi-tubi dan tersiksa terus, besar kemungkinan saudara harus berinstropeksi diri. Apakah saudara memperlakukan saudara-saudaramu dengan cara yang berkenan kepada Bapa? Apakah saudara sudah lupa betapa besarnya kemurahan Allah kepada saudara saat Dia mengampuni dosa dan hutang saudara melalui kematian anak-Nya, Yesus Kristus? Anggaplah hal ini sebagai kemurahan Tuhan untuk membawa saudara pada pertobatan, supaya jangan ayat tersebut menjadi kenyataan pada Hari Penghakiman.


KITA LEKAS LUPA

Perumpamaan Yesus menceritakan secara dramatis betapa lekasnya hamba tersebut lupa bahwa ia baru diampuni hutang sebesar 10,000 talenta. Namun, bukankah perumpamaan ini melukiskan dengan tepat pengalaman rohani kebanyakan orang? Kita tidak pantas mengecam hamba itu karena kita juga cepat lupa.

Akan tetapi, orang yang tidak memiliki semuanya itu adalah orang yang tidak dapat melihat dengan jelas dan buta karena ia lupa bahwa ia telah dibersihkan dari dosa-dosanya yang lalu. (2 Petrus 1:9)

Orang yang lupa bahwa ia telah dibersihkan dari dosa-dosanya yang akan menjadi picik dan buta. Sangat mudah untuk kita melupakan bahwa dosa-dosa kita telah dihapuskan. Tanda pertama hal ini telah terjadi ialah ketika kita tidak lagi hidup dalam rasa syukur. Saudara mulai banyak menuntut dari sesama. Saudara membaca Alkitab, saudara tidak mengerti dan tidak mendapatkan apa-apa. Mengapa? Karena saudara tidak dapat melihat dengan jelas dan buta! Saudara mulai menjadi orang yang keras, tidak berbelas kasihan, suka menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain. Padahal, sebenarnya, semakin kita bertumbuh secara rohani, semakin dekat kita dengan Allah, seharusnya hati kita menjadi semakin lapang dan pemurah. 

Apakah saudara ingin Allah baik terhadap saudara? Apakah saudara ingin mengalami kemurahan Allah di dalam kehidupan saudara? Jika kita menginginkan hal ini, jadilah murah hati. Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang murah hati, dia akan beroleh kemurahan.”

“Karena itu, kukatakan kepadamu, dosanya yang banyak itu sudah diampuni sebab ia menunjukkan kasih yang besar. Akan tetapi, orang yang sedikit diampuni, sedikit pula mengasihi.” (Lukas 7:47)

Dengan kata lain, kalau kita hidup dengan penuh kesadaran bahwa kita sudah sangat banyak diampuni, saudara akan sangat mudah menunjukkan kemurahan kepada orang lain. Waktu kita melihat orang lain, kita tidak memandang lagi pada betapa menjengkelkannya orang itu, tetapi pada kemurahan Allah terhadap kita.

Harapan saya setiap dari kita di sini, dikenal bukan karena pengetahuan Alkitab yang luar biasa. Saya tidak berharap kita dikenal karena pengetahuan Alkitab kita yang hebat, tetapi biarlah kita dikenal karena kita penuh dengan kemurahan dan belas kasihan. Harapan saya, di tempat ini orang yang datang akan menemukan apa yang tidak ditemukan di luar sana, yaitu kemurahan Allah.  

 

 

Berikan Komentar Anda: